February 6, 2009

Menuju Universitas Riset

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:50 pm

Beberapa tahun terakir ini Universitas Indonesia didengungkan akan menjadi Universitas Riset.Banyak konsep telah dibicarakan, beragam masukan berupa saran atau kritik telah dikumpulkan. Namun masih banyak juga yang masih mempertanyakan bagaimanakan sebenarnya Research University itu. Pimpinan Universitas melalui Komisi A Senat Universitas Indonesia yang diketuai oleh Prof.dr.Sidharta Ilyas telah menyusun suatu rumusan kebijakan yang diharapkan mampu menjadi panduan bagi UI dalam menuju Universitas Riset.

Dalam rapat-rapat dibicarakan perlunya suatu keterpaduan dalamkegiatan riset kelak. Karena suatu cabang ilmu dapat berkembang dengan adanya fertilisasi silang diantara kelompok ilmu yang berbeda. Sementara itu anggota bidang yang terlibat dalam diskusi-diskusi panjang ini adalah Prof.dr. Sudarto Pringgoutomo (FK) sebagai ketua, Dr. Soleh Kosela, M.Sc (FMIPA), dr. Alex Papilaya, DTPH (FKM), Prof.dr.Sri Margono (FK), Prof.Dr. Unandar Budimulya (FK), Prof.dr. Jose Roesma, Ph.D (FK), Prof.dr. Samsudin, MSc (FK) Prof.Dr. Oentoeng Soeradi (FK) danProf.Dr. Pinardi Hadidjaja (FK). Di bawah ini diuraikan hasil pemikiran par pakar tersebut.

Perlu Sistem yang terpadu

Dalam rumusan kebijakan pengembangan jangka panjang UI untuk duapuluh tahun mendatang disebutkan bahwa UI mempunyai tiga sasaran pengembangan, yaitu: terwujudnya UI sebagai Research University, terselenggaranya keterpaduan dalam segala kegiatan dan pengembangan agar UI lebih memiliki ciri universitas dan pemantapan serta pelaksanaan sistem otonomi perguruan tinggi.

Berdasarkan ketiga hal tersebut dan dalam upaya agar secara institusional UI dapat mencaai sasaran-sasaran ideal, tentu saja amat diperlukan arahan kebijakan yang stratejik. Dalam pada itu Senat UI diberi tugas untuk menyusun dengan memberi masukan kepada Rektor dan seluruh jajaran operasional UI lainnya.

Di lain pihak dalam pelaksanaan PP No.30 Tahun 1990 sampai saat ini masih terasa adnya kerumitan bagi penataan organisasi dan manajemen. Hal ini terjadi karena fakultas masih tetap merupakan inti pelaksana semua unsur Tridharma Perguruan Tinggi. Akan hal itu perlu diciptakan suatu sistem organisasi dan manajemen yang terpadu, sesuai dengan kebutuhan, berdayaguna dan berhasil guna. Namun sistem tersebut diharapkan tetap fleksibel terhadap perkembangan situasi.

Perubahan pola pikir dan perilaku

Hakekat dasar dari suatu universitas riset ialah suatu tahapan perguruan tinggi yang telah memiliki kualitas tinggi dalam hal proses kegiatan dan produk yang dihasilkannya, meliputi pendidikan, penelitian serta pengabdian masyarakat. Perbedaannya dengan universitas non-riset adalah bahwa untuk mencapai hal tersebut, maka seluruh proses kegiatan harus berbasis riset. Hal ini sebenarnya salah satu hasil merupakan hasil rdari rapat kerja Lembaga Penelitian UI tentang Tatalaksana Manajemen Penelitian i UI yang dilaksanakan pada bulan Januari 1994.

Karena itu universitas riset dapat dilihat sebagai pusat keluaran pemikiran, dan pengabdian, baik dalam bidang pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat yang berlandaskan riset.

Untuk mencapai kondisi tadi diperlukan penataan kembali secara kelembagaan atau rekayasa secara institusional dalam berbagai aspek. Pertama, perubahan pola pikir dan perilaku yang mendukung perwujudan universitas riset. Kedua, penataan kembali berbagai pola manajemen dan metoda serta pelaksanaan kegiatan perguruan tinggi secara terpadu. Yang ketiga adalah penataan kembali serta penyesuaian dalam jumlah, penyebaran dan mutu berbagai sarana dan prasarana yang mendukung perwujudan universitas riset yang kita inginkan bersama.

