Tag Archives

2 Articles
Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)
Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan.

Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)

Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan dahsyat.

Judul tulisan saya mungkin sedikit lebay. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya hendak membagi tulisan-tulisan saya berupa tugas-tugas kuliah dan kalau bisa, karya-karya akhir saya. Daripada usang tersimpan di perpustakaan atau di suatu direktori PC, lebih baik dibagikan.

Mungkin tulisan itu berguna bagi orang lain. Mungkin juga, beberapa menganggapnya sampah. Tapi, saya percaya Internet adalah pengarsip yang baik. Ia bukan hanya mengarsipkan tapi juga menyempurnakan. Orang-orang yang terbantu dengan tulisan itu, menyempurnakannya dan membagikannya kembali. Keberadaban manusia pun meningkat walau tak cukup signifikan untuk diakui.

Setelah mengamat-amati, saya menemukan tiga langkah untuk menerbitkan sesuatu:

  1. Menentukan syarat dan ketentuan.
  2. Membuat sarana publikasi yang baik.
  3. Menyesuaikan karya yang hendak diterbitkan.

Selain alasan pribadi, saya ingin menjadikan blog-blog di UI (Blog Staff UI dan Blog Mahasiswa UI) sebagai sarana blog yang baik. Apalagi, mulai banyak sivitas akademika yang menulis hal-hal yang luar biasa di blog mereka. Saya ingin membuat blog ini menjadi sarana mereka dalam menerbitkan pengetahuan mereka ke dunia.

Saya berharap penemuan saya dalam memperkaya fasilitas blog UI bisa menjadi inspirasi kita bersama. Saya akan membahas dalam beberapa tulisan.

Menentukan Syarat dan Ketentuan

Ini bukan iklan pulsa yang menipu, tetapi ada beberapa hal yang membuat kekuatiran mengenai publikasi sebuah tulisan, misalnya:

  • Plagiarisme
  • Komersialisasi
  • Pengasosiasian tulisan

Plagiarisme dan komersialisasi merupakan isu yang paling utama dalam ketakutan menerbitkan tulisan. Dari pengalaman saya, ketakutan sivitas dalam menerbitkan karyanya merupakan entri utama dalam plagiarisme. Rekan-rekan saya ada yang mengeluhkan bahwa ternyata skripsinya dipakai oleh mahasiswa universitas lain.

Tidak hanya bagi penulis, plagiarisme juga ketakutan dari orang-orang yang hendak memanfaatkan tulisan. Mereka takut bagaimana tulisan itu hendak dibagikan. Jangan-jangan mereka bisa dituntut oleh penulis awal.  Apalagi, bila mereka juga memanfaatkan tulisan tersebut untuk tujuan komersial.

Lisensi Creative Commons

Dari semuanya itu, saya menemukan bahwa kita harus menentukan di awal aturan main untuk menggunakan tulisan tersebut. Jawabannya pun adalah menyematkan lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi (CC BY-NC-SA 3.0).

Inti dari lisensi tersebut adalah:

  1. Saya setuju untuk karya saya digunakan oleh orang lain dengan menyebutkan kredit yang tepat.
  2. Saya tidak setuju untuk karya saya digunakan oleh orang lain untuk tujuan komersial tanpa seizin saya. [1]
  3. Saya ingin karya orang yang berdasarkan karya saya tidak menjadi eksklusif. [2]
  4. Intinya, silakan hubungi saya langsung untuk mendapatkan izin lain untuk tujuan lainnya.

Ini sebenarnya bisa jadi amunisi kita untuk menuntut orang-orang yang menyalin tanpa izin dan menaruhnya kepada blog-blog adsense (blog yang cuma digunakan untuk menghasilkan uang dari Adsense). Tetapi, karena kita menyetujui orang lain untuk mengutip tulisan kita dengan menyebutkan kredit yang tepat, orang-orang lain tidak perlu takut menggunakan tulisan kita untuk mengutipnya dalam pekerjaan mereka masing-masing.

Saya juga menginginkan orang yang menggunakan tulisan saya berbagi dengan lisensi yang sejenis. Jadi, saya tak perlu takut untuk karya turunan (derivasi) dari tulisan saya menambah syarat yang aneh-aneh. Ini menghapus ketakutan saya untuk pengetahuan yang telah saya berikan menjadi pengetahuan yang eksklusif.

Saya bukan ahli hukum dan belum tentu juga lisensi Creative Commons diakui di Indonesia. [3] Kalau itu, permasalahannya mengenai infrastruktur hukum di Indonesia. Saya percaya bahwa hukum Indonesia cukup untuk melindungi karya-karya bangsa. [Lirik tukang hukum: benar, gak?]

Penyangkalan (Disclaimer)

Sebuah karya yang dibaca umum tentunya memiliki resiko asosiasi. Kadang, orang berpikir seperti yang tidak kita duga. Pikiran tersebut kemudian menghasilkan asumsi-asumsi yang membahayakan. Nama baik seseorang/institusi bisa rusak atau bahkan terjadi kerusakan kolateral karena penggunaan yang tidak sesuai

Ada beberapa contoh alasan yang saya dapati mengapa itu terjadi:

  1. Tulisan ditulis untuk kalangan tertentu, misalnya dibuat dengan asumsi pembaca seprofesi atau memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk mengerti pekerjaan yang ada di dalam tulisan tersebut.
  2. Pengutip mengira bahwa tulisan tersebut merupakan pengumuman resmi dari institusi tempat penulis bekerja atau perkumpulan lain yang penulis menjadi pengurus/anggota.
  3. Pengutip sengaja mencari sensasi.

Untuk melindungi penulis dari tuntutan hukum atau pun bahaya lainnya, diperlukan menulis sebuah Sangkalan (Disclaimer). Dengan menulis penyangkalan atas apa yang tidak menjadi maksud penulis, diharapkan pembaca mengerti maksud-maksud penulisan dibuat. Tidak ada alasan bagi pembaca untuk menyalahgunakan informasi dalam tulisan.

Saya sendiri dalam blog ini menyebutkan dengan jelas bahwa tulisan saya merupakan tulisan pribadi. Saya menulis di blog ini atas nama pribadi sebagai catatan. Universitas Indonesia hanya sebagai penyedia layanan saja.  Dengan demikian, orang tidak bisa menjadikan sarana blog saya sebagai konsultasi profesional, walau pun saya juga suka membantu. Institusi saya, Universitas Indonesia, juga takkan tercemar nama baiknya apa bila suatu saat saya menulis topik kontroversial dari sisi pandangan pribadi.

Selain tulisan penulis, blog juga rentan terhadap tulisan orang lain yang ada dalam bagian komentar. Penulis tidak dapat mengendalikan komentar. Bahkan, ada kasus ketika penulis berusaha mengendalikan komentar, komentator merasa dirugikan.

Beberapa orang mematikan komentar pada blog mereka. Sebagian lagi menghendaki agar dikirim surel untuk berkomentar. Ada juga yang memoderasi komentar yang masuk. Apa pun batasan yang dipasang, menurut saya sayang sekali bila sistem komentar pada blog dimatikan.

Beruntungnya bangsa Amerika Serikat yang memiliki First Amandment, memiliki fondasi yang cukup untuk melindungi hak bersuara mereka. Berdasarkan amandemen UUD mereka tersebut, hukum di Amerika Serikat cenderung lebih lengkap dalam melindungi hak bersuara dan termasuk penyediaan konten yang dibuat oleh pengguna (user generated content).  [4] Biasanya ada tiga aspek penulisan penyangkalan, yakni Hak Cipta, anak di bawah umur, dan Pornografi yang mungkin ada. [5]

Bila kita terinspirasi untuk menuliskan semuanya itu, ada kemungkinan dokumen Penyangkalan menjadi panjang dan terdiri dari banyak paragraf seperti dokumen-dokumen legal. Beruntung, Dave Taylor memberikan beberapa poin berikut untuk menaruh Penyangkalan komentar: [6]

  1. Setiap komentar tanggung jawab dari penulis komentar.
  2. Penulis berhak menghapus komentar yang dirasa tak perlu.
  3. Penulis berhak menyunting komentar bila dirasa perlu.

