Category Archives

88 Articles
Google, “don’t be evil”?

Google, “don’t be evil”?

Ini mengingatkan saya bahwa Stallman benar dengan terus tak bergeming dari tuntutannya. Benarkah slogan Google “jangan jadi jahat” masih berlaku? Ataukah sisi bisnis mulai mengubah sikap? Saya melihat bukan hanya Google, bahkan pengembang CyanogenMod pun demikian. #sad

Google’s iron grip on Android: Controlling open source by any means necessarySix years ago, in November 2007, the Android Open Source Project (AOSP) was announced. The original iPhone came out just a few months earlier, capturing people’s imaginations and ushering in the modern smartphone era. While Google was an app partner for the original iPhone, it could see what a future of unchecked iPhone competition would be like.
Embedly Powered
TweetDeck dengan WINE pada GNU/Linux [Revisited]
TweetDeck revisited

TweetDeck dengan WINE pada GNU/Linux [Revisited]

Terakhir kali saya menulis cara memasang TweetDeck dengan berbagai pintasan. Ternyata ada cara yang lebih gampang dari itu. Yang diperlukan hanya berikut:

Winetricks
Sebuah skrip pembantu untuk mengatur pemasangan WINE. Pasang paket Zenity jika ingin menggunakan versi GUI.
WINE
Aplikasi yang digunakan saat penulisan adalah versi stabil terbaru, 1.7.4.

Saya asumsikan Winetricks dan WINE sudah terpasang. Keduanya sudah ada di distro kesayangan Anda masing-masing (kecuali Anda suka Tiny Core atau sejenisnya yang eksentrik).

Membuat Lingkungan WINE untuk TweetDeck

TweetDeck revisited

TweetDeck revisited

TL;DR

Buat lingkungan baru.

$ winetricks prefix=tweetdeck

Pasang huruf CJK (Chinese, Japanese, Korean) untuk dukungan bahasa Asia Timur.

$ winetricks prefix=tweetdeck cjkfonts

Aktifkan anti-aliasing untuk huruf agar huruf terlihat lebih bagus dan jelas.

$ winetricks prefix=tweetdeck fontsmooth=rgb

Pasang TweetDeck

$ env WINEPREFIX=$HOME/.local/share/wineprefixes/tweetdeck wine msiexec /i TweetDeck.msi

Anda sudah bisa mengakses TweetDeck dari menu.

—::: SELESAI :::—

Penjelasan

Berikut penjelasan yang saya lakukan karena situs ini situs pembelajaran. Kebetulan hari penulisan adalah hari Sabtu sehingga banyak waktu senggang.

Lingkungan WINE

winetricks prefix=tweetdeck

Proses ini akan membuat sebuah direktori WINE baru “$HOME/.local/share/wineprefixes/tweetdeck/”. Prosesnya mirip persis dengan debootstrap. Ia mengonfigurasi sebuah lingkungan terisolasi terpisah dari induk. Lingkungan WINE yang utama sendiri ada di direktori “$HOME/.wine”.

Yang menarik adalah kedua lingkungan terpisah secara pustaka dan eksekusinya. Aplikasi yang berjalan di lingkungan utama takkan mempengaruhi lingkungan yang terpisah ini. Ini cocok misalnya untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan kebutuhan berbeda. Misalnya, ada yang perlu memasang DirectX atau menggunakan pustaka asli.

Contoh perbedaan:

Membunuh aplikasi.

  • Untuk membunuh aplikasi yang berjalan di tempat terpisah harus menyertakan WINEPREFIX.
    $ env WINEPREFIX="$HOME/.local/share/wineprefixes/tweetdeck/" wineserver -k
  • Untuk membunuh aplikasi yang berjalan di direkfori utama.
    $ wineserver -k

Mengakses pengaturan

  • Untuk mengakses pengaturan aplikasi yang berjalan di tempat terpisah harus menyertakan WINEPREFIX.
    $ env WINEPREFIX="$HOME/.local/share/wineprefixes/tweetdeck/" winecfg
  • Untuk mengakses pengaturan yang berjalan di direkfori utama.
    $ winecfg

Yak, kira-kira begitulah cara kerjanya.

Pemasangan Huruf CJK

winetricks prefix=tweetdeck cjkfonts

Budaya Asia Timur sudah merasuk ke Indonesia. Awalnya dimulai dengan tradisi Cina dengan film-film vampir di Sabtu pagi dan laga Kung Fu dengan koreografi indah. Jangan lupa budaya kartun, gaya Harajuku, dan JAV dari Jepang. Bahkan sekarang, budaya operasi plastik, sinetron dari komik, dan musik tarian yang membuat epilepsi dari Korea. Semua budaya Asia Timur mampu mengalahkan budaya Indonesia. Saya bahkan lebih tahu bagaimana menghadapi vampir Cina (Jiang Shi) dari pada Begu Ganjang.

Tentunya, untuk dapat stalking meneliti keberadaan artis-artis populer dari Asia Timur memerlukan trik tersendiri. Mereka cinta dengan budaya mereka sehingga kebanyakan dari mereka menulis dengan tulisan dan bahasa asli dari negara sendiri. Untuk itu, perlu memasang huruf-huruf Asia Timur. Dengan demikian, kita bisa membaca Hiragana/Katakana, berbahasa Mandarin, atau membaca Hangul lebih baik.

Beberapa huruf yang dipasang:

Ketiga jenis huruf tersebut cukup dipasang dan sepertinya WINE sudah bisa mendeteksi huruf. Tidak perlu lagi menjalankan aplikasi dengan menyetel variabel lingkungan $LC_ALL dan $LANG. Berikut hasilnya.

Kalau dilihat, hasilnya kurang bagus ketika digabungkan dengan penghalus huruf. Anda bisa berburu jenis huruf sendiri. Menurut (UTUMI Hiroshi, 2012), penghalus huruf lebih baik dimatikan.

Pengonfigurasian Penghalus Huruf

winetricks prefix=tweetdeck fontsmooth=rgb

Secara baku, WINE menggambar huruf-huruf dalam tulisan langsung. Hal ini membuat tulisan terlihat retak-retak. Untungnya, seperti Windoze XP dengan teknologi ClearType™-nya, WINE dapat memanfaatkan FreeType untuk menggambar huruf dengan dihaluskan.

Saya masih belum tahu konfigurasi untuk mematikan penghalus huruf untuk jenis-jenis huruf tertentu. Ini mungkin riset saya berikutnya. (Bila tidak malas atau sibuk bermain DoTA dan berburu game-game Steam) Rekan-rekan mungkin sudah ada yang tahu caranya?

Yak, demikian pembahasan kali ini.

 

Daftar Pustaka

UTUMI Hiroshi (2012, Sept. 29). Japanese fonts. Retrieved Oct. 19, 2013 from http://www.geocities.jp/ep3797/japanese_fonts.html.^
Adding device to ZFS on Linux
This Way Up

Adding device to ZFS on Linux

After cleaning up my motherboard, I reconnected all of my hard drive to it. ZFS couldn’t found all of the disks because I was carelessly put the disks back. Alas, lesson learnt! I have to figure out the right combo of my SATA disks.

The Internet suggested that I should have reattached the disks with export and import it back. Thus:

sudo zpool export vmdisk
sudo zfs import -d /dev/disk/by-id vmdisk

My friend, Idur, suggested that I should’ve use UUID like LVM did. But, on some bizzare cases a system could have redundant UUID. Going by safe bet, I use the Disk ID instead. I should have attached it like this:

sudo zpool vmdisk /dev/disk/by-id/ata-ST3250318AS_9VMXV6BN

Oh, well, YOLO! In fact, it was not I who cleaned the motherboard and the solution that I’ve chose was to reattach the disks into the right sequence — kind of solving a puzzle.

Keamanan Informasi dan Regulasi

Keamanan Informasi dan Regulasi

censorshiiiip

[Tulisan ini sebagai balasan Twit yang tidak cukup. Kalau tak tertarik baca silakan lewat saja. He… he… he….]

Saya banyak menulis tentang keamanan informasi di blog ini. Dari banyak tulisan itu, dapat disimpulkan bahwa Internet menjadi ruang sadap-menyadap yang penuh. Informasi menjadi barang dagangan. Hal ini terjadi karena perilaku orang-orang yang menggunakan Internet tidak sadar keamanan dan celah geografis yang menyebabkan hukum tak berlaku.

