Tag Archives

3 Articles
Sistem Smart City Jakarta

Sistem Smart City Jakarta

Tentang

Tanggal 15 Desember 2014 kemarin PEMDA DKI Jakarta menerbitkan aplikasi Smart City Jakarta. Menurut situs tersebut, aplikasi ini adalah

Smart City Jakarta logo Portal Smart City adalah aplikasi yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan masyarakat informasi kondisi Jakarta melalui mitra aplikasi yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti QLUE, WAZE & TWITTER. Portal Smart City akan memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat dengan memperlihatkan hasil kinerja pemerintahan Jakarta dalam menangani permasalahan yang ada di Jakarta. Portal Smart City juga dapat membantu masyarakat untuk mengetahui fasilitasi umum untuk dijadikan referensi dan informasi sesuai kebutuhan sehari-hari.

Sesuai dengan penjelasan situs Smart City ini, ada tiga aplikasi yang diintegrasikan oleh Smart City; Qlue, Waze, dan Twitter.

Qlue

Aplikasi Qlue yang dikembangkan oleh TerralogiQ. TerralogiQ adalah perusahaan yang bergerak di bidang solusi pencitraan bumi. Menurut situs TerralogiQ, perusahaan ini salah satu rekanan Google Enterprise yang resmi di Indonesia. Pantas saja aplikasi ini begitu terintegrasi dengan Android dan Google Maps.

Qlue Login Page

Qlue Login Page

Beberapa fitur Qlue yang saya lihat sekilas:

  1. Sistem pelaporan terpadu yang sudah terkategori.
  2. Sistem geotagging terpadu untuk urun daya penandaan tempat-tempat di Jakarta.
  3. Integrasi dengan Google Maps dan Google Street View.
  4. Integrasi dengan login Google dan Facebook.

Pada saat penulisan kali ini, implementasi dengan menggunakan akun Google saya gagal. Padahal, saya melihat bahwa aplikasi ini sudah terhubung dengan Google Play. Ya, sudah, saya tak bisa membahas lebih lanjut. Mungkin nanti saya akan coba lagi.

Waze

Perusahaan yang sudah dibeli oleh Google ini menggunakan pelaporan terpadu dari penggunanya tentang lalu lintas, terutama kemacetan dan penyebabnya. Situs Smart City menggunakan masukan dari API Waze untuk menentukan:

  • Kondisi Lalu Lintas
  • Laporan Macet
  • Laporan Kecelakaan
  • Laporan Bencana Alam

Dengan menggunakan API Waze, data-data pada peta pun lebih kaya. Terutama dari faktor urun daya pelaporan kemacetan di jalan.

Twitter

Peran media sosial ini adalah menyediakan pelaporan waktu-nyata (realtime) dengan menggunakan dua tagar “#banjir” dan “#petajkt” (tanpa tanda petik).

Oh, seandainya kita mau melapor melalui Twitter, dapat langsung membuat sebuah twit publik dengan menggunakan dua tagar tersebut. Berarti nanti aplikasi Smart City akan membaca tagar tersebut dan meneruskannya. Mungkin contoh pelaporan:

#banjir #petajkt ada di Kampung Melayu, setinggi 1 meter.

Sepertinya Pemprov DKI Jakarta harus lebih menyosialisasikan tentang fitur ini. Apakah aplikasi Smart City membaca juga geotag yang disediakan oleh Twitter, saya pun tak tahu. Kalau iya, akan jauh lebih kaya fitur. Artinya Masyarakat bisa saja melaporkan melalui Twitter, bukan terhubung langsung dengan aplikasi.

Dalam hal ini, anonimitas masih bisa dijamin. Skenario ini dicapai misalnya dengan membuat akun sejenis Jonru versi benar dan jujur. Akun anonim ini bisa digunakan untuk melaporkan berbagai hal bila ada warga yang cukup mengerti tentang privasi namun mau ikut berpartisipasi secara anonim.

