Mungkin diantara teman-teman pernah / sering menemukan keris2 sepuh dengan kondisi warangka yg masih original,  jika kondisi bilah kurang terawat (karatan) pasti bilah langsung dibersihkan, diwarangi & diminyaki saja, dan jika warangka kondisi masih layak pakai pun biasanya juga hanya langsung dipakai kembali.

Warangka asli yang sudah berpuluh-puluh tahun mungkin ratusan tahun dipakai tentunya di dalam gandarnya sudah menjadi sumber karat atau banyak biang karat yg menempel pada kayu gandarnya.

  1. Sebaiknya kayu gandar warangka tersebut diganti dengan yg baru sehingga kondisi pusaka benar benar sudah bebas dari biang karat. Bila ada dana, kayu cendana adalah pilihan mantap untuk dipilih sebagai gandar.
  2. Kayu pengganti gandar pun diusahakan dengan bahan kayu yg lunak sehingga  bilah tidak kalah jika terpaksa bergesekan (jawa: nggesrek) gandar..
  3. Jika habis memberi minyak, pusaka sebaiknya di angin-anginkan dulu, jangan langsung memasukkan bilah pada warangka dengan kondisi terlalu basah oleh minyak karena bisa menyebabkan bilah jamuran pada bilah
  4. Usahakan paling tidak sebulan sekali bilah di keluarkan agar mendapatkan hawa segar (ini bisa dilakukan saat memberikan minyak)
  5. Sebaiknya pusaka tersimpan dengan di tutup dengan kain singep (selongsong) yg biasanya terbuat dari kain, sebaiknya jangan memberikan bunga saat keris dalam singep / selongsong, karena uap dari bunga2 tersebut akan menimbulkan zat-zat yg mungkin akan menyebabkan bilah menjadi rusak. (Konon fungsi singep bukan hanya sekedar kain penutup saja tapi juga ada fungsi yg lain, katanya singep juga memiliki fungsi utk meredam aura pusaka yg terlalu keras, jika sudah dikasih singep koq dirasa jg masih terlalu keras ya harus disimpan dalam gendaga, jika sudah disimpan dalam gendaga koq juga masih terasa keras ya harus di simpan dalam ruangan yg khusus).

Mekaten