Category Archives

403 Articles
#TeamElonMusk
Super Android, recharge!

#TeamElonMusk

Mark Zuckerberg dan Elon Musk berselisih pendapat mengenai keberadaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/A.I.). Perselisihan dimulai dari Elon Musk yang menginginkan agar pemerintahan seluruh dunia segera bersatu membuat aturan yang mengatur kecerdasan buatan. Kemudian, melalui Facebook Live, Zuckerberg membantah Elon Musk dan mengatakan bahwa kecerdasan buatan sangat membantu dan berharap bahwa 10 tahun mendatang kecerdasan buatan dapat menolong memperbaiki kehidupan manusia. Elon Musk merupakan bagian dari penanda tangan surat terbuka yang dibuat tahun 2015 untuk meminta pengembangan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab.

Kata-kata Mereka

Agar elok, mari kita bandingkan perkataan mereka mengenai kecerdasan buatan agar lebih mudah membahas apa sebenarnya yang menjadi masalah.

Perkataan Elon Musk

Berikut apa yang dikatakan oleh Elon Musk:

“Normally the way regulations are set up is a whole bunch of bad things happen, there’s a public outcry and then after many years the regulatory agencies set up to regulate that industry. That in the past has been bad but not something that represented a fundamental risk to the existence of civilisation. AI is a fundamental risk to the existence of civilisation in a way that car accidents, aeroplane crashes, faulty drugs or bad food were not. They were harmful to a set of individuals but they were not harmful to society as a whole.”

Menurut Musk, normalnya regulasi dibuat setelah terjadi pertentangan di publik yang memaksa sesuatu untuk diregulasi. Hal ini karena risiko yang dapat timbul tidak mengancam keberadaan peradaban manusia. [Sedangkan] Kecerdasan Buatan adalah ancaman yang mengancam peradaban yang mana berbeda [tingkat ancamannya] dengan kecelakaan mobil, kecelakaan pesawat, obat-obatan terlarang,  atau makanan yang buruk. Semuanya itu berbahaya kepada beberapa individu, tetapi mereka tidak berbahaya kepada masyarakat secara keseluruhan [seperti kecerdasan buatan].

Elon Musk mencemaskan kecerdasan buatan yang dapat mengancam keberadaan peradaban manusia.

Perkataan Zuckerberg

Berikut yang dikatakan oleh Zuckerberg:

I have pretty strong opinions on this. I am optimistic. I think you can build things and the world gets better. But with AI especially, I am really optimistic. And I think people who are naysayers and try to drum up these doomsday scenarios—I just, I don’t understand it. It’s really negative and in some ways I actually think it is pretty irresponsible In the next five to 10 years, AI is going to deliver so many improvements in the quality of our lives… Whenever I hear people saying AI is going to hurt people in the future, I think, “yeah, you know, technology can generally always be used for good and bad, and you need to be careful about how you build it, and you need to be careful about what you build and how it is going to be used.” But people who are arguing for slowing down the process of building AI, I just find that really questionable. I have a hard time wrapping my head around that.

Zuckerberg berpendapat bahwa kita dapat membangun banyak hal untuk membuat dunia yang lebih baik. Tentang kecerdasan buatan, dia optimis dan tidak mengerti mengapa ada orang-orang yang menentang dengan alasan penyebab kiamat. Padahal, dalam waktu 10 tahun, kecerdasan buatan dapat meningkatkan kualitas hidup kita. Memang, semua teknologi bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan dan kita harus berhati-hati dalam menggunakan teknologi. Untuk orang-orang yang berargumen untuk memperlama proses pembuatan kecerdasan buatan, Zuckerberg mempertanyakan pendapat tersebut.

Zuckerberg berpendapat bahwa kecerdasan buatan hanyalah sebuah teknologi sama seperti teknologi lainnya. Ia dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan. Sehingga, memperlambat pengembangannya adalah hal yang tidak masuk akal.

Kecerdasan Buatan yang Dimaksud

Apa, sih, yang mereka perdebatkan?

Dari segi tingkat kecerdasan, ada tiga jenis kecerdasan buatan:

  • Kecerdasan Buatan Lemah, Weak A.I./Artificial Narrow Intelligence (ANI). Sistem kecerdasan buatan yang dibuat untuk menyelesaikan satu area permasalahan saja. Misalnya, kecerdasan buatan yang dibuat untuk bermain catur.
  • Kecerdasan Buatan Umum, Artificial General Intelligence (AGI). Sistem kecerdasan buatan yang dibuat untuk mereplikasi pikiran manusia.
  • Kecerdasan Buatan Super, Artificial Superintelligence (ASI). Sistem kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan berpikir jauh lebih pintar dari manusia.

Hal yang ditakutkan oleh Elon Musk adalah kecerdasan buatan umum (AGI) yang saat ini sedang dikembangkan. Ada dua sifat yang menjadi ancaman membuat kecerdasan buatan ini menakutkan:

  1. AGI memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Hal ini membuat penyeliaan menjadi proses yang rumit bahkan mustahil.
  2. AGI memiliki kemampuan untuk memperbaiki algoritma untuk mencapai tujuan. Perbaikan tanpa penyeliaan manusia dapat menghasilkan keputusan yang tidak dapat dicegah.

Intinya, ketika pengembangan kecerdasan buatan tanpa penyelia tercapai masalah dapat muncul. Arah algoritma yang tak terduga dapat membuat algoritma kecerdasan buatan menjadi jahat (rogue). Itu sebabnya, ada usaha seperti Google yang berusaha mengembangkan kecerdasan buatan yang tidak curang.

Ancaman Nyata Saat Ini

Hal yang paling berpengaruh dalam kecerdasan buatan adalah otomatisasi. Otomatisasi meningkatkan efisiensi yang dapat menurunkan biaya produksi. Lengan-lengan robotika dan mesin yang diatur secara canggih menghasilkan paket produk secara cepat.

Sayangnya, keberadaan otomatisasi menghilangkan kebutuhan industri akan pekerja (manusia). Otomatisasi menghilangkan banyak pekerjaan yang tersedia bagi manusia. Mereka tergantikan oleh mesin yang lebih efisien dan anti mogok kerja.

Zuckerberg tidaklah 100% melawan Musk. Seperti Elon Musk, dia menyetujui juga pentingnya pendapatan dasar universal (universal basic income, UBI). Pendapatan dasar universal adalah bantuan tunai langsung yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat akibat adanya otomatisasi industri yang menggantikan pekerja. Sebagai contoh, Pemerintah Alaska menerapkan kebijakan Permanent Fund Dividend (PFD) yang memberikan uang rata-rata senilai US$1.000,00 per kepala.

Pemerintahan SBY pernah mencoba melakukan program UBI melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT). Penyebabnya bukanlah otomatisasi industri, tetapi inflasi yang berlebihan. Namun, karena data penduduk yang digunakan adalah data lama, maka BLT berlangsung gagal dan mendapat kecaman. Timbul konflik di beberapa daerah akibat adanya BLT. Selain itu, persepsi masyarakat merasa bahwa BLT membebankan APBN. Waktu yang terbatas pun menjadikan BLT menjadi tidak tepat guna karena belum sempat efektif implementasinya.

Padahal, menurut Evans dan Popova dalam penelitian mereka di Kenya, justru tingkat penggunaan uang dari BLT sangat baik. Ketika wanita menjadi pemegang keuangan, alkohol dan rokok justru tidak terbeli. Mereka fokus untuk pemenuhan rumah tangga. Mungkin, itulah sebabnya Jokowi/Ahok menggunakan variasi BLT dalam KJP untuk dapat menaikkan standar hidup mereka sekaligus memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa uang yang diberikan tidak untuk disia-siakan.

UBI bisa jadi solusi jangka panjang untuk hilangnya lapangan pekerjaan. Ada tantangan yang akan dihadapi ketika ini diterapkan di Indonesia. Pendataan penduduk yang akurat dan waktu untuk menerapkan yang cukup lama. Selain itu, pemerintah memiliki tugas untuk meyakinkan masyarakat yang masih memiliki lapangan pekerjaan bahwa tidak apa untuk memberikan gratis uang kepada mereka yang pekerjaannya terhilang.

Saya belum yakin kalau Indonesia akan bisa menganggap mereka yang menganggur sebagai penyebab hilangnya lapangan pekerjaan. Jangan-jangan, saat otomatisasi tiba, kita akan mengira bahwa mereka hanyalah orang-orang yang malas. Bahkan, kita tidak lagi mengganggap mereka adalah orang-orang yang kesempatannya telah hilang, tetapi lebih rendah dari itu.

Itulah makanya, saya setuju bahwa pencapaian teknologi perlu diimbangi dengan kajian yang mendalam mengenai dampak sosial yang akan muncul. Tidak untuk mencegah kemajuan, namun untuk sebuah kemanusiaan yang masih bebas dan merdeka.

Pemasangan Oneplus 5: Bagian 2
Super Android, recharge!

Pemasangan Oneplus 5: Bagian 2

Pada bagian ini saya hendak menceritakan beberapa perkakas yang saya pasang untuk membantu saya.

Komponen Google

Ingat bahwa saya menghapus banyak aplikasi standar OOS? (Debloated)

Nampaknya, ada beberapa komponen Google yang harus ada supaya aplikasi dan penggunaan Oneplus maksimal.

  • Google. Nampaknya peluncur Oneplus dan komponen lainnya mengambil data dari API Google. Jadi, aplikasi ini terpasang secara baku.
  • GBoard. Saya suka dengan susunan tombol dari Google Keyboard.
  • GMail. Untuk mengakses surel yang diperlukan untuk spamming daftar ke banyak situs.
  • Google Calendar. Pengingat ulang tahun nomor wahid. Bisa rusak hubungan tanpa ini.
  • Google Drive. Setidaknya bisa melihat dokumen dengan ini.
  • Google Play Games. Mobile Legends menggunakan ini untuk menyimpan data. Apa? Anda pikir saya terlalu serius?
  • Google Text-to-speech (TTS). Penyedia NLP de facto di Android. Saya malas memasang yang alternatif. Teknologi TTS dibutuhkan untuk aplikasi yang menyebutkan sesuatu seperti nama jalan. Aplikasi Here MAPS yang saya gunakan butuh ini.
  • Snapseed. Untuk menjadi (mengemulasi diri seperti) anak gaul perlu banyak efek kamera yang komprehensif. Didukung dengan kamera yang prima, Snapseed menjadi perkakas utama untuk tampil prima di media sosial.

Komponen Magisk

Magisk adalah sebuah proyek baru yang mengimplementasi supersu, fungsi rooting di Android. Berikut adalah modul tambahan yang saya masukkan untuk membuat Oneplus 5 saya lebih berwarna:

  • Busybox for Android NDK. Seperti Google, aplikasi wajib.
  • F-Droid Privileged Extension. Aplikasi market yang memasang aplikasi FOSS.
  • Sony Music app Magisk Module. Saya pecinta Sony Ericsson dari zaman Z600 sampai terakhir Xperia Mini Pro. Berhubung tidak ada aplikasi musik pada ROM yang saya pasang, saya memilih aplikasi ini. Keunggulan dia adalah bisa memilih dari direktori atau pustaka. Plus, bisa mencari gambar album. Terakhir, menaruh lagu/album ke playlist.

Demikian.

 

 

Pemasangan Oneplus 5: Bagian 1
Super Android, recharge!

Pemasangan Oneplus 5: Bagian 1

Oneplus 5

Oneplus 5 package

Sebegitu rindunya saya memiliki Oneplus 5 sehingga saya pun terpaksa menelan harga diri dan menerima paket Oneplus 5 dengan bonus Beats. Ingat! Saya tidak menggunakan Beats, jadi jangan hakimi saya!

Paket yang saya beli memberikan saya satu karet pelindung, satu pelindung layar, dan satu Beats. Sayangnya, dari ketiganya hanya karet pelindung yang saya pakai sementara. Sisanya akan teronggok di gudang.

Langkah yang pertama ketika membuka Oneplus 5, seperti versi sebelumnya, saya mengganti ROM pabrikan. Hal ini penting karena ada beberapa fitur yang perlu:

  • AdAway untuk DNS anti iklan.
  • F-Droid untuk penyedia aplikasi GPL v3.
  • Membuang aplikasi yang tak perlu.
  • Deodexed, penjadwal kernel, dan beberapa fitur lainnya.
  • Dan beberapa aplikasi yang tak baik untuk disebut di sini.

Saya sebenarnya lebih suka ROM non-OOS (non-Oxygen OS). Namun, apa daya karena masih baru, ada galat seperti dukungan Bluetooth dan beberapa galat lainnya membuat saya masih berpaling ke ROM berbasis OOS.

Setelah riset beberapa saat, saya memutuskan untuk memilih berikut:

Aktifkan Debug

Dari Settings → About phone, ketuk beberapa kali pada baris Build number untuk mengaktifkan Developer options. Keluar dari About phone akan ada menu baru Developer options.

Aktifkan OEM unlocking untuk memasang ROM pemulihan terkustomisasi, TWRP.

Aktifkan USB Debugging agar dapat dikenali di komputer.

Setelah ini, sambungkan ke komputer. Telepon akan menanyakan apakah komputer dapat dipercaya. Silakan dicentang dan setujui. Bila benar, maka Oneplus akan dikenali:

Selanjutnya memasang BOOT.

Memasang Boot

Nyalakan ulang Oneplus ke mode Fastboot:

Buka segel Oneplus:

Saya asumsikan Anda sudah mengunduh twrp-3.1.1-1-cheeseburger.img di komputer Anda.

Nyalakan ulang dan masuk ke Recovery:

Salah satu kekurangan ketika dibuka kunci, perangkat Oneplus pasti mengaktifkan fungsi semacam menu GRUB sebelum masuk. Ya, tinggal pencet tombol Power, sih, untuk Start kalau tidak sabar menunggu beberapa detik.