Analisis Aplikasi

Sepertinya pengembang aplikasi Smart City Jakarta adalah TerralogiQ. Soalnya, situs ini mirip sekali dengan demo produk VMAP yang dimiliki oleh TerralogiQ. Saya, sih, menduga aplikasi ini dibangun dengan menggunakan VMAP dengan kustomisasi tambahan seperti integrasi beberapa aplikasi yang telah disebutkan, ada beberapa yang penting:

  • Pengaksesan CCTV, stasiun Trans Jakarta, dan sejenisnya.
  • Peta bencana seperti tinggi air, kebakaran, dan sejenisnya.
  • Peta pelaporan masyarakat.
  • Integrasi dengan Waze.

Cara pakai

Ada lima kategori menu yang bisa diaktifkan.

  • Laporan Masyarakat (Qlue)
  • Laporan Banjir Peta Jakarta
  • Peta Manajemen Bencana
  • Waze Social GPS Maps & Traffic
  • Informasi Pendukung
  • Destinasi Lokal

Secara baku, pertama-tama situs Smart City hanya menampilkan penanda dari Qlue. Untuk bisa mengaktifkan penanda-penanda tertentu, menu pada logo Jakarta harus diaktifkan. Misalnya, untuk mengaktifkan penanda kebakaran, tanda centang pada item kebakaran harus aktif .

e.g. enable Waze marker for traffics.

e.g. enable Waze marker for traffics.

Setiap penanda pada peta bisa diklik/sentuh untuk mengaktifkan detail kejadian.

A marker detail

A marker detail. (Image resized and reduced to 128-bit color)

Bahkan bisa melihat komentar dari kejadian tersebut. Komentar dari orang lain bisa membuat pelapor merasa dihargai karena telah bersusah payah melapor.

Comments

Interactivity can be a self-rewarding achievement for reporting.

Selanjutnya, saya jabarkan kelebihannya dan kekurangannya.

Kelebihan

Saya hanya menjabarkan empat baris, namun keempat fitur itu adalah sesuatu yang sangat wah. Saya kagum dengan ambisi Pemprov DKI Jakarta dengan aplikasi ini. Ini model yang patut dicontoh oleh pemerintah daerah lainnya.

Penggunaan Waze dan pelaporan aktif membuat partisipasi aktif masyarakat dengan pemerintah. Sistem ini bisa menjadi hub yang menghubungkan antar anggota masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, seperti dibahas sebelumnya, interaktivitas membuat keterlibatan masyarakat dalam aplikasi ini.

Penggunaan beberapa sistem mengakibatkan kemacetan terpantau lebih efektif. Selama ini Google Map memiliki kekurangan karena terbaharui setiap sekitar 15 menit sampai setengah jam. Dengan CCTV, Waze, dan pelaporan sendiri, diharapkan masyarakat dapat mendapatkan informasi secepat-cepatnya. Ya, setidaknya CCTV memperlihatkan informasi lalu lintas lebih cepat.

Saya baru menggunakan aplikasi ini, tapi saya sudah melihat banyak manfaat seperti adanya pelaporan tempat-tempat tertentu. Saya bayangkan, seandainya di masa depan saya bisa melakukan eksplorasi ke Jakarta dan menemukan tempat-tempat baru yang menarik. Wow! Pariwisata yang menyenangkan.

Kelemahan

Saya harus melihat satu halaman intro yang memuat sebuah gambar berukuran besar sebelum saya bisa menggunakan situs ini. Ah, terkandung sebuah doa bahwa di era Jokowi ini Internet akan menjadi lebih murah dan cepat bagi rakyat Indonesia umumnya dan rakyat DKI Jakarta khususnya. Amin.

Tapi, apakah memang gambar yang hanya 343 KB itu membuat berat?

Saya sudah hitung aset-aset gambar yang ada. Cukup teroptimasi, apalagi menggunakan pelayanan dari Google. Jadi, sebenarnya ukuran gambar seharusnya tidak masalah.

Ternyata, penggunaan Javascript yang disamarkan (obfuscated)-lah yang menambah lama waktu untuk situs ini bisa fungsional. Peramban membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengompilasi kode-kode yang sebenarnya dapat dengan mudah dipecahkan bila niat.

