September 12th, 2012

Banyak Orang Pintar, tapi kurang mendengar, Banyak ahli berbicara, tapi tidak terlatih berdialog, Banyak mengemukakan Visi, tapi tidak ada Partisipasi

Jadi? dalam 3 bulan pertama, kita akan bentuk Lembaga Kepemimpinan Universitas., meniru Harvard Insitute for School Leadership.

Apa Isinya? mengubah mental model  bagaimana memimpin dan mengelola universitas sebagai institusi ilmu pengetahuan, secara bottom up, Berlatih mendengar, berdiskusi dan berdialog, membangun visi bersama, dan berpikir sistem.

Apa tujuannya? agar pemimpin di UI mempunyai akuntabilitas kebawah yang kuat, namun sekaligus menjadi mitra dalam kepemimpinan UI yang lebih kolektif. U & I menjadi UI

Angkatan pertamanya? calon dekan 2012-2017.

(dari makalah calon rektor: Jika saya menjadi rektor UI hal 5)

 

Posted in UI | No Comments »
September 12th, 2012

Pekerjaan terbesar Pemimpin UI adalah mengubah “mind set”: dari UI self-centered ke “Orientasi Indonesia”, dan mengelola UI sebagai Institusi Ilmu Pengetahuan di Abad 21.

Pengubahan ini mendasar karena menyangkut:

  • Context: dari berpikir ke dalam menjadi berpikir sistem;
  • Alignment pengembangan keilmuan kearah 21th Century Competencies yang bersifat interactive learning;
  • Pengelolaan organisasi: Sebagai Institusi Ilmu Pengetahuan, aset terpentingnya adalah SDM dan ilmu pengetahuan. Organisasi dan manajemen universitas diatur agar memprioritaskan program studi dan pusat penelitian—sebagai tempat produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan—sehingga bisa berfungsi efektif dan efisien;
  • Kepemimpinan universitas: dengan begitu beragamnya fakultas, model pengambilan keputusan perlulah dibuat fleksibel, campuran top down dan bottom up dengan model kepemimpinan yang kolegial dan kolektif.
Posted in UI | No Comments »
July 17th, 2012

Berikut ini saya kutipkan tulisan teman diskusi saya, Husni Muadz, dosen universitas Mataram. mudah2an anda bisa belajar dari tulisan ini

“A puzzle of human existence is that we appear to create conditions that conserve blindness, or prevent us from reflecting, even as we maintain that we do not like blindness.”
(Homburto Maturana)

Kebutaan adalah ketidakmampuan kita melihat apa yang tidak kita lihat. Bahwa kita tidak akan bisa melihat apa yang tidak kita lihat adalah hal yang sebenarnya manusiawi; bahkan akan sangat aneh apabila ada orang yang bisa melihat apa yang tidak ia lihat. Tapi yang aneh adalah bahwa kita sering hanya ingin melihat apa yang kita bisa lihat. Itulah sebabnya kenapa Maturana menganggapnya sebagai teka-teki, karena kita sering secara kreatif menciptakan kondisi untuk selalu mengkonservasi kebutaan kita itu. Kita sering tersinggung bila orang lain mengganggap kita buta, dan tidak mengerti, karena kita tidak melihat apa yang ia lihat. Ketika kita dalam dialog, kita sering tidak mendengar apa yang dikatakan lawan bicara kita, karena kita tidak ingin melihat apa yang ia lihat. Inilah beberapa contoh cara kita mengkonservasi kebutaan kita.
Kebutaan adalah ciri yang inheren dalam kemanusiaan kita, karena kita tidak akan pernah bisa melihat apa yang tidak kita lihat. Yang tidak inheren adalah usaha kita, yang sering tidak disadari, menciptakan berbagai cara untuk mengkonservasi kebutaan kita itu. Yang kita konservasi bukan saja kebutaan, tapi sering juga cara-cara kita mengkonservasi kebutaan tersebut. Menyadari kebutaan diri adalah awal menuju pembelajaran; tidak menyadari kondisi-kondisi yang melanggengkan kebutaan adalah anti pembelajaran. Merasa tidak buta, dan melanggengkan perasaan itu adalah kondisi psikologis masturbasi yang dialami juga dalam psikologi “the parable of the frog.” Tapi ini bukan karena tanpa alasan.
Kita buta, karena kita tidak bisa melihat apa yang tidak kita lihat. Sebaliknya, kita hanya bisa melihat apa yang kita lihat. Dunia yang kita lihat hanya dunia yang berada dalam niche kita; dunia di luar niche kita adalah dunia yang maha luas, yang tidak akan pernah kita lihat. Kebutaan berkaitan bukan dengan niche kita, karena kita tidak mungkin tidak melihat apa yang kita lihat, tapi dengan dunia lain yang berada di luar niche kita itu. Masing-masing kita hanya melihat niche kita, melihat dunia yang berada dalam niche kita, dan semua kita tidak bisa melihat niche selain milik kita, apalagi “niche” diluar yang di miliki semua. Ketika kita dalam interaksi, atau dalam dialog, yang sering mengemuka adalah eksibisi atau pameran dari apa yang pernah kita lihat dalam niche masing-masing, persis seperti ketika melihat foto bersama dimana yang pertama-tama kita lihat atau yang ingin kita lihat adalah gambar diri kita. Inilah yang menyebabkan kita merasa tidak buta, karena kita dengan jelas bisa melihat gambar kita, dan mengkoservasikannya dengan cara selalu ingin melihat gambar diri itu.
Karena pameran itulah kita menjadi terbiasa menyenangi hal-hal yang kita telah ketahui, hal-hal yang rutin, yang biasa kita lihat, yang kebetulan telah berada dalam niche kita. Hal-hal yang bersifat surprise, seperti yang didapatkan ketika belajar melihat apa yang dilihat orang, tidak terbiasa kita nikmati. Surprise, menurut Casti, adalah “the way we feel upon discovering that our pictures of reality depart from reality itself.” Ketika kita berdialog sering yang ingin kita dapatkan adalah “temuan” yang telah kita ketahui, bukan untuk menemukan surprise-surpise itu. Kita telah terlatih untuk hanya bisa berbicara, atau mendengar diri, tapi tidak terlatih untuk mendengar orang lain, untuk melihat gambaran niche orang lain. Kita telah terjebak dalam confort zone, dan terlau nikmat untuk bisa keluar dari tempat itu. Karena kita tidak terbiasa dengan surprise (kecuali purprise-surprise kebetulan), maka pembelajaran menjadi lamban terjadi, karena pembelajaran terjadi bila terdapat banyak surprise yang memperluas horizon niche kita. Kegagalan kita untuk menemukan surprise-surprise baru juga tidak lagi bisa dilihat sebagai surprise. Setiap kegagalan yang dialami lebih dilihat sebagai ancaman yang menggelisahkan kita, yang harus selalu dihindari dengan cara selalu berada dalam “the confort niche” kita itu. Kegagalan sebenarnya bisa dilihat sebagai momentum untuk pembelajaran. Kegagalan adalah mismatch antara harapan dengan kondisi internal niche; dan ini sebenarnya adalah sinyal positip yang memberitahukan tentang perlu adanya perubahan. Sebagai sinyal, kegagalan memang mengganggu kenyamanan; tapi justru itulah fungsinya: untuk mengganggu dan untuk membangunkan.
Di sini terjadi semacam paradox. Sebagai living system, manusia hanya bisa melihat nichenya yang dibangun berdasarkan hasil interaksi dengan medium yang selama ini dikonservasi. Karena ia hanya bisa melihat nichenya, dan buta terhadap yang diluar itu, karena gambaran dunia yang bisa dilihat hanyalah gambaran yang ia bangun dan konstruksi sendiri, ia menjadi terbiasa dengan hanya melihat gambaran itu. Dunia dan gambaran dunia yang ia konstruksi diyakini seolah-olah satu entitas yang tidak terpisahkan, dan akhirnya dilihat sebagai satu-satunya kebenaran. Jadi realitas menjadi tersubordinasi dan menjadi identik dengan gambaran yang dibangun; gambaran yang dibangun adalah identik dengan kebenaran realitas ekternal. Di sini terjadi semacam objektivikasi dari pengalaman subyektif tentang gambaran dunia yang dibangun menjadi realitas yang seolah-olah obyektif seperti itu adanya. Akhirnya niche identik dengan kebenaran, dan kebenaran ada di niche masing-masing; akibatnya gambaran lain tentang dunia tidak diperlukan lagi. Niche akhirnya berubah menjadi alat pembutaan, bukan saja terhadap dunia diluar niche, tetapi terhadap niche itu sendiri. Di sinilah paradoxnya. Akibatnya hidup menjadi personal, dan tertutup. Ketika orang lain mengatakan pada kita bahwa kita buta, kita tidak lagi bisa membenarkannya, sekalipun yang dimaksud adalah bahwa kita tidak melihat apa ia lihat di dalam nichenya, yang tentu berada di luar nich kita. Akibatnya, dilalog mendalam menjadi langka; yang banyak adalah dialog-dialog dangkal, penuh basa basi dimana masing-masing hanya mendengar diri, ketika berbicara tentang niche masing-masing.
Niche memang milik otonom individu sebagai living system. Akan tetapi individu adalah juga bagian dari sistem sosial, dan sebagai bagian dari sistem sosial, individu harus secara recursive mengadakan interaksi. Interaksi yang bermakna yang mesti dibangun adalah interaksi yang mampu memperluas niche masing-masing dengan cara membentuk “niche sosial” (Maturana, 1988) sebagai emergent properties dari jaringan interkoneksi yang dilakukan secara terus menerus dalam rangka mengkonservasi identitas hubungan-hubungan tertentu dalam sistem sosial kita. Niche sosial adalah niche dimana kita bisa melihat dunia secara bersama, dan melalui interaksi yang terus menerus, horizon niche sosial menjadi semakin meluas, sehingga ruang kebutaan kolektif dan individual menjadi semakin menyempit. Niche sosial tidak akan bisa terbangun tanpa interaksi yang recursive, dan interaksi yang recursive hanya bisa terjadi melalui dialog yang mendalam, yaitu dialog yang memungkinkan terjadinya apa yang oleh David Bohm disebut “the collective dance of mind.”

