February 18, 2009

Doktor Honoris Causa

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:12 am

Acara Wisuda lulusan UI yang berlangsung pada tanggal 30 Januari 2009,  ada kegiatan yang spesial, yaitu pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Taufik Ismail dan Taufik Abdullah. Dua tokoh ini sudah sangat dikenaldan mempunyai dedikasi yang tinggi di bidang seni dan sastra serta pengembangan ilmu-ilmu Sosial humaniora. UI sendiri sebetulnya sudah kerap memberikan gelar doktor honoris causa, baik kepada orang asing ataupun kepada orang Indonesia yang berjasa dalam mengembangkan suatu bidang keahlian tertentu serta mempunyai dedikasi yang luar biasa dalam keahliannya tersebut.

Di bawah ini adalah cerita tentang pemberian doktor honoris causa kepada seniman dan budayawan Asrul Sani. Namun pemberian tersebut tidak terlaksana, karena Asrul Sani keburu meninggal.

 

 

Sementara itu suratku kepada Menteri P dan K yang mengusulkan agar Asrul Sani mendapat penghargaan ilmiah berupa gelar Doktor Kehormatan oleh salah satu universitas di Indonesia karena jasa-jasanya yang besar sekali dalam bidang kesenian, ternyata mendapat sambutan. Menteri Wardiman Djojonegoro agaknya menyetujui usulku dan menyerahkan pelaksanaannya kepada Fakultas Sastra UI. Aku mendapat surat dari Dekan Fakultas SasteraUI Prof.Achadiati Ikram, yang memberitahukan bahwa proses pemberian gelar kepada Asrul Sani tinggal menunggu persetujuan Senat Guru Besar UI.. Mendapat surat itu aku sangat gembira, bukan karena usulku mendapat persetujuan Menteri, tetapi terutama karena kalau Asrul mendapat gelar, maka itulah pengakuan lembaga ilmiah yang diberikan pertama kali kepada seniman, karena kiprahnya dalam bidang kesenian. S. Takdir Alisjahbana mendapat gelar kehormatan dari UI karena jasanya dalam pembinaan bahasa Indonesia. H.B. Jassin juga mendapat gelar kehormatan dari UI karena usahanya dalam pendokumentasian sastera.

 

 Tetapi sebelum proses di tingkat Senat Guru Besar UI selesai, masa jabatan Prof. Achadiati Ikram sebagai dekan habis. Yang menggantikannya sebagai Dekan ternyata sasterawan,maka aku yakin bahwa ia akan berusaha agar proses itu cepat selesai dan Asrul dapat memperoleh gelar dan Asrul  sebelum sebelum syukuran dia genap 70 tahun.

Ternyata keyakinanku itu tidak terbukti Meskipun sang sasterawan dua kali menjabat sebagai Dekan FS UI, tetapi gelar akademik untuk Asrul Sani tidak pernah menjadi perhatiannya. Ketika kemudian atas usaha iparnya, Prof.Dr. Riris Toha Sarumpaet, gelar Asrul Sani selesai diproses (yang ternyata tidak sukar dan tidak memakan waktu lama), Asrul keburu meninggal tanggal 18 Januari 2004.

(Diambil dari buku ‘Hidup Tanpa Ijazah’ karya Ajip Rosidi.)

 

 

February 17, 2009

Repotnya Menjadi Suami Caleg

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:56 pm

Tempo hari pernah diturunkan tulisan  tentang dosen yang menjadi calon  legislatif (caleg). Kali ini mencoba untuk mengisahkan tentang seorang dosen yang beristrikan seorang caleg. Kemarin (12/02-09) di jalan berpapasan dengan sang dosen yang memang sudah agak lama tidak ketemu. Padahal biasanya tiap hari biasa ketemu karena memang kantornya satu atap/gedung.

