Tag Archives

8 Articles

RE: Komika; A Jester Certainly Not A Clown

Pandji P. dalam tulisannya “Mengapa Kami Menyinggung” menyebutkan bahwa seyogyanya Komika harus memiliki swa-sensor. Dia menyebutkan bahwa sering kali materi kontroversial digunakan oleh Komika dalam mop hanya sebuah kejutan. Kejutan itu sebenarnya demi memelintir pengharapan penonton.

Benarkah hanya demikian?

Kalau dilihat dari sejarah, mop modern berasal dari Amerika Serikat. Di sana, generasi dari Seinfield sampai Chris Rock berkembang. Semuanya sama, mereka mengisi dengan konten kritik sosial. Bahkan, tak lupa mereka memasukkan konten-konten yang menyakitkan.

Di negara Paman Sam sana, komedian dapat berkembang dengan baik. Amandemen UUD mereka menjamin seorang komedian takkan dihukum oleh perkataannya yang bebas. Mereka bahkan memiliki Comedy Central sebagai pusat produksi mereka.

Indonesia nampaknya tidak memiliki hukum tertinggi seperti itu. Mungkin, seperti yang dimengerti Pandji, mereka masih menganggap komika bisa memasukkan hal-hal kontroversial merupakan sebuah hal yang keren. Padahal, setiap mop yang terjadi mungkin sebenarnya memiliki agenda baik politik mau pun sosial, tapi terutama isu sosial. Sayangnya, saat ini konsekuensinya di Indonesia terlalu menakutkan.

Kalau saya boleh tarik lebih lanjut, sejarah mop berasal jauh dari zaman dahulu kala jauh di zaman kerajaan. Mereka biasanya berpakaian badut dan melucu untuk Raja atau pun para bangsawan. Mereka disebut sebagai Jester.

Mereka memiliki tugas untuk menghibur. Seorang jester mengolok tuannya dengan kritik. Hiburan dan kritik ini adalah bagian dari seorang jester. Mereka sering mengolok juga orang-orang lain.

Anehnya, banyak kerajaan di dunia menaruh posisi jester sebagai penasihat. Bahkan, di India bagian Selatan seorang raja takkan lengkap tanpa jester-nya. Mahabrata takkan lengkap tanpa punakawan.

En Folastrant Sagement

Ada kasus Ratu Elisabeth memecat jester-nya karena kurang kontroversial terhadap dirinya. Di lain pihak, banyak jester yang bercanda keterlaluan sehingga menghadapi dari hukuman cambuk bahkan sampai hukuman mati. Selalu ada resiko untuk menjadi pihak yang menghibur dengan kontroversial.

Namun, mengapa profesi tetap saja ada?

Seorang ayah yang terlalu posesif kepada anak perempuannya membuat anaknya tak bisa menikah. Seorang kaya mewarisi anaknya dengan kebodohan sehingga hartanya terkuras. Seorang raja terlalu angkuh menyediakan kepalanya di nampan pada hari tuanya. Seorang yang berdiri tinggi tanpa ada yang mengkritik cenderung mengarah kepada kehancuran.

Untuk orang-orang yang terlalu tinggi inilah seorang jester diperlukan. Seorang jester perlu menampar seseorang tanpa membuat dia kehilangan harga dirinya. Sifat ini yang menjadikan seorang jester yang baik adalah seorang yang begitu bijak sehingga ia bisa menjadi si bodoh. Menemukan formulasi yang tepat untuk memulai diskusi adalah sebuah tugas dari seorang jester. Inilah tugas dan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang jester modern, komika a.k.a komedian.

Peter Russels mengolok-olok ras-ras dengan menyebutkan stereotipe-stereotipe ras tersebut. Pertama-tama, ia memulai dengan mengangkat ras tersebut. Lalu, ia masuk ke olokan ras tersebut. Terakhir, ia tak lupa mengangkat kembali ras yang telah dioloknya. Ia selalu menyediakan jalan keluar untuk mengangkat harkat ras tersebut sehingga ras tersebut pada akhirnya tidak tersinggung.

