Category Archives

88 Articles
For Profit Is For Profit

For Profit Is For Profit

Indonesia is one of their largest market but they choose to put their manufacture in Malaysia? That’s why I stick to free/open source software movement.

Indonesia adalah salah satu pasar terbesar mereka, tetapi mereka memilih untuk membuka pabrik di Malaysia? Itu sebabnya saya pilih gerakan FOSS.


Bukannya saya anti sama negara lain. Tapi, kalau kita hanya jadi konsumen, berarti memang daya tawar kita lemah. Kita hanya sebagai obyek konsumen saja. [Ada kata lain yang lebih mendeskripsikan cuma kurang sopan.]

Reality Hits You Hard, Bro

Reality Hits You Hard, Bro

I Am A Hero!

Once upon a time, there was a time when human making physical interaction…

I found out lately that many people would disconnected from physical world. I know I won’t say that it was reality. Because, reality is something that happened yet it was subjective to what we have perceived. After all, we are mere group of synapses receiving electric signal within our brain.

This all started when I saw a group of little people whom staring to their mobile devices. While one person told a story, a person suddenly laugh. Her friend had put a funny status. Then, there were most the time when they were just idling and texting with their fingers.

Once, pervasive computing was there to have a dream of enhanced reality. They were envisioned as transient tools. They were supposed to be in the background, not distracting humans. Games were produce as a convenient way to kill time. And human supposed to be live outside.

But, why would I live outside?

People are having rat race. Mommy never home. I barely talked to my father. This game is my salvation.

I don’t need anything. I don’t need get bullied at school. I need to connect with my friend. Stop wasting my time. I am king in this world.

What world?

A world that was implemented ever since I was able to have computer in my phone. I don’t remember when, That  was in elementary school. My first handphone and let rest.

END OF THE INTERVIEW WITH THE LAST PERSON ON EARTH WHOM MAKING PHYSICAL COMMUNICATION

Melawan SPAM

Melawan SPAM

Di kerajaan antah-berantah seorang ksatria tengah melawan SPAM. SPAM, sebuah pesan yang tidak diinginkan dengan tujuan merusak. Ia dapat berupa promo produk pembesar alat kelamin pria hingga seorang pangeran dari sebuah negara yang tengah berkecamuk. Ia kadang menyaru bak seorang ksatria piningit yang hendak membetulkan sistem dengan menanyakan sandi kepada rakyat jelata. Yang menarik, ada juga berlaku seakan-akan menawarkan iPod gratis.

SPAM pada masa yang lampau

Dulu, SPAM hanya berupa tulisan cialis dan beberapa lainnya. Dengan menggunakan teknik bayesian sederhana, mereka dapat diberantas. Mereka dapat dikalahkan dengan mudah dengan menggunakan teknik statistika sederhana. Dengan menggunakan SpamAssassin, kita dapat membunuh mereka.

Biasanya, SpamAssassin digunakan bersama dengan antivirus ClamAV dengan menggunakan Amavis.

$ sudo apt-get install spamassassin clamav amavisd-new

SpamAssassin menggunakan Bayesian dan dulu ada SARE (SpamAssasin Rules Emporium) yang rajin menatar aturan-aturan anti-SPAM bagus. Sayangnya, sekarang sudah tak ada lagi. Katanya, lebih baik menggunakan Razor atau Pyzor.

Huruf itu bukan LATIN-1 dan UTF-8 saja, Jenderal!

Sayangnya, saat ini muncul pesan-pesan ninja. Dengan teknik 分身 mereka masuk ke dalam sistem tanpa bisa dibedakan. Admin mana pula yang bisa membaca hiragana, katakana, kanji, rusia, dan berbagai huruf-huruf tak standar lainnya? Karakterisasi penulisan romawi berbeda dengan kanji! Sudah begitu, kita tidak bisa pukul rata.

Dahulu, kita bisa saja beranggapan bahwa surat dengan bahasa Rusia, bahasa Jepang, dan bahasa Mandarin adalah SPAM-SPAM yang menyasar terkirim ke sistem surel kita. Sayangnya, (atau sebenarnya membanggakan, sih, tergantung dari sisi mana dilihat) Universitas Indonesia saat ini menjadi universitas riset berbasis internasional. Banyak sudah mahasiswa asing yang bersekolah di sini. Apalagi, banyak dosen yang kuliah di negara-negara maju yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan.

Contoh kasus, kami pernah menemukan surel yang menyangkut dengan menggunakan bahasa Thai dari seorang profesor di sana.

Untuk memeriksa surel yang menyangkut, biasanya MTA menyimpan surel SPAM di sebuah direktori dalam format UUEncode. Untuk dapat mengekstraksinya, silakan pasang uudeview:

$ sudo apt-get install uudeview

Untuk menggunakannya:

$ uudeview -i <SUREL_SPAM>

Ah, tapi siapa yang rela memperhatikan surel menyangkut satu persatu? Dalam statistik kami, surel SPAM yang masuk ke MX UI ada sekitar 50% lebih. Wow!

Tidak Ada Domain Spesifik

Hal yang paling telak adalah bagaimana menghindari tembakan teman (friendly fire, bahasa surelnya false positive). Pendekatan yang lazim dipakai selama ini di dalam dunia SPAM adalah menggunakan domain spesifik dan frekuensi kata. Nah, bagaimana jika seandainya di dalam UI terdapat banyak fakultas dengan menggunakan kata-kata yang bisa digolongkan sebagai SPAM?

Domain ui.ac.id digunakan oleh Kedokteran, Farmasi dan juga digunakan oleh Teknik. Maka, cara terbaik adalah dengan menggunakan domain spesifik berdasarkan pengguna. Wow, ada 180 ribuan lebih pengguna di UI. Bayangkan berapa sumber daya yang perlu diberdayakan? Saat ini ada sekitar 16 fakultas, belum terhitung lembaga-lembaga di bawah UI maupun fakultas.

Frekuensi kata juga tidak membantu. Kata-kata seperti universitas, penulis, dan kata-kata lain yang sering digunakan dalam SPAM banyak digunakan juga dalam surat-surat sungguhan. Saya tidak mengerti mengapa mereka menggunakan kata-kata seperti tersebut. Apalagi bila bertemu anti-SPAM masa lalu yang dapat memberi penalti hanya karena penulisan kata “analisis”.

Di hari-hari yang semakin jahat ini penggunaan Bayesian sudah tidak seefektif dahulu. Ia hanya dapat digunakan sebagai pelengkap.

Melawan Penyihir dari Barat

Dalam peperangan saat ini, para admin membentuk aliansi dan membentuk data-data inang yang sering mengirimkan SPAM. Daftar SPAM ini menggunakan sistem pelaporan dari para anggota aliansi. Kemudian, aliansi ini membentuk basisdata yang dapat diakses oleh para anggota dan juga orang-orang lain.

Contoh aliansi terkemuka ada Spamhaus, SpamCop, SORBS, Project Honey Pot, dan SenderBase. Ini belum terhitung lainnya yang dipakai spesifik di daerah tertentu dan beberapa sistem pelaporan yang hanya menggunakan buletin seperti anti-scam.de. Masing-masing dengan kebijakan berbeda.

Penyihir dari Barat tahu kelemahan mereka. Dia menggunakan cecunguk-cecunguknya untuk menginfeksi domain-domain sungguhan. Akibatnya, domain-domain tersebut diblok oleh aliansi-aliansi tersebut. Strategi ini digunakan oleh Penyihir dari Barat untuk menurunkan kredibilitas aliansi-aliansi tersebut.

Ah, entah mengapa masih banyak domain yang tidak mengonfigurasi MX-nya dengan benar sehingga menjadi open relay. Selain itu, komputer-komputer bervirus mengirimkan surel dari klien-klien mereka tanpa diputuskan. Penyihir dari Barat tahu bagaimana cara kerja Internet, namun tidak semua ksatria penjaga tahu.

Contoh nahas adalah domain-domain dari Indonesia seringkali mendapatkan blokade dari para aliansi karena ada satu atau dua domain dalam subnet yang sama menyepam dunia. Bagi Anda ksatria-ksatria gagah berani tentu mengakui beberapa minggu ini domain Anda sering diblokade, bukan? Untungnya UI memiliki ASN tersendiri, sehingga blok IP UI terpisah dari domain ID lainnya.

Contoh nahas internasional adalah Yahoo! Mail. Mereka sering menjadi korban backscatter. Hal ini yang membuat beberapa aliansi memblok Yahoo dan menganjurkan penggunanya tidak menggunakan layanan tersebut. Tentu saja, ini tidak mungkin. Banyak sudah orang yang menggunakan layanan ini dan tidak mungkin pindah ke GMail atau layanan surel lainnya.

[NB: Baru-baru ini Yahoo! tengah memperbaharui infrastruktur surelnya, mungkin dia sudah tak seburuk dulu]

Musuh dalam Selimut

Saat ini sudah ada teknik-teknik yang lebih efektif selain Bayesian seperti SPF dan DomainKey/DKIM yang mampu mengidentifikasi MX yang sesungguhnya. Biasanya teknik SPAM, terutama yang bermoduskan penipuan, menggunakan MX-MX liar yang terinfeksi untuk mengirimkan surel. Ternyata, protokol SMTP tidak mengharuskan domain pada pucuk “From: ” sama dengan domain pengirim. Akibatnya, bisa saja orang dari antah berantah mengirimkan surel sebagai berikut:

From: anakkeren@ui.ac.id
Reply-To: ejakulasi-dini@live.com
Subject: Anak Anda Cacingan?

Anda telah memenangkan Samsung Galaxy Tab 2, segera hubungi kami.

Ini bisa diatasi bila kita memasang SPF atau DomainKey/DKIM pada sistem surel kita. Masalahnya, tidak semua orang tahu SPF dan DomainKey/DKIM. Untuk SPF, tidak ada domain besar yang menganjurkannya  sebagai standar, walau pun sepertinya mereka juga menggunakannya. Berbeda dengan DomainKey/DKIM yang dikenali oleh Yahoo! Mail dan GMail untuk protektif.

Dan, seandainya pun kita bersusah payah memasang ini, ternyata ada juga penusukan dari belakang. Para pengguna yang belum paham keamanan memuat sandi mereka dengan kata-kata gampang, misalnya kata yang sama dengan login dan kata-kata sederhana. Lalu, ada juga teknik pura-pura menjadi admin untuk mencuri sandi pengguna. Akibatnya, sandi mereka tercopet dan digunakan untuk menggunakan virus.

Ah, apa yang bisa dilakukan bila konten terkirim adalah SPAM?

Pasrah dan menghapus SPAM yang tersisa, menghubungi aliansi-aliansi agar melepaskan UI dari daftar blokade, mengganti dengan paksa sandi pengguna, dan istighfar; bisa jadi admin UI banyak dosa sehingga terkena musibah itu. Ugh, paling kesal kalau sudah masuk SORBS, sudah susah daftar, lalu katanya harus bayar US$50.

Omong-omong, akhir-akhir ini Yahoo! Mail memiliki layanan yang baik. Begitu saya lapor, selang tak berapa lama surel dari UI bisa dikirimkan.

Kesimpulan

Jangan kasih sandi ke sembarang orang, admin tidak butuh sandi Anda.

Para Admin, mari bersatu, perjuangan masih panjang! Merdekaaaa….! [OST. Jangan Menyerah — lupa siapa yang nyanyi]

Omong-omong, amankah kalau MAILER-DAEMON kita arahkan ke /dev/null?

Bisakah?

Bisakah?

Dilarang Jongkok!

Kalau saja Romo Mangun masih hidup, ia pasti tidak akan membiarkan tanda ini berseliweran. Ah, berapa banyak bangunan baru yang sudah memasang tanda ini. Tidakkah arsitek mereka mengerti kecacatan bangunan mereka?

Coba Anda datang ke Universitas Indonesia. Saya belum pernah mengunjungi semua bangunan, terutama bangunan baru. Tetapi, di setiap bangunan yang saya kunjungi selalu terdapat dua tipe kloset: WC jongkok dan WC duduk. Selalu ada minimal dua WC untuk dua preferensi tersebut.

Saat merancang bangunan Universitas Indonesia, para pendiri bangsa ini menghargai preferensi budaya bangsa ini. Setiap orang yang masih menggunakan budaya bangsa ini berhak untuk mendapatkan fasilitas kenyamanan. Tak lupa pula, untuk tamu yang berkunjung dan tuan nyonya yang sudah terbiasa budaya Barat juga terlayani. Semuanya sama.

Menurut Anda, mana lebih higienis: mencebok dengan tangan atau dengan tisu?

Menurut video, keduanya sama-sama jorok. Kehigienisan ditentukan bagaimana cara Anda mencuci tangan, bukan cara Anda cebok. Baik cara asing mau pun cara Indonesia, keduanya tidak higienis. Ilmu modern menjawab itu dengan menyediakan antiseptik setiap kali kita membersihkan diri.

Memang, ada cerita mengenaskan ketika saya mencari gambar tentang WC jongkok. Kisah seorang gadis yang pangkal pahanya rusak (perhatian, jangan berusaha cari, fotonya sangat tidak pantas) akibat jatuh dari tempat dudukan. Mungkin maksud pengelola memang baik agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti itu. Apalagi, beberapa tempat perbelanjaan memiliki WC yang licin. Tetapi, ini tidak lepas dari pertanyaan mengapa arsiteknya dari semula tidak memperhitungkan adanya budaya ini?

Apakah kami yang masih menganut budaya lama tidak layak mendapatkan pelayanan yang sama? Apakah kami dianggap kuno dan tidak higienis? Apakah kami memang sudah usang dan tak layak mendapatkan tempat di dunia modern?

WC jongkok hanyalah sebuah bongkahan dari gunung es dari sebuah pertanyaan:

“Seberapa inferiorkah budaya Indonesia sehingga ia tak lagi mendapat tempat di kehidupan modern?”

Sebuah bangunan dibangun dengan kenyamanan di dalamnya, sebuah tempat perlindungan. Ia dibangun agar sang penghuni dan yang berkunjung terasa di rumah. Saya sangat menantikan mall atau plaza yang mengerti falsafah ini.

Derita Seorang Administrator

Derita Seorang Administrator

Teknologi sekarang canggih sekali, terutama dalam usaha penerjemahan. Hal ini dimanfaatkan oleh para penyampah (SPAMMER) untuk melakukan social engineering attack. Social engineering attack adalah usaha pembobolan sebuah sistem dengan memanfaatkan kelengahan pengguna. Tekniknya banyak dan yang biasa digunakan misalnya phising dan menguntit dalam dunia maya (cyber stalking).

Dari waktu ke waktu kami mencatat penipuan yang digunakan oleh para penyampah untuk mencuri informasi login UI di sini. Perhatikan evolusi yang menakutkan surel dari waktu ke waktu. Yang paling bawah adalah yang paling terbaru saat ini. Bahasa yang digunakan sudah sangat natural sehingga tidak terasa seperti proses penerjemahan. Wow! Uhm, maksud saya: Duh! [Sebagai akademisi, saya kagum dengan teknik Temu Kembali yang semakin canggih, tapi secara administrator saya merasa sedih]

Sudah ada orang yang menjadi korban. Hal ini menyebabkan pengiriman dari Universitas Indonesia ke Yahoo! Mail tersendat-sendat. Saya bukannya sentimen kepada Yahoo! Mail, mereka berhak memblok kami karena kami kurang awas. Tapi, kok rasanya GMAIL, SpamCop, SpamHaus, SenderBase, dan beberapa anti SPAM yang harus dihubungi satu persatu tidak pernah memblok dengan begitu kuat.

Ah, entahlah, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Yang pasti, sudah ada banyak antrian ke Yahoo! Mail sekarang. Sudah sejak lama kami pasang peringatan kepada pengguna bahwa kami tidak pernah meminta informasi akun apalagi sandi kepada pengguna. Ditulis dengan warna merah dan ditaruh paling atas.

Bagaimana strategi rekan-rekan dalam mengatasi hal ini?

Korelasi Antara Motivasi Mengerjakan Karya Ilmiah dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Korelasi Antara Motivasi Mengerjakan Karya Ilmiah dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Hipotesis f = n t + m Y

Terjadi Korelasi Positif antara Motivasi Mengerjakan Tugas Akademis dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Setelah melewati malam-malam berproskrastinasi dan menjelang batas akhir pengumpulan karya ilmiah, ditemukan hipotesis awal bahwa adanya kecenderungan positif ketika hendak mengerjakan karya ilmiah mengakibatkan aktivitas mencari video menarik di YouTube dan peningkatan penggunaan Facebook secara aktif. Diduga ini adalah sebuah gejala yang lazim terjadi di masyarakat.

Digunakan pendekatan Random Sampling dengan menggunakan distribusi Poison. Alasan penggunaan distribusi Poison bukan distribusi normal adalah karena supaya keren.

[This is what I’ve got when browsing scientific journals and multitasking processor and a tabbed browser.]


Self note:

GANBATTE!

Self condolence:

I wish my Sunday school teacher taught me self control against those beasts of social network world…. Oh, wait, there wasn’t Internet back then… -_-’

Career Path
Workers and Goal

Career Path

Workers and Goal

Workers and Goal

As soon as a baby born in this world. The person get burdened by the parents desire. They want their child to be something. They give everything it takes to make the person to the top.

As the baby grows, the toddler left with its nanny. Two of its beneficiaries are on job ensuring they would have best world. The toddler got its first lesson of loneliness.

The two beneficiaries think that the toddler could not compete. It has to have best education. So, the beneficiaries took the toddler to pre school and gives the toddler the “best” education.

We ought to have the ability to read before entering elementary school, so the beneficiaries thought. Then, they give every lessons that matters to the toddler. They give swimming lesson, music lesson, and many more lessons. They ensure the best nutrition for the toddler.

