March 9, 2009

Antara Sumbangan Cicilan dan Kontan

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:58 am

Beberapa waktu lalu, kita mendengar berita para alumni ITB yang sudah menjadi pengusaha tingkat konglomerat memberikan sumbangan ke almamaternya senilai Rp 100 milyar, dengan cara dicicil,  Rp 5 milyar setiap tahunnya, selama lima tahun. Sementara itu pada tanggal 5 Maret 2009, Fakultas Ekonomi UI (FE UI) meresmikan gedung untuk ruangan para dosen senilai Rp 17 Milyar sumbangan dari Bank CIMB-Niaga yang langsung diberikan seara kontan oleh Presiden Direkturnya yaitu Arwin Rasyid, alumni FEUI.

Saat ini, berdasarkan aturan perundang-undangan (Badan Hukum Pendidikan), pembiayaan pendidikan terbagi dalam tiga bagian. Sepertiga ditanggung oleh negara, sepertiga biaya yang diberikan para mahasiswa antara lain dalam bentuk SPP dan sepertiga lagi  dari dana masyarakat. Tiga sumber pendanaan inilah yang menopang keberlangsungan suatu institusi pendidikan tinggi. Saat ini memang belum sepenuhnya terpenuhi pendanaan yang merata dari ketiga bagian tersebut. Tetapi paling tidak patokan tersebut menjadi pegangan bagi pimpinan perguruan tinggi, supaya jalannya kegiatan pendidikan berjalan lancar.

Akan halnya sumbangan dari masyarakat, terutama dari para alumni yang telah sukses menjadi pengusaha, kita harus melihatnya dalam konteks kewajiban suatu perusahaan, dimana ada undang-undang yang mengatur setiap perusahaan diwajibkan untuk menyisihkan sebagian keuntungannya bagi kesejahteraan masyarakat, apa yang dinamakan CSR (Corporate Social Responsibility). Ketentuan ini barangkali bagi sebagian perusahaan dianggap sebagai beban yang memberatkan. Tetapi ini adalah suatu kewajiban dan untuk melancarkan keberlangsungan perusahaan itu sendiri. Tren ini sudah menjadi hal yang biasa dan sudah berjalan lancar di negara-negara yang sudah maju.

Menurut Arwin Rasyid, Bank CIMB-Niaga setiap tahunnya sudah biasa mengeluarkan dana sebesar Rp 30 milyar sebagai bagian dari CSR.  Masalahnya sekarang, setiap perusahaan punya kebijakan tersendiri, mau dikemanakan dana CSR, apakah akan diberikan sebagai “ikan” yang langsung dapat dirasakan masyarakat, ataukan akan diberikan sebagai “pancing” untuk dapat mengail dan menghasilkan “ikan” yang lebih banyak lagi.

Pada akhirnya, untuk “menangkap” CSR dari perusahaan tergantung pada kelihaian individu atau institusi pendidikan tinggi masing-masing, bagaimana bisa “menjerat” berbagai dana CSR dari berbagai perusahaan, untuk kepentingan pendidikan. Yang ingin ditekankan disini adalah,  apa yang diberikan oleh para alumni kepada almamaternya, bukan sesuatu hal yang luar biasa dari yang bersangkutan. Tetapi memang suatu keharusan bagi suatu perusahaan untuk bisa memberikan CSR nya. Kita jangan terkecoh, atau mempunyai kesan seolah-olah sumbangan itu keluar dari kocek pribadi.