March 10, 2009

Jahiliyah 3: Perseteruan Rektor dengan Mahasiswa

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:21 pm

Pelantikan Rektor Universitas Indonesia (1982) yang hiruk pikuk (gaduh) dengan disertai pemasangan spanduk usai acara pelantikan, rupanya sangat berkesan sekali. (lihat tulisan sebelumnya “jahiliyah2”) Hal ini dapat dibaca pada serial tulisan Suara Almamater yang ada pada buku Wawasan Almamater yang ditulis oleh Prof.Dr. Nugroho Notosusanto.

Beberapa peristiwa di lingkungan kampus UI setelah pelantikan Rektor menunjukkan konflik yang tajam antara pimpinan UI dengan mahasiswa. Para mahasiswa yang dimotori pengurus Dewan Mahasiswa UI melakukan mogok kuliah. Beberapa malam mahasiswa berjaga-jaga di kampus Salemba. Di Fakultas Ekonomi Kampus Salemba Jakarta, para mahasiswa melakukan renungan malam sambil membaca puisi. Kegiatan ini diketahui bahkan dihadiri juga oleh Wakil Rektor II UI, Dr.S.B. Joedono.

Suatu saat, mahasiswa sampai pada tindakan yang dapat dikategorikan anarkhis. Pintu-pintu masuk kampus di Kampus Salemba dan Rawamangun digembok dan dilas, sehingga para dosen dan mahasiswa yang akan melakukan kegiatan perkuliahan terhambat. Dan yang lebih anarkhis lagi adalah pada suatu pagi kedapatan kaca pintu dan jendela gedung Rektorat di lantai dasar pecah dan berserakan di halaman rektorat kampus Salemba. Persisnya peristiwa tersebut lupa lagi, apakah setelah atau sebelum Ketua Dewan Mahasiswa UI Peter Sumaryoto, mahasiswa Teknik Sipil dipecat sebagai Ketua Dewan dan juga sebagai mahasiswa UI.

Sebelum pemecatan Ketua Dewan mahasiswa UI, ada satu peristiwa dimana di halaman rektorat dilakukan pembakaran ban mobil bekas sambil melakukan aksi-aksi menentang suatu kebijakan pemerintah.. Kegiatan tersebut dinilai Rektor UI Dewan Mahasiswa telah melakukan kegiatan politicking. (lihat di buku Wawasan Almamater).

Sesudah Dewan Mahasiswa dan juga surat kabar kampus Salemba dibekukan, berangsur-angsur kegiatan di dalam kampus mulai berjalan aman, tidak ada gejolak. Sesungguhnya kebanyakan para mahasiswa waktu itu belum mengetahui dengan jelas dan benar, apa sesungguhnya yang telah terjadi sehingga terjadi gejolak. Kebanyakan para mahasiswa hanya ikut-ikutan melakukan mogok kuliah dan aksi-aksi demo, sebagai tanda solider terhadap teman mahasiswa lainnya. Sayangnya hingga hari ini belum didapat pamplet versi Dewan Mahasiswa yang selama mogok kuliah dan melakukan aksi demo dijadikan sebagai media komunikasi dan ekspresi mahasiswa.

Peristiwa konflik ini, bukan yang terakhir kalinya, karena sesudah itu, tahun 1985 terjadi aksi-aksi demo di asrama daksinapati yang menentang kebijakan kenaikan pembayaran uang asrama.

Menghimpun dana

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:09 pm

Tahun 2001 Universitas Indonesia (UI) baru memasuki babak baru, yaitu menjadi perguruan tinggi berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN) bersama IPB, ITB dan UGM serta UNAIR. Kemudian dibentuklah lembaga bernama Majelis Wali Amanat (MWA) yang bertugas antara lain memilih Rektor, menentukan kebijakan dan arah perkembangan universitas ke depan dan sebagainya.

Waktu itu ada usaha untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk membiayai keberlangsungan institusi pendidikan, dengan cara yang tidak menyalahi aturan yang berlaku, karena dirasakan biaya yang diberikan pemerintah semakin hari semakin tidak mencukupi. Pada saat itu juga, perguruan tinggi negeri yang berstatus BHMN mengajukan proposal kepada pemerintah mengajukan anggaran dengan system block grand, pemerintah memberikan anggaran dengan menghitung satuan harga seorang mahasiswa mulai dari masuk kuliah hingga selesai studinya. Dengan cara ini diharapkan dapat ditentukan dengan mudah pembiayaan yang diperlukan dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar. Tetapi ternyata system ini tidak kunjung disetujui oleh pemerintah.

Kemudian pemerintah memberikan alternatif lain untuk membiayai pendidikan, yaitu dengan memberikan pengelolaan hutan (HPH). UI kalau tidak salah diberikan HPH beberapa ribu hektar di Papua. Sebelum menerima HPH, berembug terlebih dahulu keuntungan dan kerugiannya. Akhirnya Pimpinan UI menolak pemberian HPH ini dengan alasan tidak ada tenaga yang cukup cakap dari UI untuk mengelola HPH. Selain itu, UI juga tidak mau seperti pengusaha HPH lainnya yang lebih banyak merusak hutan daripada memelihara kelestarian hutan.

Akhirnya UI mendapat alternatif cara penghimpunan dana dari masyarakat, yaitu melalui endowment fund. Setiap orang bisa menitipkan uangnya untuk dikelola dan dikembangkan dalam jangka waktu tertentu. Setelah jatuh tempo, uang tersebut dapat diambil dan mendapat bunga. Tetapi sebagian keuntungan pengelolaan keuangan tersebut masuk ke UI. Bisa juga dengan cara membuat kartu kredit UI, setiap transaksi dengan memakai kartu kredit tersebut, ada sebagian uang yang masuk ke kas UI. Hingga kini, penghimpunan dana dengan cara ini hasilnya tidak begitu memuaskan, hanya dapat mengumpulkan dana dibawah hitungan lima milyar rupiah, dalam kurun waktu sekian tahun. Waktu itu, Ketua MWA UI menitipkan dana sebesar Rp 300 juta untuk memancing pendonor lain menyumbangkan/menitipkan dananya. Dalam sebuah acara hiburan amal, UI berhasil menghimpun dana sebesar Rp 1 milyar.

Bandingkan, setelah kurang lebih delapan tahun kemudian, seorang alumni dengan mudahnya dapat menyumbangkan dana sebesar Rp 25 milyar, juga satu perusahaan bank dengan mudahnya mengucurkan bantuan sebesar Rp 17 milyat untuk pembangunan satu gedung.(lihat tulisan “Antara Cicilan dan Creng Kontan”) Jaman berbeda, kita harus pintar-pintar menangkap peluang. Kesempatan hanya lewat satu kali. Tidak pernah kesempatan yang sama lewat berkali-kali.