It has anything that its development need but love; a pat in the head and words saying, “I love you, child”.  The second lesson of unwanted.

It’s now already six years old and running well in the elementary. It compete with other toddlers.  Each of them have their beneficiaries walking over hell just to bend them good. So, they were also enhanced in the early.

The competition is fierce. Many of those were lose the light and decided to kill themselves. Some going on strike with their lives. Some plunge themselves into drugs. Some strangled themselves in negative environments. Some walking on limbo.

The toddler isn’t one of them. It has reached the goal and now striving into university. It’s beneficiaries were so lucky. They decide to invest their investment on a career path that they think best for its own goodness.

The toddler wants to have fun. But, what is fun? The toddler isn’t quite get it. It never learns to have it.

No dreams from the past have in its heart. It doesn’t even have a heart that shines like it used to. The third lesson is to throw away dream.

It now have its path on the way that the beneficiaries think. After all, it survives from the harshness of its little heart. It now has the ability to kill all the yearning.

It sets on one thing: money. Yeah, it doesn’t need happYness. It doesn’t need good sleep. It doesn’t have to have loyalty or good things. It just need to live.

Well, have the toddler asked itself, what’s the use of years of living for? I guess it would have that in the end.

Do you have to be smart to be happy?

Do you have to have everything just to smile?

Do you even know how to live?

Toddler?

A Mumbling IT of Mine

A Mumbling IT of Mine

I’ve just upgraded my Gentoo box and trying to mess with Chromium (www-client/chromium) and the build version is 11.0.696.34; yes, a development number. The reason why I’m using it was because I’ve just being pissed by Yahoo! site. I’ve been avid user of Konqueror; a fast, native, and recently stable browser of KDE SC. When I’m using it to browse Yahoo! Mail, I’ve been rejected and said that I should go to classics.

I’m using Yahoo! Messenger, the web version, as Pidgin no longer docked into my tray and Kopete is a disaster in proxified environment. Suddenly, when I was logged to Yahoo! Mail Classics, it disconnected my web messenger and loaded its own Yahoo! Messenger widget. It also not lasted long and disconnected itself.  I think Yahoo! is trying to move its infrastructure today to a new platform. I was greeted with new My Yahoo! page.

I gave up and started Chromium. One thing that pleased me, it came with new interface. What’s more was the skinning  (personas). There were contributions from local artists such as Slank, Benny&Mice, and Edward Hutabarat. Since meeting Stallman, I’ve grown to love Indonesian culture more. So, between Slank and Edward, I had to choose Edward’s Part One Edward Hutabarat theme. It’s a Batik design which is a plus for me.

Edward Hutabarat's Chrome Theme

Edward Hutabarat's Chrome Theme

A Batak part of me interested to find his site and what he’s up to. So, I go to his official site. Whew, a Flash site! Luckily I had given chance to Flash in its 10.2 version. I can accessed his site and found many interesting designs. When I looked into his Stores, I thought the site was using some kind of e-Commerce and found out that it contained physical stores address and an email. I think you could contact his shop, may be, to get your exclusive offer. Well, I’m not that wealthy. 😛

I wished the team would go into pure HTML5+CSS3+Javascript stack. The current site would hinder iPad users which I would think them as serious buyers. [Come on, who would have an iPad if the person not economically adequate?]

It would also a shame to the site because of the Flash. It doesn’t have enough system interaction. I mean, I didn’t have a loading cursor or any real sense that the page was loading. Fortunately, my working environment have adequate bandwidth so I soon noticed about it. It just gave few second white blank page. I wondered, how those unlimited 3G/3.5G would load the page.

Another thing that would be critical to the site was the SEO thingie. Yeah, I hate those SEO folks, especially those that use underhanded methods. But, discoverability nonetheless is a big factor. Because of the flash, the site was simple just http://www.edwardhutabarat.com/ in any given page. We didn’t see web taxonomies like edwardhutabarat.com/stores or something like that. Well, open data is a serious topic that should be taught to web designer, my 2 cents.

However, the site’s content was amazing. I saw many of his works and the philosophy behind them. You should check it out yourself. No screenshot because those are copyrighted and I don’t find  any terms of using it. Btw, I don’t know that person until I saw his theme in Chromium’s page.

Anyway, I was going to rant about Yahoo! site.

Please support GNU/Linux! And use better detection for browsers. Why not using function test to test Javascript’s capability? I mean, why won’t you use many browser detection techniques out there? Yes, I have use your system more than 12 years old and would love to upgrade into your new features or what ever you wished me doing, excluding any that endangering privacy.

Can’t someone propose to ECMA to include Javascript function capabilties discovery function? We will be in a happy ending if we had a browser capability test so that we could work around things. Or, have I miss something that it is already available?

My Konqueror is using Webkit, the same core as Chrome. But, it kept rejected. Can’t we call your site racist? Ha… ha… ha….  :))

Pelayan Publik Idaman

Pelayan Publik Idaman

Saya sedikit kecewa dengan tadi pagi. Saya harus izin dari kerja hanya untuk memperpanjang KTP. Tetapi, ternyata alat pengambil sidik jari dan fotonya tidak jalan. Kami yang mengantri disarankan untuk datang besok. Padahal, saya cuma mengambil cuti setengah hari. Dalam hati iseng sempat terpikir untuk memasang aplikasi biometrik UI di dalam kantor tersebut. Bisa dijalankan dari USB. Pakai Ubuntu, lho, Pak Lurah….  😛

Di lain pihak, saya semakin salut dengan pelayanan KRL Jabodetabek yang semakin membaik. Saking saya salut, saya sempat berpikir, mengapa sosialisasi pentingnya menjaga sarana dan prasarana umum tidak digencarkan?  Maksud saya, saya termasuk korban yang terkena pecahan kaca KRL AC Ekonomi yang pecah sewaktu dilempar di dekat Tanjung Barat beberapa bulan lalu. Saya juga lihat banyak sobekan tempat duduk bus, mikrolet, atau pun kendaraan umum lainnya. Saya pun sering melihat coretan di toilet-toilet umum. Terutama yang suka merokok di kendaraan umum, waduh bagaimana ini?

Nah, satu lagi cerita unik adalah adanya seorang polisi yang mengunggah  video lucu. Ia menyanyikan lagu India dengan lipsync dan gaya bak penyanyi India di pos jaga. Judulnya, “polisi Gorontalo menggila.”  Saya, sih, kurang tanggap awalnya. Baru setelah ada pemberitaan tentang sang pengunggah hendak dihukum oleh atasannya, saya baru tertarik menonton.

Video ini sebenarnya sudah beredar beberapa hari di Internet. Tetapi, seperti kebanyakan orang lainnya, saya berpikir itu adalah video kekerasan. Jujur, saya termasuk yang takut dengan Polisi dan Satpol PP. Dalam pikiran saya, tampilan seorang polisi adalah bapak-bapak gendut berkumis tebal. Tentu ini bukan karena saya mantan maling voucher yang dipenjara 7 tahun. Tetapi, karena saya punya teman-teman yang kalau cerita tentang polisi, ceritanya gak mengesankan.

Coba Anda perhatikan berita tentang polisi selain Densus 88, beritanya paling seputar cicak versus buaya. Lalu, kisah salah hukum yang bebas beberapa waktu lalu. Lalu, kisah polisi yang teledor memperlakukan bom buku. Dan beberapa kisah lain yang menambah sederet kelam sejarah polisi, termasuk pemeo tentang lapor ke polisi. Padahal, kepolisian juga memiliki sederet keberhasilan, yang sayangnya baru terlihat kalau kita teliti lebih lanjut.

Kembali ke topik. Ternyata dugaan saya salah. Sang pengunggah mementalkan gambaran mental tentang sosok polisi. Lucu, sekaligus memberikan insight kepada alam bawah sadar saya bahwa polisi juga manusia. Mereka juga punya hati nurani. Yang pasti, kalau orang tersebut yang saya dapatkan, saya takkan ketakutan datang ke kantor polisi. Jauh dari kesan angker. (Omong-omong, saya belum pernah ke kantor polisi. Mungkin pernah di masa yang sangat lalu…) ;-P

Jadi, bagi kepolisian sebenarnya video lucu ini adalah sebuah iklan viral yang menghapus kesan angker dari kepolisian. Atau setidaknya demikian pemikiran saya. Saya yang sempat kecele pun mulai merefleksikan pandangan pribadi saya tentang kepolisian. Mungkin, cerita orang-orang tentang polisi lalu lintas telah membuat saya melakukan generalisasi kepada kepolisian.

Padahal, yang menangkap koruptor, kan, polisi. Yang menangkap begal dan penjahat lainnya, kan, polisi. Yang membuat lalu lintas lancar, kan, juga polisi. Coba kalau tak ada polisi di persimpangan, bisa ngetem sejam angkot-angkot di sana. Uh, intinya video ini membuat saya berpikir ulang tentang kesan kelam dan mencoba berpikir positif.

