Category Archives

32 Articles
Sampai Jumpa, OpenOffice.org!

Sampai Jumpa, OpenOffice.org!

Setelah komite komunitas OpenSolaris membunuh diri mereka sendiri, kini giliran komunitas OpenOffice.org yang melepaskan diri dari Oracle. Semenjak Oracle membeli SUN, beberapa proyek perangkat lunak bebas/terbuka banyak yang melepaskan diri. Kasus MySQL AB yang merupakan aset SUN misalnya, menjadi perdebatan hukum di Eropa karena hukum Antitrust. Selain itu, pendiri MySQL yang telah melepaskan sahamnya ke SUN menyatakan kekecewaannya dan mengajak untuk mengambil kode MySQL dan membuat proyek baru dari kode tersebut (forking). Yang paling mengejutkan adalah James Gosling tidak lagi di SUN. Ia berhenti setelah Oracle mengambil alih SUN.

[James Gosling adalah Bapak dari Java. Ia yang menjadikan hampir semua perangkat lunak di HP Anda bisa ada.]

Oracle memang sebuah fenomena yang baru, tetapi tindakan negatif mereka justru membuktikan bahwa sebuah perangkat lunak bebas/terbuka tidak akan pernah bisa mati. Bayangkan seandainya OpenOffice.org adalah sebuah solusi yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan komersial. Anda dapat kehilangan dukungan terhadap perangkat lunak Anda. Tidak salah jika kita mempercayakan proses bisnis kita kepada perangkat lunak bebas/terbuka.

Sampai jumpa, OpenOffice.org! Halo, LibreOffice!

Referensi:

LibreOffice Is The New OpenOffice.org – Phoronix

Phoronix is the leading technology website for Linux hardware reviews, open-source news, Linux benchmarks, open-source benchmarks, and computer hardware tests.

http://www.documentfoundation.org/faq/

http://www.eweek.com/c/a/Application-Development/Java-Creator-James-Gosling-Why-I-Quit-Oracle-813517/

Nostalgia dan Komentar

Nostalgia dan Komentar

Ketika memeriksa komunitas, saya menemukan tautan lagu pembuka Ksatria Baja Hitam RX. Lalu saya pun segera mencari-cari lagu lainnya. Ah, sungguh mengingatkan saya akan masa kecil sewaktu masih mengejar layang-layang dan Bondan Prakoso masih menyanyi Si Lumba-Lumba. Sungguh, masa itu sungguh masa yang baik untuk berkembang.

Saya ingat, dulu ada film McGyver yang membuat kami sewaktu kecil senang mengoprek-oprek. Yang saya ingat dari si bule ini adalah pisau Tentara Swiss-nya yang terkenal. Dia juga suka membuat sesuatu dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sewaktu dia disekap di gudang anggur dan sewaktu dia sedang di sarang gerilyawan. Di episode satu, di mana dia membuat bom dari kalkulator. Saya langsung menyukai kalkulator dan ingin mengoprek-opreknya. Hmm.. setelah diingat-ingat, saya sering merusak barang-barang di rumah. Ha… ha… ha….

Sinetron yang paling keren pada masa itu adalah Harta dan Tahta, Naga Bonar (yang versi Sandy Nayoan), serta keluarga Cemara. Oh, ada juga Si Doel Anak Sekolahan. Setiap sinetron itu mengajarkan banyak hal. Harta dan Tahta penuh dengan intrik dalam sebuah keluarga, Naga Bonar memberikan kelucuan seorang jenderal sebelum menjadi “orang”, dan Keluarga Cemara bercerita tentang Abah dan keluarganya yang baru saja menjadi miskin. Sungguh, masa-masa di mana film itu bukan sekedar jual tampang.

Setelah saya ingat-ingat semua itu, terutama film kartun masa lalu, saya berkesimpulan bahwa telah terjadi degradasi konten yang akut. Pantas saja semenjak tahun 2000an, para otaku non-Jepang selalu mengeluk-elukan bahasa Jepang asli. Kalau saya baca di forum para penggemar anime (Film Kartun Jepang), selalu ada saja yang menyela lagu-lagu sulih dan film yang telah disulih. Memang, hal ini terjadi karena kualitas penyulihan saat ini tidak sebagus di masa lalu.