Dulu, celah geografis hanya dimanfaatkan oleh penjahat-penjahat fisik seperti koruptor untuk melarikan diri dari kejaran pemerintah. Penjahat perang pun memanfaatkan celah tersebut untuk melarikan diri dari pengadilan Den Haag. Mereka melarikan diri ke negara-negara yang tak memiliki perjanjian ekstradisi.\

Sekarang, celah yang terkandung dalam Internet ini dimanfaatkan oleh banyak pihak dengan banyak kepentingan. Negara-negara memanfaatkan anonimitas untuk membuat saluran tak resmi. Pemberi kabar (whistleblower) memanfaatkan anonimitas untuk membukakan fakta. Penyedia media memanfaatkan non-ekstradisi untuk menaruh konten-konten “haram”. Semua ini tak diatur oleh hukum.

Karena semua menggunakan fasilitas yang sama, maka terciptalah kesetimbangan. Semua sama-sama bisa dirugikan mau pun diuntungkan. Ada pun usaha-usaha yang dilakukan semuanya sama-sama hanya berbentuk pedoman. Pedoman-pedoman tersebut antara lain:

  • Negara-negara maju menyediakan semacam buku panduan “Code Warrior” yang berisi panduan pengamanan akses informasi sensitif kepada personel-personelnya. Hal ini untuk menghindari spionase dan kebocoran informasi. Selain itu, setiap personel menjadi padat karya.
  • Lembaga-lembaga nirlaba membuat program untuk melindungi pemberi kabar. Mereka memperjuangkan juga perilaku-perilaku tak layak dari golongan berkuasa di pemerintahan atau pun korporasi yang melanggar hak orang banyak. Mereka juga memberikan pelatihan dan penyadaran tentang Internet Sehat dan beberapa hal lainnya.
  • Korporasi dan semua lembaga yang membutuhkan keamanan dalam transaksi informasinya pun membuat kebijakan TIK dalam lembaga untuk melindungi informasi mereka. Ada yang membuat VPN, leased line, enkripsi, atau pun memanfaatkan TOR.
  • Dan lain-lain.

Semua bermain pada level yang sama. Tidak ada yang memiliki kekuatan absolut dalam bertindak. Hal ini yang membuat sebuah kesetimbangan dalam Internet. Internet menjadi ruang netral yang tak dikuasai siapa pun.

Regulasi dan Kepentingan yang Bermain

Semenjak Twitter mengguncang Mesir dan negara-negara di Timur Tengah, kekuatiran terjadi di banyak pemerintahan di dunia. Mereka takut, kalau-kalau di negara masing-masing bisa terjadi hal yang sama. Internet bisa menghancurkan status quo dan menjadi sarana untuk menggerakkan massa.

Selama ini, media informasi yang ada hanyalah televisi dan sensor berjalan di dalamnya dengan baik. Pemilik media ini pasti seseorang yang bemain pula dalam politik. Setiap kepentingan akan berusaha disusupi dalam program-program mereka.

Bagaimana dengan kepentingan itu bisa menyusup? Sebagai contoh yang mudah, kita bisa menggunakan acara berita. Tergantung dari siapa yang memiliki stasiun berita tersebut, maka bisa jadi pemberitaan akan berbeda. Apalagi, bila kedua stasiun dimiliki oleh oposisi dan sama-sama bersaing dalam kepresidenan. Begitu pula dengan majalah dan koran. Tergantung siapa pemegang media, maka berita yang disajikan akan berbeda.

Namun, hal tersebut berubah setelah Internet menyerang. Informasi-informasi alternatif yang berbeda dengan versi “resmi” bermunculan. Informasi-informasi ini kemudian dapat menyentuh orang-orang yang berkepentingan dan membuka mata banyak orang. anti-SOPA/Pro IP dan revolusi Mesir adalah contoh utama dalam pergerakan ini.

Media seperti Fox Network dan beberapa media terkemuka lainnya menghadapi kendala kepercayaan, terutama dari para pengguna Internet yang notabene masih muda. Ketika media bergerak ke Partai Republik di AS berhasil menggaet para pemilik media, Obama berhasil mengerahkan tim TIK-nya untuk bergerak di Twitter, Facebook, dan bahkan Blog. Warga negara yang muda ini kemudian menjadi swing voters yang menggolkan Obama menjadi presiden.

Negara Api Pun Menyerang

Omong-omong tentang Revolusi Mesir, semenjak kejadian tersebut, pemerintah di seluruh dunia mulai menguatirkan keberadaan Internet. Kecemasan tersebut juga beralasan terutama semenjak gerakan “kami adalah 99%” yang menghasilkan Occupy Wall Street. Gerakan ini terpengaruh oleh film The One Percent yang membukakan mata bahwa sebagian besar harta di Amerika dimiliki oleh 1% penduduk. Walau pun gerakan OWS tidak menghasilkan apa pun, namun itu menjadi barometer bahwa Internet bisa mengubah permainan.

Informasi yang tidak dapat dikendalikan dapat menghancurkan tatanan politik sehingga perlu diatur. Berdasarkan laporan Google yang dilansir oleh Tech2, terjadi peningkatan permintaan data oleh pemerintah di seluruh dunia kepada Google. Menurut Freedom House, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dan terus bertumbuh dalam pengontrolan media Internet.

Kasus yang terbaru adalah negara Inggris yang mulai menerapkan sensor dengan alasan kepentingan perlindungan anak. Sepertinya alasan yang bagus dan perlu didukung. Namun pertanyaannya, apakah benar bisa ini dilakukan?

Dengan apakah Internet dapat disensor? Arus yang berpetabita takkan sanggup disensor seluruhnya. Yang ada hanya menyensor IP, DNS, atau pun satu blok jaringan. Padahal, seharusnya yang disensor adalah gambar/artikel tertentu saja. Pertanyaan berikutnya, apakah pemerintah Inggris dapat menjamin bahwa teknologi sensor tersebut hanya digunakan untuk perlindungan anak?

Di Indonesia saja, sebuah situs berita Asia yang sering berisi berita-berita kontroversial se-Asia diblok oleh Nawala. Saat itu, situs tersebut sedang membahas sebuah partai politik di Indonesia yang pejabat-pejabatnya terkena kasus. Padahal, Nawala sesuai definisi di situsnya: [diambil hari ini, 23 Juli 2013 18:15]

Nawala

DNS Nawala adalah layanan DNS yang bebas digunakan oleh pengguna akhir atau penyedia jasa internet untuk mendapatkan akses internet bersih dan aman. DNS Nawala melakukan penapisan situs-situs berkandungan negatif yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan dan budaya Indonesia, seperti situs berkandungan pornografi atau perjudian. Selain itu DNS Nawala juga menapis situs-situs yang berbahaya dan melanggar aturan perundangan, seperti situs penipuan, malware dan phising.

Di dalam definisi tersebut, tidak ada tertulis bahwa situs Internet yang mengandung berita politis yang bertentangan dengan partai politik tertentu bisa diblok. Saya tidak akan membahas siapa partai politik tersebut dan apa nama situs tersebut. Saya sendiri bukan pengunjung tetap ke situs tersebut, saya pun tahu bahwa dia diblok karena ada teman saya di Facebook yang mengeluhkan bahwa dia tidak bisa mengakses situs tersebut. Tulisan ini murni untuk kepentingan edukasi sehingga saya takkan masuk ke ranah politik.

Pertanyaan saya tetap sama seperti yang saya tanyakan di dalam Twitter:

Ketika teknologi sensor Internet oleh pemerintah dilegitimasi oleh hukum, adakah mekanisme negara untuk memproteksi terhadap penyalahgunaannya?

Sebagai seorang minoritas, saya sangat berkepentingan mengenai isu ini. Di tengah-tengah diversifikasi Pancasila, ada niatan golongan tertentu yang ingin menjadi mutlak. Saya dapat memberikan berbagai bukti pelanggaran hukum dengan pembiaran tersebut. Namun, lagi-lagi itu ranah politik dan cenderung subyektif sehingga takkan saya bahas di sini.

Namun, tetap, kekuatiran saya adalah ketika sensor dilakukan terhadap Internet, maka kesetimbangan akan hilang. Ketika informasi dapat dikendalikan, arah kebijakan dan pandangan masyarakat dapat diarahkan. Sang pemegang kebijakan dapat berlaku sewenang-wenang. Setiap orang yang hendak melawan dapat diberanguskan hak bicaranya.

Sayangnya, Indonesia tidak sesederhana itu. Ketika sebuah golongan berusaha menjadi mutlak, maka golongan-golongan lain yang merasa dilangkahi akan bertindak. Yang saya takutkan adalah hal tersebut akan mengarah kepada perang sipil dan kebencian etnis. Saat ini, di berbagai pelosok Indonesia sudah ada benih untuk itu tinggal penyulutnya saja.

