March 21, 2009

Mahasiswa Menggugat 4

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:39 am

MAHASISWA MENGGUGAT Alamat Redaksi : Jl. Salemba Raya 4 – Jakarta Pusat JAKARTA, 21 MARET 1978 – No. 4/Th. I

MEMPERBINCANGKAN ISTILAH ABRI

ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), dewasa ini mendapat sorotan masyarakat, terutama dari kalangan mahasiswa. Beberapa poster mahasiswa antara lain berbunyi: “ABRI Milik Rakyat.” “Kembalikan ABRI Kepada Rakyat.” Pernyataan-pernyataan di atas menggambarkan, bahwa garis perjuangan ABRI sekarang telah agak menyimpang dari tujuan dasar kelahirannya. Yakni untuk melindungi rakyat dan bukan menghantam anak rakyat yang tidak bersenjata. Istilah ABRI, sebenarnya mencakup tiga Angkatan dan Polri. Yaitu: TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan Kepolisian Republik Indonesia. Bila salah satu dari ketiga Angkatan dan Polri tersebut membuat prestasi gemilang di masyarakat, maka semua Angkatan dan Kepolisian ikut mendapat nama harum dimata masyarakat. Misalnya keberhasilan Letjen Marinir H. Ali Sadikin ketika menjadi Gubernur DKI beberapa periode; lalu dianggap sebagai salah satu contoh keberhasilan Dwi Fungsi ABRI. (Disini orang/masyarakat tidak mempersoalkan bahwa yang sukses itu sebenarnya TNI-AL). Begitu pula ceritanya bila salah satu unsur ABRI berbuat kesalahan. Katakanlah seperti tindakan kurang simpatik dari TNI-AD yang akhir-akhir ini banyak mengobrak- abrik berbagai Kampus di Indonesia. Masyarakat ramai dengan mata kepala sendiri menyaksikan, bahwa sebagian besar yang menghantam para mahasiswa dengan popor senjata dan bayonet terhunus itu, adalah dari unsur TNI-AD. Tetapi nama jelek akan melekat pada ABRI secara keseluruhan ! Demikian halnya dengan keanggotaan di MPR-RI saat ini. Dari 908 anggota MPR, terdapat 230 anggota Fraksi ABRI. Terdiri dari: 133 orang TNI-AD, 34 orang TNI-AL, 29 TNI-AU dan 34 dari Kepolisian RI. Kalau seandainya dimasa akan datang sejarah mencatat ada kekeliruan yang dibuat oleh Fraksi ABRI di MPR-RI yang mayoritas anggotanya terdiri dari anggota TNI-AD itu, maka keseluruhan unsur ABRI juga akan ikut memikul resikonya. Apakah hal tersebut ini tidak terpikirkan oleh unsur-unsur ABRI di luar TNI-AD ? Secara pasti kita tidak tahu. Namun secara tidak resmi, banyak juga didengar komentar beberapa perwira. TNI-AL, TNI-AU dan Polri. “Jika mahasiswa mengeritik ABRI, harus dilihat dulu ABRI yang mana,” ujar mereka. Komentar-komontar semacam ini, kiranya mendapat perhatian bagi para mahasiswa andaikata ingin membuat poster atau tulisan yang mengeritik ABRI, sebaiknya ditujukan kepada sasaran yang konkrit. (Unsur ABRI mana yang dikritik). Sehingga bunyi poster tersebut diatas tadi akan menjadi “ABRI Milik Rakyat, “Kembalikan TNI-AD kepada Rakyat”.


