April 3, 2009

Wirausaha Korupsi

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:50 pm

Jumat minggu lalu (27/03), Balairung Kampus Depok ada keriaan, karena ada pembukaan Scholarship Expo VII 2009, yang diselengarakan Career Development Center (CDC) UI, dimana berbagai perusahaan membuka gerai menerima lamaran dari para peminat yang ingin berkarir di bidang tertentu. Pada kesempatan itu, dilakukan presentasi dari pihak Bank Mandiri, yang telah berhasil mengembangkan wirausaha di kalangan anak muda.

Dalam situasi perekonomian seperti sekarang inilah sebenarnya banyak peluang yang harus dikembangkan dan “ditangkap” oleh para calon wirausaha muda. Bank Mandiri melihat potensi adanya keinginan dari sebagian masyarakat untuk melakukan usaha mandiri dan pada kenyataannya, banyak para wirausaha baru muncul dalam situasi krisis seperti sekarang ini. Omzet pendapatannya dari para wirausaha binaan Bank Mandiri ada yang mencapai ratusan juta setiap tahunnya.

Seorang teman yang kebetulan hadir pada acara tersebut , menanggapi secara kritis apa yang dilakukan bank Mandiri. Sudah banyak pakar dan buku yang mengulas tentang kesuksesan berwirausaha. Sehingga pakem-pakem untuk menggapai sukses dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan sudah diketahui secara umum. Tapi pernahkah terpikirkan bagaimana berwirausaha korupsi, kiat-kiat berkorupsi supaya tidak diketahui dan menyiasati aturan yang ada?

Kenapa wirausaha korupsi ini perlu dipelajari atau diketahui? Karena memang sudah banyak pakarnya yang kini sudah banyak ditahan dan bisa dijadikan sebagai narasumber. Selain itu, saat ini dan hingga beberapa tahun ke depan korupsi ini masih akan tetap menjadi wacana dan sangat diminati oleh orang-orang yang ingin cepat kaya dalam waktu singkat. Hal demikian ini yang sangat digandrungi kalangan muda yang ingin cepat “mapan”. Dengan belajar wirausaha korupsi, sama seperti dengan mempelajari dan mendalami seluk beluk HIV, untuk mencegah jangan sampai kita tertular.

Tanggal 1 April lalu di Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, baru saja dilakukan acara bedah buku pengalaman Ibnu Sutowo waktu memimpin PERTAMINA. Menurut Ayip Rosidi pada buku “Hidup Tanpa Ijazah”, mengutip penuturan orang dalam, PERTAMINA merupakan “sapi perahan” penguasa Orde Baru yang dijalankan tanpa manajemen yang baik, semau-maunya petinggi PERTAMINA saja. Atau kalau ingin contoh mutakhir, lihat saja informasi tentang petinggi/penguasa Provinsi Banten pada website http://chasansochib.blogspot.com/