Bermula dari “Emotioning”
Munculnya “the collective dance of mind” memerlukan interaksi bermakna yang terus menerus. Tarian massal yang berhasil memerlukan latihan bersama yang lama dan terus menerus. Bahkan jauh sebelum berlatih tarian-tarian tertentu, ada latihan-latihan (exercise) dasar dan latihan pisik yang harus dilakukan terlebih dahulu agar terbangun kelenturan-kelenturan yang diinginkan. Sebelum sampai pada “the collective mastery” untuk melakukan “the collective dance of mind” menuju terbangun dan semakin meluasnya “the social niche,” ada latihan-latihan dasar tertentu yang harus dilakukan, agar dari awal memiliki kelenturan-kelenturan psikis tertentu yang dibutuhkan. Latihan-latihan dasar ini berkaitan dengan “emotioning.”
Emosi berfungsi sebagai latar (backround) dari segala hal yang kita lakukan. Tidak ada kegiatan apapun yang tidak dilatari oleh jenis emosi tertentu. Tapi dalam kehidupan modern sekarang pemahaman tentang emosi telah mengalami deprisiasi, bahkan menjadi sepenuhnya negatip begitu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Emosi telah dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan, dan tidak rasional. Inilah kebutaan di tingkat awal, sehingga setiap langkah yang ditempuh adalah selalu berbentuk langkah-langkah kegelapan, termasuk langkah dalam rangka memahami persoalan-persoalan yang berkaitan dengan sistem sosial. Oleh karenanya laverage yang strategis dalam rangka memahami dan membangun sistem sosial adalah berkaitan dengan latihan dasar “emotioning.”
Di dalam diri kita terdapat koherensi operasional pisik-psikis yang melatari dan mempengaruhi berlangsungnya tindakan dan interaksi. Koherensi ini diatur oleh emosi kita; koherensi ini sering secara informal kita sebut suasana batin yang dialami ketika melakukan sesuatu. Suasana batin tertentu dalam keadaan tertentu adalah ekspresi dari tipe tertentu dari emosi kita. Apapun yang dilakukan manusia pasti berada dalam suasana batin tertentu, dan tidak ada suatu kegiatan, se netral apapun, yang tidak digerakkan atau tidak melibatkan emosi (Coleman, 1995). Emosi dalam artinya yang luas seperti ini berbeda dengan makna reduktif emosi seperti yang dipahami dalam dunia modern sekarang ini. Ciri emosi dalam makna sempit ini sering kategori leksikalnya menggunakan kata sifat, sehingga terjadi reduksi makna dari kata benda “emotion” menjadi kata sifat “emotional “ (sekalipun sebenarnya padanan kata sifat inipun lebih banyak bermakna positip, seperti: moving, touching, affecting, exiting, arousing). Implikasi lain yang terjadi adalah emosi tidak lagi bisa dilihat sebagai agen aktip yang bisa menentukan, tetapi sebagai state (given) yang sering dilihat sebagai hambatan. Untuk mengembalikannya ke fungsi semula, akan lebih tepat, mengikuti Maturana, kata emosi dilihat sebagai kata kerja, sebagai proses, yaitu “emotioning.”
Menurut Maturana, emotioning, secara biologis, bisa dilihat sebagai kesiapan pisik, terutama sistem syaraf, tertentu (dynamic body disposition) yang menentukan warna dari tindakan yang akan diambil. Ketika kita sedang melakukan sesuatu aktivitas, aktivitas itu selalu diwarnai oleh “emotioning,” yaitu suasana batin tertentu yang berubah-ubah dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Jadi kehidupan manusia selalu terdiri dari aliran emosi (emotioning) yang berlansung terus menerus dan mewarnai berbagai jenis aktivitas kita. Emotioning berada dalam ranah relasional, yang muncul di arena interaksi, baik dengan manusia maupun dengan (living) systems yang lain. Emosi dan bahasa (emotioning and languaging) adalah dua modal dasar yang selalu menyertai manusia mengadakan interaksi, terutama dengan sesama. Koordinasi kegiatan dengan sesama ketika berinteraksi selalu dilakukan dalam aliran yang terus menerus dari emotioning dan languaging. Emotioning berfungsi sebagai latar (background) dan languaging sebagai alat konsensual kegiatan-kegiatan bersama. Phenomena kehidupan seperti kognisi, kesadaran, rasionalitas adalah phenomena yang muncul kemudian sebagai the second order development atau emergent properties dari interaksi konsensual yang dilakukan secara recursive dengan bermodalkan emotioning dan languaging itu (lihat Maturana, 1988a, 1988b; Maturana dan Varela, 1987).
Jadi karena jenis-jenis emosi tertentu bisa mempengaruhi, termasuk juga menghambat, tindakan koordinatif yang memungkinkan munculnya the collective dance of mind menuju social niche yang ingin dibangun, usaha awal yang strategis harus dimulai dari pembelajaran di sektor emotioning, baru kemudian disusul ( atau bersama-sama) dengan pembelajaran di sektor-sektor lain seperti systems thinking dll., karena semua pembelajaran yang lainnya, tidak bisa lepas dari emotioning yang melatarinya. Manusia agaknya cukup beruntung tidak perlu harus mulai belajar lagi di sektor languaging, karena grammar bahasa ibu kita telah kita kuasai (secara tidak disadari) dengan sangat baik sejak kecil. Di sektor emotioning, grammarnya telah kita kenal secara intuitif sejak lama tapi kita masih selalu kesulitan menguasainya. Akibatnya, kita sering tidak fasih menggunakan bahasa emosi. Grammar dari emotioning berkaitan dengan prinsip-prinsip etika, dan personal mastery dalam etika (kemampuan hidup bersama dengan grammar yang benar) bukanlah one-time proposition, tetapi agaknya memerlukan pembelajaran di sektor emotioning yang harus dilakukan dalam seting interaksi secara terus menerus.
Sejarah manusia dimulai dari, dan ditentukan oleh, the path of desires, oleh jalur keinginannya, bukan oleh yang lainnya. Kita bisa mengatakan bahwa sejarah manusia ditentukan oleh visi, oleh kerja keras dan lain-lain, tapi visi atau kerja keras tidak akan punya makna bila kita tidak menginginkannya. Perbedaan jenis emosi akan melahirkan jalur perjalanan hidup yang berbeda; perbedaan peradaban/sejarah terjadi karena perbedaan dari the collective desires dari masing-masing pendukung sejarah. Kita sering tidak bisa berhubungan dengan rileks bersama orang yang kita benci; jenis emosi kebencian membuat kita sukar bisa saling berterima. Sebaliknya, kita bisa dengan tenang dan penuh kegembiraan berinteraksi dengan orang yang kita sukai. Perbedaan tipe emosi seperti ini mewarnai kualitas interaksi kita dengan orang lain, dan juga mewarnai tipe hubungan (jadi kualitas sistem sosial) yang dikonservasi. Ini berpengaruh pada plastisitas prilaku yang muncul. Kita bisa lebih toleran, bisa berpikir lebih jernih dll. bila kita berinteraksi dengan orang yang dilatari dengan emotioning saling berterima. Sebaliknya emotioning yang melatari ketakutan, kebencian, kompetisi, ambisi dll. akan memberikan pilihan kualitas interaksi yang sempit, yang menyesakkan, dan tentu akan berpengaruh terhadap kualitas komunikasi, dan kualitas sistem sosial yang dikonservasi. Sejarah manusia adalah konservasi dari tipe-tipe emotioning yang berbeda-beda. Sayang sekali pengamatan sehari-hari ini tidak kita cermati secara serius. Kita sering meloncat menganggap bahwa sejarah ditentukan oleh rasionalitas, intelektualitas, dan oleh ilmu pengetahuan. Sejarah peradaban manusia, atau, sejarah social system, dimulai dari interaksi, dan interaksi yang berkualitas ditentukan oleh emotioning yang sehat, yang memunculkan keberterimaan imbal balik tanpa pamrih dari semua individu yang berinteraksi secara recursive.
Pertanyaannya adalah the path of desires yang mana yang perlu terus menerus dikonservasi sehingga sistem sosial yang dibangun memiliki identitas yang sehat, yang memungkinkan semua individu memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkan personal mastery dalam interaksi sosialnya dengan optimal. Jawabannya adalah jalur emotioning yang tidak “menegangkan” baik secara internal, bagi individu sebagai living system, maupun secara ekternal, bagi sistem sosial dimana individu adalah komponen yang membangun jaringan interaksi di dalamnya.
Jalur emotioning yang tidak menegangkan secara internal adalah jalur yang memungkinkan semua elemen neuronal kita bisa bekerja dengan normal. Menurut Maturana, sistem syaraf kita terdiri dari jaringan elemen neuronal yang bekerja berdasarkan prinsip picuan dan hambatan (excitations and inhibitions), dan setiap gerakan potensial akan memberi dampak pada munculnya rangsangan atau hambatan pada elemen-elemen neuronal syaraf tersebut.
“The coordination of excitation and inhibition is involved in all neuronal activities, including what we call thinking. It is in our neurobiology that attention on what we do inhibits what we do. This is why learning a task involves relaxation – in terms of relaxing your attention, your intent of controlling what you are doing. As you relax your attention on the doing, but proceed in an understanding of what you do, you allow the actual doing to take place in a manner that uses the circumstances as a reference that guides what you are doing. As you become more relaxed, your doing becomes more fluid, and as it becomes more fluid it becomes more pristine, and as it becomes more pristine it becomes more beautiful, more comfortable and more perfect” (Maturana, p… ).
Jadi tipe emotioning yang tidak banyak memakan ongkos adalah yang tidak menegangkan sistem syaraf, karena setiap ketegangan akan melahirkan kontraksi, dan setiap kontraksi akan melahirkan hambatan pada elemen-elemen syaraf. Gerakan yang melahirkan kontraksi elemen-elemen dari sistem syaraf tidak menyehatkan secara internal dari living system. Jadi emotioning yang diperlukan adalah emotioning yang merilekskan, seperti yang ditawarkan oleh Maturana sebagaimana dikutip di atas.