BERITA-BERITA SEPUTAR KAMPUS

MENGAKU UTUSAN PAK HARTO

Mm, 21-3-1978 “Siapa yang menyuruh saudara datang kemari ?”, tanya seorang mahasiswa. “Pak Harto”, jawab orang yang ditanya dengan singkat. “Pak Harto Presiden kita” selaknya dengan cepat sambil mengacungkan tangannya ke atas. Demikian awal dialog mahasiswa FIPIA-UI dengan seorang pemuda yang secara tiba-tiba masuk ke ruang SM FIPIA-UI, Jumat 17 Maret lalu, kira-kira jam 9.00 pagi. Dalam ruang senat itu, terjadilah percakapan sengit yang menjurus ke perdebatan. Karena mahasiswa ingin tahu asal-usul orang tersebut. Dari jawabannya menirnbulkan keragu-raguan di antara mahasiswa-mahasiswa yang sempat menyaksikan peristiwa itu. Tentu saja keraguan tentang waras tidaknya orang tersebut. “Keraguan kita hampir hilang, karena ia pandai berdebat”, berkata seorang mahasiswa. Akhirnya orang itu dibawa kegedung FT-UI untuk dimintai keterangannya lebih lanjut. Di sana mulai nampak indikasi ketidak warasan orang tersebut. “Saya ingin pimpin domonstrasi”, katanya bersemangat. Suasanapun makin hangat dan saling beri jurus simpanan gaya Moh. Ali alias jotos-jotosan. Setelah mahasiswa yakin orang itu tidak waras, iapun dibawa ke kantor POSKO-UI, Dari kantor ini sebahagian mahasiswa belum sepenuhnya yakin waras tidaknya orang ini. Untuk menghilangkan keragu-raguan, didatangkan dua orang dokter dari Pusat Kesehatan Mahasiswa UI dan Lembaga Kriminologi UI yang terletak tidak jauh dari situ. Hasil pemeriksaan menunjukkan, orang tersebut memang rnengalami gangguan syaraf dan diliputi frustrasi. Si syaraf yang bernama M. Utojo, 25 tahun itu, bertempat tigggal di Tg. Priok dan mengaku mahasiswa UNIJA (Universitas Jakarta). Jam 11.00 siang ia dilepas. Dengan diantar beberapa mahasiswaUI. M Utojo menaiki Bemo di jalan Salemba Raya sambii melambaikan tangan.


KAMPUS UI RAWAMANGUN DISERBU TENTARA

Mm, 21-3-1978 Dengan senjata terhunus dan perlengkapan perang lainnya, tiga truk dan hampir sepuluh jeep tentara menyerbu Kampus UI Rawamangun, hari Sabtu, 18 Maret lalu. Setelah kampus dikuasai kira-kira pada jam 9.00 pagi, pasukan yang terdiri dari Baret Hijau (Jayakarta) dan Baret oronye (Kopasgat) itu, mulai menjalankan operasi pencabutan poster yang dipasang sejak pagi-pagi di FH, FS, FIS dan FPsy.UI. Tidak seperti waktu-waktu lalu, penyerbuan kali ini tidak meendatangkan korban. Baik di pihak penyerbu, maupun warga kampus. Hanya seorang tentara (Baret Hijau) yang terkilir kakinya. Karena jatuh sewaktu memanjat tembok FS guna mencabut beberapa poster. Korban tersebut kemudian dipapah oleh kedua temannya ke mobil yang diparkir tidak jauh dari situ.

Ratusan poster bermunculan. Sejak pa.gi-pagi kurang lebih 800 buah poster secara serentak dipajang di ke 4 Fakultas yang berada di kampus UI Rawamangun. Hampir semua tembol Fakultas tertutup poster. Baik dalam ruangan maupun di luar yang mengjadap ke jalan Pemuda. Ratusan penduduk yang berdiam sepanjang jalan Pemuda ke luar rumah untuk menonton aksi poster itu. Aksi tersebut juga menarik perhatian pengendara yang lewat. Jalan Pemuda yang sangat padat arus lalu lintas di pagi hari itu, sempat macet. Karena kendaraan dijalankan perlahan-lahan sambil membaca isi poster. “Hidup mahasiswa”, teriak seorang pengendara Mercy 200 yang sedang menuju arah jalan Pramuka sambil mengacungkan tangan kanannya. “Hidup, hidup…….”, balas mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiri di pintu masuk FH-UI. Beberapa dari ratusan poster yang terpampang itu antara lain berbunyi : SU MPR jangan jadi sandiwara umum – Berapa ribu lagi mahasiswa harus disandera untuk amankan SU MPR – Bisakah aspirasi tertampung kalau 60% vs 40% – Selamat pagi Adam, mau dibawa kemana Republik ini – MPR : Makan Pesta Rakyat – Republik Indonesia = Republik A.M. – Mengapa Sri Sultan mengundurkan diri disaat kita memerlukan perubahan secara mendasar – UU Pemilu melanggengkan kekuasaan – Bagaimana MPR bisa bijaksana kalau Eksekutif dominan di Legislatif – Gerakan moral mahasiswa tidak memaksa kehendak. Sebuah poster berukuran raksasa yang dapat dibaca dari jarak jauh dipasang di atas Aula FH-UI. Poster tersebut bertuliskan “Pertanggungan Jawab Presiden hanya basa-basi saja”. Dalam kesempatan itu dua orang Baret Hijau sempat mengambil bekas-bekas pengumuman SM FH melalui jendela SM-FH-UI. Sedangkan seorang lagi memasuki ruang SM dan mencabut tempelan-tempelan yang ada di tembok.