Kata Akhir

Indonesia merupakan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Setiap elemen yang berbeda menjadi satu karena adanya toleransi dan keterbukaan satu sama lain. Keterbukaan ini penting agar kecurigaan dapat hilang. Sensor menghilangkan unsur pendukung tersebut. Makanya, alih-alih menyensor, seharusnya hukum membahas tentang kenetralan Internet dan hak bersuara yang dijamin.

Seperti biasa, saya berhenti di sini dan saya sudah memangkas bahasan supaya jangan terlalu banyak. Semoga ini masih bisa dibaca dengan baik. Soalnya, saya tahu, tulisan yang terlalu panjang berpotensi tidak dibaca. Ha… ha… ha….

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk
KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk

KRL Mania

KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Gambar saya cukup miriplah dengan Kereta Listrik (KRL) milik Commuter Line (anak perusahaan PT KAI). Di gambar-gambar yang lain tidak dipasangi kawat baja. Padahal, semua KRL dipasangi kawat baja di depan. Habis, suka ada orang iseng menimpuk KRL.

Omong-omong soal timpuk-menimpuk, mata saya pernah kena pecahan kaca ketika KRL ditimpuk di daerah Tanjung Barat. Lumayan, mata agak sedikit merah. Untung tidak sampai luka. Kalau luka, mungkin berhenti pula karir komputer saya dan saya harus belajar meminta-minta di jalan. Maklum, selain mengetik, saya tidak memiliki kemampuan lain yang mumpuni.

Semenjak PT KAI melakukan spin off menciptakan Commuter Line, terjadi peningkatan kualitas pelayanan KRL. Mulai dari loket yang mulai tertib antri, loket dilayani wanita muda, dan penyiar yang juga suaranya wanita. Dulu pernah ada penyiar favorit di Pondok Cina. Suaranya seksi sekali. Ha… ha… ha….

Saya juga salut dengan keamanan stasiun dan KRL yang beroperasi. Di setiap stasiun selalu terjaga dengan ketat. Selain itu, di KRL hampir setiap gerbong dijaga. Saya bahkan berani membuka laptop, sesuatu yang dahulu tidak pernah terbayang saya bisa kerjakan.

Berhubung saya pengguna KRL yang cuma bisa di TIK, berikut saya paparkan apa yang saya amati dari perubahan Commuter Line dari sisi TIK.

Akun Twitter

Hal yang bagus dari Commuter Line juga adalah penggunaan akun Twitter @CommuterLine yang aktif memberitakan dan menjawab pertanyaan seputar KRL. Saya mengikuti akun ini. Contoh yang menjawab pertanyaan:

Info Commuter Line on Twitter

@muthiara04 U/ mengecek sisa saldo yang dimiliki silahkan Ibu datang ke loket Stasiun terdekat. Untuk mengecek saldo jgn dilakukan di gate.

Saya melihat bahwa Commuter Line benar-benar menggunakan aplikasi Twitter sebagai sarana untuk lebih dekat kepada penggunanya. Hal ini dirasa tepat karena:

  1. Pengguna KRL adalah warga Jabodetabek yang memiliki akses layanan ke Twitter/Facebook.
  2. Twitter sebagai sarana kronologi menyediakan arus yang bisa diikuti secara kronologis sehingga memudahkan orang untuk mengawasi secara waktu-nyata (realtime?).
  3. Media Sosial mendekatkan perusahaan kepada pengguna. Sekarang era yang humanistik, tidak lagi modernisme. Perusahaan tidak bercitra kaku, melainkan luwes dan ramah.

Saya sendiri merasa terbantu dengan pengumuman-pengumuman di akun Twitter tersebut.

Sarana Situs Daring

Saya merasa situs Commuter Line yang terbaik di antara perusahaan penyedia jasa di Indonesia. Dia menyediakan daftar jadwal KRL di halaman depan. Bukan hanya itu, dia juga menyediakan peta jalur KRL. Yang lebih istimewa, mereka menyediakan jasa menerima keluhan. Saya, sih, tidak mengharapkan lebih. Saya belum tahu apakah itu efektif atau tidak. Tapi, ini sebuah terobosan!

Yang menjadi perhatian saya adalah mengenai potensi Open Data melalui aplikasi waktu-nyata. Melalui rekan saya, saya menemukan adanya aplikasi jejaring yang diakses langsung melalui URL. Format kembalinya HTML. Contoh bila saya mengakses stasiun UI, maka URI-nya “http://infoka.krl.co.id/to/ui” akan menghasilkan: (saya cuplik)

realtime Stasiun UI

Jadwal Kereta Waktu-Nyata Stasiun UI

Saya cukup terkagum-kagum akan ini. Saya tertarik, apakah bisa aplikasi tersebut mengembalikan RDF? Saya pun mencoba apakah jangan-jangan bisa menghasilkan RDF juga:

$ curl -I -H "Accept: application/rdf+xml" http://infoka.krl.co.id/to/jak
HTTP/1.1 200 OK
Date: Wed, 03 Jul 2013 09:16:39 GMT
Server: Apache/2.2.15 (CentOS)
X-Powered-By: PHP/5.4.14
Set-Cookie: ci_session=a%3A5%3A%7Bs%3A10%3A%22session_id%22%3Bs%3A32%3A%22f82d0d12359e92a044386de684643776%22%3Bs%3A10%3A%22ip_address%22%3Bs%3A13%3A%22152.118.37.37%22%3Bs%3A10%3A%22user_agent%22%3Bs%3A11%3A%22curl%2F7.31.0%22%3Bs%3A13%3A%22last_activity%22%3Bi%3A1372842999%3Bs%3A9%3A%22user_data%22%3Bs%3A0%3A%22%22%3B%7Df32ffaa762336460b01b121b101ff81c; expires=Wed, 03-Jul-2013 11:16:39 GMT; path=/
Last-Modified: Sat, 06 Jul 2013 09:16:39 GMT
Cache-Control: post-check=0, pre-check=0
Pragma: no-cache
Content-Type: text/html; charset=UTF-8

Ternyata tidak bisa. Berarti hanya menghasilkan halaman HTML saja. Seandainya bisa RDF, sudah pasti menjadi aplikasi Open Data yang paling komprehensif pertama di Indonesia. Saya bisa membanggakan hal tersebut ke rekan-rekan di luar sana. Ha… ha… ha….

Yah, tapi sebenarnya bermodalkan regex, kita bisa membuat aplikasi Android atau aplikasi terminal yang bisa secara waktu-nyata menyediakan informasi stasiun. Bahkan, bermodalkan GPS pada telepon pintar, aplikasi tersebut bisa dimodifikasi untuk menyarankan stasiun terdekat. Dengan informasi lalin, bisa dipadukan untuk menyarankan akurasi stasiun terdekat.

Wow, selamat datang di Open Data! Ada yang tertarik? Saya sedang sibuk DoTA 2, jadi belum ada waktu untuk itu. 🙂

Oh, iya, buat Anda yang mengaku Heker/Kreker atau apa pun, hargailah etika. Jangan serang aplikasi publik!

Kartu Elektrik

Hal yang terbaru adalah penggunaan tiket elektronik. Saya sebenarnya ingin membahas ini. Tapi tahu-tahu malah membahas yang lain lebih lanjut.

Saya lihat Commuter Line berhati-hati dalam menerapkan kebijakan kartu elektrik. Sudah sejak lama mereka memodifikasi dan berusaha mengimplementasi kartu elektrik. Dari penjajakan dengan sebuah bank penyedia e-wallet sampai penyediaan kartu elektrik berlangganan percobaan, Commet.

Proses  berlangsung bertahun-tahun. Namun, kemarin tetap saja antrian pengguna ketika pertama kali menggunakan kartu elektrik ini cukup serius. Bahkan, kata rekan saya, antrian di Lenteng Agung sampai membuat jalan raya macet. Yah, saya tetap maklum dengan Commuter Line. Dia cukup berani untuk akhirnya melompat ke inovasi baru.

Berikut hal-hal yang saya amati dari proses tersebut:

  1. Proses membaca kartu sekitar 5 detik dan lebih. Padahal, kalau saya bandingkan ketika saya di kota sebelah (Kuala Lumpur dan Singapur), kartu hanya membutuhkan waktu kurang lebih sedetik atau dua. Nampaknya Commuter Line perlu menulis ulang aplikasinya.
  2. Hanya ada dua atau tiga pembaca kartu sehingga orang membludak mengantri.
  3. Banyak orang yang belum paham memasukkan kartu (atau menaruh di atas untuk kartu multi trip) sehingga bisa sampai semenit sebelum kartu masuk.
  4. Disiplin mengantri yang belum optimal mengakibatkan banyak orang yang berdesak-desakan sehingga memperlama waktu proses. Saya sendiri hampir mengamuk karena selalu diselak orang.