Saya membuka aplikasi ini di tiga mesin peramban: Presto (Opera 12.15), Gecko (Firefox 33.0), dan Chromium (Opera Developer 27.0.1683.0 dan Google Chrome 35.0.1912.2). Kesimpulannya:

  • Presto tidak dapat menjalankan Javascript yang tersamarkan sehingga animasi gambar awal mati dan peta berwarna putih. Tapi, newsticker yang ada di bawah dan menu bisa dimuat dan animasinya berjalan.
  • Gecko dapat menjalankan semua fungsi yang saya uji. Namun, animasinya patah-patah. Peramban saya selalu crash ketika saya mengklik salah satu gambar. Padahal, memori komputer saya 16GB.
  • Chromium menjalankan semuanya dengan sempurna. Nampaknya aplikasi ini dibangun untuk Chromium.

Cuma satu kekurangan teknis ini saja, sih. Sisanya aplikasi ini menakjubkan. Terutama, untuk niat baik Pemerintah yang mau membuka diri.

Tampilan Pada Perangkat Pintar

Saya pun menyertakan tampilan situs ini pada peramban LG G2 dengan sistem operasi Android CM12 Lollipop 5.0.1.

Saya lihat tampilan sempurna bila menggunakan peramban pada Android saya. Penanda-penanda dapat dengan jelas dipencet untuk dapat diaktifkan.

Saran

Aplikasi ini sungguh menakjubkan. Namun, untuk penggunaan yang sebenarnya masih ada beberapa perbaikan. Dari analisis sederhana saya, ada dua jenis saran.

Saran Teknis

Berikut saran teknis saya:

  • Hentikan penyamaran Javascript. Lebih baik konsentrasi kepada kestabilan penyediaan layanan dari pada berusaha menyembunyikan kode sumber.
  • Sebaiknya layar utama langsung ke peta. Intro dapat ditaruh ke easter egg atau layar tentang.
  • Gunakan URI yang benar sesuai dengan standar web! [lazy javascript is lazy!]

Contoh penggunaan URI yang benar adalah seperti ini:

http://smartcity.jakarta.go.id/#mitrakerjasama
URI yang menunjukkan laman Mitra Kerja sama, misalnya.
http://smartcity.jakarta.go.id/#@-6.1896744,106.836843,15z
URI yang menunjukkan Stasiun Gondangdia, misalnya.
https://www.google.co.id/maps/@-6.1896744,106.836843,15z?hl=id
Contoh URI yang menunjukkan satu resource Stasiun Gondangdia oleh Google Maps.

 

Saya mungkin bisa saja bilang, tolong jangan bikin Sir Tim Berners-Lee menangis. Tapi, alasan utama mengapa pentingnya penggunaan URI yang benar adalah tempat-tempat dan kejadian dapat direferensikan. Hal ini bisa membuat aplikasi ini berguna. Misalnya, dipakai sebagai referensi oleh orang lain dalam dokumen hukum, blog situs, atau pun sekedar dalam percakapan maya.

Contoh kecilnya, seseorang bisa memanfaatkan lokasi Warung unik pada situs untuk memberitahukan tempat makan unik tersebut sebagai titik berkumpul kepada rekan-rekan lainnya.

Saran Berkelanjutan

Agar proyek ini berkelanjutan dan dapat dikembangkan lebih lanjut, saya berharap:

  • Pemprov DKI telah mengevaluasi kontraknya. Pastikan bahwa kode sumber dan hak milik ada di tangan Pemprov DKI. Bisa jadi alasan utamanya adalah karena aplikasi ini dibiayai dari uang rakyat dan menggunakan data-data dari partisipasi rakyat Indonesia.
  • Nah, seandainya memang milik Pemprov DKI, data-data tersebut sebaiknya dapat dirilis dan diakses oleh pihak ketiga dengan menggunakan API yang terpublikasi. Artinya, sesuai dengan OpenGov, Pemprov DKI menyediakan Smart City API yang bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga.
  • Pihak ketiga yang punya kebutuhan khusus dapat juga diberi akses untuk memperkaya data-data yang ada.
  • Fasilitas anonimitas sebagai syarat pelaporan diakomodasi oleh hukum Indonesia. Alangkah baiknya kalau bisa melaporkan secara anonim secara eksplisit tanpa harus melakukan teknik-teknik tertentu.

Menurut saya, sudah saatnya paradigma penyediaan platform daripada end product. Pemprov mungkin hanya menyediakan data umum untuk kebutuhan spesifik. Tapi, data-data ini bisa jadi sangat berguna untuk suatu kebutuhan unik (niche) yang lain.

