March 22, 2009

Pidato Perpisahan Sekjen ASEAN

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 9:10 pm

Catatan:

Berikut ini adalah teks lengkap pidato pada acara serah terima Sekjen ASEAN pada tanggal 18 Februari 1978, yang dibacakan oleh Letnan Jenderal H.R. Dharsono. Inilah pidato yang secara berani menyatakan ada rekayasa dari penguasa dibalik penggantian Sekjen ASEAN.(Dikutip dari Buletin Mahasiswa Menggugat)

Para yang Mulia Kepala Perwakilan, para tamu, nyonya2 dan tuan2 yth. Pertama-tama saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih saya atas kehadiran anda bersama kami, untuk menyaksikan serah terima jabatan Sekjen ASEAN dari tangan saya kepada tuan Oemarjadi, yang didasarkan atas instruksi Yang Mulia Dr. Upadit Pacharyangkun, Menlu Thailand, dalam kedudukannya sebagai ketua “standing committe” untuk tahun 1977/1978, yang disampaikan kepada saya sebagai pesan yang dimuat dalam nota Yang Mulia Duta Besar Thailand, yang sekarang ahdir disini, pada tanggal 9 Februari yang lalu.

Para yang mulia, para tamu yang terhormat Setelah saya menyerah terimakan jabatan SEKJEN ini kepada tuan Oemaryadi, maka pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan “Selamat kepada Tuan Oemajadi yang akan menggantikan saya untuk jangka waktu 3 bulan; yaitu sisa jangka waktu 2 tahun yang di berikan kepada Indonesia. Maka bila ada pertanyaan “Siapakah yang menjadi SEKJEN ASEAN pertama,” Jawabnya ada 2 orang, yaitu : I.a. Dharsono dan I.b. Oemarjadi.

Para tamu yang terhormat, Pada kesempayan ini, saya ingin pula menyampaikan terima kasih saya kepada Pemerintah Negara-negara anggota ASEAN, yang hari ini diwakili Yang Mulia Kepala-kepala Perwakilannya di Jakarta, sedangkan Indonesia diwakili oleh Tuan Yanuar Djani yang sekarang tentunya adalah pejabat Direktur Jendral ASEAN Indonesia. Ucapan terima kasih ini saya sampaikan atas bantuan negara-negara anggota yang di berikan kepada saya sampai saat saya menyerahkan jabatan, 3 bulan sebelum waktu yang sebenarnya. Saya ingin pula menyampaikan terima kasih dan penghargaan saya atas segala bantuan dari staf Sekretariat, baik “Home Base Staff” maupun “Local Staff”. Mengenai Sekretariat ASEAN, saya berpendapat bahwa Sekretariat adalah suatu badan baru yang dimasukkan kedalam suatu “machinary” lama, Yang telah ada sebelum Sekretariat berdiri. Selama saya bertugas dalam badan baru ini, dapat saya katakan bahwa tugas ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan, penuh penuh dengan tantangan, dan secara terus terang “Frustating” pula. Saya kira para anggota staf lainnya, baik “Home Base Staff “ maupun “Local Staff” mempunyaii pikiran dan perasaan yang sama dengan saya. Tetapi situasi semacam ini bagi suatu organisasi yang baru adalah wajar, terutama kalau kita memulai dengan pendirian suatu badan yang baru, yang kemudian badan ini dimasukkan ke dalam organisasi yang telah ada sebelumnya. Pada waktu-waktu yang lampau telah banyak dibicarakan tentang Sekretariat, terutama kedudukan dan tugasnya termasuk pula kedudukan dan tugas Sekjen dan Stafnya. Sampai sekarang pembahasan. mengenai Sekretariat ini belum dapat dikatakan selesai, tapi dapat diperkirakan bahwa hal tersebut akan terus berkembang. Ditengah-tengah perdebatan dan pembicaran tentang Sekretariat itu, maka dapat disimpulkan bahwa dari pihak Sekretariat tidak ada gunanya untuk mendesakkan ide-idenya demi kedudukannya, sehingga sebagai akibatnya kita berusaha untuk membawa Sekretariat secara bertahap ke dalam “machinary” ASEAN secara Pragmatis sekali. Harapan saya adalah, bahwa dalam perkembangan yang masih akan berlangsung tersebut dibawah pimpinan dan kemampuan tuan Oemarjadi sebagai orang yang tidak asing lagi terhadap masalah-masalah ASEAN, segala sesuatunya dapat berjalan baik sehingga saya yakin pada suatu waktu Sekretariat ASEAN ini tidak merupakan masalah lagi.

Para tamu yang terhormat, Kembali kepada konsensus yang telah tercapai dan disetujui oleh ke lima MENLU negara anggota ASEAN, seperti yang sebelumnya pernah saya beritahukan kepada pers, bahwa saya akan menerima keputusan ke lima MENLU, kecuali bila ada permintaan kepada saya untuk meletakkan jabatan secara suka rela. Saya merasa, bahwa bagi 4 negara lainnya : Malaysia, Philipina, Singapura dan Thailand amat sukar untuk mengeluarkan keputusan tersebut, terutama atas desakan Indonesia yang menarik dukungannya terhadap saya sebagai SEKJEN ASEAN dengan tuduhan bahwa saya telah campur tangan dalam masalah domestik suatu negara anggota, dalam hal ini Indonesia, dari mana saya sendiri berasal, yang juga dipergunakan sebagai “justification”/pembenaran untuk meyakinkan ke 4 negara anggota lainnya guna memberhentikan saya sebagai SEKJEN. Cara yang ditunjukkan oleh ke 4 negara lainnya untuk mencapai konsensus merupakan sesuatu yang saya dapat menerimanya dan bahkan menghargainya, terutama bila kita melihat bahwa usul dari Indonesia untuk memberhentikan saya mempunyai unsur yang sangat kuat dengan menonjolkan alasan “campur tangan dalam masalah dalam negeri salah satu anggota ASEAN, dalam hal ini Indonesia”. Dan betapa serius dan kuatnya usul Indonesia ini dapat pula dibuktikan dengan cara yang dllakukan MENLU a.i. Dr Mochtar Kusumaatmaja yaitu dengan menyelenggarakan suatu “Shuttle diplomacy” ala Kissinger untuk meyakinkan usul tersebut kepada 4 negara anggota lainnya. Tetapi, dan ini hanya menurut perasaan saya, saya mendapat kesan bahwa para MENLU lainnya tidak menghiraukan apa yang menjadikan sebab usul Indonesia tersebut sehingga harus menarik dukungan terhadap saya. Dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh para MENLU lainnya yaitu persoalannya semata-mata hanya dilihat dari akibat penarikan dukungan Indonesia terhadap saya, yang berarti tugas saya sebagai Sekjen akan terpengaruh oleh fakta itu sehingga tidak efektif lagi, dan penggantian oleh tuan Oemarjadi yang diusulkan dan dengan sendirinya didukung oleh Indonesia, kemudian diterima. Maka oleh sebab itu, bagi saya sendiri tidak ada perasaan sakit hati sedikitpun terhadap ke 4 anggota ASEAN lainnya yang telah menunjukkan kebijaksanaan dalam menanggapi usul Indonesia yang kuat itu dalam usaha mereka untuk menuju kepada suatu konsensus. Adapun keadaan saya, dilihat dalam hubungannya dengan pemerintah Indonesia, tidaklah sama; terutama karena saya menganggap keputusan para menlu itu, sebagai konsensus, merupakan suatu keputusan berdasarkan “hukum”, sedangkan yang menjadi sebab usul Indonesia tersebut bersifat politis. Persoalan saya dengan pihak Indonesia masih belum selesai, dan masih harus mengalami perkembangan selanjutnya yang saya sendiri belum tahu arahnya Dengan penyerahan jabatan yang baru saja lalu, maka hubungan saya dengan ASEAN teah berhenti; dan sekali lagi saya mengucapkan atas kebijaksanaan yang tersirat maupun yang tersurat, terutama yang telah diperlihatkan oleh 4 negara anggota ASEAN lainnya dalam keputusan yang di tanda tangani oleh yang mulia Dr. Upandit Pacharyakun atas nama ke lima Menlu negara; dan sekali lagi, yakinlah bahwa dari pihak saya tak ada sedikitpun perasaan sakit hati terhadpp ke 4 negara anggota ASEAN itu.

Para yang mulia, paraa tamu yang terhormat; Bila kita menengok kembali pada cara yang diperlihatkan oleh Indonesia dalam usahanya untuk, mendapatkan persetujuan dari ke empat negara lainnya guna membebaskan saya dari jabatan SEKJEN, dari hal tersebut dapat di buktikan bahwa persoalannya dianggap serius sekali; dan bahwa dengan demikian tidak ada kemungkinan yang ada dalam pemikian Indonesia selain dari pembebasan tersebut. Saya anggap bahwa suatu bagian “hardline policy” dewasa ini sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia. Dan saya mengetahui, bahwa setelah serah terima jabatan ini saya dihadapkan pada hard line plicy ini. Pada saat ini kalangan pers lndonesia juga hadir ditengah-tengah kita. Untuk ini saya ucapkan terima kasih. Tetapi saya tidak yakin, bahwa koran-koran lokal akan berani memuat apa yang saya katakan disini, suatu hal yang sangat saya sesalkan. Tetapi saya sepenuhnya memahami kedudukan saudara-saudara dari pers. Terutama hal ini saya tujukan kepada surat-surat kabar Indonesia yang baru-baru ini dihentikan peredarannya, dan kemudian diperkenankan terbit kembali setelah diminta oleh yang berkuasa untuk menandatangani suatu pernyataan “sukarela” yang memuat janji akan mentaati segala peraturan/pembatasan yang ditentukan oleh yang berkuasa. Saudara-saudara terpaksa menjalankan hal itu karena dihadapkan pada suatu dilema yang berat untuk memilih antara “dignity/prinsip dan perut”. Saudara telah memilih perut, mungkin bukan perut para pemimpin surat-surat kabar, tetapi perut para karyawan yang bekerja pada surat-kabar saudara. Dan kejadian ini menurut saya merupakan suatu “black mail atau pemerasan. Bagi orang-orang yang menginginkan perbaikan nasib rakyat, pada saat ini dalam perjuangan itu, akan dihadapkan pada tembok yang kuat yang terdiri atas orang-orang/pejabat-pejabat yang dihadapkan pada suatu pilihan yang berat antara “dignity/prinsip dan perut/kedudukan. Dan ini adalah sikap mental yang umumnya terdapat di Indonesia dewasa ini. Oleh karena itu bagi orang-orang yang akan memperjuangkan nasib rakyat dalam keadaan tersebut, akan merupakan perjuangan yang berat. Akhirnya saya mengharapkan sekali lagi agar tuan Oemarjadi, dengan bantuan staf Sekretariat dilihat dari kedudukan dan tugasnya, dapat membawa Sekretariat ini ke dalam “machinary” ASEAN secara keseluruhan, sehingga dapat tercapai efisiensi yang sama-sama kita harapkan.

ttd

H.R. Dharsono

March 21, 2009

Mahasiswa Menggugat 4

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:39 am

MAHASISWA MENGGUGAT Alamat Redaksi : Jl. Salemba Raya 4 – Jakarta Pusat JAKARTA, 21 MARET 1978 – No. 4/Th. I

MEMPERBINCANGKAN ISTILAH ABRI

ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), dewasa ini mendapat sorotan masyarakat, terutama dari kalangan mahasiswa. Beberapa poster mahasiswa antara lain berbunyi: “ABRI Milik Rakyat.” “Kembalikan ABRI Kepada Rakyat.” Pernyataan-pernyataan di atas menggambarkan, bahwa garis perjuangan ABRI sekarang telah agak menyimpang dari tujuan dasar kelahirannya. Yakni untuk melindungi rakyat dan bukan menghantam anak rakyat yang tidak bersenjata. Istilah ABRI, sebenarnya mencakup tiga Angkatan dan Polri. Yaitu: TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan Kepolisian Republik Indonesia. Bila salah satu dari ketiga Angkatan dan Polri tersebut membuat prestasi gemilang di masyarakat, maka semua Angkatan dan Kepolisian ikut mendapat nama harum dimata masyarakat. Misalnya keberhasilan Letjen Marinir H. Ali Sadikin ketika menjadi Gubernur DKI beberapa periode; lalu dianggap sebagai salah satu contoh keberhasilan Dwi Fungsi ABRI. (Disini orang/masyarakat tidak mempersoalkan bahwa yang sukses itu sebenarnya TNI-AL). Begitu pula ceritanya bila salah satu unsur ABRI berbuat kesalahan. Katakanlah seperti tindakan kurang simpatik dari TNI-AD yang akhir-akhir ini banyak mengobrak- abrik berbagai Kampus di Indonesia. Masyarakat ramai dengan mata kepala sendiri menyaksikan, bahwa sebagian besar yang menghantam para mahasiswa dengan popor senjata dan bayonet terhunus itu, adalah dari unsur TNI-AD. Tetapi nama jelek akan melekat pada ABRI secara keseluruhan ! Demikian halnya dengan keanggotaan di MPR-RI saat ini. Dari 908 anggota MPR, terdapat 230 anggota Fraksi ABRI. Terdiri dari: 133 orang TNI-AD, 34 orang TNI-AL, 29 TNI-AU dan 34 dari Kepolisian RI. Kalau seandainya dimasa akan datang sejarah mencatat ada kekeliruan yang dibuat oleh Fraksi ABRI di MPR-RI yang mayoritas anggotanya terdiri dari anggota TNI-AD itu, maka keseluruhan unsur ABRI juga akan ikut memikul resikonya. Apakah hal tersebut ini tidak terpikirkan oleh unsur-unsur ABRI di luar TNI-AD ? Secara pasti kita tidak tahu. Namun secara tidak resmi, banyak juga didengar komentar beberapa perwira. TNI-AL, TNI-AU dan Polri. “Jika mahasiswa mengeritik ABRI, harus dilihat dulu ABRI yang mana,” ujar mereka. Komentar-komontar semacam ini, kiranya mendapat perhatian bagi para mahasiswa andaikata ingin membuat poster atau tulisan yang mengeritik ABRI, sebaiknya ditujukan kepada sasaran yang konkrit. (Unsur ABRI mana yang dikritik). Sehingga bunyi poster tersebut diatas tadi akan menjadi “ABRI Milik Rakyat, “Kembalikan TNI-AD kepada Rakyat”.