Tiga hal ini yang dituliskan dalam penyangkalan dapat memberikan bagi setiap orang yang membaca ketentuan tersebut.

Kesimpulan

Dengan menggunakan lisensi dan penyangkalan, penulis blog dapat menghilangkan keambiguan dalam menggunakan karya tulis tersebut. Selain melindungi penulis, ia juga menjadi payung yang melindungi pembaca yang hendak berkontribusi atau pun yang hendak membuat sebuah pekerjaan karya tulis tersebut.

Terakhir, sebagai penyangkalan:

Saya bukan ahli hukum dan tulisan ini berdasarkan hasil pengamatan pribadi. Untuk kejelasan aspek-aspek yang tertulis dalam tulisan ini, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan pengacara Anda.

Selanjutnya poin kedua akan saya bahas dalam bagian menyiapkan infrastruktur.


  1. Creative Commons. Non-Commercial. http://wiki.creativecommons.org/NC [terakses tanggal 10-11-2012]  ^
  2. Creative Commons. Share Alike. http://wiki.creativecommons.org/Share_Alike [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  3. Indonesia Law Report (ILR). Is Creative Commons license applicable in Indonesia? http://indolaw.alafghani.info/2007/05/is-creative-commons-license-applicable.html [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  4. Lawrence G. Walters. User Generated Content Sites – Formula for Profit, or Recipe for Disaster?  http://www.firstamendment.com/site-articles/tube-sites/ [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  5. http://www.asaecenter.org/Resources/ANowDetail.cfm?ItemNumber=35092 [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  6. Dave Taylor. Crafting the Perfect Blog Comment Disclaimer. http://www.intuitive.com/blog/crafting_the_perfect_blog_comment_disclaimer.html [terakses tanggal 10-11-2012] ^

 

Bacaan Lebih Lanjut

Blog Bukan Tren Sesaat℠

Blog Bukan Tren Sesaat℠

Saya tidak sedang mendiskreditkan seseorang. Apalagi, masa kekanakan itu sudah selesai. Tetapi, judul ini tepat menggambarkan apa yang hendak saya ceritakan. Tujuan dari penulisan ini supaya penggunaan blog bisa lebih efektif. Sekali lagi, ini adalah sebuah coretan pribadi tanpa mengaitkan dengan kebijakan Universitas dan ditulis berdasarkan ingatan. Belum tentu akurat 100%.

Sekelebat Masa Lalu

Sekelebat Masa Lalu

Salah satu alasan yang mendemotivasi kami untuk mengurus blog adalah alasan bahwa blog UI, baik Blog Staff maupun Blog MHS dibuat untuk menaikkan ranking di Google mau pun Webometrik. Padahal, rencana blog ini sudah ada sebelum UI masuk ke percaturan Webometrik. Kami telah lama menimbang-nimbang apa saja yang diperlukan.

Berbagai eksperimen telah dilakukan di masa lalu sebelum blog dipublikasikan. Berbagai mesin sudah pernah dicicip. Dari Mambo/Joomla, XOOPS, bahkan hingga Drupal. Saya waktu itu sebenarnya memilih antara XOOPS dengan Drupal. Hanya saja, XOOPS belum familiar dan granularitas dari kontrol keamanannya masih asing. Drupal juga sama, sih, taxonomy-nya bujug buneng susahnya.

Oh, ya, pada masa itu sebelumnya telah terjadi perang saudara (lebay memang) antara penggemar Drupal dan Mambo (sekarang bernama Joomla!). Iang sebagai pendakwah Drupal dengan meyakinkan memenangkan hati kami. Saya, sih, secara pribadi tidak bisa PHP. Tapi dari statistik jumlah situs UI yang diserang, Joomla memang rajanya sasaran empuk. Saya pun setuju dengan Drupal.

Saya bukan pengembang web, yang saya butuhkan sebuah sistem yang dengan mudah dijaga. Drupal 4.9 jauh lebih aman dibandingkan dengan Mambo/Joomla. Hanya saja, Drupal 4.9 memiliki sebuah cacat fatal: antarmukanya lebih ditujukan kepada pengembang lanjutan dibandingkan pengguna biasa. Waktu itu menyunting tulisan di Drupal seperti menulis dengan menggunakan Notepad. Belum lagi ketika harus memasukkan gambar.