Memasang ROM

Ketika di dalam mode Recovery, Anda dapat menggunakan menu-menu TWRP untuk memasang sistem. Tetapi, apa serunya? Saya menggunakan terminal dan TWRP.

Format Partisi Lama

Pada menu TWRP, pilih Wipe → Advanced Wipe

Pilih partisi-partisi berikut untuk dihapus:

  • Dalvik/ART Cache
  • Cache
  • System
  • Data

Sisakan Internal Storage dan USB-OTG. Lalu, Swipe to Wipe

Wipe before install

Tekan tombol kembali tiga kali untuk kembali ke menu utama.

Menaruh Berkas-berkas

Taruh berkas-berkas yang diperlukan ke Oneplus.

ROM

Kernel

Pemasang ROM xXx akan mengenali kernel Adin bila ditaruh pada direktori yang tepat:

Pasang ROM

Untuk memasang, di menu utama ketuk menu Install.

Pilih ZIP ROM xXx yang telah diunggah tadi.

Swipe to confirm Flash

Perhatikan bahwa kita tidak perlu memilih kernel Adin karena akan dideteksi nanti.

xXx Aroma Installer

Pilih Make your individual Selections karena saya suka kebebasan!

Pastikan pilihan berikut tercentang:

Reboot Options:

  • Reboot after Flashing

Root Access:

  • Magisk v13 by topjohnwu

xXx Tweaks:

  • xXx Tweaks Framework
  • Windows Animation Scales

Kernel:

  • Kernel Selection Menu

SDcard Fix:

  • Fix SDcard permissions

Update Radio and Firmware

  • Flash Radio and Firmware

Reset Magisk Repository Image

  • Reset Magisk Image (pastikan ini dipilih supaya bersih)

Ketuk Next untuk ke halaman selanjutnya.

Laman ini laman preferensi. Jadi, silakan saja pilih sesuka hati. Namun, berikut pilihan saya.

Launcher Selection:

  • OnePlus Launcher (saya pilih ini biar terasa rasa Oneplus-nya)

Sound Mods saya tidak pilih satu pun karena semua musik yang saya taruh saya rip dari CD yang saya beli sendiri.  Silakan pilih kedua pilihan yang ada kalau Anda mau.

Debloating:

  • Extreme Debloating

Emojis:

  • Oneplus Stock Emojis 

Ketuk Next untuk ke halaman selanjutnya.

Windows Animation Speeds:

  • Fast Animations (tergantung selera)

Ketuk Next untuk ke halaman selanjutnya.

Kernel Selections:

  • STOCK KERNEL
  • Adin Kernel – by adinkwok

Ketuk Next untuk ke halaman selanjutnya.

Ketuk Next untuk untuk memulai pemasangan sistem.

Bila benar, maka setelah selesai pemasangan, sistem akan dinyalakan ulang dan masuk ke sistem yang baru. Selanjutnya, pemasangan Oneplus seperti biasa.

Memasang React Native
Super Android, recharge!

Memasang React Native

WordPress semenjak versi 4.7 telah menambahkan fitur WP REST API v2. Dengan adanya fasilitas tersebut, WordPress bisa dibuat sebagai peladen API yang berisi artikel. Namun, yang paling penting dari semuanya itu, WordPress dapat menjadi peladen untuk aplikasi-aplikasi web modern macam React/Redux dan lain sebagainya.

Cara Pasang

Pastikan bahwa Android SDK sudah terpasang. Paling gampang, kita bisa langsung memasang Android Studio yang juga akan memasang Android SDK. Silakan ikuti tautan. Saya takkan menulis apa pun karena tutorial dari Google sudah ada yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Jalankan ketiga baris ini dan tambahkan ketiga baris tersebut ke dalam ~/.bashrc agar selalu otomatis terjalankan setiap kali Anda menjalankan sesi terminal baru.

Lalu, jalankan Android SDK Manager:

Dalam Android SDK Manager, pilih dua paket berikut:

  • Android SDK Build-tools versi 23.0.1
  • Android 6.0 (API 23) SDK Platform (Rev 3).

Silakan lihat gambar untuk lebih jelasnya.

SDK Android Platform Manager

Android SDK Manager, showing what to install to run React Native

Setelah ini, pasang React Native:

Ambil kopi atau sapa sanak saudara dari pada bengong lama menunggu proses pemasangan React Native.

Buat AVD Dulu

Buat terlebih dahulu sebuah emulasi mesin Android:

AVD Manager

AVD Manager, click Create to create new emulated Android device.

Pilih tombol Create.

Saya mengubah beberapa parameter berikut:

  • AVD Name: ReactNativeOS [Saya memang kurang kreatif :P]
  • Device: Nexus 5 [Terserah, sih]
  • Target: Android 5.1.1 – API Level 22
  • CPU/ABI: Intel Atom (x86_64)
  • Skin: Skin with dynamic hardware control
  • Front Camera, Back Camera: Emulated
  • SD Card: 200 MB
  • Emulation Options: Use Host GPU
Create Android Emulator

Create new Android Emulator based on Nexus 5 and API Level 21

Sisanya saya biarkan pilihan baku. Setelah itu, klik OK.

Jalankan Android yang baru dibuatkan:

Cara Pakai

Jalankan terlebih dahulu emulator AVD

Untuk membuat proyek baru:

Setelah pemasangan berhasil, masuk ke direktori dan jalankan peladen NodeJS:

Setelah itu, buka terminal baru lagi dan masuk ke direktori tersebut. Kalau mau di terminal yang sama, tambahkan tanda ampersand (“&”) setelah “start” agar Nodejs dijalankan di latar belakang.

Untuk melihat aplikasi Android yang sudah dibuat, jalankan:

Selamat mencoba. Sebenarnya, React Native bisa dijalankan di iOS, tapi saya tak mampu membeli SDK Apple. 😛

Membuat Sertifikat Let’s Encrypt Menggunakan certbot Di Debian Wheezy
By The people from the Tango! project, derived RRZEicons (The Tango! Desktop Project) [Public domain], via Wikimedia Commons, color modified by JP

Membuat Sertifikat Let’s Encrypt Menggunakan certbot Di Debian Wheezy

Maaf, ya, saya suka khilaf lupa menulis tulisan lanjutan. Ha… ha… ha….

Berikut ini adalah cara memasang sertifikat SSL yang ditandatangani oleh Let’s Encrypt dengan menggunakan certbot pada Debian Wheezy. Silakan lihat cara pasang di Wheezy untuk keterangan lebih lanjut.

Aktifkan Repo Debian Wheezy Backports

Anda bisa langsung mengaktifkan repo Debian Wheezy Backports:

Atau nanti tunggu ditanyakan pada saat menjalankan certbot.

Pasang certbot

Unduh dengan pengunduh favorit Anda.

Sebelum Memasang Let’s Encrypt

Siapa tahu Anda malas tidak punya waktu untuk membaca artikel sebelumnya, perhatikanlah:

  1. Pastikan semua domain yang didaftarkan sudah terdaftar di DNS publik.
  2. Pastikan bahwa direktori yang memuat URL untuk sertifikasi dapat diakses.

Penulisan DNS di luar cakupan tulisan ini. Berikut contoh direktori .well-known

Mari memasang certbot.

Sertifikasi

Seperti biasa:

Seandainya tadi Anda melewati bagian pemasangan repositori Debian Backports, maka Anda akan ditanyakan:

Lalu beberapa pesan pemasangan paket Python virtualenv. Kemudian, ditanyakan alamat info:

Lalu, ditanyakan apakah menyetujui syarat dan ketentuan yang diberikan, jawab A untuk setuju.

Setelah itu, tunggu beberapa saat.

Kalau sudah sampai sini, Anda sudah selesai mendapatkan sertifikasi dari Let’s Encrypt.

Konfigurasi NGINX

Kalau mau penjelasan, lihat artikel terdahulu.

Berikut blok SSL:

Nah, untuk Debian Wheezy, ada tambahan yang harus dilakukan.

Penambahan Penjadwalan CRON

Pada paket Debian Jessie, jadwal CRON untuk certbot sudah dipasang pada /etc/cron.d/certbot. Mari tambahkan secara manual untuk Debian Wheezy.

Pertama-tama, coba jalankan apakah sukses.

Kalau sudah berhasil, maka pasang pada CRON.

Masukkan entri:

Let’s Encrypt memandatkan untuk pengecekan sehari dua kali.

Terakhir

Selesai.

 

Bacaan Lebih Lanjut

Membuat Sertifikat Let’s Encrypt Menggunakan certbot Di Debian Jessie
By The people from the Tango! project, derived RRZEicons (The Tango! Desktop Project) [Public domain], via Wikimedia Commons, color modified by JP

Membuat Sertifikat Let’s Encrypt Menggunakan certbot Di Debian Jessie

Untuk mendukung web yang aman dan dalam rangka HTTP/2 yang sudah menggunakan SSL sebagai dasar koneksi, diperlukan sertifikat digital yang ditandatangani oleh pihak yang terpercaya. Situs yang memiliki sertifikat digital yang ditandatangani sendiri bahkan sudah ditandai oleh beberapa peramban sebagai situs tak aman. Tak ayal lagi, diperlukan tanda tangan digital yang terpercaya.

Kali ini kita menggunakan sebuah sertifikat gratis yang bernama Let’s Encrypt. Penyedia sertifikat ini (CA) didukung oleh EFF (Electronic Frontier Foundation), sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam aktivitas digital. Bahkan, organisasi nirlaba ini menyediakan perkakas untuk sertifikasi tanda tangan digital, certbot.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana dengan Sivion? Sivion adalah salah satu usaha dari Indonesia untuk itu. CA (penyedia sertifikat) dari Indonesia ini saat ini menyediakan tanda tangan gratis bagi kita. Namun, sayangnya mereka belum menyediakan perkakas sertifikasi seperti Let’s Encrypt.

Artikel kali ini membahas bagaimana memasang sertifikat Let’s Encrypt dengan certbot. Artikel ditulis untuk Debian Jessie.

Aktifkan Repo Debian Jessie Backports

Tambahkan ke daftar repo dan perbaharui daftar paket.

Saya tidak arahkan ke Kambing karena saya sedang malas membetulkan Kambing. Mungkin nanti setelah betul, saya arahkan ke Kambing. ;-P

Pasang certbot

Perkakas certbot ada di repo Jessie Backports.

Sebelum Memasang Let’s Encrypt

Ada dua hal yang menjadi kewajiban kita:

  1. Pastikan semua domain yang didaftarkan sudah terdaftar di DNS publik.
  2. Pastikan bahwa direktori yang memuat URL untuk sertifikasi dapat diakses.

Untuk pembuatan entri DNS di luar cakupan tulisan ini.

Halaman HTTP (tanpa SSL) untuk lokasi .well-known/ (http://example.com/.well-known/) harus dapat diakses. Bila Anda seperti saya yang mematikan non-SSL, harus ditambahkan dahulu pengecualian tersebut di peladen. Omong-omong saya menggunakan peladen NGINX. Contoh pengecualian:

Berikutnya, pasang.

Sertifikasi

Jalankan sertifikasi

Ikuti prosesnya, biasanya pertama-tama ditanyakan alamat surel yang bisa dihubungi bila ada apa-apa.

Enter our email address

Enter our email address

Setelah itu, biasanya ditanyakan kesediaan mengikuti syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh Let’s Encrypt. Pencet tombol [ENTER] saja.

Saya lupa menyuplikkan saat sudah berhasil. Ya, coba saja cek direktori /etc/letsencrypt/live yang seharusnya berisi satu direktori bernama domain pertama yang kita daftarkan.

Konfigurasi NGINX

Sebelum saya kasih konfigurasi penuh, saya coba berikan potongan.

SSL Baku

Untuk konfigurasi SSL baku gunakan sertifikat-sertifikat ini:

OCSP Stapling

Untuk memanfaatkan OCSP Stapling gunakan sertifikat ini:

Contoh Penuh

Ini contoh penuh blok SSL saya.

Terakhir

Untungnya menggunakan paket Debian Jessie adalah pembaharuan SSL berlangsung otomatis. Setelah ini saya akan buat tulisan untuk Debian Wheezy. Sayangnya, pemasangan Debian Wheezy lebih rumit dari Debian Jessie.

Selamat mencoba dan tinggalkan komentar bila ingin bertanya.

Bacaan Lebih Lanjut

Membuat Pemerintahan yang Tangkas dengan Metodologi Tangkas (Agile Method)

Membuat Pemerintahan yang Tangkas dengan Metodologi Tangkas (Agile Method)

Mark Schwartz berbicara mengenai bagaimana dia mau mengubah Departemen Imigrasi Amerika Serikat menjadi lebih mudah dan efisien. Berikut apa yang saya tangkap dari apa yang dia bagikan ditambah beberapa addendum dari saya.