BERITA-BERITA SEPUTAR KAMPUS

MENGAKU UTUSAN PAK HARTO

Mm, 21-3-1978 “Siapa yang menyuruh saudara datang kemari ?”, tanya seorang mahasiswa. “Pak Harto”, jawab orang yang ditanya dengan singkat. “Pak Harto Presiden kita” selaknya dengan cepat sambil mengacungkan tangannya ke atas. Demikian awal dialog mahasiswa FIPIA-UI dengan seorang pemuda yang secara tiba-tiba masuk ke ruang SM FIPIA-UI, Jumat 17 Maret lalu, kira-kira jam 9.00 pagi. Dalam ruang senat itu, terjadilah percakapan sengit yang menjurus ke perdebatan. Karena mahasiswa ingin tahu asal-usul orang tersebut. Dari jawabannya menirnbulkan keragu-raguan di antara mahasiswa-mahasiswa yang sempat menyaksikan peristiwa itu. Tentu saja keraguan tentang waras tidaknya orang tersebut. “Keraguan kita hampir hilang, karena ia pandai berdebat”, berkata seorang mahasiswa. Akhirnya orang itu dibawa kegedung FT-UI untuk dimintai keterangannya lebih lanjut. Di sana mulai nampak indikasi ketidak warasan orang tersebut. “Saya ingin pimpin domonstrasi”, katanya bersemangat. Suasanapun makin hangat dan saling beri jurus simpanan gaya Moh. Ali alias jotos-jotosan. Setelah mahasiswa yakin orang itu tidak waras, iapun dibawa ke kantor POSKO-UI, Dari kantor ini sebahagian mahasiswa belum sepenuhnya yakin waras tidaknya orang ini. Untuk menghilangkan keragu-raguan, didatangkan dua orang dokter dari Pusat Kesehatan Mahasiswa UI dan Lembaga Kriminologi UI yang terletak tidak jauh dari situ. Hasil pemeriksaan menunjukkan, orang tersebut memang rnengalami gangguan syaraf dan diliputi frustrasi. Si syaraf yang bernama M. Utojo, 25 tahun itu, bertempat tigggal di Tg. Priok dan mengaku mahasiswa UNIJA (Universitas Jakarta). Jam 11.00 siang ia dilepas. Dengan diantar beberapa mahasiswaUI. M Utojo menaiki Bemo di jalan Salemba Raya sambii melambaikan tangan.


KAMPUS UI RAWAMANGUN DISERBU TENTARA

Mm, 21-3-1978 Dengan senjata terhunus dan perlengkapan perang lainnya, tiga truk dan hampir sepuluh jeep tentara menyerbu Kampus UI Rawamangun, hari Sabtu, 18 Maret lalu. Setelah kampus dikuasai kira-kira pada jam 9.00 pagi, pasukan yang terdiri dari Baret Hijau (Jayakarta) dan Baret oronye (Kopasgat) itu, mulai menjalankan operasi pencabutan poster yang dipasang sejak pagi-pagi di FH, FS, FIS dan FPsy.UI. Tidak seperti waktu-waktu lalu, penyerbuan kali ini tidak meendatangkan korban. Baik di pihak penyerbu, maupun warga kampus. Hanya seorang tentara (Baret Hijau) yang terkilir kakinya. Karena jatuh sewaktu memanjat tembok FS guna mencabut beberapa poster. Korban tersebut kemudian dipapah oleh kedua temannya ke mobil yang diparkir tidak jauh dari situ.

Ratusan poster bermunculan. Sejak pa.gi-pagi kurang lebih 800 buah poster secara serentak dipajang di ke 4 Fakultas yang berada di kampus UI Rawamangun. Hampir semua tembol Fakultas tertutup poster. Baik dalam ruangan maupun di luar yang mengjadap ke jalan Pemuda. Ratusan penduduk yang berdiam sepanjang jalan Pemuda ke luar rumah untuk menonton aksi poster itu. Aksi tersebut juga menarik perhatian pengendara yang lewat. Jalan Pemuda yang sangat padat arus lalu lintas di pagi hari itu, sempat macet. Karena kendaraan dijalankan perlahan-lahan sambil membaca isi poster. “Hidup mahasiswa”, teriak seorang pengendara Mercy 200 yang sedang menuju arah jalan Pramuka sambil mengacungkan tangan kanannya. “Hidup, hidup…….”, balas mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiri di pintu masuk FH-UI. Beberapa dari ratusan poster yang terpampang itu antara lain berbunyi : SU MPR jangan jadi sandiwara umum – Berapa ribu lagi mahasiswa harus disandera untuk amankan SU MPR – Bisakah aspirasi tertampung kalau 60% vs 40% – Selamat pagi Adam, mau dibawa kemana Republik ini – MPR : Makan Pesta Rakyat – Republik Indonesia = Republik A.M. – Mengapa Sri Sultan mengundurkan diri disaat kita memerlukan perubahan secara mendasar – UU Pemilu melanggengkan kekuasaan – Bagaimana MPR bisa bijaksana kalau Eksekutif dominan di Legislatif – Gerakan moral mahasiswa tidak memaksa kehendak. Sebuah poster berukuran raksasa yang dapat dibaca dari jarak jauh dipasang di atas Aula FH-UI. Poster tersebut bertuliskan “Pertanggungan Jawab Presiden hanya basa-basi saja”. Dalam kesempatan itu dua orang Baret Hijau sempat mengambil bekas-bekas pengumuman SM FH melalui jendela SM-FH-UI. Sedangkan seorang lagi memasuki ruang SM dan mencabut tempelan-tempelan yang ada di tembok.

Renungan IKIP dibubarkan Setelah seluruh poster dikuasai, satu truk Baret Hijau meninggalkan kampus UI Rawamangun. Jam menunjukan tepat pukul 10.30 WIB. Sisa pasukan kelihatan mulai terpencar-pencar sampai ke asrama mahasiswa UI “Daksinapati” dan kampus IKIP Jakarta. Mahasiswa IKIP saat itu memulai acara renungan yang telah mereka rencanakan semula. Renungan yang diisi dengan pembacaan puisi dan pembakaran api unggun serta menyenyikan lagu-lagu itu, hanya berlangsung sebentar. Kira-kira jam 11.15, pasukan-pasukan yang tersisa tadi (dua truk) berkumpul kembali dan membubarkan renungan mahasiswa IKIP tersebut. Beberapa mahasiswa IKIP sempat kena popor senjata.

Mengada-ada Seusai poster-poster di FS-UI dicabut, 2 orang mahasiswa FH-UI mencoba mendekati 2 anggota Baret Oranye yang kebetulan berada di situ. Walaupun hanya berlangsung tidak lama, mereka pun terlihat dalam percakapan santai. “Masa pasang poster saja harus dicabut. Alasan ini mengada-ada saja untuk memerintah”, kata salah seorang Baret Oranye. “Dik, posternya dicat saja ke tembok”, sambung yang lainnya sambil bergegas-gegas pergi. Kedua rekan mahasiswa hanya tersenyum mesum. Sementara itu, di Taman Sastra UI seorang mahasiswa FS-UI lainnya bertanya pada seorang anggota Kopasgat yang kelihatannya tenang-tenang saja. “Koq nggak ikut nyabutin poster pak ?” tanya si mahasiswa. “Ala, itukan bukan tugas Kopasgat, biarin aja pasukan Diponegoro dan Angkatan Darat lainnya yang melaksanakan,” jawab di Kopasgat itu dengan spontan. “Hidup Kopasgat !”, teriak beberapa mahasiswa UI.


PENYERBUAN DI KAMPUS UI SALEMBA

Mm, 21-3-1978 Bertepatan dengan aksi poster mahasiswa UI yang telah direncanakan sebelumnya, ribuan poster hampir memenuhi semua dinding fakultas di lingkungan UI, sejak dinihari tanggal 16 Maret 1978. Poster-poster bermunculan, baik di kampus UI Salemba dan Rawamangun. Ini mengundang anak buah Jenderal Panggabean untuk bergerak cepat. Pada jam 08.30 WIB, ratusan militer dengan senjata teracung menyerbu kampus UI Salemba. Dengan diangkut oleh 2 truk, 2 pick up, 6 jeep, serta dibantu 3 mobil satuan lalu lintas, mereka memasuki kampus melalui pintu samping UI, didepan Kantor Pos, dengan peralatan siap tempur dibawah pimpinan Mayjen Norman Sasono. Jalan Salemba Raya, yang biasanya macet dipagi hari menjadi lebih macet lagi, karena jalur lambat dimuka kampus UI ditutup oleh petugas Polantas dan pasukan baret hijau yang siap menghadapi segala situasi. Satgasma UI yang biasa bertugas menjaga keamanan kampus dan menjaga pintu gerbang UI pada sayap kiri (satu-satunya pintu yang terbuka), tak berdaya menahan serbuan pasukan ini. Para mahasiswapun tidak berusaha melayani serdadu yang mengamuk ini, yang telah tidak tidur selama seminggu. Setelah memasuki pintu gerbang, pasukan menyerbu ke Fakultas Teknik di sebelah kanan dan sebagian lagi menyusup ke samping kiri – menuju FKUI, FIPIA-UI, FE-UI dan FKG-UI. Para mahasiswa diusir oleh sang komandan yang terlihat sudah kalap, kemudian mereka memasuki ruangan. Sambil mencopot poster, sang komandan terus berkoar, agar tidak lagi memasang poster, dan kali ini adalah yang terakhir. Jika tidak semua mahasiswa UI akan terkena akibatnya. “Saya sudah bilang berkali-kali, untuk tidak boleh ada lagi poster disini. Kami sudah seminggu nggak tidur”, katanya. Seorang mahasiswa di FEUI sempat kena pentungan atau gada berarus listrik, hanya karena mengatakan agar pengumuman olahraga yang juga tertempel di papan pengumuman jangan ikut tercopot. Sang mahasiswa yang sadar, tak perlu melayani serdadu kalap ini, hampir disuruh tembak oleh salah seorang diantara mereka. Mahasiswa itupun lari ke belakang dengan menerika resiko jam tangannya pecah disambar gada. Berbagai poster dan spanduk yang bertebaran itu antara lain berisi mengenai berbagai kemelut situasi saat ini. Diantaranya berbunyi : “MPR – jangan menjadi Majelis Penjajah Rakyat, “Pemuda KNPI agar segera dipersenjatai”, dan lain sebagainya. Sedangkan di tingkat atas gedung Rektorat UI, sebuah spanduk sepanjang lima meter mencoba menghimbau : “Selamat pagi Pak Adam, mau kemana …..? Yang menjadi sasaran kekalutan penyerbu bukan hanya poster-poster protes penyalur aspirasi mahasiswa tetapi tak ayal lagi, hampir semua kertas yang tertempel di papan-papan dan dinding bangunan. Ruang Kantor Redaksi “SALEMBA” yang juga ditempeli beberapa Bulletin Mahasiswa Menggugat dari dalam kaca, sempat membuat mereka panik, bingung bagaimana cara mengambilnya. Bayonet, sebagai alat untuk mencopot poster, hanya bisa digunakan jika terlebih dahulu kaca dipecahkan. Untung tak berapa lama kemudian pegawai kantor Redaksi salemba berada dalam ruangan segera membuka pintu, yang ketika itu juga menyelononglah “pasukan pembersih kampus” menggerayangi kantor Salemba, serta membersihkan dinding dari semua tempelan yang ada. Sejam kemudian pasukan yang rupanya dipimpin langsung oleh Mayor Jendral Norman Sasono, mengirimkan beberapa pimpinan mereka menghubungi Pimpinan UI di lantai 3 gedung Rektorat, dengan diantar oleh Komandan Satgasma UI Handi Yohandi SH. Dalam perjalanan menuju Rektorat, Handi Yohandi sempat kena marah dari “perwira penyerbu”. Ia menganggap Posko Satgasma UI telah melanggar konsensus bersama, yakni Posko Satgasma UI bertanggung jawab atas keamanan kampus UI terhadap gangguan dari pihak luar. Posko-UI menyangkal tuduhan itu dan menganggap semua-poster itu tidak ada Sangkut pautnya dengan serbuan dari luar. Sekitar pukul 10.00 WIB, barulah kampus UI Salemba tenang kembali. Tentara tersebut segera naik ke truk dan menuju markasnya dengan persenjataan yang lengkap, berupa senapan ukuran berat lengkap dengan sangkurnya, walkie talkie, pesawat radio di punggungnya, serta senjata paling mutakhir yang baru digunakan kali itu, berupa tongkat rotan sepanjang satu meter Dari pihak mahasiswa tak ada korban, tetapi salah seoreng tentara penyerbu telah cedera karena terjatuh ketika melompati pagar yang mengelilingi kampus UI Salemba.


ROTAN MENGHIASI JALAN-JALAN PROTOKOL DAN KAMPUS UI

Mm,21-3-1978. Pasukan baju hijau yang, berjaga-jaga sepanjang jalan-jalan protokol di Jakarta, mulai tanggal 18 Maret 1978 dilengkapi dengan senjata ringan baru berupa sebuah tongkat rotan besar dengan diameter satu inchi dan panjang satu meter. Demikian juga untuk pasukan yang menyerbu kampus UI Salemba dan Rawamangun pada hari Sabtu lalu. Agaknya penggunaan senjata rotan adalah demi mengurangi korban yang patah tulang akibat pukulan dengan popor senapan. Tetapi rotan hanya dipergunakan kalau massa, mahasiswa dan pelajar yang dihadapi tidak mengadakan perlawanan fisik. Karena kalau sedikit saja massa mengadakan reaksi, langsung sangkur berperanan kembali sebagai obat penenang. Sedangkan pada hari Senin kemarin, sejumlah lima truk dan lima jeep tentara telah didrop di Bundaran jalan dan halaman Hotel Indonesia. Mereka diperlengkapi dengan senjata lengkap serta amunisi cadangan, plus sebuah tongkat rotannya. Mereka mencegat dan menggeladah para pejalan kaki yang lewat di sekitar situ. Para tamu Hotel Indonesia yang baru tiba pun tak luput dari tindakan tersebut. Pemeriksaan yang paling teliti dan lama, dikenakan kepada pejalan kaki yang kebetulan berstatus mahasiswa. dan pelajar SLTA. Sementara itu para pekerja dari Hotel Indonesia dan Wisma Nusantara tampak banyak yang keluar ke halaman dan dengan muka yang tegang menyaksikan para tentara yang sedang melaksanakan tugasnya. Sedangkan pasukan baju hijau tersebut dongan tampang yang distel serius, sibuk terus menerus mengirimkan laporannya ke rnaskas komando melalui pesawat radio pemancar yang dipanggul di punggungnya, yang ber-antena. sepanjang dua meter.