Karena penggunaan internal dan belum dipublikasikan, kami sempat mengabaikan blog. Apalagi, blog bukanlah bagian dari tugas kerja kami, sampai kini pun tidak. Untungnya FeHa mengangkat kembali ide tentang blog. Lalu dia mengusulkan:

Judul Re: realisasi blog
Pengirim Ferry Haris
Penerima Gladhi Guarddin, Jan Peter Alexander
Tanggal 30.10.2006 19:32
ok deh klo gitu....
untuk engine, Harvard dan edublogs menggunakan engine berikut:

http://mu.wordpress.org/

Ya, itulah cikal mula Blog Staff dan Blog MHS. Ah, ini kenangan pertama kali mendapatkan surel dari realisasi tersebut:

Judul New go.blog.ui.edu Blog: :: JP Banyak Kerjaan ::
Pengirim go.blog.ui.edu
Penerima Jan Peter Alexander
Tanggal 28.11.2006 10:29
Hi,

Blog Anda go.blog.ui.edu telah dibuat di:
http://go.blog.ui.edu/jpmrblood/

Berikut ini adalah akun administrator blog Anda:
 Username: jpmrblood
 Password: 39063c
Alamat Login: http://go.blog.ui.edu/jpmrblood/wp-login.php

Selamat berkarya

--Orang-orang stres @ go.blog.ui.edu

Setelah proses uji coba selesai, blog mengalami fase kedua.

Proses Inovasi dan Birokrasi

Proses birokrasi teknologi informasi di Universitas Indonesia cukup sederhana. Hal ini di satu sisi membukakan berbagai peluang dan inovasi. Tetapi, ini juga membuat sebuah problem. Setiap peluang teknologi informasi tanpa dasar SK Rektor (dalam sistem informasi) kurang memiliki dukungan kuat. Maksudnya dukungan tidak kuat itu adalah keberadaannya bisa hilang sewaktu-waktu misalnya bila pemeliharanya pindah kerja atau jadi Bapak/Ibu Rumah Tangga.

PPSI dan UI menurut saya sudah memberikan kesempatan besar untuk kami berinovasi. Sebagai bentuk tanggung jawab inovasi tersebut, tentang blog ini kami pikir ada hal-hal yang perlu dilakukan. Terutama untuk melindungi UI yang dengan niat baik mau mengadakan blog untuk para sivitasnya dan  untuk melindungi sivitas UI sendiri.

Salah satu pelindung kuat yang diciptakan adalah Disclaimer. Laman terpenting yang melindungi penulis dan penyedia (pihak UI) ini sempat kami pikir untuk digodok oleh bagian legal UI. Tetapi, waktu itu blog masih merupakan eksperimentasi, jadi kami takut sesumbar.

Untungnya Adin waktu itu mengambil laman Disclaimer dari Hotspot UI dan menjadikannya laman untuk blog UI. Tulisan disclaimer ini cukup untuk melindungi walaupun secara tulisan masih banyak kekurangan di sana-sini. [kami bukan orang hukum, jadi maaf bila tulisan agak acak kadut… :P]

Masalah berikutnya adalah penyediaan blog untuk mahasiswa. Sampai saat ini masih belum ada kesepakatan apakah akun UI mahasiswa tetap ketika ia sudah lulus. Ini sangat sulit untuk dijawab dan alasan utama keengganan mahasiswa untuk menggunakan Blog Mhs UI. Masuk akal, sih, menurut saya, kalau mereka mempertanyakan kelangsungan hasil karya mereka.

Pimpinan PPSI secara informal memberikan gestur untuk mereka tetap bisa menggunakan Blog MHS. Hal ini membuat sampai saat ini kami membiarkan mereka dan akan tetap berniat seperti itu. Apalagi, mahasiswa UI cerdas dan cukup menjaga nama baik UI. Bahkan, ada tulisan-tulisan mereka yang membanggakan sehingga kami pun sebisa mungkin mempertahankan hak mereka untuk menulis sekalipun mereka sudah lulus.