Renungan IKIP dibubarkan Setelah seluruh poster dikuasai, satu truk Baret Hijau meninggalkan kampus UI Rawamangun. Jam menunjukan tepat pukul 10.30 WIB. Sisa pasukan kelihatan mulai terpencar-pencar sampai ke asrama mahasiswa UI “Daksinapati” dan kampus IKIP Jakarta. Mahasiswa IKIP saat itu memulai acara renungan yang telah mereka rencanakan semula. Renungan yang diisi dengan pembacaan puisi dan pembakaran api unggun serta menyenyikan lagu-lagu itu, hanya berlangsung sebentar. Kira-kira jam 11.15, pasukan-pasukan yang tersisa tadi (dua truk) berkumpul kembali dan membubarkan renungan mahasiswa IKIP tersebut. Beberapa mahasiswa IKIP sempat kena popor senjata.

Mengada-ada Seusai poster-poster di FS-UI dicabut, 2 orang mahasiswa FH-UI mencoba mendekati 2 anggota Baret Oranye yang kebetulan berada di situ. Walaupun hanya berlangsung tidak lama, mereka pun terlihat dalam percakapan santai. “Masa pasang poster saja harus dicabut. Alasan ini mengada-ada saja untuk memerintah”, kata salah seorang Baret Oranye. “Dik, posternya dicat saja ke tembok”, sambung yang lainnya sambil bergegas-gegas pergi. Kedua rekan mahasiswa hanya tersenyum mesum. Sementara itu, di Taman Sastra UI seorang mahasiswa FS-UI lainnya bertanya pada seorang anggota Kopasgat yang kelihatannya tenang-tenang saja. “Koq nggak ikut nyabutin poster pak ?” tanya si mahasiswa. “Ala, itukan bukan tugas Kopasgat, biarin aja pasukan Diponegoro dan Angkatan Darat lainnya yang melaksanakan,” jawab di Kopasgat itu dengan spontan. “Hidup Kopasgat !”, teriak beberapa mahasiswa UI.


PENYERBUAN DI KAMPUS UI SALEMBA

Mm, 21-3-1978 Bertepatan dengan aksi poster mahasiswa UI yang telah direncanakan sebelumnya, ribuan poster hampir memenuhi semua dinding fakultas di lingkungan UI, sejak dinihari tanggal 16 Maret 1978. Poster-poster bermunculan, baik di kampus UI Salemba dan Rawamangun. Ini mengundang anak buah Jenderal Panggabean untuk bergerak cepat. Pada jam 08.30 WIB, ratusan militer dengan senjata teracung menyerbu kampus UI Salemba. Dengan diangkut oleh 2 truk, 2 pick up, 6 jeep, serta dibantu 3 mobil satuan lalu lintas, mereka memasuki kampus melalui pintu samping UI, didepan Kantor Pos, dengan peralatan siap tempur dibawah pimpinan Mayjen Norman Sasono. Jalan Salemba Raya, yang biasanya macet dipagi hari menjadi lebih macet lagi, karena jalur lambat dimuka kampus UI ditutup oleh petugas Polantas dan pasukan baret hijau yang siap menghadapi segala situasi. Satgasma UI yang biasa bertugas menjaga keamanan kampus dan menjaga pintu gerbang UI pada sayap kiri (satu-satunya pintu yang terbuka), tak berdaya menahan serbuan pasukan ini. Para mahasiswapun tidak berusaha melayani serdadu yang mengamuk ini, yang telah tidak tidur selama seminggu. Setelah memasuki pintu gerbang, pasukan menyerbu ke Fakultas Teknik di sebelah kanan dan sebagian lagi menyusup ke samping kiri – menuju FKUI, FIPIA-UI, FE-UI dan FKG-UI. Para mahasiswa diusir oleh sang komandan yang terlihat sudah kalap, kemudian mereka memasuki ruangan. Sambil mencopot poster, sang komandan terus berkoar, agar tidak lagi memasang poster, dan kali ini adalah yang terakhir. Jika tidak semua mahasiswa UI akan terkena akibatnya. “Saya sudah bilang berkali-kali, untuk tidak boleh ada lagi poster disini. Kami sudah seminggu nggak tidur”, katanya. Seorang mahasiswa di FEUI sempat kena pentungan atau gada berarus listrik, hanya karena mengatakan agar pengumuman olahraga yang juga tertempel di papan pengumuman jangan ikut tercopot. Sang mahasiswa yang sadar, tak perlu melayani serdadu kalap ini, hampir disuruh tembak oleh salah seorang diantara mereka. Mahasiswa itupun lari ke belakang dengan menerika resiko jam tangannya pecah disambar gada. Berbagai poster dan spanduk yang bertebaran itu antara lain berisi mengenai berbagai kemelut situasi saat ini. Diantaranya berbunyi : “MPR – jangan menjadi Majelis Penjajah Rakyat, “Pemuda KNPI agar segera dipersenjatai”, dan lain sebagainya. Sedangkan di tingkat atas gedung Rektorat UI, sebuah spanduk sepanjang lima meter mencoba menghimbau : “Selamat pagi Pak Adam, mau kemana …..? Yang menjadi sasaran kekalutan penyerbu bukan hanya poster-poster protes penyalur aspirasi mahasiswa tetapi tak ayal lagi, hampir semua kertas yang tertempel di papan-papan dan dinding bangunan. Ruang Kantor Redaksi “SALEMBA” yang juga ditempeli beberapa Bulletin Mahasiswa Menggugat dari dalam kaca, sempat membuat mereka panik, bingung bagaimana cara mengambilnya. Bayonet, sebagai alat untuk mencopot poster, hanya bisa digunakan jika terlebih dahulu kaca dipecahkan. Untung tak berapa lama kemudian pegawai kantor Redaksi salemba berada dalam ruangan segera membuka pintu, yang ketika itu juga menyelononglah “pasukan pembersih kampus” menggerayangi kantor Salemba, serta membersihkan dinding dari semua tempelan yang ada. Sejam kemudian pasukan yang rupanya dipimpin langsung oleh Mayor Jendral Norman Sasono, mengirimkan beberapa pimpinan mereka menghubungi Pimpinan UI di lantai 3 gedung Rektorat, dengan diantar oleh Komandan Satgasma UI Handi Yohandi SH. Dalam perjalanan menuju Rektorat, Handi Yohandi sempat kena marah dari “perwira penyerbu”. Ia menganggap Posko Satgasma UI telah melanggar konsensus bersama, yakni Posko Satgasma UI bertanggung jawab atas keamanan kampus UI terhadap gangguan dari pihak luar. Posko-UI menyangkal tuduhan itu dan menganggap semua-poster itu tidak ada Sangkut pautnya dengan serbuan dari luar. Sekitar pukul 10.00 WIB, barulah kampus UI Salemba tenang kembali. Tentara tersebut segera naik ke truk dan menuju markasnya dengan persenjataan yang lengkap, berupa senapan ukuran berat lengkap dengan sangkurnya, walkie talkie, pesawat radio di punggungnya, serta senjata paling mutakhir yang baru digunakan kali itu, berupa tongkat rotan sepanjang satu meter Dari pihak mahasiswa tak ada korban, tetapi salah seoreng tentara penyerbu telah cedera karena terjatuh ketika melompati pagar yang mengelilingi kampus UI Salemba.