RUSLAN SIREGAR DI TAHAN

Mm. 21-3-1978 Berita terlambat dari Posko UI, bahwa Ruslan Siregar, Kasie III Posko UI, tanggal 9 Maret 1978 puku1 23.00 Wib, telah ditahan Laksusda Jaya. Ia ditahan sehubungan dengan tugas pengamanan Kampus UI Salemba. Sebagaimana diketahui Ruslan selalu aktif menjalankan tugasnya sebagai anggota Posko-UI, terlebih sejak keluarnya SK Rektor UI tentang pengamanan pengamanan Kampus UI oleh para anggota Posko. Menurut berita acara pemanggilan yang disampaikan kepada Posko UI, alasan pemanggilan Ruslan, hanyalah ingin dimintai keterangan saja. Namun hingga hari ini Ruslan Siregar masih dalam status tahanan Intel Satgas di dekat Lapangan Banteng. Sementara itu, tanggal 18 Maret 1978 lalu, beberapa anggota Posko UI dan para mahasiswa penjaga gerbang Kampus UI, telah mengirimkan uang Rp. 5.000.- (lima ribu rupiah) kepada Ruslan di tahanan. Kiriman untuk pernyataan sekedar solidaritas sesama mahasiswa itu, dikirimkan melalui Mayor Slamet Singgih. Keesokan harinya tanggal 19 Maret 1978, jawaban tanda terima dan sepucuk surat dari Ruslan untuk teman-temannya di Salemba, diterima melalui Mayor Slamet juga. Isi surat tersebut antara lain menyatakan bahwa ia (Ruslan) baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi akan keluar, karena pemeriksaan hampir selesai. “Dan terima kasih atas kirimannya.” Tak dinyana, kisah surat Ruslan ini ternyata menghantarkan kita kepada suatu kisah serial ketiga dari Pak Slamet, alias Pak Pos Istimewa, berikut ini.


SERIAL PAK SLAMET – BAGIAN 3 “WAH, KALAU SAYA JAWAB. NANTI MASUK Mm LAGI”

Mm. 2l-3-1978. Untuk ketiga kalinya, kisah Pak Slamet (bukan Prof. Slamet) diturunkan dalam media kita ini. Tujuannya tidak samasekali untuk memojokkan beliau, juga tidak untuk mempopulerkannya agar cepat naik pangkat. Kisah ini dimuat sekedar menunjukkan, bahwa jerih payah pengasuh Mm yang setiap hari mengawasi gerak-gerik Pak Slamet (“ngintelli,” istilah asingnya), ternyata membuahkan hasil. Disamping memang penbawaan beliau itu sendiri cukup interesan untuk dijadikan bahan berita menarik. Akisah, malam Minggu tanggal 18 Maret 1978 lalu, beberapa anggota Posko UI dan para mahasiswa penjaga gerbang masuk UI, mengumpulkan uang Rp. 5000,- (lima ribu rupiah) uang tersebut segera dikirimkan kepada saudara Ruslan Siregar (anggota Posko UI) yang di tahan Laksusda sejak tangga1 9 Maret 1978. Oleh karena prosedure untuk mengantarkan kiriman kepada para mahasiswa yang ditahan itu cukup berbelit, akhirnya rekan-rekan mahasiswa di Salemba memutuskan untuk mengangkat seorang “Pak Pos Istimewa.” Namanya pak Slamet, alias Mayor Slamet Singgih Koordinator Intel Kampus UI Salemba. Senin malam tanggal 19 Maret 1978, sekitar pukul 20.00 Wib, Pak Pos Istimewa kita itu datang lagi ke kampus UI Salemba. Ia membawa surat tanda terima kiriman uang dari Sdr. Ruslan, dan juga membawa sepucuk surat Ruslan buat kawan-kawan mahasiswa UI di Salemba. Sehabis menunaikan tugasnya dengan baik, Pak Pos Istimewa tadi segera berbincang-bincang sejenak dengan mahasiswa UI di Salemba. Suasana cukup ramah dan akrab sehingga terjalinlah pembicaraan yang rada seru serta mengasyikkan. Tentu saja materi pembicaraan tidak jauh menyimpang dari soal yang lagi hangat-hangatnya di masyarakat, yakni tentang varia SU MPR 1978. Mengomentari ocehan salah seorang mahasiswa mengenai sikap PPP tentang calon Presiden dan Wakil Presiden, Pak Slamet menyela: “Ah, PPP ternyata tahu situasi koq, mereka tidak berani menolak usul fraksi-fraksi lain untuk mencalonkan Pak Harto dan Adam Malik.” Tiba-tiba dengan nada agak serius, Pak Slamet mengisahkan pendapatnya ketika masa demam Pemilu 1977 lalu. Ia berkata: “Dulu waktu masa Pemilu, saya pernah bilang sama teman-teman saya, bahwa jika PPP yang menang maka kita ke kantor harus pakai sarung.” Beberapa mahasiswa tertawa mendengar ocehan Pak Slamet ini. Sementara redaksi Mm (Mahasiswa Menggugat) yang berada persis di belakang beliau tanpa diketahuinya, diam saja sambil berucap dalam hati: “mudah-mudahan saja tidak semua perwira muda TNI-AD lulusan AKABRI yang berpandangan picik seperti ini.” Masih obrolan tentang SU MPR, seorang mahasiswa kemudian bertanya kepada Pak Slamet. “Bagaimana komentar bapak tentang orang-orang ‘ekskutif’ ikut main di lembaga ‘legis1atif’ seperti tampak sekarang ini? –Ya, ibarat seorang wasit bola, ikut bermain dalam permainan yang diwasitinya, ujar mahasiswa itu lebih lanjut”. Apa jawaban Pak Slamet ? “Wah, kalau saya. jawab, nanti masuk Mm lagi.” para mahasiwa tersenyum mendemgar jawaban Pak Slamet, dan redaksi Mm pun tertawa nyaring didalam hati.


“KOMA” TERBIT KEMBALI

Mm. 21-3-1978 Jangan kaget ! Tidak terbitnya “KOMA” bukan disebabkan larangan Laksusda Jaya. Tapi mahasiswa pengelolanya mengikuti ujian semester II. Untuk itu “KOMA” perlu di istirahatkan sementara. Koran-koran ibukota yang dilarang terbit, setelah diizinkan terbit kembali, isi pemberitaannya berbalik 180 derajat. Bahkan 360. Hanya sepihak. Membuat banyak orang, apalagi mahasiswa menjadi muak. “Lebih baik membaca perjuangan mahasiswa yang ada”, begitu komentar banyak orang, Berlainan dengan “KOMA” yang mulai terbit lagi minggu lalu. Disamping tata lay out yang siap naik cetak (sayangnya ini koran dinding), isinya juga semakin padat. Nyata benar bedanya dengan media massa yang ada satat ini. “Beritanya cukup memenuhi tuntutan mahasiswa”, begitu komentar seorang mahasiswa. “KOMA” ini merupakan sarana latihan bagi mahasiswa tingkat III dan IV Departemen Komunikasi Massa FIS-UI dalam membuat berita, editorial, features dan lainnya. Ia terbit sejak 5 September 1977 lalu, sekali seminggu. Terbitan terbaru, 20 Maret 1978, nomor 14 yang menyajikan beberapa topik. Head line: Aksi Mogok Tidak Memenuhi Sasaran? Editorial: Setelah 26 Maret, What Next ?, dan artikel menarik lainnya. Agaknya, laporan ini kurang lengkap. “Seluruh warga UI dapat menengok dan membaca “KOMA” di samping kafetaria FIS-UI”, begitu harapan seorang pengelola “KOMA” yang disampaikan kepada reporter “Mm” kemarin siang di Rawamangun .


Disalin sesuai dengan aslinya

PIDATO LETNAN JENDERAL H.R. DHARSONO PADA ACARA SERAH TERIMA JABATAN SEKJEN ASEAN – 18 FEBRUARI 1978

Para yang Mulia Kepala Perwakilan, para tamu, nyonya2 dan tuan2 yth. Pertama-tama saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih saya atas kehadiran anda bersama kami, untuk menyaksikan serah terima jabatan Sekjen ASEAN dari tangan saya kepada tuan Oemarjadi, yang didasarkan atas instruksi Yang Mulia Dr. Upadit Pacharyangkun, Menlu Thailand, dalam kedudukannya sebagai ketua “standing committe” untuk tahun 1977/1978, yang disampaikan kepada saya sebagai pesan yang dimuat dalam nota Yang Mulia Duta Besar Thailand, yang sekarang ahdir disini, pada tanggal 9 Februari yang lalu.

Para yang mulia, para tamu yang terhormat Setelah saya menyerah terimakan jabatan SEKJEN ini kepada tuan Oemaryadi, maka pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan “Selamat kepada Tuan Oemajadi yang akan menggantikan saya untuk jangka waktu 3 bulan; yaitu sisa jangka waktu 2 tahun yang di berikan kepada Indonesia. Maka bila ada pertanyaan “Siapakah yang menjadi SEKJEN ASEAN pertama,” Jawabnya ada 2 orang, yaitu : I.a. Dharsono dan I.b. Oemarjadi.

Para tamu yang terhormat, Pada kesempayan ini, saya ingin pula menyampaikan terima kasih saya kepada Pemerintah Negara-negara anggota ASEAN, yang hari ini diwakili Yang Mulia Kepala-kepala Perwakilannya di Jakarta, sedangkan Indonesia diwakili oleh Tuan Yanuar Djani yang sekarang tentunya adalah pejabat Direktur Jendral ASEAN Indonesia. Ucapan terima kasih ini saya sampaikan atas bantuan negara-negara anggota yang di berikan kepada saya sampai saat saya menyerahkan jabatan, 3 bulan sebelum waktu yang sebenarnya. Saya ingin pula menyampaikan terima kasih dan penghargaan saya atas segala bantuan dari staf Sekretariat, baik “Home Base Staff” maupun “Local Staff”. Mengenai Sekretariat ASEAN, saya berpendapat bahwa Sekretariat adalah suatu badan baru yang dimasukkan kedalam suatu “machinary” lama, Yang telah ada sebelum Sekretariat berdiri. Selama saya bertugas dalam badan baru ini, dapat saya katakan bahwa tugas ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan, penuh penuh dengan tantangan, dan secara terus terang “Frustating” pula. Saya kira para anggota staf lainnya, baik “Home Base Staff “ maupun “Local Staff” mempunyaii pikiran dan perasaan yang sama dengan saya. Tetapi situasi semacam ini bagi suatu organisasi yang baru adalah wajar, terutama kalau kita memulai dengan pendirian suatu badan yang baru, yang kemudian badan ini dimasukkan ke dalam organisasi yang telah ada sebelumnya. Pada waktu-waktu yang lampau telah banyak dibicarakan tentang Sekretariat, terutama kedudukan dan tugasnyat termasuk pula kedudukan dan tugas Sekjen dan Stafnya. Sampai sekarang pembahasan. mengenai Sekretariat ini belum dapat dikatakan selesai, tapi dapat diperkirakan bahwa hal tersebut akan terus berkembang. Ditengah-tengah perdebatan dan pembicaran tentang Sekretariat itu, maka dapat disimpulkan bahwa dari pihak Sekretariat tidak ada gunanya untuk mendesakkan ide-idenya demi kedudukannya, sehingga sebagai akibatnya kita berusaha untuk membawa Sekretariat secara bertahap ke dalam “machinary” ASEAN secara Pragmatis sekali. Harapan saya adalah, bahwa dalam perkembangan yang masih akan berlangsung tersebut dibawah pimpinan dan kemampuan tuan Oemarjadi sebagai orang yang tidak asing lagi terhadap masalah-masalah ASEAN, segala sesuatunya dapat berjalan baik sehingga saya yakin pada suatu waktu Sekretariat ASEAN ini tidak merupakan masalah lagi.

Para tamu yang terhormat, Kembali kepada konsensus yang telah tercapai dan disetujui oleh ke lima MENLU negara anggota ASEAN, seperti yang sebelumnya pernah saya beritahukan kepada pers, bahwa saya akan menerima keputusan ke lima MENLU, kecuali bila ada permintaan kepada saya untuk meletakkan jabatan secara suka rela. Saya merasa, bahwa bagi 4 negara lainnya : Malaysia, Philipina, Singapura dan Thailand amat sukar untuk mengeluarkan keputusan tersebut, terutama atas desakan Indonesia yang menarik dukungannya terhadap saya sebagai SEKJEN ASEAN dengan tuduhan bahwa saya telah campur tangan dalam masalah domestik suatu negara anggota, dalam hal ini Indonesia, dari mana saya sendiri berasal, yang juga dipergunakan sebagai “justification”/pembenaran untuk meyakinkan ke 4 negara anggota lainnya guna memberhentikan saya sebagai SEKJEN. Cara yang ditunjukkan oleh ke 4 negara lainnya untuk mencapai konsensus merupakan sesuatu yang saya dapat menerimanya dan bahkan menghargainya, terutama bila kita melihat bahwa usul dari Indonesia untuk memberhentikan saya mempunyai unsur yang sangat kuat dengan menonjolkan alasan “campur tangan dalam masalah dalam negeri salah satu anggota ASEAN, dalam hal ini Indonesia”. Dan betapa serius dan kuatnya usul Indonesia ini dapat pula dibuktikan dengan cara yang dillakukan MENLU a.i. Dr Mochtar Kusumaatmaja yaitu dengan menyelenggarakan suatu “Shuttle diplomacy” ala Kissinger untuk meyakinkan usul tersebut kepada 4 negara anggota lainnya. Tetapi, dan ini hanya menurut perasaan saya, saya mendapat kesan bahwa para MENLU lainnya tidak menghiraukan apa yang menjadikan sebab usul Indonesia tersebut sehingga harus menarik dukungan terhadap saya. Dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh para MENLU lainnya yaitu persoalannya semata-mata hanya dilihat dari akibat penarikan dukungan Indonesia terhadap saya, yang berarti tugas saya sebagai Sekjen akan terpengaruh oleh fakta itu sehingga tidak efektif lagi, dan penggantian oleh tuan Oemarjadi yang diusulkan dan dengan sendirinya didukung oleh Indonesia, kemudian diterima. Maka oleh sebab itu, bagi saya sendiri tidak ada perasaan sakit hati sedikitpun terhadap ke 4 anggota ASEAN lainnya yang telah menunjukkan kebijaksanaan dalam menanggapi usul Indonesia yang kuat itu dalam usaha mereka untuk menuju kepada suatu konsensus. Adapun keadaan saya, dilihat dalam hubungannya dengan pemerintah Indonesia, tidaklah sama; terutama karena saya menganggap keputusan para menlu itu, sebagai konsensus, merupakan suatu keputusan berdasarkan “hukum”, sedangkan yang menjadi sebab usul Indonesia tersebut bersifat politis. Persoalan saya dengan pihak Indonesia masih belum selesai, dan masih harus mengalami perkembangan selanjutnya yang saya sendiri belum tahu arahnya Dengan penyerahan jabatan yang baru saja lalu, maka hubungan saya dengan ASEAN teah berhenti; dan sekali lagi saya mengucapkan atas kebijaksanaan yang tersirat maupun yang tersurat, terutama yang telah diperlihatkan oleh 4 negara anggota ASEAN lainnya dalam keputusan yang di tanda tangani oleh yang mulia Dr. Upandit Pacharyakun atas nama ke lima Menlu negara; dan sekali lagi, yakinlah bahwa dari pihak saya tak ada sedikitpun perasaan sakit hati terhadpp ke 4 negara anggota ASEAN itu.

