Tag Archives

3 Articles
Peramban Baru Vivaldi
Vivaldi browser change color like chameleon.

Peramban Baru Vivaldi

Phoronix mengumumkan tentang Vivaldi, sebuah peramban baru. Vivaldi dibangun oleh mantan CEO Opera dengan tujuan membangkitkan fitur-fitur Opera seperti dahulu. Fitur seperti mendengar para kontributor dan pengguna.

Seperti peramban baru lainnya, Vivaldi dibangun dengan menggunakan Chromium. Setelah beberapa kali mencoba, saya menemukan beberapa fitur unik:

  • Penggunaan papan ketik didukung. Pintasan-pintasan papan ketik cukup kuat untuk para pengguna mahir. Setidaknya itu yang saya lihat dari daftar pintasan papan ketik.
  • Warna dasar peramban berubah mengikuti situs yang dikunjungi. Ini menimbulkan efek immersive experience.
  • Tampilan sederhana.

Yak, kira-kira TL;DR-nya seperti itu.

Cara Pasang

Vivaldi menyediakan paket RPM dan Debian untuk dipasang. Silakan gunakan cara yang disarankan pada masing-masing sistem operasi Anda. Berhubung saya menggunakan Gentoo, cara saya berbeda. Saya asumsikan Anda sudah mengunduh berkas Debian Vivaldi_TP_1.0.83.38-1_amd64.deb (versi terbaru saat penulisan). Silakan ganti dengan versi yang lain.

Ekstraksi Vivaldi.

ar p Vivaldi_TP_1.0.83.38-1_amd64.deb \
  tar xvfJ -

Lalu pindahkan ke sistem.

sudo mv opt/vivaldi /opt
sudo mv usr/bin/vivaldi-browser /usr/bin

Jangan lupa sandbox Chromium harus punya setuid.

sudo chmod 4755 /opt/vivaldi/vivaldi-sandbox

Selesai.

Cuplikan

Tidak enak tanpa cuplikan. Omong-omong, saya ubah-ubah sedikit sebelum ambil cuplikan. Saya menyesuaikan tata letak dengan Opera saya yang dulu.

 

Adobe Flash untuk Opera 24 GNU/Linux
Opera Developer

Adobe Flash untuk Opera 24 GNU/Linux

Basa-basi

Saya asumsikan Opera 24 dipasang seperti cara sebelum ini. Karena ini versi pengembang, Opera belum bisa menyalakan Adobe Flash. Itu sebabnya, akhir-akhir ini komputer saya stabil.

Saya mau membuang kestabilan itu demi eksperimen. Opera 24 dibangun di atas Chromium. Artinya, secara infrastruktur dia sudah menyediakan fasilitas Adobe Flash versi PPAPI (PepperFlash). Ini versi yang akan selalu diperbaharui oleh Adobe. Dan inilah cara jantan menyalakan PepperFlash Opera 24.

Pemasangan

Ada tiga bagian dalam pemasangan, memasang PepperFlash, membuat skrip pembungkus, dan membuat konfigurasi.

Memasang PepperFlash

PepperFlash didapatkan dari Chromium/Google Chrome. Kalau sudah memasang perangkat lunak tersebut, silakan saja salin direktori PepperFlash beserta isinya. Namun, saya asumsikan Anda belum memasang Chromium/Google Chrome.

Unduh Google Chrome dari saluran Unstable. Mengapa versi itu? Sebagai pengingat saja dan gaya-gayaan.

wget https://dl.google.com/linux/direct/google-chrome-unstable_current_amd64.deb

Ekstraksi PepperFlash ke /usr/local/lib/

ar p google-chrome-unstable_current_amd64.deb data.tar.lzma \
 | sudo tar xvfJ - -C/ ./opt/google/chrome-unstable/PepperFlash --xform='s,\(/opt/google/chrome-unstable/\),/usr/local/lib/,'

Selanjutnya membuat sebuah skrip tambahan.

Membuat Skrip Tambahan

Pada versi awal opera-developer merupakan tautan ke binari Opera. Saat ini saya akan membuat opera-developer sebagai skrip pembungkus. Ubah direktori jika Anda mengubah posisi instalasi.

Gunakan penyunting teks favorit Anda, kalau saya gunakan langsung:

cat > opera-developer << EOF
#!/bin/bash

# Allow the user to override command-line flags, bug #357629.
# This is based on Debian's opera-developer-browser package, and is intended
# to be consistent with Debian.
for f in /etc/opera-developer/*; do
    [[ -f ${f} ]] && source "${f}"
done

# Prefer user defined OPERA_USER_FLAGS (from env) over system
# default OPERA_FLAGS (from /etc/opera-developer/default).
OPERA_FLAGS=${OPERA_USER_FLAGS:-"$OPERA_FLAGS"}

if [[ ${EUID} == 0 && -O ${XDG_CONFIG_HOME:-${HOME}} ]]; then
    # Running as root with HOME owned by root.
    # Pass --user-data-dir to work around upstream failsafe.
    OPERA_FLAGS="--user-data-dir=${XDG_CONFIG_HOME:-${HOME}/.config}/opera-developer
        ${OPERA_FLAGS}"
fi