 

Seperti biasa, pada mulanya percakapan basa basi. Dia menanyakan mau kemana, maka penulis menjawab mau jemput anak pulang sekolah, karena waktu itu juga sudah waktunya istirahat kantor. Waktu balik tanya, gimana kabar anaknya. “Anak saya masih dalam kandungan, Maret baru lahiran” jawabnya. Dia mau makan siang di rumah. Jarak dari kantor ke rumahnya hanya menghabiskan waktu 7 menit. Waktu ditanya apakah nyonya di rumah, jawabnya ada di Bandung lagi kampanye, karena sang nyonya caleg salah satu parpol dari daerah pemilihan Bandung dan sekitarnya.

 

Sang nyonya adalah seorang caleg nomor 2 dari partai berlambang binatang, untuk tingkat nasional. Walaupun ada dalam daftar nomor urut dua, tetapi yang menentukan apakah bisa berkantor di senayan adalah jumlah suara pemilih yang mencontreng namanya.  Walaupun sang nyonya seorang selebritis yang cukup dikenal se antero nusantara, tetapi rupanya tetap masih menyimpan kekhawatiran tidak mencukupi jumlah suara yang memilihnya. Maka dalam keadaan hamil tua, giat berkampanye kesana kemari dan juga meninggalkan suami tercinta sendirian di rumah. Tiada hari tanpa safari kampanye. Bisa dibayangkan bagaimana hari-hari sang suami tanpa kehadiran seorang istri. Tetapi itulah barangkali resiko yang harus dihadapi seorang suami beristrikan caleg.

 

Hari Sabtu kemarin (14/02-09) bersama anak dan istri menghadiri syukuran pernikahan (ngunduh mantu) di bilangan Jakarta Pusat. Ibu mempelai pria  adalah seorang teman lama istri. Walaupun jarang berhubungan, tetapi kalau ada acara penting keluarga selalu diundang. Keluarganya sangat luar biasa dalam menerima tamu, kita sebagai tamu merasa sangat dihargai dan tersanjung karenanya. Kakaknya adalah dosen UI yang menjadi pejabat dan menjadi ketua umum salah satu parpol.

 

Menurut ajudan pejabat ini, menjelang pemilihan legislatif, jadwal kegiatan padat sekali, hari libur pun diisi dengan kunjungan ke daerah-daerah. Selain kunjungan dinas,  disela-sela waktu luang dalam kunjungan dinas itu, dipakai pula untuk sosialisasi kegiatan parpol. Jadi sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Kalau tidak begitu, akan banyak waktu dan tenaga serta biaya yang terkuras. Hal ini banyak dilakukan oleh para pejabat negara yang juga menjadi aktivis parpol. Campur aduk urusan pemerintah dengan urusan parpol tidak bisa terhindarkan lagi.

 

Banyak hal yang tidak terpikirkan sebelumnya dalam upaya menerapkan demokratisasi di republik ini. Pelaksanaan di lapangan terkesan tambal sulam, kerap terjadi keliru atau salah. Undang-Undang Pilkada misalnya, akan ditinjau ulang karena banyak ekses terjadi yang negatif. Inilah barangkali ongkos yang harus dibayar, baik secara sistem maupun perorangan. Sampai kapan hal ini akan berlangsung, tampaknya masih harus menunggu hingga lima tahun lagi pada waktu pemilu 2014. Kenapa harus menunggu begitu lama? Karena masyarakat kita paling malas belajar dari hal-hal yang sudah terjadi.

 

Tigapuluh tahun Perjalanan CHASEIRO

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:19 pm

Pengantar:

Seperti   yang sering didengung-dengungkan kepada para mahasiswa baru jaman dahulu, ada pepatah yang sangat populer di lingkungan UI dan terkadang “diplesetkan” menjadi sebait syair yang diselipkan pada lagu mars Genderang UI yang selalu dinyanyikan oleh mahasiswa UI angkatan 1960 an. Pepatah tersebut yaitu “BUKU, PESTA dan CINTA”.  Grup band CHASEIRO merupakan jelmaan dari pepatah tersebut. Bagi mereka yang mengalami masa remaja pada tahun 80-an, tentunya tidak bakal asing dengan nama kelompok ini.

