blognya komarudin bin sayuti

blognya komarudin bin sayuti header image 2

Apakah Tuhan itu ada? Pertanyaan untuk para atheist.

March 28th, 2022 · No Comments

Apakah tuhan itu ada? Terkadang ada yang belum bisa menjawab dengan keyakinan yang mantab. Ada juga yang tampil di depan menjawab lantang bahwa tuhan itu tidak ada. Menurut atheist, kehidupan termasuk manusia, hewan dan tetumbuhan merupakan hasil evolusi alam secara mandiri selama berjuta-juta tahun. Kehidupan dimulai dari hewan sel sederhana yang terjadi karena huge replications with random chance (Percobaan berulang-ulang yang memiliki kemungkinan acak). Lalu organisme yang lebih kompleks seperti manusia, hewan dan tetumbuhan adalah hasil evolusi berjuta-juta tahun dari hewan sel sederhana tersebut. Apakah benar demikian?

Seorang atheist bisa jadi hanya membohongi diri mereka sendiri. Kalau atheist berani jujur, seharusnya random chance juga akan menghasilkan hal-hal lain yang lebih rendah level kompleksitasnya dari hewan sel sederhana tersebut. Seharusnya random chance selama berjuta-juta tahun juga akan menghasilkan Menara Eiffel yang tak kalah cantik, piramida Giza, patung liberty maupun candi Borobudur. Menara Eiffel, piramida Giza, patung Liberty maupun candi Borobudur adalah hasil buatan manusia dan bisa diduplikasi jika diinginkan. Tetapi apakah sudah ada manusia yg bisa berhasil membuat hewan dengan sel sederhana?

Jika seorang atheist menemukan sebuah prasasti tulisan atau reruntuhan bangunan, pasti langsung terbersit bahwa ini adalah sisa-sisa peradaban manusia. Seharusnya hal tersebut juga bisa jadi merupakan hasil random chance? Bagaimana dengan gawai elektronik yang kita pegang baik android maupun iOS. Apakah kita berani menyatakan bahwa gawai tersebut hasil dari percampuran debu, pasir, cahaya dan angin yang bercampur dan berevolusi selama berjuta-juta tahun sehingga menghasilkan gawai tersebut?

Perkembangan sains komputer memungkinkan para ilmuwan untuk mensimulasikan percobaan dengan jutaan iterasi dan memasukkan unsur random chance. Percobaan ini sangat luas dan bisa ditujukan untuk menyelesaikan masalah rekayasa, bisnis, ekonomi dan yang lainnya. Sebagai contoh permasalahan traveling salesman problem (tsp) berupa permasalahan mencari rute terpendek untuk seorang sales yang perlu mengunjungi sejumlah kota tepat satu kali. Permasalahan ini sangat sulit dan sudah menjadi perhatian para ilmuwan setidaknya dalam 70 tahun terakhir.

Metode random chance untuk menyelesaikan tsp menghasilkan solusi yang sangat buruk. Solusi tersebut lebih buruk dibanding logika sederhana yakni mencari rute yang selalu berpindah ke kota terdekat berikutnya. Metode berikutnya ada metode yg meniru proses evolusi yang menseleksi random chance dan metode ini bisa meningkatkan kualitas solusi. Tapi ini kualitas solusinya masih kalah jauh dari metode state-of-the-art yang merupakan kerja bersama para ilmuwan dan profesor selama puluhan tahun dan berasal dari berbagai institusi. Kesimpulannya, penyelesaian masalah kompleks memerlukan metode yang dihasilkan dari kerja keras dan tingkat intelektualitas yang tinggi.

Lalu bagaimana dengan alam semesta yang jutaan kali lebih kompleks dari persoalan tsp? Sebagian ilmuwan dunia ada yg mengakui bahwa alam semesta ini adalah bisa jadi hasil evolusi. Tetapi hasil evolusi ini diawali, dirancang dan dirawat oleh entitas/zat yang amat pintar. Mereka menyebut alam semesta ini merupakan hasil intelligent design (rancangan maha pintar).

Sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk menanyakan sendiri. Apakah kita tercipta tanpa asal-usul ataukah kita menciptakan diri kita sendiri? Ataukah kita telah menciptakan langit, bumi dan alam semesta? Lalu apakah kita sudah yakin terhadap pendapat kita sendiri?

Print Friendly, PDF & Email

Tags: Uncategorized