April 1, 2009

Jahiliyah 6: Alma Mater Minta Ketegasan Sikap Kita

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:12 pm

Siaran Putra Alma Mater No.2/1982

ALMA MATER MINTA KETEGASAN SIKAP KITA

Pada hari Selasa, tanggal 30 Maret 1982 siang Alma Mater yang sedemikan kita cintai ini telah diserang oleh kaum anarkis. Kaca-kaca telah dipecah, dinding-dinding telah dicorat-coret dengan kata-kata kotor seperti: – Rektor bangsat – Pak Rektor dijadikan beo dan anjing – Rektor anjing PKI Dan lain-lain kata jorok yang kita malu untuk menyebutkannya lebih lanjut disini. (dan kita tahu bahwa corat-coret jorok itu sudah beberapa tahun dilakukan)

Kalaupun masih ada keragu-raguan dalam hati kita apakah tindakan pengrusakan itu suatu kebetulan belaka, suatu ekses daripada emosi yang meluap, maka keragu-raguan itu menjadi lenyap, ketika pada hari berikutnya, Rabu tanggal 31 Maret 1982 kaum anarkis melanjutkan pengrusakan itu yang dilakukan, baik terhadap gedung Fakultas Teknik maupun terhadap gedung rektorat. Keadaan kedua gedung itu pada hari ini mungkin masih dapat dilihat oleh mereka yang ingin menyaksikannya sendiri. Dengan demikian kaum anarkis telah membuka kedoknya dan memperlihatkan wajah yang sesungguhnya. Peristiwa nista yang menimpa Alma Mater kita itu merupakan puncak daripada serangkaian tindak intimidasi yang selama beberapa tahun terakhir ini dilakukan oleh kaum anarkis terhadap para mahasiswa yang tidak mau mengikuti kehendak mereka. Hal ini saya terima langsung dari para mahasiswa setelah saya melakukan tatap muka dengan segenap sivitas-akademika di semua fakultas UI.

Dalam suasana sedemikian, para mahasiswa sudah barang tentu merasa tertekan dan kehilangan kebebasannya. Mereka merasa tidak diberi ketenangan yang diperlukan untuk secepatnya menamatkan studinya, yang ingin mereka capai untuk segera dapat membaktikan dirinya kepada Rakyat, Bangsa dan Negara.

Untuk kembali kepada kasus kasus dewasa ini, pada hari Selasa malam jam 19.00 tanggal 30 Maret 1982, saya telah menerima para ketua Senat Mahasiswa dan beberapa mahasiswa lain (yang nama-namanya tercantum dalam lampiran) dan telah melakukan dialog sampai menjelang jam 24.00 tengah malam. Pertemuan itu dihadiri pula oleh Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Djunaedi Hadisumarto dan Dekan Fakultas Teknik, Ir.F.B. Mewengkang yang kebetulan bertempat tinggal di Kampus Rawamangun. Selanjutnya hadir pula Pembantu Rektor III Ir. Djoko Hartanto serta Pembantu Dekan III FT UI Ir. Indradjit Soebardjo, Pembantu Dekan II FEUI Bakir Hasan Se.,MBA dan Pembantu Dekan III FEUI, Moh. Nazif SE.

Dalam pertemuan itu telah saya sampaikan anggapan-anggapan saya mengenai kasus Peter Sumariyoto yang intisarinya ialah, bahwa semua pihak sesungguhnya sudah tahu, bahwa ada aturan-aturan Universitas Indonesia (yang sudah lama tersusun dalam periode Rektor terdahulu) yang secara terus menerus dilanggar oleh yang bersangkutan. Dan untuk itu yang bersangkutan pada tanggal 26 Desember 1981 sudah dijatuhi sanksi akademis berupa schorsing oleh Rektor Prof,Dr, Mahar Mardjono (Keputusan Rektor UI No. 087/SK/R/UI/1981)

Setelah pergantian Rektor, pelanggaran-pelanggaran yang sama dilanjutkan, meskipun sudah diperingatkan oleh pimpinan Fakultas Teknik Universitas Indonesia maupun oleh pimpinan Universitas Indonesia. Namun peringatan-peringatan itu tidak diindahkan oleh yang bersangkutan. Selama dua bulan lebih pimppinan FTUI dan Pimpinan Universitas Indonesia masih bersabar hati, sampai peristiwa “Apel Siaga” hari Sabtu, tanggal 20 Maret 1982, hanya dua hari setelah peristiwa Lapangan Banteng dan pada waktu itu situasi ibukota masih sangat rawan.

Pada saat itu Pimpinan Universitas Indonesia dan Pimpinan FTUI berkesimpulan, bahwa pembangkanga sdr. Peter Sumariyoto terhadap peraturan-peraturan Universitas Indonesia dengan serangkaian tindakannya, telah mencapai titik yang membahayakan integriras Alma Mater. Dan karenanya Pimpinan Universitas Indonesia setelah berkonsultasi dengan Pimpinan FTUI meminta ketegasan sikap sdr. Peter Sumariyoto secara yang tidak dapat dimanipulasi, yakni suatu formulir yang berisi rumusan yang tegas.

