February 16, 2009

Dari Cadek Hingga Carek Antara Kawan dan Lawan

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:56 pm

Cerita di bawah ini, merupakan peristiwa nyata yang langka dan agak sensitif, tetapi mudah-mudahan tidak diartikan negatif karena maksudnya semata-mata untuk menjadi cermin bagi kita sebagai bahan untuk melakukan kontemplatif.

Pada waktu pemilihan calon dekan (cadek) di suatu fakultas yang memakai sistem dimana semua staf pengajar mempunyai hak “one man one vote”, maka para cadek berusaha mencari suara sebanyak banyaknya dengan berbagai cara. Selain dengan melakukan kampanye secara terbuka, juga dengan cara membujuk dan menjemput para pemilik suara untuk menggunakan hal pilihnya. Maka disini peranan kedekatan atau pun perkawanan menjadi faktor penentu, apakah seorang pemilih mau memberikan suaranya kepada seorang cadek.

Tampaknya baik pemilihan yang berpendidikan rendah ataupun berpendirikan tinggi, tidak jauh bedanya, kalau sudah dilakukan pendekatan secara personal dan kemanusiaan, hatinya akan lemah juga. Tersebutlah seorang petinggi UI yang menjadi staf pengajar di satu fakultas dijemput oleh salah seorang cadek, untuk menggunakan hak pilihnya. Kemudian setelah selesai mencoblos, diantar kembali ke kantornya. Kita tidak tahu kepada siapa hak pilihnya itu diberikan, tetapi ketika pengumuman penghitungan suara ternyata yang mendapat suara terbanyak adalah cadek yang menjemput sang petinggi tersebut.

Tidak dinyana beberapa tahun kemudian, dua orang kawan itu ternyata menjadi saingan terberat dalam memikat suara anggota Majelis Wali Amanat. Atas dasar pengalaman sebelumnya serta hubungan personal dan kemanusiaan yang telah terbina, akhirnya sang petinggi tersebut dapat dilibas dengan mudah.

Apa yang bisa ditarik dari pelajaran ini? Kepintaran, kecerdasan dan profesional dalam satu bidang ilmu perlu dan itu bisa dipelajari dalam waktu tertentu. Tetapi jadi pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran. Perlu juga membina hubungan secara personal dengan berbagai orang dan berbagai golongan, mengasah rasa kemanusiaan terus menerus secara berkesinambungan. Inilah aspek lain yang namanya kecerdasan emosional, yang dalam beberapa hal menjadi tulang punggung kesuksesan seseorang

Selama ini belum ada atau belum terdengar suara-suara yang mempertanyakan efektivitas pemilihan cadek dengan memakai sistem eleksi atau carek secara berjenjang yang dipilih oleh MWA. Tidak ada yang mempertanyakan bukan berarti sistem itu sudah berjalan dengan baik. Ada tiga kemungkinan reaksi yang terjadi di tingkat masyarakat kampus. Pertama yang sangat peduli dan ini hanya sedikit saja. Kedua, yang anti dan karenanya sangat kritis sekali. Ketiga, yang sangat tidak peduli dan ini yang paling banyak menghinggapi masyarakat kampus.