Pelayanan publik seharusnya mencerminkan kesan humanisme, jauh lebih humanis dibandingkan korporasi modern. Uh, berhubung saya juga di sektor pelayanan publik, mungkin saya juga perlu bercermin. Jangan-jangan saya digambarkan sebagai bapak-bapak gendut galak yang jutek oleh para sivitas akademika UI. Ha… ha… ha….

Admin juga manusia.

~tertarikJugaUntukMembuatVideoGokilAdminUI

NB: Ini istilahnya apa, yah, di ilmu komunikasi: memperlihatkan sisi humoris sebuah organisasi untuk lebih memanusiakan organisasi tersebut?

Sebegitu Parahnyakah?

Sebegitu Parahnyakah?

Siswa: Soal Banyak, Dibaginya pun Acak! – Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Para siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN) pada April mendatang mengeluhkan aturan tentang lima paket soal pada UN 2011. Siswa mengeluh karena model lima paket soal ini akan menyulitkan mereka mencontek. Aturan baru UN 2011 akan mengatur lima paket soal pada satu mata pelajaran yang sama.

Kalau di Internet, siswa tersebut sedang melakukan troll bait, alias hanya bercanda dengan menimbulkan amarah bagi yang lain. Tetapi, alasannya gak banget! Apakah memang sekarang sudah terbiasa untuk mencontek?

Lalu untuk apakah mereka les sampai malam?

Ah, apakah ini memang benar-benar gambaran untuk sistem pendidikan sekarang?

~pleaseTellMeThisIsAnEarly1stAprilJoke… 🙁

Wahai Operator HP

Wahai Operator HP

Wahai operator GSM,

Saya sudah hampir 8 tahun menggunakan nomor saya. Dari dulu saya selalu mendapatkan pelayanan bagus. Saya sudah bertahun-tahun opt-out dari layanan mail voice, mengapa sekarang, kok, aktif lagi? Saya akui, saya pernah kehilangan HP dan minta kartu SIM baru dengan nomor yang sama. Tetapi, apakah saya harus opt-out lagi? Saya tidak ingat, tetapi seingat saya dahulu ketika saya sudah mengganti nomor, tidak ada keluhan rekan saya tentang fasilitas ini. Saya saja sudah lupa cara meng-opt-out-nya.

Pada awal pemakaian, saya pernah membeli pulsa melalui pihak ketiga. Tetapi, semenjak banyak pengiriman SMS penipuan, saya mulai mengisi memakai ATM.  Akhirnya, saya menikmati layanan berkualitas yang hanya SMS yang ditujukan untuk saya dan bukan promo yang saya terima. Hal ini berlangsung bertahun-tahun.

Mengapa, kok, waktu-waktu belakangan ini saya mulai menerima SMS-SMS promo tanpa saya opt-in ke dalamnya? Memang, SMS tersebut dapat dihapus. Tapi, bisakah saya menikmati hari saya tanpa diberikan SMS tersebut?

Itu, ‘kan, sama saja dengan saya sebagai konsumen Anda mengirimi surel support Anda dengan 1000 korpus SPAM per hari. Toh, itu legal dan Anda kalau merasa surel tersebut tidak layak, maka Anda bisa hapus. Toh, saya akan mengirim dari satu surel sah dari GMAIL atau penyedia layanan surel lainnya. Anda tinggal pasang filter, kemudian saya buat akun lagi. Toh, Anda tinggal pasang aturan filter baru tiap hari. Atau memang Anda setuju kalau saya melakukan hal tersebut?

Saya tentu tidak akan melakukan itu. Tetapi, Anda perlu tahu bahwa itulah perasaan saya setiap hari. Belum lagi saya harus bertanya-tanya dari mana informasi nomor HP saya diketahui oleh iklan-iklan penawaran bukan dari Anda. Kepada siapa saya harus mengadu? Tidakkah Anda punya tanggung jawab sosial untuk mengedukasi kami kalau memang ada laporannya?

Lalu buat apa saya capek-capek registrasi ke Depkominfo (4444)?

tl;dr

tl;dr

Ada beberapa keberatan yang saya hendak ajukan kepada penggiat dunia maya sekarang, berhubungan terhadap aksesibilitas:

  1. Buat tema yang pas. Jangan membuat komentar menjadi mubazir.
  2. Hentikan konten sampah.
  3. Jangan berdebat kusir.

Buat Tema Yang Pas

Sering kali, dalam sebuah terbitan yang menarik melibatkan diskusi yang panjang. Nah, tema yang tidak memperhatikan segi komentar yang panjang sering kali membuat orang tidak membaca komentar orang lain. Memang, seharusnya sang komentator belajar untuk mengirim komentar singkat. Tapi, kalau labelnya sudah humaniora, filsafat, bahkan agama, mana mungkin penjelasan bisa pendek?

Sering kali kita pusing membaca komentar orang dalam sebuah entri karena terlihat panjang. Beberapa mesin tematik juga secara brutal memotong baris-baris kosong pada komentar yang menyebabkan komentar-komentar panjang jadi terpotong. Malas jadinya membaca sehingga komentar seperlunya dan sekenanya. Inilah salah satu asal-muasal perang suci di komentar (flamewars).

Mari perhatikan RFC 678. Ini adalah kebijakan masa lalu tentang tulisan digital. Lebar tulisan maksimal seharusnya 72 karakter dan tingginya 60 baris. Memang, semenjak zaman lebar pita berlimpah dan aspek monitor semakin dalam, kita mulai meninggalkan konvensi-konvensi ini. Tapi, kok, semakin lama tulisan panjang semakin sulit untuk dibaca.

Coba perhatikan jurnal-jurnal ilmiah semacam ACM dan IEEE Conference. Kebanyakan tata letak mereka menggunakan dua kolom. Hal ini agar tulisan lebih padat dan mudah dibaca. Aspek mudah dibaca ini yang membuat banyak orang, terutama para pemrogram, menentukan bahwa jarak ideal sebuah tulisan adalah 60 karakter.

Omong-omong, kalau Anda membuat CSS untuk formulir isian sehingga berwarna seperti tematik situs Anda, jangan lupa untuk memberi warna kontras terhadap huruf yang diberikan warna tulisan Anda. Tidak semua sistem operasi menggunakan warna putih sebagai warna tematiknya. Kalau tidak bisa, lebih baik tinggalkan warna isian formulir Anda sesuai dengan warna baku peramban masing-masing pengunjung Anda.

Hentikan Konten Sampah

Anda tidak akan kaya dengan menaruh iklan di Internet. Yang ada hanyalah Anda mengganggu orang-orang dalam mencari konten di Internet. Masalah SEO ini membuat pening kepala. Saya sering kali terganggu dalam mencari topik-topik penelitian, terutama ketika mencari tulisan-tulisan populer.

Saya sudah lama tidak lagi membaca buku. Jurnal-jurnal ilmiah jauh lebih tertatar. Lalu, ketika blog mulai dipakai untuk menulis hal-hal yang bisa jadi tren di masa mendatang, saya memilih untuk membaca blog.

Sebagai contoh, coba lihat bufferbloat. Ini isu terkini dan belum dibahas secara mendetail dalam jurnal mana pun. Baru sekedar wacana tak begitu lama dan baru satu bengkel kerja yang membahasnya. Artinya, ini bisa jadi topik baru yang bisa diteliti untuk menghasilkan barang produksi baru. Bayangkan seandainya yang nomor satu adalah tautan-tautan SEO. Bisa-bisa masalah sebenarnya menjadi kabur.

Hentikan Berdebat Kusir

Hal terakhir yang membuat pening adalah ketika banyak yang berdebat kusir. Hal ini paling banyak saya temui di dalam debat-debat keagamaan. Menurut saya, kebanyakan dari mereka hanyalah untuk memuaskan ego mereka. Untuk membuktikan kalau mereka benar dan orang lain salah. Sama sekali bukan buat Tuhan.

Tidak ada yang bertobat. Hanya menambah kebencian. Tidak ada garis kesimpulan. Sumpah serapah pun acap kali muncul.

Sebagai pengguna lama dalam Internet, perlu saya tegaskan satu hal:

Identitas di Internet bukanlah sumber yang dapat dipercaya.

Masih segar diingatan bahwa Wikipedia masih belum dapat dipercaya. Internet adalah sumber yang tidak dapat dipercaya. Tentu ini berkontradiksi dengan apa yang saya tulis pada poin sebelumnya, yakni saya menggunakan Internet sebagai sumber bahan pembelajaran.

Masalahnya, sering kali orang membaca tulisan dan menganggapnya sebagai kebenaran. Beberapa kaum fundamentalis bahkan menggunakan referensi tautan di Internet untuk menjustifikasikannya. Bahkan, tanpa dikonfirmasikan lebih lanjut, ada orang yang menganggap sebuah komentar di forum Internet sebagai sebuah kebenaran.

Saya teringat tulisan Budi Rahadjo di InfoLINUX beberapa waktu yang lalu. Orang bisa saja menyampah dalam Internet dan Internet akan merekamnya sebagai sebuah kebenaran. Bermodalkan beberapa lorong, orang bisa menjadi siapa saja. Facebook dan Twitter bahkan memudahkan penipuan jenis ini.