 

Tanggal 6 Mei 1978, adalah hari yang bersejarah, ketika sekelompok mahasiswa UI yg tergabung dalam kegiatan folk-song (atau vocal group di masa sekarang), meraih juara pertama pada sebuah lomba yang diadakan sebuah radio swasta di Jakarta.

Sejak itulah talenta ke tujuh anak muda ini, yang nama kelompoknya diambil dari inisial nama mereka, Candra Darusman (Vocal, Keyboards), Helmie Indrakesuma (Vocals), Aswin Sastrowardoyo (Guitar, Vocals), Edwin Hudioro (Flute, Vocal), Irwan Indrakesuma (Vocals), Rizali Indrakesuma (Bass, Vocal), dan Omen Norman Soni Sontani (Vocal) mulai menapakkan diri di peta musik Indonesia.

Dalam kurun 1979-1983 kelompok ini telah merilis 4 album, dengan hits yang masih digemari sampai saat ini, seperti “Pemuda”, “Shy”, “Perangai Diri”, Dara”, dan “Sapa Pra Bencana”. Kekuatan musik CHASEIRO sejatinya terletak pada harmonisasi vocal yang telah melekat dan menjadi sebuah ciri khas. Syair atau lirik lagu yang selalu menyiratkan kebahagiaan, harapan positif serta cinta sesama menjadi andalan yang tak dapat dipisahkan dari warna musik CHASEIRO. Pada masa itu, istilah pop kreatif sedang digandrungi untuk jenis musik beraroma pop, jazzy, bossas, latin dsb.

Selepas album keempat “Ceria”, CHASEIRO tidak lantas menyatakan dirinya bubar. Sesekali masih tampil di depan publik, walau sebagian mereka sudah menggeluti profesi lain diluar musik dan berkarya di masyarakat. Hanya Candra yang terus berkiprah di dunia musik, lantas kemudian membawanya untuk duduk mewakili Indonesia di lembaga PBB untuk Hak atas Kekayaan Intelektual tingkat internasional, WIPO.

Untuk Java Jazz 2009, CHASEIRO dengan bangga kembali tampil memenuhi hasrat kangen para pecintanya. Walau tidak dalam format utuh, karena Candra dan Rizali sedang berdinas di luar negeri, bukan berarti persiapan CHASEIRO tidak matang. Dan seperti biasanya, CHASEIRO selalu didampingi para sahabat lama dalam bermusik. Pada kesempatan ini, bersama Uce Hariono (drums), Ade Hamzah (bass), Ronald Panjaitan (keyboards), Achmad Ananda (guitar) dan dr. Iwang Gumiwan (perkusi), CHASEIRO akan menyuguhkan karya dan penampilan yang terbaik. Beberapa lagu diantaranya, hadir dalam aransemen baru sehingga dapat menjangkau penggemar musik Indonesia secara lebih luas.

Di usianya yang telah mencapai tiga dekade ini, CHASEIRO seakan melakukan upaya retrospeksi atau kilas balik dan perenungan atas segala karya, kiprah dan kontribusinya, sekaligus menjawab pertanyaan kemana sesungguhnya arah dan tujuan musik Indonesia.

Old soldiers never die, demikian pepatah mengatakan. Sejarahpun membuktikan nama CHASEIRO yang tidak serta merta hilang dari lanskap musik Indonesia, dan senantiasa hidup di hati penggemarnya. Itu sudah teruji.

Sungguh sebuah anugerah bagi kita semua, kalau bukan boleh dibilang sebuah kebetulan, bahwa penampilan di ajang JavaJazz tahun ini, sekaligus menandai 30 tahun perjalanan CHASEIRO semenjak album perdana PEMUDA dirilis Maret 1979.