Para yang mulia, paraa tamu yang terhormat; Bila kita menengok kembali pada cara yang diperlihatkan oleh Indonesia dalam usahanya untuk, mendapatkan persetujuan dari ke empat negara lainnya guna membebaskan saya dari jabatan SEKJEN, dari hal tersebut dapat di buktikan bahwa persoalannya dianggap serius sekali; dan bahwa dengan demikian tidak ada kemungkinan yang ada dalam pemikian Indonesia selain dari pembebasan tersebut. Saya anggap bahwa suatu bagian “hardline policy” dewasa ini sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia. Dan saya mengetahui, bahwa setelah serah terima jabatan ini saya dihadapkan pada hard line plicy ini. Pada saat ini kalangan pers lndonesia juga hadir ditengah-tengah kita. Untuk ini saya ucapkan terima kasih. Tetapi saya tidak yakin, bahwa koran-koran lokal akan berani memuat apa yang saya katakan disini, suatu hal yang sangat saya sesalkan. Tetapi saya sepenuhnya memahami kedudukan saudara-saudara dari pers. Terutama hal ini saya tujukan kepada surat-surat kabar Indonesia yang baru-baru ini dihentikan peredarannya, dan kemudian diperkenankan terbit kembali setelah diminta oleh yang berkuasa untuk menandatangani suatu pernyataan “sukarela” yang memuat janji akan mentaati segala peraturan/pembatasan yang ditentukan oleh yang berkuasa. Saudara-saudara terpaksa menjalankan hal itu karena dihadapkan pada suatu dilemma yang berat untuk memilih antara “dignity/prinsip dan perut”. Saudara telah memilih perut, mungkin bukan perut para pemimpin surat-surat kabar, tetapi perut para karyawan yang bekerja pada surat-kabar saudara. Dan kejadian ini menurut saya merupakan suatu “black mail atau pemerasan. Bagi orang-orang yang menginginkan perbaikan nasib rakyat, pada saat ini dalam perjuangan itu, akan dihadapkan pada tembok yang kuat yang terdiri atas orang-orang/pejabat-pejabat yang dihadapkan pada suatu pilihan yang berat antara “dignity/prinsip dan perut/kedudukan. Dan ini adalah sikap mental yang umumnya terdapat di Indonesia dewasa ini. Oleh karena itu bagi orang-orang yang akan memperjuangkan nasib rakyat dalam keadaan tersebut, akan merupakan perjuangan yang berat. Akhirnya saya mengharapkan sekali lagi agar tuan Oemarjadi, dengan bantuan staff Sekretariat dilihat dari kedudukan dan tugasnya, dapat membawa Sekretariat ini ke dalam “machinary” ASEAN secara keseluruhan, sehingga dapat tercapai efisiensi yang sama-sama kita harapkan.

ttd

H.R. Dharsono

March 20, 2009

Jum’atan

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:34 pm

Sudah empat kali berturut-turut tidak melaksanakan shalat jum’at di mesjid UI (Ukhuwah Islamiyah) Kampus Depok, rasanya sudah rindu dengan suasana jum’at di Kampus. Baru pada hari Jum’at ini (20/03) ada kesempatan shalat di mesjid kampus. Bertindak sebagai khatib, yaitu yang menyampaikan khutbah Jum’at  adalah Dr.Ir. M. Anis, M.Met, Wakil Rektor UI Bidang Akademis. Pada kesempatan itu, topik yang dibahas mengenai Hikmah Maulid.

 

Tetapi pada kesempatan ini yang menjadi pokok perhatian adalah tentang pimpinan  dan warga UI lainnya yang menjadi khatib jum’at serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan Jum’atan ini. Biasanya usai  shalat Jum’at, khatib dan para pengurus mesjid lainnya menuju ke belakang mimbar (mihrab), dimana disitu ada ruangan sekretariat pengurus mesjid serta ruang tamu dan. Disitulah biasanya diadakan acara makan siang bersama. Menu makannya sederhana saja, ada sayuran, goreng ayam atau sayur kare ayam, goreng tempe dan tahu, sambal serta buah. Suasana makan siangnya yang membuat nyaman untuk ngobrol apa saja atau berdiskusi dengan khatib tentang topik yang baru saja dibicarakan di mimbar.

 

Tetapi siang ini, rupanya Dr. Ir. M. Anis, M.Met tidak ikut makan siang, tetapi langsung menuju kantor di Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU). Maka acara makan siang hanya  dihadiri para pengurus mesjid saja. Salah seorang pengurus mesjid bercerita, sudah beberapa kali meminta Wakil Rektor UI untuk menjadi khatib shalat Jum’at. Tetapi tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya terjadi peristiwa ”mendadak” yang membuat Wakil Rektor tidak bisa mengelak. Ceritanya Rektor UI Prof.Dr.der Soz Gumilar Rusliwa Somantri sudah bersedia menjadi khatib Jum’at. Tetapi secara mendadak dia menerima undangan ibadah haji dari Raja Arab Saudi (tahun 2007) dan harus segera berangkat. Akhirnya Rektor membuat surat perintah kepada Wakil Rektor I, untuk menggantikannya menjadi khatib shalat jum’at di mesjid UI. Sejak itu, kalau ada permohonan menjadi khatib dari pengurus mesjid, tidak pernah ditolak. Dan ternyata, Wakil Rektor satu UI ini masih punya darah keturunan Habib Kuntjung, salah satu tokoh agama yang disegani di wilayah Condet.

 

Lain lagi certia tentang Rektor UI (alm) Prof.Dr. Sujudi. Rektor yang satu ini kalau shalat jumat, selalu berada di barisan paling depan. Menurut sopirnya, pernah terjadi tidak sempat melakukan shalat jum’at karena sesuatu hal atau karena kesibukan pekerjaan. Kontan, Allah memperingatkan dengan mendapat satu musibah. Sejak saat itu, Prof.Dr. Sujudi tak pernah absen menjalankan shalat Jum.at. Karena itulah makanya dia selalu terlihat duduk di barisan depan, karena senantiasa datang ke mesjid lebih awal.

 

 

Lain lagi dengan cerita Rektor UI  Prof.dr.M.K. Tadjudin, yang menggantikan kepemimpinan Prof.Dr. Sujudi. Seminggu setelah pelantikannya sebagai Rektor UI, dia meminta kepada pengurus mesjid UI, supaya diberi kesempatan menjadi khatib Jum’at. Tetapi ada juga Rektor yang hingga akhir jabatannya tidak pernah naik mimbar Jum’atan,

walaupun dari segi namanya sudah sangat mendukung.

March 19, 2009

Percaya Nggak Percaya (PNP) I: Kampus Meminta Korban

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:27 pm

Sebetulnya sudah lama ingin menulis dan mengungangkapkan mengenai hal-hal yang berbau mistik dan misteri di lingkungan kampus, tetapi belum ada waktu untuk mewawancari nara sumber. Baru pada pagi hari ini (19/03) mengobrol dengan seseorang yang ternyata menceritakan hal-hal yang tak terduga sebelumnya. . Waktu permulaan pindah ke kampus Depok (1987) dan beberapa tahun sesudahnya, masih sering terjadi hal-hal aneh, salah satu diantaranya yang terjadi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). Menurut pengamatan seorang pegawai FIB, pada waktu itu kerap terjadi warga FIB yang meninggal secara mendadak dan yang paling sering terjadi karena disebabkan tertubruk mobil waktu menyebrang di Jalan Margonda Depan Gang Kober atau tertabrak kereta.

Satu kali pernah terjadi, dua orang mahasiswi FIB asal Jakarta dan Tangerang mau menyebrangi rel kereta, salah seorang diantaranya berjalan di atas rel kereta dengan dituntun oleh temannya. Kedua orang itu asik berjalan, tidak mendengarkan dan melihat ada KRL yang akan lewat. Seorang pedagang yang melihat kedua mahasiswa tadi segera saja melempar batu sambil berteriak untuk menyadarkan kedua orang tadi. Satu orang selamat tetapi satu orang lagi nyaris tertabrak KRL. Untung hanya kena hembusan angin yang ditimbulkan gerbong KRL yang berjalan cepat. Tetapi akibatnya sungguh fatal. Mahasiwa tersebut terjatuh. Salah satu biji matanya keluar, satu buah dadanya robek terbelah, kepala berlumuran darah. Segera di bawa ke RSCM. Waktu itu Dekan FIB masih dijabat oleh Prof. Sapardi Djoko Damono sementara Rektor UI adalah Prof. Sujudi. Rektor segera mengontak Direktur RSCM dan dalam waktu yang singkat korban segera ditangani, dilakukan operasi bedah plastik. Dalam waktu tiga bulan mahasiswi tersebut sudah bisa kuliah lagi. Dan kata pegawai FIB yang megantar dan mengurus pengobatan ke RSCM, mahasiswi tersebut telihat lebih cantik daripada sebelum kecelakaan.

Rupanya misteri di FIB belum selesai sampai disitu. Satu saat pernah terjadi seorang karyawan kesurupan dan berbicara memakai bahasa Sunda yang tidak bisa dimengerti oleh orang Sunda sekarang. Akhirnya meminta tolong Prof. Ayat Rohaedi (Mang Ayat) arkeolog yang mengerti bahasa Sunda Kuno. Terjadilah dialog. Pegawai yang kesurupan itu meminta dua nyawa manusia sekaligus. Tetapi kemudian akhirnya hanya meminta ganti dengan memotong dua ekor kambing berwarna hitam dan putih. Kambing yang sudah dipotong itu ditanam di dekat musholla fakultas FIB.

Sejak saat itu, tidak ada lagi warga FIB yang meninggal karena kecelakaan atau kesurupan kemasukan roh makhluk jaman dahulu.

March 18, 2009

Mahasiswa Menggugat 3

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 12:10 am

MAHASISWA MENGGUGAT Alamat Redaksi : Jl. Salemba Raya 4 – Jakarta Pusat JAKARTA, 18 MARET 1978 – NO. 3/Th. I

CATATAN-CATATAN LEPAS

Hidup Dan kehidupan ini, pada Hakekatnya tak bisa lepas dari masa lampau, kini, dan akan datang. Dari hari ke hari, kehidupan umat manusia bergerak mengalami proses perubahan baik ia secara individu, secara kelompok (masyarakat), maupun suatu bangsa.Ada masyarakat atau bangsa yang mengalami perubahan secara, “Revolusi,” dan ada pula yang bergerak setahap demi setahap mengikuti: jalur “evolusi”. Pendek kata, tidak ada satu masyarakat atau suatu bangsapun di muka bumi ini yang luput dari proses perubahan itu. Disenangi atau tidak, melalui proses yang aman ataupun tidak!


Semua aktivitas dalam kehidupan manusia, berlangsung lewat kaidah-kaidah tertentu. Entah dalam suatu mekanisme teknis, dalam kaidah agama, kebijaksanaan-kebijaksanaan politik, perwujudan artistik, ataupun argumentasi ilmiah. Kaidah-kaidah ini tidak hanya bertalian dengan akal budi dan pengertian manusia, tetapi juga bertalian dengan seluruh pola kehidupannya. Dan berkaitan pula dengan seluruh perbuatan serta harapan-harapan manusia. Kaidah-kaidah dapat dimengerti, diajarkan dan disebar-luaskan di kalangan warga masyarakat melalui bahasa dan lambang-lambang (simbol-simbol) tertentu. Sesuatu “kata” dalam masyarakat bersangkutan, ada kalanya juga merupakan suatu lambang (simbol). Kaidah-kaidah tersebut selalu mengalami perubahan, dan ini memerlukan suatu proses belajar yang bertalian dengan situasi-situasi yarg disusun kembali melalui perubahan dalam simbol-simbol, lambang-lambang adalah pengejawantahan dari proses belajar, sehingga kita seolah-olah dapat naik menara-menara yang tinggi, lalu.memandang kearah yang dulu tidak kita kenal. Dengan demikian kita juga tahu, kearah mana kita harus berkiblat. “Dunia selalu berubah, sehingga kaidah-kaidahpun selalu harus ditinjau kembali.”The rules of the game,” tidak berlaku untuk selama-lamanya. Dikatakan oleh Prof. Dr. C.A van Peursen, “lambang-lambang merupakan penunjuk jalan di tengah-tengah kesimpang-siuran perbuatan manusiawi; sekaligus merupakan pula tanda-tanda mengenai tanggung jawab manusiawi. Lambang itu melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada kita : Bagaimana kita menanggapi situasi ini ?” – Pemilihan seorang pemimpin seluruh rakyat yang bernama Presiden di kawal dengan ketat oleh tentara bersenjata lengkap seperti kini sedang berlangsung; adakah ia merupakan sebuah pertanyaan bagi kita? Kata-kata: “tenteram”, “aman”, dan “sejuk” menurut penguasa; adakah terpikir oleh kita bahwa justru ketiga kata tersebut merupakan perlambang dari situasi sebaliknya. Yakni “resah”, “tidak aman” dan “panas”.


Lewat “trial and error” kita bisa menjadi bijaksaan. Kekeliruan dan kesalahan, adakalanya bermanfaat. Namun dapat juga terjadi, bahwa manusia lewat kekeliruan dan kesalahannya, justru menjadi semakin tidak bijaksana dan semakin bodoh.


BERlTA-BERITA SEPUTAR KAMPUS

PESERTA KKN-UI PANDEGLANG TlBA Dl KAMPUS SALEMBA

Mm. 18- 3-1978 Empat puluh lima orang peserta KKN UI Pandeglang tanggal 16 Maret 1978, tiba di kampus UI Salemba (fakultas Teknik) dengan selamat. Dua buah bus membawa mereka dari daerah Banten itu dengan pengawalan yang cukup ketat dari tim mobil lalu lintas. “Rombongan berangkat dari Pandeglang pukul 13.30 WIB dimana sebelumnya mereka mengadakan perpisahan lebih dahulu dengan Bupati serta mayarakat setempat di Kabupatenan. Pada kesempatan itu dari UI hadir bapak Pringgodigdo,SH – Pembantu Rektor khusus bidang pengabdian masyarakat di UI. Pukul 18.00 WIB rombongan tiba di kampus UI ini yang kebetulan sedang di jaga ketat oleh mahasiswa UI sehubungan keadaan akhir-akhir ini. Para penjaga menyambut dengan hangat, sampai seorang berteriak, “merdeka,….. merdeka,…… merdeka.” Para peserta KKN tampak sibuk menurunkan barang-barang perlengkapan serta bingkisan dari Pandeglang yang cukup banyak. Tampak kelihatan kulit mereka kecoklatan, kena terik matahari rupanya. Ini menandakan mereka turun kelapangan dan ini boleh dikatakan Nyata-nyata Kerja disana. Sementara para peserta sibuk mengurus barang-barang, seorang rekan yang kebetulan menyambut kehadiran mahasiswa KKN ini berkomentar, “wah seperti pemuda ‘AMS’, “” Memangnya kenapa ? tanya seorang rekan. “itu pakaiannya hijau-hijau,” jawabnya singkat. Memang banyak peserta KKN itu mengenakan pakaian seragam (secara kebetulan) hijau uniform militer. Yang kalau pinjam istilah mode dikenal dengan “army look”

Betah, sedih, dan kangen Seorang mahasiswa peserta KKN menyatakan, “kami masih betah disana, waktu dua bulan setengah terasa singkat. Karena kami benar-benar bermasyarakat di sana dan kami merasakan seolah tinggal bersama keluarga sendiri.” “Kita benar-benar diservis,” kata seorang mahasiswi menambahkan. “Tadi kita sedih dan menangis sekarang gembira lagi,” kata peserta KKN dari Fakultas Sastra.” Bagaimana kabarnya Rawamangun ?” Ia bertanya. tandas. “beberapa minggu kemarin, pasukan Laksusda mengamankan kampus dan mencabut Poster, yang hangat terjadi pada hari Jum’at tanngal 24 Februari di Fakultas Hukum. Disini terjadi “penembakan” dan penangkapan. Korban penyerbuan ini, tiga orang, satu kena bayonet dua kena popor,” jawab penulis. “saya benar-benar kangen pada teman-teman dan keluarga. Soalnya dengan kejadian akhir-ahkir ini yang menimpa kampus kita serta adanya, berita teman-teman yang ditangkap membuat saya ingin melihat medan sebenarnya.” ucap seorang peserta KKN.

Desa Perdana Menjadi Kampung Kerja Nyata Sebuah desa dari salah satu. medan KKN UI 1978 ini telah dinilai hasil kerja terbaik oleh team KKN. Menurut seorang peserta, desa tersebut telah diselamatkan dari penyakit kronis “banjir.” Mahasiswa yang bertugas di daerah ini telah membuat semacam saluran dan pengalihan arus air. Masyarakat setempat sangat berterima kasih atas kerja para mahasiswa UI ini. Dengan berhasilnya membuat suatu bentuk kerja yang efektip maka pihak penyelengara KKN dan warga setempat sepakat menamakan daerah tersebut dengan nama “Kampung Kerja Nyata.”

Secara umum sebagai moderator “Para mahasiswa KKN ini secara umum merupakan “moderator” dalam melaksanakan tugasnya.” kata seorang peserta. “Tetapi disamping sebagai moderator, kami juga turun kelapangan secara aktif.” katanya menambahkan. Para peserta KKN ini dalam tugas kerjanya dibagi dalam beberapa bidang, misalnya khusus dalam bidang pertanian, pendidikan dan secara umum memberikan pula penerangan-penerangan yang bersifat edukatif. Ini dikemukakan oleh beberapa peserta ketika dihubungi.

Cinta Sepintas “Ini yang menarik,” kata seorang mahasiswi mengomentari.” Soal “cowo” kecantol “cewe” dan “cewe” kecantol “cowo” itu sih lumrah dalam hal seperti ini,” katanya menambahkan.” Cuma sayangnya hanya sementara.” seorang mahasiswa berkomentar. Dan tertawalah semua, cuma sang mahasiswi sedikit mencibir. Rupanya ada main antar mereka. “Sebenarnya itu soal kesan saja,” mahasiswi itu berketa dengan lembut dan sambil melirik, kitapun jadi mahfum. “Ada yang kecantol anak pak Lurah tidak?” tanya penulis. Mendengar ini para peserta KKN ini terbahak. “hampir-hampir kocantol, kalau engga ada ini sambil melirik kegadis manis peserta KKN maka apa boleh buat, menetaplah awak di Pandeglang,” kata peserta KKN yang sedang sibuk mengemas barang ini.

Kembali ke Kampus Dua setengah bulan mereka berada di Pandeglang, menunaikan tugas panggilan nusa dan bangsa sesuai dengan janji Tri Dharma perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Maka berangkatlah mereka dengan tabah dan tekad kuat. Kalau melihat peserta KKN ini jauh sebelum mereka berangkat ke Pandeglang, banyak diantara teman-tcmannya yang mengundurkan diri, dengan berbagai alasan. Namun demikian empat puluh lima orang peserta ini setelah dikurangi 2 orang. Seperti kita tahu, satu orang peserta tewas dalam kecelakaan dan satu orang lagi luka-luka berat yang tidak memungkinkan turut aktif. Namun perlu diperhatikan rasa disiplih dan menghargai lingkungan yang asing itu perlu diperhatikan secara serius terlepas dari nasib yang kurang baik. Yang jelas korban kecelakaan memang sudah takdir tetapi disiplin itu sangat perlu. Kampus Universitas Indonesia telah menanti mereka untuk kembali studi, namun keadaan menghendaki lain. Setiba di Kampus mereka tidak terus kuliah tetapi terus mengadakan aksi mogok sesuai dengan rekan-rekannya yang telah malakukannya terlebih dahulu. Dan inipun sesuai dengan tuntutan untuk menjaga Stabilitas negeri selama SU MPR RI tahun 1978 dari tanggal 11 sampai 23 Maret 1978. Toleransi dan konsekuensi tetap harus di jaga.


KISAH PERJALANAN PULANG MAHASISWA KKN-UI DARI PANDEGLANG : “GOLOK SOUVENIR BIKIN GARA-GARA “

Mm. 18-30-1978 Daerah Banten tempat para mahasisiwa UI ber KKN (Kuliah Kerja Nyata), bukanlah daerah dimana bisa didapatkan banyak souvenir macam-macam. seperti halnya daerah Bali. Paling banter cuma dua macam yang bisa di bawa oleh para, mahasiswa selama 3 bulan mengabdi di sana. Ilmu magic atau golok Banten yang cukup kesohor itu. Nah, yang terakhir ini, rupa-rupanya ada juga beberapa mahasiswa berhasil memilikinya; sebagai kenang-kenangan (tanda mata) dari masyarakat di tempat mereka bertugas. Ternyata dalam perjalanan pulang ke Jakarta, golok-golok souvenir tersebut menjadi gara-gara. Di Balaraja, mobil mahasiswa KKN-UI itu dikepung sepasukan tentara bersenjata siap tempur. Mungkin mereka menduga, para mahasiswa KKN-UI ini adalah pasukan pendekar kebal dari Pandeglang-Banten, yang akan menyerbu Gedung MPR/DPR Senayan. Cerita lengkapnya begini. Tanggal 16 Maret l978, pukul 13.30 Wib rombongan berangkat dari Pendopo Kabupaten Pandeglang. Pembantu Rektor Bidang Pengabdian Masyarakat Girindro Pringgodigdo SH, beserta Paban Rektor UI-Kapten Donald Siregar, sengaja menjemput ke sana untuk mencegah beberapa kemungkinan di dalam perjalanan. Dugaan kedua pembantu rektor UI ini, ternyata ada benarnya. Sebab sepanjang jalan dari Pandeglang ke Jakarta, ada 5 pos penjagaan, masing-masing di dekat Serang, di Balaraja, di Tangerang, di Batu Ceper, dan di Petojo. Menurut Paban Rektor UI, Kapten Donald Siregar, ketika rombongan mahasiswa KKN-UI tidak mengalami hambatan pada pos pertama di dekat Serang. Soalnya Paban Rektor dengan mobil Panitia Penyambutan, telah memberitahukan terlebih dahulu kepada komandan jaga di tempat tersebut. Lain halnya ketika rombongan tiba di Pos II-Balaraja. Waktu itu bis mahasiswa KKN-UI agak terpisah jauh dengan mobil Paban Rektor maupun dengan. mobil Pringgodigdo SH. Mobil Pembantu Rektor Bidang Pengabdian Masyarakat ini, ternyata sampai lebih dulu di pos penjagaan Balaraja, tanpa. mengetahui bahwa mobil para mahasiswa masih berada di belakang. Tak lama kemudian bis yang ditumpangi oleh 48 mahasiswa KKN-UI tersebut tadi, tlba di tempat itu. Lima orang prajurit naik ke bis, mameriksa barang-barang para penumpang. Dengan terkejut para prajurit tersebut menemukan beberapa batang golok milik mahasiswa. Salah seorang buru-buru melapor pada komandannya. Sang komandan segera memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyetelling bis para mahasiswa KKN-UI. Suasana agak tegang ! Tak lama kemudian, Kapten Donald tiba di tempat itu. Segera ia memberikan penjelasan-penjelasan kepada sang komandan tentara di sana, bahwa rombongan mahasiswa ini baru pulang KKN. Mereka sudah 3 bulan berada di Pandeglang, dan mereka sama sekali tidak mengetahui situasi di Jakarta,” Kata Kapten Donald kepada sang komandan itu. Untunglah sang komandan yang berpangkat Letnan Satu itu bisa mengerti ujar Kapten Donald kepada reporter Mm. Rombongan mahasiswa bukan hanya diizinkan meneruskan perjalanan, tetapi malah mendapat pengawalan yang cukup rapi dan ketat. Rombongan KKN-UI, mulai dari Pos Penjagaan Balaraja seolah-olah merupakan suatu konvoi mobil pejabat saja. Sirine dari mobil polisi lalu lintas meraung-raung sepanjang jalan. Sementara formasi konvoi: satu mobil patroli polantas di depan, kemudiah mobil Pringgodigdo SH, lalu. mobil Kapten Donald Siregar, bis yang ditumpangi mahasiswa KKN-UI, bis barang para mahasiswa, diikuti oleh satu jeep polantas dengan sirine yang mengaung-ngaung tadi, tetakhir satu pick-up tentara bersenjata longkap. Pengawalan istimewa ini diteruskan secaro estafet hingga tiba di Jakarta. Di Tangerang, diadakan serah-terima tugas pengawalan kepada Kodim Tangerang, dalam formasi yang sama, hingga sampai ke pos Batu Ceper. Serah-terima di Batu Ceper agak lama (+ 20 menit), karena juga membicarakan soal route yang, akan dilewati rombongan setibanya di Jakarta. Tugas pengawalan dari Batu Ceper ke Petojo (depan asrama Yon 202), berada di tangan Kodim Jakarta Barat. Dan dari Petojo hingga ke Salemba UI tanggung jawab ada di tangan Kodim Jakarta Pusat. Perlu dicatat, walaupun penangung jawab pengawalan itu ada ditangan tentara, ternyata paukan pengawal sejak dari Tangerang sampai di Salemba, berasal dari Brimob-Polri. Oh ya, ada satu hal lagi. Bahwa di kiri-kanan mobil konvoi tadi, terdapat pula beberapa motor intel Melayu yang cukup gesit. Ketika beberapa. mahasiswa KKN-UI ditanya reporter Mm sehubungan dengan pengawalan secara istimewa itu, jawaban macam-macam. Ada yang merasa bahwa mereka seolah-olah rombongan pembesar, karena disepanjang jalan banyak menarik perhatian massa. Ada juga yang mengaku bahwa para mahasiswa mungkin salah-tingkah, dengan melambai-lambaikan tangan kepada massa di pinggiran jalan. Dan ada pula yang merasa geli melihat tingkah-pola para petugas kemanan negara kita itu. Namun Pembantu Rektor Bidang Pengabdian Masyarakatlah yang paling beruntung dengan pengawalan istimewa tersebut. Beliau dengan potongan badan yang bonafit, mobil dinas Datsun model terbaru, tampaknya benar-benar dikira oleh massa di pinggir jalanan, sebagai tamu negara. Atau setidak-tidaknya mereka bertanya: apakah yang dikawal petugas keamanan ini adalah calon Wakil Presiden RI?


Redaksi dan reporter Mm mengucapkan banyak terima kasih saudara-saudara yang telah memberikan sumbangan secara sukarela, sehingga MM kita ini bisa, terbit secara kontinyu 3 X dalam seminggu. Ucapan yang sama kami tujukan kepada SM FIPIA-UI, atas sumbangan konsumsi malam, tanggal 17-3-1978. Salam kompak !


TINJAUAN : BANGGAKAH ANDA MENJADI WARGA NEGARA INDONESIA ?

Mm. 18-31978 Awal bulan ini, presiden Carter mengundang pemimpin redaksi dan penerbit pers kampus se Amerika Serikat ke Gedung Putih. Dalam. sambutannya dia tidak mengatakan, Rajin-rajinlah belajar. Tetapi yang diucapkannya : “Banggalah kalian menjadi warga negara Amerika. Jika saya dan orang-orang pemerintah melakukan kesalahan, kritiklah kami”.