Akhir Kata

Aplikasi Smart City sangat menakjubkan. Berhubung baru diterbitkan, wajarlah ada kelemahan di beberapa tempat. Saya sangat mengagumi langkah Pemprov DKI dan berharap Pemerintah Daerah lainnya menyusul dan membentuk konsorsium OpenGov.

Oh, iya, kepada pengembang, selamat! Aplikasi Anda bagus.

~lolImHavingGoosebumps

Bacaan Lebih Lanjut

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk
KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk

KRL Mania

KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Gambar saya cukup miriplah dengan Kereta Listrik (KRL) milik Commuter Line (anak perusahaan PT KAI). Di gambar-gambar yang lain tidak dipasangi kawat baja. Padahal, semua KRL dipasangi kawat baja di depan. Habis, suka ada orang iseng menimpuk KRL.

Omong-omong soal timpuk-menimpuk, mata saya pernah kena pecahan kaca ketika KRL ditimpuk di daerah Tanjung Barat. Lumayan, mata agak sedikit merah. Untung tidak sampai luka. Kalau luka, mungkin berhenti pula karir komputer saya dan saya harus belajar meminta-minta di jalan. Maklum, selain mengetik, saya tidak memiliki kemampuan lain yang mumpuni.

Semenjak PT KAI melakukan spin off menciptakan Commuter Line, terjadi peningkatan kualitas pelayanan KRL. Mulai dari loket yang mulai tertib antri, loket dilayani wanita muda, dan penyiar yang juga suaranya wanita. Dulu pernah ada penyiar favorit di Pondok Cina. Suaranya seksi sekali. Ha… ha… ha….

Saya juga salut dengan keamanan stasiun dan KRL yang beroperasi. Di setiap stasiun selalu terjaga dengan ketat. Selain itu, di KRL hampir setiap gerbong dijaga. Saya bahkan berani membuka laptop, sesuatu yang dahulu tidak pernah terbayang saya bisa kerjakan.

Berhubung saya pengguna KRL yang cuma bisa di TIK, berikut saya paparkan apa yang saya amati dari perubahan Commuter Line dari sisi TIK.

Akun Twitter

Hal yang bagus dari Commuter Line juga adalah penggunaan akun Twitter @CommuterLine yang aktif memberitakan dan menjawab pertanyaan seputar KRL. Saya mengikuti akun ini. Contoh yang menjawab pertanyaan:

Info Commuter Line on Twitter

@muthiara04 U/ mengecek sisa saldo yang dimiliki silahkan Ibu datang ke loket Stasiun terdekat. Untuk mengecek saldo jgn dilakukan di gate.

Saya melihat bahwa Commuter Line benar-benar menggunakan aplikasi Twitter sebagai sarana untuk lebih dekat kepada penggunanya. Hal ini dirasa tepat karena:

  1. Pengguna KRL adalah warga Jabodetabek yang memiliki akses layanan ke Twitter/Facebook.
  2. Twitter sebagai sarana kronologi menyediakan arus yang bisa diikuti secara kronologis sehingga memudahkan orang untuk mengawasi secara waktu-nyata (realtime?).
  3. Media Sosial mendekatkan perusahaan kepada pengguna. Sekarang era yang humanistik, tidak lagi modernisme. Perusahaan tidak bercitra kaku, melainkan luwes dan ramah.

Saya sendiri merasa terbantu dengan pengumuman-pengumuman di akun Twitter tersebut.

Sarana Situs Daring

Saya merasa situs Commuter Line yang terbaik di antara perusahaan penyedia jasa di Indonesia. Dia menyediakan daftar jadwal KRL di halaman depan. Bukan hanya itu, dia juga menyediakan peta jalur KRL. Yang lebih istimewa, mereka menyediakan jasa menerima keluhan. Saya, sih, tidak mengharapkan lebih. Saya belum tahu apakah itu efektif atau tidak. Tapi, ini sebuah terobosan!