Orang bisa saja menulis apa pun di Internet. Tetapi, tanpa data akurat, Anda berhak (bahkan wajib) untuk ragu. Hentikan berdebat dengan orang/bot/troll bila masing-masing pihak berpijak pada tanah yang berbeda. Tidak akan adil. Tidak akan menyelesaikan masalah.

Mendukung Tifatul Sembiring

Mendukung Tifatul Sembiring

Saya secara pribadi tidak suka dengan kebijakan pornografi Depkominfo yang keterlaluan. Saya juga sangat tidak setuju dengan Om Tif yang suka ngeyel. Tapi, kali ini dia sejujurnya benar dan saya salut sama dia! Saya dukung dia! [DISCLAIMER: KHUSUS MASALAH INI SAJA! :P)

DATA CENTER BLACKBERRY HARUS ADA DI INDONESIA!

Mungkin bagi banyak orang, termasuk anggota dewan yang biasa saja ketika akunnya dibajak, ICT merupakan sebuah produk biasa saja. Ia hanya sebuah produk pelengkap (enhancement). Tetapi, tahukah Anda bahwa orang yang memiliki informasi adalah orang yang bisa memiliki dunia. Ketidakpedulian orang-orang awam akan data-datanya semakin tersimpan di cloud meresahkan setidaknya saya sebagai praktisi ICT.

Apa yang dicemaskan Stallman beralasan. Ketergantungan terhadap layanan cloud menyebabkan banyak pengeluaran yang tak perlu. Yang parahnya lagi, semakin banyak perangkat yang tidak dapat bekerja bila tanpa vendor tertentu. Akibatnya, bangsa ini bisa tertawan (baca: terjajah) oleh sebuah teknologi. Mungkin saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya karena teknologi kita belum sampai sana. Tetapi apalah salah jika kita mulai dari awal.

Ketergantungan terhadap teknologi RIM seperti BBM dan sejenisnya membuat kita bertanya, sejauh mana data-data yang kita serahkan berjalan? Bagaimana seandainya jika suatu saat RIM melakukan tapping terhadap data-data yang dia miliki? Bisakah kita meminta kembali data-data milik kita sendiri? Dapatkah kita bisa mengaudit sistem informasi RIM dan menjamin bahwa itu aman? Atau percayakah kita bahwa teknologi buatan Kanada itu aman? Bahkan, APAKAH HAK-HAK KITA TERHADAP LAYANAN TERSEBUT DAN PENGATURANNYA DALAM TOS?

Sejujurnya, kita takkan bisa menuntut Facebook apabila terjadi perubahan TOS. Sama seperti situs-situs porno, Facebook memiliki kekuasaan di luar yuridiksi NKRI. Hal tersebut tidak bisa dibiarkan dengan RIM. RIM telah memiliki pangsa pasar besar di Indonesia sebagai penyedia telekomunikasi.

Telekomunikasi adalah salah satu hal dasar penggerak ekonomi. Dan menyerahkannya kepada negara lain tanpa pengawasan sama saja seperti menyerahkan negara ini untuk dikelola oleh orang lain. Bagi Anda yang tidak lagi percaya dengan NKRI, maaf abaikan saja perkataan saya dan seluruh argumentasi ini.

Omong-omong, jangan salah. Saya juga pendukung Alm. Mark Weiser dan Ubiquitous Computing-nya. Saya juga sangat setuju dengan ide Sir Tim Berners-Lee tentang Semantic Web. Saya setuju dengan poin dia tentang Open Web. Tetapi, saat ini korporasi ICT sepertinya ingin menganggap bahwa yang dimaksud web adalah dirinya. Itu salah!

Ugh, dengan sangat berat saya katakan: Om Tif benar! Pusat data RIM untuk Indonesia harus ada di Indonesia!

2011 Wishlist Series: Congratulate!

2011 Wishlist Series: Congratulate!

Dear friends and others,

Congratulation on becoming PNS (Pegawai Negeri Sipil). My wish for you to keep the idealism and not to be yet another batch of handful corruptors.

I know the country is sucked right now. People from business said that even when government don’t do anything, the economy will runs itself. I kind of not like it. There are souls and blood spilled to obtain the thing called independence. Hopefully, it won’t go to waste.

People always said that the problems are deep and no easy way to resolve it. Some suggested to kill all the people in the age of  40 who runs the system. Some find idealism in a religious believe that not even think this country is considered anymore. Some even suggested that this country is long dead.

Well, to me this is it! This is where you practice your speech. When your idealism runs to your blood and you shouted at the government. With banners and tires being burned and leaflets. Now, you have the power to change.

I know it’s hard. That’s what some of our brothers and sister said as a Jihad, your Jihad! You know the hardest part of this Jihad? People will asked you, why would you have no cars eventhough  you are in the ministry of X. You will hold projects of million dollars, yet you have an income of hundreds. The worst of it all, it took 5 years from now before one of you can take a seat where decisions are made. You will have to endure, gnashing your teeth, and even rumbling your thoughts.

Many people still have their faith intact. But, today’s climate, not just environment but also politics, making people where is this God? And I’m having difficulties lately to explain the concept of God’s love. Who can said God is loving and just when we see poor people being treated harsh.

Bagaimana Kita Terkenang

Bagaimana Kita Terkenang

Saya merasa tertohok ketika membaca majalah Time edisi 6 Desember 2010, Special Timeframe Issue. Pada topik The World, Time menyediakan statistik yang sungguh menohok berbicara tentang perbandingan tahun 2000 dan 2010. Berikut cuplikannya:

# alasan 2000 2010
1 Luas es abadi di Artik (Kutub Selatan) 7,0 jt KM2 4,9 jt KM2
6 GDP Brazil US$3.700 US$8.536
8 Angka kematian Ibu saat melahirkan di Etiopia 750 470
9 Mobil Bentley di Rusia 0 103
10 Investasi Cina di Afrika 1,6 miliar 17 miliar
12 Penjualan telepon genggam di India 2 juta 545 juta
13 Pengguna Internet di Cina 22 juta 420 juta
14 Emisi CO2 Indonesia 267 ton metrik 434 metrik ton

Apakah Anda menyadari ada yang salah dengan tabel tersebut? Dunia mengingat Indonesia sebagai salah satu penyumbang polutan terbesar di dunia, berbeda dengan negara lain yang diingat akan pencapaiannya.

India telah mampu membuat telepon genggam menyentuh sampai ke daerah ruralnya dan model bisnis ini yang ditiru Indonesia.[1]  Mereka dengan keterbatasan mampu menciptakan peluang TIK (Teknologi Informasi Komputer)

GDP Brazil meningkat dua kali lipat lebih. Sungguh pencapaian fantastis. Tambahan juga,  Brazil merupakan salah satu negara pengadopsi FOSS (Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka) paling progresif. Akibat hal tersebut, ITU, lembaga standarisasi global dalam telekomunikasi, menganugerahinya ITU Awards pada tahun 2009.[2] Di mana IGOS?

Ugh, sebelum saya membuat tulisan ini menjadi lebih menggugat, saya takkan membahas yang lain. Ini seharusnya menjadi tulisan yang lebih instropektif dan retrospektif. Saya takkan menggugat biaya komunikasi data yang mahal yang menyebabkan penyebaran Internet begitu tersendat. Begitu tersendatnya, saya tidak yakin apakah Indonesia bisa memenuhi janjinya kepada ITU yang akan menjadikan Indonesia zero blank spot (nol titik kosong) pada tahun 2015. Begitu tersendatnya sehingga hanya kaum muda progresif saja (yang notabene masyarakat urban) yang bisa mengerti. Pendidikan TIK kita begitu rendah sehingga orang tua membiarkan anak-anaknya dapat mengakses pornografi dengan mudah dan menteri kita hanya menawarkan solusi yang tak masuk akal: memasang filter di ISP. Hmm… keluar juga salah satu uneg-uneg saya. Ha… ha… ha….

Ada beberapa proyek harapan yang menjadi pertanyaan saya:

  1. Apa yang terjadi dengan program kesehatan Indonesia Sehat 2010? Di mana pertanggungjawabannya?
  2. Bagaimana dengan nasib megaproyek Palapa Ring?

Terus terang, saya tidak begitu mengikuti KPK dan semua kasus-kasus korupsi, termasuk Sisminbakum. Bagi saya, semua itu akan selalu ada karena  hal yang paling esensial tidak tersedia. Hal-hal esensial berikut:

  1. Infrastruktur komunikasi untuk mempercepat komunikasi, termasuk di dalamnya adalah transfer pengetahuan.
  2. Infrastruktur TIK untuk mempercepat transparansi informasi. Transparansi TIK ini juga mampu mencatat keberhasilan pegawai sehingga bonus bagi pegawai bisa layak diberikan. Insentif bagi pegawai publik.
  3. Infrastruktur pendidikan untuk membuka wawasan setiap insan bahwa korupsi akan merugikan di masa mendatang. Sehingga mereka tidak mudah dibodoh-bodohi oleh Iblis.

