Tag Archives

3 Articles
Memasang AOSP Extended pada Xiaomi Mi 6
Super Android, recharge!

Memasang AOSP Extended pada Xiaomi Mi 6

Sudah lama saya tak melakukan Jumat ceria. Kali ini saya iseng mengganti sistem operasi perangkat Xiaomi Mi 6 saya dengan sistem operasi baru. Berhubung saya baru saja menulis seri pembahasan kasus Equifax, kali ini saya hendak menyelingkan dengan tulisan hiburan yang lebih ringan.

Memasang AOSP Extended

Saya asumsikan Anda sudah mengunduh bahan-bahan berikut:

Beberapa opsional:

Saya akan mulai pengalaman saya.

Menghapus Sistem Operasi Lama

Pertama-tama, masuk ke mode pemulihan. Hapus partisi sistem, data, dan tembolok. Pastikan Anda sudah membuat salinan hal-hal penting di Google Drive atau sejenisnya. Ingat, tidak perlu menghapus Internal Storage.

Wipe Partitions

Wipe Partitions

Setelah ini, memasang sistem.

Memasang Sistem

Berikut urutan saya memasang sistem:

  1. Memasang Firmware 7.9.7, bukan versi yang lain.
  2. Memasang sistem operasi AOSP Extended.
  3. Memasang GApps.
  4. Memasang Snapdragon Camera Pro

Saya mencoba masuk ke sistem setelah memasang keempat ini. Ternyata, sidik jari tidak terdeteksi. Setelah menyiapkan konfigurasi akun Google dan selesai mengunduh aplikasi, saya pun memulai ulang perangkat saya ke mode Pemulihan kembali. Saya kemudian memasang fix_FPC_Fingerprint.zip untuk membetulkan sidik jari saya. Akhirnya, sidik jari saya pun bisa digunakan.

Memasang Modul Magisk

Ada beberapa modul yang perlu saya pasang untuk menjalankan fungsi.

Universal Safety Net Fix

Magisk and Safety Net status

Magisk and Safety Net status. ctsProfile not detected

Safety Net diperlukan untuk dapat menggunakan Google Pay atau pun beberapa aplikasi lainnya yang membutuhkan jaminan keamanan pada perangkat. Sebelum menggunakan modul ini, ctsProfile tidak terdeteksi. Untuk itu, diperlukan modul ini yang ada di bagian Downloads pada aplikasi Magisk Manager.

F-Droid Privileged Extension

Saya menggunakan F-Droid, sistem pemasang yang memasang perangkat lunak bebas. Perangkat lunak bebas, terutama yang berlisensi GPLv3 ditolak di Google Store. Modul ini diperlukan agar aplikasi yang dipasang oleh F-Droid terpercaya. Modul ini yang ada di bagian Downloads pada aplikasi Magisk Manager.

Xiaomi_Mi6_widefine

Untuk bisa menggunakan aplikasi berbasis DRM macam Netflix dan sejenisnya, kita harus memasang DRM. Salah satu modul DRM adalah Google Widevine. Untuk itu, unduh widevine.zip dan aktifkan di modul Magisk.

Kalau benar, maka DRM akan dipasang dengan baik.

DRM Info

DRM Info

Kamera

Kamera Mi bawaan sepertinya harus diset manual izin yang diperlukan dari konfigurasi agar aplikasi dapat berjalan. Saya sendiri lebih menyukai kamera Snapdragon PRO dari pada kamera Mi. Hasilnya lebih nyata.

Captured with Snapdragon PRO Camera

Captured with Snapdragon PRO Camera

Melawan:

Captured with Mi Camera on AOSP

Captured with Mi Camera on AOSP

Gambar Kamera Mi lebih lembut. Tetapi, saya lebih suka ketajaman Snapdragon PRO. Saya menggunakan aplikasi Snapseed untuk mengubah apa-apa yang perlu.

Aplikasi Pembantu dari Google Apps

Ada beberapa aplikasi pembantu yang saya unduh dari Google Apps yang menurut saya bisa membantu Anda juga.

