February 23, 2009

Hillary dan Ponari

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:54 pm

Minggu lalu pemberitaan di media massa di Indonesia diramaikan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton ke Indonesia serta dukun cilik Ponari dari Jombang Jawa Timur. Dua dunia  yang berbeda,  namun “makanan empuk” bagi para pencari berita,  ada beberapa kesamaan dan paradoks terdapat pada keduanya tetapi luput dari perhatian media massa.

 

Kedatangan Hillary disambut dengan kibaran bendera kecil AS dan Indonesia yang dibawa oleh para murid SD Menteng, dimana Presiden AS Barack Obama pernah bersekolah. Para murid tersebut seusia dengan Ponari. Selain disambut para murid tentu saja dikawal dengan ketat oleh pihak keamanan pemerintah Indonesia, karena sebelumnya ada demo dari Hizbut Thahir Indonesia (HTI) yang menentang sikap AS terhadap kasus yang terjadi di Gaza Palestina. Bahkan konon kabarnya, Salah satu Tokoh Islam Dr. Din Samsudin menolak undangan makan malam bersama Hillary. Padahal Hillary sudah menyatakan penghargaan dan pujian  pemerintah AS terhadap negara Indonesia, sebagai negara demokrasi yang mayoritas penduduknya bergama Islam dan punya peran besar dalam percaturan dunia di masa depan, sehingga AS memrioritaskan sebagai sedikit dari negara-negara Asia  yang patut dikunjungi. Dalam kesempatan bertemu dengan Hillary, Presiden SBY pun menyatakan kekecewaannya, karena AS tak kunjung merealisir kemerdekaan negara Palestina. Suatru sikap  yang mencerminkan negara-negara Islam lainnya terhadap pertikaian Palestina-Israel.

 

Sementara itu, kasus Ponari si dukun cilik, yang berusia 10 tahun dan masih duduk di kelas 3 SD sudah dalam tahap penanganan  dan diamankan pihak kepolisian, setelah beberapa waktu lalu membuka praktek pengobatan telah menyebabkan jatuhnya 4 orang korban meninggal akibat berdesak-desakan dalam upaya mendapatkan air obat.  Dalam pemberitaan di salah satu stasiun televisi, terlihat Ponari tengah digendong dan bermain-main bersama pak polisi. Bahkan pihak bupati Jombang,  memberikan pernyataan untuk membuat sarana tempat penampungan air di kampung Ponari, supaya memudahkan bagi pengunjung yang meminta air obat dari Ponari. Seperti diketahui, Ponari setelah tersambar gledek mempunyai batu ajaib yang dianggap keramat dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Menteri Kesehatan menyatakan  penduduk yang menyakini air obat Ponari sebagai suatu sikap yang masih percaya kepada hal mistik, suatu keyakinan yang dianut oleh masyarakat terbelakang. Ketika kemudian Ponari membuka praktek kembali, satu stasiun televisi memperlihatkan tingkah laku Ponari  yang baru. Satu tangannya memegang batu ”ajaib” yang dicelup-celupkan kepada orang-orang yang membawa air, sementara satu tangannya lagi memencet tombol keyboard sebuah laptop dan pandangan serta konsentrasinya  tertuju ke layar monitor laptop tersebut.

 

Kita menganggap bahwa hidup keberagamaan kita sudah sesuai dengan ajaran agama dan sudah pula menganut pola kehidupan modern. Ternyata di kalangan masyarakat kita, masih saja ada kepercayaan dan pola hidup yang bertentangan dengan ajaran agama dan kehidupan modern. Jombang yang katanya tempat tumbuhnya pesantren dan dipimpin para kiai yang berskala nasional, ternyata tidak ada reaksi terhadap fenomena kasus Ponari yang mengarah kepada syirik.Pihak aparat pun, alih-alih melakukan penertiban, tetapi yang terjadi turut melestarikan keganjilan yang terjadi di masyarakat. Ketika orang luar memuji-muji kebaikan kehidupan keberagamaan dan penyelenggaraan kehidupan bernegara, tetapi di sisi lain media menyuguhkan sesuatu yang sangat bertentangan. Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlalu bagus untuk mempertontonkan yang bersifat paradoksal, karena akan mengakibatkan masyarakat menjadi ”sakit”. Sama seperti kita membiarkan korupsi, lama kelamaan orang akan menganggap biasa terhadap orang yang melakukan korupsi dan kini menjadi salah satu ”penyakit” yang ada di masyarakat kita. Ataukah fenomena ini merupakan suatu ciri, bahwa masyarakat kita sudah ”sakit”?

 

  

 

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment