all about the world of sports medicine at Faculty of Medicine, Universitas Indonesia
all about the world of sports medicine at Faculty of Medicine, Universitas Indonesia

Exercise is medicine

Latihan fisik yang dilaksanakan secara teratur diketahui memberi banyak manfaat terhadap kesehatan seseorang.  Pengamatan selanjutnya menunjukkan bahwa suatu bentuk latihan ternyata dapat memberi manfaat terhadap kesehatan seseorang, yang pada akhirnya berguna untuk membantu mengatasi penyakit tertentu.

Di Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang berdiri sejak tahun 1990, telah dilakukan penelitian pengaruh berbagai bentuk latihan terhadap aspek kesehatan tertentu.  Penelitian tersebut umumnya menunjukkan hasil yang positif, sehingga tidaklah berlebihan jika muncul paradigma Exercise is medicine.

Penelitian pertama yang berhubungan dengan upaya penganggulangan penyakit dilakukan oleh Lodewyck Sitorus pada tahun 1994.  Hasil penelitian mendapatkan bahwa penderita Diabetes Mellitus (kencing manis) yang tidak tergantung Insulin akan menurun kadar gula darahnya jika melakukan latihan lari dengan intensitas sedang, 60 menit setiap kali latihan dan dilakukan teratur 3 kali seminggu selama 6 minggu.

Pada tahun 1997, Indra Wahyu Ali meneliti penderita asma yang melakukan senam asma Indonesia.  Hasil yang diperoleh adalah jika seseorang telah mengikuti senam asma Indonesia lebih dari 3 bulan, maka kekerapan terjadinya serangan asma akibat exercise berkurang.  Penelitian lain terhadap penderita asma dilakukan oleh Hendra F Gosana pada tahun 1999.  Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah penderita asma yang melakukan senam asma 2 kali seminggu akan mendapatkan perbaikan klinis dan menurun jumlah penggunaan obatnya jika dibandingkan kelompok penderita yang tidak melakukan senam.

Pada tahun 1999, I Nyoman Winata melakukan penelitian terhadap sekelompok penderita hipertensi ringan yang melakukan latihan jalan cepat di Klub Aerobik Kridaloka PKO dr. Sadoso.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan tekanan darah sistolik 16 mmHg dan diastolik 10 mmHg setelah pasien melakukan latihan jalan cepat dengan intensitas 65 – 75% denyut jantung maksimal, dilakukan 3 kali seminggu á 45 menit selama 12 minggu.

Beberapa penelitian lain mengambil fokus kepadatan mineral tulang, yang sangat erat kaitannya dengan upaya mencegah maupun mengobati kekeroposan tulang.  Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa :

o        Terdapat peningkatan densitas mineral tulang pada wanita usia reproduktif yang melakukan olahraga dengan pembebanan secara teratur seperti senam aerobik (Tanya Rotikan, 1996).

o        Terdapat peningkatan kepadatan mineral tulang pada wanita pasca menopause dengan terapi hormonal pengganti yang melakukan olahraga teratur selama 6 bulan.  Pada wanita pasca menopause yang tidak berolahraga, tidak terjadi perubahan densitas mineral tulang sekalipun mendapat terapi hormonal pengganti (Ariani, 1998).

o        Terdapat indikasi kuat bahwa Senam Pencegahan Osteoporosis dapat meningkatkan kepadatan mineral tulang terutama di tulang ulna (lengan bawah), yang merupakan bagian tulang yang seringkali lebih cepat mengalami kekeroposan (Susetyo Soewarno, 2002).

Penelitian lain juga dilakukan pada kelompok orang sehat yang melakukan berbagai aktivitas senam atau olahraga lain.  Chandra A Gani dan Eny Riangwati Tanzil pada tahun 2002 meneliti pengaruh Senam Jantung Sehat Seri III yang dikembangkan oleh Yayasan Jantung Indonesia terhadap perubahan indeks kebugaran jasmani dan kadar lipid serum.  Sekelompok peserta wanita usia 45 – 55 tahun melakukan senam 3 kali seminggu selama 12 minggu.  Pada akhir penelitian terlihat bahwa terjadi peningkatan indeks kebugaran jasmani yang meliputi daya tahan paru, komposisi lemak tubuh, kekuatan otot, daya tahan otot dan kelenturan tubuh.  Sedangkan untuk komponen kadar lipid darah, terlihat penurunan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida.

Penelitian terhadap profil lipid sebelumnya telah dilakukan oleh Ismeila Murtie Rahenod pada tahun 1995.  Sekelompok laki-laki berumur 40 – 60 tahun yang melakukan latihan aerobik dengan intensitas sedang 3 kali seminggu á 60 menit selama 12 minggu di Klub Aerobik PKO dr. Sadoso di Krida Loka Senayan diteliti perubahan gambaran lipid darah-nya.  Tidak berbeda dengan penelitian Eny RT, pada penelitian ini terbukti terjadi penurunan kadar kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol LDL serta peningkatan kadar kolesterol HDL.  Mengingat kadar kolesterol LDL, rasio kolesterol LDL/kolesterol HDL merupaka prediktor risiko kejadian penyakit jantung koroner, maka dapat diharapkan bahwa latihan Senam Jantung Sehat Seri III maupun latihan aerobik di Klub Aerobik PKO dr. Sadoso yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner.

Olahraga lain yang juga telah diteliti adalah olahraga pernapasan Satria Nusantara (SN).  Penelitian Noviar Mahmud pada tahun 1997 mendapatkan bahwa latihan olahraga pernapasan Satria Nusantara selama 3 bulan dapat meningkatkan kapasitas aerobik dan fungsi paru.

Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga FKUI sebagai institusi pendidikan senantiasa berusaha menyumbangkan pemikirannya dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.  Penelitian ini adalah sebagian dari usaha tersebut, yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap dan alternatif pengobatan berbagai penyakit di Indonesia.

Maret 2004 [Nani Cahyani Sudarsono]