Untuk yang suka level keras, ada juga komedian di Comedy Central yang langsung ke subyek yang sensitif. Namun, kalau saya amati, sepertinya hidupnya seperti lelucon. Ada saja fitur dari tubuhnya yang dapat menjadi tertawaan. Memang, dosis komedi seperti ini bukan untuk khalayak ramai.

Kalau saya baca argumen yang dibilang oleh Pandji, saya teringat argumen yang berusaha diungkap oleh John Oliver kepada jurnalis. John Oliver merupakan komedian yang mengangkat tema-tema sulit di Amerika dan membawakan berita tersebut dengan gaya lelucon. Para jurnalis menyebutnya sebagai jurnalis, tetapi Beliau menyebut dirinya sebagai komedian yang berusaha membuat orang tertawa. Menurut dia, dia dan timnya memformulasikan bahwa lelucon kehilangan kelucuannya bila data yang dipaparkan tidak akurat.

Kalau menurut saya, John Oliver dan timnya telah sukses memasukkan berita yang kontroversial dengan kelucuan. Mereka berhasil menaikkan isu penting kepada publik Amerika Serikat tanpa mengaktifkan pertahanan. Pertahanan itu seperti penolakan (denial), pengacuhan, dan bahkan sensor. Alarm pertahanan tak aktif karena lelucon-lelucon yang dipaparkan membuat penonton tak merasa frustrasi, bahkan sebaliknya, mereka merasa diperkuat.

Kembali ke Pandji

Ada banyak isu yang menjadi api dalam sekam di negara ini. Isu antar umat agama. Toleransi dengan kaum minoritas. Isu jurang ekonomi yang semakin jauh dan munculnya generasi kelas menengah yang acuh. Bahkan, sampai isu sensitif seperti paham-paham komunisme dan liberalisme.

Bangsa ini terlalu takut untuk membahas isu-isu penting itu. Kami butuh jester untuk membuat kami nyaman untuk memulai diskusi itu. Kami perlu Pandji dan kawan-kawan untuk secara cerdas memasukkan isu-isu tersebut dengan lelucon, bukan swa-sensor.

Dari pada menunggu hukum yang melindungi mereka, saya hanya bisa berharap agar rekan-rekan daring melindungi mereka dari cyber-bullying. Lindungi perkataan mereka walaupun seperti menyakitkan. Saya rasa, mereka orang-orang jenius yang bukan sekedar lelucon belaka. Kita perlu melindungi mereka dari niatan jahat yang berusaha menjatuhkan mereka.

Sifat bangsa Indonesia yang sekarang semakin tak bisa dikritik menurut saya sudah pembodohan lebih dari zaman dahulu. Padahal, adalah budaya Nusantara untuk pantun-pantun jenaka. Adalah budaya Nusantara untuk majas-majas ironi dan satir. Adalah bagian dari budaya kita untuk bersilat lidah.

Saya harap, mop-mop Indonesia bisa mengembalikan budaya kita yang mau terima kritik dan mengkritik dengan elegan; mengkritik dengan lelucon. Jangan sampai api dalam sekam itu membakar lumbung padi kita. Biarlah ia terkuak dengan lelucon sehingga dapat dipadamkan.

Bacaan Lebih Lanjut

Gabe Newell sebagai Dewa Internet

Gabe Newell sebagai Dewa Internet

Selain FSM dan St. IGNUcius, ada aliran baru yang berkembang sekarang ini: Gaben.

Yang mulia Gaben bernama asli Gabe Newell mengerjakan pekerjaannya yang misterius menjangkau para pecinta permainan video. Beliau pertama kali dikenal kebaikannya dengan Steam Summer Sales dan Steam Winter Sales. Di kedua minggu suci tersebut, Gaben memberkati para Steamer dengan game-game berharga miring. Dengan harga mulai dari 25% hingga 90%.

Tidak tanggung-tanggung, Beliau tidak memberi satuan, namun juga dalam bundel-bundel. Aku yang hina ini pun pertama kali disentuh kebaikannya dengan membeli Valve Complete Pack. Sungguh hari yang teramat baik.

Bukan hanya itu, Beliau memberkati GNU/Linux dengan Steam dan memodifikasi game-game dari Valve agar dapat berjalan di GNU/Linux. Ia menggratiskan Team Fortress 2 pertama kali di Steam Linux. Lalu, ia melepaskan DoTA 2 di GNU/Linux. Kini, game-game bermunculan di Steam Linux.

penggambaran Gaben sebagai tokoh dalam DoTA 2.

