January 28, 2009

Profesor 1

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:48 am

Di lingkungan akademis pendidikan tinggi, siapa yang tidak tahu dengan istilah Profesor. Bahkan dahulu kala nama tersebut mempunyai karisma tersendiri, karena atribut-atribut yang senantiasa melekat pada dirinya. Berusia lanjut, berpakaian  jubah hitam, berpakaian putih, bercelana dan bersepatu hitam, berdasi kupu-kupu putih atau dasi panjang hitam, memakai toga bersegi empat dengan kuncir yang bergerak kesana kesini kalau kepala sang profesor bergoyang. Punya sederet gelar akademis di depan namanya atau di belakang namanya. Pendeknya, kalau mendengar profesor, maka gemetarlah dan bertambah cepat degup jantung sang mahasiswa yang akan menghadapi ujian atau harus menjawab pertanyaan sang profesor.

 

Belakangan ini, mungkin setelah kemunculan  grup (lawak) warkop  yang berasal lingkungan akademis Nanu-Kasino-Dono-Indro merajai panggung komedi di radio dan film, awal tahun tujuhpuluhan, profesi profesor menjadi salah satu bahan guyonan grup ini, maka terjadilah de-sakralisasi keprofesoran, sehingga kesan angkernya jadi mencair. Misalnya saja, profesor yang diasosiasikan sebagai seorang tua yang berkacamata, berkepala botak dan pelupa.Bahkan tambah merakyat ketika kemudian di awal tahun 2000 an ini, muncul “The Profesor Band”, suatu grup band yang para pemain dan penyanyinya terdiri dari para profesor dari  berbagai fakultas yang ada di lingkungan UI. Bahkan dalam perayaan ulang tahun televisi Indosiar yang ke-14 baru-baru ini, tanpa canggung-canggung seorang profesor menyanyikan lagu yang tengah digandrungi masyarakat dengan berjingkrak-jingkrak tidak lupa dengan ditemani istri tercinta.

 

Sesungguhnya, profesor itu merupakan suatu bentuk penghargaan dari pemerintah akan kepakaran seseorang dalam satu bidang ilmu tertentu, baik karena ketekunannya dalam meneliti yang dibuktikan dalam bentuk publikasi  ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, mengaplikasikan bidang ilmunya pada masyarakat, maupun  pengabdiannya dalam membimbing dan mencetak peserta didik menjadi insan akademik yang mencapai jenjang S1, S2 dan S3. Jadi Profesor itu disandang seseorang selama dia berada dan berkecimpung di dalam lingkungan pendidikan.

 

Bagaimana kalau seseorang yang menyandang profesor tersebut, menjadi birokrat atau aktif di luar lingkungan pendidikan dan atau menjabat jabatan publik atau privat? Apakah dia masih berhak untuk menyandang atau mencantumkan profesornya di depan namanya? Dalam hal ini, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (alm) Fuad Hassan, profesor dari Fakultas Psikologi UI telah memberikan teladan yang sangat baik sekali. Sewaktu diangkat menjadi duta besar RI di Mesir, dia tidak memakai profesor di depan namanya di dalam surat menyurat atau pun dalam kesehariannya selama menjadi duta besar. Begitu pula dalam kesehariannya sewaktu menjabat sebagai menteri Pendidikan Kebudayaan,  tidak ada embel-embel gelar akademik ataupun profesor. Hal ini juga dapat dilihat pada prasasti di dinding ruangan balai kirti yang terletak di lantai satu Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia kampus Depok. “Panji-panji ilmu dan seni, berkibar tinggi di  almamater ini – Fuad Hassan, 5 September 1987.”  Begitulah etika akademik yang ingin ditularkan Fuad Hassan kepada setiap insan akademis generasi kini dan yang akan datang.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment