January 30, 2009

Teknologi Sel Punca Indonesia Termaju di Asia

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:58 pm

<

p>Jakarta (ANTARA News) – Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr dr Fachmi Idris, mengatakan bahwa kemampuan individual para dokter Indonesia dalam teknologi sel punca (stem cell) merupakan yang termaju di Asia.

“Bahkan kalangan medik dunia merekomendasikan Indonesia sebagai tempat operasi jantung dengan teknologi sel punca untuk kawasan Asia,” kata Fachmi Idris di Jakarta.

Sel punca dimaknai sebagai sel yang secara umum berada pada tahap amat dini dan punya kemampuan untuk menjadi sel tipe khusus lain, seperti menjadi sel hati, sel kulit, sel saraf, dan sebagainya.Menurut dokter alumni FKUI ini, teknologi dan sarana kesehatan di Indonesia sudah sangat memadai untuk menangani tindakan medis yang diperlukan.

“Dan kualitas para dokter kita juga sudah sangat bagus, tidak kalah dengan kualitas dokter di luar negeri,” kata Fachmi.

Tetapi tren maraknya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri perlu pembenahan yang serius dari sisi pengelolaan non-medis, tambahnya.

“Tentang bagaimana kepuasan pasien itu tercapai, dan masalah pencitraan tentang rumah sakit itu yang harus lebih bagus lagi,” kata ketua umum  PB.IDI periode 2006-2009 itu.

Dokter keluarga

Ia juga mengingatkan perlunya pengembalian peran penting sistem kesehatan di Indonesia, “Harus kembali ke sistem yang terpadu, dan sistem dokter keluarga serta sistem rujukan harus diberlakukan lagi.” Sistem rujukan dan dokter keluarga, masih kata Fachmi, akan menghindarkan penumpukan pasien di dokter spesialis, sebab seharusnya dokter spesialis tidak perlu menangani penyakit yang ringan berupa batuk pilek biasa.

“Dengan sistem dokter keluarga dan sistem rujukan, penyakit-penyakit akan tersaring dengan baik, sehingga hanya pasien dengan penyakit benar-benar berat saja yang akan ditangani oleh dokter spesialis,” katanya.

Selain mendesak revitalisasi peran sistem rujukan dan dokter keluarga, Fachmi juga mendorong agar pemerintah segera merealisasikan asuransi kesehatan bagi semua penduduk Indonesia. “Dengan kemauan politik dan sistem yang tepat, asuransi kesehatan ini jangan lagi cuma jadi cerita, tapi sudah harus diwujudkan,” katanya.

Hal lain yang diinginkan oleh pihak ikatan dokter adalah adanya subsidi di bidang pendidikan kedokteran, dengan tujuan semakin banyak orang Indonesia menjadi dokter dan mengabdi kepada bangsa. (*)

Caleg Berstatus Dosen

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:24 pm

Ketika menghadiri peringatan 100 Tahun Pendidikan Hukum di Indonesia hari Kamis (29/01) di Kampus Fakultas Hukum Depok, seorang teman yang berstatus dosen bercerita tentang teman-temannya yang mengajukan diri menjadi calon legislatif (caleg) dari partai tertentu. Mereka itu sudah lolos dari verifikasi pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU).

 

 

Sebetulnya dosen yang berstatus PNS menjadi caleg atau menjadi pimpinan parpol bukan sesuatu hal yang baru. Pada periode sebelumnya hal demikian memang kerap terjadi. Tetapi kali ini persoalannya berbeda, karena ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi sebelum seseorang menjadi caleg, bahkan parpol yang mencalonkan pun pastinya sudah tahu aturan main merekrut caleg. Aturan tersebut misalnya para caleg (dosen) harus mengajukan pengunduran dirinya sebagai PNS serta harus diketahui oleh pimpinan/atasannya dimana dia bekerja. Kalau ternyata dikemudian hari caleg tersebut tidak terpilih, tidak bisa kembali menjadi pegawai dimana caleg tersebut dahulu bekerja. Dan kalau tidak ada surat tertulis pengunduran dirinya, caleg tersebut bisa dijerat dengan hukuman pidana.

 

Ada peribahasa, sepintar-pintarnya menyembunyikan terasi, pasti akan tercium baunya. Maka tinggal tunggu saja nanti setelah pemilu, adakah dosen yang mengundurkan diri atau terjerat hukum pidana.

Taufiq Ismail dan Sajaknya

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:57 am

Siapa tidak kenal Taufiq Ismail (74), penyair yang telah berhasil merekam dinamika pergantian dari Orde Lama ke Orde Baru, dalam suatu kumpulan puisi yang berjudul TIRANI dan BENTENG. Dalam buku kumpulan puisi itu  tergambarkan peran para mahasiswa dan sivitas akademika UI pada masa pergantian pemerintahan. Alumni Fakultas Peternakan IPB (dahulu bagian dari UI), pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI (1962-1963), Pendiri Dewan Kesenian Jakarta, penerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI. Sempat berkarir di Unilever, tapi jiwa seninya yang begitu kuat sehingga akhirnya lebih berkonsentrasi sebagai penyair dan penggiat kesenian. Pada awal tahun tujuhpuluhan puisi-puisinya diadaptasi dalam bentuk lagu oleh Bimbo. Sejak tahun 2007 menjabat sebagai anggota Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Gajah Mada. Sebagai bentuk penyambutan terhadap penghargaan yang diberikan Universitas Indonesia (UI) pada hari Sabtu, 31 Januari 2009, di bawah ini ditampilkan salah satu puisi karya Taufiq Ismail.

                  Tuhan Sembilan Senti Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok, Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah…ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok, Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival  merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok, Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok, Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok, Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS, Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena, Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok, Istirahat main tenis orang merokok, dipinggir lapangan voli orang merokok,menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, Turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok, Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil’ek-‘ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok, Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasapa, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, Cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal? Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan? Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok. Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan, Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk, Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir,gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba, Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,diiklankan dengan indah dan cerdasnya, Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini, Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Peristiwa “Malari”

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:34 am

Pada pertengahan bulan Januari 1974 terjadi huru hara di Jakarta yang kemudian dikenal dengan “Malari” singkatan dari “Malapetaka limabelas Januari”. P.M Tanaka Kakuei dari Jepang datang berkunjung ke Jakarta disambut dengan demonstrasi mahasiswa tetapi  terjadi juga  pembakaran mobil dan bangunan-bangunan. Banyak saksi mata mengatakan bahwa yang mengadakan kerusuhan itu bukan mahasiswa, melainkan orang-orang yang diangkut ke tempat kejadian dengan truk.

Jenderal Sumitro yang menjadi Wakil Pangkopkamtib/Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Panglimanya adalah Presiden Suharto) mengundurkan diri sebagai akibat peristiwa tersebut. Terdengar desas-desus bahwa kejadian itu sebenarnya didalangi oleh Brigjen Ali Murtopo dari Opsus (Operasi Khusus). Sudah lama ada rumor yang mengatakan bahwa ada konflik terselubung antara Ali Murtopo dengan Jenderal Sumitro. Di hadapan para mahasiswa, Jenderal Sumitro sering menyebut Ali Murtopo sebagai “jenderal kampungan”. Dengan mendalangi peristiwa Malari, Ali Murtopo berhasil  menjatuhkan Sumitro. Tetapi yang banyak ditangkapi adalah mahasiswa, antaranya Hariman Siregar dan Syahrir (keduanya aktivis Dewan Mahasiswa UI). Yang dituduh menjadi dalangnya yaitu Prof.Dr. Sarbini Sumawinata (Guru Besar Fakultas Ekonomi UI) juga ditangkap. Di samping itu banyak surat kabar yang diberangus, antaranya Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, Harian Kami, Nusantara, dan lain-lain. Kebebasan pers yang dinikmati sejak tahun 1966 kembali dipasung oleh kekuatan tangan besi pemerintah.

Tetapi beredar pula desas desus yang mengatakan bahwa”Malari” memang sengaja dibuat untuk menjatuhkan Jenderal Sumitro karena Presiden Suharto tidak suka ada orang yang popularitasnya melebihi dirinya. Jenderal Sumitro memang belakangan banyak membuat gebrakan yang menyebabkan namanya menjadi popular, diantaranya kebijaksanaannya agar Fraksi ABRI dalam MPR tidak mendukung konsep Undang-undang Perkawinan buatan Golkar yang ditolak oleh kelompok Islam dan agar Fraksi ABRI menolak usaha yang hendak menjadikan “aliran kebatinan” sebagai agama yang resmi diakui di Indonesia seperti Islam, Kristen, Katolik, Buda dan Hindu. Konsep Undang-undang Perkawinan diperbaharui  dan akhirnya disahkan setelah tuntutan kelompok Islam diakomodasikan. Sedangkan “aliran kepercayaan” tidak dianggap agama, melainkan hanya dianggap sebagai kebudayaan tradisional. Maka ditempatkan di lingkungan Departemen P dan K, di bawah Ditjen Kebudayaan, bukan di Departemen Agama. Untuk itu dibuat  Direktorat baru yaitu Direktorat Aliran Kepercayaan yang dipimpin seorang direktur.(Sumber:  Buku Hidup Tanpa Ijazah karya Ajip Rosidi)