February 11, 2009

Amerika Serikat dan Indonesia

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:23 pm

Ada tradisi baru pada pemerintahan Amerika Serikat Era Obama. Menteri luar negerinya, akan memulai lawatan kenegaraan pertamanya pada pertengahan Februari ini  bukan ke Eropa seperti yang selama ini biasa dilakukan, tetapi akan dimulai berkunjung ke Jepang, Indonesia, Korea Selatan dan Tiongkok.

 

Pasti akan timbul pertanyaan, kok bisa Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi Menlu Hillary Clinton? Kalau ketiga negara (Jepang, Tiongkok, Korea Selatan) jelas merupakan ”macan”  Asia di bidang ekonomi. Kalau dilihat kedekatan, kenapa tidak Philipina atau Singapura? Atau India sekalian yang memang maju pesat seperti Tiongkok. Apa karena Obama pernah tinggal di Indonesia?

Aspek apakah yang dilihat Amerika Serikat sehingga Indonesia ”diperhitungkan”.

Padahal di dalam negeri, baik di media televisi ataupun media cetak, pemberitaan tentang Indonesia tak ada sesuatu yang dibanggakan. Soal korupsilah, soal hukum penegakkan hukum yang masih pandang bulu, soal pejabat yang tidak profesional, bencana alam serta perekonomian yang tidak menyejahterakan rahayat banyak.

 

Sekarang marilah kita lihat, dari sudut pandang Indonesia tentang Amerika Serikat. Satu saat, saya pernah mengikuti ceramah Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, seorang Dosen UI  yang istimewa. Barangkali dialah satu-satunya orang Indonesia yang dulu sempat menuntut ilmu di negri Paman Sam, kemudian selang puluhan tahun kemudian menjadi Duta Besar RI di Amerika. Katanya, hebatnya Amerika, ibarat sebuah gunung yang tinggi menjulang, bisa dilihat dari berbagai arah, dan orang tidak bisa menghindar dari pengaruhnya. Dan hal itu memang kejadian, ketika terjadi krisis ekonomi di Amerika, perekonomian dunia pun terganggu.

 

Lain lagi cerita Hassan Wirayuda,Menteri Luar Negeri kita. Dalam kuliah umum yang diberikan kepada para mahasiswa Hubungan Internasional di FISIP UI. Alumni Fakultas Hukum UI ini menuturkan sejarah diplomasi RI, setelah diamati secara runtut, ternyata Amerika Serikat punya peran besar terhadap Diplomasi Indonesia. Kita ingat Konferensi Meja Bundar (KMB)  yang ”memaksa” Belanda mengakui kedaulatan RI karena pengaruhnya. Begitu pula pada saat pembebasan Papua (Irian Barat, dulu), Amerika juga yang berperan. Dan Waktu perisitiwa pemberontakan 30 September 1965, ternyata  Amerika berjasa pula dapat menumpasnya dan lalu turut membangun perekonomian pemerintahan Orde Baru.

 

Jadi balik kepada persoalan semula, Indonesia dipandang Amerika sebagai apa, sehingga begitu amat penting untuk dikunjungi? Apakah karena ada perusahaan besar Amerika beroperasi disini, sehingga perlu diamankan dengan meminta komitmen kepada para pejabat yang sedang dan akan berkuasa nanti?  Wallahualam bisawab.

Jahiliyah 1

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:32 pm

Senin lalu (09/02-09)sehabis mengikuti satu acara di FISIP UI,  bertemu dengan seorang dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi. Sudah pensiun tetapi masih diminta mengajar. Kenal cukup akrab karena beliau satu daerah dengan kakek buyut saya dan mengenal betul sepak terjangnya yang pernah ”malang melintang” di jagat perbisnisan Jakarta di era tahun 1970 an. Akhirnya kami terlibat pembicaraan tentang masa itu dengan segala suka dukanya. Sang dosen ini, mengibaratkan  waktu itu sebagai jaman Jahiliyah. Suatu istilah yang berasal dari bahasa Arab, untuk menggambarkan  ketidakberadaban pola hidup orang Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad membawa risalah pedoman hidup yang berlandaskan Al Qur’an.

Konsep Jahiliyah yang diajukan dosen senior itu sangat menarik, terutama bila kita kaitkan dengan masa kini, yang katanya masyarakatnya sudah tertata rapi, aturan hukum tertata baik, beretika serta menghormati HAM. Untuk masyarakat yang sudah tertata tersebut kita kenal konsep Civil Society atau masyarakat beradab, masyarakat Madani (Madani asal kata dari Madinah, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menata kehidupan masyarakat Madinah menuju masyarakat modern).

Tampaknya memang kehidupan kita, khususnya di lingkungan kampus pada jaman dahulu kala tidak lepas dari masa jahiliyah. Tengoklah salah satu contohnya kegiatan perpeloncoan, walaupun dibungkus dengan berbagai nama dan istilah, tetapi tetap saja watak dasarnya adalah ”menyiksa” para mahasiswa baru oleh mahasiswa senior, satu hal yang sangat bertentangan dengan etika pendidikan. Dan itu pula yang terjadi hari Minggu (08/02-09) Dwiyanto, mahasiswa baru Geodesi ITB, tewa sewaktu mengikuti Ospek Orientasi Studi Pengenalan Kampus) di Lembang Bandung. Ini adalah korban yang kesekian kalinya di ITB, setelah beberapa tahun lalu  jatuh korban  pada acara yang sama.Rupanya memang konsep plonco biar berganti nama apapun tetap bersifat negatif.

Bolehlah dikatakan, perpeloncoan merupakan warisan jaman jahiliyah dunia kemahasiswaan yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya, supaya tidak ada lagi jatuh korban seorang calon pemimpin bangsa masa depan.