ROTAN MENGHIASI JALAN-JALAN PROTOKOL DAN KAMPUS UI

Mm,21-3-1978. Pasukan baju hijau yang, berjaga-jaga sepanjang jalan-jalan protokol di Jakarta, mulai tanggal 18 Maret 1978 dilengkapi dengan senjata ringan baru berupa sebuah tongkat rotan besar dengan diameter satu inchi dan panjang satu meter. Demikian juga untuk pasukan yang menyerbu kampus UI Salemba dan Rawamangun pada hari Sabtu lalu. Agaknya penggunaan senjata rotan adalah demi mengurangi korban yang patah tulang akibat pukulan dengan popor senapan. Tetapi rotan hanya dipergunakan kalau massa, mahasiswa dan pelajar yang dihadapi tidak mengadakan perlawanan fisik. Karena kalau sedikit saja massa mengadakan reaksi, langsung sangkur berperanan kembali sebagai obat penenang. Sedangkan pada hari Senin kemarin, sejumlah lima truk dan lima jeep tentara telah didrop di Bundaran jalan dan halaman Hotel Indonesia. Mereka diperlengkapi dengan senjata lengkap serta amunisi cadangan, plus sebuah tongkat rotannya. Mereka mencegat dan menggeladah para pejalan kaki yang lewat di sekitar situ. Para tamu Hotel Indonesia yang baru tiba pun tak luput dari tindakan tersebut. Pemeriksaan yang paling teliti dan lama, dikenakan kepada pejalan kaki yang kebetulan berstatus mahasiswa. dan pelajar SLTA. Sementara itu para pekerja dari Hotel Indonesia dan Wisma Nusantara tampak banyak yang keluar ke halaman dan dengan muka yang tegang menyaksikan para tentara yang sedang melaksanakan tugasnya. Sedangkan pasukan baju hijau tersebut dongan tampang yang distel serius, sibuk terus menerus mengirimkan laporannya ke rnaskas komando melalui pesawat radio pemancar yang dipanggul di punggungnya, yang ber-antena. sepanjang dua meter.


