Membedah pembedahan keanehan website kawalpemilu.org

CATATAN #1: tulisan ini pertama kali muncul dalam bentuk “Facebook Note” pada tanggal 16 Juli 2014 di https://www.facebook.com/notes/ruli-manurung/membedah-pembedahan-keanehan-website-kawalpemiluorg/10154339829470487 dan atas saran beberapa rekan, saya tayangkan kembali di sini supaya lebih mudah untuk di-share.

CATATAN #2: Server kitapks.com saat ini kewalahan dengan traffic-nya, sehingga koneksinya jadi byarpet. Ini jadi buah simalakama untuk admin: content-nya dikritik, tapi jadi high traffic 🙂 Untuk yang tertarik, ada cache/archive-nya di:http://web.archive.org/web/20140716032723/http://kitapks.com/?%2Fbaca%2F74%2FMembedah-Keanehan-Website-KawalPemilu.org-%28Bagian1%29.html


Di wall saya pagi ini tiba-tiba ada banyak status yang membahas sebuah artikel yang muncul di http://kitapks.com/?/baca/74/Membedah-Keanehan-Website-KawalPemilu.org-(Bagian1).html pagi ini.

Artikel ini mencoba mendiskreditkan inisiatif crowdsourcing di website http://kawalpemilu.orgyang dimotori oleh mas Ainun Najib.

Saya sudah menduga bahwa usaha pendiskreditan (walah, ini kata sah bukan ya? harus panggil mas Ivan Lanin untuk verifikasi…) ini akan muncul terhadap usaha-usaha crowdsourcing data entry form C1, apalagi melihat strategi yang digunakan mas Ainun adalah mengandalkan kelompok relawan pada kelompok yang tertutup.

Mari kita bedah satu per satu tudingan dari pembedahan yang dilakukan Sdr. Indrawata Wardhana (selanjutnya, saya refer sebagai ‘penulis’, meskipun mungkin lebih tepat saya menggunakan istilah ‘pengarang’):