  • Carrier Services. Semenjak saya pasang ini, koneksi saya ke provider lancar.
  • DRM Info. Untuk melihat apakah ada DRM di perangkat saya.
  • GPS Status & Toolbox. Aplikasi ini bisa diunduh gratis. Namun, saya membelinya agar dapat memiliki versi tanpa iklan dan penuh. Kalibrasi sensor menggunakan aplikasi ini sangat cepat.
  • Snapseed. Aplikasi gratis dari Google ini untuk menyunting gambar.
  • POC KTP. Sekedar iseng membaca e-KTP dan uji coba sensor NFC. Ya, ampun! Segeralah terbitkan spesifikasi akses APDU, ya, pemerintah! Saya juga mau membuat aplikasi yang memanfaatkan data e-KTP.

Demikian.

Bacaan Lebih Lanjut

Gerakan Anti DRM di PS4 #PS4NoDRM #PS4USEDGAMES

Gerakan Anti DRM di PS4 #PS4NoDRM #PS4USEDGAMES

Seorang pengguna forum NeoGAF, famousmortimer, menyerukan genderang agar setiap calon pengguna PS4 mentwit beberapa tokoh Sony agar tidak menyertakan skema DRM dalam konsol mereka. Saat ini, skema DRM telah diimplementasikan oleh Microsoft untuk XBox One. Skema ini mengakibatkan bahwa pengguna tidak lagi memiliki sepenuhnya permainan yang telah mereka beli.

Apa itu DRM?

DRM, Digital Right Management [baca: Digital Restriction Management], adalah sebuah teknologi yang membuat sebuah media universal hanya dapat dimainkan di mesin tertentu. Inti teknologi ini adalah mengenkripsi konten sehingga tak dapat dimainkan begitu saja. Mesin/perangkat lunak yang memiliki kuncinya dapat membuka enkripsi dan memainkan secara leluasa.

Proses Bisnis apa yang hendak dikembangkan?

Dengan adanya DRM tersebut, nantinya setiap pengguna yang sudah membeli permainan tidak dapat memainkan permainan tersebut di rumah tetangga. Kalau misalnya dia mau barter kaset dengan temannya, maka temannya itu harus membayar sejumlah kecil uang untuk mengaktivasi kembali.

Dengan kata lain, kepemilikan permainan yang sudah dibeli tidak sepenuhnya milik pengguna lagi. Perangkat lunak itu bukan lagi dibeli, tetapi disewakan. Pengguna tidak lagi memiliki permainan. Pengguna diizinkan barter, namun dikenakan biaya untuk melakukan transaksi dengan orang lain.

Sistem ini bergantung kepada sebuah autentikasi tersentral. Pusat pengautentikasian ini bekerja 24 jam penuh untuk melayani seluruh dunia.

Apa arti memiliki sebuah permainan/perangkat lunak?

Zaman dahulu saya membeli kaset SEGA “Asterix”. Teman saya punya “Golden Axe 3”. Kami satu sama lain bosan. Lalu, kami pun menukar kaset-kaset SEGA kami. Dia bisa bermain “Asterix”, saya bisa bermain “Golden Axe”.

Setelah beranjak dewasa, permainan tersebut bisa saya kasih ke sepupu saya yang masih kecil. Saya pun mewariskan konsol saya kepada dia. Kini, dia bisa bermain permainan-permainan berkualitas dan saya pun beranjak dengan bermain DoTA 2.

Ketika sepupu saya pindah ke negara lain karena orang tua diberi tugas dinas, ia membawa konsol tersebut. Di tempat barunya, ia tinggal menyari konverter listrik dan menyolok konsol tersebut, menyambungkannya ke TV, lalu ia lanjut bermain setelah selesai belajar.

Bagaimana DRM bisa dibuat di PS4?

AMD sebagai produsen keping telah menambahkan instruksi ARM di prosesor berikutnya. Bagian ARM tersebut dapat digunakan untuk menjalankan skema DRM dari perangkat keras. Kemungkinan, teknologi ini juga ditanamkan di PS4.

Mengapa ini teknologi bodoh?

Karena adanya restriksi hukum dalam ekspor enkripsi keluar dari US, maka yang digunakan hanya enkripsi lemah. Telah banyak bukti bahwa enkripsi ini dapat dijebol. Jangankan sekelas Eropa Timur dan Cina, di Indonesia pun kita semenjak zaman PS 1 sudah ada mesin PS yang sudah dimodifikasi chipset-nya.