Pencapaian ketiga hal tersebut harus didahului dengan pemenuhan berbagai prasyarat. Diantaranya adalah terbentuknya iklim atau budaya institusi yang mendukung pelbagai perubahan pola pikir dan perilaku menuju terwujudnya universitas riset. Untuk mencapai kondisi seperti ini, hal yang sangat mendasar ialah tumbuhnya persepsi yang sama dan adanya komitmen seluruh jajaran pimpinan UI mengenai apa dan bagaimana mencapai universitas riset tersebut.

Prasyarat berikutnya adalah terbentuknya mekanisme keterpaduan yang memungkinkan terwujudnya kerjsama yang bersifat sinergistik lintas disiplin, lintas unit muali dari fakultas, jurusan, bagian, subbagian dsb dalam berbagai kegiatan. Keterpaduan dalam berbagai macam kegiatan ini harus menjrus kepada pemanfaatan sumberdaya secara tepat dan kegiatannya harus lebih bersifat lintas disiplin.

Prasyarat lainnya lagi adalah terselenggaranya manajemen penelitian yang mendorong pencapaian, keterpaduan dan menjadikan riset sebagai basis kegiatan pokok UI. Tidak boleh dilupakan adalah dukungan penuh lainnya berupa penataan seluruh lembaga lainnya, baik secara institusional maupun secara legal/formal, perlu (sangat disarankan) disesuaikan dengan tujuan berbagai prasyarat ini. Dengan demikian seluruh kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat akan memiliki keterkaitan serta relevansi dengan berbagai misi yang diemban UI.

Perkotaan dan Industrialisasi

Sebagai universitas besa yang berkedudukan di pusat negara, maka sasaran jangka panjang harus mempunyai ciri yang ’selangkah di depan’ namun sesuai dengan lingkungan serta kebutuhan bangsa Indonesia. Selian itu, untuk memfokuskan berbagai alokasi sumber daya dan arah semua kegiatan di lingkungan UI, telah ditetapkan dalam KDPJPUI 1990-2009 prioritas sasaran yaitu: Masalah Perkotaan dan masalah industrialisasi. Kedua hal ini akan menjadi ciri bagi UI di masa mendatang.

Dalam hubungan ini, maka kebinekaan UI baik dalam disiplin ilmu dan sumber daya, maupun orientasi terhadap dua sasaran prioritas yang hendak dicapai di atas, perlu dijadikan aset dan landasan. Diharapkan dengan begitu akan lebih memantapkan pengabdian kita dalam memecahkan persoalan nasional, regional dan internasional. Otomatis dengan demikian setiap permasalahan dapat dihadapi dengan landasan yang lebih menyeluruh dan bersifat lintas disiplin.

Walaupun dua bidang tersebut di atas ditetapkan sebagai sasaran pengabdian UI, namun hal tersebut tidak merupakan suatu arahan yang bersifat kaku; sebagai pusat kebudayaan yang memiliki sumber daya pemikir yang kuat maka UI harus tetap berorientasi pada kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat secara luas (responsive to environmental and sicietal needs).

Dalam implementasi unversitas riset tersebut hendaknya dikembangkan keterpaduan, dalam arti menjadikan riset bukan hanya sebagai kegiatan sekelompok peneliti saja, tetapi menjadikannya wawasan seluruh jajaran UI.

Untuk menjadikan pengabdian relevan dengan kebutuhan masyarakat maka dikembangkan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) dengan para praktisi khususnya di lingkungan perkotaan dan industri.

Konsolidasi Sumberdaya

Sasaran jangka menengah terdiri dari empat tahap. Pertama, pembinaan sumberdaya manusia yang berwawasan riset. Kedua, pengembangan sarana dan prasarana yang memungkinkan riset menjadi menjadi wawasan dan landasan kegiatan di seluruh jajaran UI. Ketiga, pengarahan sumberdaya, baik manusia maupun dana, kepada pelaksanaan berbagai strategi dan kebijaksanaan pimpinan UI, khususnya dalam pembinaan UI menjadi universitas riset. Terakhir keempat, penataan institusi, baik lembaga maupun perangkat formal/legal yang dapat mendukung pembinaan wawasan riset dalam seluruh jajaran UI.

