Tag Archives

2 Articles
High Quality Ripping in GNU/Linux

High Quality Ripping in GNU/Linux

ONE OK ROCK and Perfume CD

ONE OK ROCK and Perfume CD

I just remembered this noon that I still have CDs that were not opened yet. Two of them was ONE OK ROCK “35xxxv” and Perfume “LEVEL3”. Those CDs had been in my backpack for a long time. Oh, well, time to rip.

There are many ways to rip CD and you can search my blog to have it. Right now I’m using Morituri. Morituri is a command line tool to rip CD using AccurateRip™ technology and CDParanoia. Two of the best tools for accurately ripping CD.

Preparations

We got two process here: getting pycdio and morituri itself. If you think you won’t need the Paranoia, then you can just jump to getting Morituri.

Getting pycdio

Morituri needs pycdio for interfacing with CDParanoia. It isn’t packaged yet in Ubuntu. We have to install it manually. This package is optional, but I want CD Paranoia!

Let’s install the alternative Python Package Installer (pip):

sudo apt-get install python-pip

Install pycdio dependencies:

sudo apt-get install python-dev libcdio-dev libiso9660-dev swig pkg-config

Alright! Let’s install pycdio:

sudo pip install pycdio

Next let’s get down with Morituri.

Getting Morituri

Install Morituri:

sudo apt-get install morituri

Now, we are ready to get the tracks.

Ripping

There are three parts of ripping the CD using Morituri. First, deciding the CD offset based on your CD drive. Second, optionally get the right MusicBrainz tags. Lastly, rip it with fire!

Getting The Right Offset

The purpose of AccurateRip™ is for determining read offset of your CD drive. You could browse their database if you confident that your CD drive is well-known.

If you have an exotic CD drive, you are not so sure, or you just getting really paranoid, you could check your hardware yourself. Get a relatively well-known CD to test and start analyzing:

rip offset find

This takes a while. It takes two turns to check the drive. I was getting bored and only manage to wait for the first pass before I canceled the execution. Besides, my CD drive is well-known. From dmesg, I got this:

$ dmesg | grep DVD
[    2.400198] ata5.00: ATAPI: HL-DT-ST DVDRAM GH40F, MG01, max UDMA/100
[    2.510952] scsi 4:0:0:0: CD-ROM            HL-DT-ST DVDRAM GH40F     MG01 PQ: 0 ANSI: 5

I confirm from the database and from my offset searching, my CD drive has an offset of 667.

Getting The Right Song Title

You can retag it if you want. But, to get the right title, I suggest to browse MusicBrainz database to find out the right title. If your CD is popular enough, it would have many names.

For example, my Perfume CD, LEVEL3, had 17 names. I picked the CD version. I got its ID by getting the serial number in its URL. It was 92d793f1-316a-4d66-ab1e-b9660d2682f7.

Getting It All Together

Alright, all is well. Our preparation is complete. Let’s rip:

rip cd rip --offset 667 -R 92d793f1-316a-4d66-ab1e-b9660d2682f7 --track-template="%A/%d/%t - %a - %n" --disc-template="%A/%d/%A - %d"

I love to get the layout”Album Artist/Album Name/TrackNumber – Artist – Title”. You may have different format. Well, each to one’s own. Here’s the list taken from the man page:

Tracks are named according to the track template, filling in the variables and adding the file extension.  Variables exclusive to the track template are:

  • %t: track number
  • %a: track artist
  • %n: track title
  • %s: track sort name

Disc files (.cue, .log, .m3u) are named according to the disc template, filling in the variables and adding the file extension.  Variables for both disc and track template are:

  • %A: album artist
  • %S: album sort name
  • %d: disc title
  • %y: release year
  • %r: release type, lowercase
  • %R: Release type, normal case
  • %x: audio extension, lowercase
  • %X: audio extension, uppercase

If you got any error, try to remove the offset parameter. It seems there are many variables to disc perfect. Sometimes hidden track(s) made the offset change. May be, that’s probably just my hunch.

Oh, well, all is good. On to the next original CD.

Memasang BlankOn Suroboyo

Memasang BlankOn Suroboyo

BlankOn Suroboyo sudah rilis dan ada di Kambing pada hari kasih sayang. Saya pun mencoba memasang di Virtual Box. Kebetulan laptop saya tidak saya pegang, belum bisa pasang di sana.

Tampilan Depan Pemasangan

Tampilan Depan Pemasangan

Tampilan depan dibuat baku dengan bahasa Inggris. Nampaknya BlankOn juga bervisi untuk dapat digunakan oleh dunia. Tapi, untuk kasus saya, saya ubah menjadi Bahasa Indonesia. Setelah itu pilih Pasang BlankOn.

Laman Selamat Datang dalam pemasangan BlankOn 9.0

Laman Selamat Datang dalam pemasangan BlankOn 9.0

Pada langkah berikutnya, ada pemilihan ruang penyimpan yang menjadi target pemasangan. Berhubung saya menggunakan satu ruang penyimpan saja, saya langsung pilih itu saja.

Target Pemasangan

Target Pemasangan, yakni ruang penyimpan untuk memasang BlankOn.

