February 25, 2009

Selamat Datang SMUI

Filed under: Warta UI — rani @ 5:02 pm

Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) telah terbentuk di kampus ini. Suatu proses yang sangat lamban sebenarnya apabila dibandingkan dengan pembentukan SMPT di universitas-universitas lain. Keterlambatan ini menjadi menarik karena keluar dari tradisi kepeloporan UI, entah itu dalam hal gagasan otonomi perguruan tinggi, kerjasama perguruan tinggi dengan swasta atau perusahaan-perusahaan, sampai urusan perubahan-perubahan Penataran P-4.

Keterlambatan ini menurut saya, tidak hanya karena “mahasiswa UI menjadi kapitalis dan lemah kepekaan sosialnya”, seperti yang sering dituduhkan orang selama ini. Ada aspek lain yang sering luput dicermati yaitu perubahan-perubahan mahasiswa UI dekade 1970-an sampai 1980-an. Perubahan-perubahan pada dekade ini perlu dicermati lebih jauh, karena pada masa inilah mahasiswa UI mengalami perubahan-perubahan mendasar. Ada faktor internal dan eskternal yang saling berpengaruh mendorong perubahan mendasar tersebut.

Aspek eksternal secara politik adalah dibubarkannya Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI). Berhubung DMUI ini dibubarkan dengan pendekatan politik yang tidak sesuai dengan iklim kampus, maka problem politik menjadi agenda persoalan yang mendasar di kalangan mahasiswa UI. Oleh karena itu penataan kelembagaan mahasiswa di kampus, seperti kebijakan NKK/BKK yang walaupun secara konsepsional mempunyai relevansi kuat dengan hakekat kehidupan kampus, kurang memenuhi sasarannya, karena problem politik tidak mampu diselesaikan dengan konsep NKK/BKK tersebut.

Aspek eksternal lain adalah transformasi sosial masyarakat Indonesia khususnya Jakarta, pada decade 1970-an sampai 1980-an. Kuliah di UI tidak saja dianggap sarana mobilitas vertikal dengan diperolehnya gelar-gelar akademis, melainkan juga mengerasnya obsesi profesionalitas dan mulai tumbuh-kuatnya sikap-sikap pragmatis dalam memandang kehidupan.

Problem politik dan kenyataan sosiologis tersebut, ditambah interaksi sosial dan gagasan antar mahasiswa UI yang berkurang mendorong pelemahan solidaritas mahasiswa UI. Hampir dua dekade proses ini berlangsung, sehingga persoalan ini mengeras dan terstruktur sedemikian rupa. Format-format baru kesadaran yang terbentuk adalah pengedepanan problem politik yang di atasnya terbangun kesadaran-kesadaran baru. Di satu sisi obsesi profesionalitas semakin kuat dan di sisi lain, sikap pragmatis dalam memandang kehidupan juga menguat. Kita juga melihat idealisme-idealisme yang tak mampu diturunkan dalam tingkat perilaku sosial.

Ketika Warta UI menyelenggarakan seminar “Gaya Hidup Mahasiswa UI” beberapa waktu yang lalu yang disambut dengan antusias oleh mahasiswa, seperti pada acara-acara musik di balairung, menjadi agenda renungan yang menarik. Seminar yang menggugat eksistensi mahasiswa UI dan dibanjiri itu sepertinya menunjukkan adanya indikasi baru di kalangan nahasiswa UI yaitu mulai adanya kesadaran untuk mempertanyakan dirinya sendiri dan peranannya.

Arus kesadaran baru ini seakan terlihat menggelinding secara perlahan dalam forum-forum dan aksi-aksi forkom SM-BPM, UI Cup, TIG,maupun kasus “gubuk satu milyar” mengindikasikan munculnya kesadaran baru yang secara tidak langsung mempersoalkan proses yang berlangsung selama dua dekade lalu.

Akan tetap berhubung proses pelemahan solidaritas mahasiswa UI itu telah terstruktur sedemikian rupa, dengan persoalan-persoalan eksternal, maka benang solidaritas yang dicoba dibentangkan kawan-kawan di Forkom UI, tidaklah dengan mudah menggusur problem yang telah mengeras tersebut.

Kerja besar yang harus segera dihadapi tentunya adalah menghembuskan angin solidaritas mahasiswa UI atau persatuan UI dalam level mahasiswa UI secara keseluruhan. Namun permasalahannya sebelum angina itu berhembus lebih jauh adalah sampai sejauh manakah diskusi dan gugatan terhadap posisi dan peranan mahasiswa masa kini dan ke depan telah mampu menghasilkan solusi-solusi baru. Persoalan ini segera mendesak untuk didiskusikan lebih jauh oleh mahasiswa UI karena solusi-solusi mahasiswa UI masa lalu tentunya kurang relevan apabila diterapkan pada masa kini dan  ke depan. Hal ini berkaitan dengan perubahan-perubahan situasi sosial ekonomi dan politik yang cepat pada masa sekarang yang tentunya hal ini tidak dialami oleh mahasiswa UI masa lalu.

Dengan demikian redefinisi peran perlu dilakukan. Hal itu baru dapat dilakukan, apabila mahasiswa UI mampu keluar dari belenggu mitos sejarah mahasiswa UI masa lalu. Solidaritas mahasiswa UI akan tercipta dan berhembus dengan keras apabila di dalam solidaritas tersebut terdapat solusi-solusi baru yang merupakan redefinisi peran kita dan hal itu tentunya harus bermanfaat bagi mahasiswa UI secara keseluruhan. Mudah-mudahan reformasi ini dapat menggelinding terus, yang dapat meningkatkan solidaritas mahasiswa UI

Selamat datang SMUI.

(Opini Kholid Novianto, Ketua BPM FSUI 1991, dalam SKK Warta UI No.53 Thn XIV Desember 1991)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment