February 3, 2009

Disabet Negri Jiran

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:08 pm

Universitas Indonesia (UI) selasa pagi (03/02) melakukan penandatangan kerjasama di bidang pendidikan, penelitian dan pertukaran mahasiswa/dosen dengan Universitas Pusan Korea Selatan. Ini untuk kesekian kalinya UI menjalin hubungan dengan Korea Selatan. Sebelumnya telah dilakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain Korea Selatan.

Keeberadaan Korea di UI merupakan suatu hal yang tidak asing lagi. Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), dibanjiri dengan peserta dari Korea dan merupakan peserta kedua terbanyak setelah Jepang. Di FISIP UI, selain ada kantin yang menyajikan masakan Korea, terdapat Taman Korea, kantin para mahasiswa yang dibangun dengan bantuan dari perusahaan Korea Yong Ma senilai Rp 800 juta. Bantuan ini didapat, kebetulan ada alumni program S2 FISIP, orang Korea yang bekerja di perusahaan Yong Ma. Bahkan UI telah menerima hibah dari Pemerintah Korea Selatan senilai US $ 1 juta dalam bentuk 120 komputer lengkap dengan meja dan kursi serta biaya untuk renovasi gedung laboratorium komputer ditambah dengan tenaga sukarelawan orang Korea yang khusus didatangkan bersamaan dengan datangnya bantuan komputer.

Tahun 2006 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI membuka Program Studi Bahasa dan Budaya Korea. Peminta yang mendaftar mencapai 350 orang sedangkan yang diterima hanya 27 orang. Tahun berikutnya peminat yang mendaftar sebanyak 1050 orang dan yang diterima hanya 47 orang. Kemudian tahun 2008 peminta program studi ini mencapai 900 an orang, tetapi yang diterima hanya 44 orang. Saat ini program studi ini diasuh oleh 10 orang dosen, 6 pengajar dari Korea. Beberapa orang dosen lagi sedang meyelesaikan program S3 di Korea.

Bagi UI sendiri dengan kerjasama ini banyak hal yang bisa didapat. Antara lain akan banyak para dosen dan mahasiswa Korea yang mengajar dan belajar di UI. Begitu pula bagi dosen UI, akan dapat dengan mudah untuk menempuh jenjang pendidikan S2 dan S3 di perguruan tinggi Korea. Hal ini akan mempercepat internasionalisasi UI.

Diantara rombongan dari Universitas Pusan, terdapat seorang dosen perempuan yang menyelesaikan program S3 nya di Malaysia. Dia mengajukan disertasi perbandingan karya sastra mulai dari jaman pujangga baru hingga jaman angkatan 1945. Dia juga membahas tentang polemik kebudayaan pada buku yang ditulis Achdiat Karta Mihardja. Menjadi pertanyaan, mengapa dosen korea tersebut menyelesaikan disertasinya di Malaysia, tidak di Indonesia tempat dimana novel itu diterbitkan. Apakah karena bahan/data serta ahli yng berminat di bidang tersebut tidak ada? Ataukah masalah birokrasi di lingkungan pendidikan tinggi kita yang berbelit-belit dibandingkan dengan negri jiran Malaysia. Ini harus menjadi bahan renungan kita (orang UI), bagaimana kita harus membuka diri dan berbenah diri sehingga diminati oleh orang luar yang ingin studi menjadi mahasiswa atau menjadi dosen tamu.