March 4, 2009

Ponari Meng”KO” Tukul

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:16 pm

Penasaran, ingin mengetahui bagaimana Ponari “dieksploitasi” Tukul di acara “Bukan Empat Mata” Rabu malam (04/03). Acara tersebut ditonton sampai tuntas. Ternyata dalam acara itu, Ponari “dikerubutin” oleh para selebritis tokoh yang terkenal di bidangnya, antara lain Kak Seto. Dan diantara para penonton pun ternyata ada kedua orang tua Ponari.

Komentar Kak Seto terhadap Ponari sudah sesuai dan berada pada “rel” yang benar sebagai seorang  pemerhati sekaligus juga psikolog anak. Ada sutradara dan para pemain film serta seorang mantan fotomodel yang bersuamikan orang asing dan kini berprofesi sebagai juru masak. Komentar mereka memuji Ponari sebagai seorang anak yang luar biasa dan mengagumi dengan kelebihan yang dipunyai Ponari.

Ketika Tukul membuat kuis kepada pemirsa, menanyakan permainan apa yang disukai Ponari, ada tiga jawaban yang harus dipilih, main kelereng, main Yoyo dan main karet. Dari seberang sana dijawab main Yoyo. Lalu Tukul menanyakan kepada Ponari, permainan apa yang disukai. Secara tidak terduga Ponari menjawab “main Gangsing”.

Ponari Ada di Jakarta

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:31 am

Rabu pagi ini (04/03) melihat ada ponari di salah satu stasiun televisi swasta, dengan ditemani pamannya, diwawancara oleh selebritis kondang Desi Ratnasari. Konon katanya mau diajak jalan-jalan, melihat Monas, ke dunia Fantasi dan lain sebagainya. Sang selebritis woro-woro, nanti malam Ponari “si dukun cilik penyembuh berbagai penyakit” akan tampil dalam suatu acara di stasiun televisi.

Menurut penuturan paman Ponari, pada waktu Ponari dan teman-temannya sedang bermain gasing terkena sambaran petir, sampai-sampai dari kepala Ponari keluar asap, persis seperti yang biasa digambarkan di film. Pada saat tersambar petir itu, tangan Ponari menggenggam batu. Karena saking kagetnya Ponari pulang ke rumah, saat itu batu tersebut dibuang di lapangan tempat Ponari bermain. Tetapi setelah sampai rumah, batu itu sudah ada di atas meja. “Kekeramatan” batu diketahui secara tidak sengaja, ada saudaranya yang sakit diberi air celupan batu tadi. Dari situlah muncul “kehebohan” Ponari sebagai dukun cilik.

Ini adalah peristiwa komunikasi yang patut kita cermati bersama. Paling tidak kita bisa melihat bagaimana Ponari akan “dieksploitasi” oleh media. Saya sudah menaruh curiga, karena waktu tadi pagi diwawancarai, terlihat sekali bagaimana pola pikir Ponari harus ”disesuaikan” dengan pola pertanyaan Desi Ratnasari, yang tidak mengerti pola pikir anak usia 9 tahun dengan latar belakang sebagai orang kampung, yang barangkali tak ada dalam benak Desi Ratnasari.

Saya membayangkan, bagaimana usaha dari stasiun televisi untuk mendatangkan ”orang langka” macam Ponari ke Ibukota. Pastilah tidak hanya satu stasiun televisi, bahkan mungkin media lain pun berlomba-lomba untuk bisa memboyong Ponari dan ”mengeskploitasi”nya. Karena saat ini Ponari jauh lebih berharga daripada berita tentang bagaimana M Jusuf Kalla meraih simpati dari masyarakat tentang pengajuan capresnya.

Saya juga teringat dengan peristiwa beberapa tahun lalu. Bagaimana dua media televisi ”berebutan” untuk memboyong manusia pemakan daging manusia yaitu Sumanto, untuk bisa diwawancarai secara eksklusif di televisi masing-masing. Dan pada akhirnya tak ada sesuatu yang bisa menjadi pelajaran bagi kita selain mencari sensasi, seperti juga yang terjadi ketika acara ”Empat Mata” menampilkan orang yang memakan kodok hidup-hidup. ”keterplesetan” ini menyebabkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membekukan mata acara tersebut.