Commuter Line menyediakan dua jenis kartu: 1) single trip (kartu sekali jalan); dan 2) multi trip (kartu berlangganan). Berbeda dengan kartu langganan sebelumnya, kartu berlangganan multi trip dibuat dengan batasan saldo, bukan waktu. Jadi, dengan saldo di atas Rp7000,00 kita bisa menggunakan kartu tersebut sampai kapan saja.

Satu kartu langganan seharga Rp20.000,00 dan tak bisa diuangkan. Namun, isi saldonya bisa diuangkan di setiap stasiun KRL se-Jabodetabek. Lumayanlah kalo lagi bokek bisa mencairkan dana maksimal Rp1.000.000,00.

Saya iseng-iseng membaca kartu multi trip yang saya punya dan menemukan informasi berikut:

Wed Jul  3 14:58:31 2013
Reader 0: OMNIKEY CardMan 5x21 CL (OKCM0071403111351035286222863276) 00 00
  Card state: Card inserted,
  ATR: 3B 84 80 01 01 11 20 03 36

ATR: 3B 84 80 01 01 11 20 03 36
+ TS = 3B --> Direct Convention
+ T0 = 84, Y(1): 1000, K: 4 (historical bytes)
  TD(1) = 80 --> Y(i+1) = 1000, Protocol T = 0
-----
  TD(2) = 01 --> Y(i+1) = 0000, Protocol T = 1
-----
+ Historical bytes: 01 11 20 03
  Category indicator byte: 01 (proprietary format)
+ TCK = 36 (correct checksum)

Possibly identified card (using /usr/share/pcsc/smartcard_list.txt):
3B 84 80 01 01 11 20 03 36
        Snapper Sprat (Transport)
        https://www.snapper.co.nz/snapper-store/

Yak, berhubung waktu menulis blog ini kebablasan sehingga menghabiskan satu ronde di DoTA 2, saya belum mencari tahu lebih lanjut kartu ini. Silakan Anda cari tahu sendiri kalau penasaran. Saya, sih, berharap kalau APDU untuk membaca dapat dibuka, lumayanlah bisa baca sendiri tinggal berapa sisa saldo.

Yang pasti, sungguh mengagumkan kinerja PT KAI (dalam hal ini Commuter Line)! Kudos!

kembali ber-DoTA 2

Phishing Pemilik Situs?

Phishing Pemilik Situs?

Mancing Mania!

Mancing Mania!

Saya mendapatkan surel seperti ini:

Dear ***REMOVED***@ui.ac.id,

 Your webhosting account has been transmitting viruses to our servers and will be deactivated permanently if not resolved.

 You are urgently required to sanitize your webhosting account with Norton FTP Scanner; otherwise, your access to webhosting services will be deactivated 

 Click here now to scan and sanitize your webhosting account

 Note that failure to sanitize your webhosting account immediately will lead to permanent deactivation without warning.

 We are very sorry for the inconveniences this might have caused you and we assure you that everything will return to normal as soon as you have sanitized your webhosting account.

 cPanel Admin

Saya sudah menghapus URL tujuan. Nampaknya setelah menyerang WordPress, sekarang para penyepam hendak menyerang pengguna cPanel.

Omong-omong, mengapa saya bisa menduga bahwa ini adalah phising? Karena berikut isi dari kepala surel:

Return-Path: <NortonFTPScanner@cPanel.com>
Delivered-To: ***REMOVED***@ui.ac.id
Received: from bunglon.ui.ac.id (bunglon.ui.ac.id [152.118.148.227])
    by marimar.ui.ac.id (Postfix) with ESMTP id 259272C38
    for <***REMOVED***@ui.ac.id>; Wed, 12 Jun 2013 22:18:57 +0700 (WIT)
Received: from iguana.ui.ac.id (iguana.ui.ac.id [152.118.148.215])
    by bunglon.ui.ac.id (Postfix) with ESMTP id 48D1AB61774
    for <***REMOVED***@ui.ac.id>; Wed, 12 Jun 2013 22:18:18 +0700 (WIT)
Received: from cancer.server-iix.com (localhost.localdomain [127.0.0.1])
    by iguana.ui.ac.id (Postfix) with ESMTP id 2FFF94C1BDD
    for <***REMOVED***@ui.ac.id>; Wed, 12 Jun 2013 22:18:18 +0700 (WIT)
Received: from cancer.server-iix.com ([103.29.215.159] helo=cancer.server-iix.com)
    by iguana.ui.ac.id with SMTP (2.2.1); 12 Jun 2013 22:18:18 +0700
Received: from [202.152.202.186] (port=63142 helo=pedro-PC)
    by cancer.server-iix.com with esmtpsa (TLSv1:EDH-RSA-DES-CBC3-SHA:168)
    (Exim 4.80)
    (envelope-from <NortonFTPScanner@cPanel.com>)
    id 1UmPLd-0007in-Ie
    for ***REMOVED***@ui.ac.id; Tue, 11 Jun 2013 21:14:58 +0700
Message-ID: <03b254f4-41436-1d748846041667@pedro-pc>
Reply-To: "cPanel Admin" <lkjhasgdsfsdfgfdfadghfhsfjhj@yahoo.com>
From: "cPanel Admin" <NortonFTPScanner@cPanel.com>
To: ***REMOVED***@ui.ac.id
Subject: Problem with your webhosting account - ***REMOVED***@ui.ac.id
Date: Tue, 11 Jun 2013 21:13:50 +0700
MIME-Version: 1.0
Content-Type: text/html
Content-Transfer-Encoding: 7bit
X-Priority: 3
X-Mailer: Power Sending Sockets v5.1
X-AntiAbuse: This header was added to track abuse, please include it with any abuse report
X-AntiAbuse: Primary Hostname - cancer.server-iix.com
X-AntiAbuse: Original Domain - ui.ac.id
X-AntiAbuse: Originator/Caller UID/GID - [47 12] / [47 12]
X-AntiAbuse: Sender Address Domain - cPanel.com
X-Get-Message-Sender-Via: cancer.server-iix.com: authenticated_id: julie@hidrolikpart.com
X-Assp-Version: 2.2.1(13020) on iguana.ui.ac.id
X-Assp-Delay: not delayed (auto accepted); 12 Jun 2013 22:18:18 +0700
X-Assp-Message-Score: 10 (Message-ID not valid: '03b254f4-41436-1d748846041667@pedro-pc')
X-Assp-IP-Score: 10 (Message-ID not valid: '03b254f4-41436-1d748846041667@pedro-pc')
X-Assp-Received-SPF: none (cache) ip=103.29.215.159 mailfrom=NortonFTPScanner@cPanel.com
    helo=cancer.server-iix.com
X-Original-Authentication-Results: iguana.ui.ac.id; spf=none
X-Assp-Message-Score: -10 (Home Country Bonus ID (Sentra Niaga
    Solusindo, PT.))
X-Assp-IP-Score: -10 (Home Country Bonus ID (Sentra Niaga Solusindo, PT.))
X-Assp-Whitelisted: Yes
X-Assp-ID: iguana.ui.ac.id m1-50298-00280
X-Assp-Detected-RIP: 202.152.202.186
X-Assp-Source-IP: 202.152.202.186

Ada beberapa poin yang saya dapati mengapa surel ini penipuan:

  1. Alamat kirim surat bukan dari cPanel, melainkan dari tempat lain. Sepertinya akun orang tersebut tercolong. Yah, terkadang di UI juga ada pengguna dari waktu ke waktu yang tak sadar bahwa dia sedang dipancing (phising). Mereka menjadi korban karena menjadi inang pengiriman surel berantai seperti ini.
  2. Isi surat tidak menyatakan alamat URL saya yang dinyatakan terkompromisasi. Semua badan resmi (Stop Badware, Google, dkk.) selalu menyertakan tautan URL yang dia tuduhkan.
  3. Server MX yang mengirim pun bukan dari cPanel, karena kalau cPanel:
    cpanel.com.             140     IN      MX      0 mx1.cpanel.com.
    mx1.cpanel.com.         14334   IN      A       208.74.121.6

Yah, kira-kira begitu. Mengapa bisa masuk ke dalam sistem surel UI? Karena sebagian besar server MX di Indonesia salah konfigurasi/konfigurasi yang tidak benar, bahkan ISP yang besar sekali pun. Terpaksa, deh, surel dari Indonesia harus dinaikkan reputasinya.

Saya berharap bahwa Indonesia suatu saat akan memiliki MX-MX yang terkenal kuat dan admin-admin yang berdedikasi membenahi konfigurasinya hingga optimal. AMIN!

Membajak Itu Indah*

Membajak Itu Indah*

Ahoy, lad?

