February 17, 2009

Repotnya Menjadi Suami Caleg

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:56 pm

Tempo hari pernah diturunkan tulisan  tentang dosen yang menjadi calon  legislatif (caleg). Kali ini mencoba untuk mengisahkan tentang seorang dosen yang beristrikan seorang caleg. Kemarin (12/02-09) di jalan berpapasan dengan sang dosen yang memang sudah agak lama tidak ketemu. Padahal biasanya tiap hari biasa ketemu karena memang kantornya satu atap/gedung.

 

Seperti biasa, pada mulanya percakapan basa basi. Dia menanyakan mau kemana, maka penulis menjawab mau jemput anak pulang sekolah, karena waktu itu juga sudah waktunya istirahat kantor. Waktu balik tanya, gimana kabar anaknya. “Anak saya masih dalam kandungan, Maret baru lahiran” jawabnya. Dia mau makan siang di rumah. Jarak dari kantor ke rumahnya hanya menghabiskan waktu 7 menit. Waktu ditanya apakah nyonya di rumah, jawabnya ada di Bandung lagi kampanye, karena sang nyonya caleg salah satu parpol dari daerah pemilihan Bandung dan sekitarnya.

 

Sang nyonya adalah seorang caleg nomor 2 dari partai berlambang binatang, untuk tingkat nasional. Walaupun ada dalam daftar nomor urut dua, tetapi yang menentukan apakah bisa berkantor di senayan adalah jumlah suara pemilih yang mencontreng namanya.  Walaupun sang nyonya seorang selebritis yang cukup dikenal se antero nusantara, tetapi rupanya tetap masih menyimpan kekhawatiran tidak mencukupi jumlah suara yang memilihnya. Maka dalam keadaan hamil tua, giat berkampanye kesana kemari dan juga meninggalkan suami tercinta sendirian di rumah. Tiada hari tanpa safari kampanye. Bisa dibayangkan bagaimana hari-hari sang suami tanpa kehadiran seorang istri. Tetapi itulah barangkali resiko yang harus dihadapi seorang suami beristrikan caleg.

 

Hari Sabtu kemarin (14/02-09) bersama anak dan istri menghadiri syukuran pernikahan (ngunduh mantu) di bilangan Jakarta Pusat. Ibu mempelai pria  adalah seorang teman lama istri. Walaupun jarang berhubungan, tetapi kalau ada acara penting keluarga selalu diundang. Keluarganya sangat luar biasa dalam menerima tamu, kita sebagai tamu merasa sangat dihargai dan tersanjung karenanya. Kakaknya adalah dosen UI yang menjadi pejabat dan menjadi ketua umum salah satu parpol.

 

Menurut ajudan pejabat ini, menjelang pemilihan legislatif, jadwal kegiatan padat sekali, hari libur pun diisi dengan kunjungan ke daerah-daerah. Selain kunjungan dinas,  disela-sela waktu luang dalam kunjungan dinas itu, dipakai pula untuk sosialisasi kegiatan parpol. Jadi sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Kalau tidak begitu, akan banyak waktu dan tenaga serta biaya yang terkuras. Hal ini banyak dilakukan oleh para pejabat negara yang juga menjadi aktivis parpol. Campur aduk urusan pemerintah dengan urusan parpol tidak bisa terhindarkan lagi.

 

Banyak hal yang tidak terpikirkan sebelumnya dalam upaya menerapkan demokratisasi di republik ini. Pelaksanaan di lapangan terkesan tambal sulam, kerap terjadi keliru atau salah. Undang-Undang Pilkada misalnya, akan ditinjau ulang karena banyak ekses terjadi yang negatif. Inilah barangkali ongkos yang harus dibayar, baik secara sistem maupun perorangan. Sampai kapan hal ini akan berlangsung, tampaknya masih harus menunggu hingga lima tahun lagi pada waktu pemilu 2014. Kenapa harus menunggu begitu lama? Karena masyarakat kita paling malas belajar dari hal-hal yang sudah terjadi.

 

Tigapuluh tahun Perjalanan CHASEIRO

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:19 pm

Pengantar:

Seperti   yang sering didengung-dengungkan kepada para mahasiswa baru jaman dahulu, ada pepatah yang sangat populer di lingkungan UI dan terkadang “diplesetkan” menjadi sebait syair yang diselipkan pada lagu mars Genderang UI yang selalu dinyanyikan oleh mahasiswa UI angkatan 1960 an. Pepatah tersebut yaitu “BUKU, PESTA dan CINTA”.  Grup band CHASEIRO merupakan jelmaan dari pepatah tersebut. Bagi mereka yang mengalami masa remaja pada tahun 80-an, tentunya tidak bakal asing dengan nama kelompok ini.

