January 28, 2009

Profesor 2

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:39 pm

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa- mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “ApakahTuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -46’F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas”.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

(dikutip dari milis Begundal-Salemba)

KPK dan Pencucian Uang

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:11 pm

Pada hari Sabtu (31/01), bersamaan dengan kegiatan upacara wisuda UI di kampus Depok, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) H. Antasari Azhar, SH., MH (56) kalau tidak ada aral melintang, akan menjadi salah seorang yang istimewa dan menjadi pusat perhatian dari seluruh hadirin yang mengikuti upacara wisuda. Kenapa menjadi tamu istimewa, tunggulah hingga tiba saatnya nanti, boleh melihat langsung atau membaca berita atau mendengar kabar melalui media elektronik.

Masih ingat pada waktu penerimaan mahasiswa baru program S1 tahun lalu (2008)  Ketua KPK hadir di tengah-tengah mahasiswa baru memberikan semacam “semangat dan pencerahan” serta menunjukkan “jalan yang lurus dan benar” bagi para mahasiswa yang kelak akan terjun ke masyarakat. Dalam kesempatan itu, Antasari Azhar juga memberikan informasi, bahwa mulai tahun depan (2009) akan akan terjun ke daerah-daerah untuk melaksanakan tugasnya. Nah, untuk melaksanakan tugasnya itu tentu saja perlu tenaga baruyang cukup banyak. Dalam merekrut pegawai KPK yang baru, menurut alumni Universitas Sriwijaya itu, dari semua calon pegawai yang diterima, 50 % diantaranya adalah lulusan UI. Apa yang bisa ditarik dari informasi ini? Ternyata para lulusan UI masih mempunyai idealisme dan semangat yang tinggi untuk melakukan pekerjaan menegakkan KEBENARAN. Jadi, bolehlah para pendidik UI berbanggga, ternyata peserta didiknya masih menjunjung tinggi idealisme seperti yang tercantum dalam motto UI saat ini yang tercantum di kalender UI 2009 “VERITAS, PROBITAS, IUSTITIA.”

Satu saat dalam kesempatan bersilatrahim dalam satu acara, saya  mendengar cerita dan pengalaman pegawai KPK yang melaksanakan tugasnya.  Satu tim KPK ditugaskan untuk menggerebek rumah Artalita Surjani. Semua tempat digeledah tidak ada yang terlewatkan, tetapi tidak menemukan bukti-bukti yang dapat dijadikan untuk menjerat tersangka. Hampir-hampir saja para petugas akan memberhentikan penggeledahan. Tetapi salah seorang petugas masih penasaran. akhirnya sampai di tempat cucian pakaian, tidak terlihat hal yang mencurigakan. Tetapi terlihat beberapa ember penuh dengan cucian pakaian, seperti baru saja dibasahi.Pakaian yang basah dalam cucian itu diangkat. Ternyata didalam ember itu gepokan uang tersimpan dengan rapihnya.

Profesor 1

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:48 am

Di lingkungan akademis pendidikan tinggi, siapa yang tidak tahu dengan istilah Profesor. Bahkan dahulu kala nama tersebut mempunyai karisma tersendiri, karena atribut-atribut yang senantiasa melekat pada dirinya. Berusia lanjut, berpakaian  jubah hitam, berpakaian putih, bercelana dan bersepatu hitam, berdasi kupu-kupu putih atau dasi panjang hitam, memakai toga bersegi empat dengan kuncir yang bergerak kesana kesini kalau kepala sang profesor bergoyang. Punya sederet gelar akademis di depan namanya atau di belakang namanya. Pendeknya, kalau mendengar profesor, maka gemetarlah dan bertambah cepat degup jantung sang mahasiswa yang akan menghadapi ujian atau harus menjawab pertanyaan sang profesor.

 

Belakangan ini, mungkin setelah kemunculan  grup (lawak) warkop  yang berasal lingkungan akademis Nanu-Kasino-Dono-Indro merajai panggung komedi di radio dan film, awal tahun tujuhpuluhan, profesi profesor menjadi salah satu bahan guyonan grup ini, maka terjadilah de-sakralisasi keprofesoran, sehingga kesan angkernya jadi mencair. Misalnya saja, profesor yang diasosiasikan sebagai seorang tua yang berkacamata, berkepala botak dan pelupa.Bahkan tambah merakyat ketika kemudian di awal tahun 2000 an ini, muncul “The Profesor Band”, suatu grup band yang para pemain dan penyanyinya terdiri dari para profesor dari  berbagai fakultas yang ada di lingkungan UI. Bahkan dalam perayaan ulang tahun televisi Indosiar yang ke-14 baru-baru ini, tanpa canggung-canggung seorang profesor menyanyikan lagu yang tengah digandrungi masyarakat dengan berjingkrak-jingkrak tidak lupa dengan ditemani istri tercinta.

 

Sesungguhnya, profesor itu merupakan suatu bentuk penghargaan dari pemerintah akan kepakaran seseorang dalam satu bidang ilmu tertentu, baik karena ketekunannya dalam meneliti yang dibuktikan dalam bentuk publikasi  ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, mengaplikasikan bidang ilmunya pada masyarakat, maupun  pengabdiannya dalam membimbing dan mencetak peserta didik menjadi insan akademik yang mencapai jenjang S1, S2 dan S3. Jadi Profesor itu disandang seseorang selama dia berada dan berkecimpung di dalam lingkungan pendidikan.

 

Bagaimana kalau seseorang yang menyandang profesor tersebut, menjadi birokrat atau aktif di luar lingkungan pendidikan dan atau menjabat jabatan publik atau privat? Apakah dia masih berhak untuk menyandang atau mencantumkan profesornya di depan namanya? Dalam hal ini, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (alm) Fuad Hassan, profesor dari Fakultas Psikologi UI telah memberikan teladan yang sangat baik sekali. Sewaktu diangkat menjadi duta besar RI di Mesir, dia tidak memakai profesor di depan namanya di dalam surat menyurat atau pun dalam kesehariannya selama menjadi duta besar. Begitu pula dalam kesehariannya sewaktu menjabat sebagai menteri Pendidikan Kebudayaan,  tidak ada embel-embel gelar akademik ataupun profesor. Hal ini juga dapat dilihat pada prasasti di dinding ruangan balai kirti yang terletak di lantai satu Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia kampus Depok. “Panji-panji ilmu dan seni, berkibar tinggi di  almamater ini – Fuad Hassan, 5 September 1987.”  Begitulah etika akademik yang ingin ditularkan Fuad Hassan kepada setiap insan akademis generasi kini dan yang akan datang.