Banggakah kita jadi warganegra Indonesia sa’at ini. jika ada pertanyaan dari kawan-kawan negara tetangga : “Negara kamu subur dan kaya, tetapi kok rakyatnya melarat ? “Ini baru satu pertanyaan saja. Katakanlah yang mengajukan itu adalah seorag mahasiswa Singapura yang negaranya tidak punya tanah dan daerah-tambang yang seperti kita miliki. Di Malaysia, jika ada yang merokok dibioskop, pasti kena denda 500 ringgit. (hampir seratus ribu rupiah). Dan jangan juga buang sampah sembarangan. Pegang senjata tanpa ijin, bisa berakibat dituntut hukuman mati. Seorang menteri, atau orang terkemuka, bisa kena hina dina kalau berbuat curang; Pengadilan akan bertindak tegas. Pers-pun akan menyiarkannya. Singapura dan Maysia tidak banyak berbeda didalam ketegasan hukum. Dua negara ini pernah kita “ganyang” dahulu. Sudah dua belas tahun tidak ada lagi teriakan ganyang Malaysia. Negara yang pernah diganyang itu, terbukti lebih tertib dan teratur. Dan mungkin juga, jauh lebih demokratis. Sejak dua belas tahun belakangan ini pulalah kita menghendaki keteraturan, tegaknya hukum dan majunya perekonomian bangsa kita. Bagaimana hasilnya. ?


Kontrol sosial didalam suatu masyarakat, merupakan sesuatu yang sangat penting, jika masyarakat yang bersangkutan menghendaki tegaknya norma-norma. Konstitusi dan hukum hanya mungkin berwibawa, jika ada kontrol yang leluasa dan layak demi tegaknya lembaga-lembaga yang menjadi dasar terpenting dari kehidupan bernegara itu. Aspirasi masyarakat terhadap hukum dan keadilan harus selalu diperhatikan oleh para pembuat undang-undang dan penegak hukum. Masyarakat tidak dengan hukum, akan tetapi menghormati hukum. Seorang warganegara akan menerima-sanksi (hukuman) dengan ikhlas, apabila hukuman yang dijatuhkan itu dianggap pantas da adil. Akan tetapi, apakah demikian halnua yang terjadi dinegara kita sekarang ini ? Seorang maling kecil bisa ditimpa hukuman berat, dan maling besar borkaok-kaok bahwa hukum harus ditegakkan dan korupsi harus dimusnahkan.


Pembangunan memang harus sukses. Tujuan kita adalah masyarakat adil-makmur. Makmur memang belum. Makmur penekanannya adalah menaiknya pendapatan perseorangan (perkapita), jadi lebih konkrit, dan tidak dapat dicapai sekaligus dalam sekejap. Akan tetapi, yang namanya keadilan, tidak pula perlu di tunggu sampai seribu tahun lagi. Keadilan, merupakan suatu kebutuhan manusiawi. Begitu kita lahir, kita sudah mebutuhkannya. Dengan keadilan, bisa tercipta suasana saling menghormati, dan saling memperpacaya. Sekalipun keadilan memang agak abstrak dan relatif, tetapi. ada yang namanya rasa keadilan yang hidup di suatu masyarakat. Kalau hukum diharapkan dihormati masyarakat, rasa keadilan masyarakat ini merupakan sumber utama untuk menciptakan perundang-undangan atau peraturan-peraturan. Memang menurut konstitusi kita, pembuatan peraturan-perundang-undangan ada prosedurnya. Oleh karena itu ucapan seorang pejabat yang tak ada dasar hukumnya, bukan merupakan suatu peraturan hukum yag harus dipatuhi. Kecuali jika ucapannya disertai ancaman. Kalau begini caranya, itu berarti sudah mengkhianati rasa keadilan yang hidup di masyarakat. Dan jangan pula diharapkan masyarakat menjadi hormat kepada pejabat tersebut (ingat : sekarang. orang enggan menggunakan istilah pemimpin, karena memang sulit untuk melekatkan predikat ini kepada hampir semua pejabat), jika rasa keadilan yang hidup dimasyarakat diabaikannya.


Apakah yang bisa kita banggakan sekarang ini dari Indonesia ? Mungkin Anda akan menyebut Rudy Hartono, yang merajai peberapa kali All England. Mungkin anda akan menyebut penyair Chairil Anwar, atau W.S. Rendra. Ataut sebut saja Muchtar Lubis, atau Adnan Buyung Nasution yang mendapat beberapa kali penghargaan Internasional. Anda boleh juga bangga, karena Indonesia anggota Opec. Tetapi apakah semua itu membuat anda betul-betul sudah bangga menjadi warganegara Indonesia ? Apakah dalam keadaan sekarang ini kita sudah bangga jadi WNI ?


Di kabinet kitat selain terdapat jenderal-jenderal, juga duduk tehnokrat-tehnokrat. Tampaknya memang helat, dan pantas dibanggakan. Tapi marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing secara jujur : Apakah kita sudah bangga ?


Pada tahun 1966, bangsa Indonesia mungkin boleh bangga dengan pers mahasiswa Indonesia. Peranan pers mahasiswa dalam menegakkan Orde Baru juga bukan sedikit. Sebut saja Harian “Kami”, dengan berbagai edisi, Mimbar Demokrasi, Mahasiswa Indonesia, dan tak terhitung lagi bulletin-majalah dan stensilan yang cukup banyak jumlahnya. Mereka tidak pernah minta diundang ke Istana Negara. Tetapi sekarang, media yang cukup berjasa itu sudah di lupakan, bahkan digusur. Masih banggakah anda membaca surat kabar hari ini, yang sudah tidak memuat lagi kejadian-kejadian yang lengkap tentang kemahasiswaan dan pelajar ? Anda tidak perlu bangga dengan pers kampus atau pers mahasiswa, karena sampai hari ini semua pers berciri kampus dan mahasiswa dilarang terbit; katanya sih, larangan sementara. Tetapi sampai kapan ? Inilah repotnya, banyak orang mulai berkata : Di Indonesia tidak ada lagi kepastian hukurn. Dari segi ini, anda boleh “bangga”


Selain sebagai mahasiswa, kita juga adalah warga kandung dari masyarakat. Dus berarti pula, mahasiswa, adalah jadi warganegara yang secara syah pula. Kata orang, mahasiswa adalah segelintir warganegara yang beruntung dapat mengenyam pendidikan diperguruan tinggi. Bahkan, ia diharapkan sebagai pemimpin republik ini kelak. Direncanakan atau tidak, proses ini pasti akan terjadi. Kalau diambil rata-rata usia orang Indonesia umumnyat paling tinggi enam puluh atau tujuh puluh tahun. Nakh, kalau kita perhatikan umur sebagian besar para pejabat yang berkuasa kini, rata-rata berumur sudah empat puluh lima keatas, yang berarti sudah lebih tiga perempat usinya kini. Atau dengan perkataan lain, tiga perempat badan para pejabat kita itu sudah masuk tanah, sedangkan yang tinggal sekarang cuma sepertiga bagian tubuhnya keatas saja.


Dinegara ini, sumber penghasilan nasional terbesar masih berasal dari minyak. Lantas, ditambah dengan bertumpuknya hutang kepada negara-negara asing. Sekedar catatan kita Saja, konon, setiap bayi yang baru lahir dipermukaan bumi republik ini, sudah dibebani kewajiban untuk melunasi hutang-hutang negara. Banggakah anda menjadi Warga Negara Indonesia ?

ABDUL HARIS NASUTION

Kepada . Rekan 2 Fraksi ABRi di MPR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

  1. Dengan adanya sidang MPR 1978 ini. pada “tahap regenerasi ” kini, dan pada awal dasawarsa ke 2 Orde Baru, “Orde Pembangunan” menurut istilah pimpinan ABRI 10 th yl. tak perlu kiranya penjelasan lebih lanjut, betapa sidang ini bukan berarti sekedar suatu sidang “rutine tiap 5 tahun”, melainkan ialah bahwa hasil2nya, khususnya tentang strategi dan kepemimpinan nasional, berposisi strategis terhadap perkembangan bagi generasi dan dasawarsa2 mendatang. Dari itu saya mohon maaf, mengganggu saudara2 anggota MPR, yg menurut UUD 45 “sepenuhnya” melakukan kedaulatan rakyat Indonesia, khusuanya saudara2 TNI yg sama menghayati Saptamarga, untuk menitipkan beberapa soal2 pokok dari ikrar2 perjuangan kita yg sampai kini belum dapat terselesaikan, walaupun telah sejak dulu kita nyatakan, ialah dalam rangka murni dan konsekwen melaksanakan UUD 45. Saya istilahkan menitipkan, ialah karena sebagai purnawirawan yg sejak 6 th sudah sepenuhnya berada diluar badan2 kenegaraan dan ketentaraan, maka hanya dapat menitipkan kepada saudara2 yg masih berada didalam. Saya minta maaf kedua kalinya, karena saya mengajukan soal2 pokok yang tidak termuat dalam rancangan2 yang diajukan oleh presiden kepada MPR. Tidak lain ialah terutama karena rasa tanggung jawab sejarah, bahwa dimasa pimpinan sayalah TNI resmi memulai kekaryaan ABRI, TNI memelopori dan mengamankan kembali ke UUD 45, serta dimasa MPRS 1966-lah kita secara konstitusionil membulatkan tekad untuk murni dan konsekwen melaksanakan UUD 45, sebagaimana tercantum dalam Tap X dan tergariskan dalam Tap XIV s/d XX.
  2. Adapun soal2 pokok (UUD 45) tadi yg masih perlu dikerjakan secara programatis demi pelaksanaan murni dan konsekwen UUDD ialah sbb.: (1). Pelaksanaan yg demokratis lebih maju dari psl 1 : “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR”. Hal ini menyangkut sistim pemilu dan cara pembentukan MPR/DPR/DPRD. Dengan sistim pemilu sekarang yg memilih tanda gambar beserta ketentuan2 yg menyertainya, dan pengangkatan wakil2 rakyat yg sekian banyak oleh Presiden, adalah kita masih jauh dari ketentuan dalam bagian pertama psl 1 tsb, jakni masih terlalu luas kedaulatan yg tidak “ditangan rakyat”. Baik kembali saya ingatkan kepada tekad kita dalam Seminar AD 1966 dulu dalam usaha menegakkan orde Baru. Dan dengan tata tertib sekarang, dimana setelah sidangnya yg pertama, maka praktisnya MPR hanya bisa lagi melakukan kedaulatan itu jika oleh DPR “diundang untuk persidangan istimewa”, maka berarti mengurangi terhadap “dilakukan sepenuhnya oleh MPR” kedaulatan itu. Saya dapat memahami, bahwa ketentuan UUD yg fondamantal ini, tidak bisa sekaligus sepenuhnya terlaksana, namun demi kewibawaan UUD itu perlulah kita semakin maju melaksanakannya. (2). Usaha yg programatis demi meniadakan badan2 yg extra-konstitusionil, seperti a.l. Pangkopkamtib. Kita berkeyakinan, sebagaimana juga dihayati dalam Pernyataan ABRI 5 Mei 1966, yg saya telah ikut menanda-tanganinya dulu, bahwa menurut Penjelasan UUD 45, sistim UUD 45 itu adalah “hanya memuat aturan2 pokok, sedang aturan2 yg menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada UU yg lebih mudah caranya membuat, merubah dan mencabut”. Namun “sifat aturan yg tertulis itu mengikat”. Demikianlah, mengenai isi Pangkopkamtib itu sebagai kekuasaan darurat telah ada ketentuan dalam psl 12 UUD 45 : “Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat2 dan akibatnya keadaan bahaya di tetapkan dengan UU”. Adalah kewajiban kita secara nyata programatis mengembalikannya kepada ketentuan UUD 45, apalagi sudah 12 tahun usia bedan extra-konstitusionil ini, yg dulu telah lahir sebagai kebijaksanaan Presiden/Pangti/PBR pada tgl 2 Oktober 1965 dalam mempertahankan Perintah beliau tgl 1 Oktober 1965; “Bahwa pimpinan Angkatan Darat RI sementara berada langsung dalam tangan Pres/Pangti ABRI” terhadap kenyataan “konvensi” AD yg berlaku, bahwa Pangkostrad bertindak sebagai pds Panglima AD jika Pangad berhalangan. Yakni sebagaimana pengumuman Mayjen Suharto tgl 3 Oktober 1965 sekembali dari istana Bogor. “………maka saya Mayjen Suharto, yg sejak terjadinya peristiwa 30 September 1965 memegang sementara pimpinan AD menyatakan bahwa mulai saat ini pimpinan AD dipegang langsung oleh PYM Pres/Pangti ABRI. Kepada saya masih diberi tugas oleh PYM Pres/Pangti ABRI untuk mengembalikan keamanan seperti sedia kala………..” Saya dapat memahami, bahwaa hal ketentuan UUD 45 itu tidak bisa sekaligus terlaksana, namun demi kewibawaan UUD itu perlulah kita semakin maju melaksanakannya. (3). Usaha yg programatis demi pelaksanaan “hak2nya warganegara” dan “kedudukan penduduk” dalam psl 27 sampai 34 yg menurut Penjelasan UUD ialah “rnemuat hasrat bangsa Indonesia untuk membangun negara yg bersifat demokratis dan yg hendak menyelenggarakan keadilan sosial dan perikemanusiaan”. Umumnya oleh UUD sendiri diperintahkan pula pembuatan UU organiknya seperti psl 28 mengenai “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan”, psl 30 mengenai “berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara” dstnya. Kesemuanya telah jadi tekad kita dalam MPRS 1966 dalam Tap XIV “perincian hak2 azasi manusia”, yg dulu telah dapat kita mufakati perumusan2nya, tapi yg telah buntu dalam MPRS 1968 yg komposisinya telah banyak sekali berubah sesudah “Penyegaran ” oleh Pengemban Tap IX MPRS. Saya minta perhatian untuk adanya program konkrit untuk pelaksanaan yg lebih maju dari psl 28 tadi. Kemudian dari. psl 27: “Segala Warga Negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualianya” dan psl 31 tentang pendudukan : “Tiap2 Warga Negara berhak mendapatkan pengajaran” Saya dapat memahami, bahwa hal ketentuan2 UUD 45 inipun tidak bisa sekaligus terlaksana, namun demi kewibawaan UUD itu perlulah kita semakin maju melaksanakannya. (4). Usaha yg programatis mengakhiri keberlakuan materi Penpres2 dari masa Orla yg tidak sesuai dengan pemurnian pelaksanaan UUD 45, sebagaimana telah kita tekadkan pada th 1966, a.l. mengenai PenPres tentang subversi, yg masih diformilkan dengan UU. Saya dapat memahami, bahwa hal ketentuan UUD 45 tentang inipun tidak bisa sekaligus terlaksana, namun demi kewibawaan UUD itu perlulah kita semakin maju melaksanakannya. (5). Pelaksanaan pemilihan Presiden seperti ketentuan psl 6: “Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR dengan suara terbanyak”. Kiranya setelah 12 th Orde Baru sudah dapat pasal ini dilaksanakan secara murni dan konsekwen menurut huruf dan jiwanya, yakni dengan cara yg betul2 tanpa lagi mengurangi makna “dipilih”. (6). Usaha yg programatis menuju kemajuan pelaksanaan psl 33, khususnya terhadap gejala praktek kini yg membawakan kecenderungan memusatnya kekuasaan ekonomi kepada kelompok2 tertentu, hingga menjauhkan kita dari pelaksanaan psl 27 mengenai “kebersamaan kedudukannya” segala “Warga Negara “dengan tidak ada kecualinya”, “berhak atas pekerjaan dan penghidupan yg layak bagi kemanusiaan”, dan psl 33 “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. (7). Mengingat Presiden menyampaikan pertanggung jawab kepada MPR 1978 kiranya perlu dikoreksi konstitusionil terhadap Tap I MPR 1973 yg dalam psl 110 telah menentukan Presiden mempertanggungjawabkan mandatnya kepada MPR yg oleh psl 1 ditentukan “ialah MPR hasil Pemilu yg anggota2nya diresmikan pada tgl 1 Oktober 1972” (ps1. l). Justru Tap I/1973 ini telah menentukan bahwa Tap ini mempunyai kekuatan hukum mengikat keluar dan kedalam” (psl 102), tidak dapat dibatalkan oleh lembaga negara lain” dan MPR-lah yg dapat “memberikan penjelasan yg bersifat penafsiran” (psl 4), dikunci dengan ketentuan dari lembaga kekuasaan tertinggi ini: “Segala ketentuan yg bertentangan dengan peraturan tata-tertib ini dinyatakan tidak berlaku” (psl 121). Inilah satu2-nya Tap MPR yg menentukan, bahwa Tap inilah yg berlaku, kalau ada perbedaan. Hal ini telah ramai dipersoalkan dan penyelesaian konstitusionil adalah begitu penting demi penegakan nilai2 UUD 45.
  3. Telah lebih 4 windhu usia RI. telah lebih 4 windhu TNI kita yg mengemban “amanat 1945”: UUD adalah azas dan politik tentara”. Sbg panglima dari masa 45-an itu, semasa menghadapi penyimpangan2, seperti dalam soal “Linggarjati”, “Renville” dan kemudian KMB, yg isinya menyimpang dari Proklamasi 1945 yg “disusunlah Kemerdekan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD Negara Indonesia” (Pembukaan UUD 45), maka masih teringat berkali2 ketegasan TNI melalui Panglima Besar, sampai terakhir terjadinya surat permohonan berhenti beliau pada tgl 1 Agustus 1948. Adalah dalam meneruskan garis perjuangan TNI tsb, maka setelah pergolakan2 dan krisis2 nasional th 50-an, kita (TNI) menuntut kembali ke UUD 45 (Surat KSAD Agustus 1958 menghadapi konsepsi demokrasi terpimpin) dan setelah tragedi nasional 1965 mentekadkan pelaksanaan murni dah konsekwen UUD 45. Tidak terlambat kiranya. kalau TNI generasi 45 dalam tahap regenerasi ini merampungkan missinya untuk tertegaknya hal2 yg pokok dalam pelaksanaan UUD itu. Apalagi diperingatkan oleh suasana pada awal dasawarsa ke 2 Orde Baru ini, suasana prihatin yg menyertai berlangsungnya Sidang MPR kali ini.