Coba Anda dengar lagu Sailormoon, Ksatria Baja Hitam, Mojacko, dan film-film kartun lainnya pada tahun sebelum 2000an. Coba Anda baca komik-komik sebelum tahun itu. Lalu bandingkan dengan komik terjemahan zaman sekarang. Pasti perbedaannya antara bumi dan langit. Saya ingat, dahulu saya mengikuti komik Kenji dan saya akhir-akhir ini membaca versi fansub di Internet. Saya secara pribadi lebih menyenangi versi Indonesia, komik yang dulu saya baca. [Ugh saya benci banjir]

Komik Kenji menggunakan “Kungfu Delapan Mata Angin” untuk Bajiquan dan “Taichi” untuk “Tajiquan”. Terjemahan itu terasa alami dan terkesan bahwa penyulih sudah melakukan riset sebelum menerjemahkan. Mungkin, mereka sudah bertanya kepada ahli kungfu di Indonesia mengenai aliran-aliran tersebut. Beberapa nama pun mengalami adaptasi bentuk. Benar-benar komik dihargai sebagai salah satu karya sastra. Sedikit ingatan dari masa SMA (atau SMP?), bentuk penyulihan karya sastra itu ada dua: bentuk yang mempertahankan istilah dan bentuk yang mengadaptasi budaya lokal.

Dua film yang masih terbersit diingatan saya adalah Ksatria Baja Hitam dan Saint Seiya. Saya sangat suka Kotaro Minami. Tatapan tajam seperti seorang samurianya itu sungguh menggetarkan hati. Ketika dia berubah, itu membuat kita kesenangan dan tekad kuat di hatinya itu tergambarkan lewat ekspresinya. Kendati demikian, saya lebih suka abangnya. Gaya keren Shadow Moon itu, sepatu koboinya dan baju zirah peraknya sungguh mengesankan.

Ah, betapa beruntungnya saya mendapatkan film-film yang membentuk kepribadian saya. Untung saya bukan generasi yang lahir pada tayangan gosip dan sinetron dungu seperti sekarang.

What I’m Using Right Now

What I’m Using Right Now

If you ask me, what FOSS that I use. I would like to share it a little now.

# Operating System

Kubuntu 10.04 pre-release.

## Desktop

KDE SC 4.4

## Command line

I use Yakuake.

# Productivity Tools

For serious document, e.g. scientific paper, I use LaTEX. It is used on international journal. Many have their own template so I can do better writtings with it.

For making leaflet and simple document, I’m using OpenOffice.org 3.2.

For graphics, I entrusts GIMP + inkscape.

# Administering tools

## Database

For mySQL, I’m using TORA. I know it’s kinda weird using tool that was for Oracle. Well, it works for me.

For PostgreSQL, I’m using pgAdmin 3. I’m used to this tool. Its simple interface and the SQL browser and query is make sense to me. When I was the admin of database, I used to use this tools to do the vacuum operation flawlessly.

For web-based, I entrust all to PHP{my|pg}Admin. But, I don’t use this quite well.

## Web server

Apache HTTPd 2 (Apache2). This is the defacto standard on the web. It quite heavy, usually I’m combined it with others.

Lighttpd with AIO. It is available at SVN (SVN Head) and quite handy. I know this apps stable enough from a friend that runs an anime fansite. I use this for… (hehehe….)

NGINX. I don’t know what is NGINX capable of, but Iang showed this is the good thing. Many portals on Universitas Indonesia running with this as a proxy to Apache and whatever Rails server.

As you can see, I usually using a hybrid solution to get both advantages.

## Scripting

BASH. Yes, I know perl, but BASH by far is the make sense for me. I am not a script guru, but small programs in GNU/Linux is my Swiss army knife.

# Programming

## Netbeans

This is the real thing for Java programmer like me. I don’t want to start a flamewar, so for the fair mention, my co-worker using Eclipse as his tool.

## Project Management

Redmine.

## SCM

SVN and now considering to Mercurial.

##

# Fun

## Activity

I found it amusing that the plasma by KDE4 is a fun thing. It connects directly to Open Desktop community. It means it connect to any websites that uses Open Desktop specification.

## Chatting

Unfortunately, I’m using Pidgin because we use Proxy in campus. But, right now I’m using Kopete on my laptop because I’m using IM2 Broom.

Oh, I thank Indosat for their service. Since early February, I have full connection and the connection is stable. Now I can upgrade and download from everywhere, including my house. I used to do upgrades from campus because of the crappy signal it used to have.

## Microblogging

Choqok

## Browser

Because I’m in the KDE land, I’m using Arora + Konqueror. But, I still keeping my Firefox just in case.

## CD Tools

I’m using K3B for ripping my CDDA into ogg/flac. Use it also to write ISO to blank media.

## Blogging

I’m new to Blogilo, but now I’m trying to post using it.

What FOSS you would use?