Ahoy, lad?

Seorang musisi Gereja mentwit sebuah pernyataan:

Sidney Mohede on Twitter

Sedih jg lihat tweet orang2 ‘pelayanan’ yg masih mau membajak & mencuri lagu/album yg kita kerjakan dengan kerja keras.

Sedih memang menjadi musisi zaman sekarang. Mereka menjadi korban perang idealisme. Karya-karya mereka selalu dibajak orang. Namun, sebenarnya tidak semua pembajak itu memiliki motif keuangan.

Sekali lagi, saya tidak berusaha membela pembajakan. Sebaliknya, saya memilih FOSS untuk melawan itu. Saya pun mendengarkan lagu dari CD yang saya beli. Namun, ada hal-hal lain dibalik pembajakan dan saya tertarik membuka hal-hal tersebut.

Keuntungan Menginjak Hak

Terus terang, dari awal tulisan ini saya nyatakan bahwa secara pribadi memilih pandangan sosial yang berpendapat bahwa hak cipta harus dibatasi. Di luar karya musik, hak cipta dipakai untuk mencegah kompetitor membuat obat yang sama sehingga harga obat paten mahal. Hal ini menyebabkan penyakit-penyakit yang seharusnya bisa disembuhkan menjadi mematikan. Mantan menteri kesehatan, Siti Fadillah, pernah memrotes praktik komersialisasi ini.

Karya-karya sastra yang seharusnya menjadi domain publik terus diperpanjang hak ciptanya oleh penerbit. Padahal, sebuah tulisan karya sastra dulunya memiliki hak cipta 10 tahun. Kemudian, karya tersebut menjadi domain publik yang dapat disalin, ditingkatkan, dan dimodifikasi oleh siapa pun. Orang pun dapat menikmati karya sastra. Hal ini memungkinkan orang-orang yang tak mampu dapat mengakses karya tersebut sambil memberikan insentif kepada penulis.

Yang terbaru dari itu semua adalah adanya usaha penciptaan paten disain baju. Paten ini ditolak karena motif-motif baju dan segala macam diciptakan dari tren yang sudah ada. Kecuali Anda sejenis dengan Lady Gaga, tak seorang pun mau memakai disain baju yang sangat berbeda. Lagi pula, disainer-disainer pasti membangun karyanya berdasarkan inspirasi lainnya.

Dari dunia pendidikan, terjadi pula protes mengenai akses publikasi ilmiah yang dikenakan biaya dan biaya publikasi itu sendiri. Banyak dari publikasi ilmiah tersebut merupakan pembiayaan dari dana publik. Sudah seharusnya mereka tersedia untuk publik. Apalagi, mengapa justru periset yang harus bayar untuk hasil kerjanya dapat dibaca orang? Namun, yang terjadi adalah penulis harus membayar publikasi dan pembaca harus membayar untuk mengakses tulisan yang dibiayai publik itu. Itu sebabnya, ada periset yang memilih untuk publikasikan langsung tanpa melalui publikasi.

Hal-hal pengindustrian karya-karya tersebut dengan mencabut beberapa hak seperti domain publik menyebabkan timbulnya haktivisme (hacktivism). Penyebabnya satu: demi mendapatkan keuntungan, korporasi melanggar hak-hak yang sudah ada dan diakui. Mereka punya uang dan pelobi untuk menggolkannya sehingga memiliki ketetapan hukum. Pejuang kemanusiaan, atau setidaknya itulah yang ingin dilakukan, sebagai individu-individu terpaksa harus berjuang dengan cara yang “lain.”

Budaya Sebagai Inti Manusia Bukan Industri

Generasi 90-an dan lebih tua biasanya membeli kaset dan vinil. Mereka dapat memberikannya kepada orang lain, atau menjual kembali kaset tersebut. Bahkan, kaset tersebut bisa direkam ulang ke kaset lainnya.

Pada masa itu, penerbit berfungsi sebagai pendistribusi album. Itu sebabnya, pada masa itu record label (label) berfungsi sebagai distributor. Namun, semua berubah ketika negara api menyerang. Musik tumbuh sebagai sebuah industri, bukan lagi puncak dari kebudayaan manusia (the pinnacle of culture).

Penerbit pun berubah menjadi sebuah mesin uang dengan melewati batasan yang seharusnya tak dilewati. Mereka mulai mempermak artis sesuai dengan tuntutan pasar (baca: arah pasar yang mereka tentukan).  Artis tak lagi bebas berekspresi. Yang paling parah dari semua itu, hak kepemilikan dipindahtangankan kepada label. Artis hanya memiliki sedikit. Bahkan, artis yang sudah/baru saja meninggal menjadi pusat keuntungan perusahaan.

Untuk melawan itu, beberapa musisi keluar dari label utama. Artis seperti Radiohead dan Hanson menjadi contoh utama. Dengan pertumbuhan Youtube dan iTunes, beberapa musisi baru lebih memilih untuk menjadi musisi di Youtube dan menjual karyanya di iTunes. Namun sayangnya, ini hanya terjadi di luar Indonesia.

Akses Terbatas dan Kemampuan Terbatas

Saya langsung saja ke Indonesia. Ada beberapa faktor yang membuat pembajakan menjadi tenar:

  1. Secara sistematis bangsa Indonesia diperbodoh dengan tontonan tidak makna.
  2. Tingkat ekonomi yang menurun menyebabkan daya beli merosot.
  3. Penghargaan seni yang rendah.
  4. Distribusi musik yang harus berubah.

Secara tidak sadar, orang-orang yang mengeruk keuntungan dengan memasang cerita-cerita dangkal dalam sinetron telah sukses memperbodoh bangsa ini. Metafora-metafora yang seharusnya bagian dari cerita sehingga menyebabkan interpretasi penonton diambil dari tayangan tersebut. Akibatnya, bangsa ini menjadi lebih pragmatis dan tak bisa berpikir abstrak lebih dalam.

Tak seperti Keluarga Cemara yang mengajarkan berpikir bahwa roda kehidupan membawa ke bawah. Atau Satu Paman Tujuh Ponakan yang membuka kehidupan, kejujuran, dan bertahan hidup. Saya masih ingat episode ketika mereka membuka usaha cuci baju dan salah satu ponakannya menemukan uang di celana. Bahkan sinetron Si Doel mengajak berpikir tentang kenyataan sosial ketika Babeh ternyata selingkuh. Oh, tidak, Cinta Fitri pokoknya mengajarkan pemeran utama rajin beragama dan sering dibentak  oleh tokoh jahat.

Sekali lagi, seni seharusnya sebuah pusat inti kebudayaan dan hasil pemikiran menjadi cetek akibat aksi-aksi tak bertanggung jawab pemraktik kesenian. Di tengah penurunan nilai tersebut, orang mulai mempertanyakan keberhargaan dari hasil karya tersebut. Benarkah kita perlu menghargai karya tersebut?

Pertanyaan tersebut bukan bagi para pembajak, tetapi juga bagi masyarakat lainnya. Apakah guru/dosen mendalami bahwa membajak itu salah? Sedangkan, buku-buku ajaran mereka pun banyak yang hasil salinan. Mereka sadar, murid mereka tak punya uang untuk itu.

Tentu, tak semua orang menyerah. Ada usaha untuk membuat buku sekolah gratis (BSE, di mana nasibmu?). Pak Ibam sendiri membuka repositori Bebas dan menulis buku Kunyuk untuk mata kuliah Sistem Operasi. Dan beberapa usaha lainnya. Namun, hal fundamental masih belum terjawab: akses murah kepada sebuah karya tulis.

Dan hal tersebut juga melanda karya seni. Bagaimana mungkin orang dapat membeli CD musik? Padahal, sekarang satu CD yang asli seharga Rp20.000,00 s.d. Rp25.000,00 untuk karya yang biasa. Untuk karya-karya istimewa, harga berkisar dari Rp40.000,00 s.d. Rp 60.000,00.

Murah sebenarnya, tetapi sayangnya orang sudah berstigma bahwa CD itu mahal!

Sadar atau tidak, tak ada (dalam pengetahuan saya) musisi yang mengiklankan bahwa CD mereka sudah terjangkau (saya tak pakai kata murah karena karya seni bukan murahan). Tak ada yang memberitahukan bahwa semenjak 2010/2011 harga CD sudah turun drastis. Tak ada yang memberitahukan bahwa CD ini 5, 8, atau 11 dan lebih  lagu itu dibuat dengan air mata.