Solusi lain untuk melindungi blog mereka adalah kami menyediakan perkakas untuk mengimpor/ekspor blog. Baik di Blog Staff maupun Blog MHS, kami sudah menyediakan mekanisme sehingga apabila sivitas akademika UI hendak pindah dari Blog Staff atau pun Blog MHS, kami dapat bantu.

Kami berharap, mereka seharusnya tak perlu kuatir tentang tulisan mereka. Kecuali kalau ruang server terbakar, blog mereka tersimpan baik dalam back up berkesinambungan. Dan apabila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, tulisan mereka dapat diselamatkan dan ditaruh ke tempat lain. Setidaknya ini strategi yang kami sediakan.

Ada sebuah alasan kuat mengapa blog begitu diperjuangkan. Inilah sebenarnya salah satu visi ketika saya dan tim membicarakannya. Lebih tepatnya, ini alasan saya untuk tetap mengurus blog hingga kini.

Blog Sumber Pengetahuan

Ketika dalam kelas Knowledge Management, kami disuruh meneliti tentang sistem KM yang ada. Kelompok saya (bukan saya :P) memilih situs Microsoft untuk diteliti. Hal yang menarik, ternyata di dalam Microsoft sebelum ada Sharepoint, mereka ada Knowledge Base. Knowledge Base adalah  sebuah sistem tanya jawab yang melibatkan poin.

Setiap pertanyaan diberikan lebih dari satu solusi. Setiap solusi diberi poin sehingga ketika ada solusi yang paling banyak dipilih, solusi tersebut menjadi solusi yang terbaik. Solusi tersebut kemudian dipakai di dalam Help Center sebagai solusi yang direkomendasikan.  Mereka juga memliki Whitepaper dan beberapa dokumen lainnya. Lalu, mereka menyediakan pula manual. Dan tentunya, terakhir, mereka menyediakan hotline.

Dari sana saya menemukan bahwa kesulitan dalam mengonversikan dari tacit ke dalam pengetahuan eksternal atau pun sebaliknya adalah proses penangkapan itu sendiri. Proses ini memiliki faktor dominan yakni budaya tempat aktor (manusia yang terlibat dalam proses konversi. Artinya, kualitas konversi bergantung penuh terhadap budaya setempat. Budaya setempat merupakan sesuatu yang bisa berubah, tetapi tetap tidak bisa dipaksakan.

Spektrum Dokumentasi Formal dan Informal

Spektrum Dokumentasi Formal dan Informal

Sudah umum diketahui bahwa bangsa kita memiliki budaya verbal. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi banyak orang, termasuk penulis, untuk mendokumentasikan pengetahuan yang dimiliki. Bahkan, dengan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kelas tiga di negeri sendiri, setelah bahasa prokem dan bahasa Inggris, membuat bahasa menjadi kesulitan tersendiri untuk mendokumentasikan pengetahuan.

Sedikit catatan, salah satu alasan mengapa saya juga termasuk orang yang menginginkan Bahasa Indonesia dinaikkan derajat lebih lanjut adalah untuk membiasakan kita untuk mendeskripsikan sesuatu dengan jelas dalam bahasa lisan yang dekat dengan bahasa tulisan. Tentang halangan bahasa ini lebih lanjut tidak saya bahas karena ini bukan karya ilmiah dan itu bukan tujuan saya menulis tulisan ini.

Untungnya, seperti halnya teknologi lainnya, teknik pendokumentasian memiliki solusi sederhana dalam menemukannya di hati manusia: PERSONALISASI.

Personalisasi memberikan perasaan memiliki terhadap teknologi. Personalisasi menghilangkan persepsi alienasi terhadap suatu teknologi. Personalisasi membuat penerimaan terhadap sebuah teknologi. Perasaan-perasaan ini yang membuat nyaman manusia sehingga ia menggunakan teknologi tersebut secara aktif.

