February 23, 2009

Bung Hatta

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:06 am

Sejak mengundurkan diri sebagai wakil Presiden pada akhir 1956 karena hendak memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk melaksanakan konsepsinya, Bung Hatta hanya satu kali muncul ke hadapan publik, yaitu melalui tulisannya “Demokrasi Kita”. Di dalam tulisan itu Bung Hatta antaranya mengatakan bahwa beliau mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden karena beliau tidak dapat meluruskan jalan demokrasi yang ditempuh oleh Sukarno dan  karena hendak memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk melaksanakan konsepsinya agar terbukti salah tidaknya.

 

Baru setelah bangkitnya para mahasiswa menyerang Sukarno dan aspirasi demokrasi berlontaran dalam masyarakat, Bung Hatta muncul lagi. Dimulai dengan tulisan berjudul “Pancasila Jalan Lurus” yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bung Hatta juga membuka seminar Angkatan 66 di Jakarta dan lain-lain. Tentu saja apa yang dikatakan beliau itu mendapat tempat dalam pers, sehingga ketika melantik Men/Pangau Rusmin Nurjadin, Bung Karno menyindirnya.”orang yang sudah lama tidak bicara sekarang mewekwek terus”.

 

Kata beliau, Pemerintah Demokrasi Terpimpin yang dilaksanakan oleh Sukarno tidak ada bedanya dengan diktatur. Dan pemerintah diktatur tidak akan lama karena kalau sang diktator meninggal pemerintahannya akan bubar. Malah banyak yang ambruk sebelum sang diktator meninggal. Menurut beliau, pemerintah yang paling baik adalah pemerintah demokrasi karena berdasarkan prinsip dan bukan tergantung kepada orang. Waktu ditanya apakah bersedia kalau diangkat menjadi presiden atau wakil presiden, beliau menjawab, beliau bersedia  menerima pengangkatan itu kalau diberi tanggung jawab untuk membangun negara. “Tetapi karena saya sudah tua, niscaya akan meminta dibantu oleh angkatan muda”.

 

Beliau juga menyampaikan sedang merencanakan membentuk partai baru yang akan diberi nama Partai Demokrat Islam. Membentuk partai menurut Bung Hatta, bukanlah untuk mencari kedudukan atau kesempatan. Tugas partai adalah mendidik rakyat supaya mempunyai rasa tanggung jawab, karena itu yang mendidiknya pun harus orang yang besar rasa tanggung jawabanya. Kehidupan partai politik Indonesia harus sehat. Jangan sampai  orang partai yang karena pandai bicara diberi kedudukan eksekutif, karena yang duduk di lembaga eksekutif haruslah orang-orang yang ahli.

 

Ketika ditanya apakah partai dapat menyelamatkan bangsa dan negara kita dari kemelut politik yang sekarang dialami. Bung Hatta agak lama merenung sebelum menyahut, “Peranan partai sangat penting dan bersifat asasi dalam masyarakat demokrasi. Tetapi partai-partai di Indonesia selama ini belum memperlihatkan rasa tanggungjawab yang besar. Mereka lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri atau partainya, sehingga nasib rakyat tidak mereka bela”.

 

Ketika ditanya siapa yang bisa menyelamatkan bangsa? Bung Hatta menjawab Tentara. Hal ini menjadi pertanyaan, bagaimana bisa terjadi, sedangkan saat ini saja tentara melarang pergi Bung Hatta pada acara perayaan Hari Koperasi di Tasikmalaya. Keheranan berikutnya yaitu Bung Hatta menyatakan kesanggupannya memimpin negara kalau diserahi tanggung jawab untuk membangun. Siapa yang akan  menyerahkan tanggungjawab (yang berarti kekuasaan) kepada orang lain? Kekuasaan politik dimanapun dan kapan pun harus direbut, dan Bung Hatta dari berita-berita di media massa tidak akan diberi kesempatan untuk merebutnya. Pembentukan Partai Demokrat Islam sudah lama menjadi wacana dan orang yang arif sudah lama tahu bahwa penguasa tidak akan memberi izin..

 

Dari cerita di atas, disimpulkan Bung Hatta bukan orang yang dapat diharapkan untuk bertarung merebut kekuasaan untuk membangun demokrasi. Beliau menunggu orang memberikan kekuasaan kepadanya. Kalau diingat keputusan beliau  dahulu mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden untuk memberikan kesempatan kepada Sukarno melaksanakan konsepsinya pun bukan kebijakan yang tepat. Karena sama saja dengan memberikan kesempatan kepada Sukarno untuk merusak tatanan negara demokrasi.

 

Ketika dalam suatu kesempatan bertemu dengan menantu Bung Hatta Prof.Dr. Sri-Edi Swasono (suami Prof.Dr. Meutia Hatta) dan membicarakan tentang pemikiran Bung Hatta terhadap tentara, Sri-Edi menjelaskan Bung Hatta mempunyai ikatan emosional dengan tentara. Beliaulah yang menandatangani keputusan pembentukan TNI pada tanggal 5 Oktober 1945. Bung Karno enggan menandatanganinya karena pada waktu itu ada tantangan dari pihak lasykar yang telah banyak dibentuk oleh berbagai kelompok masyarakat.

(sumber: Buku ‘Hidup Tanpa Ijazah’ karya Ajip Rosidi)

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment