March 24, 2009

Sejarah Organisasi Kemahasiswaan Bag.2

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:56 pm

Ciri khas Kegiatan Organisasi Intra

Karena terbentuknya di fakultas-fakultas, maka senat mahasiswa memusatkan diri pada usaha membantu para anggotanya dengan studinya. Kegiatannya mencakup pembentukan tenteer-klub, studi klub, bursa buku, seminar, simposium, dan segala kegiatan yang mendukung anggotanya untuk mencapai sukses di dalam studi.

Dalam rangka persaingan dengan organisasi extra, juga dilakukan adalah kegiatan di bidang rekreasi, baik yang bersofistikasi seperti mengadakan konser, malam seni, sineklub (untuk memutar film-film khusus yang tidak terdapat di bioskop-bioskop), maupun rekreasi yang lebih dangkal seperti berdansa dan berpiknik. Maka makin lama makin banyak kegiatan yang selama itu dilakukan oleh organisasi extra, khususnya yang lokal seperti GMD dan Imada, diselenggarakan juga oleh organisasi intra.

Namun kegiatan utama organisasi intra (termasuk juga kebijaksanaan redaksional pers-kampusnya) tetap dipusatkan kepada usaha mendukung upaya Alma Maternya untuk melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan/Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Dalam usaha itu organisasi-organisasi intern, khususnya di Universitas Indonesia merasa menghadapi hambatan dari dua arah yang berlainan.

  1. dari golongan politik yang ingin memperpolitikan kampus ke arah alirannya (menara air)
  2. dari golongan apolitis yang ingin depolitisasi kampus dan ingin kehidupan yang diperciri oleh ungkapan ”Buku, Pesta dan Cinta” (menara gading).

Karena itu, organisasi-organisasi intern sudah sejak dini menjadi tempat pertarunganantara 3 golongan yang kini kita kenal dengan golongan transpolitis, golongan politis dan golongan apolitis. Perjuangan Intra Untuk Identitasnya

Pada awal tahun 1980-an ini situasi dunia kemahasiswaan sudah berubah dibandingkan dengan keadaan tahun 1950-an maupun dengan keadaan tahun 1960-an dan tahun 1970-an.

Tahun 1950-an diperciri oleh iklim liberalisme dengan laissez-faire-nya, khususnya di bidang politik. Dalam situasi sedemikian, organisasi extra, khususnya yang berazaskan ideologi politik yang partikularistik maupun yang berazaskan agama (pada umumnya juga berpolitik), kedudukannya paling menonjol, sehingga perjuangan organisasi intra untuk menegakkan identitasnya sebagai komponen Alma Mater terasa berat.

Tahun 1960-an (sampai tahun 1966) diperciri oleh dampak Marxisme dan dominasi kaum komunis dengan semboyan ”Politik adalah panglima”. Sudah barang tentu dengan ”politik” dimaksudkan politik Partai Komunis Indonesia (PKI) Dalam masa orde lama yang didominasi oleh PKI ini organisasi extra juga tetap menonjol. Hanya saja yang menonjol kaum komunis saja dengan satelit-satelitnya dan golongan yang ditolerir olehnya.

Organisasi extra yang didukung oleh pemerintah Orde Lama adalah organisasi extra “Nasakom” yang merupakan onderbouw daripada partai-partai Nasakom. Yang paling menonjol adalah Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan GMNI-Asu, masing-masing sebagai onderbouw PKI dan PNI-Asu.

Organisasi extra lainnya, seperti HMI, PMKRI, GMKI tidak diberi angin atau bahkan dimusuhi. Organisasi lokal tergantung kepada pengurusnya. GMD misalnya karena opportunisme pengurusnya, masuk dalam orbit Orde Lama.Dalam suasana yang demikian itu perjuangan menegakkan identitas organisasi intra semakin berat. Upaya menangkis dominasi atau infiltrasi organisasi extra onderbouw atau satelit PKI itu menimbulkan reaksi yang hebat dari mereka, dan mengundang ”cap” kontra-revolusi, reaksioner dan Manikebu (Manifes Kebudayaan suatu dokumen yang dirumuskan oleh sekelompok budayawan yang menentang dominasi PKI, ”Manikebu” dimaksudkan sebagai maki-makian dengan konotasi anti PKI).