RUSLAN SIREGAR DI TAHAN

Mm. 21-3-1978 Berita terlambat dari Posko UI, bahwa Ruslan Siregar, Kasie III Posko UI, tanggal 9 Maret 1978 puku1 23.00 Wib, telah ditahan Laksusda Jaya. Ia ditahan sehubungan dengan tugas pengamanan Kampus UI Salemba. Sebagaimana diketahui Ruslan selalu aktif menjalankan tugasnya sebagai anggota Posko-UI, terlebih sejak keluarnya SK Rektor UI tentang pengamanan pengamanan Kampus UI oleh para anggota Posko. Menurut berita acara pemanggilan yang disampaikan kepada Posko UI, alasan pemanggilan Ruslan, hanyalah ingin dimintai keterangan saja. Namun hingga hari ini Ruslan Siregar masih dalam status tahanan Intel Satgas di dekat Lapangan Banteng. Sementara itu, tanggal 18 Maret 1978 lalu, beberapa anggota Posko UI dan para mahasiswa penjaga gerbang Kampus UI, telah mengirimkan uang Rp. 5.000.- (lima ribu rupiah) kepada Ruslan di tahanan. Kiriman untuk pernyataan sekedar solidaritas sesama mahasiswa itu, dikirimkan melalui Mayor Slamet Singgih. Keesokan harinya tanggal 19 Maret 1978, jawaban tanda terima dan sepucuk surat dari Ruslan untuk teman-temannya di Salemba, diterima melalui Mayor Slamet juga. Isi surat tersebut antara lain menyatakan bahwa ia (Ruslan) baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi akan keluar, karena pemeriksaan hampir selesai. “Dan terima kasih atas kirimannya.” Tak dinyana, kisah surat Ruslan ini ternyata menghantarkan kita kepada suatu kisah serial ketiga dari Pak Slamet, alias Pak Pos Istimewa, berikut ini.


SERIAL PAK SLAMET – BAGIAN 3 “WAH, KALAU SAYA JAWAB. NANTI MASUK Mm LAGI”

Mm. 2l-3-1978. Untuk ketiga kalinya, kisah Pak Slamet (bukan Prof. Slamet) diturunkan dalam media kita ini. Tujuannya tidak samasekali untuk memojokkan beliau, juga tidak untuk mempopulerkannya agar cepat naik pangkat. Kisah ini dimuat sekedar menunjukkan, bahwa jerih payah pengasuh Mm yang setiap hari mengawasi gerak-gerik Pak Slamet (“ngintelli,” istilah asingnya), ternyata membuahkan hasil. Disamping memang penbawaan beliau itu sendiri cukup interesan untuk dijadikan bahan berita menarik. Akisah, malam Minggu tanggal 18 Maret 1978 lalu, beberapa anggota Posko UI dan para mahasiswa penjaga gerbang masuk UI, mengumpulkan uang Rp. 5000,- (lima ribu rupiah) uang tersebut segera dikirimkan kepada saudara Ruslan Siregar (anggota Posko UI) yang di tahan Laksusda sejak tangga1 9 Maret 1978. Oleh karena prosedure untuk mengantarkan kiriman kepada para mahasiswa yang ditahan itu cukup berbelit, akhirnya rekan-rekan mahasiswa di Salemba memutuskan untuk mengangkat seorang “Pak Pos Istimewa.” Namanya pak Slamet, alias Mayor Slamet Singgih Koordinator Intel Kampus UI Salemba. Senin malam tanggal 19 Maret 1978, sekitar pukul 20.00 Wib, Pak Pos Istimewa kita itu datang lagi ke kampus UI Salemba. Ia membawa surat tanda terima kiriman uang dari Sdr. Ruslan, dan juga membawa sepucuk surat Ruslan buat kawan-kawan mahasiswa UI di Salemba. Sehabis menunaikan tugasnya dengan baik, Pak Pos Istimewa tadi segera berbincang-bincang sejenak dengan mahasiswa UI di Salemba. Suasana cukup ramah dan akrab sehingga terjalinlah pembicaraan yang rada seru serta mengasyikkan. Tentu saja materi pembicaraan tidak jauh menyimpang dari soal yang lagi hangat-hangatnya di masyarakat, yakni tentang varia SU MPR 1978. Mengomentari ocehan salah seorang mahasiswa mengenai sikap PPP tentang calon Presiden dan Wakil Presiden, Pak Slamet menyela: “Ah, PPP ternyata tahu situasi koq, mereka tidak berani menolak usul fraksi-fraksi lain untuk mencalonkan Pak Harto dan Adam Malik.” Tiba-tiba dengan nada agak serius, Pak Slamet mengisahkan pendapatnya ketika masa demam Pemilu 1977 lalu. Ia berkata: “Dulu waktu masa Pemilu, saya pernah bilang sama teman-teman saya, bahwa jika PPP yang menang maka kita ke kantor harus pakai sarung.” Beberapa mahasiswa tertawa mendengar ocehan Pak Slamet ini. Sementara redaksi Mm (Mahasiswa Menggugat) yang berada persis di belakang beliau tanpa diketahuinya, diam saja sambil berucap dalam hati: “mudah-mudahan saja tidak semua perwira muda TNI-AD lulusan AKABRI yang berpandangan picik seperti ini.” Masih obrolan tentang SU MPR, seorang mahasiswa kemudian bertanya kepada Pak Slamet. “Bagaimana komentar bapak tentang orang-orang ‘ekskutif’ ikut main di lembaga ‘legis1atif’ seperti tampak sekarang ini? –Ya, ibarat seorang wasit bola, ikut bermain dalam permainan yang diwasitinya, ujar mahasiswa itu lebih lanjut”. Apa jawaban Pak Slamet ? “Wah, kalau saya. jawab, nanti masuk Mm lagi.” para mahasiwa tersenyum mendemgar jawaban Pak Slamet, dan redaksi Mm pun tertawa nyaring didalam hati.


