March 8, 2009

Menatap Kehidupan dengan Mata Hati

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:02 am

Cobalah sesekali berdiri menghadap ke lautan lepas. Lemparkanla sebuah batu ke samudera nan luas. Terlihat cipratan air dimana batu tersebut tercebur ke air laut. Beberapa saat terlihat riak air disekitar batu tercebur, lalu riak itu pun hilang seperti batu yang tenggelam ke laut. Bila dikaitkan dengan keberadaan kita yang terlempar di dunia nan begitu luas, seperti tidak ada artinya apa-apa. Apalagi jika dikaitkan dunia kita dengan gugusan bintang bima sakti, gugusan bintang nan maha luas, keberadaan kita seperti debu yang tidak ada artinya sama sekali. Kita tidak sanggup mengukur bentangan ruang dan waktu tempat kita lahir, tumbuh kemudian menghilag ditelan kematian.

Kita terlahir menciptakan riak-riak kecil yang akhirnya lenyap ditelan bumi. Kita tidak sanggup menghitung, berapa banyak sudah manusia terlahir dan kemudian menghilang. Berapa banyak lagi manusia akan terlahir di masa mendatang, singgah sebentar di bumi ini dan kemudian menghilang entah kemana atau mau jadi apa setelah itu. Hal itu menunjukkan, betapa keberadaa kita sebetulnya tidak punya arti apa-apa di alam semesta ini dan tidak pula mampu melawan hukum alam, tumbuh (lahir), berkembang dan mati tiada punya arti dan makna bagi keberlangsungan kehidupan alam semesta ini.

Kalau saja hidup kita diukur dengan sukses materi, penampilan fisik yang menarik, harta kekayaan duniawi yang melimpah, patutlah kita merenungkan kembali, untuk apa semua itu? Untuk apa sesungguhnya manusia sibuk mengumpulkan harta jauh melebihi kebutuhannya, jika pada akhirnya malah membuat repot dan jadi beban hidup?

Ada cerita dalam legenda Yunani Kuno, seorang penguasa bernama Raja Midas. Dia ingin sekali menjadi raja terkaya di dunia, sehingga tidak seorang pun bisa menandingi harta kekayaannya. Kemudian dia bertapa, memohon kepada dewa agar dianugerahi tangan sakti, jika tangan tangannya menyentuh sesuatu, benda yang disentuh tersebut akan menjadi emas. Singkat cerita dewa mengabulkan permohonannya. Raja Midas kembali ke istana untuk mewujudkan impiannya tersebut. Semua apa-apa yang disentuhnya di istana menjadi emas. Raja ingin membuat kejutan kepada istrinya dan memberikan hadiah termahal, berupa istana emas yang tidak dipunyai raja lain. Raja Midas kemudian memanggil istrinya untuk memperlihatka keajaiban yang telah dibuatnya. Saking gembiranya, raja memeluk istrinya. Apa yang terjadi kemudian? Istrinya berubah menjadi patung emas. Raja Midas menangis meraung-raung bagaikan orang gila. Dia kesepian, bingung, sedih, merana dan penuh penyesalan. Raja lupa, bahwa sumber kehidupan adalah pada ruh dan jiwa yang sehat, yang selalu memancarkan kasih Tuhan untuk sesamanya dan suatu saat kelak ruh itu akan kembali ke haribaan Tuhan.

Andaikan hidup hanya membanggakan kehebatan duniawi dan kekayaan materi, maka manusia bagaikan kelelawar yang terbang siang, dia buta karena tak sanggup menatap cahaya matahari yang begitu menyilaukan matanya. Tetapi dengan mata hati, seorang yang beriman akan mampu menatap siapa pencipta matahari dan semesta ini. (terilhami dari buku “Psikologi Kematian” karya Komaruddin Hidayat)