Tipe emotioning yang merilekskan, yang tidak menimbulkan tegangan, adalah emotioning cinta. Cinta membuat semua elemen neuronal sistem syaraf bekerja dengan rileks, tanpa banyak tegangan. Cinta adalah emotioning yang melatari gerakan yang tidak melahirkan ekstrimitas, yang tidak melahirkan tarikan-tarikan chaotic dari jaringan interaksi dari elemen-elemen sistem syaraf. Sebaliknya, emotioning kebencian akan melahirkan ketegangan ekstrim pada jaringan interkoneksi elemen-elemen sistem syaraf, karena aktivitas yang diperlukan oleh emotioning ini adalah bekerjanya sebagian saja dari elemen-elemen sistem syaraf, sementara sebahagian lainnya tidak bisa bekerja dengan normal karna ditarik dan dihambat. Akibat dari ketegangan ini akan nampak dalam prilaku relasional individu, karena emotioning secara umum memiliki ekspresi di ranah relasional-konsensual. Ini mengantarkan kita untuk membicarakan emotioning dalam ranah eksternal, yaitu di ranah sistem sosial.
Sebagaimana disinggung di muka, emotioning, dan juga languaging, berada di ranah relasional, di ranah interaksi terutama dengan sesama. Bila kita benci, atau marah, kebencian dan kemarahan terjadi di ranah hubungan-hubungan kita dengan orang lain. Jadi semua konsep kebaikan dan keburukan adalah konsep relasional yang muncul dan dikonservasi dalam ranah interaksi. Seseorang menjadi baik atau jahat tidak mungkin terjadi bila ia hidup sendirian tanpa orang lain, persis seperti menjadi suami atau istri tidak mungkin terjadi bila ia hidup sendirian, tanpa memiliki suami atau istri. Jadi emotioning terjadi di ranah hubungan, si ranah relasional, atau di ranah interaksi; prilaku yang kita lihat dalam setiap interaksi adalah prilaku yang dilatari oleh emotioning tertentu. Ini kita ketahui dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi jarang kita memperhatikannya secara serius. Kita memperhatikan prilaku sesorang, tapi jarang memperhatikan emotioning yang melatarinya. Akibatnya, kita sering ingin merubah prilaku tertentu, tapi bukan emotioning tertentu yang memungkinkan prilaku itu muncul.
Emotioning cinta adalah path of desires yang memungkinkan kita dan orang lain tidak berada dalam ketegangan, baik ketegangan karena adanya tarikan untuk ingin memiliki, ingin menguasai atau ingin mengikuti atau diikuti, maupun karena adanya penolakan atau negasi terhadap orang lain, karena merasa tidak sejajar, karena kebencian, karena kecemburuan, karena ketakutan, dll. Kata kunci disini adalah keberterimaan secara mutual, secara imbal balik tanpa syarat, tanpa kondisi, baik berbentuk harapan, maupun berbentuk balas budi. Emotioning cinta adalah suasana batin yang muncul bukan karena keperluan-keperluan lain selain penghargaan dan kerinduan untuk co-exist bersama. Emotioning cinta adalah emotioning tanpa sebab, selain sebab cinta itu sendiri, apalagi karena sebab-sebab atraksi sentimental, seperti kecantikan, kecakapan, kedudukan, kekayaan, ketenaran dll. Singkatnya emotioning cinta adalah emotioning yang muncul tanpa usaha, tanpa alasan, tanpa komentar, dan tanpa pamrih. Ke-saling-berterimaan tanpa syarat seperti ini telah kita alami sejak kita masih kecil, bersama orang tua kita. Di rumah dari sejak bayi dalam keadaan tidak berdaya dan dalam keadaan paling lemah kita telah diterima oleh orang tua kita apa adanya tanpa syarat. Kita juga menerima orang tua kita secara apriori tanpa syarat, tanpa melihat siapa mereka dan apa prestasinya dll.
Keberterimaan tanpa syarat mengandung makna kesejajaran, baik dalam pengertian ruang psikis yang kita buka untuk orang lain maupun dalam pengertian kesejajaran potensi yang dimiliki. Kesejajaran dalam hubungan akan melahirkan ruang interaksi yang rileks, tidak tegang. Karena tidak ada ketegangan, plastisitas dalam interaksi akan muncul sehingga melahirkan toleransi. Tiadanya ketegangan juga akan melahirkan kreativitas dan mengoptimalkan potensi kecerdasan. Dalam situasi seperti ini, semua orang memiliki kecerdasan yang semakin berkembang. Kesejajaran juga bermakna pengakuan terhadap adanya intelegensi yang sama. Perbedaan kecerdasan yang kita temukan sehari-hari itu adalah akibat dari tipe emotioning yang berbeda-beda yang dikonservasi selama ini, ketika seseorang berinteraksi di dalam sistem sosialnya. Bila kita selalu berada dalam ketakutan, misalnya, kita tidak akan bisa melihat banyak hal; karena kita tidak bisa melihat banyak hal, kreativitas menjadi tidak banyak terlatih.
Akibatnya, pengetahuan kita tentang realitas menjadi terbatas, dan potensi intelegensi yang dioperasikan juga menjadi terbatas. Jadi satu-satunya emosi yang bisa membuat prilaku menjadi cerdas adalah cinta. Karena cinta kita menjadi siap mendengar dan siap mempertimbangkan apa yang kita dengar. Karena cinta, ketegangan yang biasanya memaksa kita untuk selalu ingin berbicara dan ingin didengar menjadi tidak muncul. Karena cinta dialog mendalam bisa berlansung; karena cinta kecerdasan bersama bisa berkembang. Singkatnya hanya dengan cinta kita bisa belajar hidup bersama. Jadi pembelajaran yang paling penting dan primer (dalam konteks sistem sosial) bukan berkaitan dengan kognisi, tetapi berkaitan dengan afeksi, yaitu pembelajaran di ranah ineraksi yang berkaitan dengan bagaimana mengkonservasi pola interaksi yang selalu mencerminkan ekspresi keberterimaan terhadap sesama. Pembelajaran di sektor kognisi bersifat sekunder dalam arti efektivitas pembelajaran pada aspek ini sangat tergantung pada keberhasilan pembelajaran di ranah emotioning. Maturana bahkan lebih ekstrim lagi; ia melihat bahwa pembelajaran yang sesungguhnya hanyalah pembelajaran yang berkaitan dengan afeksi:
“Learning is a transformation in living together. We tend to think of learning in terms of the acquisition of information, this is not what it is. It is a transformation in living together, it is a transformation of doings in a process of doing things together with others.” (Maturana, )
Kegagalan manusia dalam membangun kehidupan sosial yang damai dan harmonis disebabkan karena perhatian terhadap pembelajaran primer ini sangat kurang. Akibatnya, semua problem yang dihadapi manusia modern sekarang ini hampir semuanya berkaitan dengan problema non-teknis (lihat misalnya, Cardin, ; Fukuyama, 1995, dll.). Di sinilah sebenarnya kebutaan dimulai. Setelah kita “keluar” dari rumah, dimana tipe emotioning keberterimaan dengan dan bersama orang tua kita dapatkan, tipe emotioning yang kita konservasi menjadi berbeda, sehingga terjadi proses kontraksi atau ketegangan dalam hubungan-hubungan sosial kita. Anehnya, bencana ini benihnya dimulai sejak kita menguasai bahasa.
Ketika kita menguasai bahasa, kita mulai bisa membuat perbedaan-perbedaan. Kita mulai mengenal obyek, hubungan antar obyek; kita mulai mengenal konsep, dan mengenal kategori. Kemudian dengan ini kita mulai bisa membuat refleksi, dan akhirnya muncul kesadaran diri bahwa kita berbeda dengan obyek, berbeda dengan orang lain, dan seterusnya. Dari sini muncul dan berkembang keinginan-keinginan, termasuk keinginan-keinginan yang semakin memunculkan kesadaran akan perbedaan-perbedaan. Karena semua ini berlansung secara recirsive, kemudian kita terbiasa melihat segala sesuatu sebagai obyek, dan melihat diri kita sebagai subyek. Akhirnya, muncul penomena the observer and the observed. Pembelajaran di sektor kognisi dimulai dari sini. Kemudian kita menganggap semua ini menjadi begitu berharga, dan kita melihatnya sebagai kebenaran, sebagai satu-satunya cara melihat, sebagai niche. Kemudian emotioning yang muncul adalah emotioning berdasarkan pilihan, berdasarkan preferensi. Bahasa telah mengajarkan kita berfikir reduksi, seperti yang telah dikaji secara mendalam oleh David Bohm (Bohm, 1982). Bahasa membuat kita bisa melihat dunia dengan gambaran-gambaran obyek yang dibangun, yang kemudian mengkristal menjadi niche kita, dan akhirnya membuat kita menjadi egois, karena kita hanya bisa melihat niche kita, dan buta terhadap lingkungan di luar niche itu.
Akibat tenggelam dalam proses obyektivikasi ini, kita alpa belajar bagaimana memandang orang lain sebagai subyek; akibatnya, hubungan yang terbangun bukan hubungan antar atau inter-subyek melainkan hubungan antar atau inter-subyek-obyek. Yang muncul adalah hubungan antara “saya” dan “anda,” atau “saya” dan “dia,” bukan hubungan antara “saya” dan “kita.” Hubungan seperti mengambarkan hubungan yang bersifat a-simmetrik, hubungan yang menggambarkan ketidak berterimaan. Dalam hubungan seperti ini, komunikasi telah teriduksi menjadi sekedar untuk mengungkapkan keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan diri. Di sini kita tidak perlu mendengar, karena lawan bicara kita adalah bawahan kita, atau karena lawan bicara kita tidak terlalu pintar dll. Kita selalu mempunyai banyak alasan untuk tidak mendengarkan sesama. Tapi ini disebabkan oleh jenis emotioning yang kita konservasi, yaitu jenis emotioning yang menyebabkan kita menjadi buta. Untuk mengatasi ini, pembelajaran harus dimulai dari awal, karus kembali ke rumah, dan berangkat kembali dari sana. Di rumah, semua bentuk hubungan dimulai dari inter-subyektivitas, dari keberterimaan, dari cinta. Di sini semua aktivitas yang dilakukan bersama, apapun tujuannya, tidak pernah lepas dari spirit ini.