Parahnya, mungkin hanya saya, artis-artis sekarang menimbulkan kesan bahwa mereka hasil karya label bukan mereka sendiri. Munculnya ben-ben yang lipsync dan minus one semakin memperkuat anggapan itu (walau pun sebenarnya seringkali artis dipaksa untuk itu). Sehingga, bagi orang berpengaruh (masyarakat penikmat yang sebenarnya bisa mendukung anti pembajakan), kepalsuan yang mengkhianati idealisme seni membuat mereka undur dari ide bahwa seni itu berharga. Tentu saja, motif ekonomi juga memaksa orang untuk tidak mendukung hak musisi.

Dunia Digital, Dunia Baru

Dahulu, kaset dibiarkan untuk disalin karena hasil salinannya tak akan sebagus aslinya. Dengan adanya media digital, itu pun berubah. Penyalinan sebuah media menghasilkan hasil salin 1:1. Sebuah berkas autentik tidak lagi berbeda dengan salinannya. Ini membuat permainan berubah!

Adanya digitalisasi media membuat masalah baru pula. Ketika zaman kaset, seseorang meminjamkan kasetnya kepada orang lain untuk didengarkan. Itu praktik yang wajar pada masa itu. Namun, sekarang zamannya ketika orang meminjamkan lagu, mereka membuat salinan media tersebut.

Dengan adanya digitalisasi, seseorang dapat membeli sebuah CD dan membagikannya kepada rekan-rekan. Aturan main pun berubah. Orang-orang tidak boleh lagi menyalin media rekannya. Mereka tak boleh lagi membagikan artis yang mereka sukai kepada orang lain.

Dunia industri melihat peluang dalam mengunci konten yang mereka miliki. Industri hiburan ingin melindungi konten mereka. Mereka berusaha menambahkan restriksi pada media yang berisi konten mereka. Timbullah sebuah kesadaran untuk memasang DRM.

DRM ini justru merugikan konsumen. Lagu yang mereka miliki tidak dapat dimainkan pada perangkat-perangkat lain. Sesuai undang-undang, mereka bisa membuat salinan sebagai cadangan. Namun, hak tersebut dirampas. Penggunaan DRM, terutama yang mengharuskan daring, membuat konsumen menjadi tidak penuh menikmati konten yang sudah dibelinya.

Ketika menggunakan komputer dengan sistem operasi yang berbeda, konsumen kehilangan hak untuk memainkan musik yang sudah ia beli. Ketika ia menggunakan produk non-Apple, lagu yang dibelinya di iTunes tak dapat dimainkan. Padahal, konten yang dibelinya adalah sebuah format universal semisal MP3. Padahal, ia sudah membeli pula lisensi dari penggunaan MP3. Mengapa ia tak dapat menggunakan hak lisensi tersebut?

Pertanyaannya, lalu apa yang kita beli di iTunes? Apa yang kita beli di toko CD? Semua paradigma lama yang kita ketahui telah berubah dan industri hiburan ingin mendefinisikan ulang hal-hal tersebut.

Di tengah-tengah gegap gempita dunia digital, Internet berusaha menyatukan manusia. Namun, lagi-lagi teknologi dipakai untuk mendiskriminasikan orang. Alat pembayaran yang dipisahkan oleh geografis membuat orang dari tempat lain tak bisa menikmati lainnya.

Akhir Kata

Wow, tulisannya panjang benar. Memang, karena pembajakan bukan sekedar motif keuangan. Ada juga latar belakangnya tentang perjuangan hak sebagai manusia di tengah-tengah gegap gempita korporasi.

Sekali lagi, saya tak membela pembajakan. Sebagai puncak dari kebudayaan, pekerja seni seharusnya berpikir kreatif dan memikirkan masalah-masalah budaya ini. Ini merupakan tanggung jawab mereka sebagai filsuf-filsuf zaman ini. Mereka seharusnya menyuarakan perubahan.

Jadi ketika musisi berteriak tentang pembajakan tanpa melihat esensinya dan garis besar latar belakang, seorang dapat bertanya:

  • “are you a bard or beggar asking for coins?”
  • “apakah mereka bersuara dari hati mereka ataukah label mereka yang berbicara?”
  • “apakah mereka paham apa yang dibedakan?”
  • “apakah mereka paham tentang gejolak-gejolak sosial yang ada?”

Musisi tidaklah sekedar bernyanyi.  Dari zaman raja-raja sampai sekarang, musisi adalah penyuara dan isi dari apa yang dia lagukan merupakan puncak dari pemikiran. Dari masa ke masa musisi selalu pada tempat yang terhormat dalam budaya. Jika memang mereka tidak setuju dengan pembajakan, mereka haruslah menyuarakan suara itu dengan alasan. Mereka sediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terhubung dengan budaya zaman ini.

Ada beberapa artis yang menyediakan jawaban mereka.

  1. Pongky Barata dan istri menyediakan jalur langsung supaya orang yang mau lagu mereka dapat menghubunginya.
  2. Beberapa artis mengizinkan pembajakan karena mereka diuntungkan dari jalur lain seperti konser dan buah tangan.
  3. Banyak artis berjuang melawan pembajakan dan mulai memikirkan distribusi secara digital.
  4. Neil Young, bapak Rock, menganggap bahwa Pembajakan adalah media Radio yang baru. dia menganggap pembajakan seperti radio yang memutarkan musik.

Dan mungkin ada artis lainnya yang menyediakan solusi lainnya. Saya, sih, tidak mengikuti perkembangan lagu sekarang. Habis, lagunya menyesatkan membuat galau dan tak bermakna. Banyak yang cuma ingin jualan laku saja. Sekali lagi, inilah stigma yang muncul, walau pun sebenarnya banyak lagu yang baru (seperti Pay, Ras Muhammad, Bondan, dkk.) yang bagus.

Akhir Kata Sebenarnya

Tulisan ini sudah dari beberapa hari lalu. Tiba-tiba ada saja pembahasan sehingga tulisan ini semakin panjang. Tapi, asli, kali ini memang akhir kata. Ha… ha… ha….

Kembali kepada masalah rohani, saya baru saja mengikuti pelatihan dari gereja saya. Terkejutnya saya, mereka menyatakan bahwa pembajakan merupakan sebuah hal yang salah. Dan ini jawaban gereja mengenai masalah tersebut. Mereka ingin agar umat menghargai hasil karya orang lain.

Terlepas dari konsep domain publik yang hilang dan hak konsumen yang telah diambil oleh korporasi, saya pun menerima hal itu. Toh, saya pun telah berusaha menggunakan produk legal. Lagu-lagu yang saya dengar semuanya saya rip dari CD yang saya beli. Bahkan, untuk urusan perangkat lunak legal, saya memiliki Windows XP dan M$ Office 2007 yang asli.

(Mengapa versi lama? Yang baru mahal! Kebetulan saya hanya mampu versi itu. Mengapa beli? Well, some people don’t care about idealism and keep sending me documents with proprietary formats and exotic copyrighted fonts.)

Mungkin gereja dengan pengetahuan yang terbatas tak melihat sisi kemanusiaan yang lain. Tapi, mereka berusaha melihat bahwa musisi-musisi dan penulis buku juga perlu didukung. Periuk mereka tetap mengebul dari apa yang terjual. Saya pun menerimanya.

Sekali lagi, kalau orang berbicara bahwa pembajakan itu salah, saya pun setuju. Tapi, tulisan ini menyediakan perspektif lain. Saya harap, tulisan ini dapat membukakan bahwa masalah pembajakan tidak dapat dipandang dari satu sisi saja. Dari berbagai sudut pandang itulah, baru kita membuat solusi bersama.

Pembajakan sebuah masalah multidimensi. Kita perlu pahami dari sisi-sisi lain untuk dapat mengatasinya. Bukan sekedar terabas tak terarah yang justru mementalkan usaha-usaha tersebut. Bagaimana pendapat Anda tentang krisis multidimensi ini?

  • Sarkastik

Errata

Sebagaimana kekurangan saya dalam menulis, banyak poin yang melompat-lompat sehingga tulisannya terkesan menjatuhkan. Padahal sebenarnya memberi saran dan solusi. Beberapa poin membutuhkan tautan yang saya lupa laman situsnya karena sudah lama tak berkunjung. Itu sebabnya, tulisan ini akan selalu disunting agar niatan dalam kepala saya menyambung dengan tulisan.

  1. Menambahkan tautan kepada akibat DMCA.
  2. Memberi penekanan tentang bahwa saya sebenarnya mau membahas stigma yang berkembang dari hasil pengamatan saya dan kondisi sebenarnya dari musisi. (terutama soal masalah lipsync/minus one)
  3. Menambahkan Neil Young
Year of Gaming

Year of Gaming

Setelah kehilangan motivasi untuk meneruskan spesifikasi komputer super, saya pun bingung dengan dana yang tersedia. Tadinya, saya hendak membangun komputer untuk bermain khusus untuk Diablo 3. Seri Diablo adalah game spesial bagi saya. Mainnya tidak ada matinya.