Karakteristik Mahasiswa Baru 1

Filed under: Warta UI — rani @ 7:33 am

Berkaitan dengan kegiatan Seleksi Masuk (SIMAK) UI yang berlangsung pada tanggaal 1 Maret 2009 secara serentak di 35 kota se Indonesia di hampir 700 lokasi ujian yang diikuti lebih dari 79 ribu peminat  yang ingin menjadi mahasiswa baru UI, ada baiknya kalau kita menengok sejenak ke belakang. Walaupun data yang dikemukakan ini terbilang lama, tetapi paling tidak dapat menjadi gambaran persaingan dan keketatan peminat  program studi dan fakultas di lingkungan UI yang diperebutkan calon mahasiswa baru. Data ini juga ternyata menjadi patokan selanjutnya dan karena dianggap sensitif, maka data-data keketatan tersebut tidak bisa lagi dipublikasikan secara terbuka. Hingga kini, sangat sukar untuk mendapatkan data secara terinci mengenai keketatan suatu program studi

Pada akhir bulan Agustus  (1996) UI menerima sebanyak 3.279 orang mahasiswa baru melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Dari jumlah ini 1,554 orang kelompok IPA dan 1.725 kelompok IPS. Sebelum ini mahasiswa UI sering disebut sebagai sebagai kelompok mahasiswa borjuis atau bertingkat social ekonomi tinggi. Apakah betul demikian? Seorang pakar computer dari UI yang bekerja di Pusat Ilmu Komputer UI dan sedang  menempuh jenjang S3, Toemin A. Masoem, melakukan analisis terhadap mahasiswa baru ini. Ternyata banyak aspek menarik yang perlu dikaji lebih mendalam.

Jumlah Peserta

Dalam laporan ini yang dimaksud  dengan peserta didefinisikan sebagai penghitungan kepala (head count). Penurunan jumlah peserta UMPTN yang terjadi sejak tahun 1992 kelihatannya masih terus berlanjut. Penurunan tahun ini terjadi pada semua kelompok ujian. Kelompok IPA turun – 7,52%,kelompok IPS – 12,74% dan kelompok IPC turun -3,96%. Penurunan pada tahun 1996 yang secara keseluruhan mencapai -9,01% ini merupakan penurunan terbesar yang pernah terjadi dan meletakkan tahun ini pada tingkat yang paling rendah selama 10 tahun terakhir pelaksanaan UMPTN.

Jumlah Peminat

Peminat didefinisikan sebagai jumlah seluruh pemilih, (pilihan-1, pilihan-2, dan pilihan-3) yang memilih suatu program studi. Jadi seorang peserta yang mengikuti ujian IPC dan mengisi ketiga pilihannya, akan dihitung tiga kali. Demikian juga peserta yang mengikuti ujian IPA atau IPS dan mengisi kedua pilihannya, akan dihitung dua kali. Karena peserta didefinisikan sebagai sebagai penghitungan kepala, maka jumlah peserta UMPTN tidak akan sama jumlahnya dengan peminat Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT).

Secara nasional peminat kelompok ujian IPA turun dari 442.428 menjadi 397.264 (-5,97%) dan peminat kelompok IPS turun dari 473.008 menjadi 423.791 (-10,41%).Jumlah peminat UMPTN tahun 1996 yang memilih UI kelompok IPA naik dari 28.207 menjadi 30.494 (+8,11%) dan kelompok IPS turun dari 52.512 menjadi 46.605 (-11,25%). Kalau digabung IPA dan IPS, jumlah peminat yang memilih UI turun dari 80.719 menjadi 77.099% (-4,48%).

Perubahan jumlah peminat untuk kelompok IPA dan IPS terlihat pada grafik-1. Data yang lebih rinci untuk setiap program studi diperlihatkan pada lampiran A-1 dan A-2. Perubahan peminat yang terjadi pada beberapa program studi cukup mencolok. Pada Kelompok IPA kenaikan yang cukup besar terlihat pada program studi pendidikan dokter gigi (70,40%). Sebaliknya penurunan tajam terlihat pada program studi Teknik Mesin (-57,82%) dan Teknik Kimia/TGP (-50,92). Pada kelompok IPS kenaikan tajam terlihat pada program studi Sastra Rusia (+166,84%), Administrasi Negara (+111,58%), dan Sastra Perancis (+102,07%), Ilmu Kesejahteraan Sosial (+69,91%). Sedangkan program-program yang cukup tajam penurunan peminatnya antara lain, Sastra Belanda (-69,78%), Manajemen (-44,71%), Sastra Jawa (-44,19%), dan Antropologi Sosial(-43,73%).

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya peserta cenderung berbondong-bondong memilih program studi yang menurut buku petunjuk pendaftaran relatif kurang ketat persaingannya dan menjauhi program yang relatif ketat persaingannya. Karena yang tercantum dalam buku petunjuk pendaftaran hanya jumlah peminat tahun terakhir, maka untuk beberapa program studi kenaikan tajam program peminat pada tahun tertentu selalu diikuti penurunan tajam tahun berikutnya, dan sebaliknya penurunan tajam jumlah peminat  pada tahun tertentu selalu diikuti dengan kenaikan tajam pada tahun berikutnya. Hanya beberapa program studi yang perubahan jumlah peminatnya di bawah 5% antara lain Farmasi (+1,98%), Ilmu Komputer (-4,83%), Sastra Jerman (-0,85) dan Sosiologi (-3,41%).