February 28, 2009

Ikan dan Tanaman

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:21 am

Mau ngobrol berlama-lama dengan Rektor UI Prof.Dr.der Soz Gumilar Rusliwa Somantri? Cobalah bicara topik tentang ikan atau tanaman. Hal ini yang terjadi saat penandatanganan kerjasama UI dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah, pertengahan Februari lalu. Bupati Lamandau sampai kewalahan menceritakan tentang potensi ikan dan pohon durian tanaman asli daerahnya.

Tidak bisa dipungkiri, latar belakang diwaktu kecil sangat berpengaruh terhadap seseorang. Berasal dari daerah Tasik yang sejak kecil akrab dengan soal ikan dan tanam-tanaman, ketika menjadi mahasiswa dan tinggal di asrama UI Rawamangun, kebiasaan di kampungnya tidak bisa hilang. Di jendela kamar asrama, penuh dengan tanaman, diantaranya tanaman bonsai pohon jeruk. Hal ini sangat menyolok bagi seorang anak asrama, karena tak ada mahasiswa di asrama yang bisa menandingi kerajinannya dalam memelihara tanaman bonsai. Begitu pula ketika setelah mempunyai rumah di Bogor, di sekeliling rumahnya banyak pohon mangga dan buah-buahan lainnya ditanam didalam drum. Di lantai dua rumahnya dibuat kolam, dimana ikan mas seberat dua hingga lima kilo bebas berkeliaran. Begitu pula saat ini, di rumah dinasnya di Wisma Widya Rawamangun dibuat kolam ikan khusus. Bahkan di kamar kerjanya di Kampus Depok, tampak akuarium yang diisi seekor ikan dari salah satu daerah di Nusantara.

Ketika Menteri Kehutanan M.S Ka’ban menanam pohon di Hutan UI pada suatu Jum’at siang di bulan Januari, Rektor begitu fasih menjelaskan berbagai tanaman yang ada di hutan kepada para wartawan. Para wartawan cuma bisa mengomentari “oohh” karena tidak mengerti seluk beluk perkara tanaman. Bahkan dalam perkara cangkul mencangkul, tampak Rektor UI lebih piawai dalam mengayunkan cangkulnya ketimbang Menteri Kehutanan. Sebagai orang Turki (Turunan Kidul, Tasikmalaya), rupanya darah petani masih cukup kental mengalir dalam tubuhnya.

Kembali kepada soal tanaman dari Kabupaten Lamandau, Bupati berjanji, dalam jangka waktu 6 bulan setelah perjanjian ditanda tangani, akan kembali lagi ke Kampus Depok, dengan membawa bibit pohon durian, tanaman asli dari Kalimantan dan juga ikan khas dari sungai di Kalimantan, yang beratnya bisa mencapai 15 kilogram.

February 27, 2009

Chandra M. Hamzah Ketua Harian

Filed under: Warta UI — rani @ 5:03 am

Chandra M. Hamzah, mahasiswa FH ’86, boleh jadi akan menjadi orang kuat nomor dua di SMUI, setelah Firdaus Artoni, mahasiswa FK ’86, karena pada 4 Desember 1991, Chandra terpilih menjadi ketua Harian SMUI. Proses pemilihannya sendiri berlangsung cukup a lot. Hal itu terlihat dari proses pemilihannya yang memakan waktu cukup panjang dan pemilihan baru usai pada pukul 2.00 dinihari.

Menurut jadwal panitia, sedianya pemilihan dimulai pukul 14.00 ternyata harus diundur sampai pukul 19.00. Sebabnya tak lain karena adanya ketidaksamaan pendapat dari para ketua BPM fakultas dan SM fakultas yang duduk di kepengurusan SMUI.

Tepat pukul 19.00 acara pemilihan dimulai, para kandidat yang hadir yaitu Chandra M. Hamzah (FH’86) dan Satya Heragandhi (FMIPA ’88). Sedangkan kandidat R. Eep Saifullah (FISIP ’87) mengundurkan diri melalui surat terbuka yang ditandatangani tanggal 3 Desember. Setelah para kandidat berkampanye lisan, dilanjutkan tanya jawab antara mahasiswa yang hadir dengan para kandidat. Setelah itu diadakan pemilihan dengan system voting suara.

Menurut Ketua panitia pemilihan ketua harian SMUI, Novian Pranata (FPsi’88), system pemilihannya langsung, umum, terbatas dan rahasia. Yang berhak memilih adalah ketua BPM fakultas, Ketua SM fakultas dan ketua UKM. Ternyata setelah suara semua masuk, salah seorang pengurus SMUI memprotes jumlah suara yang masuk. Menurutnya UKM khusus tidak berhak memilih. Dalam SMUI UKM dibagi menurut jenis kegiatannya, yaitu UKM kesejahteraan mahasiswa (KOPMA), UKM lingkungan (MAPALA dan Pramuka), UKM olah raga, UKM Kesenian (Mahawaditra, Liga tari, Marching band) dan UKM khusus (Menwa).

Apa boleh buat, pemilihan suara harus diulang, setelah mencapai kata sepakat bahwa UKM khusus tidak mempunyai hak suara. Ternyata kericuhan terjadi lagi. Ketika akan dilangsungkan pemasukan suara terjadi lagi kesalahan interpretasi mengenai hak suara bagi UKM. Ada pihak yang menginginkan bahwa yang memberikan suara adalah ketua UKM itu sendiri, bukan ketua komisi suatu bidang dalam UKM itu atau orang orang yang mendapat mandate dari ketua UKM.

Masalah ini mendapat perdebatan yang sangat keras. Masing-masing mempertahankan prinsipnya. Akibatnya Novian mengancam mengundurkan diri dari jabatannya, jika masalah ini tidak segera diselesaikan oleh para pengurus SMUI. Akhirnya setelah mengalami debat yang lama masalah ini dapat diselesaikan. Proses pemilihan ketua harian SMUI dimulai. Akhirnya Chandra M. Hamzah, mantan komandan Menwa UI dan mantan kerabat kerja kerja SKK Warta UI terpilih menjadi ketua harian SMUI periode pertama, yang masa jabatannya satu tahun. (Nooryanto/RS) (Sumber: SKK Warta UI No.53, Tahun XIV, Desember 1991)

February 26, 2009

Firdaus Artoni Ketua Umum

Filed under: Warta UI — rani @ 9:54 am

Hari-hari mendatang Firdaus artoni, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) ’86 mungkin akan semakin sibuk. Kegiatannya semakin menumpuk sejak ia terpilih sebagai ketua Umum Senat Mahasiswa (SM) UI periode 91-92, dan mulai aktif  1 November 1991. Selama satu bulan ini sibuk menyusun pengurus SMUI yang baru saja terbentuk. Untuk mengetahui lebih jauh tentang SMUI ini serta harapannya terhadap mahasiswa UI, Rudhy Suharto dari SKK Warta UI menemuinya di Asrama Mahasiswa UI Pegangsaan Timur Jakarta.

SMUI terbentuk satu tahun setelah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) No.0457 dilayangkan ke perguruan tinggi. “Karena kita memerlukan waktu untuk memproses masalah struktur dan pemilu,” begitu Firdaus membuka pembicaraan. Masalahnya adalah adanya perbedaan antara mahasiswa dan pimpinan UI. Karena pimpinan berpatokan pada aturan dan kita (Forkom) berpatokan pada aspirasi. Sedangkan antara aspirasi dan aturan sepertinya ada perbedaan.

“Yang paling agak lama bertahannya, yaitu masalah pemilu raya untuk ketua harian,” ujar mahasiswa yang lahir 30 September 1967 ini. Tapi kemudian pimpinan UI mengerti akan aspirasi mahasiswa ini. Selanjutnya pada tanggal 5 Agustus lalu dibuat Memorandum Kesepakatan.

Konsep SMUI yang dirancang oleh Forkom antara lain menyatakan bahwa di dalam lembaga SMPT itu harus ada eksekutif dan legislative.”Kita sudah sepakat bahwa katua umum itu legislative. Sedangkan ketua harian itu eksekutif,” ungkap pengagum Napoleon Bonaparte ini.

Dalam konsep itu, yang mewakili mahasiswa UI ke luar dan ke dalam adalah ketua harian. Sedangkan di SK Rektor No.108/109  dicantumkan bahwa ketua harian tidak berhak keluar. Hanya ada catatan bahwa dia bisa keluar dengan mandate ketua umum. Sedangkan ketua umum karena legislative, secara teknis tidak mesti berhak ke luar dan

ke dalam. “Tapi dia yang bertanggung jawab, ya,” tambah calonn dokter ini. Jadi bila terjadi apa-apa, yang bertanggung jawab tetap ketua umum.

Masa-masa awal kepengurusan, memang merupakan masa yang paling berat buat SMUI. Sepuluh tahun terakhir ini mahasiswa dikungkung oleh fanatisme fakultas. “Yang penting kita (SMUI) dapat bersikap adil dan netral dalam menyelesaikan masalah-masalah antar fakultas,” ujar mantan Ketua Panitia Kegiatan Ramadhan ’87 mesjid ARH UI ini. Menurutnya, SMUI yang memiliki presidium yang terdiri dari 11 fakultas itu harus benar-benar kompak.”Jadi integritas UI itu harus ditonjolkan lagi.” Ujarnya.

Ia pun sangat berharap banyak terhadap mahasiswa UI.”Kita sangat mengharapkan keterlibatan langsung mahasiswa dalam SMUI. Dalam arti dukungan dalam program, dukungan dalam konsep keterikatannya secara moral dan fisik, dan kepada pengurus SMUI kita hilangkan fanatisme fakultas, kita benar-benar mencerminkan UI,”tandas anggota badan Riset Forum Studi Islam FK ini. Di samping itu, ia pun berharap kepada pimpinan UI, agar sedikit lebih memberi keleluasaan dibandingkan dulu (RS).

(sumber: SKK Warta UI No.53 Tahun XIV Desember 1991)

 

February 25, 2009

Selamat Datang SMUI

Filed under: Warta UI — rani @ 5:02 pm

Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) telah terbentuk di kampus ini. Suatu proses yang sangat lamban sebenarnya apabila dibandingkan dengan pembentukan SMPT di universitas-universitas lain. Keterlambatan ini menjadi menarik karena keluar dari tradisi kepeloporan UI, entah itu dalam hal gagasan otonomi perguruan tinggi, kerjasama perguruan tinggi dengan swasta atau perusahaan-perusahaan, sampai urusan perubahan-perubahan Penataran P-4.