Pembajak dapat dengan mudah melepas DRM dari mesin-mesin tersebut. Namun, pengguna sah harus bersusah payah masuk. Kelemahan sistem tersentralisasi membuat pengguna sah harus berharap bahwa server yang melayaninya tidak sibuk. Ia menjadi tergantung dengan perusahaan pembuat konsol. Kemanusiaan pun kehilangan hak azasinya karena semakin tergantung oleh korporasi.

Akhir Kata

Ini sebenarnya sebuah insentif bagi penggunaan FOSS. Generasi ini mungkin tidak tahu apa bahaya ketika sebuah korporasi secara perlahan berusaha menguasai kemanusiaan. Ketika skema DRM ini berlangsung, bisa jadi generasi berikut tidak akan mengenal apa itu kebebasan individu, seperti generasi ini sudah tidak tahu apa itu Macan Kumbang dan Samong.

Serangan Lewat Paten Perangkat Lunak

Serangan Lewat Paten Perangkat Lunak

Sekitar tahun 2005 sampai dengan 2007, para pengadopsi perangkat lunak bebas dan terbuka (Free/Open Source Software atau FOSS) sering kali dihantui oleh kecemasan. Saat itu, sering terdengar kabar burung (FUD) yang mengatakan bahwa perangkat lunak yang mereka gunakan melanggar paten. Puncak dari serangan tersebut adalah dengan adanya usaha melegalisasi paten perangkat lunak di Eropa.[1] Kala itu, Eropa sedang dilobi untuk melegalkan paten atas perangkat lunak.

Melihat bahaya yang dapat diberikan, beramai-ramai para penggiat FOSS mengumpulkan suara. Mereka menyerukan kepada pengguna FOSS untuk mendatangi wakil parlemen terdekat mereka dan menyuarakan keberatan. Mereka menggalang suara dan melakukan petisi. Karena usaha penggalangan suara tersebut, parlemen Eropa menolak paten atas perangkat lunak sampai hari ini.

Paten Perangkat Lunak: Sebuah Perkenalan

Pernahkah Anda mendapati peramban Anda harus mengklik konten Flash hanya untuk mengaktifkan konten tersebut? Hal ini terjadi karena metode untuk memainkan langsung berkas Flash yang sudah terunduh merupakan paten milik Eolas. [2] Karena paten tersebut, setiap produsen peramban yang tidak terafiliasi dengan Eolas yang tidak membayar royalti dituntut oleh Eolas.

Paten perangkat lunak tidak memiliki definisi yang jelas.[3] Tetapi, secara umum paten perangkat lunak didefinisikan sebagai perlindungan terhadap penggunaan algoritma dalam aplikasi komputer. Yang dimaksud dengan algoritma bukanlah kode komputer yang tereksekusi, melainkan cara melakukan eksekusi komputer. Kendati menggunakan kode sumber yang lain, sebuah entitas pengimplementasi paten dapat dituntut oleh pemilik paten karena menggunakan cara yang sama dengan paten yang dimaksud.

Opera dan Internet Explorer tidak dapat langsung memuat dan memutar konten Flash. Paten untuk memainkan langsung konten-konten plugin telah terdaftar oleh Eolas dalam Paten Amerika Serikat nomor 5.838.906 (lima juta delapan ratus tiga puluh delapan sembilan ratus enam).[4] Paten ini diterbitkan 17 November 1998 di Amerika Serikat.[5] Pihak Opera dan Microsoft terpaksa membuat peramban mereka tidak secara otomatis memuat Flash. Mereka harus membuat metode lain, yakni membuat sebuah skrip Javascript yang dijalankan otomatis agar memuat konten Flash.

Paten dan Bahaya

Bagi para penggiat FOSS, paten perangkat lunak merupakan momok terbesar. Ada ketakutan ketika seseorang mengembangkan perangkat lunak bebas dan terbuka (FOSS) dapat terancam tuntutan. Stallman menggambarkan paten perangkat lunak sebagai ranjau yang dapat sewaktu-waktu meledak ketika dilewati.[6] Pengembang perangkat lunak bukanlah ahli hukum dan tidak semua memiliki sumber daya untuk melakukan riset paten terlebih dahulu. Sehingga, mereka dapat secara tidak sengaja mengimplementasi sebuah paten.

