MasFurI’s blog

Just another blog.staff.ui.edu weblog

RSS Feed

Perawat DS dari Asahan: ujung tombak yang tak diasah

Posted by masfuri on 18th January and posted in opini

Kasus persalinan yang ditolong perawat DS dari Asahan Sumatera Utara, bayi melepuh di incubator dan kematian pasien paska penyuntikan antibiotic oleh perawat yunior adalah beberapa insiden yang di ekspose media yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya relevansi kompetensi dengan kebutuhan lapangan. (more…)

Kesederhanaan dan Kearifan Masyarakat Groningen Belanda

Posted by masfuri on 29th October and posted in opini

(Masfuri) 

Sederhana adalah kesan pertama pertama saat kami melihat sepeda sebagai alat transportasi utama kehidupan masyarakat Groningen, satu propinsi paling utara di negeri Belanda.  Bijak merupakan kesan kedua yang tercermin dalam penghargaan terhadap eksistensi sepeda di dalam sistem tranportasi dan kehidupan modern masyarakat di kota yang berjarak sekitar 3 jam perjalan bus dari Amstedam. (more…)

Praktek Mandiri Perawat

Posted by masfuri on 28th May and posted in opini

Berita di Kompas tanggal 13 mei 2008 dari Karo Hukor Depkes RI yang menyatakan bahwa belum ada bukti bahwa perawat bisa melakukan praktek keperawatan sendiri sebagai perawat bukan sebagai dokter adalah tidak benar sepenuhnya. artikel ini berusaha menampilkan beberpa kegiatan yang telah dilakukan dan eksis di masyarakat dan bukan mempraktekan peran ‘dokter kecil’.

Adalah perawat di RS Kanker Darmais, mereka membentuk pusat perawatan luka dan stoma. Tindakan mereka murni keperawatan dan sampai saat ini banyak sekali dokter-dokter yang merujuk pasiennya untuk mendapatkan sentuhan tangan profesional dari para enterostoma nurse yang ada disana. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman dari Pontianak, dia adalah perawat spesialis luka tingkat advance S1 lulus di UI dan S2 serta S3 lulus dari Jepang. banyak luka di kaki akibat diabetes yang nyaris akan di amputasi kembali membaik setelah  dirawat oleh Ners Suryadi ini. Penulis sendiri memiliki pengalaman merawat luka menahun pasca fraktur kaki yang tidak sembuh lebih dari 2 tahun, telah dilakukan operasi (skin graft) 3 kali dan masih basah selalu. Karena di rumahnya ada pohon-pohon berkasiat, saya ajarkan cara membuat cairan perawatan luka dan saya ajarkan keluarganya cara merawat luka dengan cara yang benar. Hasilnya, 6 minggu keluarganya telepon, mengucapkan terima ksih karena lukanya telah sembuh.  

Bentuk praktek keperawatan lain dilakukan oleh perawat dari RSCM, ia melayani klien paska serangan stroke. yang dia lakukan adalah mempersiapkan kamar, kamar mandi, setting perabotan dan mendidikn keluarganya agar siap menerima dan secara perlahan bisa mandiri merawat keluarganya dengan stroke.

Peran mandiri perawat dan bukan ‘dokter kecil’ juga dilakukan oleh perawat jiwa. program mereka waktu itu tidak tanggung-tanggung. Menolong para korban tsunami di Aceh yang mengalami gangguan jiwa dari ringan hingga berat. Indikatornya jelas, misalnya pasien halusinasi, dengan perawatan di rumah dia bisa mengontrol halusinasinya. Pasien sudah tidak mau mandi, dengan perawatan yang dilakukan kemudian mau mandi sendiri.

Pengalaman praktek mandiri juga dilakukan oleh perawat dengan menggunakan terapi modalitas. pasein datang dengan masalah hypertensi, selama ini selalu rutin berobat ke dokter ttapi tensinya selalu tinggi. Perawat mengajarkan berbagai terapi modalitas yang cocok dengan pasien tersebut, hasilnya pada kunjungan kedua tekanan darah sistole turun sekitar 20mmHg dari sebelumya yang telah mencapi 160-180 mmHg.

Melihat dari pengalaman diatas, bisa ditarik kesimpulan sebuah batasan praktek mandiri keperawatan sebagai berikut: (1) fokus adalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia, (2) berusaha memandirikan klien dan atau keluarganya, (3) menggunakan terapi non medikal, dan (4) bersifat kolaboratif dengan klien/keluarga 

Pemberdayaan Perawat Dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Posted by masfuri on 21st May and posted in Uncategorized

Krisis ekonomi Indonesia baru usai, namun efek peningkatan harga minyak dunia akhir-akhir ini telah berimbas pada negara dan rakyat Indonesia. Beban anggaran pemerintah semakin berat, subsidi-subsidi dikurangi dan inflasi melambung tinggi. Akibatnya adalah penurunan daya beli masyarakat, terutama masyarakat menengah kebawah. Data terbaru dari BPS, diperkirakan jumlah penduduk miskin akan bertambah menjadi sekitar 36,8 juta (16,85%). Mereka akan sangat kesulitan memenuhi kebutuhan esensial sehari hari, sehingga kebutuhan essensial yang seharusnya dipenuhi semua harus dipilih dengan mengalahkan kebutuhan esensial lain atau menurunkan kualitasnya yang sebenarnya sudah sangat rendah. Satu akibat dari masalah diatas adalah penurunan derajat kesehatan masyarakat seperti peningkatan angka gizi buruk, kematian akibat penyakit menular, kematian bayi dan ibu melahirkan.