“KOMA” TERBIT KEMBALI

Mm. 21-3-1978 Jangan kaget ! Tidak terbitnya “KOMA” bukan disebabkan larangan Laksusda Jaya. Tapi mahasiswa pengelolanya mengikuti ujian semester II. Untuk itu “KOMA” perlu di istirahatkan sementara. Koran-koran ibukota yang dilarang terbit, setelah diizinkan terbit kembali, isi pemberitaannya berbalik 180 derajat. Bahkan 360. Hanya sepihak. Membuat banyak orang, apalagi mahasiswa menjadi muak. “Lebih baik membaca perjuangan mahasiswa yang ada”, begitu komentar banyak orang, Berlainan dengan “KOMA” yang mulai terbit lagi minggu lalu. Disamping tata lay out yang siap naik cetak (sayangnya ini koran dinding), isinya juga semakin padat. Nyata benar bedanya dengan media massa yang ada satat ini. “Beritanya cukup memenuhi tuntutan mahasiswa”, begitu komentar seorang mahasiswa. “KOMA” ini merupakan sarana latihan bagi mahasiswa tingkat III dan IV Departemen Komunikasi Massa FIS-UI dalam membuat berita, editorial, features dan lainnya. Ia terbit sejak 5 September 1977 lalu, sekali seminggu. Terbitan terbaru, 20 Maret 1978, nomor 14 yang menyajikan beberapa topik. Head line: Aksi Mogok Tidak Memenuhi Sasaran? Editorial: Setelah 26 Maret, What Next ?, dan artikel menarik lainnya. Agaknya, laporan ini kurang lengkap. “Seluruh warga UI dapat menengok dan membaca “KOMA” di samping kafetaria FIS-UI”, begitu harapan seorang pengelola “KOMA” yang disampaikan kepada reporter “Mm” kemarin siang di Rawamangun .


Disalin sesuai dengan aslinya

PIDATO LETNAN JENDERAL H.R. DHARSONO PADA ACARA SERAH TERIMA JABATAN SEKJEN ASEAN – 18 FEBRUARI 1978

Para yang Mulia Kepala Perwakilan, para tamu, nyonya2 dan tuan2 yth. Pertama-tama saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih saya atas kehadiran anda bersama kami, untuk menyaksikan serah terima jabatan Sekjen ASEAN dari tangan saya kepada tuan Oemarjadi, yang didasarkan atas instruksi Yang Mulia Dr. Upadit Pacharyangkun, Menlu Thailand, dalam kedudukannya sebagai ketua “standing committe” untuk tahun 1977/1978, yang disampaikan kepada saya sebagai pesan yang dimuat dalam nota Yang Mulia Duta Besar Thailand, yang sekarang ahdir disini, pada tanggal 9 Februari yang lalu.

Para yang mulia, para tamu yang terhormat Setelah saya menyerah terimakan jabatan SEKJEN ini kepada tuan Oemaryadi, maka pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan “Selamat kepada Tuan Oemajadi yang akan menggantikan saya untuk jangka waktu 3 bulan; yaitu sisa jangka waktu 2 tahun yang di berikan kepada Indonesia. Maka bila ada pertanyaan “Siapakah yang menjadi SEKJEN ASEAN pertama,” Jawabnya ada 2 orang, yaitu : I.a. Dharsono dan I.b. Oemarjadi.