Para pengguna GNU/Linux mendapati distro yang digunakannya tidak memiliki kemampuan untuk memainkan MP3.  Mereka pun tidak dapat memainkan DVD asli mereka karena DVD asli terenkripsi dengan CSS (Content Scramble System). Sistem ini tidak berpengaruh kepada media bajakan. Sehingga, alih-alih membeli DVD asli, orang akan berpikir untuk membeli bajakan. Selain lebih murah, ada juga alasan teknis demikian.

Paten perangkat lunak dapat menyebabkan pengembang perangkat lunak kecil gulung tikar.[7] Ada perusahaan yang sama sekali tidak menghasilkan produk tetapi memiliki paten atas perangkat lunak. Perusahaan yang disebut sebagai patent troll ini menggunakan hak patennya untuk menuntut banyak pihak dan memperoleh keuntungan dari tuntutan tersebut. Lalu, ada korporasi yang menggunakan hak paten mereka untuk mendapatkan keuntungan.

Korporasi tentunya juga tidak terlepas dari bahaya tersebut. Mereka berusaha melindungi diri dengan membuat portfolio dari paten-paten. Selain itu, mereka juga melakukan negosiasi rahasia antar korporasi sehingga dapat melindungi diri mereka dan saling pengertian. Salah satu contoh yang terbaru adalah Red Hat yang melakukan transaksi rahasia dengan Acacia mengenai teknologi dalam JBoss.[8] [9] Akan tetapi, jelas sekali pihak-pihak yang tidak terlibat dalam perjanjian, pengembang JBoss lainnya, malah dalam bahaya. Padahal, mereka jelas-jelas turut berkontribusi dalam JBoss.

Industri, Globalisasi, dan Paten

Apakah ada inovasi dari sebuah perusahaan yang hanya mengandalkan paten perangkat lunak tanpa benar-benar mengimplementasi paten tersebut? Apakah yang dapat diuntungkan dari perlindungan hak tersebut? Benarkah ada industri yang terlindungi dengan paten tersebut?

Sewaktu Obama datang ke Indonesia dan dibuka kesempatan berdiskusi seperti sewaktu kunjungannya ke India, saya sempat memikirkan sebuah pertanyaan:

Mengapa bangsa Amerika menerapkan DMCA secara ketat dan justru menyakiti banyak pihak?

Digital Millenium Copyright Act (DMCA) adalah perangkat hukum Amerika yang baru untuk melindungi konten-konten digital. Berbeda dengan konten konvensional, konten digital seperti MP3, CDDA, dan lain sebagainya dapat disalin dengan rasio kualitas 1:1. Artinya, tidak terjadi penurunan kualitas sama sekali. Hal ini berbeda dengan kaset. Sehingga, industri musik melarang distribusi dalam bentuk lain selain apa yang telah dibeli oleh pengguna. Dengan kata lain, seseorang tidak dapat lagi menyalin MP3 yang telah dibelinya di iTunes ke dalam pemutar MP3-nya. Padahal, seharusnya ia berhak atas konten yang telah dibeli tersebut.

Memang, konteks proteksi salin (copyright) dan paten merupakan dua entitas yang berbeda. Tetapi, bayangkanlah bagaimana negara-negara lain dapat melakukan hal tersebut di luar Amerika dan orang Amerika hanya bisa mengelus-elus dada. Ketika teknologi DRM diterapkan, banyak pemain yang mengeluh karena permainannya tidak semulus yang dibayangkan.[10] Sebaliknya, para pengguna bajakan justru tidak mengalami hal tersebut. Hal ini justru membuat orang-orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan lebih malah terbebani.

Hal inilah yang terjadi dalam dunia usaha dalam praktek paten. Jika hak salin menyakiti pengguna, maka hak paten menyakiti perusahaan-perusahaan kecil yang tidak berdaya menghadapi tuntutan hukum dari pemilik paten. Setiap inovasi yang dapat membantu banyak pihak terancam untuk tidak dapat digunakan. Para pengembang FOSS yang mengetahui teknologi terpaksa menghasilkan produk-produk cacat karena paten-paten tersebut.

