Tag Archives

40 Articles
Pasang ZFS Terbaru pada Ubuntu Xenial 16.04

Pasang ZFS Terbaru pada Ubuntu Xenial 16.04

Ubuntu Xenial secara baku memasang ZFS. Sayangnya, saya sering pindah-pindah sistem operasi sehingga versi ZFS yang dimiliki oleh Ubuntu Xenial tidak memadai. Ada fitur yang tidak kompatibel dengan versi ZFS Ubuntu.

Untungnya, perkakas ZFS yang sudah ada di Xenial sudah mumpuni. Yang perlu diperbaiki hanya versi kernelnya. Jadi, itulah yang hendak kita lakukan: memasang kernel ZFS terbaru pada Ubuntu Xenial sehingga fitur-fitur terbaru didukung.

Saya belum tahu efeknya, tetapi mohon berhati-hati bila menggunakan perkakas berbeda dengan kernel. Kalau saya, saya punya cadangan. Lagipula, saya biasa melakukan ini dari CD Pemasangan KDE Neon, distro GNU/Linux berdasarkan Ubuntu Xenial.

Mohon berhati-hati.  Saya tidak bertanggung jawab atas risiko yang Anda lakukan.

Teknis Setelah Mukadimah

Untuk kernel dari Ubuntu, hapus kernel ZFS yang sudah ada:

Pasang ketergantungan:

Unduh SPL:

Buat:

Unduh ZFS:

Buat:

Selesai.

Pasang ZFS GIT di Ubuntu 16.04 Xenial

Pasang ZFS GIT di Ubuntu 16.04 Xenial

Set:

Cuma memastikan versi yang lama tidak ada:

Pasang ketergantungan:

INI IMPLEMENTASI YANG RUSAK UNTUK XENIAL. SAYA TIDAK MENGHAPUS KARENA UNTUK KEPERLUAN RISET DI VERSI OS YANG LAIN. MOHON IKUTI CARA DI TULISAN INI.

 

Bacaan Lebih Lanjut

Catatan Pribadi: Pemasangan ZFS Pada Ubuntu 16.04 Xenial

Catatan Pribadi: Pemasangan ZFS Pada Ubuntu 16.04 Xenial

Versi kernel disesuaikan dengan kebutuhan, namun untuk kesederhanaan anggap saja versi yang sama dengan kernel yang sedang berjalan.

Pasang hal-hal yang dibutuhkan sesuai panduan pada ZFSOnLinux. Saya menambahkan GIT dan GNU Autoconf karena hendak memasang versi GIT.

Setelah ini, mari bangun komponen-komponen ZFS, yakni: SPL dan ZFS itu sendiri.

Memasang SPL

Unduh:

Sebenarnya tidak perlu dengan –with-linux. Sebagai pengingat saja kalau misalnya mau memasang untuk kernel versi lainnya. Misalnya, ada versi kernel terbaru dan sebelum masuk dengan kernel tersebut, kita pasang terlebih dahulu modul kernel. Jalankan skrip konfigurasi untuk mendapatkan skrip configure yang lazim dipakai untuk mengompilasi. Biasanya kalau unduh dari SCM (CVS, SVN, Mercurial, GIT, dan sebagainya), skrip tersebut belum ada. Lalu, lakukan stanza yang seperti biasanya.

Tentu saja, biasakan untuk mengompilasi dengan pengguna biasa. Baru setelah mau dipasang, dieskalasi jadi administrator.

Memasang ZFS

Unduh:

Lakukan empat stanza standar.

Selesai. Bagaimana menjalankan ZFS sudah ada di tulisan yang lain.

Memasang Steam pada Ubuntu Xenial 16.04 dan Turunannya
Steam

Memasang Steam pada Ubuntu Xenial 16.04 dan Turunannya

Ubuntu akhirnya memasukkan Steam ke repositori Multiverse-nya. Hal ini yang menyebabkan paket Debian Steam dari situs Steam Valve tidak lagi kompatibel dengan Ubuntu teranyar ini. Paket Steam pada repositori Ubuntu disebut steam. Sedangkan versi Valve nama yang dipakai adalah steam-launcher.

Kalau Anda menggunakan turunan Ubuntu, bukan Ubuntu asli — saya sendiri KDE Neon 5.6 — Anda mungkin harus memasang software-properties-common agar ada perintah add-apt-repository yang akan dipakai untuk memasang repositori. Supaya kita ada di satu halaman yang sama, maka mari pasang perkakas itu.

Sekarang kita bisa lanjut.

Pemasangan Mula-mula

Seperti biasa, aktifkan arsitektur 32-bita.

Buang pustaka S3 Texture Compression baku. INGAT! Ini mungkin ilegal di negara lain, terutama negara dengan paten perangkat lunak, uhuk AS uhuk.

Unduh libtxc-dxtn0 dari repositori xorg-edger. INGAT! Bukan dari Debian Multimedia seperti pada Tambora.

Anehnya, Steam akan menjadi cerewet kalau versi 64-bita tidak dipasang. Makanya, kedua paket dipasang bersamaan.

Selanjutnya, aktifkan repositori Multiverse.

Pasang Steam!

Kalau Anda jalankan perintah steam, kemungkinan Steam akan gagal dijalankan. Hal ini karena Steam memaketkan pustaka C++ dan versi GCC-nya sendiri!

Matikan Steam yang gagal berjalan sempurna itu. Lalu, hapus semua pustaka C++ dan GCC bawaan Steam.

Beberapa orang, termasuk tadinya saya, menyarankan untuk menghapus pustaka dinamis saja. Namun, setelah berjibaku, saya menemukan bahwa Steam menggunakan pustaka statik juga untuk pustaka C++ dan GCC.

Selesai.

Akhir Kata

Mengapa saya menyarankan untuk menggunakan Steam versi Ubuntu, bukan yang dari Valve? Sebenarnya, sih, bisa saja. Asalkan Anda mau menerima pesan kesalahan bahwa paket Steam usang. Saya, sih, tidak mau.

false alarm about outdated version

Steam warns us that our version is outdated

Bacaan Lebih Lanjut

WordPress JP: Installing LAMP Stack with ZFS

WordPress JP: Installing LAMP Stack with ZFS

A REVISION WAS LOST! PLEASE TAKE A LOOK AT THE BOTTOM PAGE FOR GRUB SETTING BEFORE REBOOT.

I’m in fast writing mode as this is probably won’t intended to be understood by most people. I’m writing in this blog as I moving forward installing. To keep writing  and translating from my tacit into Bahasa Indonesia is kind of laboring. Perhaps, if you want, I would reiterate what I do here with better Bahasa Indonesia. But, now, let’s live speed writing.

Preparations

I’ve got Ubuntu 14.04 Live USB on my arsenal. Boot it up and setup some trivial like IP, DNS and stuff. I modify APT sources.list to match my nearest server.

Do the update and install SSH and VIM.

I need SSH because I can’t stand on server room too long. I’m not going to go on religious war on ViM vs Emacs. Last, change ubuntu user password.

And now the show live from my comfy SSH terminal laptop.

Install Ubuntu ZFS for Ubuntu Live Session

Straight from the doc.

You may wondering why I’m not upgrading first. Upgrading a temporary system is wasting time, especially one with GUI installed. Okay, now we get to the formatting.

Create A ZFS Pool

I have 2 SATA and 1 SSD. The best for server should be two SSDs. But, hey, beggar can’t choose.

ZFS config: 2 Disks + 1 SSD.

ZFS config: 2 Disks + 1 SSD.

Using GParted, I turned SSD into GPT with 3 partitions:

  • The first 200MB for /boot partition. Some twisted soul refused to use separated partition for /boot, well, good for you! I go with the conservative.
  • 8GB used for ZIL (ZFS Intent Log) drive. ZFS usually use 8GB max for journaling.
  • The rest used for ZFS Cache (ZARC).

But, hey, where is the EFI partition?

I’ve just recently found out that when you give your whole disk to ZFS, it would format the disk into two partitions. One big partition (sX1) for the use of ZFS and one 8MB partition (sdX9) for EFI partition (FAT). Yeah, ZFS automatically turn the disk into GPT partitioning scheme. After adding the two disks into a ZFS pool, the partitions will be like this:

I’m doing mirroring for sda and sdb. I wish I have one more SSD. I would mirror two partitions on separated SSDs for ZIL. If you are luckier than me, do it! It is for safety measure. But, don’t mirror the cache because it’s wasting space.

Here’s the reality:

If I may have a dream with two SSDs:

Disable access time, enable relative time and enable LZ4 compression on tanks.

If nothing is wrong, we would got:

Next, the partitioning. After this, I’m doing things from Crossroad’s tutorial with some tweaks.

Create Partition

As Debian configuration:

What? Yes, I’m installing Debian not Ubuntu.

Last, export the pool we’ve created for later import. We do this so that the ZFS config would read from disk by ID instead of common UDEV naming. Believe me, you don’t want to use UDEV naming (sda, sdb, etc.) on ZFS.

Now, we can start installing Debian system.

Install Debian

Reimport ZFS pool and create a ZFS configuration cache file.

REMEMBER: (Straight from the ZFS FAQ)

Run update-initramfs -c -k all after any /sbin/zpool command changes the /etc/zfs/zpool.cache file.

This is the reason of random failures from mounting ZFS root partition.

Install the system and mount all the basic system partitions.

And now, configure.

Configure Debian

Hostname.

Create configuration for network interfaces. In the spirit of new configuration scheme, I put two files in /etc/network/interfaces.d/

and

Mount all the system filesystems.

Chroot there

In Debian Configuration

Locales.

Timezone.

Remember when I said I’m going to put /boot on different partition? Now is the time.

Remember also what I said about using the ninth partition of the first disk? Now is the time.

Install ZFS packages with Debian style. ZFS needs lsb-release package.

Last, add a login.

Setup GRUB For ZFS Boot

There is a bug in Debian’s GRUB that makes the system unbootable. First, let’s reconfigure GRUB Default command line:

Change Linux default command line (second screen after Linux command line) from

to

After this, update grub and we are done.

Booting to New System

After all preparations, unmount all the filesystems

Reboot.

Final Thought

Well, you might find some faults here and there. If not, everything after this is straightforward.

Bacaan Lebih Lanjut

Memasang Ubuntu Wily (15.04) Pada HP Probook 440 G2 (HP EFI)
Wily Broke The Window

Memasang Ubuntu Wily (15.04) Pada HP Probook 440 G2 (HP EFI)

Ini adalah perjalanan JP memasang Kubuntu Wily dasar pada sistem HP Probook 440 G2. Mesin ini memiliki implementasi UEFI yang salah sehingga memerlukan ketekunan dalam membuat pemasangan berjalan baik.

Informasi Sistem

Informasi sistem yang didapatkan dari dmidecode.

Manufacturer: Hewlett-Packard
Product Name: HP ProBook 440 G2
Version: A3009DD10303
Serial Number: CND5325G0B
UUID: 9A822FFF-61BB-11E5-A123-9023330000FF
Wake-up Type: Power Switch
SKU Number: L7Z17PT#AR6
Family: 103C_5336AN G=N L=BUS B=HP S=PRO

Saya menjalankan LiveCD Kubuntu Wily. Jangan lupa pasang dulu debootstrap sebelum lanjut. Lalu, supaya tidak pusing, langsung jalan sebagai root saja.

Saya agak curang sedikit. Sebelum kedua langkah tersebut, saya mengubah /etc/apt/sources.list mengarahkan ke KAMBING.ui.ac.id. Hal ini mengingat peladen fisiknya ada di ruang sebelah.

Pembersihan

Sistem ini dijangkiti oleh WIndows 7 sebesar satu tera. Dengan konfigurasi sebagai berikut:

Original HP Partition

Original HP Partition

Jadi kira-kira seperti ini:

/dev/sda1 ntfs primary “SYSTEM”
/dev/sda2 ntfs primary “WINDOWS XXX”
/dev/sda3 ntfs primary “HP_RECOVERY”
/dev/sda4 fat32 primary “HP_TOOLS”

Berhubung laptop ini sudah dibeli dengan perangkat lunaknya, saya memutuskan untuk tidak menghapus Recovery. Saya hanya perlu menghapus Windows.

Saya bingung dan memutuskan untuk menggunakan LVM. Satu tera untuk sistem agak berlebihan menurut saya. Cara berikut bisa dilakukan dengan GParted atau KDE Partition Manager. Akan tetapi, saya mau terlihat seperti heker:

Saya kasih label “HP”, tapi Anda boleh beda. Kemudian, saya putuskan untuk buat partisi dasar 20G dan partisi rumah 20G.

Selanjutnya proses pemasangan.

Debootstrap

Pasang debootstrap seperti biasa:

Saya sengaja memisahkan direktori rumah ke partisi berbeda. Mungkin butuh di kemudian hari.

Pasang Sebelum CHROOT

Karena sistem yang hendak dipasang menggunakan UEFI, mari kita lihat apakah ada UEFI.

Seharusnya ada isinya. Kalau tidak, berarti belum menggunakan UEFI. Silakan gunakan prosedur pemasangan yang biasa saja.

Selanjutnya, mari pasang beberapa sistem berkas:

Baris terakhir diperlukan agar dapat mendaftarkan GRUB ke sistem UEFI.

Si HP ini menggunakan partisi EFI dengan NTFS. Padahal, UEFI bersabda harus menggunakan partisi FAT16/FAT32. Untungnya, ada 4 partisi dan salah satunya memakai FAT32. Jadi, saya buat saja satu direktori efi ke partisi ke-4 itu.

Sekarang kita masuk ke sistem.

Selanjutnya, mari memasang sistem.

Memasang Bootloader dan Kernel

Yang lain mudah, tetapi yang ini agak sulit. Berikut hasil kalau proses sebelumnya berhasil:

Mari pasang LVM2

Lalu pasang GRUB dan kernel.

Sayangnya, karena implementasi HP yang unik dan menyalahi aturan UEFI, Kubuntu akan gagal mendaftarkan sistemnya dengan benar. Apalagi, secara sotoy [slang: sok tahu] skrip grub-install mengira bahwa UEFI ada di direktori pertama. Tetapi, Anda bisa juga beruntung mendapatkan skrip membaca dengan benar.

Saya tidak suka digantung. Mari lihat entri ubuntu dipasang pada UEFI:

Selain saya tidak tahu entri “ubuntu” mengarah ke mana, saya juga tidak suka dengan label yang hanya “ubuntu”. Mari pasang secara benar.

Pertama-tama, hapus “ubuntu”. Perhatikan bahwa entri Ubuntu ada pada indeks 0000.

Selanjutnya, mari pasang label yang baik dan benar.

Berikut penjelasan parameter:

  • -c, buat entri baru.
  • -d /dev/sda, EFI yang ada di perangkat /dev/sda (harddisk utama).
  • -p 4, aplikasi EFI ada di partisi keempat.
  • -L “OS Sesungguhnya”, label entri. Anda bisa mengubah yang lainnya.

Selanjutnya saat menyalakan laptop, entri “OS Sesungguhnya” sudah ada di dalam OS.

Dan Pemasangan pun Berlanjut Normal

Selanjutnya membosankan seperti bootstrap yang lainnya.

Terakhir, muat ulang dan masuk ke sistem.

Catatan

Saya tidak tahu kelakuan HP ini. Pertama-tama saya harus boot dengan USB Kubuntu Live terpasang. Kemudian, ketika sudah masuk ke sistem terpasang, USB dilepas. Saya lalu kembali menjalankan efibootmgr untuk menghapus entri yang sudah ada dan memasang kembali entri “OS Sesungguhnya”.

Do I have to write this on English?

Owncloud: Solusi Perangkat Lunak Bebas

Owncloud: Solusi Perangkat Lunak Bebas

Untuk memenuhi kuota menulis, saya akan menulis mengenai pemasangan Owncloud. Ini bukan karena Snowden yang memberitahukan untuk menghindari menggunakan Facebook, Google, dan Twitter. Tetapi, karena saya memang sedang iseng tentang perangkat lunak ini. Coba ada yang meminta untuk mencoba sesuatu yang lain, saya pasti menulis tentang itu.

Berbeda dengan konfigurasi biasa, saya menggunakan NGINX sebagai peladen HTTP dan PHP-FPM sebagai penyedia PHP. Hal ini karena ada WAF yang bisa dikonfigurasi nantinya apa bila Anda mau membuat ini serius. Ada banyak tambahan yang bisa dibuat dari Owncloud.

Yak, tanpa banyak basa-basi, mari kita memasang. Saya asumsikan Anda telah memasang NGINX dan MySQL pada peladen Anda. Saya juga mengasumsikan Anda menggunakan Debian atau turunannya (BlankOn atau Ubuntu).

Menyiapkan Basisdata

Pertama-tama, siapkan basisdata terlebih dahulu, masuk ke dalam terminal MySQL sebagai Administrator:

Buat basisdata dan berikan hak akses ke klien Owncloud:

Saya menggunakan pwgen untuk membuat sandi yang aman:

Anda bisa buat sendiri sandi Anda, ganti nama basisdata, dan nama klien basisdata yang akan digunakan. Hal ini agar Owncloud Anda bisa aman. Belajarlah untuk aman.