Palapa Ring menurut saya seharusnya bisa menjadi infrastruktur vital dalam pertukaran informasi. Departemen Perindustrian bisa menggunakannya untuk menyediakan layanan e-Commerce bagi petani, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani dan membunuh tengkulak. Ia bisa menjadi jawaban bagi Departemen Kesehatan, terutama program Indonesia Sehat 2010-nya yang dapat mendeteksi proses endemik penyakit. Jadi, alih-alih memberikan fasilitas kesehatan kepada keluarga miskin, pemerintah bisa memproses pencegahan terjadinya penyakit. DIKTI bisa menggunakannya untuk memberikan konten-konten pendidikan kepada seluruh pelosok Indonesia. Memantau perkembangan pendidikan di daerah-daerah.

Tentu, semua butuh proses dan saya mengerti hal tersebut. UU Keterbukaan Informasi Publik baru saja disahkan dan butuh waktu untuk bisa menjadi kultur. Tetapi, saya rindu di 2010-2020 majalah Time akan menulis Indonesia dengan kebaikan. Kita pernah bisa menjadi negara penyeimbang dua blok yang menyebabkan perang Dingin tidak menjadi perang Dunia III. Kita pernah bisa berswasembada beras pada Pelita III. Kita pernah menjadi salah satu pasukan bola disegani di Asia. Kita pernah menyapu emas Olimpiade di cabang Bulutangkis.

Mengapa harus kepala negara lain yang mengingatkan saya akan pentingnya dasar negara saya? Mengapa harus orang lain yang menggugat penebangan kayu ilegal di Indonesia? Mengapa harus hasil penelitian peneliti asing yang digunakan oleh BRI untuk mikroekonomi? Mengapa infrastruktur transportasi masa kolonial yang masih saya gunakan?

.

Apa yang menyebabkan kita tidak bisa lagi diingat akan pencapaian kita?


  1. Maaf, saya lupa sumbernya, ada di wawancara Tempo dengan salah satu pemimpin perusahaan telekomunikasi. ^
  2. Michael Tiemann. President Lula of Brazil receives ITU Award, Open Source Software cited (updated). <http://www.opensource.org/node/443> ^
Sungguh Terlalu!

Sungguh Terlalu!

Saya baru menemukan ternyata Malaysia sudah mengadopsi format Open Document Format for Office Applications(ODF) sebagai format resminya semenjak 2009. [1]

Kita sebagai salah satu implementator pertama FOSS (Free/Open Source Software). KAMBING.ui.ac.id telah melayani semenjak 2001. Mark datang ke Jakarta sudah dua kali untuk memperkenalkan Ubuntu. Tetapi, mengapa hanya sebatas IGOS saja kita berani masuk? Sudah itu, gerakan IGOS tidak pernah serius dan cenderung setengah-setengah. Kita sudah punya BlankonOS dan Kuliax sebagai distro GNU/Linux. Jika di UI berbasis Debian GNU/Linux, di ITB sarangnya FreeBSD.

Tapi, kok, kita melempem, yah, sekarang?

Ke mana orang-orang yang dahulu bervisi FOSS? Ke mana orang-orang yang dahulu di depan?

Apakah kita juga menunggu sampai Indonesia terjajah lagi secara pengetahuan?

Omong-omong, salut buat saudara-saudara kita di Malaysia yang luar biasa. Ugh, dari pada skandal salaman, saya lebih menyesalkan skandal yang ini.

Latar Belakang

ODF dikembangkan oleh Sun Microsystem kemudian diadopsi menjadi standar oleh OASIS TF. OASIS adalah badan standarisasi yang banyak bergerak di bidang standar terbuka untuk dokumen XML. Kemudian, ODF menjadi standar ISO/IEC 26300:2006. [2] ODF adalah format yang diusung sebagai format terbuka dan didukung oleh banyak aplikasi perkantoran Office 2010, OpenOffice 3, dan lain sebagainya.


  1. Dr. Roy Schestowitz. OpenDocument Format (ODF) Now Officially a Malaysian Standard. http://techrights.org/2009/10/29/odf-malaysian-standard-signed/ ^
  2. Wikipedia. http://en.wikipedia.org/wiki/OpenDocument ^
Installing Fedora 14 (Laughlin) From Debian Squeeze

Installing Fedora 14 (Laughlin) From Debian Squeeze

To tell the truth, I’m quite pissed because I had failed before in upgrading to Fedora 14. The failed upgrade using Pre-Upgrade wipped all of my GNU/Linux partitions. I am very pissed about the situation that I decided to take revenge and trying to install Fedora 14 again. This time, I put all partitions on LVM. This scheme were not something you could do in Fedora, normally. For my pride, I went to tame this beast with this kind of impossible situation! 😀

The HOWTO in a glance

Basically, to install Fedora 14 to LVM, you just need an intermediary partition that not LVM. In my case, a 4GB USB thumbdrive served the cause. Here’s what I do:

  1. Download kernel and initramfs and boot to Anaconda installer.
  2. Put /boot on my USB drive and then move the content to / partition after installation.
  3. Adjust the GRUB2 in Squeeze and /etc/fstab in Fedora.

Preparing The Image.

Download Fedora 14 installer’s kernel image and initrd from a repo near you — mine is KAMBING.ui.ac.id. For convinience, I’ve put those in

/boot

, but you could put it elsewhere.

KAMBING.ui.ac.id is literally besides me, so I accessed it directly. But, to save download time, you could download install.img and put it on the USB drive.

Modify GRUB 2

Edit GRUB 2 configuration (

/boot/grub/grub.cfg

) and add the installer path. Append these lines (I copy it from Debian entry) in the end of file:

menuentry 'Install Fedora' --class debian --class gnu-linux --class gnu --class os {
        insmod lvm
        insmod part_msdos
        insmod reiserfs
        set root='(Linux_LVM-Linux_Debian)'
        search --no-floppy --fs-uuid --set 2ad369e8-28dc-4270-a4e7-21e34a4cd93e
        echo    'Loading Kernel'
        linux   /boot/vmlinuz nomodeset xdriver=vesa gui
        echo    'Loading initial ramdisk ...'
        initrd  /boot/initrd.img
}

You see, I’ve been using ReiserFS on top LVM. And I turned off the kernel modesetting. It seems there is a bug in kernel that made some of the chip unable to change resolution using kernel modesetting. I got blank screen after the kernel trying to run the installer if I don’t do that. I just found out while writting this that Text Mode Installation can’t select advanced mechanism like manual partition.[1] SHOOT! I wish I had this warning in hand before.

Okay, booted to the kernel, I’ve choose these options:

  1. Language: Indonesian
  2. Keyboard type: US  (I only press ENTER here)
  3. Installation Media: Harddisk
  4. Partition: /dev/sdb1 and image directory: /install.img
  5. Wait the Anaconda boots into graphical. Then select Next.
  6. Type of device: Basic Storage Device.
  7. It warns about Cannot Upgrade, ignore it by select Continue.  (It’s obvious since I have Debian not Fedora)
  8. Set Hostname.
  9. While at it, Configure Network and set your basic network to access.
  10. Select timezone: Asia/Jakarta.
  11. Enter root password.
  12. Type of installation: Create Custom Layout.
  13. Select root partition (“/”) on an LVM partition and boot partition (“/boot”) on /dev/sdb1. Don’t format the /dev/sdb1 just for caution. Remember it already contains the install.img.
  14. I need the GRUB option, but don’t want to install it in our partition. So, I install GRUB in/dev/sdb (USB drive MBR). Use Change Device to change partition.
  15. Select mirror.
  16. Select packages that would be installed. And install it, and wait for it, and take a break a little bit…
  17. Done.
  18. Adding a user and stuffs….

Finally

A Fedora system f*cked up with SELinux. Fiddling and meddling with configuration files. User can’t access, disable SELinux. But, what is this SELinux needs to exists on laptop?


  1. Fedora Documentation. 7.18. Disk Partitioning Setup. http://docs.fedoraproject.org/en-US/Fedora/13/html/Installation_Guide/s1-diskpartsetup-x86.html ^
Agama, Pengetahuan, Dan Bencana

Agama, Pengetahuan, Dan Bencana

Menghubungkan bencana alam dengan agama sangat menyesatkan rakyat, kasihan.(Wimar Witoelar, 2010)

Sebuah kicau sederhana dari Wimar untuk kita semua yang membuat saya terusik untuk membahasnya. Memang, saat ini tengah terjadi dua bencana secara berturut, bahkan lebih:

  1. Bencana banjir Wasior
  2. Bencana tsunami di Sumatera Barat.
  3. Bencana meletusnya gunung Merapi.
  4. Bencana kereta api.
  5. Bencana banjir dan macet total DKI Jakarta.