Yang menjadi perhatian saya adalah mengenai potensi Open Data melalui aplikasi waktu-nyata. Melalui rekan saya, saya menemukan adanya aplikasi jejaring yang diakses langsung melalui URL. Format kembalinya HTML. Contoh bila saya mengakses stasiun UI, maka URI-nya “http://infoka.krl.co.id/to/ui” akan menghasilkan: (saya cuplik)

realtime Stasiun UI

Jadwal Kereta Waktu-Nyata Stasiun UI

Saya cukup terkagum-kagum akan ini. Saya tertarik, apakah bisa aplikasi tersebut mengembalikan RDF? Saya pun mencoba apakah jangan-jangan bisa menghasilkan RDF juga:

$ curl -I -H "Accept: application/rdf+xml" http://infoka.krl.co.id/to/jak
HTTP/1.1 200 OK
Date: Wed, 03 Jul 2013 09:16:39 GMT
Server: Apache/2.2.15 (CentOS)
X-Powered-By: PHP/5.4.14
Set-Cookie: ci_session=a%3A5%3A%7Bs%3A10%3A%22session_id%22%3Bs%3A32%3A%22f82d0d12359e92a044386de684643776%22%3Bs%3A10%3A%22ip_address%22%3Bs%3A13%3A%22152.118.37.37%22%3Bs%3A10%3A%22user_agent%22%3Bs%3A11%3A%22curl%2F7.31.0%22%3Bs%3A13%3A%22last_activity%22%3Bi%3A1372842999%3Bs%3A9%3A%22user_data%22%3Bs%3A0%3A%22%22%3B%7Df32ffaa762336460b01b121b101ff81c; expires=Wed, 03-Jul-2013 11:16:39 GMT; path=/
Last-Modified: Sat, 06 Jul 2013 09:16:39 GMT
Cache-Control: post-check=0, pre-check=0
Pragma: no-cache
Content-Type: text/html; charset=UTF-8

Ternyata tidak bisa. Berarti hanya menghasilkan halaman HTML saja. Seandainya bisa RDF, sudah pasti menjadi aplikasi Open Data yang paling komprehensif pertama di Indonesia. Saya bisa membanggakan hal tersebut ke rekan-rekan di luar sana. Ha… ha… ha….

Yah, tapi sebenarnya bermodalkan regex, kita bisa membuat aplikasi Android atau aplikasi terminal yang bisa secara waktu-nyata menyediakan informasi stasiun. Bahkan, bermodalkan GPS pada telepon pintar, aplikasi tersebut bisa dimodifikasi untuk menyarankan stasiun terdekat. Dengan informasi lalin, bisa dipadukan untuk menyarankan akurasi stasiun terdekat.

Wow, selamat datang di Open Data! Ada yang tertarik? Saya sedang sibuk DoTA 2, jadi belum ada waktu untuk itu. 🙂

Oh, iya, buat Anda yang mengaku Heker/Kreker atau apa pun, hargailah etika. Jangan serang aplikasi publik!

Kartu Elektrik

Hal yang terbaru adalah penggunaan tiket elektronik. Saya sebenarnya ingin membahas ini. Tapi tahu-tahu malah membahas yang lain lebih lanjut.

Saya lihat Commuter Line berhati-hati dalam menerapkan kebijakan kartu elektrik. Sudah sejak lama mereka memodifikasi dan berusaha mengimplementasi kartu elektrik. Dari penjajakan dengan sebuah bank penyedia e-wallet sampai penyediaan kartu elektrik berlangganan percobaan, Commet.

Proses  berlangsung bertahun-tahun. Namun, kemarin tetap saja antrian pengguna ketika pertama kali menggunakan kartu elektrik ini cukup serius. Bahkan, kata rekan saya, antrian di Lenteng Agung sampai membuat jalan raya macet. Yah, saya tetap maklum dengan Commuter Line. Dia cukup berani untuk akhirnya melompat ke inovasi baru.

Berikut hal-hal yang saya amati dari proses tersebut:

  1. Proses membaca kartu sekitar 5 detik dan lebih. Padahal, kalau saya bandingkan ketika saya di kota sebelah (Kuala Lumpur dan Singapur), kartu hanya membutuhkan waktu kurang lebih sedetik atau dua. Nampaknya Commuter Line perlu menulis ulang aplikasinya.
  2. Hanya ada dua atau tiga pembaca kartu sehingga orang membludak mengantri.
  3. Banyak orang yang belum paham memasukkan kartu (atau menaruh di atas untuk kartu multi trip) sehingga bisa sampai semenit sebelum kartu masuk.
  4. Disiplin mengantri yang belum optimal mengakibatkan banyak orang yang berdesak-desakan sehingga memperlama waktu proses. Saya sendiri hampir mengamuk karena selalu diselak orang.

