March 28, 2009

BERITA-BERITA SEPUTAR KAMPUS

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:24 pm

ASRAMA MAHASISWA UI PGT KURANG KREATIF

Mm,28/3/1978

Arti kurang kreatif. disini, barangkali apabila ditinjau dari. kegiatan kemahasiswaan akhir-akhir ini, nampaknya berbeda dengan rekan-rekann asrama mahasiswa di Daksinapati. Kalau kita amati, kegiatan penghuni asrama Daksinapati selama situasi perkembangan politik di negeri ini, dapat dicatat antara lain : aksi mahasiswa pencari dana kelaparan desa Karawang, di lapangan Golf Rawamangun beberapa bulan yang lalu. Pada waktu itu sempat pula ditanggapi Kaskopkamtib Soedomo, bahwa gerakan mahasiswa Daksinapati tersebut ada yang menuggangi. Kemudiaa pada awal tahun 1978, nampak penjagaan asrama ditingkatkan, dengan mengharapkan tamu-tamu yang berkunjung untuk lapor diri. Pada musim poster akhir-akhir ini  tidak ketinggalan pula mereka lakukan coret-coret kritikan untuk pemerintah.

Sekarang, bagaimana dengan mahasiswa di Pegangsaan Timur ?

Entah, asrama PGT yang berpenghuni sekitar 200-an ini mayoritas mereka sudah pada kerja (baik di instansi-instansi pemerintah, swasta, serabutan), hingga-mungkin lebih menguntungkan perut daripada kreativitas kemahasiswaan ? Acara rutine di asrama ini, anda dapat saksikan setiap sore hari. mereka main sepak bola, bola volley, bahkan kalau perlu berantempun jadi walalaupun sesama penghuni selame perkembangan situasi akhir-akhir ini di asrama PGT, orang dapat bebas keluuar-masuk baik dari, depan, samping ataupun belakang. Menurut tutur  beberapa, penghuni asrsama, pernah asrama ini kebobolan beberapa anggota Laksus, hampir 2 (dua) bulan yang lalu, yang melakukan pemeriksaan di ruang TV, Kata Laksus, mereka mendapat perintah untuk mencari Lukman Hakim (waktu itu Lukman sedang jadi buronan).

Situasi di asrama PGT berbeda pada jaman Malari 1974. Menurut keterangan beberapa penghuni, pada aksi Malari dulu, asrama PGT ini pernah digeladah Skogar. Kabarnya asrama PGT waktu itu dianggap radikal oleh sementara orang dan beberapa aktivis Malari sering berdiskusi disini. Sementara ini, banyak pula mehasiswa/karyawan di asrama PGT mempermasalahkan situasi negeri, tapi pada umumnya. mereka terbatas hanya perdebatan sengit, sambil mendengarkan radio kesayangan “Suara Australia”.

Itulah sakelumit kehidupan penghuni asrama PGT sehari-harinya, yang oleh kalangan Bakin barangkali dianggap aman untuk situasi saat ini.

*****

PARADE LAGU DAN PUISI MAHASISWA UI DI TAMAN FE-UI

Mm, 28-3-1978.

Dihadapan sekitar duaribu orang mahasiswa UI dari berbagai fakultas, tanggal 25 Maret lalu, telah berlangsung “Parede Lagu dan Puisi Perjuangan”, dengan mengambil tempat di Taman Fakultas Ekonomi UI di Kamus Salemba. Acara yang dikoordinir oleh Presidium Mahasiswa UI yang dikepalai oleh Seto Mulyadi berlangsung hangat malah menjurus menjadi panas ketika Mayor Slamet Singih memerintahkan acara distop. Hal ini disebabkan karena lagu-lagu dan puisi yang dibawakan oleh fakultas hukum UI terlampau keras. (Misalnya lagu “Tante Tin”, Sudomo” dan lain-lain)

LUKMAN HAKIM, RUSLAN DAN SI BEDUL

Mm, 28-3-1978.

Acara pertama dibuka dengan lagu-lagu perjuangan oleh Fakultas Sastra UI, tapi sangat disayangkan terjadi kevakuman karena FIS-UI tak mampu menampilkan wakilnya.