Pada tanggal 7 Maret 2009, CHASEIRO akan manggung di Cendrawasih Room 1 & 2 Jakarta Convention Center pukul 20.30 – 21.30 dalam acara CHASEIRO for JAVA JAZZ 2009. (Sumber: djati-rekso@alumni.ui.ac.id)

February 16, 2009

Dari Cadek Hingga Carek Antara Kawan dan Lawan

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:56 pm

Cerita di bawah ini, merupakan peristiwa nyata yang langka dan agak sensitif, tetapi mudah-mudahan tidak diartikan negatif karena maksudnya semata-mata untuk menjadi cermin bagi kita sebagai bahan untuk melakukan kontemplatif.

Pada waktu pemilihan calon dekan (cadek) di suatu fakultas yang memakai sistem dimana semua staf pengajar mempunyai hak “one man one vote”, maka para cadek berusaha mencari suara sebanyak banyaknya dengan berbagai cara. Selain dengan melakukan kampanye secara terbuka, juga dengan cara membujuk dan menjemput para pemilik suara untuk menggunakan hal pilihnya. Maka disini peranan kedekatan atau pun perkawanan menjadi faktor penentu, apakah seorang pemilih mau memberikan suaranya kepada seorang cadek.

Tampaknya baik pemilihan yang berpendidikan rendah ataupun berpendirikan tinggi, tidak jauh bedanya, kalau sudah dilakukan pendekatan secara personal dan kemanusiaan, hatinya akan lemah juga. Tersebutlah seorang petinggi UI yang menjadi staf pengajar di satu fakultas dijemput oleh salah seorang cadek, untuk menggunakan hak pilihnya. Kemudian setelah selesai mencoblos, diantar kembali ke kantornya. Kita tidak tahu kepada siapa hak pilihnya itu diberikan, tetapi ketika pengumuman penghitungan suara ternyata yang mendapat suara terbanyak adalah cadek yang menjemput sang petinggi tersebut.

Tidak dinyana beberapa tahun kemudian, dua orang kawan itu ternyata menjadi saingan terberat dalam memikat suara anggota Majelis Wali Amanat. Atas dasar pengalaman sebelumnya serta hubungan personal dan kemanusiaan yang telah terbina, akhirnya sang petinggi tersebut dapat dilibas dengan mudah.

Apa yang bisa ditarik dari pelajaran ini? Kepintaran, kecerdasan dan profesional dalam satu bidang ilmu perlu dan itu bisa dipelajari dalam waktu tertentu. Tetapi jadi pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran. Perlu juga membina hubungan secara personal dengan berbagai orang dan berbagai golongan, mengasah rasa kemanusiaan terus menerus secara berkesinambungan. Inilah aspek lain yang namanya kecerdasan emosional, yang dalam beberapa hal menjadi tulang punggung kesuksesan seseorang

Selama ini belum ada atau belum terdengar suara-suara yang mempertanyakan efektivitas pemilihan cadek dengan memakai sistem eleksi atau carek secara berjenjang yang dipilih oleh MWA. Tidak ada yang mempertanyakan bukan berarti sistem itu sudah berjalan dengan baik. Ada tiga kemungkinan reaksi yang terjadi di tingkat masyarakat kampus. Pertama yang sangat peduli dan ini hanya sedikit saja. Kedua, yang anti dan karenanya sangat kritis sekali. Ketiga, yang sangat tidak peduli dan ini yang paling banyak menghinggapi masyarakat kampus.

February 14, 2009

Yang Muda yang Memimpin?

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:26 pm

Menilik para dekan yang kini menjabat di fakultas-fakultas Lingkungan UI, tidak dapat disangkal lagi muda usia, rata-rata mereka menjadi mahasiswa tahun akhir tahun 1970 an hingga tahun 1990 an. Bergelar doktor dan beberapa diantaranya sudah menyandang Profesor. Sudah 11 Dekan yang dipilih langsung oleh Rektor UI periode 2007-2012. Hanya tinggal Dekan Fakultas Ekonomi dan Ketua Program Pascasarjana UI yang belum dilakukan seleksi pemilihan.