  • Problem pertama Schwartz adalah adanya aturan MD 102 (Management Directive #102) dari Homeland Security untuk pengadaan proyek TIK. Dokumen tersebut menyediakan falsafah pengembangan menggunakan sebuah pengembangan air terjun (Waterfall SDLC) yang komprehensif. Pada buku tersebut, tercantum proses apa saja yang dilakukan dan dokumen apa saja yang harus dilakukan. Setelah mempelajarinya, Beliau mengumpulkan semua pelatih tangkas dan membuat sebuah sabda MD001, “mulai sekarang kita semua tangkas.” Beliau mendefinisikan 8 nilai inti dalam metodologi tangkas yang hendak diimplementasi.
  • Lebih lanjut, yang perlu dilakukan oleh Schwartz adalah menerjemahkan semua kebutuhan yang dicakup dalam MD102 dan memetakannya ke dalam sebuah Praktik Tangkas sehingga menjadi Birokrasi Ramping (Lean Bureaucracy).
    • Menggunakan Continues Integration (Integrasi Berkesinambungan) dan semua perkakas yang biasa digunakan: Chef (Infrastruktur sebagai pemrograman, otomatisasi deployment), Jenkins (perkakas pembangunan secara berkesinambungan), GIT (DVCS), Gradle, New Relic (Manajemen Log), AWS (Infrastruktur Awan), Gradle (perkakas kompilasi), Spring (Java).
    • Menerjemahkan aturan-aturan hukum menjadi Test Driven Methodology: (Metodologi Berbasis Pengujian)
      • Misalnya, untuk UU Disabilitas dibuatkan pengujian kode yang dapat mendukung disabilitas.
      • Menerapkan standarisasi keamanan menjadi analisis kode statik (Static Code Analysis).
      • Menerapkan level permainan yang sama bagi semua kontraktor yang menang tender. Mereka dapat langsung masuk dan menyelesaikan aplikasi tanpa bergantung kepada dokumentasi yang sebelumnya. Hal ini diakibatkan dari sifat Metodologi Tangkas yang menyediakan unit test dan berbagai macam penunjang sehingga pengembang bisa langsung masuk.
    • Menyediakan grafik-grafik dari data yang dapat dikumpulkan dari hulu ke hilir sehingga menghasilkan dokumen empirik yang dapat dinilai secara obyektif.
      • Semua Komponen pada Integrasi Berkesinambungan dapat dicatat!
      • Hal ini karena infrastruktur sendiri dijahit dalam kode-kode (Chef) yang dapat dimonitor (debug) dan dihitung.
      • Jenkins dapat menghasilkan catatan mengenai hasil kompilasi dan deployment setiap versi pembangunan (build).
      • Spring menyediakan instrumentasi untuk mengukur. (Lihat Spring Boot)
      • Infrastruktur Awan dapat menyediakan seberapa besar penggunaan sumber daya secara menyeluruh.
    • Menjalankan Chaos Monkey! 😛

Beliau juga berbicara pada AWS Government, Education and Nonprofits Symposium. Pada forum tersebut, Beliau menyatakan sebenarnya kebutuhan proses dalam birokrasi adalah

The speed from when we [government] realize a mission need to the time when we deploy a capability to meet that mission need.

Atau diterjemahkan sebagai berikut:

Waktu yang dibutuhkan untuk pemerintah mendapatkan sebuah kebutuhan misi sampai waktu yang diperlukan saat sebuah kemampuan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Biasanya yang terjadi adalah Pemerintah mendapatkan sebuah kebutuhan dan menunggu sampai lebih banyak lagi kebutuhan sehingga dapat dibundel menjadi satu Program Kerja. Akibat satu bundel Proker ini, mereka harus menulis sekitar 105 dokumen tebal yang kemungkinan tidak ada yang membaca. Baru, setelah itu mereka masuk ke Lelang. Setelah lelang berbagai hal (barang-barang, jasa pemasangan ke Pusat Data, jasa pengembangan, dll.), aplikasi dikembangkan. Setelah selesai pengembangan, aplikasi diuji untuk memenuhi kebutuhan. Terakhir, aplikasi diuji keamanan. Baru setelah itu (kemungkinan) digunakan.

Proses ini dapat menghabiskan waktu 12 tahun. Artinya, ada 12 tahun masa yang diperlukan untuk sebuah kebutuhan Pemerintah untuk dapat benar-benar dikerjakan. Bisa jadi, kebutuhan tersebut sudah berubah.

Yang dilakukan adalah Schwartz dan tim menciptakan sebuah Sistem Integrasi Berkesinambungan (Continues Integration System) yang memiliki sejumlah pengujian. Hal yang dilakukan oleh pengembang, setelah mereka menguji kode mereka, mereka pun menerbitkan (push) kode mereka ke sistem ini. Lalu, sistem ini yang kemudian menjalankan berbagai proses tes secara otomatis. Sehingga, setelah selesai proses ini sehingga menghasilkan satu versi pembangunan yang sukses, sistem ini langsung secara otomatis dapat diterbitkan ke infrastruktur awan untuk dijalankan langsung.

Untuk setiap pembaca yang belum begitu paham Metodologi Tangkas, Metodologi Tangkas menekankan pada “code often, deploy often”. Dalam Metodologi Tangkas Scrum, hal ini diterjemahkan dengan menyediakan solusi dari hulu ke hilir untuk Kebutuhan yang tidak terlalu besar. Bahkan, Scrum menyarankan untuk memotong-motong sebuah kebutuhan yang besar menjadi kebutuhan-kebutuhan yang kecil (atomik).

Kebutuhan-kebutuhan kecil ini menjadi semacam sayembara (bounty) yang dapat diambil oleh pengembang. Setiap kebutuhan atomik ini dihargai dengan poin. Dengan adanya poin ini, pengembang dapat menghitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk. Semua berlangsung secara empirik karena ada nilai dan proses. Kegiatan pengembangan pun dilakukan dari hulu (back end) ke hilir (front end). Sehingga, pada setiap akhir kegiatan pengembangan kebutuhan atomik, ada aplikasi yang berjalan (berfungsi/dapat diakses dan digunakan).

Dari sisi Pemerintahan, dengan kebutuhan yang kecil, maka risiko yang dapat dihasilkan pun mengecil. Sehingga, dokumentasi yang dibutuhkan, penilaian yang dilakukan, dan audit yang diperlukan tidak sebanyak yang lama. Waktu yang dibutuhkan pun menjadi kecil!

Apa artinya ini?

Inovasi sebenarnya lebih mudah di pemerintahan. Kalau secara personal, akan banyak diketemukan banyak inovasi dari hampir semua orang. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah banyak orang yang memiliki ide untuk meningkatkan berbagai proses merasa tak berkuasa. Mereka takut untuk harus terpenjara membuat 105 dokumentasi per ide mereka.

Dengan adanya Manajemen Identitas (SSO) yang sudah ada, infrastruktur awan yang sudah tersertifikasi fedRAMP, dan Infrastruktur Integrasi Berkesinambungan yang memenuhi kaidah-kaidah hukum, maka dapat dibuat eksperimen dengan biaya hampir tidak ada dengan potensi risiko yang rendah. Hal ini dapat dicapai asalkan ide yang ditawarkan dapat diterjemahkan menjadi aplikasi yang kemudian dapat dipublikasikan melalui Infrastruktur Integrasi Berkesinambungan tadi.

Eksperimen ini dapat langsung dijalankan dan diuji apakah berjalan baik atau tidak. Bila tidak, maka dapat langsung ditutup dengan hanya mematikan VM tersebut. Potensi kerugian pun minimal. Dengan potensi risiko dan biaya yang kecil, orang-orang tinggal diyakinkan untuk tidak malu untuk berinovasi. Hal ini mendukung inovasi dalam pemerintahan.

Satu catatan kecil, apa yang dilakukan Schwartz ini belum resmi karena menunggu Pemilu AS berakhir. Untuk mencari contoh yang berhasil, cari tidak lebih jauh ke Singapura. Singapura memiliki Badan Teknologi tersendiri untuk itu.

Singapura

Pada simposium yang sama, Chan Cheow Hoe menunjukkan bagaimana cara menerapkan layanan publik pada infrastruktur awan. Sebelum lebih lanjut membahas isinya, berikut hal menarik yang saya dapatkan dari Singapura:

  • Singapura telah mereformasi Depkominfo dan Departemen Penerangannya menjadi IMDA dan GovTech.
    • GovTech bertugas membangun platform kunci yang mendukung perkembangan infrastruktur teknologi yang aman untuk dapat dimanfaatkan oleh berbagai individu dan bisnis di Singapura. Misi mereka mendefinisikan Singapura sebagai Smart Nation. Sumber inovasi untuk TIK, IoT, dan membantu meningkatkan kemampuan Pemerintah Singapura dalam domain-domain ini.
    • IMDA bertujuan untuk membangun konten yang menghubungkan komunitas dan kepentingan. [sejujurnya saya tidak tertarik membahas peran IMDA, silakan baca sendiri di situs ;-P]
  • Ada beberapa hal yang hendak dicakup oleh GovTech:
    • Pemimpin dalam transformasi digital.
    • Program kerja Smart Nation dan Digital Gov.
    • Meningkatkan Kemitraan Teknologi
    • Membuat Open Data/OpenGov [Jakarta SmartCity seharusnya, UU Keterbukaan Informasi tujuannya, KPU C1 2014 contohnya] data.gov.sg yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak melalui API.

Berikut hal-hal yang dibicarakan oleh Chan Cheow Hoe:

  • Membuat sebuah pedoman dengan empat nilai berikut:
    • Meminimalisasi gesekan saat berhubungan dengan pemerintah. Intinya, mengurangi pertemuan langsung dengan pemerintah. Misalnya, pembuatan data terintegrasi dengan banyak perusahaan sehingga dapat membantu warga dalam membuat laporan pajak secara otomatis. (e-Filing yang terintegrasi)
      There should be no transaction if it’s not necessary.
    • Membuat komunitas digital dan ekosistem yang bermakna. Intinya, sih, sistem pelaporan Jakarta SmartCity plus beberapa eksperimen fungsionalitas.
    • Mengantisipasi isu-isu dan menyelesaikannya. Intinya, Big Data Analysis.
    • Menjembatani jurang digital. Intinya, berbagai program kerja pengentasan buta teknologi.
  • Menyediakan Infrastruktur Hibrida:
    • Managed Hosting. Untuk aplikasi-aplikasi tradisional.
    • Government cloud. Untuk sistem dengan data negara yang sensitif.
    • Public cloud. Untuk sistem yang menghasilkan data yang berhubungan dengan masyarakat.
  • Menerbitkan standarisasi Multi-Tier Cloud Security (MTCS) untuk menyeragamkan setiap penyedia layanan awan. Standarisasi MTCS ini sejajar dengan ISO27001. Dengan demikian, infrastruktur yang aman pun terjamin untuk kebutuhan Singapura (baik pemerintah mau pun sektor privat).

Bahkan Schwartz menyadari bahwa Pemerintah Singapura merupakan “kompetitor” yang luar biasa. Dia bahkan melucu bahwa dia jadi tertarik mau pindah ke Singapura. Aduh, kok, tulisan ini jadi panjang lebar, yah? Oh, tidak, waktu bermain game saya habis menulis ini.

Indonesia

Tadi saya perasaan mau menulis sesuatu, tapi hasrat bermain saya meninggi. Saya rasa rekan-rekan punya ide yang lebih baik. Ini beberapa hasil analisis saya.

  • PENTING: Perbanyak bergaul dengan Agile coach (pelatih tangkas). Baik AS mau pun Singapura merangkul profesional dalam membangun infrastruktur dan kebijakan.
  • Hukum: Anehnya, Hukum di Indonesia justru mendorong inovasi ini. Tidak ada MD102, bahkan adanya UU yang mendorong pembukaan (sebagian) data pemerintah ke sektor publik.
  • Hukum: Bahkan, ada hukum yang mengharuskan data ada di Indonesia untuk memproteksi kepentingan rakyat Indonesia.
  • Infrastruktur: Perkaya dan perkuat koneksi IIX! Kenyataannya, kebanyakan bisnis lebih percaya AWS. Bahkan, mereka lebih mempercayai Digital Ocean dan Microsoft Azure yang baru saja loncat ke sektor awan. Semuanya tidak ada satu pun di Indonesia.
  • Infrastruktur: PLN memiliki layanan yang semakin baik, demikian dari hasil survei kecil-kecilan saya dengan teman-teman Facebook saya. Seharusnya, ini bisa jadi modal untuk penyediaan datacenter yang lebih terpadu. Berapa, sih, biaya untuk membangun satu infrastruktur kecil untuk menyokong datacenter?
  • Infrastruktur: Sebagian besar (semua) pemain Indonesia yang menyediakan infrastruktur awan tidak menawarkan teknologi DevOps, tetapi teknologi kuno yang sulit untuk menerapkan Sistem Integrasi Berkesinambungan dan Infrastruktur Sebagai Kode.
  • Standarisasi: Baik AS (fedRAMP) mau pun Singapura (MTCS) memiliki standarisasi infrastruktur awan. Di Indonesia apa, ya?

Sejauh mana Indonesia mengantisipasi DevOps? Saya tahu Pak Utian sedang membangun pasukan OpenStack. Semoga pemerintah lebih aktif lagi mendorong infrastruktur TIK di Indonesia. Menghapus peraturan-peraturan non-UU yang konyol. Jangan sampai “produk Indonesia, dikode oleh perusahaan India, dan dipublikasikan di AWS Singapura.”***

Bisa, ‘kah, 99,9% produk Indonesia?

Sebelum Anda menuduh saya juga berpangku tangan. Tadinya, sih, saya mau menulis tentang Gradle dan teknologi terbaru lainnya. Tetapi, komentar yang saya terima hanya komentar SPAM dan SEO. Di blog tanpa iklan, bisa diambil langsung RSS-nya, dan bisa diaktifkan tanpa Javascript dan Cookies begini masih saja dibegitukan. Malas, ah, jadinya.

Lagi pula, saya juga termasuk yang masih aliran Stallmanisme, termasuk yang masih anti awan (agak murtad, sih). Tapi, kenyataan pahit. Mau tak mau, kita harus belajar terbang di awan. Ha… ha… ha….

 

***Saya bukannya anti globalisasi, tapi setidaknya Indonesia juga menjadi produsen dalam beberapa hal sehingga seimbanglah neracanya.

MariaDB + Galera Cluster + HAProxy untuk Basisdata Lebih Handal

MariaDB + Galera Cluster + HAProxy untuk Basisdata Lebih Handal

HA Proxy Galera

HA Proxy encapsulate a Galera cluster for High-Availability solution.