# Set the .desktop file name
export OPERA_DESKTOP="opera-developer.desktop"

exec -a "opera-developer" "/usr/local/lib/x86_64-linux-gnu/opera-developer/opera" --extra-plugin-dir=/usr/lib64/nsbrowser/plugins ${OPERA_FLAGS} "$@"
EOF

Ini skrip diambil dari skrip Chromium dan diubah secara barbar. Untuk saat ini, NPAPI (plugin-plugin Firefox) tidak lagi didukung oleh Chromium. Jadi, sepertinya menambah direktori NPAPI tidak perlu. Tapi saya terlalu malas untuk menghapusnya.

Mari pindahkan dan buat supaya bisa dieksekusi.

chmod +x opera-developer
sudo cp opera-developer /usr/local/bin

Nah, sekarang kita perlu mengatur OPERA_FLAGS.

Membuat Konfigurasi Tambahan

Saatnya membuat konfigurasi tambahan. Gunakan penyunting teks kesayangan atau seperti saya langsung dari terminal.

cat > default << EOF
# Default settings for chromium. This file is sourced by /usr/local/bin/opera-developer

# Options to pass to opera-developer
OPERA_FLAGS=" --ppapi-flash-path=/usr/local/lib/PepperFlash/libpepflashplayer.so --ppapi-flash-version=14.0.0.125"
EOF

Mari buat direktori /etc/opera-developer untuk berkas konfigurasi tersebut. Lalu, pindahkan ke sana.

sudo mkdir -p /etc/opera-developer
sudo cp default /etc/opera-developer/default

Selesai.

Kata Terakhir

Jalankan Opera dan akhirnya Adobe Flash pun berjalan. Sistem pun kembali tak stabil. FTW!

Terbitnya Opera 24 untuk GNU/Linux
Opera Developer

Terbitnya Opera 24 untuk GNU/Linux

Opera 24 for GNU/Linux

Opera 24.0.1537.0 for GNU/Linux

Setelah kurang lebih setahun, Opera tidak lagi merilis versi GNU/Linux. Setelah berpindah ke Chromium, mereka lebih berkonsentrasi di versi Windows dan MacOS. Kemarin, mereka membuat kejutan dengan menerbitkan versi pengembang (24.0.1537.0).

Yang menarik, mereka pun tak lupa bercanda-canda (self-trolling) di komentar. Memang, para pengguna GNU/Linux merasa yang paling ditinggalkan setelah hilang dari peredaran selama setahun. Saya sendiri termasuk yang memrotes namun pada akhirnya meninggalkan Opera dan menuju peramban lain. Padahal, Opera salah satu peramban tertua yang mendukung GNU/Linux. Bahkan, sempat masuk ke repositori utama Debian.

Walau pun dibilang Opera for Linux, tapi nampaknya Opera kali ini lebih ditujukan kepada Ubuntu. Kalau dilihat dari gambar, nampak tematik yang digunakan adalah tematik Ubuntu. Itu sebabnya, berkas yang diunduh pun paket Debian.

Pemasangan

Pemasangan saya tulis untuk yang Debian dan non-Debian.

Cara Debian

Untuk Debian, Ubuntu, dan variannya (termasuk BlankOn), cukup unduh dan pasang.

sudo dpkg -i opera-developer_24.0.1537.0_amd64.deb

Kadang, kalau terpasang standar tanpa diutak-atik, biasanya begitu diunduh sudah langsung ditanyakan untuk dipasang. Perintah ini cuma sekedar jaga-jaga saja kalau harus memasang manual melalui terminal.

Cara Non-Debian

Saya memberikan metodologi untuk memasang secara bersih pada sistem. Kebanyakan orang memasang dengan menggunakan standar FHS yakni pada direktori “/usr/local”. Saya asumsikan bahwa paket Debian Opera sudah diunduh pada direktori yang sama.

ar p opera-developer_24.0.1537.0_amd64.deb data.tar.xz \
   | sudo tar xvfJ - --xform='s,\(/usr/\),\1local/,' --exclude=usr/share/{lintian,menu} -C/

Itu semua satu baris perintah. Lalu, kemudian buat SETUID pada opera_sandbox agar bisa dijalankan oleh pengguna biasa.

sudo chmod 4755 /usr/local/lib/x86_64-linux-gnu/opera-developer/opera_sandbox

Selesai.

Terakhir

Saya menulis ini dari Opera Developer. Cukup stabil dan cepat. Saya suka sekali fitur preview. Fitur ini memperlihatkan isi sebuah tab saat titik tetikus melewati tab tersebut tanpa harus membuka tab itu. Lumayan membantu untuk orang yang suka bertab-tab ria.