Menyiapkan Rumah

Pada konfigurasi kali ini, saya menggunakan pengguna tersendiri untuk Owncloud. Bukan pengguna baku www-data, tetapi yang berbeda — Anda pun bisa berbeda dari tutorial ini. Caranya:

Saya membedakan instalasi Owncloud dengan datanya. Mari buat kedua direktori tersebut.

Selanjutnya, unduh dan pasang Owncloud. Pada penulisan ini, yang terbaru adalah Owncloud 7.0.2. Silakan cek versi terbaru yang mungkin sudah ada saat Anda mencoba ini lagi di masa mendatang.

Sesuaikan dengan direktori Anda sendiri.

Menyiapkan konfigurasi Peladen

Ada dua yang perlu disiapkan:

  1. Peladen PHP-FPM untuk konfigurasi PHP5.
  2. Peladen NGINX untuk HTTPS.

Sekarang konfigurasi PHP-FPM.

Konfigurasi PHP-FPM

Buat berkas konfigurasi /etc/php5/fpm/pool.d/owncloud yang berisi:

Jumlah peladen itu tidak saya rubah. Silakan Anda sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mesin Anda. Berkas yang bisa diunggah pun sampai 16GB. Secara teori, sih, berkat Menkominfo yang mau turun, tidak mungkin ada berkas sebesar itu yang diunggah.

Setelah selesai, aktifkan Owncloud dan muat ulang PHP-FPM Anda.

Sekarang saatnya mengonfigurasi NGINX.

Konfigurasi NGINX

Asal Anda tahu, CA yang beredar di pasaran masih menggunakan enkripsi 1024-bit dan 2048-bit. Kalau pun ada yang 4096-bit, mereka menjual sertifikat dengan harga mahal. Itu sebabnya, saya menggunakan sertifikat yang ditandatangani sendiri.

Sedikit tambahan, Debian dan distro GNU/Linux terbaru lainnya menolak menyertakan CA yang masih 1024-bit. Makanya tempo hari kita gagal memasang Origin. Hal ini karena Origin masih menggunakan CA yang 1024-bit. Ya, itulah nasib keamanan sebatas ilusi.

Membuat Sertifikat Ditandatangani Sendiri (Self-signed Certificate)

Mari membuat sertifikat yang bisa ditandatangani sendiri:

Selanjutnya membuat konfigurasi NGINX.

Membuat Konfigurasi NGINX

Buat berkas konfigurasi /etc/nginx/sites-available/owncloud dengan isi sebagai berikut:

Perhatikan kalau saya menghapus SSLv3 dari muka bumi. Setahu saya, hanya IE6 yang masih menggunakan SSLv3. Peramban modern sudah mendukung TLS. Bahkan, kalau mau lebih aman, silakan hapus selain TLSv1.2 agar aman dari gangguan SHARK.

Jalankan ulang NGINX.

Sekarang saatnya memulai pemasangan.

Menyiapkan Konfigurasi Owncloud

Setelah semua berjalan sebagai mana mestinya, saatnya membuka peramban dan mengarahkan ke alamat yang telah dibuat. Nanti ada wisaya yang berisi satu halaman konfigurasi pengguna awal (Administrator), letak data, dan konfigurasi basisdata. Saya malas membuat cuplikannya, lebih baik saya arahkan saja.

Bagian pertama adalah membuat Administrator Owncloud.

Create an admin account

  • superman
  • r4NdomP4$sW()Rd

Bagian berikutnya adalah direktori menaruh data.

Data folder

  • /srv/awani/data

Lalu konfigurasi MySQL.

Configure the database

  • megawan
  • week^u2heoQuuv]ah9sah]B~ahShie?t
  • awansendiribd
  • localhost

Setelah itu semua selesai, lalu tekan tombol Finish Setup.

Tunggu sebentar dan hasilnya Anda siap untuk masuk.

Owncloud Login page

Owncloud Login page

Selamat mencoba dan bereksplorasi! Mohon bagi-bagi ilmu kalau ada yang baru.

Bacaan Lebih Lanjut

Terbitnya Opera 24 untuk GNU/Linux
Opera Developer

Terbitnya Opera 24 untuk GNU/Linux

Opera 24 for GNU/Linux

Opera 24.0.1537.0 for GNU/Linux

Setelah kurang lebih setahun, Opera tidak lagi merilis versi GNU/Linux. Setelah berpindah ke Chromium, mereka lebih berkonsentrasi di versi Windows dan MacOS. Kemarin, mereka membuat kejutan dengan menerbitkan versi pengembang (24.0.1537.0).

Yang menarik, mereka pun tak lupa bercanda-canda (self-trolling) di komentar. Memang, para pengguna GNU/Linux merasa yang paling ditinggalkan setelah hilang dari peredaran selama setahun. Saya sendiri termasuk yang memrotes namun pada akhirnya meninggalkan Opera dan menuju peramban lain. Padahal, Opera salah satu peramban tertua yang mendukung GNU/Linux. Bahkan, sempat masuk ke repositori utama Debian.

Walau pun dibilang Opera for Linux, tapi nampaknya Opera kali ini lebih ditujukan kepada Ubuntu. Kalau dilihat dari gambar, nampak tematik yang digunakan adalah tematik Ubuntu. Itu sebabnya, berkas yang diunduh pun paket Debian.

Pemasangan

Pemasangan saya tulis untuk yang Debian dan non-Debian.

Cara Debian

Untuk Debian, Ubuntu, dan variannya (termasuk BlankOn), cukup unduh dan pasang.

Kadang, kalau terpasang standar tanpa diutak-atik, biasanya begitu diunduh sudah langsung ditanyakan untuk dipasang. Perintah ini cuma sekedar jaga-jaga saja kalau harus memasang manual melalui terminal.

Cara Non-Debian

Saya memberikan metodologi untuk memasang secara bersih pada sistem. Kebanyakan orang memasang dengan menggunakan standar FHS yakni pada direktori “/usr/local”. Saya asumsikan bahwa paket Debian Opera sudah diunduh pada direktori yang sama.

Itu semua satu baris perintah. Lalu, kemudian buat SETUID pada opera_sandbox agar bisa dijalankan oleh pengguna biasa.

Selesai.

Terakhir

Saya menulis ini dari Opera Developer. Cukup stabil dan cepat. Saya suka sekali fitur preview. Fitur ini memperlihatkan isi sebuah tab saat titik tetikus melewati tab tersebut tanpa harus membuka tab itu. Lumayan membantu untuk orang yang suka bertab-tab ria.

Printer Scanner EPSON L210 in Ubuntu 13.10 Saucy

Printer Scanner EPSON L210 in Ubuntu 13.10 Saucy

Still in the same story of Ubuntu 13.10. The vendor also provided EPSON L210. This printer is economic and it has big toners. So, yeah, then again I think they made a good deal with this vendor.

Just google it up, because the EPSON Indonesia’s Terms of Use  prohibited me from taking any of their pictures.

According to OpenPrinting, EPSON L210 have epson-201207w official driver. Hmm… I wonder why they haven’t included it into the Installation CD in Indonesia. To download it, follow the link to the download page. They might be have updates from time to time. Or, just use the later.

I used the first method: (ethically, you must agreed with their terms first before you go download these)

Download also the Scanner driver: (ethically, you must agreed with their terms first before you go download these)

Install all:

And it would be normally error because of the absent of dependencies. Install the dependencies and the packages:

Install XSane for scanner application:

GIMP could detect XSane when installed and took it as GIMP’s plugin. Enjoy!

 

TP Link TL-WN725N in Ubuntu 13.10 Saucy

TP Link TL-WN725N in Ubuntu 13.10 Saucy

TL-WN725N, image taken from TP Link's site.

TL-WN725N, image taken as is from TP Link’s site. Used according to TP Link’s site Terms of Use.

I was helping some folks setting up their PC. They used Edubuntu 13.10 and using a broadband provider. They got a modem connected into a Wireless LAN Access Point (WLAN AP).

They brought TP Link TL-WN725N to connect into the AP. It was suggested by their vendor. Well, it was a cheap one, so I think the vendor was right.

Unfortunately, installing it on Ubuntu 13.10 (Saucy) variant wasn’t that easy. Ubuntu 13.10 came with 3.11 kernel. After a long search, I have came up with solution. So, I wrote this tutorial for others to find.

Cut The Chase and Go On

To install this, make sure the PC got the right packages for building kernel modules.

Optionally, if you haven’t got GIT, install it:

Then, grab the driver’s source code:

Get into the directory.

Compile.

And install.

Don’t forget to reload the kernel modules dependency.

Reboot, and enjoy.

Era Monolitik

Era Monolitik

Sejujurnya, saya sedih melihat perkembangan GNU/Linux saat ini. SABDL mengumumkan bahwa Ubuntu akan pindah dari Upstart ke SystemD. Hal ini mengingat keputusan Debian yang memutuskan untuk pindah dari SystemV ke SystemD.

Bug#727708: init system other points, and conclusionWe seem to be at the point of the process where at least those of us who did early investigation are stating conclusions. I think I have enough information to state mine, so will attempt to do so here.
via Debian

Tulisan Russ Allbery memberikan pemaparan jelas mengenai alasan pemilihan ini. Dari tiga kandidat pengganti SystemV (OpenRC, Upstart, Systemd), SystemD menang di atas segalanya. Integrasi yang ketat dengan kernel Linux adalah salah satu alasannya.

Gentoo Forums :: View topic – The Politics of systemdepisode #299) was giving some of his reasons why having Debian choose to go with systemd was a good thing for Linux. Personally, I felt that all of the reasons he gave were pretty weak and did not require systemd (they included mainly cgroups & socket activation).
via Gentoo

Sebagai pengguna Gentoo dan pengguna sistem GNU/Linux yang lama, saya juga merasakan sentimen yang sama dengan pengguna Gentoo yang lain. SystemD memaksakan kehendak untuk menggantikan semua hal. Dalam beberapa tahun ini, akan ada banyak sistem yang takkan jalan tanpa SystemD.

Ini lebih kecenderungan politik dan sungguh bertentangan dengan falsafah UNIX. UNIX memperkenalkan disain yang modular. Ada lapisan-lapisan yang bekerja dengan lapisannya sendiri. Satu aplikasi berjalan untuk menunaikan tugas spesifik saja dan ia mengerjakan tugas tersebut dengan sangat baik.

Untuk mengerti falsafah ini, kita mesti mengerti politik divide et impera yang dianut VOC dulu. Saya dulu mengerti tentang falsafah ini ketika belajar Pemrograman Fungsional dengan matematika Lambda-nya. Waktu itu saya belajar Haskell.

Inti dari falsafah ini sebagai berikut: sebuah masalah dipecah-pecah menjadi banyak permasalahan yang kecil. Masalah yang kecil tersebut kemudian dipecah kembali. Hal ini dilakukan hingga unit terkecil masalah tersebut sudah mencapai titik yang dapat diselesaikan langsung.

Itu sebabnya, di dalam UNIX (dan sistem-sistem yang menirunya), ada banyak aplikasi perkakas kecil yang bisa membaca pipa aplikasi dan meneruskan keluarannya ke pipa perintah selanjutnya. Jadi, setiap aplikasi kecil tersebut saling terisolasi.

Fungsionalitas yang terisolasi ini membuat uji unit lebih mudah. Faktor ketergantungan pihak eksternal pun minim. Untuk mencari tahu kesalahan ada di mana, isolasi ini membuat kita bisa mendeteksi di mana letak kesalahan yang menyebabkan proses terhenti.

Tentu, zaman sudah berganti. Mungkin banyak orang yang sudah tak paham lagi tentang isolasi masalah. Mereka pikir sebuah aplikasi pada suatu lapisan harus tahu lapisan di atasnya atau di bawahnya.

Contohnya, saya melihat banyak orang yang melakukan optimasi jaringan bahkan sampai berusaha menggabungkan lapisan 3 dan 4, misalnya. Ini demi pengaplikasian jaringan paket berbasis konten. Kompleksitas pun bertambah.

Disain yang seperti ini akan rawan galat. Galat ini tak dapat ditelusuri dengan mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi. Akhirnya, galat ini yang mungkin mendekatkan kita kepada Tuhan YME.

SystemD pun nampaknya akan menggantikan banyak hal. Ia telah menggantikan UDEV dan beberapa skrip non-init. BlankOn 9 Suroboyo pun sudah terkena dampaknya. Sudah lama terindikasi memang bahwa mau tak mau dunia harus mengadopsi SystemD!

Saya hanya memprediksi, seperti halnya Linus yang menyesali keputusannya membuat kernel monolitik, suatu saat perancang sistem GNU/Linux akan menyesali keputusan saat ini. SystemD akan berkembang menjadi bloated seperti Windows.

Disainnya yang monolitik hendak menggantikan banyak fungsi membuat ia menjadi kompleks. Separasi yang tidak jelas menjadikan disain menjadi amburadul. Sistem yang kompleks sungguh rawan ketergantungan antar komponen-komponennya sendiri.

Bila saatnya itu tiba, maka akan sulit rasanya mematikan sebuah fitur yang tak perlu. Bisa jadi fitur tersebut menjadi sebuah ketergantungan siklik dengan fungsi yang lain. Ah, malam ini panjang dan menyedihkan. 🙁

Met Valentin bagi yang merayakan.

Repositori Ubuntu Raring Akhirnya Dirilis

Repositori Ubuntu Raring Akhirnya Dirilis

Raring

Om Tonny Sabastian, salah satu penggembala Kambing, telah selesai bertapa membuat repositori Ubuntu Raring. Ada 13 DVD yang siap untuk diunduh. Silakan sedot dan bagikan, Gan!

Anda fakir benwit? Saya juga! (Maksudnya kalau dari rumah koneksi modem 3G)

Menurut Juragan Apri, Anda dapat menggunakan jasa pihak ketiga yang sudah siap membakar DVD untuk Anda. Ada Juragan Kambing, Gudang Linux, Baliwae, dan toko-toko lainnya. Anda juga bisa berpartisipasi dengan menggandakan dan membagikan secara gratis ke tetangga Anda.

Sebenarnya, DVD ini sudah dibuat sejak hari pertama rilis Ubuntu. Namun, negara api menyerang! Eh, maksudnya, ada masalah teknis dengan Ubuntu 13.04 yang pindah ke udisk2. Skema udisk2 menautkan CD/DVD atau pun ruang penyimpan lainnya ke skema /media/$USER/$mountpoint. Hal ini membuat apt-cdrom tidak kompatibel dengan skema yang baru.

Menurut Om Tonny, ada dua cara yang dapat dilakukan, yakni:

  1. Menetap aturan udev agar titik kait di /media seperti pada Ubuntu Asks.
  2. Menambahkan secara manual di terminal:

Ya, kira-kira demikian adanya. Ada juga tips dari orang yang lengkap dan menarik untuk mempermak Ubuntu Raring.

Selamat menjadi pintar!

Etika dan Bisnis

Etika dan Bisnis

Phoronix melaporkan tulisan Stallman (RMS) mengenai Ubuntu memasang spyware. RMS dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa Ubuntu telah memasang lens yang terhubung ke Internet sehingga pencarian yang dilakukan oleh pengguna di Dash diunggah ke Amazon. Ini merupakan sebuah pelanggaran hak privasi. Jono Bacon membuat tulisan menyanggah hal tersebut.

Bagi banyak orang, terutama orang Indonesia, pelanggaran privasi tidak terlalu berpengaruh. Banyak yang mengunggah foto-foto yang seharusnya pribadi ke Internet. Hal ini karena mereka menganggap bahwa Internet adalah sesuatu yang diskrit dari hidup mereka.

Memang, saat ini Internet merupakan sebuah kehidupan yang paralel. Namun, seiring dengan waktu dan teknologi komputasi awan, kehidupan manusia semakin integral dengan Internet. Sedikit demi sedikit kehidupan kita semakin tergantung dengan Internet.

Itu sebabnya, ketika Internet semakin terkontrol, maka kehidupan kita terkontrol. Setiap manusia dapat diarahkan kepada sesuatu yang diingini oleh pemegang Internet. Sayangnya, banyak pemerintahan yang menganggap mereka yang punya kendali, padahal kekuasaan ada pada korporasi global. Mereka mampu memberikan sugesti dengan menganalisis keinginan pengguna.

Mau contoh?

Lihat artis-artis zaman dahulu dan zaman sekarang. Dahulu, kulit sawo matang merupakan standar wanita cantik. Dan memang tepat seharusnya demikian karena orang Indonesia kebanyakan berkulit agak gelap.

Lihat artis zaman sekarang. Artis yang cantik adalah artis yang bermuka putih mulus dan berparas keindoan. Kulit harus putih dan berkilau. Berat badan harus kurus kerempeng. [Jujur, saya tidak suka ke mal karena saya sering hampir menangis melihat ada wanita yang kurus sekali (tidak normal sepertinya bulimia) dengan pakaian modis. Pikir saya, “Emak bapaknya kasih makan apa di rumah?”]