Ada banyak aplikasi PHP di luar sana yang secara naas belum bisa pindah dari MySQL ke PostgreSQL. Aplikasi seperti WordPress dan Magento. Untuk aplikasi-aplikasi kritikal tersebut, diperlukan adanya redundansi untuk menjamin data. Untungnya, sekarang sudah ada produk Galera Cluster yang bisa mencapai itu. Produk ini menjadikan serangkaian MySQL Server untuk memiliki replikasi data yang sama.

Eh, tapi kayaknya kalau nanti PHP7 sudah resmi, mereka bakal dipaksa menggunakan ADODB, deh. Abstraksi ADODB memungkinkan SQL yang portabel. Hmm… sepertinya alasan ini nantinya bakal tidak ada.

Atau, mungkin Anda tertarik mengetahui bagaimana layanan MySQL Object (DBaaS) pada AWS dibuat? Atau, bagaimana layanan DBaaS pada OpenStack dibuat?

Ah, sudahlah, apa pun alasan supaya artikel ini ditulis supaya menjaga semangat ngeblog. Sejujurnya, saya menulis tutorial ini karena mood lagi naik akibat mendapatkan banyak Pokémon unik tadi siang di Perpustakaan Pusat UI.

Konfigurasi Peladen

Supaya tidak pusing, saya jelaskan dalam contoh kali ini ada 4 peladen. Satu peladen untuk HAProxy (harusnya dua, tapi saya malas). Lalu, tiga peladen menjadi peladen MySQL. Saya memilih untuk menggunakan MariaDB karena gratis dan mudah konfigurasi Galera-nya.

Peladen HAPROXY (selanjutnya dalam artikel akan saya sebut HAProxy)

  • IP 1: 192.168.1.12
  • IP 2: 192.168.101.1

IP 1 adalah IP eksternal yang digunakan untuk berhubungan dengan aplikasi. IP 2 adalah IP internal dalam jaringan lokal basisdata. Perhatikan baik-baik! Implementasi pusat data yang baik seharusnya memisahkan antara jaringan aplikasi, jaringan basisdata, jaringan administrasi, dan jaringan lainnya. Walau pun keempat peladen ini dijalankan pada VirtualBox sekalipun, tetap saya pisahkan untuk menunjukkan arsitektur yang benar.

Ada tiga peladen yang akan digunakan sebagai peladen basisdata. Saya akan namakan MariaDB1 (192.168.101.10), MariaDB2 (192.168.101.11), dan MariaDB3 (192.168.101.12). Walau pun nantinya setiap peladen bisa ditulisi, saya akan menggunakan peladen MariaDB1 sebagai awalan.

Berhubung saya malas, saya akan kurang detail menjelaskan. Silakan tinggalkan komentar bila kurang jelas. Saya menggunakan Debian Jessie sebagai sistem operasi dasar. Lalu, saya memilih menggunakan MariaDB 10.1 karena dia sudah mendukung langsung Galera Cluster.

Memasang MariaDB

Lakukan ini pada setiap peladen MariaDB: MariaDB1, MariaDB2, dan MariaDB3. Pokoknya, identik!

Memasang Peladen MariaDB

Aktifkan repositori MariaDB. Sebagai contoh dengan menggunakan Perkakas Konfigurasi Repositori kali ini saya ambil cermin Biznet karena yang sebelumnya Kartolo. Buatlah berkas /etc/apt/sources.list.d/mariadb.list yang berisi:

Atau cara lainnya:

Setelah itu, impor kunci publik repositori MariaDB:

MariaDB versi 10.1 sudah memasang Galera secara baku. Jadi, perintah pemasangan menjadi lebih mudah, cukup:

Setelah itu, matikan layanan MariaDB:

Atau, kalau Anda nyentrik atau punya alasan idealisme lainnya sehingga tidak menggunakan SystemD:

Setelah ini, konfigurasi Galera.

Berkas yang Identik

Debian Jessie menggunakan konfigurasi /etc/mysql/debian.cnf untuk menyediakan pengguna internalnya. Pengguna internal ini yang digunakan oleh Debian dalam mengonfigurasi peladen MySQL. Salin berkas tersebut dari MariaDB1 ke MariaDB2 dan MariaDB3 sehingga ketiganya memiliki /etc/mysql/debian.cnf yang identik.

Hanya berkas ini yang tidak identik karena dibuat secara otomatis oleh Debian pada saat pemasangan. Tetapi, kita perlu ketiga peladen memiliki konfigurasi yang identik. Itu sebabnya, satu berkas yang berbeda ini yang perlu disamakan.

Buat Konfigurasi untuk Kluster Galera

Pada ketiga peladen (MariaDB1, MariaDB2, MariaDB3) buat konfigurasi /etc/mysql/conf.d/galera.cnf

Silakan ganti nama berkas galera.cnf dengan nama lain kalau Anda mau. Silakan ganti “apakek_cluster” sesuai selera Anda untuk mendapatkan nama kluster yang jauh lebih baik.

Aktifkan Salah Satu Peladen Terlebih Dahulu

Lakukan langkah ini di salah satu peladen yang akan dimulai pertama kali. Bisa jadi karena pemasangan baru seperti saat ini. Atau, bisa jadi ada mati lampu sehingga menyebabkan seluruh kluster mati. Atau, laptop Anda baru dinyalakan kembali. Intinya, lakukan langkah ini pada saat tidak ada satu pun peladen yang menyala dan kluster ini baru mau dinyalakan dulu.

Bila pada kasus mati lampu atau peladen mati mendadak (crash), periksa berkas /var/lib/mysql/grastate.dat pada masing-masing peladen untuk memilih mana peladen dengan data terbaru. Sehingga, peladen tersebutlah yang dimulai pertama kali.

Bila Anda menggunakan SystemD, gunakan skrip ini:

Atau, demi alasan idealisme atau apa pun sehingga Anda membuang SystemD dan menggunakan sistem init lainnya:

Pada saat ini seharusnya sudah berjalan:

Kalau 0, berarti Anda ada salah konfigurasi di suatu tempat.

Jalankan Peladen MariaDB Sisanya

Pada dua peladen sisanya, MariaDB dijalankan dengan cara normal:

Atau

Seharusnya, apabila tidak ada kerusakan, pada akhirnya akan ada tiga peladen.

Sampai saat ini, Galera sudah selesai dibuat. Anda lakukan operasi SQL pada salah satu peladen mana pun hasilnya akan sama.

BONUS TUGAS

Terakhir, untuk tugas. Silakan buat satu pengguna Admin Super yang bisa membuat basis data dan penggunanya. Pengguna ini harus bisa mengakses dari luar.

Konfigurasi HAProxy

Pada salah satu peladen MariaDB (MariaDB1/MariaDB2/MariaDB3), buat sebuah pengguna HAProxy di basisdata. Pengguna ini akan mengkueri basisdata untuk mengecek keberlangsungan masing-masing peladen.

Ganti nama pengguna haproxy dengan sesuatu yang lebih kreatif. Demi keamanan, jangan cuma copas saja di sini!

Lalu, masuk pada peladen HAProxy dan pasang HAProxy di sana:

Lalu, buat konfigurasi HAProxy. Caranya, tambahkan baris-baris ini pada berkas konfigurasi /etc/haproxy/haproxy.cfg

Ganti nama pengguna haproxy dengan sesuatu yang lebih kreatif. Demi keamanan, jangan cuma copas saja di sini!

Lalu, jalankan ulang HAProxy. (Pada titik ini saya sudah malas membuat dua versi)

Selesai.

Optimasi

Bonus untuk landasan pemikiran. Berikut arsitektur-arsitektur alternatif yang bisa dibuat untuk memenuhi kebutuhan.

  1. Ganti HAProxy dengan perangkat keras router atau load-balancer.
  2. Pasang HAProxy pada setiap peladen aplikasi agar menghilangkan bottleneck jaringan. Jadi, hubungan antara aplikasi dan basisdata menjadi M:N. Kalau pakai ini, HAProxy lebih baik bind ke localhost jangan ke IP. Jadi, akses per aplikasi langsung ke localhost. Ini pondasi arsitektur layanan mikro (microservice architecture).
    HAProxy per apps

    HAProxy per apps

  3. Partisi peladen-peladen aplikasi untuk mengakses hanya salah peladen dalam kluster.
  4. Tambah jumlah peladen dalam kluster.

Jumlah kluster 3 itu adalah demi memenuhi konsep kuorum.

Optimasi Lebih Lanjut yang Belum Sempat Ditulis Karena Saya Ingin Mencari Pokémon Lagi Riset Lebih Lanjut

Ada riset lanjutan yang dapat membuat arsitektur aplikasi lebih terskalakan. Yakni, membuat sebuah peladen obyek penyimpan (storage object) semacam Amazon S3 dengan menggunakan OpenStack Swift dengan menggunakan CEPH. Atau, implementasi sederhana dengan GlusterFS atau NFS. Silakan kembangkan lebih lanjut agar aplikasi Anda lebih terskalakan.

Gunakan Puppet, Ansible, Chef, atau konfigurator apa pun yang lebih baik. Kalau arsitektur sudah skala besar seperti ini, mengubah peladen satu persatu itu sudah mustahil bila tanpa ada kesalahan. Buat tutorial ini menjadi cookbook/rule yang bisa secara dinamis di-deploy.

Semoga bermanfaat.

Bacaan Lebih Lanjut

Pokémon GO

Pokémon GO

Pokémon GO adalah sebuah permainan baru yang memiliki fitur AR (Augmented Reality). Teknologi AR ini memberikan efek bahwa lingkungan sekitar kita ada hal-hal yang lain. Dalam hal ini, ada Pokémon yang sedang bermain di atas meja contohnya.

Setidaknya di UI banyak orang berkumpul bermain permainan ini. Tempat yang paling sering dikunjungi adalah Perpustakaan UI, terutama yang mendekati danau. Kalau waktu malam, Parkiran FIB, Halte Sepeda Fasilkom, dan Perpustakaan UI.

Pokémon GO dikembangkan oleh Niantic, perusahaan yang mengembangkan permainan serupa, INGRESS. Data spasial Pokémon GO ini memang diambil dari INGRESS. Jangan heran oleh sebab itu di Indonesia banyak situs yang bisa dikunjungi untuk mendapatkan Pokémon langka. Bahkan, kalau mau lebih lanjut, kita bisa menebak Pokémon langka dari permainan INGRESS.

Demikian. Mengenai isu privasi dan dampak sosial, saya akan tuliskan lebih lanjut apabila kemalasan menghilang. Sekian.

Dao Modularitas: Contoh Kasus Penggunaan Modul Untuk Decoupling Dengan Gradle

Dao Modularitas: Contoh Kasus Penggunaan Modul Untuk Decoupling Dengan Gradle

Mari gunakan hasil karya terdahulu yang sudah modular.

Saat ini saya akan menggunakan metode decoupling berdasarkan tujuan (goal-based) versi yang telah disederhanakan. Tentu tidak akan serumit reverse engineering pada tulisan saya. Tulisan (Yu et al., 2005, 363--372) yang saya bahas itu rasanya terlalu rumit untuk dikembangkan di tulisan ini. Oke, sejujurnya saya juga sedang malas menggambar diagram.

Saya mengambil teknik Extract Method dari (Martin Fowler, 1999, 89--91) yang digunakan di awal metodologi itu. Agar sederhana, saya modifikasi metodologi agar menerjemahkan menjadi cerita (user story), bukan notasi ilmiah.

Contoh Metodologi Reverse Engineering Goal Based of JP, Abridge Version

Mari lihat kembali kelas yang telah dibuat sebelumnya.

Apa yang dilakukan? Mari kita ceritakan dalam kalimat cerita:

Program ini mencetak ke terminal tulisan “Hello, world!”.

Dari cerita ini, ternyata ada dua tujuan yang terlihat jelas:

  1. Mencetak ke terminal.
  2. Tulisan “Hello, world!”.

Mencetak ke terminal (1) adalah sebuah tujuan yang bisa dibuat umum. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan fungsi (1) ini. Fungsi ini bisa diekstraksi dan dijadikan sebuah fungsi terpisah agar bisa dimanfaatkan yang lainnya. Maka direkomendasikan agar (1) dijadikan fungsi terpisah.

Tulisan “Hello, world!” (2) adalah sebuah tujuan yang spesifik. Dia tidak bisa dipakai untuk yang lain. Maka, direkomendasikan untuk tetap untuk di sana.

Wow, Kisanak mungkin berpikir. Gampang juga, yah. Ternyata hanya begitu saja!

Kisanak salah! Ilmu ini masih versi disederhanakan (abridge version). Mari saya bukakan sedikit tentang tujuan tersirat (soft goal). Pada metodologi Reverse Engineering Goal Based of JP, salah satu yang diperhitungkan adalah tujuan tersirat (soft goal)!

Ada banyak tujuan tersirat yang kalau pada bahasa SDLC disebut sebagai non-functional requirement. Seandainya proyek ini ditentukan tujuannya (bahasa lainnya: Scrum Goal, non-functional requirement pada Waterfall, dan lain sebagainya tergantung paguyuban tempat Kisanak berguru). Pada iterasi selanjutnya, (2) dapat dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan menambahkan tujuan tersirat:

  1. Ingin menyapa bukan hanya dunia. Nama yang hendak disapa dapat diperoleh melalui STDIN (nama kerennya terminal). Rekomendasi: dibuatkan sebuah variabel dengan nilai baku “Hello, %s!”. Lalu, tangkap nama melalui STDIN. Masukkan nama ke senarai yang telah dibuat itu. Terakhir, cetak.
  2. Ingin agar ini dapat dimengerti hampir semua orang. Rekomendasi: dibuatkan variabel berisi “Hello” yang dianotasi dengan i18n. Gunakan framework lokalisasi.