Lucid on My Workstation (Preliminary Quest)

Lucid on My Workstation (Preliminary Quest)

Well, after the mess I made, screwed my workstation with Lucid upgrade. I finally decided to reinstall my Ubuntu. Mind you that Lucid is still on Alpha phase, so if you think that is not cool, wait until its prime time. Oh, btw, Lucid is a LTS and Ubuntu known to release unstable version if it was LTS. But, let’s just wait to prove that Ubuntu have break that habit, shall we? 😀

I’m installing the Lucid via debootstrap, just like the way in Karmic with special adjustment. I was planning on putting the Plymouth into action. So, when in the chrooted stage, I was installing Plymouth. But, it seems we need to tweak the Plymouth. Oh, btw, my Grub is using Debian Experimental’s, may be I need to adjust the boot parameters. Well, that’s the different story.

Here’s what I discover when installing preliminary Lucid:

  • SSH is not installed by default, neither the client nor the server.
  • Yakuake is in universe! That awesome must have Kubuntu application is in Universe?
  • PGAdmin3 is in the universe! Wow, this is a must have if you are an administrator.
  • KDE 4.4 Rocks! Integration is awesome
  • Everything seems natural for me

Talking about integration, when I was running Konqueror for the first time, I was asked to install additional packages that were needed to enable multimedia capability (which was stripped because of some countries copyright law). The great thing about KDE4.4 is the neat animation and placeholder. Many things now attached to its main component. For instance, the add widget is no longer a dialog, but a neat bar below.

Oh, the notification now have a history. You could see history per application so that you would never miss one. This is better than that Ayatana, creating more applet just to click.

FYI, I have now removed all of the Application Menu, including Lancelot. I just need to press META+R (or ALT+F2) and type what I want to do. Btw, when I was setting up the Run application, I just see QuickSand logo! QuickSand is a technology just like Finder in Mac, enabled by configuring Run to use Task oriented. That’s it, no more useless click. This is good for me, I have this tendency to forget what to do. With this, for instance, I want to do something with my study, I just type “kuliah”, then it would point me “KULIAH” directory. Well, at least now I am no longer lost. 🙄

Well, there are a lot things I would like to discover, but I will share that later. Time to work and discovering wonderful things!

Some screenshots:

My Desktop with KDE 4.4

Attached Configuration

To Include Or Not To Include

To Include Or Not To Include

Yth. para pengguna blog staff UI.

Jika Anda menemukan bahwa blog Anda belum teragregasi dengan baik di halaman depan blog staff. Hal yang terjadi sebenarnya adalah Anda belum mengaktifkan blog Anda sebagai blog publik sehingga AHP Sitewide Aggregator tidak mengagregasi blog Anda.

Cara untuk dapat diagregasi secara otomatis adalah dengan masuk ke panel administrasi Anda dan jadikan blog Anda sebagai blog publik. Berikut cara mengaktifkannya:

  1. Masuk ke panel administrasi dengan login ke blog.
  2. Pilih menu Options.
  3. Pilih menu Privacy.
  4. Pada Blog Visibility, pilih pilihan ““.
  5. Klik tombol Update Options.
  6. Selesai.

Pertanyaan hari ini adalah, apakah langkah-langkah di atas perlu dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap privasi atau langsung saja blog UI menganggap semua blog staff UI adalah blog publik?

Skrinsut wajib:

Cara Membuat Publik

Review of My KDE 4.2

Review of My KDE 4.2

Few weeks ago I screwed my computer by installing Xorg from Debian Experimental. My computer became unusable because the new Xorg feed on evdev (event-based driver or non-geek speaking: it hears a signal generated by the computer and acts based on the given input). The real deal is, you can just plug your PS/2 keyboard and/or mice without ever restarting again. The real pain is, at that time Debian wasn’t ready for auto-configuration. Btw, it also uninstall my synaptic and aptitude. Heck, that’s a lesson about what is being experimental all about.  😕

So, I downgraded my system to Unstable (yeah, yeah, still a non-stable version, but, hey, bleeding edge is cool).  Lucky! I haven’t restart my computer in about a week. Yay, stable! Here’s my current uptime

10:10:07 up 10 days, 23:26, 2 users, load average: 0.31, 0.40, 0.56

Fascinating isn’t it? What’s more, I upgraded my KDE from 4.1 to 4.2 (using Qt 4.5) and got to say kudos to all the developers! I even managed to run Opera 10 Alpha version. Of course, I didn’t forget about gtk-qt which made my GTK apps using my KDE4 theme. Plus, the unbeatable awesomeness of Amarok 2.

To sum all, I say KDE 4.2 is the real KDE4 ready for anyone. Boys and girls, get it while it hot!

Here are the screenshots snapshots:

Snapshot 1Snapshot 2 Snapshot 3Snapshot 4

Here’s the legend from left to right:

1: My desktop with all apps using one theme (Qt+GTK all using Qt theme)

2: My Application selector using carousel-like model.

3: My Amarok 2 using Album widget + Fuzzy playlist generator + Last.FM plugin = GG!

4: My development environment: eclipse + Yakuake featuring Run dialog with “Search As You Type” feature.