Insya Allah SWT.

Wassalam Jakarta, 11 Maret 1978

A.H. Nasution (Jenderal Purn.TNI)

Tembusan kepada : 1. MPR/DPR/DPRD. 2. Teman2 seperjuangan.

March 17, 2009

Prabowo Subianto dan Buku Sintong Panjaitan

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:08 pm

Apa yang terjadi dengan “kasus” isi Buku Pengalaman Sintong Panjaitan (SP) sebagai Komandan Kopasus bisa dilihat dari berbagai segi. Tetapi yang menarik sebetulnya, menjadi ramai tatkala hal itu dibeberkan oleh media massa, tentunya dengan dibumbui oleh “interpretasi” dari para pengelola media. Inilah barangkali suatu bukti keperkasaan media massa dalam mengemukakan suatu fakta.

Seperti yang dikatakan Agum Gumelar (purnawirawan Letnan Jenderal), pada satu acara di TVOne Selasa malam (16/03), ada fakta-fakta yang dikemukakan SP tentang Prabowo Subianto. Apakah fakta itu memojokkan beberapa orang atau ada pihak-pihak yang dipojokkan, tergantung dari sudut mana melihatnya. Agum Gumelar adalah satu dari tujuh jenderal anggota tim yang ditugaskan untuk memberikan masukan kepada Panglima ABRI berkenaan dengan salah satu kasus yang melibatkan Prabowo Subianto.

Fakta inilah sebenarnya yang dikembangkan oleh para ahli media melalui media massa. Di dalam teori komunikasi, jika seseorang melihat suatu peristiwa yang terjadi (suatu fakta), maka dia akan menangkap dan mempersepsikannya sesuai dengan pengalamannya yang ada dalam kerangka berpikirnya, sehingga apa yang dia kemukakan, bisa saja tidak sesuai lagi dengan fakta yang sebenarnya, karena adanya persepsi dari si pembuat dan pengelola media.Persepsi dari pengelola media bisa dilihat dari topik/judul berita, orang-orang yang dimintai komentar atau diwawancarai, di halaman mana informasi/berita itu dimuat dan lain sebagainya. Bahkan mungkin bisa dilihat juga dari pilihan kata dalam pemberitaan itu dan topic atau kata-kata apa yang sering muncul pada pemberitaan itu. Ketika informasi/pemberitaan itu sudah sampai kepada publik, akan sukar untuk dibendung atau ditahan, apalagi diredam/ditutupi, bahkan tidak akan dapat diduga pula reaksi yang terjadi setelah khalayak mendapatkan informasi tersebut.

Maka, pantaslah kalau para penguasa dahulu kala sangat takut kepada media dan orang-orang pengelola media, karena reaksi yang terjadi di kalangan masyarakat sukar diduga dan susah untuk dikendalikan. Tidak heran, maka kalau ada suatu kejadian genting dalam suatu negara, selalu diiringi dengan pemberangusan media massa.

Saya jadi ingat ketika terjadi peristiwa Mei 1998, saat Presiden Soeharto “lengser Keprabon”, sempat beredar email ( di media massa tidak ada informasi tersebut), akan terjadi kudeta. Orang-orang daerah yang berada di ibukota supaya segera kembali ke daerah masing-masing. Email itu diperkuat bahwa penulis email tersebut sangat dekat dengan Habibie. Kalau pengalaman saya mendapat cerita dari teman istri saya, suaminya (seorang Letnan Jenderal ) diangkat secara mendadak sebagai Kasad hanya dalam jangka waktu 16 jam. Suatu rekor jabatan KASAD tercepat dalam sejarah ketentaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (tapi tampaknya belum ada yang mengungkapkannya). Setelah itu, KASAD diserahterimakan kepada jenderal lain. Hal ini menunjukkan, betapa gentingnya situasi pada saat itu.

Surau Kami Takkan Roboh

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:28 am

Pada blog ini beberapa waktu lalu sempat ditulis tentang keberadaan Dewan Guru Besar dikaitkan dengan Undang-Undang Nadan Hukum Pendidikan (UU BHP), dengna judul “Robohnya Surau Kami.” Minggu lalu sempat meminta komentar kepada beberapa seorang Guru Besar UI, sehubungan dengan adanya kabar Badan Hukum Pendidikan (BHP) tidak mengakomodir institusi Dewan Guru Besar (DGB) di Perguruan Tinggi. Ternyata pendapatnya beragam mengenai keberadaan institusi DGB ini.

Seorang Guru Besar mengatakan, dulu sekali memang ada institusi ini, tetapi kemudian hilang dan baru pada tahun 2000-an diaktifkan kembali.  Tentang apa pekerjaan DGB, Guru Besar tersebut hanya mengangkat bahu. Sementara salah seorang Guru Besar lainnya menyatakan,  sebaiknya peran dan fungsi Guru Besar dikembalikan saja kepada salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu aktif di bidang Penelitian, jangan mengurus soal tektek bengek lainnya.

Tetapi seorang Guru Besar lainnya melihat masih ada celah dalam UU BHP, supaya DGB tetap eksis. Misalnya saja dengan mengajukan usulan pembuatan Peraturan Pemerintah (PP) tentang tugas dan fungsi Guru Besar di Perguruan Tinggi. Salah satu tugasnya antara lain mengurusi soal etika akademik. Tetapi diingatkan, untuk mengusulkan PP rumit, dan berbelit-belit serta memakan waktu lama.

Seperti kita ketahui bersama, soal etika akademik ini memang sensitif sekali, Kejadian beberapa tahun lalu dimana ada staf pengajar yang melakukan penelitian untuk mendapatkan nilai bagi pengangkatan sebagai Guru Besarnya, ternyata “menyontek” dari hasil penelitian orang lain. Hal ini diketemukan oleh tim Guru Besar yang memang ditugaskan untuk menelaah cvnya. Dan yang melakukan hal ini menjabat sebagai pejabat negara lagi. Apa jadinya kalau seorang Guru Besar saja melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji.  Satu kali pernah juga seorang pejabat negara yang ingin mendapatkan Guru Besar luar biasa dari UI. Dia memang pengajar tidak tetap di UI. Dan Saya juga pernah mengikuti mata kuliah yang diberikan olehnya. Tapi ternyata pengangkatan Guru Besar dari UI  tak kunjung muncul.  Akhirnya beliau mendapat Guru Besarnya dari perguruan tinggi lain.

Jadi kesimpulannya, peran dari Dewan Guru Besar masih diperlukan. Akhirnya “Surau Kami Takkan Roboh.”

March 16, 2009

Berita Seputar Kampus

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 4:02 pm

AKSI MOGOK KULIAH DI FH-UI TIDAK LANCAR

Mm. 16-3-1978.

Hari Sabtu, 4 Maret lalu, Ketua Koordiantor SM di lingkungan UI, Seto Mulyadi, telah membacakan pernyataan Mogok Kuliah mahasiswa UI. Pernyataan itu dibacakan di depan sekitar 3 ribu mahasiswa UI adalah hasil keputusan para Ketua SM di lingkungan UI” Aksi mogok kuliah tersebut berlangsung dari tanggal 6 sampa.i 26 Maret 1978.

Secara. efektif aksi mogok kuliah mahasiswaa UI itu mulai tanggal 6 Maret 1978 berjalan dengan lancar. Sejak hari iru semua pintu gerbang di kampus Salemba ditutup rapat. Kecuali pintu gerbang dekat Posko UI. Setiap orang yang hendak memasuki UI melalui gerbang ini harus memperlihatkan kartu pengenal. Penja.gaan di pintu gerbang dekat Posko itu masih berlangsung terus setiap hari satu kali dua puluh empat jam.

Para mahasiswa dari 5 Fakultas yang berada. di Kampus UI Salanba. (FK, FT, FE, FKG dan FIPIA) tidak bersedia mengikuti kuliah, meskipun mereka berada di kampus tiap hari. Di kafetaria-kafetaria dah taman FE Salemba selalu diramaikan mahasiswa. Di antara merekaa. ada yang kelihatan berdiskusi serius sedangkan yang lainnya asyik membaca dan bercanda, Kecuali Extention FE-UI, para mahasiswanya terus mengikuti kuliah setiap hari, tanpa menghiraukan pernyataan mogok kuliah mahasiswa UI, Entah kenapa, tidak begitu jelas alasan mereka untuk tidak menghiraukan pernyataan mogok kulia mahasiswa UI.

Di Kampus UI Rawamangun, terlihat setiap hari mahasiswa berkumpul di sekitar taman FS-UI. Mahasiswa. FS-UI, FIS-UI dan FPsy-UI tidak ada yang.mengikuti kuliah di Fakultas mereka masing-masing. Kecuali FH-UI.. Aksi mogok kuliah di FH-UI .tidak berjalan lancar. Karena ada beberapa mahasiswa mengttuti kuliah-kuliah setiap hari. Para pengajar FH-UI nampak selalu hadir dan masuk ruang kuliah setiap hari, sekalipun kuliah-kuliah hanya diikuti segelintir mahasiswa. Pihak dosen yang mengajar tentunya. tidak dapat kita salahkan. Tapi yang disayangkan adalah kehadiran beberapa rekan mahasiswa di ruangan kuliah. Bukankah semua anggotaIKM-UI telah sepakat untuk mogok kuliah ?

Sementara itu didengar pula berita, setiap hari Pudek Bidang Akademis FH-UI ditelepon Laksus yang menanyakan : adakah mahasiswa yang kuliah? Kenapa ruangan nomor sekian tertutup ? Kenapa dosen anu tidak masuk ruangan kuliah ?

Pokoknya hampir setiap aktivitas yang terjadi di FH-UI diikuti oleh intel melayu yang setiap saat beroperasi di Kampus UI Rawamangun.

*****

DIALOG SENAT-SENAT MAHASISWA DI MASING-MASING FAKULTAS DI LINGKUNGAN UI

Mm. 16-3-1978

Hari ini Kamis tanggal 16 Maret, jam 9.00 WIB, khabarnya akan berlangsung dialog antara mahasiswa di masing-masing Fakutas dengan para fungsionaris Senat-Senat Mahasiswa di lingkungan UI.

Menurut informasi dari mulut ke mulut yang beredar di kalangan mahasiswa FH-UI Rawamangun, pertemuan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan input dari kalangan mahasiswa di masing-masing fakultas dan sekaligus mereka akan memberikan penjelasan-penjelasan tertentu.

Kita harapkan juga dialog semacam ini akan dilakukan juga para fungsionaris Senat-Senat Mahasiswa itu dengan badan-badan otonom kemahasiswaan di lingkungan UI. Toh untuk konsolidasi antar mahasiswa di lingkungan UI tak ada salahnya hal tersebut dilakukan.

*****

SK KAMPUS UNIKA ATMAJAYA TETAP BERJAYA

Mm. 16-3-1978

Di luar dugaan kita, ternyata di Jakarta masih terdapat sebuah suratkabar mahasiswa yang tetap berjaya. alias tetap diijinkan hidup oleh, penguasa. Namanya adalah ATMAJAYA, SK Kampus Universitas Katolik Atmajaya. Anehnya terbitan mereka yang terakhir No. 21/Th II, Januari 1978 baru beredar awal Maret 1978.

