March 13, 2009

Kampus UI Salemba Dimasuki Tentara

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:46 pm

Dengan dalih mereka mengejar beberapa orang  berjaket kuning yang disinyalir akan membikin kekacauan di Kampus UI Salemba, sekitar pukul 22.00 WIB tadi malam (13-03-1978) 15 tentara bersenjata lengkap memasuki Kampus UI Salemba. Para mahasiswa UI yang berjaga-jaga di gerbang di depan Posko UI sambil menonton televisi, rupanya tidak mengetahui kapan dan dari mana tentara tersebut masuk ke kampus. Secara tiba-tiba saja kelima belas orang tentara itu telah berkumpul di depan kantor Senat FIPIA/MIPA UI di Posko UI.

Menurut tim keamanan masing-masing fakultas di kampus UI Salemba, tidak ada orang-orang yang dicurigai oleh tentara tersebut. Setelah komandan regu yang memimpin pasukan itu mendengar penjelasan ini, dengan gaya demonstratif ia mengadakan hubungan radio dengan induk pasukannya yang berada entah dimana. Antara lain sang Komandan berkata:”…tidak diketemukan apa yang disinyalir…. dan kalau melihat orang-orang tersebut segera tembak di tempat, tanggung jawab ada di tangan saya…ganti”.

Para mahasiswa dari FE-UI, FIPIF-UI, FK-UI dan FKG-UI beserta staf Posko UI dan staf redaksi “Salemba” yang berkumpul di sekitar regu tentara tadi, pada tersenyum simpul mendengar dialog antara sang komandan dengan induk pasukannya. “Ah…cari-cari alasaan untuk mengontrol suasana kampus saja, dasar!” gerutu salah seorang mahasiswa.

Tak lama kemudian, regu tentara itu meninggalkan kampus melalui jalan gerbang yang dijaga para mahasiswa. Lima menit kemudian, sang komandan yang konon mengaku bernama Slamet (entah apa pula pangkat beliau) datang lagi untuk berbicara dengan ketua tim keamanan masing-masing fakultas di kampus UI Salemba. Perbincangan itu dilaksanakan di gedung FT UI. Pak Slamet antara lain mengeluarkan isi hatinya, ”masing-masing diantara kita berbeda pendapat dan prinsip, tapi tujuannya sama. Oleh karena itu, saya minta kepada teman-teman agar masing-masing melaksanakan tugasnya, sesuai dengan bidang masing-masing.” Ditambahkan oleh Pak Slamet, bahwa ia dapat memahami apa yang diperjuangkan para mahasiswa saat ini, ”tetapi sayang, saya cuma melaksanakan tugas dari atasan saya”. Kemudian Pak Slamet menambahkan ,” Kalau tidak percaya, ketika tanggal 3 Maret ada aksi poster di Rawamangun dan Salemba, sebenarnya sejak sejak jam 08.00 WIB saya sudah mengetahuinya. Tetapi poster teman-teman baru dicopot jam 10.00 WIB, setelah saya mendapat tegoran dari Panglima Kodam V Jaya”.

Sementara itu, suasana di beberapa tempat di ibukota cukup membuat keder bagi orang yang sakit jantung. Sekitar Jam 22.00 WIB , salah seorang reporter MM yang hobinya putar-putar kota di malam hari, melaporkan di setiap pos Polantas sepanjang Jalan Thamrin sampai Sudirman, diduduki oleh tentara bersenjata lengkap plus radio dipunggungnya. Di sekitar CSW dan Pasar Blok M, terdapat berpuluh-puluh mobil lapis baja, siap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di Republik kita ini.

(MAHASISWA MENGGUGAT)

Demonstrasi Pelajar

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:21 pm

Senin siang tanggal 13 Maet 1978, sejumlah pelajar SMA/STM telah ditangkapi oleh pasukan Gabungan Siaga IV di terminal buskota Blok M dan Lapangan Banteng. Sementara itu, SMA Negeri VI diduduki oleh Pasukan Siaga IV dengan menempatkan 5 buah panser berlapis baja.

