Mengapa hasil kawalpemilu.org (dan inisiatif sejenisnya) dapat dipercaya

Kemarin (Rabu 16 Juli 2014) saya menulis sebuah catatan di Facebook berjudul “Membedah pembedahan keanehan website kawalpemilu.org” (yang sekarang sudah saya tayangkan kembali di blog ini atas saran beberapa rekan), karena saya tergelitik untuk membahas sebuah artikel di kitapks.com yang berusaha mendiskreditkan salah satu usaha crowdsourcing data entry form C1 yang sangat sukses, kawalpemilu.org.

Sama sekali saya tidak menyangka bahwa artikel ini akan begitu banyak di-like dan di-share. Padahal saya menulis artikel itu dalam kondisi agak terburu-buru dan isinya pun berupa sanggahan terhadap poin-poin yang menurut saya hanyalah isu yang tidak terlalu penting, seperti registrasi domain privat, salah mengambil asumsi waktu yang dibutuhkan untuk memasukkan data, dan akses ke subdomain scanc1.kpu.go.id. Sebetulnya, ada banyak aspek mengenai inisiatif seperti kawalpemilu.org yang jauh lebih fundamental dan penting untuk dibahas.

Hari ini sudah muncul beberapa artikel lain yang senada dengan artikel di kitapks.com, misalnya ini, ini, dan ini. Selain itu, muncul juga seri “kultwit” seperti di sini dan di sini.

Kalau saya harus bedah semuanya satu per satu bisa pingsan saya. Banyak “argumen” yang digunakan artikel-artikel ini berakar dari kesalahpahaman dan ketidakmampuan (atau jangan-jangan kesengajaan) dalam memaknai hasil yang dilaporkan oleh kawalpemilu.org, padahal di situs itu sudah ada catatan jelas yang menyatakan bahwa hasil yang dilaporkan (i) merupakan hasil sementara yang terus di-update seiring dengan masuknya data baru, dan (ii) jumlah suara sah yang dilaporkan merupakan jumlah nilai yang tertera pada formulir C1 yang memang mungkin salah (hal ini memang dilakukan secara sengaja oleh pengembang sistem supaya kejanggalan pada formulir C1 dapat terdeteksi secara otomatis).

Nah, sama seperti pada masa kampanye sebelum 9 Juli, daripada berbicara dengan nada negatif, yaitu membantah dan menyanggah tudingan-tudingan pada tautan-tautan di atas, lebih baik saya berbicara dengan nada positif, dan menjelaskan kelebihan, kekuatan, dan manfaat inisiatif crowdsourcing seperti kawalpemilu.org, kawal-suara.appspot.com, solusirfid/pemiluc1, realcount.herokuapp.com, dst.

Mari kita mulai.


1. TRANSPARENCY.

Satu hal yang paling berharga dari inisiatif crowdsourcing seperti kawalpemilu.org, kawal-suara.appspot.com, solusirfid.com/pemiluc1, dan realcount.herokuapp.com adalah keterbukaannya. Setiap sistem menyediakan fasilitas untuk menelusuri hasil data entry yang dilakukan, dimulai dari tingkat nasional, di mana kita bisa memilih untuk drill down sampai ke tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, bahkan sampai ke TPS. Dari situ, kita bisa melakukan verifikasi dengan hasil scan formulir C1 yang ada di website KPU. Artinya, tuduhan-tuduhan bahwa hasil yang dilaporkan inisiatif-inisiatif ini dimanipulasi sama sekali tidak berdasar. Kalaupun kita mengambil worst case scenario dan berasumsi bahwa (i) pemiliknya berpihak pada capres tertentu, (ii) programnya secara sistematis memanipulasi hasil, dan/atau (iii) ada relawan entry data yang sengaja memasukkan data salah, yang paling penting adalah kita bisa memverifikasi sendiri apakah datanya benar atau tidak. Seperti saya katakan pada artikel sebelumnya: Jangan lihat orangnya. Lihat datanya (dan tolong kalau lihat datanya, pastikan anda sudah terlebih dahulu memahami bagaimana menginterpretasikannya, jangan sampai capek-capek bikin “kultwit” hanya karena tidak membaca keterangan di bagian footer halaman kawalpemilu.org).