Penggambaran Gaben sebagai tokoh dalam DoTA 2.

Gaben merupakan pribadi yang pengertian. Tidak semua punya iman yang cukup untuk menunggu sampai Summer atau Winter Sales. Ia pun memberkati Steam dengan Steam Daily Deals dan Weekly Deals. Kini hal-hal fana di dunia seperti menabung di bank, membeli makan, dan hal-hal yang manusia biasa lakukan dapat dihindari.

Buat apa makan kalau sudah bisa memiliki bundel Cid Meier’s Civilization V yang lengkap? Ini saja Titan Quest Immortal Sovereign dan pendahulunya memiliki banyak waktu untuk dihabiskan.

Berikut situs yang dibuat oleh @redream_ dengan sisa-sisa dana di dompet Steam-nya:

PRAISE LORD GABEN!

No Description

Untuk menghormati Gaben, seorang umat setia membuat ide Greenlight untuk membuat sebuah game untuk menghormati Gaben, yakni Gabe Simulator 2014.

Oh, dompet, engkau menjadi fana.

IT Junkie

IT Junkie

You know that you are an IT junkie with these kind of symptoms:

  1. Writing GBU (God Bless yoU) with GNU
  2. Writing “Love you too, sys” (Should have “sys sis”)
  3. Writing “planet” on the browser unconsciously every time open a new tab.
  4. Watch Monty Python, the sketch, the Holy Grail and the Life of Brian.
  5. Either a Star Wars nor Trekkian, with the ordo of Original or the Next Generation.
  6. Have no life.

True story.*

FileZilla for SFTP Between Windows and Ubuntu
Connected FileZilla with two panes, the left is our original host and the right side is the remote host. Use this like Midnight Commander.

FileZilla for SFTP Between Windows and Ubuntu

For some reasons, for instance, you are fall in love with Hatsune Miku (初音ミク).  You are on your other workstation and you are cursed with Windows Vista. You are unable to format it because it’s your office property. An urge made you  downloaded these cute songs from Nico-Nico. Oh, no, you want to save it to your true computer running GNU/Linux, badly!

Unfortunately, WinSCP can’t handle UTF-8 encoding well. Using enconv doesn’t actually helps alot. The other possibility is you use WinSCP and PuTTY to rename it into original name song. Or, you could give up and putting impurity to the filename with romaji instead of actual kanji. Blasphemy!

Fortunately, we have FileZilla and it’s able to use SFTP. Make sure your real computer uses SSH. Real GNU/Linux always install it. But, if you don’t just install it, e.g. in Debian/Ubuntu:

$ sudo apt-get install ssh

That will install openssh-server, openssh-client and a bunch of its dependency. I’m using Gentoo and openssh-server is the first thing I install. So, I don’t want to repeat the install process just to show you. Just assuming you already done it.

Setup FileZilla

FileZilla HowTO Steps

  1. After you download and few clicks to install and run the FileZilla programs, open the Site Manager in File –> Site Manager (CTRL + S).
  2. Insert your workstation’s IP address. In my paranoid setup I set non-standard SSH port for my real computer. So, I put 8080 as the port. (Default port is 22)
  3. Set your connection type as SFTP.
  4. On Logon Type, click the drop down menu and select Interactive. You know why I advise you to do that? It’s because when using public computer, especially those that are prone to bots and evil grinding crackers, it is important that you don’t save your credentials.
  5. Put your name on the User input box.
  6. Select Connect.

Bizarrely,  FileZilla doesn’t have a save button but it will automatically save your configuration. Well, handy if you are used to it.

Now you can use it to browse like usual:

FileZilla connected

Connected FileZilla with two panes, the left is our original host and the right side is the remote host. Use this like Midnight Commander.