  1. Penulis mempermasalahkan bahwa pemilik domain melakukan registrasi terhadap alamat kawalpemilu.org secara private/hidden. Melihat agresifnya tudingan yang dilakukan oleh penulis pada artikel ini, sepertinya bisa dibayangkan mengapa pemilik memutuskan untuk melakukan registrasi secara privat ini. Namun saya rasa siapa identitas di belakang website ini tidak penting. Jangan lihat orangnya. Lihat datanya. Dan seluruh datanya dibeberkan terbuka berdasarkan prinsip Open Data.
  2. Penulis mencoba membuat perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan data entry ini, dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa adalah suatu kemustahilan bahwa website tersebut, per Selasa malam, 15 Juli, sudah mendekati 400 ribu TPS (dan pada saat tulisan ini dibuat, sudah menembus jumlah tersebut). Ada dua masalah dengan argumentasi ini. Pertama, asumsi yang diambil adalah bahwa entry data untuk 1 TPS adalah 5 menit, dengan alasan “koneksi Internet yang tidak stabil di web, apalagi website yang kadang-kadang lama loadingnya”. Asumsi ini meleset sangat jauh dari perkiraan. Meskipun seorang pejabat publik yang terkenal (dari partai yang didukung penulis artikel ini) pernah mempertanyakan “untuk apa sih Internet cepat?”, bahkan dengan infrastruktur internet di Indonesia saat ini, asumsi tersebut jauh terlalu pesimis. Infrastruktur server KPU untuk menyediakan hasil scan form C1 patut diacungi jempol. Meskipun digempur habis-habisan dalam seminggu terakhir, reliabilitas dan kecepatannya tidak pernah mengecewakan, bahkan ketika saya coba akses melalui koneksi GPRS di ponsel saya. Menurut testimoni beberapa relawan yang mengerjakan data entry, waktu yang sebenarnya dibutuhkan bukannya 5 menit, namun lebih mendekati 5 detik! Tapi okelah, anggaplah asumsi hitungan penulis benar, argumentas ini masih tidak tepat. Mengapa? Menurut penulis, butuh waktu 2 hari 8 jam untuk setiap relawan menyelesaikan porsi pekerjaan mereka masing-masing. Hal ini dibenturkan dengan kenyataan bahwa grup Facebook Kawal Pemilu 2014 baru aktif tanggal 14 Juli, padahal tanggal 15 Juli sudah hampir mencapai 400 ribu TPS. Pertanyaan saya adalah: terus hubungannya apa? Justru penulis sendiri mengklaim di dalam artikelnya di dua tempat berbeda bahwa relawan kawalpemilu.org bekerja selama 5 hari. Jadi sebenarnya penulis telah mematahkan argumennya sendiri.
  3. Penulis mempermasalahkan bahwa http://kawalpemilu.org memiliki “akses langsung” ke server KPU. Saya tidak paham persis apa tujuan penulis mengangkat ini, namun kelihatannya memang ini adalah suatu insinuasi bahwa ada satu kejanggalan dalam pengaksesan data. Memang betul, situs kawalpemilu.org memiliki “akses langsung” ke server KPU. Namun, kita SEMUA juga memiliki akses langsung terhadap server tersebut. Sekali lagi kita patut memberikan apresiasi tertinggi kepada KPU yang telah berkomitmen untuk menjunjung tinggi prinsip transparansi dengan membuka akses terhadap semua data C1. Mengenai subdomain scanc1.kpu.go.id yang  berbeda dengan domain pilpres2014.kpu.go.id, memang sangat lazim sebuah web developer membedakan server untuk menyediakan unduhan konten dalam skala besar. Ketika kita sudah mengetahui alamat URL dari suatu berkas (dan ini tidak perlu peretas tingkat tinggi, cukup klik kanan kok pada file JPG di website KPU), sangat mudah untuk kita mengotomasi proses penelusuran semua hasil scan form C1. Mungkin sebaiknya penulis perlu mengulas sedikit mengenai teori di balik protokol HTTP.
  4. Terakhir, dan kelihatannya ini yang paling membuat “rame” di wall saya, penulis meragukan bahwa relawan bekerja secara sukarela. Dikatakan “hari gini gratisan input? masak sih?”. Ya, mungkin ini memang merefleksikan pemikiran dan filosofi teman-teman penulis. Pada kenyataannya, strategi crowdsourcing ini sudah diteliti oleh banyak orang, dan ada banyak publikasi ilmiah yang telah membahas bahwa faktor insentif adalah salah satu kunci keberhasilan suatu inisitif crowdsourcing. Namun, insentif TIDAK HARUS SECARA FINANSIAL. Bahkan, ada riset yang menunjukkan bahwa inisiatif crowdsourcing justru lebih berhasil ketika motivasi relawan *bukan* finansial, namun karena memang ada suatu tujuan yang inheren dimiliki bersama oleh komunitas. Melihat besarnya animo di media sosial tentang usaha untuk mengawal proses penghitungan suara KPU, sebegitu sulitkah untuk membayangkan bahwa ada orang-orang yang memang siap merelakan sedikit waktunya untuk membantu mengerjakan proses ini secara gratis? Kasihan mas Ainun, berkat hitung-hitungan penulis, bisa-bisa dia sekarang bakal ditagih dengan invoice dari relawannya 🙂

Segitu dulu. Karena penulis menambahkan keterangan “(Bagian 1)” pada judul artikelnya, dan menjanjikan bahwa ini bersambung, maka usaha bedah terhadap pembedahan penulis akan bersambung juga…

One thought on “Membedah pembedahan keanehan website kawalpemilu.org

  1. Pingback: Mengapa hasil kawalpemilu.org (dan inisiatif sejenisnya) dapat dipercaya | O RLY?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.