February 10, 2009

Mutiara Dalam Lumpur

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:00 pm

Baru saja kemarin menghadiri acara bedah Buku “The 7 Laws of  Happiness” tulisan Arvan Pradiansyah di FISIP UI, salah seorang pe-motivator yang yang sudah sangat dikenal di kalangan masyarakat golongan menengah. Tetapi hari ini bertemu dengan seorang tukang jahit  yang “luar biasa” di Pasar Depok Jaya.

 

Pada mulanya saat ke pasar (memang hobi dan juga karena kebutuhan), usai belanja untuk keperluan arisan ibu-ibu  lingkungan RT nanti malam di rumah, naik ke lantai 2 pasar untuk membetulkan risleting jaket peninggalan KKN bersama tiga perguruan tinggi (UI-IPB-ITB), bertemulah dengan salah seorang tukang jahit. Berpenampilan sederhana, berusia sekitar 40 an tahun, tidak terlihat banyak orderan. Sambil menunggu jahitan, ngobrol ngalor ngidul. Tiba-tiba dia nyeletuk, apakah di dalam kampus UI sudah ada tukang jahit? Dia berminat untuk membuka jasa jahitan di dalam kampus. Ide yang aneh, tapi bisa masuk akal juga, dari puluhan ribu orang kampus pastilah ada  yang memerlukan jasa menjahit dengan segera/cepat. Dan memang saya pernah mengalami,  celana robek mendadak di kantor. Tapi tukang jahit ini melihat ada peluang untuk membangun jaringan dengan orang-orang kampus.

 

Dia bercerita, punya kenalan tepatnya langganan jahitan orang Amerika yang berstatus sebagai dosen tamu di Fakultas Kedokteran UI. Waktu itu dia membuka “warung” jahit di Tebet. Mungkin merasa cocok, akhirnya menjadi langganan tetapnya. Lucunya setelah pulang ke Amerika Serikat, sang dosen ini merekomendasikan kepada teman-teman amerikanya,  kalau ke Indonesia, temui tukang jahit langganannya. Dan ternyata memang para bule yang membuat jas di tukang jahit ini merasa puas, tidak pernah komplen. Lucunya lagi,  para bule yang tinggal di Amerika, masih memberikan order jahitan dari sana ke Indonesia, dengan cara dititipkan kepada orang yang akan ke Indonesia, dan diantar ke Amerika oleh para mahasiswa Indonesia yang belajar di Amerika. Bahkan tidak segan-segan, para bule ini sengaja khusus berkunjung ke rumah tukang jahit ini di Mampang Sawangan Depok. Satu waktu ada orang bule yang khusus datang hanya untuk menanyakan tentang Bali.

 

Untuk di tingkat lokal, tukang jahit ini kenal baik dengan Gus Dur dan Wiranto, tentu saja dalam kaitan urusan jahit menjahit. Tapi kata tukang jahit ini, Wiranto punya perhatian khusus terhadap kreativitasnya  dalam memotivasi orang. Satu saat dia ngborol dengan tukang gado-gado, bagaimana meningkatkan omzet penjualan gado-gado. Dia membuat spanduk secara gratis untuk tukang gado-gado, tapi dengan syarat supaya tukang gado-gado meningkatkan pelayanan dan kebersihannya. Dalam kesempatan lain, dia memotivasi seorang cleaning service di gedung perkantoran kawasan Sudirman. Dia coba memotivasi supaya dapat penghasilan tambahan, dengan  memanfaatkan waktu luang (setelah selesai pekerjaannya) mencuci mobil bosnya.

 

Tukang jahit ini punya keinginan supaya para pedagang di Pasar Depok Jaya dapat mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin dalam berbagai bidang yang diminatinya. Tetapi ada kendala, karena dia baru tiga bulan membuka jasa jahitan di Pasar Depok Jaya dan pengurus koperasi pasarnya juga sudah tua-tua, tidak mempunyai ide-ide inovasi bagaimana mengembangkan pasar Depok Jaya supaya menjadi ramai dan banyak dikunjungi orang.

 

Dari obrolan yang cuma setengah jam saja, banyak pelajaran yang bisa didapat. Ternyata dia sudah dapat mempraktekkan jurus-jurus yang ada di “The 7 Laws of Happiness”, yaitu (1) Sabar (2) Syukur (3) Sederhana (4) Kasih (5) Memberi (6) Memaafkan (7) Berserah.