Mulai dari “Menerima tanpa Pamrih”
Yang sering menjadi masalah adalah kata cinta, sekalipun semua kita telah mengenalnya, adalah sebuah konsep yang sayangnya sangat abstrak dan cendrung memiliki makna dan konotasi yang berbeda-beda bagi setiap orang. Secara operasional, konsep cinta sering dianggap sebagai suatu konsep yang kehadirannya tidak bisa di kontrol atau diprediksi, sehingga memunculkan sikap yang padanya nothing you can do about. Kita mencintai seseorang sering tanpa sebab yang jelas; ia muncul dan terjadi dengan begitu saja. Kita beranggapan bahwa cinta tidak bisa dipelajari, apalagi dipaksakan. Cinta adalah sesuatu yang mesterius, yang datang dan pergi tanpa sebab yang jelas. Akibatnya, sekalipun hampir semua kita mengakui kebenaran ajaran moral yang mengatakan “cintailah orang lain seperti anda mencintai dirimu sendiri,” tetapi kita tidak pernah berpikir secara serius bahwa kita ingin dan bisa melaksakannya.
Sikap ini muncul karena adanya kesalahan konseptualisasi yang selama ini kita miliki. Cinta sebagai sebuah konsep moral adalah sebenarnya end-product, atau akumulasi dan kulminasi dari sejumlah tipe emotioning yang dikonservasi. Implikasinya adalah pembelajaran tidak mungkin bisa dimulai dari aplikasi konsep cinta secara lansung, karena ia adalah cumulative state dari tipe emotioning yang ingin dibangun. Cinta bukanlah sebuah konsep tunggal; ia memiliki elemen konstitutif yang membentuknya. Ia adalah sebuah rumah, atau sebuah emergent properties. Meminjam istilah dalam teori sistem, selama ini kita melihat konsep cinta sebagai “simple unity” yang memiliki atribut tertentu. Bila kita memilikinya, kita memiliki semua atributnya; bila tidak, kita tidak memilikinya. Sebagai “simple unity” kita tidak memiliki pedoman atau arahan bagaimana memilikinya sehingga kita memiliki atributnya. Akibatnya, sebagai sebuah konsep moral yang sangat penting kita tidak bisa belajar memilikinya, kecuali dengan cara memilikinya. Sebuah tutologi yang tidak bisa membantu kita untuk bisa membuat langkah-langkah berarti.
Oleh karenanya, konsep cinta harus dilihat sebagai “composite unity,” bukan “simple unity.” Dalam pengertian ini cinta dilihat sebagai hasil kumulatif dari proses emotioning tertentu yang kita konservasi dari hari per hari. Sebagai “composite unity,” ia adalah fungsi dari terkonservasikannya sejumlah nilai yang secara internal koheren dan sinergik membentuk “composite unity,” tersebut. Di dalamnya tidak terdapat inkoherensi. Setiap tipe emotioning yang melahirkan nilai tertentu yang berhasil dikonservasi akan membantu dan mempermudah pembelajaran dari nilai-nilai lain di dalam “composite unity,” tersebut. Singkatnya, konsep cinta sebagaimana dipahami sebagai “composite unity,” memberikan arahan pembelajaran yang jelas dan operasional, sehingga cinta tidak lagi dilihat sebagai konsep yang abstrak yang unlearnable. Berikut adalah gambaran umum tentang elemen konsitutif dari cinta sebagai “composite unity.”
Elemen dasar yang akan berfungsi sebagai intergrator dari interaksi yang ingin dibangun adalah kesediaan untuk membuka diri dan menerima orang lain apa adanya. Membuka diri adalah kata kunci pertama; menerima orang lain adalah kata kunci kedua. Yang pertama bersifat pasip, yang kedua bersifat aktip. Kedua-duanya memerlukan kualifikasi. Membuka diri berarti menyediakan ruang psikis bagi sesuatu. Membuka diri berarti mengosongkan ruang yang telah ada, sehingga nantinya ada cukup ruang untuk sesuatu. Mengosongkan ruang berarti menghilangkan motip, sebab, atau pamrih (interest). Interaksi yang bermakna tidak memerlukan “pelalatan lama (roperties)” ini. Bila ruang tidak bersih dari peralatan lama ini, nantinya ruang baru akan menjadi cepat sesak dan tidak akan cocok dengan design baru dari tata ruang yang ingin di bentuk. Jadi pembelajaran pertama adalah pengosongan diri, yaitu membangun disiplin untuk learn to unlrearn. Karena tiadanya pengosongan diri ini, interaksi dengan orang lain dalam permainan lama menjadi tidak menyentuh karena segala sesuatu dilakukan bukan karena keyakinan akan kebaikan melakukan sesuatu demi perbuatan itu sendiri, tetapi karena alasan-alasan pribadi masing-masing. Alasan-alasan pribadi ini adalah peralatan lama yang selama ini berfungsi sebagai disintegrator. Karena peralatan ini, kita tidak lagi bisa melihat partner interaksi kita sebagai subyek yang sama berharganya dengan kita, melainkan sebagai sarana untuk motip-motip kita, untuk interest-interest kita.
Motip-motip yang melatari interaksi yang bermotipkan pamrih pribadi mejadi penghambat dan berfungsi sebagai alat disintergrasi sistem sosial yang ingin dibangun karena berbagai alasan. Misalnya, motip-motip pribadi akan melahirkan praktik relativitas moral, baik disadari atau tidak. Sesuatu dianggap baik bila sesuai dan menguntungkan pribadi secara pribadi. Tidak ada kebaikan bila bertentangan dengannya. Karena tipe emotioning seperti ini yang terus menerus dikonservasi, akhirnya moralitas yang akan muncul adalah moralitas hedonistik, yang mempercayai, seperti Spinoza, bahwa sesuatu itu dikatakan baik karena kita menginginkannya. Sebaliknya, tidak ada kebaikan bila kita tidak menginginkannya, atau bila bertentangan dengan keinginan-keinginan kita. Inilah filsafat relativisme moral. Kita boleh tidak setuju dengan filsafat ini, tapi bila emotioning yang dikonservasi adalah tipe emotioning yang melahirkan dan melayani motip-motip pribadi, maka kita sebenarnya telah menjadi pelaku aktip dari aliran filsafat ini. Kita telah menjadi pelaku dari aliran ini bahkan sebelum kita bisa menerimanya secara kognitip.
Keinginan-keinginan pribadi akan bersifat relatif, yang berbeda bagi setiap orang dan berbeda dari waktu ke waktu bagi masing-masing orang. Karena keinginan yang berbeda-beda, kohesivitas sosial tidak akan pernah muncul. Arena interaksi adalah arena perjuangan untuk pemenuhan kepentingan-kepentingan pribadi. Akibatnya, hubungan yang muncul bukan hubungan yang besifat kooperatif, tapi hubungan kompetitif, hubungan persaingan. Bila ada kerja sama, kerja sama yang muncul adalah kerja sama dalam rangka kepentingan bersama bagi mereka yang memiliki kepentingan yang sama. Kerja sama seperti ini akan berlangsung selama kepentingan bersama itu tetap terpenuhi, dan akan berakhir begitu kepentingan bersama tidak lagi terpenuhi, atau telah berubah. Tipe kerja sama seperti ini akan melahirkan fragmentasi-fragmentasi, atau kelompok-kelompok sosial. Unitas sosial tidak akan pernah mungkin, karena adanya reltivitas motip dari masing-masing individu atau kelompok yang terus menerus berkembang. Akibatnya, pola-pola hubungan yang terbangun menjadi tidak predictable, dan tidak bisa ditebak, karena trust kepada sesama tidak ada.
Dalam situasi seperti, masing-masing individu akan berada dalam psikologi yang penuh dengan ketegangan. Setiap orang hanya akan berpikir tentang keselamatan dan kenyamanan dirinya. Secara internal, setiap orang mengalami disintegrasi, karena sistem syaraf masing-masing bekerja dengan kontraksi yang terus yang terus menerus. Masing orang akan merasa sakit, karena suasana negasi yang mewarnai pola hubungan di mana ia berada. Oleh karenanya, tidak ada pilihan lain selain belajar dengan sungguh-sungguh mengosongkan diri dari semua motip distruktip yang telah kita konservasi selama ini ketika mengadakan interaksi dengan orang lain.