Keterlambatan ini menurut saya, tidak hanya karena “mahasiswa UI menjadi kapitalis dan lemah kepekaan sosialnya”, seperti yang sering dituduhkan orang selama ini. Ada aspek lain yang sering luput dicermati yaitu perubahan-perubahan mahasiswa UI dekade 1970-an sampai 1980-an. Perubahan-perubahan pada dekade ini perlu dicermati lebih jauh, karena pada masa inilah mahasiswa UI mengalami perubahan-perubahan mendasar. Ada faktor internal dan eskternal yang saling berpengaruh mendorong perubahan mendasar tersebut.

Aspek eksternal secara politik adalah dibubarkannya Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI). Berhubung DMUI ini dibubarkan dengan pendekatan politik yang tidak sesuai dengan iklim kampus, maka problem politik menjadi agenda persoalan yang mendasar di kalangan mahasiswa UI. Oleh karena itu penataan kelembagaan mahasiswa di kampus, seperti kebijakan NKK/BKK yang walaupun secara konsepsional mempunyai relevansi kuat dengan hakekat kehidupan kampus, kurang memenuhi sasarannya, karena problem politik tidak mampu diselesaikan dengan konsep NKK/BKK tersebut.

Aspek eksternal lain adalah transformasi sosial masyarakat Indonesia khususnya Jakarta, pada decade 1970-an sampai 1980-an. Kuliah di UI tidak saja dianggap sarana mobilitas vertikal dengan diperolehnya gelar-gelar akademis, melainkan juga mengerasnya obsesi profesionalitas dan mulai tumbuh-kuatnya sikap-sikap pragmatis dalam memandang kehidupan.

Problem politik dan kenyataan sosiologis tersebut, ditambah interaksi sosial dan gagasan antar mahasiswa UI yang berkurang mendorong pelemahan solidaritas mahasiswa UI. Hampir dua dekade proses ini berlangsung, sehingga persoalan ini mengeras dan terstruktur sedemikian rupa. Format-format baru kesadaran yang terbentuk adalah pengedepanan problem politik yang di atasnya terbangun kesadaran-kesadaran baru. Di satu sisi obsesi profesionalitas semakin kuat dan di sisi lain, sikap pragmatis dalam memandang kehidupan juga menguat. Kita juga melihat idealisme-idealisme yang tak mampu diturunkan dalam tingkat perilaku sosial.

Ketika Warta UI menyelenggarakan seminar “Gaya Hidup Mahasiswa UI” beberapa waktu yang lalu yang disambut dengan antusias oleh mahasiswa, seperti pada acara-acara musik di balairung, menjadi agenda renungan yang menarik. Seminar yang menggugat eksistensi mahasiswa UI dan dibanjiri itu sepertinya menunjukkan adanya indikasi baru di kalangan nahasiswa UI yaitu mulai adanya kesadaran untuk mempertanyakan dirinya sendiri dan peranannya.

Arus kesadaran baru ini seakan terlihat menggelinding secara perlahan dalam forum-forum dan aksi-aksi forkom SM-BPM, UI Cup, TIG,maupun kasus “gubuk satu milyar” mengindikasikan munculnya kesadaran baru yang secara tidak langsung mempersoalkan proses yang berlangsung selama dua dekade lalu.

Akan tetap berhubung proses pelemahan solidaritas mahasiswa UI itu telah terstruktur sedemikian rupa, dengan persoalan-persoalan eksternal, maka benang solidaritas yang dicoba dibentangkan kawan-kawan di Forkom UI, tidaklah dengan mudah menggusur problem yang telah mengeras tersebut.

Kerja besar yang harus segera dihadapi tentunya adalah menghembuskan angin solidaritas mahasiswa UI atau persatuan UI dalam level mahasiswa UI secara keseluruhan. Namun permasalahannya sebelum angina itu berhembus lebih jauh adalah sampai sejauh manakah diskusi dan gugatan terhadap posisi dan peranan mahasiswa masa kini dan ke depan telah mampu menghasilkan solusi-solusi baru. Persoalan ini segera mendesak untuk didiskusikan lebih jauh oleh mahasiswa UI karena solusi-solusi mahasiswa UI masa lalu tentunya kurang relevan apabila diterapkan pada masa kini dan  ke depan. Hal ini berkaitan dengan perubahan-perubahan situasi sosial ekonomi dan politik yang cepat pada masa sekarang yang tentunya hal ini tidak dialami oleh mahasiswa UI masa lalu.

Dengan demikian redefinisi peran perlu dilakukan. Hal itu baru dapat dilakukan, apabila mahasiswa UI mampu keluar dari belenggu mitos sejarah mahasiswa UI masa lalu. Solidaritas mahasiswa UI akan tercipta dan berhembus dengan keras apabila di dalam solidaritas tersebut terdapat solusi-solusi baru yang merupakan redefinisi peran kita dan hal itu tentunya harus bermanfaat bagi mahasiswa UI secara keseluruhan. Mudah-mudahan reformasi ini dapat menggelinding terus, yang dapat meningkatkan solidaritas mahasiswa UI

Selamat datang SMUI.