Saya melihat banyak wanita muda yang kehilangan kepercayaan diri akibat ini. Padahal, tidak ada yang salah dengan mereka. Sebagai penggemar novel visual Jepang (manga) saya mendapati bahwa ada banyak fetish yang tersedia. Artinya, setiap pria memiliki wanita idealnya masing-masing, namun sepertinya komersialisasi menganggap hanya ada satu selera.

Manusia

Ketika ada seseorang yang bertindak deviasi dari norma masyarakat. Mungkin Anda menyebutnya sebagai sebuah kejahatan. Tetapi, pada dasarnya ia menentukan sebuah pilihan. Artinya, ia mempraktikkan kehendak bebas yang ia miliki sebagai seorang manusia.

Memang, ada sebuah dilema ketika yang ia lakukan melukai orang lain. Pada titik inilah saya setuju bahwa ada perangkat pemerintahan yang membuat tingkah laku demikian harus diluruskan. Kebebasan hak yang dia lakukan melanggar hak orang lain. Seperti kata PMP (PPKn?), hak setiap orang dibatasi oleh hak orang lain.

Deviasi-deviasi yang terjadi pada manusia merupakan sebuah bentuk pertahanan manusia. Ibarat kata, manusia mempertaruhkan hartanya ke banyak tempat. Seandainya sebuah masyarakat gagal dan jatuh, satu masyarakat yang lain muncul.

Contoh deviasi pemikiran adalah pemikiran Bung Karno versus pemikiran Bung Hatta. Bagi Bung Karno, sekumpulan elit konglomerat yang terfokus dapat mengangkat negara. Berbeda dengan itu, Bung Hatta percaya dengan ekonomi yang terdistribusi.

Pemikiran Bung Karno melahirkan taipan-taipan ekonomi dan secara makro mengangkat ekonomi kita. Namun, ketika ekonomi dunia kolaps, ternyata sektor UMKM mampu bertahan. Sekarang, UMKM merupakan bisnis yang mengangkat Indonesia.

Konglomerasi dan ekonomi terdistribusi merupakan dua pandangan yang berbeda dari dua manusia. Keduanya dibiarkan muncul walau pun konglomerasi menjadi pemikiran arus utama. Namun, ketika konglomerasi gagal, pertahanan manusia berhasil memunculkan pemikiran yang lainnya sebagai solusi arus utama yang baru.

Itulah pentingnya keberagaman manusia. Ia tidak hanya berbicara etnosentrik, namun juga tentang pemikiran. Bhinneka Tunggal Ika bukan soal suku, namun juga pandangan yang dimiliki oleh manusia Indonesia.

Privasi

Ketika tindak-tanduk masyarakat dianalisis oleh sebuah entitas, ia memiliki kuasa untuk menggerakkan masyarakat untuk menjadi seperti yang ia mau. Apa yang terjadi bila entitas tersebut merupakan entitas komersial? Dapatkah ia meletakkan moral di atas kepentingan mencari keuntungan?

Tren ekonomi sosial dan berbasis humanitarian memang berkembang dewasa ini. Tetapi, pada akhirnya bisnis akan selalu berbicara bisnis. Ada neraca saldo yang harus diisi. Entitas komersial, sesuai dengan namanya, akan selalu bersifat komersial.

Jika kekuasaan pengetahuan akan tindakan manusia menjadi milik sekelompok orang, apakah dapat terjamin bahwa sekumpulan manusia itu tidak memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan ideologinya?

Hal yang terjadi di kenyataan,  seperti yang saya contohkan sebelumnya, adalah entitas komersial menggunakan itu untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki pemikiran yang sama. Mereka menyuntikkan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan tujuan mereka.

Inilah hasilnya:

  1. Penyeragaman pendapat yang terjadi di masyarakat menyebabkan keberagaman manusia menjadi dipertanyakan.
  2. Terjadi marginalisasi terhadap orang-orang yang tidak sesuai.
  3. Setiap yang berbeda dipaksa untuk menyesuaikan diri atau tertolak.

Inikah yang diingini oleh manusia? Inikah peradaban manusia?

Itu sebabnya, menolak memberikan data kepada entitas bisnis merupakan sebuah pilihan untuk melindungi manusia dari kepentingan-kepentingan komersial. Hak privasi menjunjung tinggi keberagaman manusia dengan memberikan kesempatan bagi manusia berkembang tanpa terekspos oleh dunia. Hal ini memberikan kontrol kepada manusia untuk ia bisa berpikir dan bertindak. Berpikir dan bertindak bukan karena dorongan orang lain, melainkan produksi dari pikiran orang tersebut sebagai makhluk yang memiliki jiwa dan hati nurani.

Privasi adalah salah satu instrumen untuk membela hak manusia dan mengangkat tinggi derajat manusia sebagai manusia yang berbeda dengan binatang.

Catatan

Ada banyak ide cerita dalam tulisan, jadi syukur kalau Anda mengerti tulisan saya. Saya, sih, menulis ini sebagai catatan kepada diri sendiri mengapa saya masih membela gerakan FOSS. Dunia penuh makna dan tidak sekedar yang terlihat.

Omong-omong, saya, sih, sudah sejak lama memakai BlankOn, jadi nampaknya seruan RMS untuk memboikot Ubuntu bukan buat saya. 🙂

Debootstrap Blankon 8.0

Debootstrap Blankon 8.0

BlankOn Glow On The Dark

Saya mengunduh dan memasang berkas paket debian debootstrap dari repositori BlankOn di Kambing (versi 1.0.42 saat penulisan). Sayangnya, paket deboostrap tersebut tidak mengandung BlankOn. Tidak terima dengan keadaan itu, saya pun mencari berkas konfigurasi Rote. Saya sudah menghapus satu partisi penting dengan iman teguh bahwa  Rote sudah tersedia. Harus!

Dari daftar perubahan, nampak bahwa skrip Rote merupakan sebuah symlink dari Ombilin. Yak, saya pun berbinar-binar. Berikut cara pasang Rote ala saya.

Lengkapi Skrip Debootstrap Rote

Pertama, pasang deboostrap:

Kedua, unduh skrip Ombilin dan buat symlink Rote ke berkas Ombilin tersebut.

Ya, begitu, deh. Dengan ini, kita sudah siap memasang Rote dengan skrip baru. Asumsi saya, sebuah partisi kosong telah dikaitkan ke “/mnt”.

Debootstrap Seperti Biasa (Tidak Juga, Sih)

Saat penulisan, menggunakan repositori Kambing terjadi kegagalan dengan pesan sebagai berikut:

Malas juga mensinkron ulang Kambing. Apalagi ini sudah malam, Kambing biasanya lagi sinkron dengan banyak repositori. Ya, sudah, saya menggunakan repositori utama BlankOn:

Setelah selesai, seperti biasa kaitkan beberapa direktori khusus:

Yak, selanjutnya tinggal pasang-pasang.

Pasang-pasang

Eh, iya, lupa… masuk dulu:

Pada saat penulisan ini, paket “blankon-desktop” tidak dapat terpasang karena membutuhkan paket-paket di luar repositori “main”. Ini wajar, karena berbeda dengan Ubuntu, Debian memutuskan untuk tidak memasukkan paket-paket firmware perangkat keras yang tidak bebas ke repositori utama. Mungkin karena Rote baru saja transisi dari Ubuntu ke Debian, maka berkas-berkas demikian tidak disunting terlebih dahulu.

Hey, sebuah desktop yang keren bukan berarti sudah sempurna. Mungkin di rilis berikutnya akan lebih sempurna. Sekarang saja sudah keren, apa lagi nanti? 🙂

Ya, sudah, saya tambahkan saja beberapa repositori sekaligus. Saya menggunakan Kambing baru kalau tak ada mencari ke Arsip Blankon. Itu sebabnya, Kambing di urutan pertama. Ini isi “sources.list” saya:

Yak, perbaharui daftar paket:

Pasang BlankOn:

Yak, pada tahap ini saatnya menyapa anak, kekasih, atau orang tua Anda. Sudahkah Anda bersosialisasi hari ini?

Pasang Paket-paket Penting

Kernel

Ada “linux-image-generic” atau “linux-image-686”. Kalau yang pertama bakal memasang kernel versi 3.0 dan terakhir memasang 3.2. Saya lebih suka kernel terbaru, apalagi ada regresi pengaturan daya di kernel-kernel terdahulu.

Ada 24,8 MB paket yang hendak diunduh. Santai lagi….