Isinya tentu anda semua sudah maklum, pokoknya tidak mengutik-utik penguasa. Misalnya cerita tentang Posma, kegiatan perpustakaan dan lain sebagainya. Salah satu artikelnya yang agak menarik perhatian ditulis oleh Max Boli Sabon berjudul “Demokrasi atau Otokrasi ?” Kami perhatikan tiga alinea dari artikel tersebut.

“DM dan SM se Jakarta, melakukan serangkaian aksi mulai dari masalah kenaikan tarif bis kota, masalah kelaparan menimpa masyarakat Karawang dan akhir-akhir ini malah seluruh DM dan SM di Indonesia bertekat bulat menghendaki terwujudnya suatu pemerintahan yang dari dan untuk kepentingan rakyat seutuhnya. DM dan SM tidak sampai hati melihat penghidupan rakyat semakin sulit, betapapun dikatakan pembangunan Indonesia sudah berhasil dengan adanya kenaikan GNP.”

Senada dengan itu, ABRI juga tidak sampai hati membiarkan rakya serupa itu. ABRI tetap mengabdi untuk rakyat, karena ia lahir dan dibesarkan oleh rakyat. “ABRI tidak rela, bahkan merasa berkhianat apabila kepentingan rakyat terganggu dan terancam”, demikian Menhankam/Bangab, Jenderal TNI M. Panggabean (Suara Rakyat, Senin 23 Januari 1978).

Mahasiswa dan ABRI sependapat, sayang sekali satu pihak dituduk memaksakan kehendaknya dengan tanpa mengindahkan tata-krama, sehingga dengan berat hati, terpaksa pihak yang lain menjatuhkan vonis “Kegiatan Dewan Mahasiswa dibekukan”, demi keamanan dan ketertiban. Bersamaan-dengan itu, tujuh surarkabar telah dilarang beredar, karena, mengekspous berita-berita yang berkenaan dengan aksi-aksi tersebut. Karena itu, seharusnya Dewan Mahasiswa musti minta maaf’ kepada semua. suratkabar itu, karena perbuatannya merekapun ikut jadi beku.” Demikian kutipan dari surat kabar Kampus UNIKA ATMAJAYA, yang masih diberi kesempatan berjaya oleh penguasa. Semoga menjadi catatan kita bersama.

*******

PEMERIKSAAN IDENTITAS MASUK KAMPUS UI SALEMBA BERJALAN LANCAR

Mm. 16-3-1978

Dua kampus Universitas Indonesia, Salemba dan Rawamangun sejak terjadi penggerebekan Student Center UI tanggal 20 Januari 1977 lalu, mendapat penjagaan ketat oleh para mahasiswa UI. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan negatif yang akan dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Berlainan dengan keadaan sebelum mahasiswa UI menyatakan mogok kuliah, penjagaan di kampus UI Salemba kini lebih di tingkatkan lagi. Kepada setiap orang yang ingin memasuki kampus UI Salemba harus menunjukkan identitas untuk ditahan sementara seperti KTP, Surat Izin Mengemudi, Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan lainnya.

Aksi pengamanan kampus ini dilakukan selama 24 jam. Sedangkan di kampus Rawamangun penjagaan hanya dilakukan pada malam hari saja, tidak seperti di kampus Salemba yang juga memeriksa. identitas.

Menurut Handy Yohandi Komandan Posko UI, pemeriksaan dan penjagaan di Salemba selama ini cukup berjalan lancar. Tapi cara penahanan kartu identitas untuk sementara kurang efektif. Sehingga ketika mengembalikan kartu identitas itu agak lama. Mulai hari ini, kepada setiap orang yang ditahan kartu identitasnya akan diberikan semacam tanda terima bernomor. Selama ini setiap harinya tidak kurang dari 60 kartu identitas yang di tahan, mereka masuk kampus Salemba antara lain ingin melakukan sembahyang di mesjid ARH-UI, mengambil mayat, ke Lembaga Kriminologi UI. Menurut Handy, petugas Laksusda Jaya memuji tindakan peagaman kampus semacam ini.

“Selama ini, kami baru sekali “kecolongan”, ketika 15 orang bersenjata lengkap Senin malam memasuki kampus Salemba (Mm. 14-3-1978) , tiba-tiba mereka telah berada di belakang kami (tempat penjagaan – red), rupanya mereka. masuk dengan meloncati pagar di FK-UI”, dernikian Handy Yohandi mengakhiri keterangammya kepada “Mm” kemarin petang di depan kantor pos Salemba UI .

 

*******

MAHASISWA KKN-UI KEMBALI DARI PANDEGLANG

Mm. 16-3-1978

48 orang mahasiswa UI yang melakukan KKN di Pandeglang Jawa Barat, setelah berkumpul dengan masyarakat setempat selama 3 bulan, sore ini kembali ke Jakarta. Hari Jum’at besok, seluruh mahasiswa peserta KKN UI, juga yang di Jakarta akan menghadiri malam penutup, bertempat di Ruang Konperensi GEMA Kuningan. Mulai jam 18.30.

Kepeda peserta KKN akan diberikan sertifikat. Juga akan hadir pada acara tersebut antara lain Rektor UI, para Dekan dan staf pengajar Universitas Indonesia.

 

*******

 

PAK SLAMET DATANG LAGI

Mm, 16. 3 -1978

Pak Slamet yang namanya di sebut-sebut didalam pemberitaan Mm No. 1 tanggal 13 Maret 1978, ternyata berpangkat Mayor Lengkapnya, Mayor Slamet Singgih. Beliau ini, pada tanggal 14 Maret 1978, Jam 1.00. malam telah menghubungi Posko UI di kampus UI Salemba, sehubungan dengan SK Rektor tentang jumlah mahasiswa Pengamanan Kampus yang katanya masing-masing fakultas maksimal 10 orang.

Ketika Paban Rektor UI., Kapten Donald Siregar dihubungi reporter Mm untuk menanyakan tentang SK Rektor UI tersebut, ternyata ia belum mendapat tembusan SK itu secara resmi. Namun Paban Rektor UI itu mengakui, bahwa ia sudah mengetahui memang ada Surat Pemberi tahuan Rektor UI kepada para Dekan Fakultas dilingkungan UI. Surat pemberitahuan Rektor UI tersebut bernomor : 217/Sek/UI/1978. tertanggal : Jakarta, 9 Maret 1978 – dan di tanda-tangani oleh Rektor UI Prof. Mahar Mardjono. Anehnya, menurut Paban Rektor UI Kapten Donald, secara resmi tidak ada tembusan yang di tujukan kepada Paban Rektor UI dan Posko UI yang selama ini diberi wewenang untuk menjaga keamanan kampus. Tegasnya, tembusan surat pemberitahuan itu hanya ditujukan kepada : Pembantu Rektor III, Para Pembantu Dekan III, dan Para Ex Ketua Senat Mahasiswa, serta Arsip.

*****

STOP PRESS !!!!!

Mm. 16 -3 -1978

Dari sumber yang layak dipercaya, khabarnya para mahasiswa di beberapa Perguruan Tinggi akan bergerak lagi melakukan aksi poster pada hari Jum’at tanggal 17 Maret 1978, Tentu saja sebagai sesama mahasiswa yang punya idealisme untuk menegakkan kebenaran dan kaadilan, setiap gerakan mahasiswa yang didorong oleh motivasi yang sama, pasti akan kita dukung seratus persen.

Sayangnya, seringkali kita lihat gerakan-gerakan mahasiswa itu dilakukan pada hari Jum’at, yang merupakan hari untuk ummat Islam berkumpul melaksanakan ibadah. Hal semacam ini jika dibiarkan berlarut-larut, akan memberi efek politis tertentu kepada ummat Islam umumnya, dan para mahasiswa beragama Islam yang akan melaksanakan ibadah Jum’at pada khsususnya.

Perjuangan menegakan kebenaran dan keadilan, serta perjuangan menentang setiap kebathilan di muka bumi ini, adalah kewajiban bagi setiap pemeluk Islam.

Tetapi, melaksanakan ibadah Jum’at dengen tertib tanpa diganggu oleh hal-hal yang sebenarnya bisa dilaksanakan pada hari dan kesempatan lainnya, juga adalah mutlak. Hukumnya Wajib.

(Sumber: Mahasiswa Menggugat Nomor 2/TH I, 16 Maret 1978)

*****

Komentar Tentang Pengunduran Diri Wapres Hamengkubuwono

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 3:25 pm

Tersirat suatu makna dari “Kata-kata perpisahan” Wakil Presiden Hamengkubuwono pada Sidang Paripurna “Kabinet tanggal 11 Maret 1978 yang lalu. : Bahwa sebenarnya Pengunduran diri beliau itu dari pencalonannya sebagai Wakil Presiden RI untuk periode 1978 -1983, tersirat bukanlah alasan “pertimbangan kesehatan” semata-mata. Kesimpulan ini dapat dibuktikan dengan melihat adanya kontradiksi antara alasan kesehatan beliau yang menurun, dengan kata akhir beliau yang tersurat : “Setelah mengambil keputusan ini saya merasa masih cukup mampu dan karena itu tetap bersedia apabila dikehendaki, untuk membantu dalam melanjutkan usaha pembangunan  nasional dinegara kita.”

Kalau kita menengok sejarah masa lalu, langkah yang diambil oleh keturunan Raja Mataram ini, tak ubahnya seperti ketika Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI pada  tanggal 1 Desember 1956, di zaman pemerintahan Presiden RI pertama Soekarno.

Hamengkubuwono dengan tulus ikhlas, tanpa pengaruh dari siapapun juga, telah memutuskan untuk tidak lagi menerima pencalonan dirinya menjadi Wakil Presiden RI. Meskipun Golkar telah mencalonkan beliau lagi, dan dukungan pun berdatangan dari berbagai pelosok tanah air. Demikan juga halnya tatkala Bung Hatta megundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden dulu, beliau sudah merasa tidak sanggup lagi mendampingi rekannya Soekarno yang dianggapnya telah menyimpang dari Panca Sila dan UUD 1945. Keputusan tersebut diambi1 oleh Bapak Demokrasi Indonesia itu ketika beliau antara lain mensinyalir, bahwa Soekarno “sudah terlalu dekat dengan PKI.” Kekhawatiran Bung Hatta terserbut kemudian terbukti dengan meledaknya malapetaka G.30.S. 1965 yang sangat keji itu.

Sehubungan dengan kasus Pengunduran diri Wakil Presiden RI kedua ini, timbul pertanyaan : Bukankah ketidaksediaan Sri Sultan untuk dicalonkan sebagai Wakil Presiden RI periode 1978 -1983 itu merupakan peringatan untuk Presiden Soeharto?

Dan kalau saja Pak Harto dapat menangkap apa yang tersirat dari kata-kata perpisahan Sri Sultan tersebut, sudah seharusnya beliau memikirkan alternatif’ lain. Masalahnya sekarang bukanlah lagi “secara matematis menurut suara mayoritas” Soeharto pasti terpi1ih lagi, melainkan masalah yang lebih mendasar lagi  ialah : Calon presiden kita itu harus yang paling baik dari yang terbaik. Sehingga kelak, janganlah kita menciptakan sejarah yang keliru bagi generasi mendatang,  pada saat ini tidak ada lagi manusia Indonesia lainnya yang mampu untuk memangku jabatan Presiden kecuali Soeharto.

(Sumber: Mahasiswa Menggugat Nomor2/TH I, 16 Maret 1978)

Kata Perpisahan Wapres Hamengkubuwono

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 2:51 pm

Bapak Presiden dan Saudara-saudara sekalian yang terhormat;

Seperti Bapak Presiden maka saya pun ingin menggunakan kesempatan pada Sidang Kabinet Paripurna ini untuk mengucapkan beberapa kata perpisahan.

Pada tanggal 23 Maret yang akan datang nanti akan berakhirlah masa jabatan saya, sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan penghargaan serta terima kasih saya kepada Bapak Presiden Suharto yang selama ini mengizinkan saya mengadakan hubungan kerja secara bebas dengan beliau dan dengan para Menteri beserta para pejabat tinggi lain dalam Pemerintahan di pusat dan di daerah-daerah.

Dengan hati yang jujur saya menyatakan disini bahwa saya bangga dapat ikut serta, meskipun sering dengan cara yang tidak langsung saja, menciptakan hasil-hasil positif yang dicapai oleh Kabinet Pembanngunan ini. Terbentuknya stabilitas politik dan tersusunnya sistim ekonomi nasional yang mampu untuk berkembang terus merupakan hasil Kabinet ini yang diakui oleh rakyat Indonesia dan oleh Bangsa-bangsa bersahabat seluruh dunia.

Disamping itu seperti juga Bapak Presiden, saya senantiasa mendengarkan pula dan meresapkan di hati saya suara-suara rakyat yang menginginkan keadilan sosial yang lebih memuaskan dan lebih mantap menjamin kehidupan rakyat yang bahagia dan sejahtera tanpa tekanan lahir maupun bhatin.

Adalah menjadi keyakinan saya pula, bahwa perjuangan kita untuk membangun masyarakat yang kita cita-citakan masih harus kita teruskan dan tingkatkan. Perjuangan Orde Baru untuk melaksanakan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta melaksanakan pembangunan harus dilasanakan dengan penuh kesungguhan.

Dewasa ini MPR menilai laporan dan pertanggunganjawaban Presiden selaku Mandataris. Disamping itu MPR juga akan memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam hal terakhir ini saya dengan tulus ikhlas dan tanpa pengaruh dari siapapun juga memutuskan untuk tidak lagi menerima pencalonan menjadi Wakil Presiden.

Keputusan ini saya ambil dimalam hari dengan menggunakan pertimbangan mengenai kesehatan saya pada dewasa ini.

Pertimbangan lain setelah saya renungkan dengan dalam-dalam, ialah adanya rasa tanggung jawab dimana tumbuhlah suatu keinginan didalam jiwa saya untuk memberikan bhakti yang lebih besar dan lebih efektif kepada negara dan bangsa. Hal ini hanya dapat saya laksanakan apabila saya melepaskan diri dari hambatan resmi yang melekat pada kedudukan Wakil Presiden.

Setelah mengambil keputusan ini saya merasa masih cukup mampu dan karena itu tetap bersedia, apabila dikehendaki, untuk membantu dalam kelanjutan usaha pembangunan nasional di negara kita.

Akhirulkata saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para Menteri dan para pejabat tinggi lainnya atas bantuan dan kerjasama yang saya terima selama saya memegang jabatan Wakil Presiden.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dan membimbing Bapak Presiden dan Saudara-saudara sekalian dalam menunaikan tugas negara masing-masing.

HAMENGKUBUWONO