(Opini Kholid Novianto, Ketua BPM FSUI 1991, dalam SKK Warta UI No.53 Thn XIV Desember 1991)

Setumpuk Harapan untuk SMUI

Filed under: Warta UI — rani @ 8:48 am

Catatan: Institusi organisasi kemahasiswaan di UI sempat berganti-ganti nama sesuai dengan semangat jamannya. Tahun 1960-1970 an kita kenal Dewan Mahasiwa UI (DMUI). Kemudian berubah sesuai dengan selera sang Menteri Pendidikan & Kebudayaan. Terakhir kini kita mengenalnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Terbentuknya Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) mengakhiri masa kevakuman organisasi kemahasiswaan tingkat universitas. Sepuluh tahun berlalu sudah masa dimana kesatuan mahasiswa UI yang utuh hampir tidak ada. Kini dengan terbentuknya SMUI, mahasiswa UI sebagai satu kesatuan itu hampir menjadi sebuah kenyataan kembali.

Penting untuk dicatat, bahwa lahirnya SMUI memang akan mengkongkritkan konsep mahasiswa UI yang selama ini mengawang-awang dalam konsep yang abstrak. Bahkan selama sepuluh tahun ini konsep mahasiswa nyaris hilang. Yang ada adalah mahasiswa fakultas. Generasi mahasiswa sekarang tidak memiliki rasa ke-UI-an sebagai satu kelompok. Hal itu terjadi karena semua mahasiswa yang kini terdaftar secara administratif sebagai mahasiswa UI disosialisasi hanya di fakultas masing-masing. Hanya segelintir mahasiswa saja yang sadar bahwa dirinya adalah mahasiswa UI.

Tugas utama SMUI ini adalah membangkitkan semangat dan rasa persatuan mahasiswa UI. Kegiatan yang paling dini yang perlu disadarkan adalah kepedulian mereka akan kehadiran SMUI sendiri. Sampai kini kelihatannya masih banyak mahasiswa UI yang belum tahu bahwa kini sudah terbentuk SMUI. Bahkan kalau pun mereka tahu bahwa SMUI sudah ada, kehadiran SMUI tidak membuat mereka bergeming dari keasyikan masing-masing.

Pertanyaan yang patut dilontarkan kepada SMUI lagi adalah siapa sebenarnya mahasiswa UI itu? Apakah mereka itu mahasiswa yang berambut gondrong – yang kini sedang trendy, mahasiswa yang datang ke kampus hanya untuk belajar lalu pulang, mahasiswa yang aktif mengembangkan bakat di unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang sering lupa akan tugas kuliahnya? Ataukah mereka itu yang biasa nongkrong dan main kartu di kafetaria, atau yang aktif di SMUI?

Pertanyaan ini penting untuk dilontarkan agar SMUI representatif bagi mahasiswa UI. Mahasiswa UI yang diwakili oleh mahasiswa aktivis di SMUI jelas adalah semua golongan mahasiswa yang disebutkan di atas. Untuk itu aspirasi mereka semua harus terwakili dalam SMUI.

Kita berharap apa yang diperjuangkan para mahasiswa aktivis tentang konsep SMPT yang harus mengakar ke mahasiswa, harus benar-benar diterapkan secara konsisten. Paling tidak salah satu indikator untuk bisa melihat mengakarnya SMUI adalah pada program kerja yang kini sedang digodognya. Mudah-mudahan mereka bisa mewujudkan kegiatan-kegiatan yang dapat mewakili semua kelompok mahasiswa yang ada di UI.

Beberapa pengalaman bisa menjadi guru yang baik, bahwa pernah ada organisasi-organisasi mahasiswa akhirnya hanya menjadi elitis. Artinya ia hanya merupakan tempat berkumpulnya segelintir mahasiswa. Padahal sebetulnya konsep organisasi mereka itu mewakili mahasiswa kebanyakan. Hal itu terjadi karena program kerja yang dijalankan oleh aktivis organisasi itu tidak mengakar ke mahasiswa yang menjadi massanya.

Hal di atas penting dilontarkan, karena tuntutan yang diperjuangkan para aktivis mahasiswa dengan gigih tentang konsep SMUI harus mengakar ke mahasiswa. Kita kini bisa menagih janji pengurus SMUI yang baru. Tunjukkan apa yang dituntut dan diperjuangkan para aktivis itu benar-benar dilaksanakan secara konsekuen. Kini giliran massa mahasiswa UI yang menuntut agar SMUI benar-benar mengakar ke mahasiwa. (Tajuk Rencana SKK Warta UI Nomor 55 Tahun XIV, Desember 1991)

February 24, 2009

Senat Mahasiswa Versi UI

Filed under: Warta UI — rani @ 3:53 pm

Rektorat Kampus UI Depok 25 Oktober 1991, tepatnya pukul 14.30 WIB. Sebuah Surat Keputusan Rektor No.123Tahun 1991 yang menentukan bagi dunia kemahasiswaan UI ditandatangani. Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) terbentuk sudah. Tak kurang dari 20 perwakilan mahasiswa, terdiri dari para Ketua Senat Mahasiswa (SM), Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), dan para Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) hadir menyaksikan peristiwa yang bersejarah ini.

Sedangkan melalui siding pleno para ketua yang terdiri para Ketua BPM se UI behasil pula memilih Ketua Umum SMUI yang pertama yaitu Firdaus Artoni, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) angkatan 1986.

Berakhir sudah perjalanan panjang mencari bentuk yang tepat untuk SMUI. Hari-hari yang melelahkan di meja perundingan telah usai. Memang proses pembentukan SMUI memerlukan waktu setahun lebih, sejak dilayangkannya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0457/O/90 tentang Pedoman Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, 28 Juli 1990.