Banyak korban yang meninggal, termasuk Mbah Marijan. Bangsa ini tentunya sedang berada dalam kemalangan. Sayangnya hal ini bisa dijadikan komoditas politik oleh orang-orang yang ingin mengadu nasib. Mereka bahkan tak segan-segannya mengatasnamakan agama, sebuah topik populer yang bisa dipakai untuk menanjak.

Sebagai seorang yang teredukasi, saya merasa prihatin tentang hal tersebut. Adalah hal yang efektif jika kita hendak menenangkan masyarakat dengan isu-isu agama. Akan tetapi, penggunaan alasan keagamaan untuk isu-isu sosial justru dapat melemahkan agama (backfired).

Coba lihat ketika bangsa Eropa berada pada Masa Kegelapan. Ketika itu dengan berbagai alasan, agama menjadi komoditas dalam banyak hal. Penguasa-penguasa menjadikan agama sebagai legitimasi. Penyelewengan-penyelewengan oleh institusi agama dan penghilangan hak asasi dapat dilakukan atas nama agama. Bahkan, para pengikut dibuat rasa takut.

Tetapi, ketakutan takkan bisa menahan amarah ketertindasan. Mereka pun memberontak terhadap kungkungan yang disebut agama ini. Semenjak zaman Reinasans, banyak orang mulai meragukan agama. Perang demi perang mulai mempertanyakan eksistensi Tuhan. Di manakah Tuhan ketika keluargaku mati dibom? Di manakah Tuhan ketika ibuku mati?

Salah satu yang menyedot perhatian dan berhasil membuat orang membuang keimanannya:

Jika Tuhan itu Baik dan Maha Kuasa, mengapa Ia membiarkan ciptaan-Nya menderita? (C. S. Lewis, 1940)

Wahai petualang-petualang politik, pertanyaan ini bisa membuat bangsa yang demikian religius menjadi murtad. Anda boleh berkilah bahwa setiap orang bisa saja dicuci otaknya. Setiap orang Indonesia yang kuat agamanya tidak mungkin bisa membuang imannya dengan mudah. Tetapi, fakta dan sejarah berkata lain!

Menurut saya sebagai seorang beragama, Tuhan tidak menciptakan logika agar orang terbebas dari-Nya. Justru, Tuhan memberikan logika agar mereka terbebas! Kesalahan para penafsir yang selama ini yang mengekang logika orang, bukannya memelihara dan memberi makanan yang sehat, membuat banyak orang kehilangan imannya. Pertanyaan-pertanyaan yang bukannya dijawab malah dibungkam dengan alasan bidah bisa jadi malah berbalik menjadi kelemahan agama.

Astaga!

Sebagai contoh, evolusi seringkali dianggap sebagai teori ngawur oleh kaum agamawan. Padahal dalam iman Kristen misalnya, tidak pernah dibahas bahwa tidak adanya kemungkinan evolusi. Tuhan menempatkan banyak ruang kepada interpretasi! Tetapi, hanya karena para penafsir menganggap evolusi manusia tidak mungkin maka mereka juga menolak teori evolusi secara mentah-mentah. Lihat, kaum evolusionis  mengolok-olok karena banyaknya bukti bahwa evolusi mungkin terjadi.

Jangan pernah membuang kemungkinan sesuatu yang mungkin ada bila tidak terdapat dalam kitab suci.

Bagaimana cara kita memandang pengetahuan?

Saya tertarik dengan konsep OWL (Ontology Web Language).  Bagi Anda yang agak buta dengan sistem temu-kembali (Information Retrieval), sebuah ontologi dalam membentuk semantik memiliki dua buah konsep:

  1. Asumsi dunia tertutup (close world assumption).
  2. Asumsi dunia terbuka (open world assumption).

OWL mengambil asumsi dunia terbuka. Artinya, ketika sebuah pengetahuan tidak terdapat dalam ontologi, ia akan menjawab tidak tahu. Berbeda dengan SQL yang akan mengembalikan nilai kosong (null) atau tidak. Maka, ketika sebuah ontologi dalam OWL dipadukan dengan ontologi lain yang lain, mesin pencacah akan memeriksa apakah kedua ontologi memiliki pengetahuan yang bertentangan. Mesin pencari akan menyebutkan galat apa bila demikian yang terjadi. Maka, digunakan penilaian dari ahli untuk menentukan pengetahuan yang mana yang benar.

Demikianlah seharusnya sikap para penafsir. Apabila sebuah masalah berlawanan dengan kitab suci, maka sebagai apologetik haruslah mereka membela kitab suci dengan argumen yang sistematis. Argumen tersebut dapat membenarkan logika cara berpikir orang. Maka, hal tersebut dapat menyebabkan seseorang (sang mesin pencacah), membuang pengetahuan yang salah dari repositori pengetahuannya. Hal ini menyebabkan perkembangan kehidupan manusia lebih maju.

Kesalahan kedua para apologetik ketika melakukan pembelaan iman adalah dengan pembelaan absolut maka semua dapat terjawab. Ada masalah dengan pemikiran ini. Beberapa hal yang menurut saya membuat pembelaan menjadi lemah:

  1. Perbedaan budaya saat penulisan kitab suci dilakukan menyebabkan beberapa konsep menjadi sulit dimengerti pada masa sekarang.
  2. Jejak sejarah telah lama kabur dan belum ada teknik-teknik arkeologi yang bisa menelusuri rekam sejarah. Bahkan, bisa jadi beberapa bukti sejarah telah terubah.
  3. Ilmu masih belum bisa menyebabkan mukjizat dan mukjizat bukan sesuatu yang bisa dibuat ulang dengan mudah. Bahkan, sudah ribuan tahun tapi belum ada penelitian resmi yang cukup autoratif untuk mempelajarinya.

Lucunya, poin nomor tiga saya dapatkan dari sebuah situs ateis.  Poin ini membuat saya sadar. Sebuah karya ilmiah dapat masuk jurnal bergengsi apa bila ada peer review, rekomendasi orang-orang yang ahli di dalamnya, dan apabila ia bisa dicobaulangkan kembali oleh ilmuwan lainnya. Siapa yang cukup autoratif untuk dapat menyobaulangkan beberapa mukjizat dalam kitab suci?

Menurut saya, saat ini adalah mustahil untuk itu. Baik para ilmuwan yang merasa bahwa agama adalah omong kosong maupun para agamawan yang menganggap ilmu sebagai bidah, tidak akan pernah mau bekerja sama. Lagi pula, dalam menyelidiki mukjizat perlu dilakukan metodologi yang disetujui bersama. Mungkinkah? Menurut saya sebagai seorang teknolog dan seorang percaya Tuhan hal tersebut bisa dilakukan.

Menurut saya, metodologi observasi, wawancara, mau pun metodologi kuantitatif bisa dilakukan. Seharusnya, hal yang perlu diteliti adalah bagaimana cara menilai mukjizat-mukjizat terjadi. Kemudian, perlu diteliti mana yang disebut mukjizat dan mana yang bisa disebut sebagai kebohongan. Tentukan basisnya dan mulai buat hipotesis. Dari sana baru bisa dibuat kerangka berpikirnya.

Sebagai contoh adalah bagaimana membentuk metodologi pengembangan perangkat lunak. Coba kita perhatikan jalinan makalah yang dipublikasikan oleh seorang/tim peneliti. Biasanya, pada jurnal yang pertama adalah melakukan proses observasi terhadap perusahaan-perusahaan pengembang perangkat lunak. Dari hasil itu, ditemukan beberapa cacat dan masalah terbuka. Pada jurnal berikutnya, penulis biasanya menentukan poin-poin yang menurutnya bisa membantu proses pengembangan perangkat lunak berdasarkan metodologi-metodologi yang ada sebelumnya. Pada jurnal berikutnya, penulis menulis hasil implementasinya dan beberapa peningkatan. Lalu, biasanya penulis tersebut mulai meneliti aspek-aspek tertentu, misalnya konflik antara pengembang dan penguji.

Sebelum dapat menjawab apakah ada mukjizat, seharusnya orang meneliti apakah ada kejadian-kejadian yang tidak alami. Mukjizat seharusnya merupakan kategori dari kejadian tersebut.

Intinya, ada beberapa langkah persiapan sebelum dapat meneliti mukjizat dan tidak seharusnya kita melompati langkah-langkah tersebut. Apalagi, masih ada pertentangan-pertentangan di dalamnya yang menyebabkan bias. Sama seperti pengobatan timur yang masih menjadi anak angkat dari ilmu medis modern (kendati mulai ada usaha-usaha untuk mempelajarinya).

Ada banyak hal yang belum terjawab dan terbuktikan dengan ilmiah, maka jangan pernah mengharapkan akan ada jawaban dengan kebenaran absolut di dalamnya. Absolutisme hanya akan mencederai iman dan menimbulkan pertentangan. Biarkan pertentangan itu muncul dan buat resolusi yang optimal terhadap hal tersebut. Bagaimana cara membuat resolusi optimal saya tinggalkan sebagai bahan latihan bagi para pembaca. 🙂

Tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi bukankah sudah saatnya dipandang dalam pandangan edukasi? Bukankah sudah saatnya pemerintah mengevaluasi kurikulum yang ada? Bukankah sudah saatnya pengetahuan disesuaikan dengan lingkungan Indonesia?