Selanjutnya akan masuk ke laman Personalisasi. Sayangnya, ada beberapa yang saya perlu komentari di laman ini.

Berikut yang saya hendak komentari:

  1. Nama Komputer hanya boleh huruf kecil. Padahal RFC 1123 bagian 2.1, adendum dari RFC 952, menyatakan bahwa Nama Komputer boleh alfanumerik (angka dan huruf) dan simbol “-“. Seharusnya, “rajagukguk-blankon” sebuah nama yang valid.
  2. Sandi hanya diperbolehkan kombinasi alfanumerik. Untuk saat ini, praktik penggunaan sandi dengan menggunakan karakter-karakter non-alfanumerik seperti “-_# &^%!~`” adalah lumrah. Sistem pun dapat menyimpan karakter-karakter tersebut.

Untuk mengatasi hal ini, saya menggunakan Nama Komputer sementara, “rajaon”, dan sandi yang alfanumerik. Toh, nanti setelah selesai saya bisa mengganti keduanya.

Ringkasan hasil konfigurasi

Ringkasan hasil konfigurasi sebelum pemasangan dimulai.

Pilih “BERIKUTNYA” untuk lanjut dan memasang BlankOn Suroboyo. Saya suka sekali tampilan pemasangan ini, sederhana dan cepat. Saya hanya mengalokasikan memori 512MB ke sistem operasi ini. Lumayanlah, ini cukup untuk nantinya dicoba ke komputer-komputer tua yang sering disumbangkan untuk amal.

Proses pemasangan

Pemasangan berlangsung dan saya bisa lanjut.

Biasanya di sini ada salindia tentang fitur-fitur sistem operasi. Kali ini aplikasi pemasangan BlankOn Suroboyo hanya memperlihatkan perkembangan proses pemasangan sistem. Apakah ini untuk menurunkan kebutuhan memori? Ya, tak penting juga, sih. Toh, biasanya saat proses pemasangan kita melakukan kegiatan lain.

Selesai

Selesai pemasangan

Untuk masuk ke sistem baru pilih “Jalankan ulang komputer dan gunakan sistem baru”.

Tampilan Selamat Datang BlankOn Suroboyo 9.0

Tampilan Selamat Datang BlankOn Suroboyo 9.0

BlankOn Suroboyo menyediakan dua sesi secara baku:

  • Sesi BlankOn
  • Sesi GNOME

Secara baku, menggunakan sesi BlankOn.

Klik pada tombol di samping untuk memilih sesi. Normalnya ini tak perlu dilakukan.

Klik pada tombol di samping untuk memilih sesi. Normalnya ini tak perlu dilakukan.

Ini tampilan Destop.

Kali ini saya sedang libur, sehingga saya punya waktu untuk melihat parade aplikasi yang ada di BlankOn. Aplikasi terlihat menyatu dengan tematik. Saya mau bilang satu kata untuk GeoBlankOn: KEREN! [Sengaja ditebalkan dan dimiringkan untuk menunjukkan kekaguman yang saya miliki untuk para pengembang BlankOn]

Omong-omong, skrinsut ini diambil dari GIMP yang ada di BlankOn Suroboyo. Lalu, berkas-berkas ditransfer ke komputer dengan menggunakan SFTP dari Peramban Berkas. Cukup intuitif bagi yang mau mencoba.

Beberapa catatan yang saya lakukan setelah sebentar mencoba BlankOn:

  1. Synaptic tidak ada. Synaptic memiliki fitur untuk membuat berkas teks yang berisi berkas-berkas yang perlu diunduh untuk memasang suatu aplikasi. Fitur daftar unduhan ini perlu agar dapat mengunduh berkas-berkas paket Debian yang diperlukan dari komputer lain (Warnet misalnya). Kalau Warsi menyediakan fitur ini, saya dan banyak orang yang punya koneksi terbatas sangat berterima kasih.
  2. Dokumentasi penggunaan aplikasi belum tersedia. Biasanya saya memberitahukan kepada rekan-rekan untuk membaca dokumentasi yang bagus tersebut. Namun, kali ini BlankOn Suroboyo belum memilikinya.
  3. Tidak ada pemulai aplikasi (runner). Fitur ini sangat diperlukan untuk memulai aplikasi tanpa harus dari menu. Yah, memang ini untuk pengguna lanjutan. Tapi, ini membuat kerja lebih cepat.
  4. Manokwari sepertinya masih belum mengimplementasi Pintasan papan ketik. Saya masih harus menggunakan tetikus untuk mengakses menu. Alangkah baiknya bila bisa menggunakan pintasan papan ketik seperti beberapa versi sebelum Suroboyo.
  5. Tematik yang streamlined sangat solid, nampak sekali bahwa pengembang BlankOn menggunakan waktu mereka untuk membuat sebuah produk solid. Kudos untuk pengembang BlankOn.
  6. Saya menjalankan GIMP dan menjalankan aplikasi yang saya tangkap secara bersamaan hanya dengan komputer 512MB. WOW!

Yak, begitulah kira-kira. Saya menyarankan untuk para pengguna pemula untuk masuk ke BlankOn Suroboyo. Saya sendiri mau mengambil laptop dan memasang BlankOn 9. 🙂