Fakultas Kedokteran UI membawakan lagu-lagunya dengan kurang semangat, demikian juga dengan pembacaan sajak Rendra yang kurang jelas judulnya dibacakan dengan cara yang sangat merusak keindahan sajak tersebut.

Fakultas Teknik UI yang memulai acaranya dengan suara yang tidak pas ternyata kemudian cukup mengundang tepuk tangan yang hebat. FT-UI mulai mendapat sambutan ketika lagu Bedul berkumandang dengan cara. “canon”. Tepukan bertambah setelah lagu “Kisah Masa Kini” yang memakai intro sajak “taik” mengotori udara siang itu.

Lagu yang dari segi musik termasuk lumayan menjadi rusak akibat syairnya yang vulgar dan nora,. Tetapi entah apa hubungannya nama Ruslan dibawa-bawa dalam lagu tersebut yang dikutip seperti di bawah ini:

…………………………………………………….

Ada Lukman Hakim, ada Yo Rumeser

ada Dipo Alam dan Ruslan……………..

Ruslan ………………………………………….

Sedangkan dari lagu Bedul dapat kita kutip bait ketiganya :

Sebagai wakil rakyat ……………………..

Bermodal sebuah kata: setuju, setuju, setuju

Tugasnya tiap hari hanya menunggu : perintah, perintah, perintah

Datang, daftar, duduk, diam, dengar, dan duit, dan duit

Kasihanilah orang ini si Bedul, si Bedul, si Bedul

Seusai FT-UI, Fakultas Hukum muncul dengan membawa sebuah kertas besar yang berisi tulisan, yang kemudian ternyata lagu-lagu rakyat yang telah populer, tetapi telah diganti syairnya di sana-sini disesuaikan dengan situasi panas. Tengah mereka menyanyikan lagu ke tiga, Seto Mulyadi monyelak ke tengah mereka meneruskan perintah dari Mayor Slamet Singgih agar acara segera dibubarkan. Mahasiswa yang hadir langsung menunjukkan sikapnya yang asli, mereka yang langsung berdiri dan berteriak agar acara diteruskan. Akhirnya acara diteruskan, walau ada yang tak jadi dibawakan karena fakultas lainnya belum mendapat giliran.

Fakultas Ekonomi muncul dengan lagu-lagu merdu yang nyaris bikin ngantuk. Selesai satu lagu langsung mereka mohon diri, karena Pak Slamet sudah mengancam mengenai batas waktu acara tersebut. Fakultas Psikologi menampilkan seorang penyair gadungan dengan puisi meratapnya yang berjudul (kalau tidak salah) “Bapak……………”.

Fakultas Kedokteran Gigi yang hampir selalu tidak ikut dalam acara seperti itu, kali ini mengulangi lagi adat-istiadatnya yang kurang baik.

Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam juga menampilkan seorang mahasiswa yang meneriakkan makiannya lewat kata-kata yang terputus-putus.

Acara diakhiri dengan menyanyikan lagu Genderang UI dan mengheningkan cipta. Mahasiswa bubar walau tak puas, karena Pak Slamet telah mengancam akan mengirimkan pasukan bila acara belum selesai pada jam dua siang. Lumayan dari jam dua belas sampai jam dua kurang seperempat siang.

******

 

KISAH PAK SLAMET – BAGIAN KE 5 :

“SAYA SUDAH MINTA MAAF, KOQ RUSLAN MARAH JUGA”

Mm. 28-3-1978

Kisah Pak Slamet nomor ini kita buat dengan permintaan maaf kepada para pembaca “Mahasiswa Menggugat”, karena media Mm kita nomor 6/Th. I yang sedianya terbit tanggal 25 Maret 1978 terpaksa tertunda beberapa hari, berhubung ketatnya pengawasan dari Pak Slamet dan anak buahnya.