Perkakas Sistemberkas

Yak, saya menggunakan LVM2 dan ReiserFS. Jadi, saya perlu menambahkan keduanya:

Saya tidak yakin apa perlu memasang “ntfs-3g” untuk membaca partisi NTFS. Nanti saja. Saya memiliki skema partisi LVM, jadi agak ribet. Mungkin Anda memiliki satu partisi khusus yang berdedikasi sehingga proses ini tidak perlu dilakukan.

Persiapan Untuk Menyalakan Ulang Komputer

Keluar dari CHROOT

Keluar dari “chroot” dan lepas semua kaitan.

Saya tetap memilih GNU/Linux Ubuntu 12.04 saya sebagai sistem operasi utama. Jadi, saya perlu mengonfigurasi ulang GRUB2 saya:

Yak, tinggal “next”-“next” saja.  Nanti pengonfigurasi akan menemukan partisi BlankOn dan entri GRUB-nya.

Dunia Tak Seindah Itu Tapi Bersyukurlah

Yak, ternyata ada konfigurasi-konfigurasi tambahan yang harus digunakan. Beberapa paket sepertinya harus dipasang. Yang pasti, shortcut tidak berfungsi di Manokwari. Namun, saya terkagum-kagum betapa cepatnya BlankOn dari posisi mati ke DM. Wow!

Kudos buat pengembang. Saya masih ingin eksplorasi lagi, tapi mata sudah berat. Ini sudah jam setengah tiga pagi. Caw!

Skrinsut BlankOn

Skrinsut BlankOn minimalis belum diperlakukan. 🙂

Optimasi dengan Jemalloc
cpu-burn

Optimasi dengan Jemalloc

Biasanya Jemalloc dipakai oleh server high performance, Firefox, dan beberapa aplikasi lainnya. Setelah dicobakan ke Gentoo, ternyata Jemalloc bisa dipakai juga untuk lingkungan laptop saya. Hasilnya, aplikasi jauh lebih cepat.

Dapatkan Jemalloc

Ubuntu saya masih Ubuntu Precise. Jemalloc-nya masih 2.2.5. Versi Jemalloc di Quantal sudah pakai 3.0.0. Ya, sudah,  saya unduh saja:

Jemalloc tidak membutuhkan banyak pustaka karena dia mengimplementasi ulang fungsi alokasi memori.

Konfigurasi

Untuk yang lemah iman, gunakan saja konfigurasi standar:

Untuk yang suka tantangan seperti saya, mari kita gunakan:

Oh, iya, sebelum menjalankan perintah tersebut, terlebih dahulu pasang “libunwind” untuk melakukan profilling. Caranya:

Sebenarnya ada “–enable-lazy-lock”. Menurut referensi, dapat menyebabkan masalah pada beberapa aplikasi Java. Ya, sudah, saya tidak ikutkan. Saya banyak menggunakan aplikasi Java soalnya.

Kalau sudah, kompilasi:

Pakai

Untuk yang paranoid, mungkin bisa pilih aplikasi apa saja yang memakai Jemalloc. Caranya mudah, buka terminal dan buat LD_PRELOAD sebelum menjalankan aplikasi. Contoh:

Untuk yang suka tantangan seperti saya, silakan langsung saja taruh pustaka Jemalloc di “/etc/ld.so.preload”. Dengan ini, setiap aplikasi yang berjalan pasti menggunakan Jemalloc. Caranya, sunting berkas tersebut dengan penyunting teks, atau gunakan:

Beres.

Pengalaman

Dari penggunaan saya, sampai detik ini saya belum menemukan masalah. Malah, performa laptop saya meningkat. Sampai jumpa pada seri optimasi yang lain.

Bacaan Lebih Lanjut

Scalable memory allocation using jemallocThe Facebook website comprises a diverse set of server applications, most of which run on dedicated machines with 8+ CPU cores and 8+ GiB of RAM. These applications typically use POSIX threads for concurrent computations, with the goal of maximizing throughput by fully utilizing the CPUs and RAM.
Memasang mod_pagespeed Pada Ubuntu/Debian

Memasang mod_pagespeed Pada Ubuntu/Debian

Modul mod_pagespeed adalah sebuah modul Apache yang digunakan untuk mengoptimisasi sebuah situs. Beberapa teknik optimasi misalnya mengecilkan berkas-berkas dan membuat mereka statik. Modul ini dikembangkan oleh Google.

Cara pakai:

  1. Pergi ke laman pengunduhan dan unduh berkas.debyang sesuai dengan arsitektur server.
  2. Pasang:
  3. Muat ulang Apache2.
  4. Selesai.

Optimasi

Kalau memori lebih besar, lebih baik taruh pagespeed ke memori. Caranya ada di dokumentasi.

Sedikit saran, kalau menggunakan solusi lain, lebih baik mod_pagespeed dimatikan atau solusi lain juga dimatikan. Sering kali solusi yang sama ditawarkan oleh solusi lain (misalnya penggunaan plugin tembolok WordPress yang juga mengompresi berkas). Jadi, pastikan solusi yang lain tidak saling bentrok.

PPA untuk Tampilan Alternatif

PPA untuk Tampilan Alternatif

Agak bosan dengan Unity? Punya koneksi Internet yang cukup? Ingin melihat paradigma HCI (istilah populernya sekarang UX) yang berbeda? Atau Anda kurang kerjaan seperti saya? Silakan ikuti.

Enlightenment DR-17 (E17)

Saya mengikuti dari semenjak zaman mahasiswa dan sudah hampir sepuluh tahun (atau jangan-jangan sudah lebih?) masih versi SVN saja. Yang keren dari lingkungan ini adalah dia bisa jalan di lingkungan PDA Zaurus. Zaurus adalah perangkat masa lalu yang keren jauh sebelum BB berkuasa. Saat ini, saya menggunakan versi SVN dan cukup baik penggunaannya.

Kelemahan: systray tidak ada (systray bisa diaktifkan, ternyata modulnya secara baku dimatikan) dan wallpaper belum bisa diganti dengan gambar biasa. Tapi, sekarang E17 sudah punya composite sendiri dan sepertinya dia berjalan di atas OpenGL ES. Wajar, sih, mengingat beliau digunakan untuk telepon pintar.

Saya pakai ini sekarang. Katanya, sih, sudah ada modul systray, saya sedang berusaha mencarinya di PPA. Yah, kalau tak ada, saya akan kompilasi sendiri.

Cinnamon

Sudah banyak yang membahas desktop turunan GNOME3 ini. Dibuat oleh pengembang Linux Mint dan tersedia untuk banyak distro. Cinnamon, sebuah GNOME3 dengan kelakuan mirip GNOME2.

Saya pasang ini tapi cuma sebentar memakainya. Not trying to be a hipster but this isn’t an alternative anymore and too mainstream… 🙂

Elementary

Elementary merupakan sebuah desktop untuk ElementaryOS, sebuah distro GNU/Linux yang mengambil falsafah kesederhanaan. Mereka ingin membuat semuanya sederhana tanpa keribetan antarmuka. Bukan antarmuka untuk saya yang pasti. Bagi saya, banyaknya pilihan itu mengasyikkan untuk menghasilkan sebuah desktop yang terpersonalisasi.

Oh, omong-omong dia butuh beberapa paket tambahan.

Yak, sekian. Ada lagi, ‘kah, tambahan desktop yang eksotik lainnya?

Bonus: Unity Lens

Unity Lens adalah sebuah penyaring bagi Dash, sebuah komponen Unity desktop baku Ubuntu. Contoh Lens yang terpasang misalnya Music Lens yang berisi lagu-lagu yang ada di komputer atau lagu yang terakhir dimainkan. Ada banyak Lens lainnya yang menarik.

Silakan cari-cari Lens yang keren dan pasang.

Memasang Ubuntu Precise dari BlankOn Pattimura

Memasang Ubuntu Precise dari BlankOn Pattimura

TL;DR

Inti dari tulisan ini adalah memasang menggunakan debootstrap. Ada beberapa alasan yang menyebabkan memasang Ubuntu Precise dengan menggunakan metode ini. Kalau saya:

  1. Saya menggunakan LVM dan CD pemasang Ubuntu tidak mendukung LVM.
  2. Saya suka menggunakan debootstrap.
  3. Beberapa konfigurasi dasar di BlankOn disalin oleh debootstrap sehingga saya terbantu.
  4. Saya ingin mencoba yang baru dan proses ini mengedukasi saya.
  5. Saya kurang kerjaan dan pengen iseng-iseng.