Masalah diatas tidak mungkin dapat diatasi oleh pemerintah saja. Dukungan dari berbagai stakeholder sangat diperlukan seperti profesi perawat. Perawat adalah satu profesi kesehatan dengan jumlah terbanyak (60%) dan dengan distribusi terluas, memiliki peluang besar untuk diberdayakan dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas, terjangkau dan berkelanjutan hingga ke pelosok pedalaman dan daerah perbatasan. Tidak seperti profesi kesehatan lain, perawat memiliki keunikan dalam memberikan pelayanan kesehatan, yaitu peran pemberdayaan potensi keluarga dan masyarakat lokal melalui pendekatan pelayanan kesehatan primer dan pendekatan sosial budaya yang holistik dan komprehensif. Sehingga, pendekatan upaya peningkatan kesehatan masyarakat dapat dipadukan secara serasi dan berimbang dengan upaya kesehatan perorangan. Seperti kita ketahui bahwa penyebab penyakit dan kekurangan gizi bukan hanya akibat keterbatasan akses pelayanan kesehatan dan keterbatasan sumber-sumber tetapi adanya budaya yang kurang mendukung terwujudnya kesehatan masyarakat.

Perawat adalah sumber daya kesehatan terdekat dengan masyarakat yang telah dimiliki pemerintah yang terlupakan untuk dilibatkan lebih besar dalam mengatasi problematika kesehatan masyarakat. Sebenarnya, hanya memerlukan stimulus sederhana saja untuk menggerakan mesin yang selama ini idle dibanding dengan menyediakan mesin kesehatan primer baru yang berbiaya mahal. Upaya yang mestinya dilakukan adalah memberikan kewenangan dan perlindungan hukum yang kuat agar perawat bisa menjadi pilar pelayanan kesehatan primer di masyarakat. Melalui peraturan atau undang-undang, kewenangan dan perlindungan diberikan kepada perawat perawat yang kompeten untuk bertanggungjawab di lini depan pelayanan kesehatan dasar (primer) yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Menjadikan perawat yang saat ini ada untuk dapat tampil maksimal di masyarakat tidaklah sulit dan mahal. Melalui kerjasama dengan pemerintah daerah, LSM dan organisasi profesi dengan jaringan yang luas serta dukungan perawat yang saat ini sangat tinggi, sistem registrasi, sertifikasi dan lisensi sebagai proses profesionalisasi perawat akan berjalan dengan baik. Dalam waktu singkat, perawat profesional akan menyebar keseluruh pelosok negeri untuk memberikan jaminan pelayanan praktik yang berkualitas sebagai hak asasi manusia.

Sebagai gambaran, ketersediaan sarana kesehatan seperti puskesmas (7.550 unit), puskesmas pembantu (22.002 unit) dan pusesmas keliling (6.132 unit) adalah masih jauh dari angka ideal. Sementara, rasio penduduk dengan tenaga kesehatan pada tahun 2003 untuk tenaga Perawat 108.53, Bidan 28.40 dan dokter 17.47 per 100,000 penduduk, penambahan tenaga baru hingga tahun ini juga masih jauh dari angka ideal. Data diatas menunjukan bahwa perlu kearifan pemerintah untuk memberikan pendekatan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketersediaan tenaga kesehatan yang ada dan kemampuan anggaran pemerintah. Menilik pengalaman negara seperti Inggris, Amerika dan Australia, mereka memberdayakan perawat untuk menangani permasalahan kesehatan masyarakat di daerah dan pedesaan. Negara berkembang dan di embergo PBB seperti seperti Iran juga memberdayakan perawat dan tenaga kesehatan lain dengan sangat optimal. Keputusan negara-negara tersebut pastilah didasari atas pertimbangan ekonomis, sosial dan filosofis yang matang dan demi perlindungan kesehatan masyarakat.

Berbagai manfaat dapat diperoleh dari optimalisasi peran dan tanggung jawab perawat. Manfaat utama adalah peningkatan akses dan cakupan pelayanan kesehatan yang luas hingga pelosok tanah air. Karena pelayanan kesehatan paripurna dilakukan secara optimal di sumbernya, maka biaya rujukan dan perawatan lanjutan akibat bertambah parahnya penyakit pasien di rumah sakit dapat dihemat, subsidi bisa dialihkan untuk sektor kesehatan lain. Pendekatan pelayanan kesehatan primer dapat dijadikan pintu masuk untuk memberikan pendidikan kesehatan promotif dan prefentif melalui kontak sosial dan budaya untuk merubah perilaku masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat. Sehingga, penyakit-penyakit akibat kurangnya pengetahuan dan perilaku budaya tidak sehat seperti gizi buruk, penyakit infeksi, kematian ibu dan bayi dapat lebih ditekan.

Bila hal diatas dapat tercapai, derajat kesehatan penduduk indonesia akan semakin meningkat. Produktifitas penduduk meningkat dengan human development index yang baik akan meningkatkan martabat bangsa. Peningkatan kompetensi perawat juga memberi peluang masuknya devisa negara, mengingat kebutuhan perawat di negera-negara maju sangat besar dan saat ini minat masyarakat Indonesia menjadi perawat masih cukup tinggi.

Akhirnya, masalah kesehatan utama penduduk Indonesia akan dapat ditekan melalui ”Kepeloporan perawat melalui pelayanan kesehatan primer yang berkualitas dalam melayani masyarakat” Pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang selama ini masih menjadi kendala utama yang berdampak pada masalah biaya dan jarak transportasi dapat diatasi, karena keberadaan perawat terdistribusi luas hingga pelosok desa dan daerah perbatasan. Sosok ikhlas ”Suster apung” dalam melayani penduduk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dalam film dokumenter yang ditayangkan oleh Metro TV pada tahun lalu, semoga akan semakin lebih banyak dan mengakar di masyarakat.

Hello world!

Posted by masfuri on 21st May and posted in Uncategorized

Welcome to blog.staff.ui.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28