Commuter Line menyediakan dua jenis kartu: 1) single trip (kartu sekali jalan); dan 2) multi trip (kartu berlangganan). Berbeda dengan kartu langganan sebelumnya, kartu berlangganan multi trip dibuat dengan batasan saldo, bukan waktu. Jadi, dengan saldo di atas Rp7000,00 kita bisa menggunakan kartu tersebut sampai kapan saja.

Satu kartu langganan seharga Rp20.000,00 dan tak bisa diuangkan. Namun, isi saldonya bisa diuangkan di setiap stasiun KRL se-Jabodetabek. Lumayanlah kalo lagi bokek bisa mencairkan dana maksimal Rp1.000.000,00.

Saya iseng-iseng membaca kartu multi trip yang saya punya dan menemukan informasi berikut:

Wed Jul  3 14:58:31 2013
Reader 0: OMNIKEY CardMan 5x21 CL (OKCM0071403111351035286222863276) 00 00
  Card state: Card inserted,
  ATR: 3B 84 80 01 01 11 20 03 36

ATR: 3B 84 80 01 01 11 20 03 36
+ TS = 3B --> Direct Convention
+ T0 = 84, Y(1): 1000, K: 4 (historical bytes)
  TD(1) = 80 --> Y(i+1) = 1000, Protocol T = 0
-----
  TD(2) = 01 --> Y(i+1) = 0000, Protocol T = 1
-----
+ Historical bytes: 01 11 20 03
  Category indicator byte: 01 (proprietary format)
+ TCK = 36 (correct checksum)

Possibly identified card (using /usr/share/pcsc/smartcard_list.txt):
3B 84 80 01 01 11 20 03 36
        Snapper Sprat (Transport)
        https://www.snapper.co.nz/snapper-store/

Yak, berhubung waktu menulis blog ini kebablasan sehingga menghabiskan satu ronde di DoTA 2, saya belum mencari tahu lebih lanjut kartu ini. Silakan Anda cari tahu sendiri kalau penasaran. Saya, sih, berharap kalau APDU untuk membaca dapat dibuka, lumayanlah bisa baca sendiri tinggal berapa sisa saldo.

Yang pasti, sungguh mengagumkan kinerja PT KAI (dalam hal ini Commuter Line)! Kudos!

kembali ber-DoTA 2

Data Terbuka, Bukan Sekedar Masalah Transparansi
Pengetahuan adalah sumber kekuasaan.

Data Terbuka, Bukan Sekedar Masalah Transparansi

Tome of Knowledge

Pengetahuan adalah sumber kekuasaan.

Biasanya, pemerintah menggunakan sebuah proyek pemerintah menggunakan tender dengan dana triliunan untuk memenuhi suatu target capaian. Pemerintah melalui kontraktor pihak ketiga, membangun infrastruktur bagi masyarakat. Namun, semenjak adanya crowdsourcing, pemerintah daerah dapat mengutilisasi data-data yang dimilikinya menjadi pengetahuan yang kaya dan menjadi sebuah industri tersendiri.

Ada beberapa aspek yang menyebabkan industri data terbuka:

  • Keterbukaan Pemerintah Daerah dalam memberikan data.
  • Partisipasi aktif warga dalam memperkaya data.
  • Teknologi Semantik.

Keterbukaan Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah sebagai penyedia dan inang dari data-data yang ada memiliki kewajiban untuk melepas data-datanya kepada publik untuk dapat dikonsumsi oleh publik. Secara hukum, UU Keterbukaan Informasi Publik telah memberikan dasar hukum untuk mereka melepaskan data ke publik. Kebijakan-kebijakan publik sebenarnya bisa dirilis dan dikonsumsi oleh warga.

Untuk memulai membuka data, Pemerintah Daerah akan memiliki sikap paranoid. Ini wajar. Jangankan mereka, orang-orang di dunia akademisi saja yang katanya punya semangat berbagi dan kritis masih banyak yang belum mau membuka informasinya. Itu sebabnya, sebelum berbicara mengenai keterbukaan data kebijakan untuk transparansi, sebaiknya pemerintah berkonsentrasi kepada data-data yang memang untuk umum.