Kemudaan ini ternyata berimbas kepada jabatan level pimpinan di tingkat universitas dan fakultas. Walaupun ada juga pimpinan yang usianya sudah tidak muda lagi, tetapi pada umumnya rata-rata berusia muda. Bisa dimengerti kalau pimpinan UI mengangkat pimpinan fakultas yang relatif muda. Selain diharapkan mempunyai visi dan semangat ‘darah muda’ yang sama, dari segi koordinasi sangat memudahkan dan diharapkan dapat bekerja dengan semangat muda pula. Tidak dapat dipungkiri, agak mengalami ‘hambatan’ psikologis kalau pimpinan yang berusia muda “memerintah” bawahan yang berusia tua.

Tetapi bagaimana dengan kasus Dekan Fakultas Psikologi, ternyata yang terpilih usianya jauh lebih tua daripada usia Rektor bahkan lebih tua pula dari usia Dekan Fakultas Psikologi sebelumnya? Padahal sewaktu dilakukan presentasi para cadek di depan Pimpinan UI, orang-orang berharap yang terpilih cadek yang berusia muda? Terhadap hal ini, ada beberapa kemungkinan yang menjadi pertimbangan Rektor. Pertama, calon dekan terpilih mempunyai pengalaman dan keahlian yang sangat diperlukan untuk memimpin Fakultas Psikologi dan juga UI pada umumnya. Yang kedua, pendapat seorang teman yang dikemukakan dengan berkelakar, sebagai penghargaan kepada generasi tua, bahwa tenaga dan sumbangsih pemikirannya masih diperlukan.

February 13, 2009

Menentukan Masa Depan Fakultas Ekonomi

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:57 am

Pagi ini (13/02-09), ketika sedang menunggu lift di Gedung Pusat Administrasi Universitas Kampus Depok, bertemu dengan  tokoh-tokoh dari Fakultas Ekonomi, antara lain M. Nazief, mantan Wakil Rektor II UI pada masa Rektor   Prof. Sujudi dan mantan Direktur Utama Telekomunikasi, Darminto, mantan Wakil Rektor II UI pada masa Rektor Prof. Usman Chatib Warsa dan Taufik Bahauddin, mantan kepala Asrama UI pada masa Rektor Prof. Nugroho Notosusanto. Ketiganya merupakan para dosen senior di Fakultas Ekonomi UI.

 

Ketiganya hadir di Kampus Depok untuk membicarakan mengenai pelaksanaan pemilihan calon Dekan FEUI periode 2009-2013. Saat ini Dekan Fakultas Ekonomi yang dijabat  Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro akan mengakhiri masa jabatannya. Dari kabar-kabari yang bisa didengar, bursa calon dekan (cadek) sudah ramai dan sudah ada yang menyatakan terang-terangan mencalonkan diri. Rata-rata usianya masih muda, mereka masuk menjadi mahasiswa UI antara tahun 1980 an dan 1990 an. Belum terdengar ada cadek yang berusia di bawah tahun tersebut.

 

Yang paling krusial dalam pemilihan ini adalah membuat kriteria pencalonan dan memilih panitia seleksi calon dekan tingkat fakultas. Mereka ini yang akan menyeleksi  dan meloloskan 3 calon ke tingkat universitas dengan menilai hasil presentasi para calon serta penilaian dari berbagai sudut pandang sesuai dengan kriteria yang telah disepakati bersama. Dari penilaian tersebut, dibuatlah ranking penilaian. Ketiga calon yang mendapatkan rangking teratas yang diajukan ke tingkat universitas. Di tingkat universitas mereka akan melakukan presentasi dan menjawab pertanyaan serta sanggahan yang diajukan tim seleksi tingkat universitas. Dari hasil presentasi ini serta masukkan dari panitia seleksi tingkat fakultas, Rektor akan menggunakan hak prerogatifnya untuk memilih calon dekan Fakultas Ekonomi. Inilah proses sistem seleksi  cadek di lingkungan UI yang sudah berjalan sejak kepemimpinan Rektor Prof.Usman Chatib Warsa.