Sekitar pukul 10.00 WIB pelajar STM/SMA di sekitar lapangan Banteng telah menempel poster-poster yang berisi kecaman keras terhadap pemerintah. Tak lama kemudian beberapa truk Pasukan Siaga IV telah mengepung rapat-rapat massa yang berkumpul di terminal lapangan Banteng. Pasukan itu segera merampas poster-poster yang masih berada pada para pelajar tersebut, dan mencopoti poster-poster yang telah tertempel di dinding-dinding bangunan terminal lapangan Banteng.

Sementara perang rebut-rebutan poster, para pelajar meneriakkan yel-yel “Hidup Bang Ali”, “Hidup Bang Ali”; pasukan penjaga ketertiban segera menghamtamkan popor senapannya ke muka para pelajar yang berdemonstrasi itu. Pagar betis dari  pasukan Siaga IV semakin diperketat, dan korban yang kena pukulan popor senapan semakin banyak. Sementara itu beberapa pesawat helikopter berputar-putar di atas para pelajar yang berdemonstrasi itu. Seluruh jalan yang menuju ke lapangan Banteng diblokade, sehingga kemacetan lalu-lintas menambah keruh suasana. Toko-toko di sepanjang jalan Pasar Baru praktis tak ada yang buka, demikian juga sebagian toko di Proyek Senen.

Ketika SMA VI diserbu oleh Pasukan Siaga IV, beberapa pelajar yang melancarkan aksi poster telah melarikan diri ke arah pasar Blok M dan terminal bis kotanya. Mereka langsung dikejar, sementara itu pasukan yang sudah berjaga-jaga di tempat itu langsung menyergapnya. Sebagian lagi pelajar menyelinap ke dalam pasar, dan mereka dicari-cari beramai-ramai untuk kemudian ditangkap dan diangkut dengan colt pick up. Pengejaran terhadap pelajar tersebut, ibarat mengejar maling yang cukup berat kesalahannya, terbukti dua truk pasukan Siaga IV turun ke pasar dan satu truk tentara lagi menguasai halaman pasar.

Para penumpang bis yang baru tiba, atau yang akan berangkat kembali turun dan memenuhi terminal blok M. Tetapi anehnya bis-bis tampak jarang di terminal tersebut. Para penumpang segera dibubarkan oleh tentara, dan tentara tersebut segera meninggalkan blok M dengan masih meninggalkan satu peleton tentara untuk berjaga-jaga.

Pengamanan pada setiap jalan yang menuju ke arah Gedung MPR telah dijaga ketat. Sedangkan jalan Gatot Subroto telah ditutup untuk umum, sehingga kendaraan yang hendak melalui jalan tersebut terpaksa memutar jalan ke jalan lain. Pada setiap perempatan dan bundaran jalan yang diperkirakan akan macet, ditempatkan pasukan dalam jumlah cukup besar. Pasukan terbanyak ditempatkan di bundaran Tugu Angkatan Udara di Pancoran, di muka Markas Besar AU. Di beberapa tempat massa berkerumum akibat kekurangan bis kota, mereka didatangi beberapa truk tentara, lalu dikepung dan segera dibubarkan.

Pada setiap SLTP dan SLTA didrop beberapa  orang anggota ABRI, dengan alasan untuk pengamanan. Sementara itu palajar SMP dan SMA di Jakarta Selatan telah melancarkan aksi poster di sekolah masing-masing, tetapi segera ditertibkan oleh pasukan Siaga.

Untuk mencegah timbulnya huru-hara (istilah pemerintah/penguasa), maka disetiap Kodim (Komando Distri Militer) di Jakarta ditempatkan 5 buah panser, 2 truk pasukan bersenjata lengkap, dan sebuah mobil pemadam kebakaran. (A2D)- MAHASISWA MENGGUGAT

MAHASISWA MENGGUGAT

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 4:52 pm

Semakin tidak menentunya situasi saat ini, mendorong kami untuk menerbitkan buletin ini. Ia kami beri nama ”MAHASISWA MENGGUGAT”. Tujuannya tak lain untuk menggugah hati nurani semua pihak agar selalu ”mawas diri” dalam setiap gerak-langkah yang mengatasnamakan ”demi kepentingan rakyat”.