Sebagai langkah awal, ada tiga jenis data yang dapat dibuka oleh Pemerintah Daerah antara lain:

  • Data spasial, misalnya lokasi tempat umum seperti terminal, pemberhentian Bus, SPBU, pasar, dan museum.
  • Data kronologis, misalnya jadwal layanan publik, acara komunitas, dan jadwal angkutan umum.
  • Data info, misalnya properti kesenian/budaya lokal dan produk-produk lokal.

Data tersebut awalnya dimasukkan oleh pemerintah. Namun, diharapkan sistem dapat diperkaya dengan masukan dari Warga.

Partisipasi Warga

Ada beberapa alasan untuk visibilitas partisipasi warga:

  • Adanya ledakan penggunaan media sosial merupakan sebuah indikasi positif mengenai kesiapan warga dalam memberikan data.
  • Penggunaan perangkat bergerak dan Internet yang semakin jamak membuat warga dapat menggunakan aplikasi-aplikasi khusus yang telah dilengkapi dengan teknologi spasial.
  • Secara psikologis, walau pun ini pendapat pribadi saya, bangsa ini menyukai aplikasi-aplikasi personal yang membuat mereka lebih dikenal.

Hal yang perlu diperhatikan adalah vandalisme data. Ada beberapa solusi untuk ini:

  • Moderasi data. Mahal karena memerlukan orang-orang khusus untuk itu. Namun, dengan strategi prioritas data, dapat ditekan jumlah orang yang diperlukan. Dapat juga diserahkan kepada warga-warga yang berkomitmen.
  • Pemeringkatan data. Dengan ini, warga dapat menurunkan data-data yang tidak baik dan mempromosikan data yang benar.
  • Pelaporan data. Warga dapat melaporkan ketidakbenaran data.

Teknologi Web Semantik

Kebetulan riset mahasiswa saya mengenai teknologi semantik. Teknologi Web Semantik merupakan bagian dari manajemen pengetahuan. Properti yang paling penting dari konsep Web Semantik adalah Web Semantik menggunakan konsep open world assumption.

Konsep open world assumption menentukan kebenaran sebuah pernyataan dari repositori pengetahuan yang ada. Namun, bila sebuah pernyataan tidak didapati dalam repositori, maka informasi ini dinyatakan sebagai tidak dapat ditentukan (bukan benar atau salah).

Pusing, yah? Contohnya:

Di dalam repositori pengetahuan terdapat pernyataan sebagai berikut:

“JP” adalah “Warga Jakarta”

Lalu, kemudian ada sebuah pernyataan baru berikut:

“Peter” adalah “Warga Jakarta”

Untuk Web Semantik, ketika ditanyakan kebenarannya, dia akan menjawab “Tidak Tahu”. Sehingga, informasi tersebut dapat ditambahkan ke dalam repositori pengetahuan sebagai sebuah nilai kebenaran (truth value).

Prinsip inilah yang kemudian dipakai dalam Web Semantik untuk melakukan mash up data. Data dari satu situs dapat dipakai untuk memperkaya informasi dari situs lainnya. Hal ini membuat adanya situs-situs tertentu untuk memenuhi kebutuhan tertentu. (niche)

Bayangkan, berapa bisnis lokal yang dapat memperkaya layanannya dengan menggunakan data-data tersebut? Dengan itu, layanan kepada warga lebih baik, bisnis semakin berkembang, dan pajak pun bisa bertambah.

Tentu saja, ini perlu waktu dan investasi, terutama komitmen.

Saya tidak janji, tapi saya coba membuka tulisan-tulisan saya mengenai ini lebih lanjut.* (Kalau tidak malas dan waktu mengizinkan)

Seperti biasa, saya berusaha menyingkat tulisan ini dan membuang banyak detail. Mudah-mudahan tidak terlalu rumit dan panjang. Video di bawah ini menjelaskan contoh kasus pemerintah daerah Washington D.C. yang melepas datanya dan bagaimana pihak ketiga memanfaatkan data tersebut untuk memberikan layanan yang luar biasa kepada warganya.