Pelaksanaan SK No.0457 itu memang tidak berjalan mulus di UI. Para mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) UI sempat menolak konsep Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT). Alasan utamanya adalah, tulis Suara Mahasiswa No.1 (media Komunikasi Forkom) pertama, bahwa konsep SMPT tidak mengakar ke mahasiswa umum, sebab garis hubungan antara SMPT dengan lembaga-lembaga kemahasiswaan lain hanya bersifat koordinatif belaka. Kedua, hilangnya jiwa yang diinginkan SK tersebut. Yaitu organisasi dari, oleh dan untuk mahasiswa.. Hal ini tercermin dari tidak adanya fungsi control dari mahasiswa yang dijalankan oleh badan legislatif.

Akibatnya para Ketua SM dan BPM mendapat undangan untuk ‘berdialog’ dengan pimpinan UI. Seusai ‘dialog’ itu , akhirnya forkom UI menyetujui dibentuknya SMPT. Tampaknya Forkom UI melihat peluang yang bisa dimanfaatkan. Celah-celah itu tampak dalam fasal 16 ayat 2, SK Menteri P dan K itu yang berbunyi “ Petunjuk teknis pelaksanaan keputusan ini ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi’.”Kemudian kita(Forkom, red) pegang fasal ini,” ungkap Firdaus yang juga Ketua BPM FK.

Ternyata persolan belum selesai samapi disitu. Adany perbedaan antara mahasiswa dan pimpinan UI membuat mulur proses pembentukan SMUI ini. Ganjalannya tidak lain adalah adanya keinginan dari Forkom untuk mengadakan pemilu langsung oleh mahasiswa dalam memilih ketua Harian SMUI. Menurut Kholid Novianto, Ketua BPM FS, dengan system pemilu maka kepemimpinan itu kuat dan mengakar ke mahasiswa, tidak hanya mengakar di kalangan elite.

Pemilu yang ingin digolkan Forkom bukanlah hal yang mengada-ada. Dalam pemilihan calon-calon anggota BPM dan SM fakultas di UI, dilakukan dengan cara pemilu. Pola ini tampaknya yang ingin ditiru olehForkom untuk memilih ketua harian SMUI. Tapi pimpinan UI mempunyai pertimbangan sendiri. Menurut dr. Merdias Almatsier, Pembantu Rektor III, yang lebih penting adalah apakah orang yang duduk dalam jabatan itu mampu tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Jadi persoalan akar mengakar ke mahasiswa adalah apakah kegiatan suatu organisasi itu bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa. Itu tergantung pengurusnya, apa pun cara memilihnya, selama pengurusnya kurang memiliki integritas kepribadian dan leadership tetap saja tidak berjalan, jelas Merdias panjang lebar.

Untuk mempertemukan pendapat ini, maka Forkom melakukan serangkaian pertemuan baik di kalangan intern Forkom maupun dengan pimpinanUI. Proses bargaining ini memakan waktu berbulan-bulan. Sampai akhirnya pimpinan UI menyetujui adanya pemilihan umum bagi Ketua Harian SMUI. Namun Pelaksanaan pemilu itu baru akan dislenggarakan setelah tahun 1994.

Untuk sementara dalam memilih ketua harian dilakukan dalam Sidang Pleno pemilihan, yang terdiri dari Ketua Umum, para Ketua dan Tim pendamping. Sebabnya adalah kondisi internal dan eksternal yang belum memungkinkan. Seperti pemilu Indonesia tahun 1992 dan Sidang Umum MPR tahun 1993.

Akhirnya, semua persetujuan ini tertuang dalam Memorandum Kesepakatan tentang SMUI. Memorandum itu ditanda tangani oleh Pimpinan UI, Forkom, dan UKM tanggal 5 Agustus 1991. Ternyata tidak hanya mengenai pemilu yang berhasil digolkan Forkom. Memorandum kesepakatan itu isinya juga mengenai susunan kepengurusan SMUI

Susunan pengurus SMUI memang agak berbeda dengan SK Menteri P dan K No.0457. Contohnya , dalam SK 0457 ada dua lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas, yaitu SMPT dan UKM. Sedangkan dalam SMUI hanya satu, untuk itu UKM masuk ke dalam struktur SMUI. Jadi, susunan pengurus SMUI terdiri dari Ketua Umum, para Ketua (seluruh ketua BPM), Ketua Harian, selanjutnya ada sekretaris dan bendahara. Di samping itu masih ada komisi dan tim pendamping (seluruh Ketua SM dan UKM).

Ketua Umum SMUI berasal dari salah satu Ketua BPM fakultas, yang dipilih pada siding Pleno para ketua. Ketua umum dan para ketua bertanggung jawab kepada Rektor UI. Ketua Harian dan Tim Pendamping sebagai badan pelaksana SMUI bertanggung jawab. Kepada Ketua Umum. SMUI. Hubungan UKM dan SMUI merupakan hubungan koordinasi, demikian juga hubungan BPM fakultas dan SM fakultas dengan SMUI.

Ketua Harian dipilih dari mahasiswa yang bukan ketua BPM, Ketua SM, UKM, atau ketua kelompok UKM seperti olahraga, seni, Menwa, penalaran dan lain-lain. Kini SMUI telah mempunyai bentuknya yang nyata, tinggal bagaimana para ‘petinggi’ SMUI itu mampu menjalankan fungsinya dengan baik. (Rudhy Suharto dalam Warta UI No.53 Tahun XIV Desember 1991)

February 23, 2009

Hillary dan Ponari

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:54 pm

Minggu lalu pemberitaan di media massa di Indonesia diramaikan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton ke Indonesia serta dukun cilik Ponari dari Jombang Jawa Timur. Dua dunia  yang berbeda,  namun “makanan empuk” bagi para pencari berita,  ada beberapa kesamaan dan paradoks terdapat pada keduanya tetapi luput dari perhatian media massa.

 

Kedatangan Hillary disambut dengan kibaran bendera kecil AS dan Indonesia yang dibawa oleh para murid SD Menteng, dimana Presiden AS Barack Obama pernah bersekolah. Para murid tersebut seusia dengan Ponari. Selain disambut para murid tentu saja dikawal dengan ketat oleh pihak keamanan pemerintah Indonesia, karena sebelumnya ada demo dari Hizbut Thahir Indonesia (HTI) yang menentang sikap AS terhadap kasus yang terjadi di Gaza Palestina. Bahkan konon kabarnya, Salah satu Tokoh Islam Dr. Din Samsudin menolak undangan makan malam bersama Hillary. Padahal Hillary sudah menyatakan penghargaan dan pujian  pemerintah AS terhadap negara Indonesia, sebagai negara demokrasi yang mayoritas penduduknya bergama Islam dan punya peran besar dalam percaturan dunia di masa depan, sehingga AS memrioritaskan sebagai sedikit dari negara-negara Asia  yang patut dikunjungi. Dalam kesempatan bertemu dengan Hillary, Presiden SBY pun menyatakan kekecewaannya, karena AS tak kunjung merealisir kemerdekaan negara Palestina. Suatru sikap  yang mencerminkan negara-negara Islam lainnya terhadap pertikaian Palestina-Israel.

 

Sementara itu, kasus Ponari si dukun cilik, yang berusia 10 tahun dan masih duduk di kelas 3 SD sudah dalam tahap penanganan  dan diamankan pihak kepolisian, setelah beberapa waktu lalu membuka praktek pengobatan telah menyebabkan jatuhnya 4 orang korban meninggal akibat berdesak-desakan dalam upaya mendapatkan air obat.  Dalam pemberitaan di salah satu stasiun televisi, terlihat Ponari tengah digendong dan bermain-main bersama pak polisi. Bahkan pihak bupati Jombang,  memberikan pernyataan untuk membuat sarana tempat penampungan air di kampung Ponari, supaya memudahkan bagi pengunjung yang meminta air obat dari Ponari. Seperti diketahui, Ponari setelah tersambar gledek mempunyai batu ajaib yang dianggap keramat dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Menteri Kesehatan menyatakan  penduduk yang menyakini air obat Ponari sebagai suatu sikap yang masih percaya kepada hal mistik, suatu keyakinan yang dianut oleh masyarakat terbelakang. Ketika kemudian Ponari membuka praktek kembali, satu stasiun televisi memperlihatkan tingkah laku Ponari  yang baru. Satu tangannya memegang batu ”ajaib” yang dicelup-celupkan kepada orang-orang yang membawa air, sementara satu tangannya lagi memencet tombol keyboard sebuah laptop dan pandangan serta konsentrasinya  tertuju ke layar monitor laptop tersebut.

 

Kita menganggap bahwa hidup keberagamaan kita sudah sesuai dengan ajaran agama dan sudah pula menganut pola kehidupan modern. Ternyata di kalangan masyarakat kita, masih saja ada kepercayaan dan pola hidup yang bertentangan dengan ajaran agama dan kehidupan modern. Jombang yang katanya tempat tumbuhnya pesantren dan dipimpin para kiai yang berskala nasional, ternyata tidak ada reaksi terhadap fenomena kasus Ponari yang mengarah kepada syirik.Pihak aparat pun, alih-alih melakukan penertiban, tetapi yang terjadi turut melestarikan keganjilan yang terjadi di masyarakat. Ketika orang luar memuji-muji kebaikan kehidupan keberagamaan dan penyelenggaraan kehidupan bernegara, tetapi di sisi lain media menyuguhkan sesuatu yang sangat bertentangan. Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlalu bagus untuk mempertontonkan yang bersifat paradoksal, karena akan mengakibatkan masyarakat menjadi ”sakit”. Sama seperti kita membiarkan korupsi, lama kelamaan orang akan menganggap biasa terhadap orang yang melakukan korupsi dan kini menjadi salah satu ”penyakit” yang ada di masyarakat kita. Ataukah fenomena ini merupakan suatu ciri, bahwa masyarakat kita sudah ”sakit”?

 

  

 

 

Bung Hatta

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:06 am

Sejak mengundurkan diri sebagai wakil Presiden pada akhir 1956 karena hendak memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk melaksanakan konsepsinya, Bung Hatta hanya satu kali muncul ke hadapan publik, yaitu melalui tulisannya “Demokrasi Kita”. Di dalam tulisan itu Bung Hatta antaranya mengatakan bahwa beliau mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden karena beliau tidak dapat meluruskan jalan demokrasi yang ditempuh oleh Sukarno dan  karena hendak memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk melaksanakan konsepsinya agar terbukti salah tidaknya.