Setelah ternyata sdr.Peter Sumariyoto tidak bersedia menandatangani ketegasan sikap itu pada waktu yang ditentukan, maka dengan hati berat Pimpinan Universitas Indonesia dengan persetujuan Pimpinan FTUI mengeluarkan keputusan untuk mencabut kedudukan sebagai mahasiswa Universitas Indonesia terhadap sdr. Peter Sumariyoto.

Selanjutnya pada pertemuan itu di antara anggota rombongan ada yang mengetengahkan argumentasi-aragumentasi secara panjang lebar dan selama beberapa jam. Namun pada hemat saya tidak menyentuh inti persoalan, yakni daya-upaya untuk menyelamatkan integritas Alma Mater dari perbenturan-perbenturan kepentingan politik di luar dirinya. Untuk kesekian kali telah saya jelaskan, bahwa jika ada dari lingkungan kampus yang menyerang salah satu pribadi atau golongan yang ada di luar kampus, maka hal itu berarti bahwa kita mengexpose Alma Mater kita terhadap serangan-balas dari pihak yang diserang itu. Ini yang harus kita hindarkan bersama-sama.

Pendeknya antara Pimpinan Universitais Indonesia dengan para Pimpinan Senat-Senat Mahasiswa sudah terjadi dialog dan pandangan Pimpinan Universitas Indonesia sudah dijelaskan segamblang-gamblangnya, termasuk latar belakang dan motivasinya. Pimpinan Senat-Senat Mahasiswa menyatakan maksudnya untuk menyampaikan hasil pertemuan malam itu kepada anggotanya masing-masing.

Perlu dicatat di sini, bahwa para Pimpinan Senat Mahasiswa serta mahasiswa lain yang hadir, tidak ada seorang pun yang mengutuk pengrusakan yang telah terjadi siang sebelumnya. Sampai saat ini pun dari pihak Senat-senat Mahasiswa itu tidak ada pernyataan mengutuk tindakan pengrusakan selama dua hari berturut-turut terhadap gedung-gedung Alma Mater itu. Dengan demikian timbul tanda Tanya, apakah Senat-senat Mahasiswa itu mendukung pengrusakan-pengrusakan terhadap gedung Alma Maternya? Atau bahkan melakukannya sendiri? Karena ketua-ketua Senat Mahasiswa itu dipilih oleh para mahasiswa fakultas masing-masing melalui BPM-nya, maka sudah selayaknyalah jika hal itu ditanyakan oleh segenap mahasiswa kepada ketua senatnya masing-masing. Karena sulit bagi sebagian terbesar sivitas akademika Universitas Indonesia untuk dapat menerima, bahwa ada putra-putri Alma Mater yang ikhlas Alma Maternya dirusak seperti itu. Para ketua senat harus mempertanggungjawabkan sikapnya, apapun sikap mereka. Kalau tidak, maka mereka itu tidak lagi representative dan harus diganti.

Pada hari ini delapan orang ketua Senat Mahasiswa dalam lingkungan Universitas Indonesia mengeluarkan pernyataan, bahwa mulai tanggal 1 April 1982 ini mereka melakukan mogok kuliah. Berkenaan dengan itu Pimpinan Universitas Indonesia ingin menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pimpinan Universitas Indonesia beserta Pimpinan Fakultas-fakultasnya tidak pernah memaksa orang untuk menjadi mahasiswa Universitas Indonesia.

  2. Tetapi, siapapun yang telah diterima menjadi mahasiswa Universitas Indonesia,harus taat kepada semua peraturan yang berlaku, baik di Universitas Indonesia pada umumnya, maupun di lingkungan fakultas-fakultas Universitas Indonesia pada khususnya.

  3. Menurut Peraturan, perkuliahan adalah wajib.

  4. Tapi jika ada mahasiswa yang tidak bersedia mengikuti perkuliahan, ia bebas sebebas-bebasnya untuk meninggalkan Universitas Indonesia.

  5. Dan jika terlalu banyak mahasiswa yang tidak mengikuti kuliah pada sesuatu fakultas, maka lebih baik fakultas itu ditutup, sehingga tenaga dan pikiran yang disediakan pada masing-masing fakultas dapat dimanfaatkan di tempat lain..

Alma Mater meminta ketegasan sikap segenap mahasiswa Universitas Indonesia : mau meneruskan kuliah atau tidak.Pimpinan Universitas Indonesia memberikan kebebasan kepada segenap mahasiswa Universitas Indonesia untuk menegaskan sikapnya. Kalau mau meneruskan kuliah, silahkan masuk kuliah dengan bebas. (Darinpihak Pimpinan Fakultas tidak ada diktator pendidikan yang menghalang-halangi). Jika tidak mau meneruskan kuliah, yah silahkan. Kalau sebagian besar tidak mau berkuliah, maka fakultas yang bersangkutan akan ditutup. Karena fakultas dan universitas adalah lembaga pendidikan untuk para mahasiswa. Terserah para mahasiswa sendiri untuk menentukan keinginannya secara bebas.

Alma Mater Menantikan pernyataan sikap saudara! Jakarta, 1 April 1982 REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA

                                                                         Prof. Dr. NUGROHO NOTOSUSANTO
                                                                                         NIP. 130 428 654