 

 Prosoes sistem seleksi ini merupakan salah satu jawaban terhadap pola pemilihan cadek masa lalu, dengan memakai sistem eleksi (election),  dimana para cadek yang mengajukan diri  merupakan wakil dari jurusan/departemen yang ada di lingkungan fakultas. Masing-masing calon berusaha menarik pemilih dari jurusan/departemen lain. Yang mendapat suara terbanyak,  itulah yang dipilih menjadi dekan, rektor hanya tinggal mengesahkan. Di FISIP bahkan pernah dilaksanakan pemilihan cadek, dimana para pemilihnya semua dosen (tetap dan tidak tetap) yang mengajar di FISIP.

 

Mengenai kenapa pola pemilihan cadek berubah, konon kata orang-orang yang suka mengutak-atik bahasa, dikhawatirkan kalau ‘keseleo’ lidah, kata  eleksi bisa berubah dan menyebabkan kegoncangan lahir batin bagi orang UI.

Menelisik ‘Keseleo’ Lidah Ahmad Mubarok

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:41 am

Awal minggu kedua Februari ini, masyarakat digonjang-ganjingkan dengan pemberitaan media cetak dan elektronik perkara pernyataan dari Wakil Ketua Partai Demokrat Ahmad Mubarok. Pernyataan yang dikeluarkan seusai Rapimnas Partai Demokrat itu dianggap melecehkan partai Golkar. Setelah mendengarkan wawancara TVOne dengan Ahmad Mubarok Kamis sore (12/02-09), menjadi jelas duduk pesoalannya.

Inti dari wawancara dengan Ahmad Mubarok itu kurang lebih seperti ini. Para wartawan meminta pendapat Ahmad Mubarok seputar Cawapres, yang kemudian dijawabnya bahwa hal itu belum terpikirkan karena belum tahu hasil perolehan suara legislatif, bisa saja hasil perolehan suara menurun. Wartawan kemudian menimpali sambil meminta persetujuan dari Ahmad Mubarok,”misalnya bisa menurun sampai 2,5 %?” Kemudian di media ditulis Ahmad Mubarok mengatakan perolehan suara golkar menurun sampai 2,5%. Pada wawancara dengan dengan TVOne itu Ahmad Mubarokmenyatakan tidak mengatakan, angka 2,5 %, angka itu merupakan pernyataan wartawan yang mewawancarainya.

Saya belum meneliti di media cetak, seperti apa isi berita yang membuat para petinggi Partai Golkar “kebakaran jenggot.” Namun untuk mengetahui apakah suatu pernyataan itu asli dari Ahmad Mubarok atau rekaan wartawan, bisa dilihat dari apakah kalimat itu langsung yang ditandai berupa kutipan dengan memakai tanda petik “ “, ataukah kalimat tidak langsung yang tidak memakai kutipan.Untuk kalimat kutipan yang memakai tanda kutip, bisa jadi kalimat tersebut mengambil dari hasil rekaman wawancara. Dan karena itu bisa dicek atau dicocokkan dengan hasil rekaman. Tetapi kalau berita itu berupa kalimat tidak langsung, maka bisa saja terjadi pernyataan dari sumber berita, tercampur dengan opini dari penulis berita. Dan hal ini susah untuk dicek kebenarannya, kecuali kalau si sumber berita menyatakan penyangkalannya, seperti yang dilakukan Ahmad Mubarok kepada TVOne.

Di dalam penulisan jurnalistik, merupakan suatu hal yang lazim, kalau pemberitaan ditulis dengan kalimat tidak langsung. Kalimat langsung berupa kutipan pembicaraan seorang narasumber hanya sesekali saja ditampilkan, biasanya untuk menekankan terhadap suatu pokok masalah. Karena itu, seorang jurnalis dituntut untuk menuliskan hasil liputannya dengan jujur tanpa manipulasi. Kejujuran seorang jurnalis pada akhirnya akan menghasilkan kepercayaan (trust) dari khalayak/pembacanya. Sekali seorang jurnalis menulis berita tidak jujur (bohong), maka seumur hidup tidak akan dipercaya. Karena itulah dalam jagat kewartawanan ada kode etik jurnalistik yang harus diindahkan dan dipatuhi.