 

Baru setelah bangkitnya para mahasiswa menyerang Sukarno dan aspirasi demokrasi berlontaran dalam masyarakat, Bung Hatta muncul lagi. Dimulai dengan tulisan berjudul “Pancasila Jalan Lurus” yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bung Hatta juga membuka seminar Angkatan 66 di Jakarta dan lain-lain. Tentu saja apa yang dikatakan beliau itu mendapat tempat dalam pers, sehingga ketika melantik Men/Pangau Rusmin Nurjadin, Bung Karno menyindirnya.”orang yang sudah lama tidak bicara sekarang mewekwek terus”.

 

Kata beliau, Pemerintah Demokrasi Terpimpin yang dilaksanakan oleh Sukarno tidak ada bedanya dengan diktatur. Dan pemerintah diktatur tidak akan lama karena kalau sang diktator meninggal pemerintahannya akan bubar. Malah banyak yang ambruk sebelum sang diktator meninggal. Menurut beliau, pemerintah yang paling baik adalah pemerintah demokrasi karena berdasarkan prinsip dan bukan tergantung kepada orang. Waktu ditanya apakah bersedia kalau diangkat menjadi presiden atau wakil presiden, beliau menjawab, beliau bersedia  menerima pengangkatan itu kalau diberi tanggung jawab untuk membangun negara. “Tetapi karena saya sudah tua, niscaya akan meminta dibantu oleh angkatan muda”.

 

Beliau juga menyampaikan sedang merencanakan membentuk partai baru yang akan diberi nama Partai Demokrat Islam. Membentuk partai menurut Bung Hatta, bukanlah untuk mencari kedudukan atau kesempatan. Tugas partai adalah mendidik rakyat supaya mempunyai rasa tanggung jawab, karena itu yang mendidiknya pun harus orang yang besar rasa tanggung jawabanya. Kehidupan partai politik Indonesia harus sehat. Jangan sampai  orang partai yang karena pandai bicara diberi kedudukan eksekutif, karena yang duduk di lembaga eksekutif haruslah orang-orang yang ahli.

 

Ketika ditanya apakah partai dapat menyelamatkan bangsa dan negara kita dari kemelut politik yang sekarang dialami. Bung Hatta agak lama merenung sebelum menyahut, “Peranan partai sangat penting dan bersifat asasi dalam masyarakat demokrasi. Tetapi partai-partai di Indonesia selama ini belum memperlihatkan rasa tanggungjawab yang besar. Mereka lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri atau partainya, sehingga nasib rakyat tidak mereka bela”.

 

Ketika ditanya siapa yang bisa menyelamatkan bangsa? Bung Hatta menjawab Tentara. Hal ini menjadi pertanyaan, bagaimana bisa terjadi, sedangkan saat ini saja tentara melarang pergi Bung Hatta pada acara perayaan Hari Koperasi di Tasikmalaya. Keheranan berikutnya yaitu Bung Hatta menyatakan kesanggupannya memimpin negara kalau diserahi tanggung jawab untuk membangun. Siapa yang akan  menyerahkan tanggungjawab (yang berarti kekuasaan) kepada orang lain? Kekuasaan politik dimanapun dan kapan pun harus direbut, dan Bung Hatta dari berita-berita di media massa tidak akan diberi kesempatan untuk merebutnya. Pembentukan Partai Demokrat Islam sudah lama menjadi wacana dan orang yang arif sudah lama tahu bahwa penguasa tidak akan memberi izin..

 

Dari cerita di atas, disimpulkan Bung Hatta bukan orang yang dapat diharapkan untuk bertarung merebut kekuasaan untuk membangun demokrasi. Beliau menunggu orang memberikan kekuasaan kepadanya. Kalau diingat keputusan beliau  dahulu mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden untuk memberikan kesempatan kepada Sukarno melaksanakan konsepsinya pun bukan kebijakan yang tepat. Karena sama saja dengan memberikan kesempatan kepada Sukarno untuk merusak tatanan negara demokrasi.

 

Ketika dalam suatu kesempatan bertemu dengan menantu Bung Hatta Prof.Dr. Sri-Edi Swasono (suami Prof.Dr. Meutia Hatta) dan membicarakan tentang pemikiran Bung Hatta terhadap tentara, Sri-Edi menjelaskan Bung Hatta mempunyai ikatan emosional dengan tentara. Beliaulah yang menandatangani keputusan pembentukan TNI pada tanggal 5 Oktober 1945. Bung Karno enggan menandatanganinya karena pada waktu itu ada tantangan dari pihak lasykar yang telah banyak dibentuk oleh berbagai kelompok masyarakat.

(sumber: Buku ‘Hidup Tanpa Ijazah’ karya Ajip Rosidi)

 

February 20, 2009

Profesor 4 : Sialnya Menjadi Orang Jawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:34 pm

Tidak selamanya menjadi seorang Jawa yang menjadi kelompok etnis terbesar di wilayah Nusantara menyenangkan dan mendapat berbagai kemudahan. Seorang Guru Besar UI, yang mempunyai reputasi dan berpengalaman diperbantukan sebagai birokrat di lingkungan pemerintahan mengalami hal yang tidak mengenakkan.

Sang Guru Besar ini selama beberapa waktu lamanya sempat menjabat posisi penting di lingkungan salah satu institusi pemerintahan dan tahu betul seluk beluk birokrasi. Setelah tidak menjabat, kembali lagi mengajar di almamater dan turut aktif menjadi anggota Senat Akademik Universitas.