Langkah awal yang harus dilakukan sebelum pengosongan dilakukan adalah mengenal anatomi motip-motip kita. Kita harus belajar mengenal motip-motip kita mengadakan interaksi selama ini. Ini tentu tidak mudah, karena motip-motip tersebut sering tidak mengemuka di dalam kesadaran kita. Ia sering telah terpatri di alam bawah sadar kita, dan hanya muncul dalam bentuk pola-pola hubungan tertentu dengan orang lain. Menegenal motip-motip tersebut berarti mengadakan refleksi serius akan alasan-alasan kenapa kita memulai, meneruskan atau tidak meneruskan hubungan-hubungan kita dengan orang lain. Refleksi ini harus terus menerus dilakukan, terutama setiap kali kita memulai kembali interaksi kita dengan orang lain. Pengosongan diri dari motip-motip pribadi bukanlah one time proposition, tetapi adalah aktivitas yang harus terus menerus dilakukan setiap kali kita mengadakan interaksi. Ruang psikis yang harus dikosongkan bukanlah ruang statis seperti membuang air dari gelas, tetapi ia adalah ruang dinamis yang hanya bisa dikosongkan dengan menghadirkan kesadaran diri secara terus menerus, dan berjuang untuk mengosongkannya setiap kali motip itu muncul kembali.
Motip-motip manusia sangat beragam dan kompleks, dan tentu akan sangat memberatkan, untuk tidak mengatakan tidak realistis sama sekali, kalau dikosongkan semuanya, apalagi dalam waktu yang bersamaan. Saya kira prinsip yang harus dipegang adalah sebagai berikut: setiap kali kita mengadakan interaksi, refleksikan bagaimana kita melihat lawan interaksi kita. Apakah dia kita lihat seperti berada pada seting supermarket, dimana kita berinteraksi seperti ketika kita berbelanja karena ada hajat untuk mendapatkan sesuatu, dan lawan interaksi kita hanya berperan sebagai orang yang membantu kita mendapatkan sesuatu itu, dan dia berhenti berfungsi, dari sudut pandang kepentingan kita, begitu transaksi telah dilakukan. Yang dominan dalam interaksi tipe ini adalah adanya “material touch,” bukan “human atau personal touch.” Ataukah ketika kita berinteraksi dengan seseorang kita menganggapnya seolah-olah berada pada seting rumah, seperti bersama keluarga, dimana kita berinteraksi bukan karena motip-motip khusus (apalagi motip material) tertentu, tetapi karena mereka adalah seolah seperti keluarga kita. Yang dominan dalam interaksi tipe ini adalah “human atau personal touch,” bukan “material touch.”
Kedua tipe interaksi di atas adalah tipe-tipe ekstrim, yang memang sengaja dimunculkan untuk mengkontraskan situasi. Dalam realita, motip-motip interaksi dengan seseorang jauh lebih kompleks, dan terdiri dari berbagai motip, material maupun non-material, yang terjadi dari waktu ke waktu. Lagi pula, dalam kesempatan tertentu motip-motip material tidak harus berarti salah, apalagi dalam rangka pemenuhan “needs” kemanusiaan kita. Akan tetapi yang relevan dari dua contoh di atas adalah ciri dominannya yang menyemangati spririt interaksi kita dengan seseorang. Bila yang dominan adalah spirit materialnya, yaitu motip demi kepentingan pribadi, dan lawan interaksi adalah alat semata dari pemenuhan kepentingan itu, maka spirit hubungan seperti ini adalah spirit negasi, bukan keberterimaan atas dua entitas living systems yang sedang berinteraksi dalam rangka membentuk congruent structural drift bersama. Bila pola hubungan dirasa memiliki motip seperti, maka proses pengosongan diri harus dilakukan. Pembelajaran di tingkat ini, bila berhasil, adalah langkah awal yang sangat penting, yang memungkinkan kita pantas berharap bahwa nantinya bisa terbangun pola-pola hubungan antar sesama yang lebih manusiawi!
Langkah kedua setelah pengosongan diri dari motip-motip yang bersifat disintegratif adalah belajar menerima kehadiran orang lain secara apriori, sebagaimana adanya. Belajar menerima berarti adanya kesediaan untuk membuka ruang dan menerima orang lain, dan orang lain itu bagi kita, tanpa syarat, tanpa kondisi. Karena setiap orang adalah manusia yang memiliki “human dignity” yang sama, maka inilah satu-satunya alasan apriori mengapa interaksi dengan sesama harus berlansung, yaitu interaksi dua atau lebih dari individu yang sama-sama memiliki dignity. Inilah kesamaan azali yang dimiliki bersama, sebagai bekal menjadi anggota yang produktif dalam sistem sosial. Keberterimaan secara apriori seperti ini akan melahirkan sejumlah pola interaksi yang memperkokoh tiang-tiang penyangga bangunan sistem sosial. Pertama, ke-saling-berterimaan seperti ini akan melahirkan hubungan yang reciprocal, bersifat imbal-balik, saling ikat-mengikat, tapi masing-masing berada pada standing yang selalu sama, yaitu sama-sama berharga. Bentuk hubungan yang akan terbangun adalah hubungan yang bersifat inklusif, semua adalah bagian dari kita. Disni tidak ada negasi, atau penolakan, karena setiap bentuk negasi berarti pengingkaran terhadap kesamaan dignity, dan pengingkaran terhadap kesamaan dignity berarti tiadanya keberterimaan yang reciprocal. Keberterimaan berdasarkan dignity berarti tidak adanya value judgment yang melahirkan efek perasaan “saya lebih baik, atau lebih suci,” tetapi akan melahirkan efek simpati terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keberterimaan melahirkan otonomi, dan adanya otonomi akan melahirkan kreativitas. Keberterimaan berarti kesejajaran, dan adanya kesejajaran berarti tiadanya kontrol, dan dominasi. elaborate
Sebagaimana pengosongan, menerima orang apa adanya bukanlah one-time proposition. Ini memerlukan pembelajaran terus menerus. Ia memerlukan refleksi terus menerus sehingga memberikan efek kesadaran bahwa setiap orang adalah berharga dan setiap interaksi adalah interaksi yang selalu berbentuk “we” relations. Kita belajar agar di setiap interaksi tidak ada yang mengontrol atau mendominasi, karena setiap kontrol atau dominasi akan memberikan efek penolakan, atau penyerahan diri, yang keduanya akan mempersempit ruang keberterimaan yang reciprocal. Kita harus sungguh-sungguh belajar mendengarkan orang lain, karena tidak mendengarkan berarti adanya negasi terhadap orang tersebut, dan negasi berarti pengingkaran terhadap dignitynya.
Belajar mendengarkan bukanlah kegiatan mudah dan sederhana. Kegiatan ini sangat kompleks, terutama agar reaksi-reaksi kita selalu berada dalam spirit ke-saling-berterima-an. Yang paling berat, ketika kita mendengarkan, adalah menahan dorongan untuk memberi interpretasi sepihak terhadap makna-makna yang tersirat dari apa yang kita dengar
Sering teguran atau kritik kita anggap sebagai negasi terhadap eksistensi kita, dan kita segera bereaksi berdasarkan terhadap interpretasi kita tentang adanya negasi tersebut. Terkadang bukan substansi tersurat dari teguran tersebut yang memberatkan kita, tetapi justru karena adanya teguran itu sendiri, dan ini sering kita anggap secara sepihak sebagai pengingkaran atau penolakan terhadap diri kita. Dari interpretasi subyektif dan sepihak ini, kita sering bereaksi dengan berbagai cara, termasuk dengan cara sakit hati. Jadi mendengarkan bukan saja berarti berusaha memahami apa yang kita dengar, tetapi juga berarti belajar menahan diri untuk tidak memberi interpretasi sendiri terhadap makna-makna yang tersirat dari apa yang kita dengar secara tersurat.
Merasa sakit hati atau bersikap ofensif terhadap makna-makna tersirat yang kita konstruksi tersendiri berarti masih ada rasa su’dhan terhadap lawan interaksi yang tadinya telah kita terima secara apriori itu. Oleh karenanya, pembelajaran yang harus dilakukan adalah menahan diri mengadakan interpretasi terhadap apa-apa yang tersurat, terutama yang berakibat munculnya perasangka jelek terhadap lawan interaksi.