Bandingkan dengan klaim Marwah Daud pada 12 Juli yang mengatakan bahwa hasil real count timses Prabowo menunjukkan kemenangan dengan margin 7%. Sama sekali tidak ada info konkrit mengenai detil di belakang klaim ini. Konon kabarnya ini diperoleh dari penghitungan di Kertanegara Center, Cikeas Center, dan saksi PKS. Yang pertama, saya coba cari keterangan di Google, tapi sama sekali tidak ada informasi detil tentang hasil real count dari Kertanegara Center. Yang kedua sudah dibantah oleh Jubir SBY, bahwa tidak ada tabulasi hasil Pilpres 2014 yang dilakukan di Cikeas, dan yang ketiga, well, no comment deh…


2. ENGAGEMENT.

Dengan cara mengajak dan melibatkan masyarakat secara langsung, inisiatif ini telah memberdayakan masyarakat yang tadinya mungkin sudah mulai ragu dan bingung melihat hasil quick count yang berbeda-beda.

Hal ini tidak lepas dari kebijakan KPU untuk menerapkan ide Open Data dengan memberikan akses sepenuhnya terbuka terhadap hasil scan formulir C1, rekap DA1, dan rekap DB1. Sungguh mengharukan melihat daftar inisiatif yang muncul dengan spontanitas:

Beberapa pengembang sistem-sistem di atas saling berbagi source code di Github, berbagi data melalui API dan database dump, dan berbagi informasi melalui berbagai forum diskusi. Sepertinya tanpa disadari, KPU telah membantu menyelenggarakan hackathon 12 hari yang paling dahsyat sepanjang sejarah!

Sebagai akibatnya, ini memberikan pesan yang jelas kepada masyarakat: “Ini suara anda! Ini Pemilu anda!”, sehingga hasil akhirnya nanti tidak lagi akan diterima dengan keraguan maupun kecurigaan.

Beberapa pihak meragukan bahwa relawan kawalpemilu.org benar-benar bekerja tanpa imbalan. Hari gini gratisan input? masak sih?” atau “Adakah relawan yang mau mengerjakan hal seperti ini?”, mereka bertanya. Saya rasa jawabannya adalah ya. Seperti yang sudah saya sampaikan di artikel sebelumnya, faktor motivasi dan insentif merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dari suatu inisiatif crowdsourcing, namun insentifnya tidak harus finansial. Fenomena ini sudah banyak dibahas di kalangan akademis (contohnya di sini dan di sini).


3. SPEED.

Sahabat-sahabat yang mengikuti newsfeed saya di Facebook mungkin sudah akrab dengan cerita ini, tetapi saya tetap ingin menceritakannya lagi di sini, karena mengilustrasikan betapa cepatnya komunitas bisa bergerak.

Pada tanggal 11 Juli saya menuangkan ke dalam sebuah tulisan beberapa pemikiran mengenai sistem crowdsourcing untuk data entry formulir C1, dan keesokan paginya saya mengunggahnya ke Google Docs dan membagikannya di Facebook. Dalam waktu kurang dari 1 jam, dokumen ini sudah dibaca dan dikomentari oleh beberapa pihak yang secara terpisah juga memikirkan dan mengembangkan sistem serupa, di antaranya Ainun Najib (kawalpemilu.org), Aditya Liviandi (j.mp/hitungpilpres2014) dan Pahlevi Fikri Auliya (realcount.herokuapp.com), dan belakangan juga dengan Reza Lesmana (kawal-suara.appspot.com). Kita sempat bertukar pikiran. Dalam kurun waktu 3-4 jam, Pahlevi sudah mengimplementasikan sebuah sistem eksperimental berdasarkan rancangan tersebut di realcount.herokuapp.com. Fiturnya belum lengkap (ingat: 3-4 jam!), tapi pada dasarnya sudah bisa dipakai. Saya lalu membagikan informasi tentang site tersebut pada Sabtu malam. Di luar dugaan, sistem ini langsung go viral, dan dalam waktu beberapa jam saja ada sekitar 500 orang yang sudah mendaftar dan membantu melakukan data entry. Progressnya luar biasa cepat, sampai ada 17 ribu form C1 yang diproses hanya dalam beberapa jam. Sekitar tengah malam — dan dengan pertimbangan yang matang — sistemnya ditutup oleh Pahlevi. Alasannya bisa dibaca di website-nya, dan saya bisa memahami dan memakluminya. Tapi kronologi kejadian yang merentang 15 jam berupa eksperimen “kolaborasi kilat” itu (yang dilakukan oleh orang-orang yang belum pernah bertemu sebelumnya) semakin meyakinkan saya bahwa pendekatan crowdsourcing ini memiliki potensi yang sangat ampuh.