Dulu saya “beli” Diablo buatan GPL (Glodok Punya License).  Setelah mengerti dan merasa cukup, saya memutuskan Diablo 3 sebagai game pertama saya yang asli. Sayang, fitur “Always Online” mematahkan semangat saya.

Batal sudah! Saya tidak mau berlangganan Internet super cepat jika hanya bisa digunakan di hari Sabtu saja. Tahu sendiri, ‘kan, biaya data plan di Indonesia mahal dan Menkominfo kerjaannya cuma ngurusin bokep dan berpantun ria.

Valve Masuk GNU/Linux

Sebenarnya isunya sudah lama. Si Larabel memberikan sedikit bocoran bahwa Valve sedang mengembangkan klien untuk GNU/Linux. Tapi, berhubung kadang-kadang artikel Phoronix suka mencari sensasi, saya tidak begitu percaya.

Wow, ternyata benar! Valve membuat situs khusus untuk GNU/LinuxGame pertama yang sudah berhasil ditaruh ke Ubuntu 12.04 adalah L4D2 (Left For Dead 2).

Horeeee….! 🙂

L4D2 adalah satu-satunya game FPS yang saya mainkan. Game ini spesial karena satu-satunya game FPS dengan cerita. Lalu, kalau kita berani keliling-keliling, pemandangannya bercerita. Atau, bahkan tokoh yang kita mainkan suka berbicara.

Omong-omong, sekarang sedang ada Steam Summer Sale. Satu game harganya cuma US$ 9.99 (sekitar 90.000an). Gratis update dan nurani tak lagi merasa bersalah. Saya langsung membeli Valve Complete Pack.

Sulitnya e-Commerce di Indonesia

Kebanyakan situs pembayaran menginginkan adanya kartu kredit sebagai alat pembayaran. Waduh, padahal, khan, kartu kredit artinya kartu hutang. Mengapa tidak diperbolehkan menggunakan kartu debit?

Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam pembuatan kartu kredit:

  1. Tidak semua orang Indonesia diperbolehkan memiliki kartu kredit. Mungkin karena pekerjaan dan beberapa syarat lain yang tidak terpenuhi.
  2. Kartu kredit baru tidak bisa digunakan untuk transaksi melebihi sejumlah tertentu. Saya hendak membeli DLNA kit sendiri yang totalnya lebih dari 5 juta. Ya, wassalam…
  3. Kartu kredit menambah beban pengeluaran. Biayanya mahal.
  4. Kartu kredit dari bank di Indonesia terkadang tidak laku.

Omong-omong, saya tidak memiliki kartu kredit. Saya mengumpulkan data dari teman-teman. Saya tak suka MLM, tetapi sebelum Robert T. Kiyosaki menjadi raja MLM, dalam Cash Flow Quadrant, dia bilang untuk menggunting kartu kredit. Oprah Winfrey dalam The Oprah Winfrey Show juga selalu bilang gunting kartu kredit. Dua orang dari ekstrim berbeda berpendapat sama, jadi saya ngikut saja.

Lalu bagaimana cara saya membelinya? Kebetulan saya punya teman-teman yang lama melintang. Jadi, saya  minta bantuan mereka.

Saya agak ngeri kalau mau beli DLNA kit. Terkadang harga cukai lebih mahal dari barang sendiri. Mau cari-cari di Glodok juga saya tidak tahu tempatnya. Saya bukan orang kaya, kalau harganya sudah dua kali lipat, saya harus berpikir ulang.

Susah memang kalau mau riset dan bahan baku ada di luar negeri. Andai ada potongan harga cukai untuk barang-barang keperluan riset. Apakah ada hukumnya, kawan-kawan?

Melenceng dan Berhenti Menulis

Waduh, kok, pembahasan jadi melenceng.

Yah, begitulah saya. Memang membeli game di Internet ini termasuk riset saya untuk penggunaan e-Commerce. Omong-omong, saya bukan periset beneran. Tapi, sebagai seorang yang suka TIK saya suka meneliti fenomena dunia TIK.

Hasil dari riset saya selama di Universitas Indonesia:

  1. FOSS, saya melanjutkan tugas dari Pak Ibam untuk menjaga Kambing.
  2. Kartu pintar. Saya termasuk tim pembuat platform untuk infrastruktur Smart Infrastructure UI.
  3. Blog. UI yang pertama kali mengimplementasi WordPress MU.
  4. Surel. Implementaasi dari ASSP, standarisasi DKIM, dan lainnya
  5. Dan lain sebagainya.

Mengapa saya mem-bragging ini semua?

Saya cuma mau bilang, inilah dampak dari menggeluti FOSS. Pikiran jadi terbuka untuk menciptakan solusi, menyatukan yang ada, dan pantang menyerah. Sesuatu yang tidak akan Anda dapatkan dari menggunakan sistem tertutup.

Aku Ingin Masuk

Aku Ingin Masuk

Bandwithnya seikhlasnya...

JP (bukan nama sebenarnya) saat mengunjungi situs-situs dari Indonesia tertentu.

Bagaimana cara menilai sebuah situs bagus? Saya punya standar minimal:

Ketika lebih cepat membuka Youtube dengan kualitas 240p daripada situs Anda, maka situs Anda perlu dipertanyakan. Ketika menonton 360p lebih lancar dari membuka situs Anda, itu artinya perancang situs Anda makan gaji buta! Anda perlu menggunakan pengembang situs yang lain.

Saya kesal! Ada suatu situs penting di Indonesia yang dibutuhkan untuk harkat hidup orang banyak tetapi sulit sekali dibuka. Dan bukan hanya situs itu saja, ternyata banyak situs di Indonesia yang memiliki situasi serupa. Saya bukan pakar web, tetapi saya sudah ada dari zaman Warnet masih Rp16.000,00 per jam dan 14.4 kbps adalah kecepatan yang optimal. Jadi, izinkanlah saya marah-marah, protes, dan kasih solusi. 🙂

Terlepas dari omongan saya yang rada kasar tadi — mohon maaf buat Anda yang tersinggung, ini puncak kekesalan saya setelah selama bertahun-tahun masih saja sama masalahnya — saya berminat untuk memberikan sebuah solusi. Semoga tips yang saya berikan berkenan untuk diimplementasikan.

Perhatikan Isi

Pada masa Web 1.0 dan ucapan “Under Construction” merupakan norma, GIF dengan animasi dan tag marquee merupakan primadona. Tetapi semenjak zaman Web 2.0, orang sudah menganut ucapan “Beta” dan prinsip KISS diterapkan.

KISS artinya “Kip it simpel stupid!” [read: Keep it simple, stupid!]. Anda hendak memajang informasi kepada pengguna. Jadi, usahakan Anda definisikan untuk menaruh apa di situs Anda:

  • Mana yang perlu di halaman depan;
  • mana yang cukup cuplikan saja; dan
  • mana yang ditaruh di halaman lain saja.

Untuk membantu bagaimana memilahnya, Anda dapat menggunakan berikut:

  • Siapa target atensi Anda. Jadi, pisahkan informasi berdasarkan target tertentu, misalnya: mahasiswa, dosen, dan pengunjung iseng. Contoh: situs IBM.
  • Fasilitas yang biasa digunakan orang. Cara tahunya bisa dengan menggunakan fungsi counter, lho…. (Counter bukan untuk adsense, doang.)
  • Tanyalah diri sendiri, apa yang Anda harapkan Anda dapatkan dari mengunjungi situs Anda?

Setelah demikian, lakukan Indonesian Idol 2012 edisi situs Anda untuk menentukan siapa yang perlu dipajang di halaman depan dan siapa yang perlu di belakang. Ingat! orang Indonesia itu terbiasa visual bukan membaca tulisan. Lautan tulisan justru membuat orang terintimidasi.

Perhatikan Gambar Anda

Ada pengembang web yang mungkin berpikir bahwa orang yang mengunjungi situsnya  menggunakan jaringan Intranet atau langsung dari komputer dia. Buktinya, gambar lebih dari satu mega bita dijadikan latar belakang. Ada kemungkinan juga, sih, dia lulusan kritikus film yang elit dan visualphile, sehingga setiap ikonnya dibuat dengan presisi komposisi warna yang rumit. Lihat, kalau diperbesar ikon rumahnya ada bercak di sisi kiri jendela mirip siluet orang; ada sebuah interpretasi rumit mengenai ini.

Kalau itu bukan Anda dan situs Anda bukanlah untuk sebuah karya seni, mohon perhatikan hal-hal berikut:

  • Kompresi gambar Anda!
  • Perhatikan jumlah gambar Anda karena itu menentukan berapa jumlah rit koneksi Internet untuk membuka situs Anda.

