Tag Archives

2 Articles
Siapkah Kurikulum Indonesia?

Siapkah Kurikulum Indonesia?

Saat ini sedang heboh kisah Amanda Todd. Almarhumah merupakan seorang remaja yang bunuh diri karena dipermainkan di dunia maya (cyber bully). Saya telah menulis pendapat saya di sini. [Bahasa Inggris]

Sementara itu, kurikulum Indonesia akan mengalami perubahan. Kurikulum 2013 sedang uji materi di sini. Bagi Anda yang berkompetensi atau yang peduli dengan pendidikan di Indonesia, Anda dapat terlibat dan meninggalkan pendapat di sana. Ada salindia yang memaparkan tentang visi kurikulum 2013.

Pertanyaan saya, apakah pendidikan Indonesia telah siap dengan Internet yang membuat pengetahuan terbuka lebar bagi  generasi muda. Siapkah masyarakat menjadi generasi yang mendidik mereka sedangkan mereka mengetahui hal-hal yang lebih dari generasi yang terlebih dahulu ada?

Bisakah kita menghilangkan pandangan bahwa guru lebih tahu dari murid? Namun, dapatkah guru tetap bisa jadi mercusuar bagi murid?

Kasus Amanda Todd membuktikan bahwa bukan hanya Indonesia yang belum siap dengan Internet secara budaya. Bahkan negara sekelas Amerika Serikat pun masih belajar dengan Internet dan teknologi yang mengikutinya. Ini wajar, mengingat komunikasi Internet berkembang seiring zaman.

Evolusi Internet

Ingat, baru tahun 1995 Internet mulai populer. Budaya komunikasi sebelumnya menggunakan USENIX dipenuhi dengan bahasa akademisi. Diskusi cenderung intensif, teknis, dan teratur. Saking akademisnya, bahkan tata cara tulisan diatur dalam RFC.

Karena Internet masih mahal, biasanya isi forum-forum USENIX ini disalin ke dalam tape/disk dan dikirim ke universitas-universitas lain. Kata mbah kuncen di sini, dahulu UI pernah juga berlangganan USENIX.

Tahun 1999, AOL membuka akses kepada publik dan perubahan drastis pun terjadi. Tata cara bicara pun banyak terlanggar. Bahkan, muncul fenomena troll (orang yang sengaja memancing keributan). USENIX pun semakin ditinggalkan. Apalagi, teknologi membuat evolusi cara berbicara.

Ketika modem dial-up berkembang dari 9,6 Kbps menjadi 14,4 Kbps dan terakhir menjadi 56 Kbps, Internet pun dapat diakses dengan mudah dari rumah.* [dengan syarat tidak ada telepon masuk, ha… ha… ha….]

Tahun 2000-an, fenomena dotcom pun menggelegar (hanya Amazon yang tersisa dari ledakan fenomena itu). Teknologi bicara langsung seperti ICQ, IRC, dan bahkan Yahoo! Messenger pun bermunculan secara berurutan.

Ciri khas dari generasi awal bicara langsung ini adalah tata kenal yang menanyakan ASL (Age, Sex, Location atau Umur, Jenis Kelamin, Tempat domisili). Setiap orang dapat memiliki nick (nama samaran). Di sana orang lebih bebas lagi berkenalan.

Tahun 2002-an Friendster dan MySpace meledak. Orang mulai membuka informasi mengenai dirinya. Teknologi membuat orang-orang bisa lebih dekat secara dunia maya. Hal ini dilakukan karena adanya foto dan identitas asli orang. Inilah era awal media sosial.

Ciri khas teknologi media sosial adalah rasa keterkaitan dan personal. Hal ini membuat banyak orang merasa kenal dengan orang lain dan merasa ingin memperbesar lingkaran kenalan. Banyak yang memanfaatkan teknologi ini untuk berkomunikasi, termasuk beriklan.

Intinya

Setiap teknologi baru membuat budaya baru yang berbeda.

Keterbatasan teknologi dan budaya muda yang mencari bentuk membuat fenomena baru. Ada situs-situs yang menghasilkan informasi-informasi sensitif yang tidak bisa saya paparkan. Adanya teknologi CGI membuat server tak lagi statis. Muncullah teknologi forum (Papan Buletin). Cara bicara pun berubah.

Budaya berubah seiring teknologi berubah. Namun, sayang seribu sayang saya tidak melihat buku teknologi berbahasa Indonesia yang membahas budaya ini. Satu-satunya yang non-teknis hanya buku mengenai cara mencari uang di Internet. Tetapi, saya tidak menjumpai sisi sosial.

Sebelum Anda menuduh mengapa tidak saya menulis mengenai hubungan sosial dan teknologi, saya tidak pede. Maklum, saya ranah saya Ilmu Komputer. Itu ranah humanitarian. 🙂 [ngeles mode on]

Tapi, saya sepertinya tertarik menulis pandangan saya dalam blog ini mengenai ranah ini. Blog, ‘kan, pandangan pribadi. Jadi, kalau ada konsep-konsep sosial saya yang kacau, saya tidak takut. Ha… ha… ha….

Internet, oh, Internet. Kau memang pisau bermata dua. Indonesia sebagai pasar teknologi, bersiaplah hai engkau para pendidik bangsa akan ia. 🙂