Jangan lupa, bahwa bahkan pengumpulan kebutuhan dapat diiterasikan agar lebih jelas. Contohnya untuk tujuan tersirat (1). Diiterasikan kembali bahwa keamanan merupakan fitur utama. Tujuan tersirat (1), ditambahkan fungsi pengecekan Regex sebagai validasi sebelum memroses (1.1). Agar menarik, maka dibuatkan pemformat yang dapat menghasilkan keluaran yang cantik ke terminal (1.2).

Kisanak tentu bertanya, bagaimana cara menentukan tujuan tersirat ini? Sampai sedalam mana iterasi ini? Bisa jadi aplikasi menjadi besar dan bahkan untuk fungsi sederhana menjadi sulit. Itu sebabnya, biasanya tujuan tersirat biasanya dibuat di awal proyek dan berlaku global atau setidaknya dalam sebuah cakupan submodul. Beberapa perguruan silat membuat itu menjadi standar baku. Inilah yang dimaksud dengan Design Pattern bukan hanya berbicara kode, tetapi standar baku di sebuah perusahaan.

Astaga, sampai mana saya tadi?

Oh, iya, intinya, sudah saya jelaskan bahwa fungsi menulis ke terminal bisa diekstraksi ke fungsi lainnya. Karena dia bisa dipakai untuk yang lain, maka dia bisa dijadikan sebuah modul tersendiri. Pada proses penentuan modul, Kisanak dapat bisa mengenali apakah fungsi cetak ke terminal ini dijadikan proyek tersendiri sehingga bisa dimanfaatkan oleh proyek-proyek yang lainnya. Apalagi, dia tidak sesuai dengan tujuan proyek ini, membuat aplikasi percuma/sia-sia. Dia sudah sangat berguna sehingga tidak masuk lagi hitungan. Ha… ha… ha….

Mari Implementasikan ke Gradle

Setelah makanan bagi jiwa, sekarang saatnya ke Gradle. Pada direktori dasar proyek, mari buat submodul:

Seperti biasa, masukkan percuma-libs ke proyek utama.

Kalau benar, maka akan muncul sebagai submodul proyek percuma.

Buat konfigurasi untuk mengompilasi percuma-libs.

Sekarang, mari buat sebuah kelas Java.

Setelah membuat submodul ini, mari tambahkan submodul percuma-libs sebagai salah satu pustaka yang dibutuhkan oleh percuma-apps.

Mari ubah kelas TestMain untuk menggunakan pustaka yang sudah kita masukkan. Ubah baris:

menjadi:

Atau kalau dari terminal:

Selesai sudah.

Judul Cuma untuk Pembatas Saja dan Saya Bingung Apa Namanya Karena Artikel Ini Bukan Artikel Terakhir Karena Entah Mengapa Kalau Saya Beri Nama Penutup Artikel Selanjutnya Tidak Pernah Jadi

Sampai sini, Kisanak bisa langsung menjalankan “./gradlew run” seperti biasa. Seharusnya, sih, keluarannya sama.

Sampai sini saya juga berpikir, apakah saya perlu mengubah gaya menulis saya? Saya biasanya menggunakan frasa, “silakan gunakan penyunting kesukaan Anda.” Kali ini saya paksakan semua kita menggunakan penyunting saya, terminal GNU/Linux.

Semuanya bisa langsung dicobakan di terminal pada sistem operasi GNU/Linux. Mohon beritahu saya kalau ada yang tidak jalan.

Selanjutnya

Kisanak berpikir setelah menguasai modularitas dengan Gradle dan metodologi cetek Reverse Engineering of JP, Abridge Version, Kisanak merasa sudah elit?

Sayang sekali, Kisanak. Kalau Kisanak sadar, cara penamaan paket saya kacau! Mana benar itu penulisan “aja.jp.percuma”? Seharusnya “edu.ui.jp.percuma” sesuai dengan organisasi yang jam kerjanya saya ambil untuk menulis ini atau “jp.percuma” karena “aja” bukanlah top level domain yang lazim. Pokoknya, konvensi penamaan ini penting.

Ah, Pak JP, apakah ada yang perlu saya pelajari? Mohon ajari, bila berkenan.

Saya suka sikap Kisanak! Nama paket akan sangat berpengaruh terhadap Artifak. Artifak adalah obyek-obyek hasil kultivasi yang banyak dipakai orang. Misalnya, menggunakan Maven dalam POM yang ada di JCenter atau Maven Repository.

Tergantung mood saya, saya akan membahas cara membuat peladen artifak lokal (bonus kalau saya lagi mood) dan  membuat artifak dengan Gradle dan mengimpor artifak dengan Gradle. Atau, mungkin hanya di sekitar artifak saja. Entahlah…. Film apa yang bagus untuk mood saya, ya?

Daftar Pustaka

Martin Fowler (1999). Refactoring: Improving the Design of Existing Code. Boston: Addison-Wesley Professional. doi: 0201485672 9780201485677. Retrieved from Addison-Wesley Professional: www.worldcat.org/isbn/0201485672.^
Yu, Yijun and Wang, Yiqiao and Mylopoulos, J. and Liaskos, S. and Lapouchnian, A. and Leite (2005, August). Reverse engineering goal models from legacy code 13th IEEE International Conference on Requirements Engineering (RE'05), [NO VOLUME]([NO ISSUE]), 363--372. doi: 10.1109/RE.2005.61.^
Membuat Sub Modul pada Gradle Sebagai Lanjutan Tulisan Iseng Kemarin Karena Mood Saya Enak Setelah Puas Menonton Warcraft Kemarin

Membuat Sub Modul pada Gradle Sebagai Lanjutan Tulisan Iseng Kemarin Karena Mood Saya Enak Setelah Puas Menonton Warcraft Kemarin

Kisanak pikir setelah mengerti jurus Kunyuk Melempar Pisang, Kisanak sudah bisa menguasai dunia persilatan? Kisanak harus mawas diri dan mengerti bahwa di atas langit masih ada langit lagi. Jurus itu mungkin bisa membuat Anda selamat di dunia persilatan. Camkan ini:

Di atas langit masih ada langit; ilmu yang dikuasai hanyalah setitik dari samudera.

Ketika aplikasi yang dibuat hanya sederhana, ilmu jurus Kunyuk Melempar Pisang sudah cukup. Masalah baru ketahuan setelah Kisanak naik level dengan aplikasi yang besar dan kompleksitas tinggi. Niscaya Kisanak akan menemukan bahwa Kisanak hanyalah jawara kampung.

Untuk dapat merajai dunia persilatan, ada konsep lain yang Kisanak mesti pahami: modularitas.

Kisanak harus bisa memilah. Mana yang kekhususannya untuk menghadapi basisdata. Mana yang kekhususannya menampilkan dan memroses laman web. Mana kekhususannya mengurusi logaritma. Dan berbagai kekhususan lainnya. Dengan memahami kekhususan ini, Kisanak bisa melakukan dua konsep ini: reuse dan melacak ketergantungan.

Reuse, adalah konsep sakral pemrograman. Seperti pemeo berkata, “do not invent the wheels.” Kode yang baik adalah yang bisa memisahkan dengan baik fungsi-fungsi dalam berkas/proyek terpisah sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak. Proses untuk mengubah dari kode yang kompleks dan rumit menjadi terpecah-pecah dan modular ini disebut proses decoupling.

Decoupling adalah sebuah Dao yang mendalam. Banyak yang berusaha menemukan misteri dibaliknya. Sedikit yang dapat menguasai Dao ini. Mereka yang telah mencapai pencerahan, merekalah sesungguhnya yang merajai dunia persilatan!

Di dunia persilatan, ada beberapa ilmu kanuragan untuk decoupling. Ada yang memiliki karma tinggi sehingga bisa mampu menguasai level tinggi menggunakan ilmu Pemrograman Dinamis (Dynamic Programming), ilmu Kalkulus Lambda (Lambda Programming), dan lain-lain. Banyak juga orang yang tergabung dalam sekte-sekte yang memiliki repositori Dao mendalam. Mereka ini banyak mengkultivasi ilmu Design Pattern. Pernah ada legenda bahwa sebuah ilmu ilmu legendaris yang sepertinya hilang ditelan bumi seperti KAOS bisa menguasai penuh Dao ini.

Sayangnya, untuk orang-orang biasa, yang paling banyak dikultivasi orang adalah variasi ilmu Tebak-tebak Berhadiah. Ilmu ini mudah dikuasai, namun ia takkan mampu memberikan pencerahan sampai menguasai seluruh Dao. Itu sebabnya, bagi orang-orang kebanyakan, mukadimah ini semua tidak berguna.

Mereka akan mengira bahwa apa yang ditulis ini hanyalah mengisi luang supaya entri ini banyak. Camkanlah satu rahasia langit ini, Kisanak: tutorial ini hanyalah gerbang menuju Dao decoupling. Yang perlu dipahami selanjutnya adalah melatih pikiran.

Melatih jiwa, melatih raga. Melatih roh, melatih kode. Lepas dari Samsara, lepas dari debug tak berakhir.

Pindah ke Gradle Modular

Mari dapatkan proyek yang telah dibuat sebelumnya:

Setelah masuk ke direktori proyek terdahulu, mari ubah menjadi modular.

Buat direktori untuk menjadi sebuah submodul dan pindahkan berkas build.gradle dan seluruh kode sumber.

Ingat, build.gradle adalah seperti Makefile. Isinya adalah aturan yang diperlukan untuk mengompilasi.

Selanjutnya, beritahu percuma bahwa dia memiliki submodul percuma-app.

Terakhir, tambahkan modul percuma-app sebagai syarat yang dibutuhkan oleh percuma.

Karena kita mau mengompilasi proyek ini, maka jangan lupa tambahkan plugin java pada aturan Gradle. Secara otomatis Gradle akan menjalankan perintah-perintah yang dijalankan pada proyek utama pada submodulnya nanti. Kalau tidak percaya, silakan saja coba:

Hasilnya harusnya sama, sih.

WordPress JP: Installing MariaDB

WordPress JP: Installing MariaDB

THERE WAS A BUG IN THE SERVER THAT MADE ME LOST THIS POST. THIS IS THE RETRIEVED VERSION THAT I BACK UP.

It’s obvious that I speed write and take everything from guide. As I said before, writing this in Bahasa Indonesia kind of hard for me. So, I write this as I do in parallel.

Setup Filesystem

Disable ZFS file-level prefetch as in the guide:

That would be last on the next reboot, but for now disable:

Create the dataset and the optimizations:

It is optimized to use cache for metadata only if we are going to use INNODB. Its chunk is 16k, so we set it also in ZFS. In the guide we are told that MariaDB log is a 128k chunk — default chunk in ZFS.

Remember that ZFSOnLinux Bug early on? Yeah, we should regenerate Ramdisk everytime we’ve done something to /etc/zfs/zpool.cache. To be honest, I don’t know if any of the operation we did earlier warrant such action. But, just do that for precaution.

And now, we go with installing MariaDB server.

Installing Database Server

According to MariaDB Repository configuration page, let’s set MariaDB:

Import its key and update our list:

Install MariaDB server:

Disable MariaDB server double buffer by add a line (mine, vanilla at line 142) with:

And restart MariaDB server:

From this onward, we are ready to install WordPress, NGINX and such.

Bacaan Lebih Lanjut

RE: Komika; A Jester Certainly Not A Clown

Pandji P. dalam tulisannya “Mengapa Kami Menyinggung” menyebutkan bahwa seyogyanya Komika harus memiliki swa-sensor. Dia menyebutkan bahwa sering kali materi kontroversial digunakan oleh Komika dalam mop hanya sebuah kejutan. Kejutan itu sebenarnya demi memelintir pengharapan penonton.

Benarkah hanya demikian?

Kalau dilihat dari sejarah, mop modern berasal dari Amerika Serikat. Di sana, generasi dari Seinfield sampai Chris Rock berkembang. Semuanya sama, mereka mengisi dengan konten kritik sosial. Bahkan, tak lupa mereka memasukkan konten-konten yang menyakitkan.

Di negara Paman Sam sana, komedian dapat berkembang dengan baik. Amandemen UUD mereka menjamin seorang komedian takkan dihukum oleh perkataannya yang bebas. Mereka bahkan memiliki Comedy Central sebagai pusat produksi mereka.

Indonesia nampaknya tidak memiliki hukum tertinggi seperti itu. Mungkin, seperti yang dimengerti Pandji, mereka masih menganggap komika bisa memasukkan hal-hal kontroversial merupakan sebuah hal yang keren. Padahal, setiap mop yang terjadi mungkin sebenarnya memiliki agenda baik politik mau pun sosial, tapi terutama isu sosial. Sayangnya, saat ini konsekuensinya di Indonesia terlalu menakutkan.

Kalau saya boleh tarik lebih lanjut, sejarah mop berasal jauh dari zaman dahulu kala jauh di zaman kerajaan. Mereka biasanya berpakaian badut dan melucu untuk Raja atau pun para bangsawan. Mereka disebut sebagai Jester.

Mereka memiliki tugas untuk menghibur. Seorang jester mengolok tuannya dengan kritik. Hiburan dan kritik ini adalah bagian dari seorang jester. Mereka sering mengolok juga orang-orang lain.

Anehnya, banyak kerajaan di dunia menaruh posisi jester sebagai penasihat. Bahkan, di India bagian Selatan seorang raja takkan lengkap tanpa jester-nya. Mahabrata takkan lengkap tanpa punakawan.

En Folastrant Sagement

Ada kasus Ratu Elisabeth memecat jester-nya karena kurang kontroversial terhadap dirinya. Di lain pihak, banyak jester yang bercanda keterlaluan sehingga menghadapi dari hukuman cambuk bahkan sampai hukuman mati. Selalu ada resiko untuk menjadi pihak yang menghibur dengan kontroversial.

Namun, mengapa profesi tetap saja ada?

Seorang ayah yang terlalu posesif kepada anak perempuannya membuat anaknya tak bisa menikah. Seorang kaya mewarisi anaknya dengan kebodohan sehingga hartanya terkuras. Seorang raja terlalu angkuh menyediakan kepalanya di nampan pada hari tuanya. Seorang yang berdiri tinggi tanpa ada yang mengkritik cenderung mengarah kepada kehancuran.

Untuk orang-orang yang terlalu tinggi inilah seorang jester diperlukan. Seorang jester perlu menampar seseorang tanpa membuat dia kehilangan harga dirinya. Sifat ini yang menjadikan seorang jester yang baik adalah seorang yang begitu bijak sehingga ia bisa menjadi si bodoh. Menemukan formulasi yang tepat untuk memulai diskusi adalah sebuah tugas dari seorang jester. Inilah tugas dan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang jester modern, komika a.k.a komedian.

Peter Russels mengolok-olok ras-ras dengan menyebutkan stereotipe-stereotipe ras tersebut. Pertama-tama, ia memulai dengan mengangkat ras tersebut. Lalu, ia masuk ke olokan ras tersebut. Terakhir, ia tak lupa mengangkat kembali ras yang telah dioloknya. Ia selalu menyediakan jalan keluar untuk mengangkat harkat ras tersebut sehingga ras tersebut pada akhirnya tidak tersinggung.

Untuk yang suka level keras, ada juga komedian di Comedy Central yang langsung ke subyek yang sensitif. Namun, kalau saya amati, sepertinya hidupnya seperti lelucon. Ada saja fitur dari tubuhnya yang dapat menjadi tertawaan. Memang, dosis komedi seperti ini bukan untuk khalayak ramai.

Kalau saya baca argumen yang dibilang oleh Pandji, saya teringat argumen yang berusaha diungkap oleh John Oliver kepada jurnalis. John Oliver merupakan komedian yang mengangkat tema-tema sulit di Amerika dan membawakan berita tersebut dengan gaya lelucon. Para jurnalis menyebutnya sebagai jurnalis, tetapi Beliau menyebut dirinya sebagai komedian yang berusaha membuat orang tertawa. Menurut dia, dia dan timnya memformulasikan bahwa lelucon kehilangan kelucuannya bila data yang dipaparkan tidak akurat.

Kalau menurut saya, John Oliver dan timnya telah sukses memasukkan berita yang kontroversial dengan kelucuan. Mereka berhasil menaikkan isu penting kepada publik Amerika Serikat tanpa mengaktifkan pertahanan. Pertahanan itu seperti penolakan (denial), pengacuhan, dan bahkan sensor. Alarm pertahanan tak aktif karena lelucon-lelucon yang dipaparkan membuat penonton tak merasa frustrasi, bahkan sebaliknya, mereka merasa diperkuat.

Kembali ke Pandji

Ada banyak isu yang menjadi api dalam sekam di negara ini. Isu antar umat agama. Toleransi dengan kaum minoritas. Isu jurang ekonomi yang semakin jauh dan munculnya generasi kelas menengah yang acuh. Bahkan, sampai isu sensitif seperti paham-paham komunisme dan liberalisme.

Bangsa ini terlalu takut untuk membahas isu-isu penting itu. Kami butuh jester untuk membuat kami nyaman untuk memulai diskusi itu. Kami perlu Pandji dan kawan-kawan untuk secara cerdas memasukkan isu-isu tersebut dengan lelucon, bukan swa-sensor.

Dari pada menunggu hukum yang melindungi mereka, saya hanya bisa berharap agar rekan-rekan daring melindungi mereka dari cyber-bullying. Lindungi perkataan mereka walaupun seperti menyakitkan. Saya rasa, mereka orang-orang jenius yang bukan sekedar lelucon belaka. Kita perlu melindungi mereka dari niatan jahat yang berusaha menjatuhkan mereka.

Sifat bangsa Indonesia yang sekarang semakin tak bisa dikritik menurut saya sudah pembodohan lebih dari zaman dahulu. Padahal, adalah budaya Nusantara untuk pantun-pantun jenaka. Adalah budaya Nusantara untuk majas-majas ironi dan satir. Adalah bagian dari budaya kita untuk bersilat lidah.

Saya harap, mop-mop Indonesia bisa mengembalikan budaya kita yang mau terima kritik dan mengkritik dengan elegan; mengkritik dengan lelucon. Jangan sampai api dalam sekam itu membakar lumbung padi kita. Biarlah ia terkuak dengan lelucon sehingga dapat dipadamkan.

Bacaan Lebih Lanjut

Komentar: Panama Papers dan Standar Keamanan Perusahaan

Forbes melaporkan bahwa perusahaan Mossack Fonseca memberikan akses data portal kepada penggunanya dengan menggunakan Portal yang menggunakan versi Drupal tua yang memiliki lubang keamanan. Wordfence pun menyebutkan bahwa situs MF menggunakan WordPress dengan plugin Revolution Slider versi bermasalah. Wordfence menyebutkan lebih lanjut bahwa WordPress tersebut juga menggunakan plugin yang memiliki akses ke dalam peladen surel.

Sewaktu membaca tulisan tersebut, saya merasa bangga bahwa UI menggunakan teknologi yang sama dengan mereka. Hanya saja, mengapa mereka lambat dalam memperbaharui situs WordPress mereka? Setahu saya, kelemahan Revolution Slider terkuak pada tahun 2014! Saya saja sudah agak lupa kelemahannya yang mana.

Dalam dunia keamanan, sebenarnya ada beberapa sumber bolong keamanan. Namun, Karyawan yang kecewa adalah sumber bolong terbesar dalam keamanan. Itu makanya, di dunia TIK ada segregasi tripartid yang memisahkan fungsi-fungsi dan orang yang menjabat. Dengan tiga fungsi yang dibedakan ini, diharapkan setiap pihak bisa saling mengawasi. Juga, penerapan pertukaran posisi agar karyawan tidak terlalu menguasai. Beberapa korporasi menerapkan kebijakan akses sistem dan komputer.

Kembali ke WordPress.

Setahu saya, asalkan rajin memperbaharui WordPress, situs ini relatif aman. Apalagi, WordPress dan plugin-plugin-nya rajin memperbaharui produknya. WordPress memiliki repositori saluran keamanan yang hanya sejauh klik. Masalah yang terjadi adalah justru pada plugin berbayar yang memiliki repositori sendiri. Itu sebabnya, saya pribadi lebih suka menggunakan plugin gratisan dari WordPress. Revolution Slider itu adalah plugin berbayar dan harus diperbaharui secara manual.

Saya lihat yang sering terlewati dari pembuatan kontrak dengan kontraktor pengembang adalah kontrak pemeliharaan. Kontrak pemeliharaan adalah kontrak yang paling krusial dalam sebuah organisasi. Salah satu fungsi dari perencanaan IT Roadmap dalam sebuah perusahaan adalah penentuan sampai kapan sebuah sistem perangkat lunak dikatakan usang. Keusangan itu menentukan seberapa usaha sebuah organisasi dalam memelihara sistem tersebut. MF mungkin adalah sebuah organisasi  yang tidak memiliki IT Roadmap.

Melihat horor yang terjadi bahwa penjebolan sistem dapat menyebabkan sistem lain terjebol, saya tidak habis pikir. Yang pasti, mereka tidak memiliki kebijakan TIK yang komprehensif. Mereka seharusnya memiliki segmentasi jaringan sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ada bertahun-tahun. Setidaknya, mereka memisahkan jaringan DMZ dan jaringan internal. Memisahkan sistem-sistem berdasarkan peruntukan. Misalnya, portal dan situs web harusnya dipisahkan dan data yang digunakan seharusnya berbeda, termasuk sandi masuk mereka!

Tentunya, pemisahan ini memerlukan biaya lebih. Faktor apakah keamanan perusahaan sebanding dengan biaya yang diperlukan, hal ini termasuk dalam Risk Assessment Analysis (Analisis Ancaman) yang mana saya malas membahas untuk saat ini.

 

Komentar: Ekonomi Borongan vs Ekonomi Berbagi
Photo: Andre Tampubolon

Komentar: Ekonomi Borongan vs Ekonomi Berbagi

Kemarin ada demo para pengendara angkutan darat di DKI Jakarta terhadap maraknya bisnis transportasi daring. Di tengah-tengah demo besar-besaran kemarin terdengar istilah ekonomi berbagi (sharing economy). Saya pernah bahas ketika menjelaskan prinsip-prinsipnya dari video Yochai Benkler. Semakin semangat saya membahas ini karena awalnya ekonomi ini terpengaruh gerakan Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka (Free/Open Source Software, FOSS).

Ide dasar dari ekonomi berbagi adalah semangat saling berbagi antar tetangga. Pribadi pemilik aset dapat meminjamkan asetnya kepada orang lain. Pihak ketiga menyediakan pasar (marketplace/platform) untuk menyediakan pemilik aset dan calon penyewa fasilitas makcomblang di Internet. Agar dapat bekerja, sistem ini memanfaatkan rasa percaya satu sama lain. (Danielle Sacks, 2011)

Sistem yang Telah Ada

Forum Jual-Beli (FJB) Kaskus menyediakan sarana antara satu pengguna Kaskus dengan pengguna lainnya. FJB menerapkan rasa percaya dengan Bata dan Cendol untuk reputasi. Reputasi inilah yang menentukan penjual dapat dipercaya atau tidak. Hal ini membuat FJB menjadi forum yang cukup terpercaya. (Amru Sahmono Boang Manalu, 2008)

Selain itu, tanpa tersadar setiap orang yang menggunakan teknologi perbincangan daring pun sering kali menanyakan ke grup-grup yang berbeda untuk menanyakan apakah ada orang yang memenuhi kebutuhannya. Dari perbincangan, orang kemudian bisa menawarkan jasa atau apa pun. Ada pekerjaan, kendaraan, pakaian, bahkan orang hilang.

Untuk sarana berbagi transportasi, ada yang menciptakan nebeng.com sebagai sarana berbagi kendaraan (ride sharing).

Kalau di Indonesia sudah ada, mengapa masuknya Gojek, Grab, dan Uber menjadi masalah?

Pergeseran Nilai

TL;DR: Mereka bukan ekonomi berbagi, setidaknya bukan artian semangat berbagi seperti di awal mula terbentuknya ekonomi itu.

Ketika ide baik seperti ekonomi berbagi dijalankan, ada kesulitan dalam membuat pegiat ekonomi ini dapat bertahan. Ketika melihat daftar harga, orang merasa lebih baik membeli sendiri peralatan yang ingin digunakan dari pada meminjam dari suatu tempat dengan harga yang kurang kompetitif. Cara satu-satunya untuk bisa selamat adalah dengan menerapkan standar yang ujung-ujungnya sama seperti sistem komersial. Perlahan, ide ekonomi berbagi bergeser dari ide yang semula. (Sarah Kessler, 2015)

Perusahaan yang menyediakan pasar bagi pemberi jasa dan penjual tidak lagi sebagai pihak penyedia sarana bertemu. Ia mulai menerapkan standar. Harga yang diberikan harus seragam. Pemilik aset diharuskan memberikan standar layanan yang sama dengan ketentuan. Bahkan, sang pemilik aset harus berseragam sesuai dengan ketentuan perusahaan. Pemilik aset pun harus menandatangani kontrak untuk dapat memenuhi standar yang telah diberikan perusahaan. Artinya, sang pemilik aset harus tunduk kepada ketentuan yang diberikan oleh perusahaan kalau mau ikut terlibat di dalam pasar itu.

Menurut (Imam Hadi Wibowo, 2015), pemilik aset tidak memiliki hubungan kerja dengan perusahaan menurut UU No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan. Apalagi, dalam perjanjian, pemilik aset membagi hasil dengan pihak perusahaan. Tidak ada pemaksaan apakah sang pemilik aset mau mengambil atau tidak suatu pesanan.

Dalam (KBBI III, 2015), pemilik aset terdefinisikan sebagai orang yang memborong atau kontraktor. Hal ini karena dia menyelesaikan pesanan, yakni mengantarkan orang/barang ke tujuan, dengan menyediakan aset/peralatan sendiri untuk mencapai itu.

Berhubung saya tidak memiliki pemahaman hukum yang kuat, saya belum bisa memastikan apakah status pemilik aset adalah subkontraktor atau kontraktor. Yang dapat saya simpulkan adalah para pemilik aset terikat perjanjian kemitraan antara pihak perusahaan penyedia layanan daring dengan diri mereka masing-masing. Mereka terikat terhadap Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur syarat-syarat sahnya suatu perjanjian.

Definisi Stallman (Bapak Free Software/Perangkat Lunak Bebas)

Dengan adanya intervensi perusahaan yang mengatur para pemilik aset dengan berbagai standar, sulit rasanya kalau ini masih disebut ekonomi berbagi. (Richard Stallman, 2014) menyebut sistem aplikasi transportasi daring sebagai piecework subcontractor economy, bukan sharing economy (ekonomi berbagi). Lemahnya posisi pemilik aset karena isi perjanjian kemitraan dapat membuat mereka pada posisi dan kondisi bayaran yang sulit. (Megan Rose Dickey, 2014) pun mengamini praktik tersebut pada salah satu penyedia layanan transportasi daring. Di Indonesia, merek lokal pun tidak luput dari praktik pengubahan sistem bagi hasil yang diprotes oleh pemilik aset. (Kompas TV, 2015)

Poin lain yang diserukan oleh Stallman adalah penerapan tarif rendah dan kehilangan uang demi menghancurkan kompetitornya. Praktik dumping harga ini menyebabkan layanan yang disediakan oleh perusahaan serupa (misalnya perusahaan transportasi umum) tidak dapat menyaingi. Seyogyanya, praktik tersebut dapat terjerat pasal praktik monopoli.

Namun, apa benar mereka melakukan dumping?