Berdasarkan pengalaman pribadi ini, saya sama sekali tidak heran melihat kawalpemilu.org yang bisa menyelesaikan entry data untuk >95% formulir C1 dalam 5 hari, padahal beberapa pihak (contohnya ini dan ini) menjadikan kecepatan ini sebagai dasar untuk meragukan keabsahan proses dan luaran dari sistem kawalpemilu.org.


4. TRIANGULATION.

Dalam metodologi penelitian, terutama yang kualitatif, seringkali dua atau lebih metode diterapkan dalam suatu studi untuk menguji validitas suatu kesimpulan. Semakin banyak hasil independen yang berakhir pada kesimpulan yang sama, semakin tinggi derajat keyakinan kita akan kesimpulan tersebut. Kita semua menyadari bahwa hanya ada satu Official Count, yaitu hasil perhitungan resmi yang dilakukan oleh KPU. Saya termasuk yang percaya sepenuhnya pada integritas dan profesionalisme KPU dalam menyelenggarakan Pemilu, dan yakin bahwa hasil yang akan diumumkan nanti pada tanggal 22 Juli adalah hasil yang merefleksikan suara rakyat Indonesia yang sebenarnya. Namun demikian, kita semua akan semakin yakin kalau ternyata ada beberapa — tidak hanya 2, tapi mungkin 3, 4, bahkan lebih — sumber data lain yang konvergen pada hasil yang sama. Seperti apa hasilnya? Mari kita lihat gambar berikut, sekaligus saya pikir ini adalah momen yang tepat untuk mengakhiri pemaparan ini. Silahkan disimak:

Perbandingan beberapa hitungan, baik realcount versi crowdsourcing, versi timses, maupun quick count (Sumber: Merlyna Lim)

6 thoughts on “Mengapa hasil kawalpemilu.org (dan inisiatif sejenisnya) dapat dipercaya

  1. Jawaban yang cakep 🙂
    Terima kasih atas dukungannya bagi pendewasaan bangsa.
    Salam sukses selalu 🙂

  2. Aneh bagi saya bahwa orang yang berafiliasi dengan PKS meragukan kredibilitas suatu inisiatif berdasarkan kecepatan dan klaim tanpa bayaran. Padahal, “real count” PKS sebelumnya mengklaim menyelesaikan tabulasi 270.000 TPS tak sampai 24 jam setelah pemungutan suara ditutup. Padahal juga, PKS terkenal karena grassroot yang kuat dalam penggalangan sukarelawan, misalnya dalam hal posko bantuan banjir dan memenuhi GBK dengan puluhan ribu orang. Menarik 700 orang yang peduli pada keabsahan hasil pemilu, mengerti komputer dan punya waktu senggang di akhir pekan untuk mengetik di rumahnya masing-masing sangat mudah (apalagi mengingat pembuat kawalpemilu adalah praktisi IT lulusan kampus ternama yang berarti kemungkinan besar punya banyak teman dan relasi yang juga melek IT dan berpendidikan tinggi) dibandingkan dengan menarik puluhan ribu orang untuk secara fisik hadir di GBK.

  3. saya web programmer, dan juga PKS, dan saya tidak meragukan crowdentry macam kawalpemilu.org saya pun juga mengajak teman2 saya untuk tidak terlalu mengkritisi yang begituan…
    cuman memang ya namanya orang-orang, susah juga 🙁

  4. sebuah pencerahan yg mencerahkan
    kalo dari puyengan mah biasa pak
    ujung2nya banyak ke teori konspirasi yg berujung pada konstipasi

  5. Eh tentang hari gini gratisan input, mungkin mereka lupa (atau enggak tahu?) Wikipedia. Itu juga gratisan input. Sudah bertahun-tahun gratisan input, dan banyak yang pakai pula 😛

  6. bangsa ini masih cukup banyak orang baik ko yg ikhlas digratisin ……… salut utk semua relawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.