Persiapan Sebelum Debootstrap

Ada beberapa langkah persiapan:

  1. Memasang paket debootstrap dari Ubuntu Precise.
  2. Mempersiapkan partisi yang dibutuhkan.

Memasang Paket Debootstrap dari Ubuntu Precise

Paket debootstrap dari Pattimura belum memuat Precise. Untuk itu, kita perlu memasangnya dari repositori Precise. Hal ini bisa dilakukan karena debootstrap dapat dipasang di semua arsitektur (arch=All). Anda dapat mengunduh sendiri lalu menggunakan dpkg atau cukup klik tautan ini di peramban Anda agar otomatis terpasang. Kalau saya, sih, memilih cara yang kedua. 🙂

Mempersiapkan Partisi

Saya asumsikan partisi telah tersedia. Dalam contoh saya, saya memberi partisi sebagai “/dev/mapper/Linux_LVM-UbuntuLucid”. Biasalah, sebelumnya saya coba-coba Ubuntu Lucid. Biar afdol, format dengan sistemberkas kesukaan: [Hati-hati, perintah ini menghapus isi partisi. PASTIKAN TIDAK ADA DATA PENTING]

Saya suka sekali memberi label pada setiap partisi. Praktik ini sangat berguna bila Anda bekerja di Pusat Data dan melibatkan banyak partisi. Kali ini saya memberi label “Ubuntu 12.04” untuk membedakan Pattimura dengan Precise.

Lanjut Debootstrap

Lakukan langkah-langkah yang biasa dilakukan saat debootstrap, yakni:

  1. Mengaitkan (mount) partisi yang mau dipakai ke sebuah direktori.
  2. Melakukan debootstrap ke direktori tersebut.
  3. Mengaitkan sistemberkas khusus ke sub-sub direktori yang diperlukan.

Mengaitkan Partisi

Kaitkan partisi yang telah dipersiapkan ke sebuah direktori kosong; saya menggunakan “/mnt”:

Pasang Paket Dasar Ubuntu

Memasang paket-paket dasar Ubuntu Precise dengan debootstrap.

Kaitkan Sistemberkas Khusus

Sebelum melakukan modifikasi lebih lanjut, pasang sistemberkas khusus. Hal ini diperlukan karena ada beberapa paket yang membutuhkan informasi kernel yang berjalan. Mereka memerlukan akses ke perangkat keras agar dapat terpasang dengan baik. Untuk itu, ada tiga buah sistemberkas khusus yang diperlukan:

dev
Dulu ada sistemberkas devfs yang mengonfigurasi direktori dev. Lalu ada juga skrip MAKEDEV yang mengisi direktori tersebut dengan berkas-berkas khusus. Sekarang, kita hanya perlu menautkan /dev saja karena sistem modern sudah menggunakan udev.
devpts
Sistem berkas ini digunakan untuk mengemulasi lingkungan terminal. Biasanya digunakan oleh XTerm, SSHd, dan bahkan aplikasi pemaket Debian untuk membaca terminal.
proc
Sistemberkas ini berisi informasi kernel. Informasi itu misalnya proses yang berjalan dan propertinya, sistemberkas yang terpasang, dan lain sebagainya.
sysfs
Sysfs adalah sebuah sistem berkas yang disediakan untuk aplikasi-aplikasi dapat mengakses perangkat-perangkat keras yang ada.

Mari pasang keempat sistemberkas tersebut:

Partisi “/mnt” sampai saat ini telah siap untuk digunakan sebagai partisi utama (root partition).

Masuk Ke Direktori Tersebut

Mari masuk ke direktori tersebut untuk konfigurasi lebih lanjut. Untuk masuk, digunakan chroot yang mengemulasi lingkungan konsol dengan menjadikan sebuah direktori menjadi lingkungan tersendiri. Lingkungan yang berjalan tergantung direktori tersebut. Banyak sistem operasi baru (termasuk Ubuntu) menggunakan Dash dari pada BASH sebagai program konsolnya. Kebetulan saya lebih suka BASH.

Mari masuk ke lingkungan sistem baru kita dengan menggunakan BASH yang terpasang di sana.

Pemasangan Lingkungan Dasar

Ada beberapa langkah untuk memasang Precise:

  1. Mempersiapkan repositori (opsional karena yang utama ditambahkan otomatis oleh debootstrap).
  2. Memasang dukungan Bahasa Indonesia
  3. Mengonfigurasi waktu sistem.
  4. Memasang perkakas sistem berkas.
  5. Memasang desktop.
  6. Menambah pengguna baru.
  7. Memasang kernel Linux.

Memasang Repositori Cadangan (Opsional)

Ubuntu Precise saat ini masih versi alfa. Artinya, banyak sekali perubahan yang terjadi sehingga repositori masih belum stabil. Perubahan-perubahan ini menyebabkan pencerminan lokal seperti Kambing dan Indika membutuhkan waktu lebih lama untuk sinkronisasi dengan repositori utama.

Kalau Anda memiliki akses Internet lumayan, silakan kunjungi daftar pencerminan Ubuntu dan periksa situs-situs yang Up-to-date. Saya memilih menggunakan situs dari Jepang, JAIST sebagai situs cermin tambahan.

Setelah memutuskan, saya menambahkan situs pencerminan tersebut ke berkas sources.list saya. Di dalam informasi tentang JAIST, saya ubah “Display sources.list entries for: ” menjadi “Precise (12.04)”.Lalu setelah itu saya menyalin dua baris di bawahnya yang berubah menjadi konfigurasi sources.list untuk Precise.

Langkah selanjutnya menambahkan dua baris tersebut ke sources.list. Saya tetap menggunakan Kambing sebagai situs utama, sehingga saya menambahkannya dua baris tersebut di akhir baris.

BONUS: Karena ViM belum terpasang, saya memberikan dua opsi untuk memasang repositori cadangan.

Cara L33t

Lakukan langkah berikut di dalam lingkungan chroot.

Cara Biasa

Buka terminal satu lagi dan tambahkan dua baris entri deb dan deb-src tersebut.

Tambahkan dua entri setelah entri repositori utama dan simpan berkas tersebut.

Perbaharui Daftar Paket

Setelah masuk ke dalam lingkungan chroot, entah Anda memutuskan untuk menambah repositori atau tidak, jangan lupa memperbaharui daftar paket.

Pasang Bahasa Indonesia

Sebagai seorang Indonesia, saya cinta Bahasa Indonesia. Saya lebih suka melihat kata “Sedang memproses pemicu untuk gnome-menus … ” dari pada versi bahasa Inggrisnya. Itu sebabnya, saya tidak ingin langkah ini opsional.

Konfigurasi Waktu

Untuk mengonfigurasi waktu, lakukan langkah berikut:

Lalu pilih Asia.

Memilih Asia

Pilih Asia

kemudian Jakarta.

Memllih Jakarta.

Memilih Jakarta.

Untuk Anda yang berada di zona waktu selain Indonesia Barat (WIB), pilih Jayapura untuk Indonesia Timur (WIT) atau Makassar untuk Indonesia Tengah (WITA).

Memasang Perkakas Sistemberkas

Secara baku Ubuntu hanya memasang perkakas untuk EXT3, EXT4, NFS, CRAMFS, dan FAT32. Padahal, saya menggunakan LVM dan di atasnya terpasang ReiserFS. Agar sistem dapat digunakan saat nanti di-boot, saya harus memasang perkakas untuk LVM dan ReiserFS.

Mungkin jika Anda menggunakan XFS:

Atau ada partisi NTFS:

Memasang Desktop

Sekarang saatnya memasang desktop Ubuntu. Anda bisa memasang Kubuntu, Lubuntu, Xubuntu, atau bahkan megonfigurasi sendiri. Tetapi, untuk kesederhanaan saya memilih untuk memasang yang baku dari Ubuntu.

Saat proses pemasangan ini berlangsung Anda jangan lupa ngopi, salam ke tetangga, ajak main anak Anda, atau lihat-lihat status gebetan di media sosial. Oh, sudah makan, belum?

Menambahkan Pengguna Baru

Tambahkan satu atau dua pengguna baru. Misalnya saya menambahkan satu pengguna baru:

Tambahkan hak administrator kepada pengguna yang berhak. Misalnya akun saya.

Ubuntu Desktop sudah memasang sudo dan grup “sudo” otomatis ditambahkan sebagai grup administrator. Silakan cek dengan perintah “visudo” untuk mengetahui grup apa saja yang dikonfigurasi demikian.

Memasang Kernel

Langkah selanjutnya adalah memasang kernel. Saya pilih yang generik saja.

Proses pemasangan ini juga memasang GRUB PC (alias GRUB2). GRUB PC akan menanyakan partisi khusus yang hendak Anda pasang. Pilihkan cakram utama Anda, biasanya sih “/dev/sda”. Gunakan tombol panah atas dan bawah untuk navigasi. Tekan tombol spasi untuk memilih.