Posted in refleksi | No Comments »
May 13th, 2012

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman saya Izhar M Fihir Bachsin, yang adik kandungnya Heyder Bachsin ikut menjadi penumpang Sukhoi superjet 100 yang menabrak gunung Salak tanggal 9 Mei 2012 yang lalu.
Cerita ini awalnya saya dengar dari radio Silatur Rahim tadi malam, tanggal 12 Mei 2012. Kemudian dilengkapi dengan berdiskusi dengan ustadzah Siti Nurani, dan bahan2 dair Internet

Abu Umair, putra Ummu Sulaim dan Abu Thalhah meninggal dunia. Sementara Abu Thalhah tidak mengetahui karena sedang pergi. Saat itu Ummu Sulaim menaruh jenazah anaknya di sudut rumah (dalam cerita lain dikuburkan langsung). Ia lalu berpesan kepada keluarganya, untuk tidak menceritakan kondisi anaknya kalau ayahnya pulang nanti, karena ia sendiri yang akan menceritakannya.

Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim bersikap sewajar mungkin. Ketika suaminya bertanya,”Bagaimana keadaan anakku?” Saat itu Ummu Sulaim menjawab,”Dia lebih tenang daripada keadaan sebelumnya.” Tentu saja tenang. Namun, Abu Thalhah merasa gembira karena mengira bahwa anaknya sudah sembuh.
Ummu Sulaim pun mempersiapkan hidangan terlezat, berdandan lebih cantik dari biasanya, melayani suami dengan muka yang paling manis. Bahkan sampai ia layani suaminya di tempat tidur.

Setelah melayani suaminya dengan layanan terbaik, diakhir malam ia bertanya kepada suaminya,”Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila suatu kaum meminjami sesuatu kepada suatu keluarga, lalu kaum itu meminta kembali pinjamannya? Bolehkah keluarga tadi menahannya?” Abu Thalhah menjawab,”Tentu saja tidak boleh”.
Ummu Sulaim bertanya lagi,”Apa pendapatmu jika keluarga itu sangat keberatan untuk diminta mengembalikan pinjaman tersebut setelah mereka keenakan memanfaatkannya.” Abu Thalhah kemudian berkata,”Tidak, menahan separoh pun tidak boleh.”
Ummu Sulaim berkata,”Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya, maka relakanlah anakmu.” Abu Thalhah tidak mampu menahan dirinya. Dengan marah ia berkata,”Tadi saat aku suci, engkau tidak memberitahukannya kepadaku. Namun tika aku sedang junub, baru engkau beritahukan keadaan anakku!!”
Ummu Sulaim tak henti-hentinya mengingatkan suaminya sampai Abu Thalhah berkata: “inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un” dan memuji Allah. Akhirnya, dia pun menjadi tenang.

Pagi harinya Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan menceritakan peristiwa yang dialami semalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata,”Semoga Allah memberkati kalian berdua atas apa yang kalian lakukan semalam.” Dengan doa Rasulullah, hubungan suami istri semalam membuahkan keturunan seorang anak. Anaknya itu di kemudian hari melahirkan 7 keturunan yang semuanya hafal AlQuran.

Belajar Sabar
Dari mana Ummu Sulaim bisa sesabar dan setenang itu. Ia sudah lama belajar sabar. Ia masuk Islam ketika bersuamikan Malik, suami pertamanya. Sedang suami nya tidak.
Latihan awal yang dihadapinya setelah menjadi muslimah adalah kemarahan suaminya, Malik. Saat itu, ketika suaminya baru kembali dari bepergian dan mengetahui keislaman Istrinya, dengan kemarahan yang memuncak Malik berkata kepadanya,”Apakah engkau sudah murtad?” Ia menjawab kemarahan suaminya dengan tenang dan sabar: “Suamiku, Aku tidak murtad, tetapi justru aku telah beriman.”