 

Tanggal 6 Mei 1978, adalah hari yang bersejarah, ketika sekelompok mahasiswa UI yg tergabung dalam kegiatan folk-song (atau vocal group di masa sekarang), meraih juara pertama pada sebuah lomba yang diadakan sebuah radio swasta di Jakarta.

Sejak itulah talenta ke tujuh anak muda ini, yang nama kelompoknya diambil dari inisial nama mereka, Candra Darusman (Vocal, Keyboards), Helmie Indrakesuma (Vocals), Aswin Sastrowardoyo (Guitar, Vocals), Edwin Hudioro (Flute, Vocal), Irwan Indrakesuma (Vocals), Rizali Indrakesuma (Bass, Vocal), dan Omen Norman Soni Sontani (Vocal) mulai menapakkan diri di peta musik Indonesia.

Dalam kurun 1979-1983 kelompok ini telah merilis 4 album, dengan hits yang masih digemari sampai saat ini, seperti “Pemuda”, “Shy”, “Perangai Diri”, Dara”, dan “Sapa Pra Bencana”. Kekuatan musik CHASEIRO sejatinya terletak pada harmonisasi vocal yang telah melekat dan menjadi sebuah ciri khas. Syair atau lirik lagu yang selalu menyiratkan kebahagiaan, harapan positif serta cinta sesama menjadi andalan yang tak dapat dipisahkan dari warna musik CHASEIRO. Pada masa itu, istilah pop kreatif sedang digandrungi untuk jenis musik beraroma pop, jazzy, bossas, latin dsb.

Selepas album keempat “Ceria”, CHASEIRO tidak lantas menyatakan dirinya bubar. Sesekali masih tampil di depan publik, walau sebagian mereka sudah menggeluti profesi lain diluar musik dan berkarya di masyarakat. Hanya Candra yang terus berkiprah di dunia musik, lantas kemudian membawanya untuk duduk mewakili Indonesia di lembaga PBB untuk Hak atas Kekayaan Intelektual tingkat internasional, WIPO.

Untuk Java Jazz 2009, CHASEIRO dengan bangga kembali tampil memenuhi hasrat kangen para pecintanya. Walau tidak dalam format utuh, karena Candra dan Rizali sedang berdinas di luar negeri, bukan berarti persiapan CHASEIRO tidak matang. Dan seperti biasanya, CHASEIRO selalu didampingi para sahabat lama dalam bermusik. Pada kesempatan ini, bersama Uce Hariono (drums), Ade Hamzah (bass), Ronald Panjaitan (keyboards), Achmad Ananda (guitar) dan dr. Iwang Gumiwan (perkusi), CHASEIRO akan menyuguhkan karya dan penampilan yang terbaik. Beberapa lagu diantaranya, hadir dalam aransemen baru sehingga dapat menjangkau penggemar musik Indonesia secara lebih luas.

Di usianya yang telah mencapai tiga dekade ini, CHASEIRO seakan melakukan upaya retrospeksi atau kilas balik dan perenungan atas segala karya, kiprah dan kontribusinya, sekaligus menjawab pertanyaan kemana sesungguhnya arah dan tujuan musik Indonesia.

Old soldiers never die, demikian pepatah mengatakan. Sejarahpun membuktikan nama CHASEIRO yang tidak serta merta hilang dari lanskap musik Indonesia, dan senantiasa hidup di hati penggemarnya. Itu sudah teruji.

Sungguh sebuah anugerah bagi kita semua, kalau bukan boleh dibilang sebuah kebetulan, bahwa penampilan di ajang JavaJazz tahun ini, sekaligus menandai 30 tahun perjalanan CHASEIRO semenjak album perdana PEMUDA dirilis Maret 1979.

Pada tanggal 7 Maret 2009, CHASEIRO akan manggung di Cendrawasih Room 1 & 2 Jakarta Convention Center pukul 20.30 – 21.30 dalam acara CHASEIRO for JAVA JAZZ 2009. (Sumber: djati-rekso@alumni.ui.ac.id)