January 27, 2009

Jalan Tegak atau Tertunduk?

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:23 pm

Judul tersebut dikutip dari salah seorang peserta yang bertanya kepada pimpinan UI, pada waktu dilakukan sosialisasi renumerasi & kinerja staf pengajar UI, hari Selasa (27/01) di Balai Sidang Kampus Depok. Suatu pertanyaan yang sangat wajar sekali muncul, untuk meyakinkan diri, seberapa besar penghargaan yang diberikan UI terhadap pengabdiannya. Karena dari sinilah dia akan dapat menentukan, apakah pulang mengajar akan berjalan tegak ataukah tertunduk. Hal ini bisa dimengerti, mengingat status UI yang sejak tahun 2000 telah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yang kemudian kini lebih ditegaskan lagi dalam Badan Hukum Pendidikan (BHP), dimana universitas diberikan kebebasan untuk mengelola keuangannya secara otonomi.

Kesan sementara ini di kalangan masyarakat, beberapa perguruan tinggi yang berstatus BHMN biaya studinya menjadi sangat mahal dan sangat komersial sekali. Sehingga menyebabkan orangtua calon mahasiswa yang berpenghasilan pas-pasan, berpikir duakali untuk memasukkan anaknya ke perguruan tinggi tersebut. Atau bahkan ada orangtua yang berpendapat, mendingan disekolahkan di luar negeri, yang sudah jelas standar dan kualitasnya.

Kembali kepada masalah renumerasi atau penghasilan yang didapat seorang staf pengajar kalau mengikuti skenario skala penggajian yang akan diterapkan UI, ditanggapi secara beragam. Hal ini terlihat dari berbagai pertanyaan yang muncul. Ada kesan, renumerasi yang diajukan juga masih bersifat sementara, belum final. Misalnya saja, skala penggajian pejabat struktural yang baru diatur hanya sampai sekretaris Dekan. Sementara gaji para manajer ataupun kepala departemen, belum ada kejelasan yang pasti. Begitu pula menjadi pertanyaan besar penghasilan yang bisa dibawa pulang seorang dosen. Hal ini memang menjadi krusial dan pasti akan mengundang komentar yang negatif. Karena itulah sebetulnya masalah penggajian ini selalu ditunda-tunda oleh pimpinan UI terdahulu.

Soal besaran yang bisa diterima seorang dosen, Wakil Rektor II tidak mau memberikan angka yang pasti. Namun demikian, Direktur SDM sedikit memberi hiburan, paling tidak sekurang-kurangnya 4 juta rupiah bisa dibawa pulang seorang dosen yang mempunyai masa kerja 0 tahun. Tetapi masih banyak persoalan lain masih berada dalam koridor kegelapan. Secara berkelakar, direktur SDM berkomentar, untuk persoalan-persoalan yang masih gelap dapat diselesaikan “secara adat”.

Imlekan dan Perkembangan Sains

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:13 pm

Ketika orang ramai memperingati tahun baru cina (imlek) dengan berbagai tulisan dan liputan di berbagai media cetak dan media elektronik, asosiasi saya imlekan harus disertai dengan dar-der-dor bunyi petasan. Saya jadi teringat kepada jasa yang diberikan oleh bangsa Tionghoa/Cina terhadap perkembangan peradaban dunia, khususnya dalam hal senjata api.

 

Bangsa Cinalah yang pertama kali menemukan cara pembuatan bubuk mesiu yang kemudian berkembang menjadi bahan dasar untuk peluru/meriam senjata api masa kini. Dengan perkembangan jaman, maka mesiu menjadi satu alat untuk memenangkan suatu peperangan. Perkembangan selanjutnya seperti yang sudah kita saksikan, senjata api memegang peranan penting dalam suatu pertempuran di abad keduapuluh..

 

Cina yang mempunyai tradisi serta budaya yang cukup tua, juga banyak menyimpan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi banyak orang, tetapi rupanya belum cukup dikenal, khusunya di dunia Barat. Hanya karena metodenya berbeda dengan metode yang sudah berkembang di dunia Barat. Baru pada tahun tujuhpuluhan, seiring dengan keterbukaan kebijakan Negara tirai bambu tersebut, mulai dikenal  ilmu pengetahuan dari Cina, misalnya pengobatan kedokteran akupuntur.

 

Pengajaran Sastra Cina di UI berawal dari tahun 1939, sebelum Fakultas Sastra UI berdiri (1940). Pasang surut perkembangan Sastra Cina seiring dengan perkembangan suhu politik Negara. Sudah banyak kerjasama yang dilakukan UI dengan perguruan tinggi di Cina. Tapi menurut salah seorang pengajar Sastra Cina UI, kerjasama tersebut lebih banyak hanya sebatas di atas kertas. Namun demikian, di tahun 1990 an, Jurusan Sastra Cina berhasil membuat satu buku besar kamus Cina-Indonesia bekerjasama dengan para pengajar Universitas Bejing. Pada periode kepemimpinan Mochtar Riady sebagai ketua Majelis Wali Amanat  (MWA) UI awal tahun 2000 an, beberapa orang anggota Senat UI sempat mengunjungi Negara Cina, karena  Mochtar sendiri duduk sebagai Dewan Penyantun Universitas Bejing. Pertengahan tahun 2000 an, UI mendapat hibah senilai satu juta dolar AS berupa seperangkat peralatan Laboratorium telepon mobile CDMA, yang peresmiannya dilakukan oleh Menkominfo M. Nuh. Kemudian pada tahun lalu dilakukan  penandatanganan kerjasama antara UI dengan salah satu Universitas di Bejing untuk mengembangkan ilmu pengetahuan kedokteran tradisional yang sudah berkembang dengan baik di Cina. Sejauh mana manfaat yang bisa diambil UI dengan adanya hibah, pertukaran staf pengajar, kunjungan dan kerjasama yang dijalin, masih butuh waktu lagi.

 

Seperti juga Presiden AS Barack Obama yang memberikan perhatian terhadap perkembangan  yang “mencengangkan” Negara India dan Cina, semestinya kita pun dapat belajar banyak dari kemajuan yang dialami Negara Cina, karena negara kita pun mempunyai potensi yang dapat dikembangkan seperti juga Negara Cina. Dan itu sangat tergantung kepada orang-orang UI yang saat ini tengah menjadi pimpinan. Karena ditangan merekalah sebetulnya masa depan UI, yang konon katanya saat ini memasuki masa transisi yang sangat kritis.