Tag Archives

3 Articles
The A Team (2010)

The A Team (2010)

Disclaimer: Jangan membanding-bandingkan dengan yang lama.

Huhuhu… tapi untuk yang sudah pernah nonton yang lama, cukup jadi beban pikiran juga untuk tidak membanding-bandingkan. Baiklah, menurut saya, hanya tokoh Face yang saya cukup acungi jempol sesuai dengan orangnya: seorang flamboyan seperti Cassanova. Tokoh B.A. kalah jauh bila dibandingkan dengan Mr. T (pemain aslinya yang juga seorang olahragawan di WCW). Kolonel Hanibal malah jadi kalah bersinar dengan Face bila dibandingkan dengan seri lamanya. Seperti biasa, Murdoch tampil dengan kegilaannya.

Beberapa penyesuaian dilakukan agar  tidak seperti filmnya. Mereka bukan lagi mantan sebuah unit perang Vietnam yang dijebak, melainkan pasukan Ranger yang dipimpin oleh seorang kolonel. Ini tentunya agar film ini lebih modern. Bayangkan, berapa usia mereka sekarang bila mereka adalah veteran perang Vietnam? Perubahan yang terjadi juga adalah kebiasaan menidurkan B.A. yang langsung disuntik. Padahal, dahulu biasanya dia dikasih makanan yang mengandung obat tidur.

Film ini menarik untuk ditonton.

Peringatan saya untuk film ini: Jangan beranjak sebelum filmnya benar-benar habis. Ada sesuatu yang menarik setelah credit title.

Film Prince of Persia: Sand of Time

Film Prince of Persia: Sand of Time

Sewaktu DOS merajalela Digger, Pacman, Alley Cat, dan Frogger memenuhi tempat disket di rumah. Tetapi, Prince Persia (DOS) membekas di hati sebagai permainan RPG yang paling hebat, sulit, dan mengesalkan. Saya pun sudah lupa berapa tingkat harus dilewati, tetapi yang teringat oleh saya adalah seorang karakter 2D berusaha melompati dungeon dan mati tertusuk di bawah, ha… ha… ha….

Kini Prince of Persia menjadi film berdasarkan trilogi 3D-nya. Yang pertama saya tetapkan dalam hati adalah jangan terlalu mengharapkan Film yang diadaptasi dari game. Berbagai judul seperti misalnya Street Fighter, House of The Dead, dan Doom seperti dihancurkan reputasi legendarisnya ketika dibuatkan filmnya. Memang, ada pengecualian seperti Resident Evil 1 dan 2. Tetapi, cerita yang terakhir (nomor 3) mengecewakan dan berusaha keluar dari cerita sebelumnya. Oh, satu lagi film yang bagus: Silent Hill. Hmm… mungkin tidak semua film adaptasi game gagal, yah?

Hal yang menarik dari film Prince of Persia: Sand of Time adalah keterlibatan pencipta game-nya dalam proses produksi film. Mungkin ini yang membuat film ini menjadi menyenangkan untuk ditonton. Hal yang perlu diingat lagi saat menonton film ini adalah ini film buatan Disney! Jangan mengharapkan adanya adegan realistis seperti orang kebacok dan mati. Atau saat tertusuk keluar darah. Atau… ups… lebih baik tonton sendiri….

Mungkin karena ini adalah sebuah  film pop, cerita yang sebenarnya kelam terlihat kurang suram. Beberapa adegan asmara, tapi nanggung karena ini film Disney, disisipkan. Tapi, setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa rekan, perkataan asmara itu yang diingat oleh rekan wanita. Wanita pemeran putri yang berlogat British itu terlihat biasa-biasa saja waktu pertama kali. Tetapi, kemampuan aktingnya membuktikan bahwa dia memang pantas untuk menjadi seorang putri. Putri dalam budaya film pop! 😀

Beberapa adegan mengingatkan saya kepada gerakan Aladdin di zaman Sega. Tetapi, gerakan aksinya, ugh, mengingatkan saya kepada Altair. Saya pikir ini film Assassin Creed. Tapi, mengingat kedua game ini berasal dari perusahaan yang sama (Ubisoft), mungkin saja sengaja dibuat demikian karena hendak dibuatkan game untuk film ini dengan menggunakan engine Assassin Creed. Biasalah… kalau franchise dibuat pasti dengan perencanaan ke arah sana. Apa lagi, teknologi trilogi game 3D dari Prince of Persia sudah 5+ tahun yang lalu. Kala itu slow motion engine yang membuat karakter bergerak seperti film Matrix menjadi sebuah inovasi yang luar biasa.

Ya, film ini adalah film yang bagus untuk ditonton.

Yang pasti, film yang sedang ditunggu-tunggu adalah Warcraft. Mana, yah?