Pilih /dev/sda

Pilih /dev/sda (cakram keras utama)

Sampai tahap ini sistem sudah siap untuk digunakan. Selanjutnya kita akan bersih-bersih.

Bonus: Beberapa Langkah Tambahan

Saya menyertakan bonus untuk beberapa langkah tambahan untuk menyempurnakan pemasangan Precise ini, yakni:

  1. Memasang aplikasi-aplikasi dasar favorit.
  2. Memasang SSH.
  3. Mengonfigurasi direktori rumah (home) dan direktori lainnya.

Memasang Aplikasi Favorit

Saya suka memakai ViM.

Memasang SSH

SSH server seringkali tidak dipasang, tetapi, saya suka mengakses laptop saya untuk menyalin berkas-berkas penting (misalnya anime, dokumen kantor, dll.) dari komputer lain.

Langkah berikut opsional, tetapi saya ingin agar konfigurasi SSH saya di BlankOn dan di Ubuntu ini sama. Untuk itu, buka jendela terminal lain dan salin berkas-berkas konfigurasi SSH.

Saya lakukan ini supaya kunci SSH di BlankOn dan Ubuntu sama. Dengan ini kalau mau masuk dari mesin lain, klien tidak mencurigai kunci yang berbeda setiap kali berganti sistem operasi.

Mengonfigurasi Partisi Lain

Untuk lebih gampang, silakan gunakan GEdit untuk memodifikasi fstab. Misalnya, di terminal lain Anda gunakan perintah:

Lihat baris mana saja yang perlu ditambahkan. Kecuali partisi dasar, yang lainnya tambahkan saja. Saya menambahkan partisi rumah ke dalam fstab. Kebetulan saya memisahkan partisi rumah “/home” ke dalam partisi yang berbeda.

Pembenahan Sebelum Masuk Ke Ubuntu

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum komputer dinyalaulangkan untuk masuk ke dalam sistem baru.

Cara Malas

Langsung nyalaulangkan komputer Anda.

Cara Aang Anak Baik

Berikut langkah-langkah yang baik:

  1. Keluar dari lingkungan chroot dengan menekan tombol CTRL-D.
  2. Lepaskan kaitan sistemberkas yang telah kita pakai.oun
  3. Baru nyalaulangkan komputer Anda.

Perbaikan Di Dalam Ubuntu Precise

Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki:

  1. Dukungan Bahasa
  2. Entri GRUB untuk Opera

Dukungan Bahasa

Terus terang saya tidak tahu apa yang saya lakukan, karena Ubuntu ini versi masih alfa.

Saya masuk ke dalam Language Support dan memasang dukungan Bahasa Indonesia. Entah mengapa, Ubuntu malah memasang bahasa Inggris. Akhirnya, saya pancing dengan mengaktifkan bahasa Inggris dan memilih “Apply System-wide”. Kemudian, saya pilih Bahasa Indonesia dan Apply System-wide. Terakhir, saya membuang dukungan bahasa Inggris. Lalu saya menyalaulangkan Ubuntu saya.

Membetulkan GRUB

Saya ketika memasang Ubuntu Precise hanya menjumpai Ubuntu dan Windows XP saja pada entri GRUB. Untuk mendapatkan entri BlankOn, saya melakukan ini:

$ sudo dpkg-reconfigure grub-pc

Dan lanjutkan saja terus, nanti di akhir konfigurasi GRUB PC akan mencari kembali partisi-partisi yang ada sistem operasinya.

Sekian

Demikian adanya.

Ubuntu Baru

Ubuntu Baru Saya

Memasang Ubuntu pada XServe

Memasang Ubuntu pada XServe

Persiapan

Apple XServe menggunakan EFI untuk booting. Jadi, siapkan CD Installer yang bisa mem-boot menggunakan EFI. Omong-omong, sepertinya pendahulu saya sudah memasang rEFIt sehingga saya bisa menjalankan CD. Walau menurut situs rEFIt, hal ini sebenarnya tidak perlu, tetapi ini membantu saya. Yah, yang penting jalan saya sudah dilempengkan. Saya menggunakan CD Pemasang Ubuntu yang sudah mendukung EFI. Hadiah dari pendahulu. Jadi, saya tinggal masuk ke CD pemasangan dengan modus ahli (expert mode).

Sedikit catatan untuk CD Pemasang Ubuntu, dia sering mengakses server-server luar secara otomatis (misalnya security.ubuntu.com). Hal ini yang mengakibatkan kita sering melihat menu kosong karena proses di belakang sedang berjalan. Hal ini mengesalkan karena saya tidak tahu bagaimana pindah ke terminal. Kalau di server biasa, tombol ALT+F(n) (n = 1..6) bisa ditekan. Nah, di XServe dengan papan ketik Mac jadi bingung saya. Jadi, kalau lagi diam sejenak tak jelas, jangan keburu panik, mungkin itu karena Pemasang Ubuntu sedang berusaha mengakses server Ubuntu.

Proses Instalasi

Untung dulu saya senang main Ding Dong. Nah, pertama-tama untuk bisa masuk ke pemilih, sebelum layar putih, tekan tombol Option berulang-ulang (seperti hendak mengeluarkan jurus tendangan seribu Chun Li). Ini biasanya layarnya putih agak keabuabuan lalu setelah beberapa saat akan muncul pertama kali ikon rEFIt yang masuk ke cakram (harddisk) dan kursor tetikus. Lalu, setelah beberapa saat lagi, akan muncul ikon masuk ke CD. Nah, kalau sudah muncul, hentikan menekan tombol berulang-ulang, capek soalnya. Pilih masuk ke CD.

Nah setelah itu pilih instalasi biasa.

Oh, iya, saya memilih untuk memasang dari jauh lewat SSH. Enaknya dengan SSH adalah kita tak perlu lama-lama di ruang server. Lagipula, kita bisa memilih masuk ke dalam menu instalasi atau menjalankan terminal. Ini penting karena kita perlu secara manual untuk memilih konfigurasi GRUB. Makanya, saya buka dua terminal, satu untuk menu instalasi (pemasangan) dan satu untuk  terminal biasa.

Jangan lupa untuk memasang SSH Server pada pemilihan perangkat lunak yang diperlukan.

Pada saat selesai memasang dan hendak manyalaulangkan server, buka terminal. Ubuntu mengaitkan partisi kita ke /target. Maka:

Ganti $EDITOR dengan “nano” atau “vi”. (Maaf, bukannya gak mau nyebut Emacs, yang gunain pasti gak perlu baca baris ini :P)

Pada baris kernel, buang opsi “ro silent splash …” dan ganti dengan “ro verbose”. XServe menghasilkan artifak yang membuat kita tidak bisa melihat apa yang terjadi. Walau pun menggunakan kartu grafis nVIDIA, tetapi lebih baik dimatikan saja.

TODO

Hal pertama adalah framebuffer. Tampaknya framebuffer perlu dikilik terlebih dahulu. Sebab, kendati bisa masuk ke sistem, pada saat Ubuntu mereset terminal, layar jadi hitam. Itu pentingnya server SSH telah terpasang di saat pemasangan awal.

Hal yang kedua adalah mengonfigurasi ruang penyimpan. XServe yang saya sedang oprek terhubung ke Promise VTrak E610f. Sepertinya Ubuntu hanya mengenali kontroler ini. Padahal di XServe sudah ada cakram internal. Nah, saya ingin mengenali cakram yang internal juga.

Saya tidak tahu konfigurasi VTrak, tetapi kata situsnya, sih, secara baku dia menggunakan RAID 6. Nah, beruntung dia menggunakan RJ-45 sebagai konektor kepada laman administrasinya. Saya mau lihat dulu konfigurasinya.

Yah, sekian sekilas laporan pandangan mata.

Unofficial TODO

Beliin Mac, dong, buat latihan. Ini papan ketiknya gak nyaman banget. Gak biasa….

Bacaan Lebih Lanjut

UEFIBooting – Community Help Wiki

Caution if you want to dual boot. Due to bug 769669 the boot partition will be formatted. This has resulted in the Windows bootloader being deleted for some users of Ubuntu 11.04 & 11.10. This issue has been resolved in Ubuntu 12.04.

http://kb.promise.com/KnowledgebaseArticle10084.aspx

Products – Xeon Server, Controller, Storage, Processors, Networking & More | Acmemicro

On Product Home page, customers can find the most popular server products in the market, including the latest Intel Xeon E7 V2 family, GPU Solution, Fusion-io products, GPU cards for Bitcoin, Dell product lineups, Intel Xeon Phi Cards, Nvidia Tesla & Quadro cards, storage solutions, High Density server solutions, etc.