Jika pada DMCA para pembajak yang diuntungkan, maka pada paten perangkat lunak justru negara-negara yang tidak memiliki paten perangkat lunak seperti Cina. Cina yang diuntungkan oleh kebijakan dalam negeri yang ketat memiliki visi bagi negaranya sendiri. Mereka harus dipaksa untuk meratifikasi perjanjian WTO. Akan tetapi, ketika mereka sudah siap, mereka pun pelan-pelan menerapkan perjanjian dengan WTO. Itu pun karena dipaksa. [11]

Apa implikasi dari negara Cina yang menerapkan kebijakan lemah terhadap perlindungan paten? Kita sering menjumpai produk-produk murah dari Cina. Imitasi BlackBerry seperti Blueberry, BlockBerry, atau pun sejenisnya seringkali dijumpai di pasaran yang ternyata hasil dari industri rumahan. [12] Mereka takkan pernah bisa memasarkan produk mereka ke Amerika karena paten yang mereka langgar, tetapi meningkatnya pasar Asia seperti Indonesia tidak akan membuat mereka gulung tikar karena keterbatasan tersebut. Justru, mereka menjadi lebih bersaing dibandingkan hal yang lain.

Lemahnya paten di Cina membuat industri elektronik berkembang pesat. Bahkan, industri komponen dapat dilakukan oleh industri rumahan sekali pun. Dengan dukungan regulasi dan birokrasi yang mudah, biaya pembuatan komponen lebih atraktif. Inovasi dan penekanan biaya dapat dilakukan dengan tidak perlu kuatir akan ancaman tuntutan. Hal ini yang membuat Cina menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat. Berbeda dengan Amerika yang mengalami stagnasi.

Kesimpulan

Paten perangkat lunak membahayakan industri perangkat lunak. Selain itu, ia menurunkan daya saing sebuah bangsa karena harus berhadapan dengan negara yang tidak mengakui paten. Ketidakjelasan definisi paten mematikan banyak inovasi. Pada jangka panjang, tidak seorang pun dapat diuntungkan dari paten.

Paten atas perangkat lunak harus dihapuskan dan dicegah untuk dapat diterapkan di Indonesia.


  1. No Software Patent. Current Situation. Ditulis sekitar tahun 2006. http://www.nosoftwarepatents.com/en/m/round3/index.html ^
  2. Wikipedia. Eolas. http://en.wikipedia.org/wiki/Eolas ^
  3. Wikipedia. Software Patent. http://en.wikipedia.org/wiki/Software_patent ^
  4. Espacenet.US5838906 (A). Distributed hypermedia method for automatically invoking external application providing interaction and display of embedded objects within a hypermedia document.http://v3.espacenet.com/publicationDetails/biblio?CC=US&NR=5838906&KC=&FT=E ^
  5. Doyle, et. al. USPTO Patent Full-Text And Image Database. United States Patent 5,838,906. http://patft.uspto.gov/netacgi/nph-Parser?Sect1=PTO1&Sect2=HITOFF&d=PALL&p=1&u=%2Fnetahtml%2FPTO%2Fsrchnum.htm&r=1&f=G&l=50&s1=5838906.PN.&OS=PN/5838906&RS=PN/5838906 ^
  6. Richard M. Stallman. Fighting Software Patents. http://www.gnu.org/philosophy/fighting-software-patents.html ^
  7. Nicholas Hebb. Please put an end to the faulty software patent system. Surat Terbuka Kepada Supreme Court. http://www.uspto.gov/patents/law/comments/bilski/bilski_i_hebb2010sep.pdf ^
  8. Bruce Perens. Red Hat’s Secret Patent Deal and the Fate of JBoss Developers. http://gigaom.com/cloud/red-hats-secret-patent-deal-and-the-fate-of-jboss-developers/ ^
  9. Sean Michael Kerner. Red Hat settles patent case with Acacia – shares few details. http://blog.internetnews.com/skerner/2010/10/red-hat-settles-patent-case-wi.html ^
  10. InfoMech. Why DRM Sucks. http://www.info-mech.com/drm_flaws.html ^
  11. Qingjiang Kong. Enforcement of WTO Agreements in China: Reality or Illusion? http://ebooks.worldscinet.com/ISBN/9789812777225/9789812777225_0013.html ^
  12. Tempo Interaktif. Pasar Bebas, Mangga Dua Banjir Telepon Seluler dari Cina. http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/03/18/brk,20100318-233494,id.html ^