February 12, 2009

Jahiliyah 2

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:34 am

Cerita tentang Kejahiliyahan dunia mahasiswa memang tidak ada habisnya dan tampaknya indah untuk dikenang, walaupun dulu waktu peristiwa tersebut terjadi, kita jalani dengan perasaan pedih tidak terperi. Tetapi mungkin saja orang punya sudut pandang lain yang positif melihat jahiliyahnya dunia kemahasiswaan. Penulis sendiri pun merupakan produk dari jahiliyah (perpeloncoan) tempo dulu dan punya cap jahiliyah (panggilan jelek) yang sampai sekarang terus melekat. Cobalah tanya kepada para mahasiswa FISIP UI angkatan 1980, apakah mengenal sebutan “Mat Sipit”.

Kembali kepada soal jahilnya para mahasiswa jaman dulu. Masih ingat pada waktu pelantikan Rektor UI  (alm) Prof.Dr. Nugroho Notosusanto pada bulan Januari 1982. Tempat pelantikan di Aula Fakultas Kedokteran Kampus Salemba Jakarta. Sebagai sebuah perguruan tinggi ternama dan menyandang nama negara, pelantikan pimpinannya merupakan suatu kegiatan yang cukup sakral. Dihadiri para pejabat terhormat dan dari kalangan terpilih. Tetapi apa yang terjadi saat upacara tersebut sedang berlangsung? Entah darimana asalnya, di dalam ruangan aula tersebut terdengar ledakan, bunyi petasan. Usai upacara pelantikan, masih di dalam gedung Aula Fakultas Kedokteran UI, beberapa orang mahasiswa menggelar spanduk  bertuliskan JANGAN NODAI KAMPUS KAMI DENGAN SEPATU LARS.

Itulah sambutan para mahasiswa terhadap pelantikan Rektornya, yang dekat dengan kalangan militer. Saat itu, para mahasiswa masih alergi dengan hal-hal yang berbau kemiliteran. Prof.Dr. Nugroho Notosusanto adalah Staf pengajar Jurusan Sejarah FIB (dulu Fakultas Sastra) UI, yang kemudian menjabat sebagai Kepala Musium Sejarah ABRI dan mendapat pangkat tituler Brigadir Jenderal.

February 11, 2009

Amerika Serikat dan Indonesia

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:23 pm

Ada tradisi baru pada pemerintahan Amerika Serikat Era Obama. Menteri luar negerinya, akan memulai lawatan kenegaraan pertamanya pada pertengahan Februari ini  bukan ke Eropa seperti yang selama ini biasa dilakukan, tetapi akan dimulai berkunjung ke Jepang, Indonesia, Korea Selatan dan Tiongkok.

 

Pasti akan timbul pertanyaan, kok bisa Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi Menlu Hillary Clinton? Kalau ketiga negara (Jepang, Tiongkok, Korea Selatan) jelas merupakan ”macan”  Asia di bidang ekonomi. Kalau dilihat kedekatan, kenapa tidak Philipina atau Singapura? Atau India sekalian yang memang maju pesat seperti Tiongkok. Apa karena Obama pernah tinggal di Indonesia?

Aspek apakah yang dilihat Amerika Serikat sehingga Indonesia ”diperhitungkan”.

Padahal di dalam negeri, baik di media televisi ataupun media cetak, pemberitaan tentang Indonesia tak ada sesuatu yang dibanggakan. Soal korupsilah, soal hukum penegakkan hukum yang masih pandang bulu, soal pejabat yang tidak profesional, bencana alam serta perekonomian yang tidak menyejahterakan rahayat banyak.

 

Sekarang marilah kita lihat, dari sudut pandang Indonesia tentang Amerika Serikat. Satu saat, saya pernah mengikuti ceramah Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, seorang Dosen UI  yang istimewa. Barangkali dialah satu-satunya orang Indonesia yang dulu sempat menuntut ilmu di negri Paman Sam, kemudian selang puluhan tahun kemudian menjadi Duta Besar RI di Amerika. Katanya, hebatnya Amerika, ibarat sebuah gunung yang tinggi menjulang, bisa dilihat dari berbagai arah, dan orang tidak bisa menghindar dari pengaruhnya. Dan hal itu memang kejadian, ketika terjadi krisis ekonomi di Amerika, perekonomian dunia pun terganggu.