Ummu Sulaim kuatir dengan pendidikan anaknya Anas, dengan ayahnya yang belum masuk Islam itu. Ia kemudian pergi menemui Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan membawa anaknya. Dengan malu-malu, ia menawarkan buah hatinya agar diangkat menjadi pelayan Rasulullah. Dengan senang hati, Rasulullah pun memenuhi keinginan Ummu Sulaim tersebut.

Memilih Islam, bukan harta
Malik kemudian meninggal tanpa sempat masuk Islam. Ummu Sulaim ini adalah wanita cantik terkenal di zaman nabi, sehingga beberapa orang melamarnya kembali. Salah satu yang melamar adalah Abu Thalhah orang terkaya di Madinah saat itu. Meskipun akan diberi mahar yang berlimpah, ia menolak lamarannya. Ketika ditanya mengapa, Inilah ucapan penolakan Ummu Sulaim yang sangat terkenal: “Demi Allah, sebenarnya tidak ada orang sepertimu yang pantas ditolak lamarannya, wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau adalah seorang lelaki kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah. Aku tidak halal menikah denganmu. Apabila engkau mau masuk Islam, itulah mahar untukku. Aku tidak minta yang lain untukku.”
Akhirnya Abu Thalhah masuk Islam, dan menjadi Suami Kedua Ummu Sulaim

Dalam kesempitan tetap bersodaqoh

Sedekah mudah dilakukan ketika ada. Namun di zaman Nabi, orang2 kaya seperti Abu bakar bersedekah untuk kemajuan Islam sampai ia tidak punya apa2. Demikain pula Abu Thalhah, meskipun ia mulanya orang kaya, Setalah masuk Islam, ia memberi sedekah hampir semua kekayaannya sehingga kadang2 ia tidak punya apa2
dalam sebuah riwayat, Abu Hurairoh menuturkan, suatu saat datang seseorang kepada Nabi mengeluhkan dirinya yang kelaparan. Nabi menanyakan kepada istrinya, masihkah tersedia makanan yang bisa disedekahkan? Sayang tidak tersedia kecuali hanya air putih.
Setelah itu Nabi bersabda kepada sahabat,”Siapa yang bersedia menerima lelaki ini sebagai tamunya?” Abu Thalhah menjawab,”Aku, Wahai Rasulullah”.
Sesampai di rumah, Abu Thalhah bertanya kepada Ummu Sulaim apa masih punya persediaan makanan. Ummu Sulaim menjawab,”Makanan hanya tersisa untuk keperluan makan anak kita saja.” Abu Thalhah menyuruh Ummu Sulaim untuk membawa anaknya bermain dan menidurkannya.
Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim,”Ketika tamu kita masuk, perlihatkan kepadanya bahwa kita akan makan bersama-sama. Ketika ia sudah mencicipi masakan, berdirilah engkau ke arah lampu dan perlihatkan seolah-olah engkau memperbaikinya. Kemudian, matikanlah lampu itu.”
Mereka pun duduk dan sang tamu terus makan. Sementara mereka kelaparan malam itu.

Ya Allah berilah kesabaran atas saudaraku Izhar akan musibah ini.
Sesungguhnya Allah memberikan berita gembira kepada orang2 sabar
yaitu apabila tertimpa musibah berkata:
Inna Lillahi wa inna Ilaihi roji’un

Depok 13 Mei 2012

April 2nd, 2012

I copy this beautiful story from Heru suhartanto

(http://us.mg6.mail.yahoo.com/neo
/launch?.rand=c4bqa63u433ib)

One young academically excellent person went to apply for a managerial position
in a big company.

He passed the first interview, the director did the last interview, made the
last decision.

The director discovered from the CV that the youth’s academic achievements were
excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate
research,
never had a year when he did not score.

The director asked,
“Did you obtain any scholarships in school?”
the youth answered “none”.

The director asked,
” Was it your father who paid for your school fees?”
The youth answered,
“My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my
school fees.

The director asked,
” Where did your mother work?”
The youth answered,
“My mother worked as clothes cleaner.
The director requested the youth to show his hands.
The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.

The director asked,
” Have you ever helped your mother wash the clothes before?”
The youth answered,
“Never, my mother always wanted me to study and read more books.
Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.

The director said,
“I have a request. When you go back today, go and clean your mother’s hands, and
then see me tomorrow morning.*

The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back,
he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt
strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to the kid.

The youth cleaned his mother’s hands slowly. His tear fell as he did that. It
was the first time he noticed that his mother’s hands were so wrinkled, and
there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his
mother shivered when they were cleaned with water.

This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that
washed the clothes everyday to enable him to pay the school fee. The bruises in
the mother’s hands were the price that the mother had to pay for his graduation,
academic excellence and his future.

After finishing the cleaning of his mother’s hands, the youth quietly washed all
the remaining clothes for his mother.

That night, mother and son talked for a very long time.

Next morning, the youth went to the director’s office.

The Director noticed the tears in the youth’s eyes, asked:
” Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?”

The youth answered,
” I cleaned my mother’s hand, and also finished cleaning all the remaining
clothes’

The Director asked,
” please tell me your feelings.”

The youth said,

Number 1,
I know now what is appreciation. Without my mother, there would not the
successful me today.

Number 2,
by working together and helping my mother, only I now realize how difficult and
tough it is to get something done.

Number 3,
I have come to appreciate the importance and value of family relationship.

The director said,
” This is what I am looking for to be my manager. I want to recruit a person who
can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others
to get things done, and a person who would not put money as his only goal in
life. You are hired.

Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his
subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company’s
performance improved tremendously.

A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would
develop “entitlement mentality” and would always put himself first. He would be
ignorant of his parent’s efforts.

When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when
he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and
would always blame others.

For this kind of people, who may be good academically, may be successful for a
while, but eventually would not feel sense of achievement.

He will grumble and be full of hatred and fight for more. If we are this kind of
protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid
instead?*

You can let your kid live in a big house, give him a Driver & Car for going
around, Eat a Good Meal, learn Piano, Watch a Big Screen TV. But when you are
Cutting Grass, please let them experience it. After a Meal, let them Wash their
Plates and Bowls together with their Brothers and Sisters. Tell them to Travel
in Public Bus, It is not because you do not have Money for Car or to Hire a
Maid, but it is because you want to
Love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their
parents are, one day their hair will Grow Grey, same as the Mother of that young
person. The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort
and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get
things done.

You would have forwarded many mails to many and many of them would have back
mailed you too…but try and forward this story to as many as possible…this
may change somebody’s fate…

Posted in refleksi | No Comments »
October 17th, 2011

Tukang sepatu dan haji mabrur

Saya mendengar cerita ini kemarin (16 Oktober 2011) dari ustaz Hussein Alatas, cerita ia ceramah di radio Silatur Rahim, radio yang sering saya dengar ketika berangkat atau pulang ke rumah. Penasaran saya cari di Internet. Ternyata di Internet banyak sekali versinya. Kisah ini diceritakan kembali oleh Imam Mesjid Rohmah, Cairo Mesir. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Namun saya yakin baik untuk refleksi

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi [1] ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika,setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”

“Itu Kehendak Allah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah[2], tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun.

Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, Tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria. Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itukebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar

Labbaika Allahumma labbaika.

Labbaika la syarika laka labbaika.

Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.

laa syarika laka.

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.

Tiada sekutu bagiMu.

Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.

Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis

Ya allah aku rindu Mekah

Ya Allah aku rindu melihat kabah

Ijinkan aku datang…..ijinkan aku datang ya Allah

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan.

Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji

“Saya sudah siap berhaji”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hami, dan sering nyidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”

“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?

“ ya sayang”

“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

Ustaz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh.

Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.

Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.

Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “ tidak boleh tuan”

“Dijual berapapun akan saya beli”

“ Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata

Akhirnya saya tanya kenapa?

Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan.” Namun bagi Tuan, daging ini haram.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.

Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis,

Kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu

“ Ini masakan untuk mu”

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.” Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku

Ya Allah……… disinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

“Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya”

[1] Dalam versi lain, ulama itu adalah Hasan Al-Basyri , ulama mesir terkenal. Namun saya lebih mempercayai ulama ini bernama Abdullah bin Mubarak karena riwayatnya yg lebih jelas. Ia lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797. Allah yang lebih tahu.

[2] Dalam riwayat lain tukang sepatu ini bernama Ali bin Mowaffaq. Saya memilih ibnu Muhafah, karena nama yang saya dengar dari ustaz Hussein Alatas

January 25th, 2011

digubah dari tulisan teman saya. Tks pak jusuf sutanto

TAHUN, hanyalah konsep buatan manusia. Dengannya kita bisa menggunakannya digunakan untuk mengukur berapa lama mahluk hidup di dunia, berapa jauh jarak bumi  dengan bintang terdekat, dan sebagainya.

Ulang tahun, juga konsep manusia.

Konsep ini begitu sederhana. Dengannya kita bisa tahu sudah berapa lama kita mendiami bumi ini. Atau, dengannya kita bisa tahu berapa lama lagi kita tinggal di bumi ini.

Life is too short….

Pertanyaannya: Konsep TAHUN seperti apa sebenarnya yang kamu inginkan ?

Lamanya pertikaian dan permusuhan, atau persahabatan dan perdamaian ?

TAHUN seperti apa yang telah kamu lalui?

Apakah kamu melaluinya tanpa kesadaran?

Barangkali itu salah satu gunanya: agar kamu bisa melaluinya dengan kesadaran. seperti batu loncatan yang kita perlukan ketika melintasi sungai. Seperti tonggak sejarah hidupmu sendiri

Life is too short….

Karena itulah nabi tidak menggunakan tahun sebagai tonggak. Nabi menggunakan hari sebagai ukuran. sabdanya: hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini. Bukan: tahun depan harus lebih baik.

Sebab life is too short…

sebab: Demi waktu, manusia pastilah merugi….

Jadi, orang biasa mengatakan: Awali TAHUN BARU dengan hati yang bersih.

Aku akan  mengatakan: awali hari baru dengan cangkir yang bersih. Buanglah air yang ada dalam cangkirmu, sehingga setiap hari cangkirmu kosong. Dengan begitu kamu bisa menghadapi hari2 mu dengan penuh keterbukaan dan keceriaan.

Sebab life is too short…

selamat  1 januari 2011, selamat 1-1-11


January 25th, 2011

God does not exist

by Purnawan Junadi on Wednesday, December 15, 2010 at 7:33pm

A man went to trim his hair and beard. As always happens, he and the barber chatted about this and that, until – commenting on a newspaper article about street kids – the barber stated:

– As you can see, this tragedy shows that God doesn’t exist. Don’t you read the papers? So many people suffer, abandoned children, there’s so much crime. If God existed, there wouldn’t be so much suffering.

– You know something? Barbers don’t exist.

– What do you mean, don’t exist? I’m here, and I’m a barber.

– They don’t exist! – insisted the man. – Because if they did, there wouldn’t be people with such longs beards and such tangled hair.

– I can guarantee that barbers do exist. But these people never come in here.

– Exactly! So, in answer to your question, God exists, too. It just so happens that people don’t go to Him. If they did, they would be more giving, and there wouldn’t be so much misery in the world.



January 25th, 2011

Jangan berharap yang mudah. Kesulitan justru membuatmu tumbuh

by Purnawan Junadi on Wednesday, December 22, 2010 at 5:20pm

(thx buat Meidy yang mengilhami saya menulis ini)

Mengapa dinosaurus pemakan tumbuh2an (ultrasaurus, supersaurus, brachiosaurus) hampir semuanya besar dan tinggi? Ahli arkeologi menyimpulkan sebabnya secara sederhana 2 hal: untuk mengalahkan dino pemakan daging, dan agar bisa makan daun2an di pohon yang tinggi.

Mengapa kijang di Afrika umumnya gesit? kalau dia lamban, dia mudah diterkam cheetah, macan tutuh atau singa. Khusus untuk melawan cheetah, binatang pelari tercepat di dunia,  kijang mengandalkan kegesitan dan daya tahan.Cheetah hanya bisa sprint selama beberapa menit, setelah itu dia kepanasan dan harus berhenti. Sebaliknya semua harimau harus melatih anak2nya bagaimana bergerak tanpa suara, karena hanya dengan cara itu mereka bisa menangkap kijang yang gesit itu. Kompetisi antara pemangsa dan yang dimangsa itu berlangsung berabad-abad. Kijang yang tidak belajar lari, dan harimau yang tidak belajar mengendap-endap pasti tidak survive. Kijang bahkan harus belajar sejak pertama lahir, tidak seperti anak harimau yang untuk seminggu masih belum bisa melihat, karena anak kijang tidak punya privilege seperti anak harimau.

Coba bandingkan dengan kijang yang lahir di kebun binatang atau di istana presiden Bogor. Karena praktis tidak ada pemangsa, maka tidak ada perlunya untuk segera melatih anaknya supaya lari cepat. Artinya justru adanya tantangan membuat kijang liar tumbuh kuat dan lincah.

Kita kadang2 tidak mengerti bahwa Tuhan memang mendisain kesulitan itu agar mahluknya menjadi kuat. Ada sebuah cerita tentang seseorang yang sangat penyayang, yang melihat bagaimana kupu2 baru yang berjuang keluar dari kepompongnya. kupu2 baru itu terlihat keluar dengan susah payah melalui lubang kecil di kepompong itu, dan sering kali berhenti sejenak sebelum meneruskan usahanya lagi. Orang yang penyayang itu, iba melihatnya, apalagi ia tahu kupu2 sudah berhari-hari puasa semenjak jadi kepompong. ia lalu menggunting lubang kecil itu, sehingga kupu2 itu dengan mudah bisa keluar. Orang itu berhrap kupu2 itu segera mengembangkan sayapnya dan segera terbang. tetapi hal itu tidak terjadi. sayap kupu2 itu tetap saja lemah. Yang tidak diketahui oleh orang itu adalah, bahwa lubang keluar di kepompong itu memang dibuat sempit agar kupu2 itu terperas cairan tubuhnya, membasahi sayap barunya. cairan itu ternyata sangat berguna untuk membesarkan dan menguatkan sayapnya, sehingga setelah keluar kupu2 itu menjemur dirinya smapai sayapnya kering dan kuat dan barulah terbang. Kupu2 yang dibantu agar cepat keluar itu sayapnya tidak sebasah biasanya sehingga sayapnya juga tidak kuat.

Dunia memang didisain, bahwa untuk mendapatkan sesuatu orang harus berjuang. Mulai dari lahir, dengan bantuan ayah ibu, kita belajar mengatasi kesulitan kita. setiap kali kita berhasil, kita berkembang. untuk meraih mainan yang kita inginkan, kita belajar membalik badan, menyeret badan, merangkat, merambat, meraih, berdiri, berlari dstnya. Sekarang kita merasa seperti semua itu pemberian, taken for granted. padahal ketika anak2, kita berjuang untuk melakukan setiap hal itu.  Anehnya setiap anak2, tidak kenal kata menyerah. meskipun berkali-kali gagal, anak akan terus mencoba. Meskipun berkali-kali jatuh, anak mencoba berdiri, dan tidak berhenti sampai berhasil. Bayangkan, kalau seorang anak menyerah ketika jatuh untuk kesepuluh kalinya ketika belajar berdiri, dan memilih untuk merangkak saja. Hal itu tidak pernah terjadi. Lalu mengapa sekarang kita kalau menjumpai kesulitan kita menyerah? barangkali kita lupa bahwa kita pernah anak2

Dunia memang didisain, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, kita harus berjuang. Sebagai hadiah, ketika kita berhasil mengatasi kesulitan, dan mendapatkan sesuatu yang kita perjuangkan, kita mendapat kegembiraan, perasaan sukses, percaya diri bertambah, dan kita berkembang. kesulitan demi kesulitan yang kita hadapi dan atasi membuat kita menjadi menghargai diri kita sendiri dan menghargai orang lain, karena mengetahui bagaimana jerih payah yang harus kita keluarkan untuk menanggulanginya.

Bayangkan kalau kita selalu dengan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan, baik karena orang tua yang karena sayangnya selalu memberi, baik karena kekayaan materi kita sehingga semuanya dalam raihan tangan, baik karena kekuasaan sehingga setiap orang memberikan apa saja yang kita inginkan. maka kegembiraan akan menjadi hambar, percaya diri tidak pernah sempurna terbentuk, dan tidak bisa menghargai orang lain.

Jadi next time menghadapi kesulitan, katakan:

alhamdulillah, puji tuhan, engkau memberi aku kesempatan untuk berkembang

kali lain menghadapi kesulitan,  kita akan menghadapinya dengan kegembiraan, persis ketika anak2 kita melihat mainan baru

January 25th, 2011

To speak about someone’s weakness is not greatness. The greatness lies in removing that weakness

  • August 2017
    M T W T F S S
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Archives

  • Pages