Organisasi Intra Mencari Darma

Dari sketsa sejarah itu kiranya jelas, perjuangan organisasi intra untuk menegakkan identitasnya tidaklah mudah. Namun dengan segala hambatan yang ada landasan identitas organisasi intra sebagai wadah bagi mahasiswa sebagai studerend wezen dapat ditegaskan.

Pada pertengahan tahun 1960-an, setelah runtuhnya Orde Lama karena kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober 1965 didukung oleh aksi-aksi Tritura selama beberapa bulan sesudahnya, terjadi perubahann situasi yang luar biasa di dalam konstelasi politik di Indonesia. Sudah barang tentu dampaknya sangat terasa di kampus. Bukan saja karena gelombang-gelombang politik selalu memukul-mukul dinding kampus, juga karena peranan mahasiswa sangat menonjol dalam peristiwa-peristiwa di sekitar peralihan tahun 1965 -1966 itu.

Betapapun besarnya gejolak yang terjadi pada masa peralihan 1965-1966 itu namun dikotomi extra-intra tetap nampak. Yang tampil ke muka di dalam aksi-aksi Tritura itu adalah organisasi extra, yang setelah layunya PPMI tergabung di dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Tidak berarti, bahwa organisasi intra tidak ikut serta di dalamnya, namun lebih sebagai unsur daripada sebagai wahana keseluruhan. Yang dipakai dalam aksi-aksi Tritura adalah panji-panji KAMI. Bahwa jaket kuning UI yang menonjol dalam perjuangan menegakkan Orde Baru, disebabkan oleh karena massa KAMI yang terbesar terdapat di UI dan diorganisasi oleh KAMI-UI. Dan Kampus UI merupakan pusat perjuangan Orde Baru dimana pelbagai kekuatan Orde Baru, khususnya mahasiswa dan ABRI bertemu.

Amat menarik, bahwa dalam kebanyakan acara yang dipimpin oleh Ketua KAMI-UI, yakni Abdul Gafur, Ketua DMUI yakni J.M.V. Suwarto, selalu ikut serta. Namun massa yang digerakkan adalah massa yang sama. Dan nama yang dipakai adalah nama KAMI, yang merupakan pengelompokkan organisasi extra.

Pada tahun 1970-an aksi-aksi Tritura sudah berhasil menegakkan Orde Baru dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 disusul dengan Sidang Umum IV MPRS (20 Juni – 5 Juli 1966), Sidang Istimewa MPRS (7 – 12 Maret 1967) dan Sidang Umum V MPRS (21 – 30 Maret 1968).

Rupa-rupanya dengan pembebasan dari tirani Orde Lama, pendulum sejarah berayunkembali ke arah kebebasan. Namun ayunan kembali itu rupa-rupanya berjalan terlalu jauh, sehingga sudah bersifat liberter (libertarian).

Dibeberapa kampus, libertarianisme ini sempat menimbulkan rezim anarkistik di kalangan suatu segmen mahasiswa yang relatif kecil tetapi vokal. Di Kampus UI, gejala anarkisme ini pada awal 1980-an telah mencapai proporsi destruktif.

Perjuangan organisasi intra untuk menegaskan identitasnya, mengalami setbeck yang serius, karena mengalami pembusukan dari dalam oleh kekuatan-kekuatan luar kampus yang membentuk bloc within di dalam tubuhnya. Karena itu dewan-dewan mahasiswa terpaksa dipotong dari tubuh Sivitas Akademika untuk mencegah menjalarnya kanker itu ke bagian-bagian lain daripadanya. Menemukan Kembali Identitas Senat Mahasiswa

Ketika saya memangku jabatan Rektor UI pada tanggal 15 Januari 1982, saya segera mencanangkan perjuangan untuk membebaskan Alma Mater dari benalu anarkisme yang telah mengisap habis vitalitasnya. Ternyata seruan perjuangan itu memperoleh tanggapan positif dari segenap Sivitas Akademika, khususnya the silent mayority di kalangan mahasiswa, yang gerakannya secara silent pula.

Berkat langkah serempak itu kira-kira setahun yang lalu anarkisme di UI dapat dipatahkan kekuatannya, sehingga kita dapat segera memasuki tahap konsolidasi. Harapan saya adalah bahwa dalam masa konsolidasi itu senat-senat mahasisa pada pelbagai fakultas dalam lingkungan UI dapat segera mulai dengan upayanya untuk mengaskan identitasnya sebagai pengurus sesuatu organisasi intra yang bersistem keanggotaan pasif dan existensinya semata-mata karena Alma Maternya.

Sebagai pengurus organisasi intra, senat mahasiswa harus sepenuhnya manunggal dengan Alma Mater, mendukung misinya yakni melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan/pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Untuk darma pendidikan dan pengajaran perlu didukung upaya para mahasiswa untuk melakukan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan extrakurikuler. Untuk mendukung darma pertama, harus ditingkatkan kegiatan membaca, yang berarti membantu teman-teman memperoleh buku-buku tidak hanya texbook untuk menunjang kegiatan intrakurikuler, melainkan juga untuk memperluas horisonnya dengan buku-buku untuk kegiatan kokurikuler dan extrakurikuler.

Senat mahasiswa harus berupaya supaya selera baca teman-temannya ditingkatkan, rasa cinta buku diperdalam. Terhadap kegiatan extrakurikuler non-akademis kiranya generasi-generasi terbaru mahasiswa UI memperlihatkan minat yang besar, yang terbukti dari banyaknya mahasiswa baru mendaftarkan diri pada studiklub Eka Prasetya, pada Paduan Suara dan pada pelbagai klub seni lainnya, pada Marching Band, pada Resimen mahasiswa, pada pelbagai klub olahraga.

Dengan semakin banyaknya mahasiswa senior UI maupun seluruh kelompok mahasiswa baru 1983 yang mempunyai ijazah Penataran P-4, maka Senat Mahasiswa akan makin lama makin jauh ketinggalan kalau masih mengasyikkan diri dengan soal-soal yang kekanak-kanakan seperti inisiasi. Bilamana rata-rata mahasiswa UI sudah mencapai taraf pemikiran mengenai soal-soal kehidupan bangsa seperti pemasaran kopra dan eksploitasi gas bumi, mengenai stratifikasi nilai yang berpengaruh kepada pengambilan keputusan di daerah dan di Pusat, maka Senat Mahasiswa akan ditertawakan, jika ia menganggap kegiatan membaca sebagai perilaku “kutu buku”.

Dalam kehidupan kampus sebagai masyarakat ilmiah, sudah sewajarnya jika warganya banyak membaca dan berdiskusi ilmiah. Tugas kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan membodohkan kehidupan bangsa. Senat Mahasiswa yang tidak tahu isi Undang-Undang Dasar 1945, tidak tahu jiwa Pancasila, tidak punya bayangan apa kehendak rakyat sebagaimana dirumuskan di dalam GBHN (Garis Besar Haluan Negara), hendaknya jangan heran jika ia “tidak laku” dan ditinggalkan oleh massa mahasiswa. Dari sana ia sudah harus menyimpulkan bahwa ia sudah mulai tidak relevan lagi di mata mahasiswa.

Juga perlu saya sarankan, supaya Senat Mahasiswa jangan menyaingi organisasi extra. Secara historik organisasi extra punya tempat dan peranannya sendiri yang bersifat komplementer dengan kedudukan dan fungsi organisasi intra. Sebaliknya, jangan pula Senat Mahasiswa menjadi corong organisasi extra (manapun) karena hal itu akan melanggar integritas Alma Mater. Sudah saya sampaikan bahwa universitas bukan pasar loak bagi gagasan-gagasan usang dari luar dinding-dindingnya. Karena itu kita menghindari pembicara dari luar kampus, kecuali yang memang hebat dan kita perlukan sumbangan pikirannya. Wasanakata

Dengan demikian saya mengharapkan, Senat-senat mahasiswa yang masih berpikiran usang, segera mengejar ketinggalannya dengan senat-senat mahasiswa yang sudah maju. Terutama kepada mereka yang sadar atau tidak sadar, masih menjadi boneka-boneka kekuatan-kekuatan luar kampus, saya serukan untuk berhenti memainkan peranan Si Malin Kundang yang mendurhakai ibunya.

Senat Mahasiswa harus benar-benar menjadi Putra Alma Mater yang berbakti kepadanya. Yang memperlambangkan Alma Mater di fakultas-fakultas, adalah para dekan. Jadi jangan sampai ada Senat Mahasiswa yang masih mau didalangi oleh sisa-sisa kaum anarkis yang menggosok-gosok gagasan usang ”student government”, yang menganggap senat mahasiswa setingkat dengan dekan.

Gagasan ”student government” seperti itu adalah gagasan anarkistis, suatu konsepsi New Left yang mau dilempar ke Indonesia karena di tanah asalnya sudah tidak laku lagi. Menurut konsepsi kekeluargaan Pancasila, Dekan adalah bapak bagi keluarga besar fakultas yang meliputi dosen, karyawan administrasi, mahasiswa dan alumni. Dekan adalah pembina Korpri, Dharma Wanita, Senat Mahasiswa, dan Iluni dalam lingkungan fakultas.

Jangan sampai Senat Mahasiswa menampilkan kontradiksi a la komunisme dalam lingkungan kampus kita.Kampus merupakan suatu keluarga dan tata-pergaulannya berdasarkan kekeluargaan, bersemangat keselarasan, keserasian dan keseimbangan. Sivitas Akademika menolak siasat adu-domba antara sesama anggota keluarga.

Senat Mahasiswa adalah anggota keluarga besar fakultas di bawah pimpinan Dekan seperti anggota keluarga yang lain. Tidak kurang, dan tidak lebih.

Sejarah Organisasi Kemahasiswaan Bag.1

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:53 am

Pengantar: Tulisan ini  judul aslinya “Senat Mahasiswa Mengabdi” yang terdapat dalam buku Menegakkan Wawasan Alma Mater karya Prof. Dr. Nugroho Notosusanto (Rektor UI 1982-1985), penerbit UI Press tahun 1983. Sengaja ditulis ulang di RANI-GRACIAS untuk dapat menelusuri  perpeloncoan.

 

Salah satu yang sering ditanyakan kepada saya sejak saya menjadi Rektor, adalah mengenai pandangan saya tentang peranan yang seharusnya dimainkan oleh senat-senat mahasiswa pada fakultas-fakultas dalam lingkungan Universitas Indonesia (UI). Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, barangkali ada baiknya jika saya memberikan suatu sketsa mengenai senat mahasiswa sebagai unsur kemahasiswaan.

 

Latar Belakang Sejarah

Secara historik kita lihat adanya dua macam organisasi mahasiswa berdasarkan lingkungan kegiatannya, yakni:

  1. Organisasi mahasiswa extrauniversiter (organisasi extra)
  2. Organisasi mahasiswa intrauniversiter (organsasi intra)

Menurut sejarah, yang lebih dulu ada di Indonesia adalah organisasi extra yakni pada jaman Hindia Belanda. Sedangkan organisasi intra sejauh pengetahuan saya baru baru ada pada jaman kemerdekaan.

 

Organisasi federatif yang pertama juga timbul dalam lingkungan organisasi extra, yakni Persatuan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Sedngkan organisasi federatif di dalam lingkungan organisasi intra, yakni Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) baru kemudian timbulnya.

 

Organisasi mahasiswa extra yang pernah ada di Indonesia dapat dibagi atas 3 jenis, yakni:

a. yang berdasarkan agama

b. yang berdasarkan politik partai/golongan

c. yang berdasarkan lokalitas.

 

Contoh daripada jenis pertama adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan lain-lain. Contoh daripada jenis kedua adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GM Sos), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), dan lain-lain. Contoh daripada jenis ketiga adalah  Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD),  Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada), Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB) dan sebagainya. Masih ada satu perhimpunan yang tidak dapat digolongkan kepada ketiga jenis tersebut, yakni organisasi bagi golongan keturunan asing, dan sejauh pengetahuan saya hanya ada satu, yakni Ta Hsueh Hsueg Sheng Hui yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Perhimi).

 

Sedangkan senat-senat mahasiswa yang pertama yang pernah dibentuk, sejauh ingatan saya, adalah pada fakultas-fakultas pada dua universitas negeri yang tertua, yakni Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia. Saya mengalami pembentukan senat mahasiswa di lingkungan Universitas Indonesia, yakni pada Fakultas Sastra pada tahun 1951 dengan (Dr.) Subardi sebagai ketuanya yang pertama dengan saya sebagai  wakil ketua. Pada tahun berikutnya saya menggantikan Subardi menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

 

Sociaal Wezen dan Studerend Wezen

Sejak semula ada hubungan persaingan antara organisasi extra dengan organisasi intra. Namun secara tidak disadari, makin lama tercipta suatu keseimbangan antara persaingan di satu pihak dengan semacam pembagian pekerjaan pada pihak lain. Pembagian pekerjaan itu tidak terlalu tajam, namun akhirnya dapat dirumuskan sebagai perbedaan titikberat. Oorganisasi extra lebih menitikberatkan kepada kehidupan mahasiswa sebagai sociaal wezen (makhluk sosial), sedangkan organisasi intra lebih meletakkan titiberat pada kehidupan mahasiswa sebagai studerend wezen (mahluk belajar). Pada waktu itu bahasa Belanda masih dipakai sebagai bahasa-kuliah, sehingga masih banyak istilah yang tertulis di dalam bahasa Belanda.

 

Pada waktu struktur itu terbentuk, kita masih hidup dalam suasana politik yang liberalistik. Hal itu pada tahun 1950-an sangat terasa, terutama di Jakarta dan Bandung, dua kota yang pada jaman kolonial merupakan pusat masyarakat Belanda di Indonesia Selama jaman perang kemerdekaan kedua kota itu pada tahap yang dini dalam konflik itu menjadi tempat konsentrasi kekuasaan militer dan dengan demikian juga menjadi tempat pemusatan kekuasaan politik kaum kolonialis Belanda.

 

Pada tahun 1950-an itu masyarakat mahasiswa di Jakarta terdiri atas dua komponen dilihat dari sudut langgam hidupnya, yakni yang pertama mahasiswa yang sejak semula tinggal di kota itu, dan kedua adalah mereka yang baru masuk ke Jakarta dari pedalaman. Golongan kedua ini dibandingkan dengan golongan yang telah lama menetap di Jakarta, pada umumnya menderita kekurangan sarana-sarana belajar. Suasana belajar di daerah pedalaman sudah barang tentu lain daripada di Jakarta. Kota-kota perguruan tinggi di daerah pedalaman seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan lain sebagainya diliputi suasana perang yang terus menerus. Sedangkan Jakarta, meskipun tidak juga sepenuhnya bebas dari konflik bersenjata, namun tidak terancam akan menjadi daerah-tempur.

 

Di daerah pedalaman buku-buku juga langka, peralatan laboratorium serba kurang. Dan yang juga terasa: suasana studi yang sempurna tidak terdapat di daerah pedalaman itu. Karena itulah mahasiswa yang berasal dari daerah pedalaman ini pada umumnya lebih mementingkan studi san uapaya melengkapi sarana studi daripada soal-soal lain. Karena itu kebanyakan diantara mereka aktif di dalam organisasi intra yang lebih  memusatkan diri pada persoalan-persoalan studi.

 

Tambahan pula, banyak diantara para mahasiswa yang datang dari daerah pedalaman itu bekerja sambil belajar. Orangtua mereka yang pada umumnya adalah pegawai-pegawai Republik yang baru keluar dari daerah pedalaman, atau bahkan masih ada di sana, juga masih serba kekurangan dana. Boleh dikatakan semua orang tua itu dari golongan non yang menolak bekerja pada pemerintah pendudukan Belanda. Sebagai werkstudent atau mahasiswa kerja, para mahasiswa golongan ini, tidak banyak mempunyai waktu-luang untuk kegiatan-kegiatan extra-kurikuler, yang kebanyakan diselenggarakan oleh organisasi extra.

 

Extra dan Intra

Kegiatan organisasi intra meliputi studi maupun rekreasi. Tetapi karena bidang studi masing-masing anggota berbeda-beda, maka kegiatan studi tidak begitu merata. Ada kecenderungan, bahwa anggota-anggota sefakultas saja yang berkumpul-kumpul  untuk keperluan tenteren atau mencari mentor. Dengan demikian para anggota mencari kepuasan lain pada organisasi-organisasi extra; organisasi agama, yang dicari adalah kepuasan batin di bidang agamanya masing-masing, pada organisasi politik yang dicari adalah kepuasan  dalam kehidupan politik, sedangkan pada organisasi lokal, lebih dicari adalah rekreasi dan keseronokan atau gezelligheid.