Salah satu situs penyedia layanan transportasi daring menyebutkan bahwa Penyedia Layanan adalah pemilik aset dan perusahaan tersebut adalah perusahaan penyedia teknologi yang mempertemukan pemilik aset selaku Penyedia Layanan ke pelanggan. Sepemahaman saya, itu artinya pelanggan membayar ke Penyedia Layanan dengan potongan komisi bagi hasil untuk perusahaan yang mempertemukan mereka. Pihak perusahaan membayarkan dengan jumlah tetap sesuai jarak kepada Penyedia Layanan namun pelanggan hanya membayar tarif datar. Artinya, pihak perusahaan mentraktir pelanggan dengan membayarkan ke Penyedia Layanan.

Secara etika, ini ada di daerah abu-abu dan terlihat sekilas sebagai dumping. Namun, saya takkan berspekulasi di dalam ranah hukum lebih lanjut karena saya bukan profesional di bidang itu.

Hal berikutnya yang menjadi titik protes Stallman adalah seringkali perusahaan penyedia layanan transportasi daring membuat sangkalan yang membuat mereka tidak berkewajiban mengganti rugi. Ini perlu diwaspadai. Jangan sampai perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia juga berlaku demikian.

Pembelaan Terhadap Layanan Transportasi Daring

Kendati ada potensi perlakuan yang tidak adil yang menyebabkan layanan transportasi tradisional dalam keadaan tidak diuntungkan, agak sulit rasanya untuk memiliki empati kepada mereka. Kondisi transportasi umum DKI Jakarta yang sering kali tidak layak dan kurang menyebabkan nilai mereka kurang. Setidaknya saya sendiri merasa sulit empati kepada mereka yang menaikkan ongkos tiga kali akibat bensin naik, namun tidak ikut turun saat bensin turun tiga kali. Hal ini yang menyebabkan inflasi pada barang dan jasa.

Ketika ada surat Menteri Perhubungan yang melarang Layanan Transportasi Daring, ada beberapa hal yang saya catat:[1]

  1. Kementerian Perhubungan mencoreng Bahasa Indonesia dengan menulis “diatas”, bukan “di atas” dan penulisan referensi seperti itu pun bukanlah sesuatu yang baku dalam menulis tulisan resmi. Sebaiknya tulisan resmi kementerian dilihat dahulu oleh ahli bahasa. Jangan sampai saya menduga pemerintahan saat ini sudah tidak lagi menjunjung tinggi Sumpah Pemuda sebagai dasar negara.
  2. Layanan Transportasi Daring juga menyediakan asuransi bagi pengguna.
  3. UU Transportasi bilamana diterapkan hanya menyisakan taksi dan Trans Jakarta.
  4. Dengan jumlah bus Trans Jakarta sekarang, seharusnya sudah ada bagian dari konsorsium yang dihukum karena tidak memenuhi kontrak pemenuhan bus.

Separah itulah kondisi transportasi umum DKI Jakarta. Jangan lupa, bahwa pengelolaan transportasi umum adalah kewajiban pemerintah. Alasan utama mengapa pemerintah menyerahkan penyediaan transportasi umum adalah karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola.

Artinya, pengelolaan transportasi publik pada dasarnya mengacu kepada pemenuhan kebutuhan moda transportasi penduduk. Pasar berbicara, kami butuh transportasi yang layak. Ketika ada layanan yang memberikan layanan bermartabat kepada penduduk DKI Jakarta, mengapa harus dicegah saat alternatifnya tidak bisa menyediakan kualitas layanan yang sama?

Beberapa Catatan

Setelah menulis panjang lebar, saya menemukan catatan yang perlu dilakukan:

Dengan adanya standar yang diberikan oleh perusahaan penyedia pasar yang sampai ke detail pelayanan dan harga, tidak pantas rasanya ini disebut lagi ekonomi berbagi. Yang saya lihat, pemilik aset adalah seorang pemborong yang memenuhi sejumlah ketentuan dari perusahaan penyedia pasar. Apalagi, dengan penyediaan seragam, maka pemilik aset tidak lagi memiliki kebebasan untuk mendefinisikan layanan mereka sendiri. Jika demikian, bukankah ini namanya lebih cocok disebut ekonomi borongan?[2]

Tidak ada yang salah dengan ekonomi borongan. Apalagi, pemborong adalah individu-individu pemilik aset. Hanya saja, ada beberapa yang perlu dilakukan pemerintah untuk melindungi mereka dan perusahaan agar adil.

Perlunya aturan hukum yang melindungi individu pemilik aset. Dari awal saya tidak pernah menyebut mereka pengemudi. Layanan yang mereka sediakan bagi pelanggan adalah aset mereka. Nama mereka, nomor telepon, cara melayani, tampang, dan motor yang mereka punya merupakan brand pribadi mereka. Perusahaan mitra mereka mungkin menerapkan standar, tetapi setiap mereka memiliki nilai tambah yang berbeda.

Mungkin di masa depan ada praktik peminjaman motor atau apa pun. Atau ada perusahaan/individu yang akan meminjamkan hal-hal lainnya kepada pengemudi. Seyogyanya, yang dipandang sebagai Penyedia Layanan adalah individu yang menyediakan layanan tersebut, bukan lembaga atau individu lain yang memegang beberapa aset seperti motor, telepon, dan jaket.

Perlunya aturan hukum yang melindungi individu terhadap perusahaan dalam pembuatan perjanjian. Jangan sampai ada individu yang karena lemah dan ketidaktahuan hukum dimanfaatkan oleh perusahaan untuk keuntungan sebesar-besarnya. Sedihnya, ini bukan saja diperlukan bagi pengemudi sebagai pemilik aset, tetapi juga orang-orang lain dalam berbagai bidang usaha.

Ada PR besar bagi perusahaan penyedia layanan daring di Indonesia untuk memenuhi aspek humanisme. Jangan sampai mereka menjadi diktator selanjutnya. Perlu adanya nilai inti dalam perusahaan yang memasukkan hal tersebut dalam salah satu butir.

Adanya disrupsi terhadap angkutan umum yang ada sekarang ini hendaknya menjadikan moda transportasi tradisional berkaca. Hal ini demi kebaikan mereka karena supir-supir sudah mengeluh turunnya jumlah penumpang. Sebenarnya ancaman moda transportasi baru ini adalah stimulus bagi mereka agar bisa berubah dan meningkatkan kualitas layanan.

Setelah kita dewasa dari semua itu, ada satu PR terakhir agar pemerintah/lembaga yang berkuasa tidak menggunakan sarana pelacakan untuk menindas whistleblower, aktivis HAM, lawan politik, atau minoritas.


  1. Berdasarkan naskah surat Menteri dan surat terbuka yang saya dapatkan dari http://kask.us/iaCiS ^
  2. Paragraf tambahan untuk menjelaskan maksud judul dan paragraf perantara. ^

Bacaan Lebih Lanjut

Daftar Pustaka

Amru Sahmono Boang Manalu (2008). Analisis Kepuasan Pelanggan Online pada Situs Forum Komunitas Online Sub Forum Jual Beli www.kaskus.us. Bogor: Institut Pertanian Bogor.^
Danielle Sacks (2011, April 18). The Sharing Economy. The Fast Company. Retrieved March 23, 2016 from The Fast Company: http://www.fastcompany.com/1747551/sharing-economy.^
Imam Hadi Wibowo (2015, August 25). Status Hubungan Pengojek dan Perusahaan Aplikasi Layanan Ojek. PT Justika Siar Publika. Retrieved March 23, 2016 from PT Justika Siar Publika: http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50924dbf2ad1f/status-hubungan-pengojek-dan-perusahaan-aplikasi-layanan-ojek.^
KBBI III (2015, March 23). Memborong. Kateglo. Retrieved March 23, 2016 from Kateglo: http://www.kateglo.com/?mod=dict&action=view&phrase=memborong.^
Kompas TV (2015, November 16). Demo Go-Jek Tolak Pemotongan Bagi Hasil [Video file]. Retrieved March 23, 2016 from Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=ozrMUZuDLEo.^
Megan Rose Dickey (2014, June 28). Here s How Much Money You Can Really Earn As An Uber Driver. Business Insider Australia. Retrieved March 23, 2016 from Business Insider Australia: http://www.businessinsider.com.au/how-much-you-earn-as-an-uber-driver-2014-6.^
Richard Stallman (2014, 0 0). Reasons not to use Uber. Retrieved March 23, 2016 from https://stallman.org/uber.html.^
Sarah Kessler (2015, September 11). The Sharing Economy Is Dead, And We Killed It. The Fast Company. Retrieved March 23, 2016 from The Fast Company: http://www.fastcompany.com/3050775/the-sharing-economy-is-dead-and-we-killed-it.^
Komentar: FBI vs Apple

Komentar: FBI vs Apple

Saat ini sedang ada sebuah kasus di Amerika Serikat yang menginginkan Apple menyediakan perkakas untuk FBI dapat masuk ke iPhone untuk mendapatkan data. Dasar kasusnya adalah peristiwa terorisme tempo hari. Apple menolak. Namun, seperti yang diberitakan oleh ArsTechnica, FBI memberikan argumen bahwa Apple mendua; memberikan iData kepada pemerintah Cina sementara menolak FBI dalam melawan terorisme.

Ada dua perbedaan mendasar. Pemerintah Cina meminta Apple menaruh data khusus pengguna iPhone di Cina. Yang diminta oleh FBI adalah perkakas untuk mengakses iPhone mana pun.

Mengenai pemerintah Cina yang meminta data khusus pengguna iPhone di Cina, hal ini sebenarnya apa yang dahulu diminta untuk RIM lakukan terhadap data Blackberry di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Pemerintah dapat melakukan sensor dan pengaturan terhadap semua yang ada di dalam negara.
  2. Pemerintah dapat melakukan perlindungan karena data yang terlibat masih dalam yuridiksi negara.
  3. Hukum yang berlaku di negara tersebut dapat diterapkan kepada entitas teknologi.

Poin (1) (2) dan (3) intinya kepada penjangkauan data dan perlindungan negara kepada warganya. Hal ini bisa berakibat buruk, dengan memakai kekuatan ini untuk membungkam lawan politik dan whistleblower. Bisa juga berakibat baik karena pemerintah dapat menindak sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut.

Ada hal yang baik dan buruk yang dilakukan oleh pemerintah Cina, yang diminta FBI adalah jelas kebutuhan spionase. Selama ini seperti yang sudah-sudah, FBI dengan izin pengadilan sudah dapat mengakses data-data tertentu. Dengan dibukanya algoritma pengacakan seperti yang diminta FBI, FBI dapat menjangkau semua pengguna iPhone! Masalahnya, tak semua pengguna iPhone merupakan warga negara Amerika Serikat.

Jelas sekali, bila Apple mengabulkan permintaan ini, maka dunia akan meninggalkan iPhone. Banyak negara yang akan mulai mengampanyekannya. Siapa juga yang mau warga negaranya diawasi asing? Apalagi warga negara tersebut memiliki potensi untuk menjadi pemimpin di masa depan.

Memang, tidak ada yang aman di dunia ini. Seperti konferensi enkripsi, mereka mengumumkan adanya algoritma baru, lalu sorenya sudah ada yang bisa membobol. Enkripsi Apple tidak sebegitu amannya. Dia bisa saja dibobol. Namun, perlu usaha ekstra dan insentif untuk itu.

Ibarat pintu yang terkunci yang bisa dibor untuk bisa masuk paksa. Tetap saja tidak ada maling yang menggunakan cara itu. Hal ini karena bor dapat menimbulkan suara keras sehingga membangunkan tetangga. Namun, yang diminta FBI adalah kunci serep sehingga dia dapat masuk tanpa perlu menimbulkan suara.

Bagaimana perasaan Anda untuk menitipkan kunci duplikat rumah Anda pada polisi? Saya, sih, sebagai seorang minoritas lebih suka kalau pemerintah tidak punya akses terlalu banyak. Jangan sampai sekelompok orang dari golongan mayoritas menggunakan fasilitas negara untuk bisa menindas minoritas. Sudah banyak kasus negara menutup mata ketika ada akses tak diinginkan. Bahkan, korporasi dapat menggunakan negara untuk membungkam banyak orang. Hal inilah juga yang ditakutkan banyak aktivis.

Apple sedang berada di persimpangan antara ditinggalkan banyak orang. Itu sebabnya, dia akan berjuang melawan FBI yang secara terang-terangan meminta itu. Siapa juga yang mau jadi dell hell berikutnya?

Memasang Steam Linux pada Tambora

Seperti janji saya, saya akan memaparkan cara saya memasang Steam Linux. Sebenarnya, cara yang saya ikuti sama seperti artikel Wiki Debian. Hanya saja, msohon maaf, kali ini akan ada penjelasan politis yang membuat permainan OpenGL (DoTA 2 misalnya) di Steam Linux dapat dimainkan dengan menggunakan penggerak terbuka (radeon) dari MESA.

Langkah Seperti pada Wiki Debian

Pastikan bahwa pengguna yang hendak memainkan DoTA 2 memilki akses ke akselerasi video dan audio:

Kalau mengikuti cara pemasangan sebelumnya, pasti user sudah tergabung ke kedua grup ini sehingga perintah ini tidak perlu dilakukan. Saya menulis ini hanya demi kelengkapan saja.

Kalau mengikuti cara pemasangan sebelumnya, paket-paket yang tidak bebas juga sudah terpasang. Demi kelengkapan, berikut isi /etc/apt/sources.list BlankOn Tambora saya:

Seharusnya sudah seperti ini bila Anda mengikuti cara pemasangan UEFI saya terdahulu.

Aktifkan repositori untuk arsitektur i386: (Intel 32-bita)

Nah, berikut ini penjelasan agak politis, supaya Anda tahu apa itu kebebasan.

