January 23, 2009

Turki dan Kita

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:47 pm

Hari Kamis (22/01) UI kedatangan tamu Menteri Pendidikan dari Turki H.E. Assoc. Prof. Huseyin Chelik dan rombongan, ditemani Dubes Turki untuk Indonesia, Ayden Evirgen dan Kepala PASIAD Demir Timurtasjh. Kedatangannya dalam upaya menjalis kerjasama lebih erat lagi antara Turki dengan UI. Rektor UI pernha mengunjungi Turki tahun lalu. Juga UI telah mengadakan kerjasama dengan lembaga pendidikan Turki yang ada di Indonesia PASIAD, dimana UI menerima para mahasiswa Turki untuk belajar bahasa di BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), dengan bayaran lebih murah dari para mahasiswa asing lainnya yang belajar di BIPA. Kebijakan itu diambil rektor UI dengan maksud supaya dapat menarik mahasiswa asing belajar di UI. Dimana hal ini akan menaikkan citra dan peringkat UI sebagai satu perguruan tinggi Indonesia yang banyak mahasiswa asingnya.

Pengalaman seorang teman (dosen FIB UI) yang studi di Turki (beberapa tahun silam), pemerintahnya sangat ”pelit” dalam memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing. Untuk menyambung hidupnya, terpaksa dia minta kiriman uang dari tanah air, karena beasiswa yang diterima tidak mencukupi hidup seorang mahasiswa asing. Nilai mata uangnya terhadap dolar sangat rendah. Keadaan dan gaya hidup masyarakat Turki hampis sama dengan negara berkembang Asia lainnya, walaupun dalam beberapa hal mereka selalu mengidentikkan dan menyamakan dirinya sebagai bangsa-bangsa Eropa. (Pemerintah Turki berusaha sekuat tenaga dapat masuk sebagai anggota Uni Eropa, tapi ternyata Masyarakat Uni Eropa belum bisa menerimanya).

Tetapi menurut pengamatan Rektor UI yang tahun lalu ke Turki, kemajuan negara Turki sangat mengesankan sekali. Gaya hidup masyarakat dan suasana kotanya seperti kota-kota Besar di Eropa. Prestasi kesebelasan sepakbolanya sudah mendunia. Turki juga pernah menjadi pusat peradaban Islam dunia dengan kesultanan Ottomannya (walaupun akhirnya diubah menjadi negara sekuler oleh Kemal Attartuk). Dengan menjalin kerjasama dengan Turki, banyak keuntungan yang bisa didapat UI. Paling tidak akan semakin banyak mahasiswa dan juga dosen asing di UI.

Sewaktu kemarin menunaikan ibadah haji, rombongan jamaah haji dari Turki cukup banyak dan menyolok dibandingkan dengan dari negara lain, walaupun masih tetap saja jamaah haji Indonesia paling banyak. Namun demikian ada karakteristik tertentu dari jamaah Turki ini. Misalnya saja tempat menginap mereka, hotelnya sangat mewah (bintang lima) bila dibandingkan dengan tempat menginap jamaah Indonesia, Pakistan dan India. Waktu melaksanakan ibadah haji baik di Mekah maupun Madinah, sangat menyolok terlihat, senantiasa berombongan dan memakai pakaian warna coklat muda. Postur tubuhnya tinggi-tinggi dan agak kebule-bulean. Jadi kalau mereka tawaf, pastilah jamaah dari Indonesia tersisih. Selain itu menurut kabar, para pekerja ataupun kontraktor yang membangun gedung-gedung di Mekah dan Madinah didominasi oleh orang-orang Turki. Bahkan beberapa makanan khas Turki serta restoran bertebaran di Mekah. Dari segi kesejarahan pun konon katanya Turki pernah menjajah negara Saudi Arabia, pada jaman kesultanan Ottoman. Bekas peninggalan ”penjajahan”nya dapat terlihat di mesjid Nabawi. Kalau diperhatikan salah satu kubah dan menara mesjid Nabawi terlihat berwarna hijau tua. Bentuk dan warna tersebut mengacu kepada mesjid terbesar di Turki. Lebih jauh lagi, di Musium nasional Turki tersimpan beberapa helai rambut dan satu gigi Nabi Muhammad yang tanggal waktu perang Uhud. Juga tersimpan pedang Ali Bin Abi Thalib yang ujungnya bercabang dua. Jadi memang pantaslah kalau orang Turki bersikap agak jumawa, karena dari segi sejarah dan kenyataan sekarang ada sesuatu hal yang menjadi kebanggaan bangsanya.

Apa yang bisa ditiru dari Turki?

Semangat untuk menjadi bangsa yang berkelas internasional. Walaupun negaranya menganut sekularisasi, tapi semangat keberagamaannya sangat luar biasa. Mungkin karena sejarahnya yang pernah menjadi pusat peradaban Islam di masa lampau, banyak mengilhami generasi masa kini. Bahasanya memang berbeda dengan rumpun bahasa semit (Arab). Tetapi dengan latinisasi bahasa nasionalnya, mereka cepat menyerap ilmu dan pengetahuan dari Barat. Juga kelebihan lainnya, penerapan demokratisasi dalam pemerintahannya sangat dihargai oleh negara-negara Barat, dibandingkan dengan negara-negara Arab di timur tengah lainnya.