February 13, 2009

Menentukan Masa Depan Fakultas Ekonomi

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:57 am

Pagi ini (13/02-09), ketika sedang menunggu lift di Gedung Pusat Administrasi Universitas Kampus Depok, bertemu dengan  tokoh-tokoh dari Fakultas Ekonomi, antara lain M. Nazief, mantan Wakil Rektor II UI pada masa Rektor   Prof. Sujudi dan mantan Direktur Utama Telekomunikasi, Darminto, mantan Wakil Rektor II UI pada masa Rektor Prof. Usman Chatib Warsa dan Taufik Bahauddin, mantan kepala Asrama UI pada masa Rektor Prof. Nugroho Notosusanto. Ketiganya merupakan para dosen senior di Fakultas Ekonomi UI.

 

Ketiganya hadir di Kampus Depok untuk membicarakan mengenai pelaksanaan pemilihan calon Dekan FEUI periode 2009-2013. Saat ini Dekan Fakultas Ekonomi yang dijabat  Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro akan mengakhiri masa jabatannya. Dari kabar-kabari yang bisa didengar, bursa calon dekan (cadek) sudah ramai dan sudah ada yang menyatakan terang-terangan mencalonkan diri. Rata-rata usianya masih muda, mereka masuk menjadi mahasiswa UI antara tahun 1980 an dan 1990 an. Belum terdengar ada cadek yang berusia di bawah tahun tersebut.

 

Yang paling krusial dalam pemilihan ini adalah membuat kriteria pencalonan dan memilih panitia seleksi calon dekan tingkat fakultas. Mereka ini yang akan menyeleksi  dan meloloskan 3 calon ke tingkat universitas dengan menilai hasil presentasi para calon serta penilaian dari berbagai sudut pandang sesuai dengan kriteria yang telah disepakati bersama. Dari penilaian tersebut, dibuatlah ranking penilaian. Ketiga calon yang mendapatkan rangking teratas yang diajukan ke tingkat universitas. Di tingkat universitas mereka akan melakukan presentasi dan menjawab pertanyaan serta sanggahan yang diajukan tim seleksi tingkat universitas. Dari hasil presentasi ini serta masukkan dari panitia seleksi tingkat fakultas, Rektor akan menggunakan hak prerogatifnya untuk memilih calon dekan Fakultas Ekonomi. Inilah proses sistem seleksi  cadek di lingkungan UI yang sudah berjalan sejak kepemimpinan Rektor Prof.Usman Chatib Warsa.

 

 Prosoes sistem seleksi ini merupakan salah satu jawaban terhadap pola pemilihan cadek masa lalu, dengan memakai sistem eleksi (election),  dimana para cadek yang mengajukan diri  merupakan wakil dari jurusan/departemen yang ada di lingkungan fakultas. Masing-masing calon berusaha menarik pemilih dari jurusan/departemen lain. Yang mendapat suara terbanyak,  itulah yang dipilih menjadi dekan, rektor hanya tinggal mengesahkan. Di FISIP bahkan pernah dilaksanakan pemilihan cadek, dimana para pemilihnya semua dosen (tetap dan tidak tetap) yang mengajar di FISIP.

 

Mengenai kenapa pola pemilihan cadek berubah, konon kata orang-orang yang suka mengutak-atik bahasa, dikhawatirkan kalau ‘keseleo’ lidah, kata  eleksi bisa berubah dan menyebabkan kegoncangan lahir batin bagi orang UI.

Menelisik ‘Keseleo’ Lidah Ahmad Mubarok

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:41 am

Awal minggu kedua Februari ini, masyarakat digonjang-ganjingkan dengan pemberitaan media cetak dan elektronik perkara pernyataan dari Wakil Ketua Partai Demokrat Ahmad Mubarok. Pernyataan yang dikeluarkan seusai Rapimnas Partai Demokrat itu dianggap melecehkan partai Golkar. Setelah mendengarkan wawancara TVOne dengan Ahmad Mubarok Kamis sore (12/02-09), menjadi jelas duduk pesoalannya.

Inti dari wawancara dengan Ahmad Mubarok itu kurang lebih seperti ini. Para wartawan meminta pendapat Ahmad Mubarok seputar Cawapres, yang kemudian dijawabnya bahwa hal itu belum terpikirkan karena belum tahu hasil perolehan suara legislatif, bisa saja hasil perolehan suara menurun. Wartawan kemudian menimpali sambil meminta persetujuan dari Ahmad Mubarok,”misalnya bisa menurun sampai 2,5 %?” Kemudian di media ditulis Ahmad Mubarok mengatakan perolehan suara golkar menurun sampai 2,5%. Pada wawancara dengan dengan TVOne itu Ahmad Mubarokmenyatakan tidak mengatakan, angka 2,5 %, angka itu merupakan pernyataan wartawan yang mewawancarainya.

Saya belum meneliti di media cetak, seperti apa isi berita yang membuat para petinggi Partai Golkar “kebakaran jenggot.” Namun untuk mengetahui apakah suatu pernyataan itu asli dari Ahmad Mubarok atau rekaan wartawan, bisa dilihat dari apakah kalimat itu langsung yang ditandai berupa kutipan dengan memakai tanda petik “ “, ataukah kalimat tidak langsung yang tidak memakai kutipan.Untuk kalimat kutipan yang memakai tanda kutip, bisa jadi kalimat tersebut mengambil dari hasil rekaman wawancara. Dan karena itu bisa dicek atau dicocokkan dengan hasil rekaman. Tetapi kalau berita itu berupa kalimat tidak langsung, maka bisa saja terjadi pernyataan dari sumber berita, tercampur dengan opini dari penulis berita. Dan hal ini susah untuk dicek kebenarannya, kecuali kalau si sumber berita menyatakan penyangkalannya, seperti yang dilakukan Ahmad Mubarok kepada TVOne.

Di dalam penulisan jurnalistik, merupakan suatu hal yang lazim, kalau pemberitaan ditulis dengan kalimat tidak langsung. Kalimat langsung berupa kutipan pembicaraan seorang narasumber hanya sesekali saja ditampilkan, biasanya untuk menekankan terhadap suatu pokok masalah. Karena itu, seorang jurnalis dituntut untuk menuliskan hasil liputannya dengan jujur tanpa manipulasi. Kejujuran seorang jurnalis pada akhirnya akan menghasilkan kepercayaan (trust) dari khalayak/pembacanya. Sekali seorang jurnalis menulis berita tidak jujur (bohong), maka seumur hidup tidak akan dipercaya. Karena itulah dalam jagat kewartawanan ada kode etik jurnalistik yang harus diindahkan dan dipatuhi.