Pada waktu SBY akan membentuk pemerintahan baru, seorang alumni UI yang pernah menjadi anggota kabinet serta mempunyai hubungan yang baik dengan SBY, mengusulkan supaya sang profesor memegang jabatan salah satu kementerian, dengan alasan sudah menguasai bidangnya serta tidak diragukan integritasnya. Pengusulannya semata-mata didasarkan pada profesionalisme, bukan karena kebetulan sesama profesor dan sesama alumni.

Bagaimana tanggapan SBY atas usulan tersebut? SBY kurang lebih menjawab seperti ini.”Mohon maaf, sudah banyak orang Jawa yang duduk dalam kabinet yang akan saya bentuk. Saat ini, yang diperlukan adalah seorang menteri yang berasal dari Kalimantan.” (19/02/09)

February 18, 2009

Sumbangan Untuk Almamater

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:49 pm

Dalam suatu kesempatan tatkala akan makan siang di luar kampus, di halaman Gedung Rektorat bertemu dengan Imam Budidarmawan Prasodjo, teman seangkatan  di FISIP, bersama dengan Gitayana Budiardjo istri Imam serta ditemani sepupu Gita, akan menghadap Rektor untuk membicarakan sumbangan pembuatan satu ruangan yang berisikan informasi sejarah UI dari masa lalu hingga masa kini. Dia (Imam) juga meminta bantuan, apa yang bisa disumbangkan untuk merealisir gagasannya tersebut. Tapi pembicaraan terputus karena Imam menerima telpon.

 

Teman yang satu ini memang luar biasa prestasinya.. Masuk Departemen Sosiologi, lalu menjadi staf pengajar di FISIP. Menyelesaikan doktornya di salah satu universitas di  Amerika Serikat. Menikah dengan Gita, anak semata wayang almarhumah Prof.Miriam Budiardjo, mantan dekan FISIP, penulis buku Dasar-dasar Ilmu Politik yang telah mengalami cetak ulang ke-29. Dikaruniai 2 anak yang sudah memasuki usia remaja. Selain mengajar,  Imam juga mempunyai yayasan Nurani Dunia yang bergerak membantu kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dengan yayasan ini, namanya berkibar dan dikenal secara luas baik di kalangan elite tingkat nasional maupun internasional. Pergaulannya sangat luas dan sering dimintai komentarnya mengenai keadaan di masyarakat dari sudut pandang sebagai seorang sosiolog. Namanya dikenal luas tatkala dia bersama dengan Faisal Basri tahun 2002 menjadi moderator debat calon Rektor UI yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi Indosiar. Di FISIP UI selain mengajar juga salah seorang pendiri dan pengurus CERIC.

 

Kembali ke soal sumbangan ruangan sejarah UI, tampaknya dia sangat merespon positif gagasan Rektor UI yang ingin membangkitkan jatidiri UI sebagai universitas yang terkemuka di kawasan regional. Baginya mudah saja untuk mencari dana merealisir gagasannya tersebut, tanpa harus mengeluarkan dari kocek sendiri, karena mempunyai sponsor dan relasi yang siap untuk membantu di bidang pendanaan.

 

Seperti juga yang selalu dikatakan Rektor UI dalam berbagai forum, banyak institusi yang ingin membantu secara finansial kepada UI, tetapi di pihak UI agak hati-hati untuk menerimanya, karena khawatir sumbangan yang diberikan mempunyai ikatan tertentu, ataupun akan merusak citra UI di kemudian hari. Ketua ILUNI Sofyan Djalil, dalam suatu kesempatan pernah mengemukakan mempunyai sumber-sumber pendanaan yang siap mengucurkan dananya bagi kepentingan pendidikan, baik secara kelembagaan maupun perorangan/pribadi. Dia memberikan contoh ada seseorang yang ingin mewakafkan hartanya sampai bernilai milyaran rupiah, tetapi tidak tahu harus diberikan kepada siapa. Di masyarakat orang-orang seperti ini banyak sekali. Tinggal dibutuhkan kejelian dan kepintaran  dalam menangkap peluang tersebut.

 

Tampaknya UI belum pintar untuk menangkap peluang menangkap dana tersebut. Sewaktu acara pemberian doktor honoris causa kepada Taufiq Ismail, sempat bertemu dengan Fadlizon, mantan mahasiswa teladan UI 1994, alumni Sastra Rusia FIB UI, yang dekat dengan keluarga Sumitro Djojohadikusumo. Menurutnya Universitas Gajah Mada (UGM) lebih sigap menangkap sumbangan dana dari Keluarga Sumitro Djojohahdikusumo dan telah memanfaatkannya untuk kepentingan kegiatan pendidikan.  Sementara UI, baru sampai dalam tahap menyelenggarakan sayembara disain gedung perpustakaan pusat yang dana  pembangunannya  dari  Yayasan keluarga Hasyim Djojohadikusumo. Keluarga ini juga sebetulnya memberikan beasiswa kepada beberapa dosen Sastra Jawa/Daeraha FIB untuk melanjutkan pendidikan doktor  di Belanda dengan biaya mencapai milyaran rupiah. Tetapi tampaknya ada sedikit masalah. Seharusnya para calon doktor tersebut sudah berada di Belanda, tetapi hingga pertengahan Februari masih terlihat di kampus Depok.  Fadlizon sangat menyayangkan keterlambatan UI dalam menangkap peluang sumbangan ini. Dia pantas merasa masygul dan sedikit kecewa, karena Fadlizon mempunyai andil mempersuasi keluarga Sumitro Djojohadikusumo untuk mengucurkan sumbangan bagi UI.