 

Lain lagi cerita Hassan Wirayuda,Menteri Luar Negeri kita. Dalam kuliah umum yang diberikan kepada para mahasiswa Hubungan Internasional di FISIP UI. Alumni Fakultas Hukum UI ini menuturkan sejarah diplomasi RI, setelah diamati secara runtut, ternyata Amerika Serikat punya peran besar terhadap Diplomasi Indonesia. Kita ingat Konferensi Meja Bundar (KMB)  yang ”memaksa” Belanda mengakui kedaulatan RI karena pengaruhnya. Begitu pula pada saat pembebasan Papua (Irian Barat, dulu), Amerika juga yang berperan. Dan Waktu perisitiwa pemberontakan 30 September 1965, ternyata  Amerika berjasa pula dapat menumpasnya dan lalu turut membangun perekonomian pemerintahan Orde Baru.

 

Jadi balik kepada persoalan semula, Indonesia dipandang Amerika sebagai apa, sehingga begitu amat penting untuk dikunjungi? Apakah karena ada perusahaan besar Amerika beroperasi disini, sehingga perlu diamankan dengan meminta komitmen kepada para pejabat yang sedang dan akan berkuasa nanti?  Wallahualam bisawab.

Jahiliyah 1

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:32 pm

Senin lalu (09/02-09)sehabis mengikuti satu acara di FISIP UI,  bertemu dengan seorang dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi. Sudah pensiun tetapi masih diminta mengajar. Kenal cukup akrab karena beliau satu daerah dengan kakek buyut saya dan mengenal betul sepak terjangnya yang pernah ”malang melintang” di jagat perbisnisan Jakarta di era tahun 1970 an. Akhirnya kami terlibat pembicaraan tentang masa itu dengan segala suka dukanya. Sang dosen ini, mengibaratkan  waktu itu sebagai jaman Jahiliyah. Suatu istilah yang berasal dari bahasa Arab, untuk menggambarkan  ketidakberadaban pola hidup orang Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad membawa risalah pedoman hidup yang berlandaskan Al Qur’an.

Konsep Jahiliyah yang diajukan dosen senior itu sangat menarik, terutama bila kita kaitkan dengan masa kini, yang katanya masyarakatnya sudah tertata rapi, aturan hukum tertata baik, beretika serta menghormati HAM. Untuk masyarakat yang sudah tertata tersebut kita kenal konsep Civil Society atau masyarakat beradab, masyarakat Madani (Madani asal kata dari Madinah, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menata kehidupan masyarakat Madinah menuju masyarakat modern).

Tampaknya memang kehidupan kita, khususnya di lingkungan kampus pada jaman dahulu kala tidak lepas dari masa jahiliyah. Tengoklah salah satu contohnya kegiatan perpeloncoan, walaupun dibungkus dengan berbagai nama dan istilah, tetapi tetap saja watak dasarnya adalah ”menyiksa” para mahasiswa baru oleh mahasiswa senior, satu hal yang sangat bertentangan dengan etika pendidikan. Dan itu pula yang terjadi hari Minggu (08/02-09) Dwiyanto, mahasiswa baru Geodesi ITB, tewa sewaktu mengikuti Ospek Orientasi Studi Pengenalan Kampus) di Lembang Bandung. Ini adalah korban yang kesekian kalinya di ITB, setelah beberapa tahun lalu  jatuh korban  pada acara yang sama.Rupanya memang konsep plonco biar berganti nama apapun tetap bersifat negatif.

Bolehlah dikatakan, perpeloncoan merupakan warisan jaman jahiliyah dunia kemahasiswaan yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya, supaya tidak ada lagi jatuh korban seorang calon pemimpin bangsa masa depan.