 

Karena organisasi extra ini berdasarkan sistim keanggotaan aktif (artinya para anggota itu secara aktif melamar untuk menjadi anggota), maka untuk dapat diterima menjadi anggota secara ikhlas mereka menjalani perpeloncoan atau inisiasi. Lain halnya dengan organisasi intra, yang memakai sistim keanggotaan pasif, artinya siapa saja yang terdaftar menjadi mahasiswa tertentu daripada universitas tertentu, dengan sendirinya diakui sebagai anggota ”keluarga mahasiswa” fakultas atau universitas yang bersangkutan. Karena itu pada tahun 1950-an itu tidak ada perpeloncoan pada organisasi intra.

 

Akan tetapi dengan langgam berpolitik pada jaman Demokrasi Liberal, yang berdasarkan persaingan bebas, partai-partai politik secara aktif mencari pengaruh dan bahkan mencari pengikut di dalam kampus; suatu hal yang mengundang reaksi dari mereka yang (menurut istilah sekarang) berjiwa Alma Mater. Reaksi itu ada dua macam, pertama reaksi yang disebut depolitisasi, artinya sikap yang menjauhi dan bahkan men-tabukan politik di dalam lingkungan kampus. Dan kedua adalah apa yang saya sebutkan transpolitisasi, yakni kegiatan mempelajari politik supaya tidak dapat ditunggangi kaum politik yang menyerbu kampus-kampus untuk mencari pengaruh dan pengikut. Namun barangsiapa ingin melakukan politicking, harus melakukannya di luar kampus.

 

Karena hasrat kelompok transpolitis untuk berorganisasi dalam rangka memperoleh apa yang sekarang disebut pendidikan politik, maka kemudian senat-senat mahasiswa diperkuat dan dikoordinasi dengan sebuah dewan mahasiswa. Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dibentuk pada tahun 1954 dan dengan itu dimasukilah era baru di dalam Pergerakan Mahasiswa Indonesia. Karena pada waktu itu yang hampir bersamaan terbentuklah pula Dewan Mahasiswa Universitas Gajah Mada.

 

Karena kaum transpolitis, berbeda dengan kaum apolitis, adalah orang-orang yang tidak buta politik, bahkan cukup banyak yang sadar politik, meskipun politiknya adalah ”politik” dengan ”P” besar atau politik nasional, bukan politik partikularistik berdasarkan afiliasi partai atau golongan, maka timbullah sikap menyaingi organisasi extra. Sikap menyaingi itu antara lain diungkapkan dengan mengadakan perpeloncoan di dalam kampus bagi mahasiswa baru. Dengan demikian banyak mahasiswa yang lalu tidak merasa perlu untuk juga menjadi anggota organisasi extra. (Mereka cukup diplonco satu kali saja!)

 

Namun organisasi extra tidak tinggal diam. Karena mereka disaingi oleh organisasi intra, maka apa yang mereka lakukan? Mereka menyusup ke dalam tubuh organisasi-organisasi intra itu, baik pada tingkatan senat mahasiswa maupun pada tingkatan dewan mahasiswa. Menyusupnya adalah dengan memperjuangkan supaya jagonya menang pada pemilihan pengurus. Caranya ada yang halus, artinya dengan cara ”tahu sama tahu”, tetapi ada juga yang secara terang-terangan berkampanye untuk calon yang menjadi anggotanya.

 

Setelah berhasil duduk dalam pengurus, tokoh-tokoh extra itu pada umumnya lalu memainkan bloc within di dalam masing-masing organisasi intra. Dengan demikian lambat laun politicking kembali ke kampus! Dan akhirnya seluruh kampus dalam politicking, suatu perkembangan yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an. Dalam periode ini telah pula berkembang suatu gejala dalam kehidupan politik Indonesia yakni organisasi tanpa bentuk. Di samping kekuatan-kekuatan politik yang terorganisasi secara formal, terdapat pula kekuatan-kekuatan politik yang tidak terorganisasi secara formal, namun dampak kegiatannya terasa di kampus. Sebagai akibat kombinasi politisasi dan depolitisasi kampus, banyak mahasiswa Universitas Indonesia terpengaruh olehnya. Baru sejak dilaksanakannya transpolitisasi, mahasiswa Universitas Indonesia  dapat membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh external yang negatif itu dan kembali kepada kesetiaannya kepada Alma Mater.