Para tamu yang terhormat, Pada kesempayan ini, saya ingin pula menyampaikan terima kasih saya kepada Pemerintah Negara-negara anggota ASEAN, yang hari ini diwakili Yang Mulia Kepala-kepala Perwakilannya di Jakarta, sedangkan Indonesia diwakili oleh Tuan Yanuar Djani yang sekarang tentunya adalah pejabat Direktur Jendral ASEAN Indonesia. Ucapan terima kasih ini saya sampaikan atas bantuan negara-negara anggota yang di berikan kepada saya sampai saat saya menyerahkan jabatan, 3 bulan sebelum waktu yang sebenarnya. Saya ingin pula menyampaikan terima kasih dan penghargaan saya atas segala bantuan dari staf Sekretariat, baik “Home Base Staff” maupun “Local Staff”. Mengenai Sekretariat ASEAN, saya berpendapat bahwa Sekretariat adalah suatu badan baru yang dimasukkan kedalam suatu “machinary” lama, Yang telah ada sebelum Sekretariat berdiri. Selama saya bertugas dalam badan baru ini, dapat saya katakan bahwa tugas ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan, penuh penuh dengan tantangan, dan secara terus terang “Frustating” pula. Saya kira para anggota staf lainnya, baik “Home Base Staff “ maupun “Local Staff” mempunyaii pikiran dan perasaan yang sama dengan saya. Tetapi situasi semacam ini bagi suatu organisasi yang baru adalah wajar, terutama kalau kita memulai dengan pendirian suatu badan yang baru, yang kemudian badan ini dimasukkan ke dalam organisasi yang telah ada sebelumnya. Pada waktu-waktu yang lampau telah banyak dibicarakan tentang Sekretariat, terutama kedudukan dan tugasnyat termasuk pula kedudukan dan tugas Sekjen dan Stafnya. Sampai sekarang pembahasan. mengenai Sekretariat ini belum dapat dikatakan selesai, tapi dapat diperkirakan bahwa hal tersebut akan terus berkembang. Ditengah-tengah perdebatan dan pembicaran tentang Sekretariat itu, maka dapat disimpulkan bahwa dari pihak Sekretariat tidak ada gunanya untuk mendesakkan ide-idenya demi kedudukannya, sehingga sebagai akibatnya kita berusaha untuk membawa Sekretariat secara bertahap ke dalam “machinary” ASEAN secara Pragmatis sekali. Harapan saya adalah, bahwa dalam perkembangan yang masih akan berlangsung tersebut dibawah pimpinan dan kemampuan tuan Oemarjadi sebagai orang yang tidak asing lagi terhadap masalah-masalah ASEAN, segala sesuatunya dapat berjalan baik sehingga saya yakin pada suatu waktu Sekretariat ASEAN ini tidak merupakan masalah lagi.

Para tamu yang terhormat, Kembali kepada konsensus yang telah tercapai dan disetujui oleh ke lima MENLU negara anggota ASEAN, seperti yang sebelumnya pernah saya beritahukan kepada pers, bahwa saya akan menerima keputusan ke lima MENLU, kecuali bila ada permintaan kepada saya untuk meletakkan jabatan secara suka rela. Saya merasa, bahwa bagi 4 negara lainnya : Malaysia, Philipina, Singapura dan Thailand amat sukar untuk mengeluarkan keputusan tersebut, terutama atas desakan Indonesia yang menarik dukungannya terhadap saya sebagai SEKJEN ASEAN dengan tuduhan bahwa saya telah campur tangan dalam masalah domestik suatu negara anggota, dalam hal ini Indonesia, dari mana saya sendiri berasal, yang juga dipergunakan sebagai “justification”/pembenaran untuk meyakinkan ke 4 negara anggota lainnya guna memberhentikan saya sebagai SEKJEN. Cara yang ditunjukkan oleh ke 4 negara lainnya untuk mencapai konsensus merupakan sesuatu yang saya dapat menerimanya dan bahkan menghargainya, terutama bila kita melihat bahwa usul dari Indonesia untuk memberhentikan saya mempunyai unsur yang sangat kuat dengan menonjolkan alasan “campur tangan dalam masalah dalam negeri salah satu anggota ASEAN, dalam hal ini Indonesia”. Dan betapa serius dan kuatnya usul Indonesia ini dapat pula dibuktikan dengan cara yang dillakukan MENLU a.i. Dr Mochtar Kusumaatmaja yaitu dengan menyelenggarakan suatu “Shuttle diplomacy” ala Kissinger untuk meyakinkan usul tersebut kepada 4 negara anggota lainnya. Tetapi, dan ini hanya menurut perasaan saya, saya mendapat kesan bahwa para MENLU lainnya tidak menghiraukan apa yang menjadikan sebab usul Indonesia tersebut sehingga harus menarik dukungan terhadap saya. Dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh para MENLU lainnya yaitu persoalannya semata-mata hanya dilihat dari akibat penarikan dukungan Indonesia terhadap saya, yang berarti tugas saya sebagai Sekjen akan terpengaruh oleh fakta itu sehingga tidak efektif lagi, dan penggantian oleh tuan Oemarjadi yang diusulkan dan dengan sendirinya didukung oleh Indonesia, kemudian diterima. Maka oleh sebab itu, bagi saya sendiri tidak ada perasaan sakit hati sedikitpun terhadap ke 4 anggota ASEAN lainnya yang telah menunjukkan kebijaksanaan dalam menanggapi usul Indonesia yang kuat itu dalam usaha mereka untuk menuju kepada suatu konsensus. Adapun keadaan saya, dilihat dalam hubungannya dengan pemerintah Indonesia, tidaklah sama; terutama karena saya menganggap keputusan para menlu itu, sebagai konsensus, merupakan suatu keputusan berdasarkan “hukum”, sedangkan yang menjadi sebab usul Indonesia tersebut bersifat politis. Persoalan saya dengan pihak Indonesia masih belum selesai, dan masih harus mengalami perkembangan selanjutnya yang saya sendiri belum tahu arahnya Dengan penyerahan jabatan yang baru saja lalu, maka hubungan saya dengan ASEAN teah berhenti; dan sekali lagi saya mengucapkan atas kebijaksanaan yang tersirat maupun yang tersurat, terutama yang telah diperlihatkan oleh 4 negara anggota ASEAN lainnya dalam keputusan yang di tanda tangani oleh yang mulia Dr. Upandit Pacharyakun atas nama ke lima Menlu negara; dan sekali lagi, yakinlah bahwa dari pihak saya tak ada sedikitpun perasaan sakit hati terhadpp ke 4 negara anggota ASEAN itu.