Oh, btw, 3-D is better than 2-D, keep that in mind or you could saddened your parents. 😉

Korelasi Antara Motivasi Mengerjakan Karya Ilmiah dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Korelasi Antara Motivasi Mengerjakan Karya Ilmiah dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Hipotesis f = n t + m Y

Terjadi Korelasi Positif antara Motivasi Mengerjakan Tugas Akademis dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Setelah melewati malam-malam berproskrastinasi dan menjelang batas akhir pengumpulan karya ilmiah, ditemukan hipotesis awal bahwa adanya kecenderungan positif ketika hendak mengerjakan karya ilmiah mengakibatkan aktivitas mencari video menarik di YouTube dan peningkatan penggunaan Facebook secara aktif. Diduga ini adalah sebuah gejala yang lazim terjadi di masyarakat.

Digunakan pendekatan Random Sampling dengan menggunakan distribusi Poison. Alasan penggunaan distribusi Poison bukan distribusi normal adalah karena supaya keren.

[This is what I’ve got when browsing scientific journals and multitasking processor and a tabbed browser.]


Self note:

GANBATTE!

Self condolence:

I wish my Sunday school teacher taught me self control against those beasts of social network world…. Oh, wait, there wasn’t Internet back then… -_-’

Debunking Myth: Lives of UI Admin

Debunking Myth: Lives of UI Admin

Preface

Every now and then mere mortals tend to think we are some old guys with irresponsible attitude. They would think that we are the one that doing day to day job. They would felt a giant walls when trying to communicate.

We are even depicted as evil grand immortals that grinding from darkness, as one of Blizzard personnel said out of fear:[1]

How could you kill a man without no life?

With the instilled fear, we are often subjected to fear. It took courtesy to be human-like from us. People used to think we are demi-gods. Through this article I would assess every myth that made us looks like a feared, untouched being.

We are working as we sleep

Admin working as we dreaming

Admin works as we dreaming

Imagine if we took down some proxies and upgrade them in, let’s say,  12 o’clock. You, facebookers, would spit us in the face. I imagine if we took down a machine or two where mortals awaken. They would scream and begged, “O, great admins, thou presence is thy grace. Out of angst instill our hope in thy.”

We took time in the night to have jobs done. That’s why you would often have a mislead into thinking that we don’t rest. That we don’t have a dream. That we are engulfed with our world and severe our mortal bodies. Often we are thought as beings that works at daylight and a nocturnal also. Some said that we are “manusia siang-malam”.

That fear also happens when mere mortals often mail us at two o’clock in the morning and hope for their response. They get what they want. And that’s frightening for some, because they would in awe of the awesomeness of our response. In that fear, they would say that we are not a normal being because we don’t sleep.

That’s a false. We too have a place to sleep. We too took our time to close our eyes. To have dreams and enjoy ourselves in it.

We also try to blend in social beings

We do socialize

We do socialize

We also take pride in blend in. Like Dexter father used to say in Session 1, “Dexter, you’ve got to blend in.” We too blend in in the society. We are a group of diverse people, with multi cultural and gender. We don’t discriminate though the fact that we are über being born with great power.

There are times when mortals would seek audience with us and take our name as “Pak”, “Mas”, or any specific label toward men. Though we are one, there are many in us. We took form also in women. So, addressing gender specific to us is a prejudice you, mere mortals, tend to do.

You see, we too take our time hanging around in coffee shop. Took time to know mere beings and seeing their frailty. We also helped through the hands of Faculty admins. We spoke each other casually like other beings.

We too have affection

Affection

Admin criterion

We too have affection towards other. Like mere mortals, we have criterion for our mates. We too don’t want bad apple. Could you spend the rest of your life with someone who totally incompatible?

No, just like you, mere mortals, we take decision carefully. We have our enjoyment of having the right person. Our time is unlimited, as we are deemed to have no lives; how could you be dead if no lives in you?

We have our ideal person

We too have love

We too have love

That’s why we too have our type of someone we like. Like a saying, “there is a fetish for every part of body,” we have many ideal person as our companion. We don’t discriminate, as long as the person reliable and scalable, we don’t see any preference.

I guess because of the experience from long ago that some of us may want to have a specific person. But, that’s personal as we are one, we are also diverse.

Conclusion

We have loves, we have criterion, we are tolerable, and we too have time to sleep. Thus, we, Admin UI, are normal.

Q.E.D.

 


  1. SouthPark, eps. 1008. Make Love, Not Warcraft. 2006. ^