Alkisah, Kamis malam 23 Maret 1978, dengan lebih kurang 15 orang anak buahnya, Pak Slamet mengadakan kontrol ke dalam Kampus UI Salemba. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 23.00 – 24.00 Wib, persis beberapa menit setelah Mm no. 5/Th. I selesai dicetak. Kabarnya malam itu Pak Slamet mensinyalir adanya Rapat Presidium Senat di lingkungan UI, dan sekaligus mencek jum1ah mahasiswa yang menjaga keamanan di masing-masing Fakultas, apakah sesuai dengan Surat Pemberitahuan Rektor UI ataukah tidak.

Kira-kira seperempat jam sebelum rombongan anak buahnya masuk dengan meloncati pagar di depan, Pak Slamet telah lebih dulu nongkrong di Kantor Senat FIPIA-UI. Ia berbincang-bincang dengan beberapa Ketua Senat, antara lain: Nina Nurani dan Riwanto. Sayang sekali, Pak Slamet sebagai petugas intel kurang hati-hati dalam berbicara; sehingga beberapa. dialog beliau ketika itu masih bisa dimonitor oleh staf Mm melalui beberapa peralatan mutakhir yang telah dipasang sebelumnya.  Beriku ini, adalah cuplikan pembicaraan Pak Slamet pada. malam itu:

” ….. saya harap sampai dengan tanggal 28 Maret, selama saya masih penanggung jawab keamanan disini, kalian jangan bikin poster dan macam-macam lagi……. Kalau di Rawamangun terserah, itu bukan tanggung jawab saya.. …”(tak begitu jelas terdengar).

Selanjutnya Pak Slamet menyinggung juga soal penangkapan Ruslan Siregar (anggota Posko UI) tangga1 9 Maret 1978 yang lalu. Dimonitor oleh staf’ “Mm” sebagai berikut : “ itu…. si Ruslan, saya benar-benar kesal kepadanya. Masa’ anak buah saya mau masuk ngontrol ke dalam Kampus, ia halang-halangi. Padahal Sudah ada konsensus sebelumnya. Memang Ruslan ini saya pikir perlu dikasih pelajaran, apalagi setelah peristiwa ada anak buah saya makan di warung belakang tidak boleh cuci tangan oleh pelayan di sana, setelah saya selidiki ternyata ternyata Ruslan yang menyuruh mereka melarangnya. Coba kalau waktu itu Ruslan memerintah agar makanan anak buah saya dikasih racun, tentu anak buah sudah modar.” Ditambahkan oleh Pak Slamet: “suatu ketika saya mau memutar mobil saya di depan Kampus UI, tiba-tiba tersenggol sedikit badan Ruslan. ….! tiba-tia ia marah, padahal saya sudah minta maaf kepadanya. “Maaf deh Ruslan, kata saya, koq Ruslan marah juga. “Akhirnya kekesalan saya memuncak. Suatu malam saya perintahkan 2 orang anak buah saya untuk memanggil Ruslan ke luar Kampus. “Bilang sama Ruslan, Pak Slamet menunggu ada perlu di mobil. Dan ketika Ruslan mendekat, segera ia saya ciduk, lalu sengaja saya tempatkan di tempat tahanan kriminil. Biar dia kapok, tapi sebelumnya sudah saya beritahukan kepada para petugas disana, agar Ruslan jangan dipukuli.” Demikian beberapa ucapan Pak Slamet yang berhasil dimonitor oleh staf “Mm”, tatkala beliau sedang omong-omong dengan beberapa Ketua Senat, Kamis malam 23 Maret 1978.

 

H.J.C. PRINCEN DITAHAN LAKSUSDA JAYA

Mm. 28-3-1978

Untuk memenuhi panggilan yang disampaikan dengan surat panggilan tertanggal 13 Maret 1978 petang, Ketua Umum Lembaga Pembela Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia, H.J.C. Princen, datang ke Laksusda Jaya pada tanggal 14 Maret lalu, jam 9.00 WIB. Namun hingga hari ini Princen tidak diizinkan lagi kembali ke rumahnya.

Tidak diketahui dengan jelas alasan penahanan. Tetapi sesuai dengan isi surat panggilan, Princen yang WNI keturunan Belanda itu, dipanggil menghadap untuk dimintai keterangan. Juga tidak dicantumkan keterangan tentang persoalan apa.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment