March 6, 2009

Hujan Emas di Negeri Orang…

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:03 am

Setelah mendengar dan mendapat informasi dari berbagai sumber, sangat mengharukan mendengar cerita orang tua dari David Hartanto Widjaya, mahasiswa Universitas Nanyang  asal Indonesia yang bunuh diri setelah menikam dosennya di Singapura beberapa waktu lalu.

David ini adalah salah mantan anggota peserta olimpiade matematika Indonesia, boleh dikatakan kecerdasannya di atas rata-rata, karena tidak mungkin kalau kecerdasannya biasa-biasa saja bisa masuk dalam tim olimpiade menjadi duta bangsa. Terlepas dari masalah orang sangat pintar selalu ada kelemahan dari aspek psikologis, sehingga kepribadiannya ”terbelah”, dia merupakan aset sumber daya manusia yang sangat berharga bagi pembangunan bangsa, mutiara yang perlu digosok  sebelum memancarkan sinarnya, yang membuat batu berlian jadi berharga.

Tidak ada salahnya kalau  untuk mengembangkan diri menimba ilmu ke luar, karena di sana sangat berlimpah fasilitas serta sarana untuk dapat memuaskan pengembangan diri seseorang. Tetapi  harus diingat atau dicermati pula kebiasaan, adat-istiadat, serta aturan main di negeri setempat. Terutama kalau dalam menghadapi situasi darurat atau luar biasa seperti yang menimpa terhadap David Hartanto Widjaja.

Singapura dalam beberapa hal mempunyai kelebihan dibandingkan dengan Indonesia. Tetapi dalam beberapa hal sangat puritan dan ketat sekali. Hal inilah yang menyebabkan orangtu David jadi bertanya-tanya dengan kematian anaknya. Ketika ingin bertemu dengan Dosennya yang ditikam, katanya berada di ruang ICU sehingga tidak bisa ditengok. Tetapi sehari kemudian sudah pulang ke rumah. Mereka ingin mengetahui kejelasan kematian anaknya, tetapi ternyata pihak berwenang di sana ada kesan menghalang-halanginya, bahkan untuk melihat jenazah anaknya, hanya diperlihatkan mukanya saja. Berbeda dengan di Indonesia, pihak berwenang membolehkan keluarga korban melihat TKP dan barang bukti segala.

Ibarat kata pepatah, orang tua David  mengejar “hujan emas di negeri orang…”, ketika mendapat kenyataan anaknya meninggal dan menginginkan kejelasan kematian anaknya, yang didapat justru ketidakjelasan. Dalam hal ini jelaslah masih “lebih baik hujan batu (berlian) di negeri sendiri.”