Kelemahan UI

Evaluasi keadaan UI sampai saat ini dapat diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tercapainya UI sebagai universitas riset. Seluruh faktor ini harus diperhitungkan masak-masak sehingga setiap langkah UI tidak sia-sia, selalu efektif dan efisien. Analisis situasi yang obyektif ini dibagi atas empat kelompok.

Dari segi kekuatan, UI memiliki sumberdaya paling mapan dalam berbagai ragam disiplin ilmu serta program pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang diakui berkualitas tinggi. Namun UI dari segi kelemahan ternyata cukup banyak faktor yang ditemukan. Antara lain belum terciptanya suasana keterpaduan yang layak, iklim yang ada belum mendorong untuk berprestasi sebaik-baiknya, karena dibatasi oleh peraturan perundangan yang berlaku, wawasan universitas masih lemah, kaderisasi belum terlaksana dengan baik, dan perpustakaan yang belum terbina dengan baik.

Sementara itu peluang yang dimiliki UI sebenarnya merupakan potensi besar untuk menarik minat masyarakat untuk turut mengembangkan UI, memanfaatkan kemampuan alumni untuk menunjang kegiatan perkembangan UI dan mempergunakan akses pada proses pengambilan keputusan di tingkat nasional. Sedangkan segi ancaman yang harus diperhatikan adalah adanya perkembangan pesat perguruan-perguruan tinggi swasta, industri yang memiliki laboratorium canggih serta lembaga-lembaga lain, peraturan perundangan yang membatasi gerak dan begitu banyaknya kegiatan lain aneka ragam yang ditugaskan kepada UI.

Perlu Tenaga Kerja Unggul

Komisi A juga sekaligus berhasil menyusun strategi dalam melaksanakan langkah-langkah menuju universitas riset ini. Strategi ini tentu saja harus dijalankan dengan memahami keadaan yang disebutkan di atas. Strategi tersebut adalah dengan memanfaatkan berbagai peluang yang ada, antara lain kedudukan UI di ibukota negara dan adanya jaringan tokoh UI dengan dunia industri dan pemerintahan, kemudian mengidentifikasi dan menarik tenaga yang unggul serta mengembangkan mekanisme agar UI tetap mempunyai daya tarik bagi tenaga unggulan.

Lain dari itu, strategi ini menyebutkan perlunya pengembangan aliansi strategik baik di dalam maupun di luar negri untuk mengembangkan wawasan riset bagi seluruh jajaran UI serta mengembangkan mekanisme dorong maupun tarik untuk untuk meningkatkan baik wawasan maupun kemampuan jajaran UI dalam hal riset. Secara obyektif UI juga harus melakukan evaluasi periodik untuk mendapat umpan balik sebagai sarana perbaikan dan peningkatan keberhasilan strategi UI menjadi universitas riset.

Manajer Handal

Dalam mengimplementasikan berbagai strategi tersebut di atas, seyogyanya dikembangkan langkah-langkah yang mendukung tercapainya wawasan universitas riset. Kebijakan itu antara lain dalam hal memperkuat keterpaduan dalam pelaksanaan antar disiplin, antar fakultas, jurusan atau bagian serta antar universitas serta menentukan prioritas dan fokus agar pembawaan sumberdaya yang masih terbatas dapat mendorong tercapainya wawasan yang hendak dicapai. Hal lain yang selama ini menjadi kendala bagi lembaga pemerintah pada umumnya ialah menyiapkan tenaga manajerial yang handal. Untuk itu perlu adanya suatu seleksi yang bersifat profesional, tidak hanya berdasarkan tingkat senioritas belaka.

Mempertautkan hal-hal di atas dengan dambaan mewujudkan universitas riset, dengan situasi sekarang ini maka perlu dikembangkan penataan isntitusi yang mendukung, antara lain dengan menetapkan penanggung jawab khusus yang menangani pengembangan wawasan universitas riset sebagai Pembantu Rektor Khusus serta mengadakan tim lintas unit (cross functiobal teams) untuk memastikan pengembangan wawasan riset terlaksana secara terpadu. (Diambil dari laporan Utama Suratkabar Kampus Warta UI No.66, TH. XVII September 1995)