Sebagai contoh, saya mengetahui konsep homeostasis melalui materi Biologi SMA, kalau tidak salah. Pada praktiknya, saya mengetahui bahwa bumi pun memiliki keadaan homeostatik dan hutan hujan tropis merupakan salah satu bagian kuat dari homeostatik. Ketika orang mulai menebang pohon, maka keseimbangan itu terganggu. Wajar bila terjadi banjir. Adalah tidak wajar jika justru kita tidak menghentikan pembalakan liar. Adalah tidak wajar ketika kita tidak memberdayakan ekonomi rakyat pedalaman.

Contoh lainnya adalah transportasi darat di DKI Jakarta dan pola pembangunan yang tidak terencana. Kita tahu bahwa ada dosa ketika orang korupsi dan memperbolehkan pengembang mendirikan bangunan di garis hijau. Kita tahu bahwa jalan tidak mungkin menampung kendaraan yang lewat. Kita tahu bahwa ketidakteraturan dalam lalu lintas menyebabkan kecelakaan? Bukankah dengan demikian kita telah menjadi berdosa karena membiarkan semua itu?

Lihatlah.

Proses ilmu pengetahuan justru membuat kita mengenali masalah-masalah yang perlu di atasi. Agama justru bisa menjadi polisi moral agar solusi yang benar bisa diterapkan. Bukankah kerakusan dan kesombongan merupakan dosa bagi agama-agama di Indonesia? Bukankah dengan moral agama dan pengetahuan yang kuat maka bangsa ini bisa memiliki landasan teknologi?

Agama seharusnya bukan menjadi boneka pengusir burung (scarecrow). Ia seharusnya menjadi pembebas, seperti definisinya yang mula: religio, mengikat kembali. Mengikat manusia kepada Tuhan dan tujuan-Nya yang mulia: mengurus bumi dan menjadi wakil-Nya, menjalani roda kehidupan dengan baik sampai mendapat pencerahan, atau pun dipersiapkan untuk dapat masuk surga.

Dan ilmu seharusnya menjadi penunjang, seperti ada tertulis: takut akan Tuhan awal mula pengetahuan.

Daftar Pustaka

C. S. Lewis (1940). [NO TITLE]. [NO PUBLISHER_PLACE]: [NO PUBLISHER].^
Wimar Witoelar (2010, 10 27). #wimar. Twitter. Retrieved [NO MONTH_ACCESS] [NO DAY_ACCESS], [NO YEAR_ACCESS] from Twitter: http://twitter.com/wimar/status/28841502535.^
A Cloudy Day, A Cloudy Day Indeed

A Cloudy Day, A Cloudy Day Indeed

We have heard of Software-as-a-Service, Infrastucture-as-a-Service, and so on. Now we have Testing-as-a-service. Everything is pushed to the cloud.

The cloud may be a convinient way to handle resource efficiency. But, who can guarantee the data there would not be misused? Can a corporate guarantee data? Can a single government guarantee data? Can a consorsium handle the privacy?

DMCA, copyrights, and all the past relics is nothing but a burden now. If the data pushed into the cloud, how could you ensure your copyright? It’s like a stupid bureaucrat of a certain place in a certain country that asking an airplane to get back. Plainly stupid!

What you post in the Internet can’t be deleted. EVER!

Affero license of GNU may be the answer but whom shall comform that? Whom willing to do so? Even that, can someone guarantee if the data is not leaking?

We may see the future of cloud computing, but we also may see days where we would asked if we are enslaved. Welcome to the digital imperialism.

Anime, Tubuh, Percaya Diri

Anime, Tubuh, Percaya Diri

Tadinya saya berpikir bahwa komik Jepang saat ini sangat memprihatinkan. Mereka selalu menampilkan seorang jagoan pria yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang jatuh cinta pada jagoan ini. Parahnya, akhir-akhir ini komik-komik tersebut dipenuhi adegan-adegan yang agak aneh seperti tak sengaja memperlihatkan celana dalam (panty shot), ciuman tak langsung (indirect kiss), posisi-posisi aneh tak sengaja, dan metafora seksual yang aneh lainnya (menghisap permen lolipop). Semua ini, yang biasa disebut fan service, membuat saya agak kurang sreg membaca karena suka membuat kurang kedalaman cerita.

Pandangan saya berubah ketika kemarin saya menonton iklan di TV. Kebetulan saya jarang menonton TV jadi saya tidak tahu. Kok, sekarang iklan di TV selalu dipenuhi stereotip wanita “ideal”? Kok, seorang wanita yang sebenarnya manis harus menjadi putih dulu agar disukai oleh pria? Kok, rambut yang agak ikal harus diluruskan? Kok, wanita yang chubby harus menjadi kurus agar terlihat menarik? Memang apa salahnya dengan wanita berkepang dan berkaca mata?

Ugh, berhubung ini hari Minggu, saya tidak akan mulai mengutuki orang. Saya tak akan bertanya di mana moral para pengiklan. Saya takkan mempertanyakan para produsen yang tidak menyensor iklan mereka yang mulai eksesif. Jika cara pandang mereka hanya uang dan mengorbankan sebuah bangsa tidak mengapa, saya pun berusaha menerima perbedaan pendapat itu. Saya hanya bisa geleng kepala dan melihat generasi ini yang mulai tidak percaya diri.

Saya jarang ke pusat perbelanjaan, apa lagi ke tempat-tempat seperti Plaza Senayan. Saya pernah hampir menangis melihat seorang wanita kurus dengan tank top. Kurus hingga terlihat tulang! Astaga, apa yang dipikirkan orang tuanya? Apakah tidak diberi makan dia? Dan saya tidak melihat dia saja, tetapi saya sudah menjumpai beberapa. Jumlah yang cukup untuk membuat saya tidak lagi nyaman untuk pergi ke pusat perbelanjaan.

Dibalik pria hebat, ada wanita hebat yang menyokong. Keduanya pemimpin, seimbang dan tidak ada yang di atas mau pun di bawah. Dalam masyarakat patrilineal ini, saya menemukan bahwa pria mungkin yang memimpin keluarga. Tetapi, wanitalah yang menentukan keluarga itu utuh atau tidak. Bisa dibilang, yang satu adalah Perdana Menteri dan yang satu lagi adalah Ratu. Keduanya berbeda tetapi sama dalam pertemuan.

Jika pria adalah seorang pemimpin di panggung, maka wanita adalah sutradara dibalik panggung.

Pria menyukai etalase, tetapi dia tidak ingin wanitanya menjadi etalase. Ia ingin wanitanya menjadi seseorang yang eksklusif baginya, tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri. Jadi, benar jika pria ingin wanita cantik, tetapi bukan penampilan. Ia ingin wanita yang cakap menjaga hatinya. Bukan wanita yang berambut lurus, kurus, tinggi, dan berkulit putih.

Bayangkan, pria dididik untuk tegar dan tidak boleh gampang menangis menyampaikan uneg-uneg. Mereka juga dididik untuk menanggung semuanya dalam hati. Dan dibalik pembangunan pria yang keras, tersimpan kerinduan untuk berlabuh. Itu sebabnya, seorang pria bisa menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri bahkan mengorbankan dunianya jika ada wanita yang menjadi tautan hatinya.

Wanita, jadilah dirimu sendiri dan bersyukur atas tubuh yang diberi Tuhan bagimu. Rasa percaya diri itulah yang akan menjatuhkan sebuah kota berkubu. Seorang jenderal akan menaruh senjatanya dan berlutut di hadapanmu sambil mempersembahkan hatinya.

Saya lihat banyak rekan saya yang pria memiliki pasangan yang tidak “seimbang”. Seorang yang ganteng tinggi tetapi dia mau sama orang gemuk pendek. Saya pun sudah melihat rekan yang percaya diri tingggi menjadi terdiam ketika sang tambatan hati ada. Terdiam sampai mengacaukan permainan tim.

Saya juga tidak mengerti, mengapa ada dalam sebuah komunitas yang pria-prianya mengincar satu orang wanita saja? Padahal wanita itu tidak cakep-cakep amat. Memang, setelah saya amati, sikapnya yang percaya diri dan baik hati itulah yang membuat banyak pria senang berbicara dengannya.

Seperti pepatah bijak berkata: “Selalu ada fetish untuk setiap bagian”. Itu sebabnya, akan selalu ada wanita ayu, wanita tomboy, wanita berdada besar, wanita berdada datar, wanita pemalu, wanita percaya diri, wanita dewasa, wanita loli, wanita kaichou (ketua kelas), wanita ceroboh, dan wanita berkaca mata yang dimunculkan dalam komik. Semua punya bagiannya masing-masing.

Terima kasih iklan-iklan TV, kalian membuat saya menerima tema harem yang diusung oleh komik Jepang masa kini. Saya mengerti pesan apa yang dikandung, sungguh dalam.