Dari sana, saya mendapatkan ide dalam hal proses pendokumentasian. Sebuah pengetahuan terdokumentasi sebaiknya melewati fase-fase evolusi. Berikut proses evolusi yang saya dapatkan waktu itu (microblogging belum ada):

  1. Pemilik pengetahuan tacit mengggunakan proses pendokumentasi yang terpersonalisasi seperti forum dan blog. Ini disebut zona informal tak terstruktur.
  2. Para pengumpul pengetahuan kemudian menangkap pengetahuan-pengetahuan ke struktur dokumentasi semi formal dan terstruktur. Instan dari perkakas ini adalah WIKI. Ini adalah zona semi formal terstruktur.
  3. Kemudian, pengetahuan yang sudah terdokumentasikan dalam WIKI dikumpulkan dan diformalkan menjadi bahasa formal semisal whitepaper, jurnal ilmiah, dan manual. Inilah zona formal terstruktur.

Tentu saja, dalam setiap tiga zona tersebut (zona informal tak terstruktur, semi formal tak terstruktur, dan formal) ada proses internal masing-masing zona dalam penciptaan, transfer, dan sintesis pengetahuan.

Uh, kok, tulisan ini jadi kayak paper, yah? 🙂

Pendokumentasian dengan Personalisasi

Pendokumentasian dengan Personalisasi

Belum ada microblogging pada masa lalu. Jadi, ketika saya katakan blog adalah blog yang konvensional yang tidak memiliki batas jumlah huruf.

Blog memiliki sifat berikut:

  1. Personal.
  2. Mendukung interaksi pembaca.
  3. Biasanya bahasa tidak terkungkung.

Berbeda dengan forum, blog selalu dimulai dengan pembagian sebuah pengetahuan. Hal ini membuat diskusi non-formal yang terjadi lebih bersifat menyempurnakan pengetahuan yang dibagikan. Hal ini membuat pengetahuan tersebut menjadi lebih lengkap.

Blog ditulis secara kronologis karena mendeskripsikan konsep jurnal. Berbeda dengan jurnal jenis lainnya, blog memiliki informasi meta yang membantu dalam penemuan kembali. Informasi meta ini dapat berfungsi sebagai query dalam menyintesis pengetahuan dari sekumpulan tulisan terdahulu. Contoh informasi meta yang umum adalah tanggal, kategori, tag, HTML meta, permalink, bahkan properti semantik seperti RDF dan sebagainya. Sebagian dari informasi meta tersebut dibuat secara otomatis oleh mesin blog dan bahkan transparan bagi manusia. Beberapa mesin blog memanfaatkan meta informasi ini untuk menghasilkan tautan antar tulisan. Hal ini menghasilkan navigasi pengetahuan yang lebih baik.

Untuk manusia biasanya digunakan dua informasi meta: kategori dan tag. Kategori adalah sebuah informasi meta yang membedakan setiap tulisan dalam ranah berbeda. Kategori berguna untuk melihat tipe-tipe tulisan yang ada. Sedangkan tag adalah informasi meta yang terdiri atas kata-kata kunci (keywords) yang ada dalam tulisan yang ditulis. Tag berguna untuk mencari tulisan-tulisan yang berhubungan dengan sebuah pengetahuan.

Dengan sifat pendokumentasian yang mudah dan penemuan kembali yang mudah, blog memiliki keuntungan dibandingkan alat pendokumentasi yang lain.

Kesimpulan

Jadi, blog ada bukan karena tren sesaat. Blog juga ada bukan karena ranking. Blog ada agar sivitas akademika Universitas Indonesia dapat mendokumentasikan pengetahuannya dan membagikan pengetahuan tersebut kepada orang lain. Dan dalam waktunya, melalui berbagai pengetahuan yang terkumpul tersebut, mereka dapat membuat paper ilmiah, menghasilkan ide usaha profit mau pun nonprofit, atau sekedar berefleksi untuk menentukan keputusan hidup.

Bisa jadi, mungkin ada ide lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Blog Bukan Tren Sesaat℠


℠ Blog bukan tren sesaat is an unofficial service mark from Universitas Indonesia’s Admin for a service to answer what is the use of blog service. [JOKE]

NB: Maaf, saya sudah memotong sebisa mungkin. Kemungkinan ada tulisan-tulisan yang tidak nyambung. Mohon komentar apa bila ada yang hendak ditambahkan atau ditanyakan.