Memasang Pustaka S3TC

Pustaka S3TC adalah sebuah pustaka yang mengimplementasi algoritma kompresi tekstur S3. Penggunaan algoritma ini secara de facto memasukkan algoritma ini sebagai salah satu standar OpenGL. Sayangnya, MESA secara baku menonaktifkan pustaka ini dan membuat algoritma kompresi dengan jalan memutar sehingga tidak melanggar paten bila digunakan di negara yang mematenkan algoritma ini. Namun, MESA juga menyediakan pustaka kompresi tekstur S3TC untuk negara-negara yang secara legal tidak memperbolehkan paten algoritma.

Bagaimana dengan Indonesia?

Untungnya, sebelum Indonesia mengikuti Trans-Pacific Partnership (TPP), Indonesia belum mengakui adanya paten algoritma. Sepengetahuan saya, Indonesia masih termasuk  negara-negara non-TPP seperti negara-negara di Eropa yang dapat menggunakan pustaka ini. Mudah-mudahan Pak Jokowi atau siapa pun yang berkuasa tidak secara cepat memutuskan untuk masuk ke dalam TPP kendati kaum tekstil mengatakan adanya insentif penghapusan tarif bagi peserta TPP. Hal ini mengingat anggota-anggota TPP yang lain juga penghasil tekstil.

Ada sisi lain yang dikorbankan apabila Indonesia masuk ke TPP. Yang paling penting buat saya adalah potensi hilangnya klausul pengecualian dari paten obat untuk penyakit-penyakit penting yang diatur oleh hukum Indonesia dan bermain DoTA 2 akan terasa lambat dengan penggerak bebas terbuka MESA. Sebelum TPP disahkan, mari bermain DoTA 2 lebih cepat dengan implementasi algoritma yang benar.

Ada dua cara untuk mencapainya, entah langsung memasukkan repositori Deb-Multimedia atau memasang paket-paket yang diperlukan saja. Cara yang baik dan benar adalah yang pertama. Namun, saya lebih memilih cara yang kedua karena algoritma itu tetap dan perubahan paket-paket pustaka S3TC hanya berisi cara pemaketan saja. Mari unduh:

Untuk lebih jelas, buang saja dahulu paket-paket kompresi tekstur yang memutar: (S2TC)

Pasang pustaka S3TC yang sebenarnya.

Saya membiasakan diri menggunakan gdebi daripada dpkg untuk memasang paket lepas Debian.

Terakhir, pasang langsung Steam Linux:

Selesai sampai sini. Anda bisa langsung menjalankan Steam Linux dan mengunduh DoTA 2.

Bonus

Saya sudah lama tidak mengikuti perkembangan MESA semenjak PC saya berubah dari Gentoo menjadi Kubuntu. Saya tidak tahu apakah beberapa variabel berikut secara baku sudah aktif di MESA. Namun, tidak ada salahnya saya mencantumkan tambahan parameter saya untuk aplikasi OpenGL. Saya taruh ini di /home/user/.bashrc (sesuaikan dengan home Anda).

Keluar dari sesi destop dan masuk kembali supaya sesi Anda mengaktifkan kelima baris ini.

Kali ini benar-benar selesai.

Memasang BlankOn Tambora dengan UEFI

Memasang BlankOn Tambora dengan UEFI

Saya butuh destop yang stabil. Destop KF5 dari Neon Desktop yang saya pasang belum stabil. Wajar, masih versi GIT, sih.

Sepengalaman saya, BlankOn menawarkan kestabilan itu pada versi Suroboyo. Saya pun mencoba memasang Tambora yang dari tahun lalu Beta 1. Mungkin Beta 1 ini sudah terlalu stabil makanya tidak ada pembaharuan lagi.

Saatnya memasang BlankOn Tambora! Saya hendak memasang ini di laptop saya tercinta. Kebetulan kali ini bukan laptop kantor sehingga partisinya bisa saya atur seenak jidat. Merek yang saya pakai tapi masih sama, hanya saja dari model AMD A10-7300.

Saya sudah pernah membahas memasang pada laptop kantor. Saya akan melewati penjelasan detail pada beberapa bagian karena sudah dibahas di tulisan itu. Saya menggunakan HP Pavilion 15 Notebook PC.

Persiapan

Saya menggunakan Installer Kubuntu 15.10 untuk memasang BlankOn. Untuk itu, saya harus menyesuaikan beberapa hal.

Saya asumsikan Anda sudah mengerti tata letak partisi yang Anda buat. Sebagai referensi, saya membuat tata letak mirip dengan artikel saya terdahulu.

  • /dev/sda1 – FAT32 (UEFI) – /boot/efi (200MB)
  • /dev/sda2 – LVM – LVM (Sisanya)
    • /dev/HP/root – EXT4 – / (20GB)
    • /dev/HP/rumah – EXT4 – /home (20GB)

Anda bisa menyusahkan diri dengan cara heker yang ada di artikel saya sebelum ini, atau menggunakan KDE Partition Manager untuk konfigurasi partisi biasa. Lalu,  system-config-lvm untuk membuat partisi LVM. Aplikasi system-config-lvm perlu dipasang karena belum ada pada Installer Kubuntu 15.10.

Selanjutnya, buka KDE Partition Manager dan bagi dua ruang penyimpan menjadi /dev/sda1 (FAT32/UEFI) dan /dev/sda2 (LVM). Lalu, setelah itu jalankan system-config-lvm untuk membuat volum logikal /dev/HP/root dan /dev/HP/rumah.

Memasang debootstrap

Memasang Aturan debootstrap untuk Tambora

Om Aftian pernah menyediakan aturan untuk memasang BlankOn untuk Debian. Nampaknya belum diterima untuk ada d paket resmi Debian. Untuk itu, saat ini gunakan saja versi kontribusi Beliau untuk memasang Tambora.

Sekarang sudah siap untuk memasang Tambora.

Memasang Tambora

Memasang Tambora:

Ingat, pemasangan kali ini menggunakan UEFI. Jadi, mari lakukan hal-hal yang biasa dilakukan untuk UEFI.

Memasang Sistem Berkas

Mari pasang sistemberkas sistem:

Sekalian pasang direktori untuk partisi EFI (/dev/sda1). Partisi EFI berisi semua binari EFI, termasuk GRUB dan Windows Boot Manager.

Lalu pasang juga partisi yang lain, misalnya rumah (/home)

Pasang semua yang diperlukan dan sekali lagi, sesuaikan dengan cetakan partisi yang Anda telah pilih.

Dan setelah itu, mari masuk ke sistem.

Pemasangan Biasa

Konfigurasi nama laptop:

Ganti “nama-laptop” dengan sesuatu yang lebih kreatif sebagai nama laptop.

Buat daftar sistemberkas yang harus terpasang ke /etc/fstab. Anda bisa melihat satu-satu di /proc/mounts, tetapi saya menggunakan cara heker: (REGEX FTW!)

Mari betulkan daftar repositori /etc/apt/sources.list dengan daftar yang lebih lengkap.

Saya pakai cara heker.  Silakan gunakan cara-cara yang lebih beradab misalnya menggunakan ViM atau membukanya pada aplikasi penyunting pada sistem operasi inang.

Setelah itu, pasang destop BlankOn. Paket blankon-desktop memasang banyak sekali aplikasi.

Anehnya juga termasuk memasang GDM dan LightDM.

BlankOn menyediakan dua.

BlankOn menyediakan dua.

Saya memilih menggunakan LightDM. Lalu, saya kembali membaca novel. Saya putuskan saya terlalu malas untuk menghapus satu pun. Tapi, kalau Anda butuh ruang penyimpan, Anda dapat memasang GDM.

Konfigurasi Locale untuk menggunakan ID_id.UTF-8

Konfigurasi zona waktu: (Asia/Jakarta)

Pasang berkas-berkas yang perlu:

Baris pertama untuk perkakas sistemberkas yang tak lazim (tak ikut dalam ketergantungan blankon-desktop). Baris kedua adalah untuk aplikasi favorit yang tidak terpasang pada normalnya.

Setelah itu, memasang kernel. Sebenarnya inilah penyebab saya memilih memasang lewat bootstrap. Terakhir saya memasang BlankOn belum ada dukungan pemasangan UEFI.

Terakhir, tambahkan satu atau dua pengguna:

Selesai. Kalau sudah sampai sini, berarti pemasangan lancar. Saatnya menyalakan ulang laptop dan masuk ke BlankOn yang sudah terpasang.

Tambahan untuk Pemilik Laptop dengan Realtek RTL8723BE yang Malang Seperti Saya

Saya tidak tahu apakah HP Indonesia menyediakan fasilitas pengembalian barang. Saya tidak punya waktu untuk itu. Tapi, WiFi RTL8723BE yang tertanam pada laptop saya (nomor SKU: M2W18PA#AR6) atau laptop kantor tidak bisa dijalankan langsung dari Kubuntu 15.10 maupun BlankOn Tambora. Pada artikel sebelumnya, saya mengakali dengan menonaktifkan perangkat keras IOMMU di kernel (iommu=soft).

Waktu itu laptop kantor masih menggunakan Intel. Tapi, sekarang saya menggunakan AMD A10 7300. Laptop saya diiklankan memiliki 10 unit komputasi dengan menggunakan 4 unit dari prosesor dan 6 unit dari keping grafik. Dengan mematikan IOMMU, saya akan kehilangan 6 unit komputasi dari GPU!

HSA harus ada! Kali ini saya tak mau kompromi. Setelah berjibaku dengan kestresan tingkat tinggi, saya pun menemukan proyek penggerak Realtek di Github. Pada salah satu forumnya, ada yang membahas mengenai laptop HP yang menggunakan RTL8723BE.

Sebelum memulai, pasang paket yang perlu:

Pada forum Realtek di Github diberikan tambahan sulaman untuk Realtek. Untuk itu, mari mengunduh dari Github kode sumber penggerak yang sudah ditambal dengan sulaman itu:

Lakukan stanza kompilasi dan pasang seperti biasa.

Selanjutnya, tambahkan parameter untuk modul kernel. Ini yang berlaku untuk laptop saya (nomor SKU: M2W18PA#AR6)

Perhatikan pada ant_sel=1. Pada beberapa laptop, ada yang harus mengaktifkan antena kedua sebagai penghubung radio WiFi agar lancar. Untuk itu, parameter perlu diubah menjadi ant_sel=2. 

Laptop siap dinyalakan ulang untuk mendapatkan perubahan parameter ini. Saya akhirnya bisa mendapatkan HSA dan radio WiFi akur.

Hasil Akhir

Sepertinya memang kualitas masih beta. Atau, bisa jadi ada paket-paket yang belum terpasang kalau hanya memasang blankon-desktop. Berikut yang bisa saya simpulkan dari hasil debootstrap ini:

  1. Ikon-ikon di taskbar menumpuk. Untuk berpindah tugas, hanya antar 2 aplikasi saja. Jadi, kalau ada aplikasi yang ketiga, harus diklik. Ada galat yang terbuka, sih, di situs pengembangan BlankOn. ikon-rusak
  2. Applet Network Manager dan OSD belum jalan. Sepertinya ada XDG autostart yang tidak berjalan di sesi BlankOn.
  3. Bluetooth belum ada applet, bluemoon tidak dapat dijalankan. Diakali dengan memasang Bluetooth Manager:
  4. Tidak ada peluncur aplikasi. Saya suka itu! Saya jadi bisa memasang Synapse kesukaan saya:
  5. Seperti biasa, BlankOn Tambora menghabiskan memori relatif kecil. Hanya sekitar 1GB (termasuk Chromium)! Untuk aplikasi desktop masa kini, ini sudah sangat wah.
  6. Untuk memperlengkapi, cari semua paket berawalan blankon-branding-* yang belum terpasang dan mau dipasang. Saya lihat ada paket Cinnamon untuk BlankOn juga. Untuk kali ini, saya belum membahas apa saja.

Selanjutnya, saya akan coba belajar memperlengkapi BlankOn Tambora yang saya pasang ini dan mencoba memasang yang lain.

browser: Chromium, console: Gnome Terminal, pemasang: Synaptic

browser: Chromium, console: Gnome Terminal,
pemasang: Synaptic

 

HP Pavilion P230AX: Mengaktifkan RTL8723BE

Laptop ini memiliki kepingan kombo WLAN + Bluetooth dengan merk Realtek  8723BE. Setelah lama mencari-cari di jagat Internet, berikut apa yang saya lakukan sehingga WLAN dapat berjalan.

Memasang Penggerak rtlwifi-new

Pasang penggerak dari PPA:

Set Region

Lalu, cek apakah WIFI telah ditandai region apa:

Pada kasus saya, masih bernilai 00 (tak bernegara). Saya pun set jadi Indonesia:

Sesuai dengan kode negara di ISO.

Sesudah itu, supaya berjalan benar, ubah berkas di /etc/default/crda dengan domain negara kita.

Set IOMMU pada GRUB

Konfigurasikan ulang GRUB: (ganti grub-efi-amd64 dengan grub-pc kalau masih BIOS belum UEFI)

Tambahkan baris berikut pada Linux command line:

umLalu OK semua.

Setelah ini, lalu nyalakan ulang laptop dan selesai.

Bagaimana Debian Membentuk Model FOSS

Bagaimana Debian Membentuk Model FOSS

FOSS bukanlah tentang perangkat lunak gratis saja. FOSS merupakan sebuah kultur untuk berbagi dan melakukan segala sesuatu secara gotong royong.

Bermula dari kekurangan distro SLS yang hanya dikerjakan satu orang, Ian Murdock (RIP) mengundang orang-orang untuk membuat sebuah sistem GNU/Linux baru dalam bentuk paket-paket.

Ide dasarnya adalah sebuah paket perangkat lunak mengerti bagaimana caranya mengintegrasi dirinya sendiri pada sistem; mengerti bagaimana menghapus dirinya sendiri; dan mampu memperbaharui dengan aman ke versi terbaru.

 

Bacaan Lebih Lanjut