Semua kita telah sama maklum, bahwa dalam setiap kebijaksanaan, dalam setiap keputusan politis, seringkali pemerintah memakai dalih ”demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai masyarakat adil dan makmur”. Kita pun tidak tahu pasti, mungkin saja di benak para prajurit dengan bayonet terhunus menghantam para mahasiswa akhir-akhir ini, juga tertanam semacam dalih ”demi kepentingan rakyat.”

Para mahasiswa di pelbagai kampus yang memprotes ketidak beresan jalannya pemerintahan, acap kali mempergunakan istilah ”suara hati nurani rakyat”. Seperti memorandum Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia tanggal 4 Maret 1978 lalu, antara lain berisi : ”Pancatura””. Atau lima tuntutan rakyat.

Siapakah yang benar-benar mengatasnamakan rakyat, dan siapakah yang mengatas-namakan rakyat itu sekedar dalih untuk mencapai sasaran lain? Jawaban yang tepat saat ini:”Sejarahlah yang akan membuktikan”. Sebab nilai dari segala sesuatu tindakan dan perbuatan manusia, ditentukan oleh niatnya. Dalam istilah sedikit keren dapat dikatakan, bahwa yang mendorong tingkah laku dan perbuatan manusia adalah motivasinya. Suatu tindakan yang sama dilakukan sekelompok orang atau masyarakat, belum tentu niat atau motivasi dari masing-masing pelaku itu sama.

Namun demikian, terlepas dari apa motivasi atau niatnya, dapat dipastikan hampir semua mahasiswa yang punya idealisme saat ini merasa resah.Resah terhadap ketidak konsistenan pemerintahnya terhadap UUD 1945 dan Pancasila. Resah karena mereka menyadari bahwa dengan ketidak beresan jalannya pemerintahan sekarag ini, justru nantinya akan menjerumuskan nasib bangsa dan negara Republik Indonesia ini ke lembah kenistaan di mata bangsa-bangsa dunia.

(Pengantar pada buletin Mahasiswa Menggugat No.1 tanggal 13 Maret 1978)

Lautan Keberanian

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:57 pm

Pagi ini (13/03) bertemu dengan seorang teman, yang beristrikan seorang selebritis dan caleg dari salah satu parpol. Dengar kabar, katanya sudah melahirkan seorang anak lelaki panjang 51 cm dan berat 2,9 kilogram di Rumah Sakit Boromeus Bandung, hari rabu lalu.  Dengan perasaan suka cita saya mengucapkan selamat dan sedikit mendapat cerita tentang proses kelahiran anak pertamanya tersebut.

Teman itu mendapat kabar tentang kondisi istrinya pada hari rabu siang. Masih dalam keadaan pakaian kantor dan tidak sempat pulang ke rumah, dengan mengendarai kendaraan sendiri segera berangkat menuju Bandung melalui jalan tol Cipularang. Di tengah jalan mendapat informasi istrinya sudah dalam tahap ‘bukaan 8’. Dak-mendadak jalan tol Cipularang macet, jalan tersendat. Pikiran mulai terganggu, jangan-jangan  belum sampai ke Bandung, sang jabang bayi sudah brol keluar. Belum lagi membayangkan kemacetan yang akan dihadapi begitu keluar tol Cipularang, pasti perlu waktu untuk sampai ke rumah sakit. Tetapi akhirnya toh sampai juga ke rumah sakit dan ternyata sang jabang bayi belum juga mau melihat indahnya dunia.

Dokter sebetulnya menyarankan untuk dilakukan kelahiran secara seksio (bedah) mengingat usia  sudah  mencapai 35 tahun. Tetapi rupanya sang ibu ngotot ingin melahirkan secara alami. Akhirnya satu jam setelah kedatangan sang ayah, tepat pukul 15.20 WIB jabang bayi pun keluar juga. Azan dan ikomat pun dikumandangkan sang ayah ke kuping bayi sebelah kanan dan kiri sang jagoan. Alhamdulillah, rupanya kulit sang bayi mengikuti kulit ibunya yang putih, tidak seperti bapaknya. Rupanya sang ibu telah menyiapkan nama khusus bagi buah hatinya tersebut, sesuai dengan pengalaman yang dialaminya selama ini, menghadapi lautan kehidupan yang penuh dengan masa pancaroba ini perlu keberanian tersendiri. Pengalaman tersebut sangat berkesan dan mengkristal menjadi sebuah nama untuk jabang bayi, yaitu Sagara Kawani (lautan keberanian). Satu nama yang berciri khas serta kental dengan etnis Sunda.

Kerepotan keluarga yang baru diamanahi seorang anak ini, rupanya terus berlanjut, ketika publik mendengar kabar tentang kelahirannya. Segera saja berbondong-bondong orang menjenguk ke rumah sakit untuk mengucapkan selamat. Tak ada habis-habisnya tamu berdatangan hingga jam 23.30 WIB. Pihak keamanan rumah sakit segera bertindak menghentikan alian orang yang ingin menjenguk, untuk memberikan kesempatan beristirahat kepada ibu dan sang jabang bayi. Itulah resiko  yang harus dihadapi seorang selebritis dan caleg parpol.

Kiat UI Menyongsong Proses Globalisasi

Filed under: Warta UI — rani @ 9:09 am

Sejak Tahun 1970 Universitas Indonesia (UI) sebagai perguruan tinggi mulai meninggalkan kebijakan pengembangan berpola fakultas menuju pengembangan yang bersifat universiter. Pola pengembangan ini pertama kali disusun pada tahun 1972. Pada saat itu orientasi pengembangan masih bersifat 5 (lima) tahun kemudian 10 (sepuluh) tahun. Tahun 1990 digunakan 5 (lima) tahapan selama duapuluh tahun (1990-2010). Di dalam tahapan pelaksanaan perlu diperhatikan titik dasar yang tepat agar dapat mempunyai proyeksi yang dapat direkam dan dapat dianalisis dengan baik. UI dalam program kerja jangka panjangnya bertekad melaksanakan kegiatan-kegiatan akademik yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat secara nasional dan memberikan pengaruhnya secara regional dan global. Dirasakan sepenuhnya bahwa perubahan-perubahan yang melanda kawasan nasional, regional dan global memerlukan antisipasi perencanaan jangka panjang. Untuk pengembangan jangka panjang dalam 20 tahun mendatang UI menetapkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) berkualitas untuk menunjang transformasi sosio tekniko ekonomi agar dapat menyongsong proses globalisasi yang akan terjadi.

Dalam sejarah UI terdapat beberapa fase pengembangan. Sejak tahun 1950, UI selalu berada di barisan depan sebagai pejuang pembaharuan bangsa. Agak berbeda setelah tahun 1990 UI telah mempunyai sisi perjuangan yang lain, yaitu mengantisipasi ancaman dari luar dengan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing. Dalam proses pengembangan UI yang terakhir ini telah dan akan dilalui beberapa fase.

Fase Mobilisai

Pindahnya beberapa fakultas ke kampus baru Depok yang dilengkapi gedung baru dan megah di satu sisi telah memberikan gengsi (prestige) tersendiri bagi fakultas. Akan tetapi di sisi lain telah memberikan pula peningkatan beban akademis, administrasi dan keuangan. Dalam keadaan seperti ini maka fakultas melakukan kiat khusus agar eksistensinya dapat dipertahankan. Beberapa kiat khusus tersebut, tercatat sebagai meningkatkan jumlah mahasiswa, membentuk program studi baru yang pada dasarnya ingin mendapatkan sumber daya keuangan untuk menunjang pendidikan. Akan tetapi ironisnya kiat khusus ini belum ditunjang secara professional sehingga pada gilirannya proses pendidikan menjadi agak melambat disertasi sistem pengolahan yang tidak beraturan. Pada akhirnya keadaan ini telah menimbulkan suatu bentuk baru dari UI berupa Universitas dengan kekacauan pendidikan di universitas (chaos academic university) dimana peran fakultas sangat menonjol. Sejarah telah memberikan keberuntungan karena pada tahun 1990 UI telah menetapkan trilogi pengembangan jangka panjang UI yaitu universitas riset, keterpaduan dan otonomi.

 

Fase Keterpaduan

Mobilisasi seluruh kegiatan fakultas yang menggebu-gebu di lingkungan UI telah menempatkan peran dan posisi universitas agak lemah dari fakultas. Dan pada gilirannya menimbulkan kerancuan data dan ketidakberaturan sistem organisasi dan tata laksana. Kita patut berbahagia pada tahun 1994 fakultas telah memilih pilihan politiknya (alternative political decision) sesuai situasi dan kondisi jamannya yaitu menitikberatkan  UI pada keterpaduan. Di dalam menuju keterpaduan itu pula telah dipilih suatu instrumen yang pada mulanya dianggap benar yaitu Manajemen Mutu Terpadu. Azas daripada manajemen ini adalah siklus pemecahan masalah (problem solving cycles) yang menempatkan komitmen setiap penyelenggara pada solusi yang telah ditetapkan dan diikuti evaluasi nilai tambah yang berkesinambungan. Kesepakatan yang telah dilaksanakan adalah pencatatan mahasiswa terpadu, sistem keuangan terpadu, subsidi silang (cross subsidi) oleh Pusat.Efektif untuk meningkatkan mutu dan integrasi UI.

Dalam kurun waktu separuh pelaksanaan Manajemen Mutu Terpadu telah membuktikan kebenaran dengan terjadinya peningkatan mutu dalam bidang pendidikan dan sumber daya keuangan. Dapat dicatat bahwa pada tahun 1995 telah terjadi silang bangkit dari kehidupan UI yang diharapkan akan bertahan lama (sustainable) di dalam menjaga mutu dan integrasi UI diperlukan semangat konsisten dan daya tahan dari para penyelenggara UI.

Fase Akselerasi

Di dalam era keterpaduan UI telah disepakati beberapa instrumen  internal yang berorientasi ke dalam untuk meningkatkan mutu dan sumber daya keuangan. Pada era akselerasi perlu dipahami dahulu oleh setiap warga UI bahwa UI harus siap menyongsong proses globalisasi yang mau atau tidak mau, bisa tau tidak bisa produk SDM UI harus dapat bersaing dengan SDM regional atau pun global. Karena sumber penggerak  proses globalisasi ini adalah perkembangan teknologi pada tingkatan tinggi dan yang terkait dengan bangkitnya era automasi. Jelas  bahwa di dalam fase pembangungan Indonesia, kita harus mempercepat proses alih teknologi dengan menghasilkan sumber daya manusia Iptek yang berkualitas.

Pasar terbuka regional, AFTA 2003 adalah tahun uji coba kesiapan kita. Semua perhatian kita sebaiknya tidak pada masalah lain tetapi masalah utama yaitu persaingan. Pemerintah telah pula menyadari keadaan tersebut. Titik berat PJPT II adalah bidang ekonomi dan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dan mandiri.

Jelas dengan pilihan keputusan politik di atas, titik berat pembangunan Indonesia telah menempatkan Universitas terutama UI di posisi yang strategis. Oleh karena itu dilakukan kesepakatan pimpinan Universitas dan fakultas maupun seluruh warga UI di dalam mengakselerasikan pelaksana pendidikan di UI agar dapat mengadakan sumber daya berkuantitas dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan jaman. Dengan semangat integrasi tinggi dari seluruh warga UI, kita yakin bahwa UI akan dapat berperan serta dan aktif menyongsong era globalisasi yang tidak lama lagi akan berlangsung. UI akan menyumbangkan pahlawan-pahlawan baru pembangunan untuk bangsa Indonesia yang tercinta seperti apa yang dilakukan oleh UI sebelumnya meski dalam konteks yang berbeda.(Prof.Dr.dr. Asman Boedisantoso Ranakusuma, Purek I UI, pada Tajuk Rencana SKK Warta UI No.67, Tahun XVII, Desember 1995)