Para yang mulia, paraa tamu yang terhormat; Bila kita menengok kembali pada cara yang diperlihatkan oleh Indonesia dalam usahanya untuk, mendapatkan persetujuan dari ke empat negara lainnya guna membebaskan saya dari jabatan SEKJEN, dari hal tersebut dapat di buktikan bahwa persoalannya dianggap serius sekali; dan bahwa dengan demikian tidak ada kemungkinan yang ada dalam pemikian Indonesia selain dari pembebasan tersebut. Saya anggap bahwa suatu bagian “hardline policy” dewasa ini sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia. Dan saya mengetahui, bahwa setelah serah terima jabatan ini saya dihadapkan pada hard line plicy ini. Pada saat ini kalangan pers lndonesia juga hadir ditengah-tengah kita. Untuk ini saya ucapkan terima kasih. Tetapi saya tidak yakin, bahwa koran-koran lokal akan berani memuat apa yang saya katakan disini, suatu hal yang sangat saya sesalkan. Tetapi saya sepenuhnya memahami kedudukan saudara-saudara dari pers. Terutama hal ini saya tujukan kepada surat-surat kabar Indonesia yang baru-baru ini dihentikan peredarannya, dan kemudian diperkenankan terbit kembali setelah diminta oleh yang berkuasa untuk menandatangani suatu pernyataan “sukarela” yang memuat janji akan mentaati segala peraturan/pembatasan yang ditentukan oleh yang berkuasa. Saudara-saudara terpaksa menjalankan hal itu karena dihadapkan pada suatu dilemma yang berat untuk memilih antara “dignity/prinsip dan perut”. Saudara telah memilih perut, mungkin bukan perut para pemimpin surat-surat kabar, tetapi perut para karyawan yang bekerja pada surat-kabar saudara. Dan kejadian ini menurut saya merupakan suatu “black mail atau pemerasan. Bagi orang-orang yang menginginkan perbaikan nasib rakyat, pada saat ini dalam perjuangan itu, akan dihadapkan pada tembok yang kuat yang terdiri atas orang-orang/pejabat-pejabat yang dihadapkan pada suatu pilihan yang berat antara “dignity/prinsip dan perut/kedudukan. Dan ini adalah sikap mental yang umumnya terdapat di Indonesia dewasa ini. Oleh karena itu bagi orang-orang yang akan memperjuangkan nasib rakyat dalam keadaan tersebut, akan merupakan perjuangan yang berat. Akhirnya saya mengharapkan sekali lagi agar tuan Oemarjadi, dengan bantuan staff Sekretariat dilihat dari kedudukan dan tugasnya, dapat membawa Sekretariat ini ke dalam “machinary” ASEAN secara keseluruhan, sehingga dapat tercapai efisiensi yang sama-sama kita harapkan.

ttd

H.R. Dharsono