Cara kompresi gambar ada dua:

  • Turunkan gradasi warna. Cara turunkan gradasi warna dapat dengan menggunakan blur. Pengaburan ini fungsi sebenarnya bukan cuma buat menyensor dada, tetapi juga untuk menurunkan gradasi warna. Kombinasi Wand untuk memilih area tertentu dan Gaussian Blur di GIMP bisa dipakai untuk itu. Atau, coba cari saja plugin GIMP untuk optimasi web.
  • Simpan dengan format JPEG dan turunkan kualitas. Kalau di GIMP, gunakan indeks warna. Mainkan kualitas dan sampling yang dipakai. Menurut pengalaman saya, format JPEG adalah format yang paling irit. (GIF yang pertama, sih, tapi siapa yang mau pakai GIF?)

Kalau Anda mau lebih keren lagi, gunakan CSS sprite. CSS sprite adalah sebuah teknik dari Yahoo untuk menyimpan gambar-gambar ikon dalam satu berkas gambar. Nantinya gambar yang besar itu dipotong-potong dengan menggunakan teknik klip CSS.

Yang paling penting dari semua: hentikan animasi yang tak penting! Gambar yang beranimasi cenderung mengganggu orang dari serius membaca tulisan. Sudah secara alami Anda akan melihat gambar bergerak. Itu bagian dari keselamatan di alam dan duduk lebih dari 8 jam di depan komputer tak akan menghilangkan hasil evolusi berjuta tahun.

Duniamu Mengalihkan Duniaku

Saya sebagai orang yang lebih dari 8 jam di depan komputer menggunakan tematik hitam dan kontras rendah. Sayangnya, beberapa orang kreatif menghias lapaknya dengan warna hitam dan hurufnya berwarna putih. Untuk situs-situs ini, saya kerap kali harus menggunakan penyunting untuk mengisi formulir. Karena formulir dan hurufnya berwarna putih, saya seringkali harus melakukan tebak-tebak berhadiah. Saran saya, tolong buat formulirnya berwarna hitam juga, dong. Atau, mohon warnai formulirnya.

Memang, ini derita saya dan saya tidak bisa menyalahkan mereka. Ya, sudah, saya terima itu. Tapi, berikut ini yang lebih parah.

Satu hal yang menghalangi saya untuk mengikuti proses sosial dari sebuah situs adalah situs yang pengembangnya menggunakan asumsi bahwa penggunanya menggunakan peramban tertentu saja. Saya sadar, terkadang menjadi seorang pengguna peramban  minoritas berarti kehilangan fungsional tertentu.

Apakah itu perlu?

Sebuah situs yang hanya mengambil masukan dan melakukan seluruh operasinya di sisi server, apakah ini perlu menggunakan peramban tertentu? Saya paham kalau misalnya sebuah situs diperuntukan bagi IE6 karena menggunakan ActiveX. Tapi, situs yang hanya memerlukan fungsi tradisional, mengapa perlu berjalan di peramban tertentu?

Saya menggunakan Opera 12.0 versi GNU/Linux selain Firefox. Ada sisi sentimentil bagi saya untuk menggunakan peramban ini. Selain cepat, dahulu sewaktu zaman Window Maker masih pengatur jendela saya, Opera 2.0 merupakan peramban yang paling modern. Sepertinya perasaan itu masih belum hilang. Apalagi, Ctrl+Shift+N masih ada untuk terhubung ke situs…. * ahem

Sisi sentimentil lainnya, dia merupakan peramban inovatif dan hanya mendukung standar web resmi. Sebagai pecinta standar terbuka, saya menyukai sikap Opera. Dan seharusnya dengan standar terbuka, saya seharusnya dapat menulis komentar. Tetapi, mengapa fitur komentar tidak muncul di situs Anda, wahai situs berita K?

Mohon untuk situs-situs penting bagi hajat hidup orang banyak, gunakan fitur-fitur standar yang sudah pasti berjalan di seluruh peramban (kecuali IE6). Amal ibadah Anda pasti diterima di sisi-Nya. Apalagi kalau Anda menggunakan URI nan cantik dan bisa diindeks oleh Google. Saya sumpahin Anda dapat jodoh yang baik dan mertua yang pengertian! Amin.

Saya tahu, menggunakan Flash dapat menghasilkan animasi yang keren. Tapi, mohon pahami bahwa Flash membutuhkan data bita yang besar. Sistem operasi saya pun kurang stabil dengan banyak Flash yang berjalan.

Menjadi pengembang web bukan soal mengembangkan konten. Ada hal-hal yang harus diperhatikan, terutama soal teknis. Setelah mengatur struktur informasi, seseorang atau tim juga harus belajar memverifikasi situsnya. Caranya:

  • Lihat situs dari berbagai peramban dan sistem operasi.
  • Gunakan validator daring untuk melihat akuntabilitasnya.

Lebih gampangnya, saya beri contoh kasus.

Terkadang sistem operasi tertentu tidak mendukung fasilitas yang membuat peramban yang sama pada sistem operasi lain tidak masalah. Sebagai contoh, huruf web yang saya gunakan di situs ini menggunakan Google Webfonts. Terlihat indah bila di GNU/Linux dan Windows 7.

Sayangnya, ketika saya menggunakan Windows XP, tulisan situs ini jadi jelek. Usut punya usut, Windows XP harus mengaktifkan Clear Type untuk bisa melihat situs ini dengan bagus.  Berhubung ini masalah Windows XP dan remeh, saya akhirnya memutuskan tetap menggunakan huruf web. Apalagi, IE6 sudah dianggap almarhum oleh Microsoft. Jadi, buat apa saya dukung web itu?

Tapi Bagaimana Mungkin, Membaca Saja Aku Sulit

Gampang, kok. Cukup gunakan slogan TIK yang terkenal: re-use. Re-use bukan mengambil konten orang lalu menaruh di situs dengan iklan bejibun tanpa memberikan kredit (menyebut penulis asli atau tautan ke situs asli misalnya). Itu namanya menyolong dan di dunia akademis disebut plagiat.

Re-use artinya menggunakan komponen-komponen yang sudah tersedia untuk digunakan sebagai dasar. Misalnya Anda kurang bisa PHP seperti saya, gunakan Drupal atau WordPress dan pakai tematik yang sesuai dengan kebutuhan.

Anda mungkin sebuah situs berita profesional atau situs pertemanan dan memerlukan fungsi Javascript untuk interaktivitas. Anda bisa menggunakan JQuery daripada menulis sendiri skrip Anda. Atau, gunakan Modernizr sebagai dasar pengatur konten Anda.

Pustaka-pustaka itu diciptakan supaya Anda tidak perlu melewati proses yang sama untuk bisa kompatibel dengan banyak peramban. Dari pengalaman saya di tahun 2000-an, menulis “if (ie4|ns4|w3c)” di dalam skrip itu sesuatu banget. Untung saja sekarang proses itu tidak perlu dilewati. Sudah ada orang-orang baik yang mau berbagi dan membakukan proses fallback dan fitur-fitur tertentu dengan teruji secara internasional.

Mengapa Anda tidak memanfaatkannya? Hitung-hitung Anda menambah amal mereka dengan mengizinkan mereka membantu Anda. Gunakanlah alat-alat yang sudah beredar di Internet dan dengan gratis sambil memperhatikan data.

Mari gunakan bingkaikerja yang sudah teruji dan baik demi kepentingan bersama.

Tujuan Curhat Ini

Saya punya impian, infrastruktur TIK benar-benar menjadi sebuah perkakas yang membantu bukan menyusahkan.

Perangkat Lunak dan Kehidupan Bernegara

Perangkat Lunak dan Kehidupan Bernegara

Ada beberapa berita yang beredar di Internet yang cukup berpengaruh saat ini mengenai teknologi dan pengaruhnya terhadap berbangsa dan bernegara. Seringkali orang meremehkan fungsi vital teknologi sebagai infrastruktur dasar dalam berkomunikasi. Artinya, secara tidak sadar, manusia yang telah terhubung secara digital hidupnya, pada level berbeda, bergantung kepada perangkat lunak. Itu sebabnya, saya gatal menulis catatan ini.

Tidak seperti koran yang menulis berita beropini dengan label “Fakta”, saya dari mula akan bilang bahwa artikel ini berisi pendapat saya. Jadi, sudah pasti tidak 100% obyektif.

Sekali Lagi UEFI dan “Trusted Computing”

Tulisan Matthew Garrett tentang UEFI membuat saya tambah kuatir tentang masa depan perkomputeran. Garret berpendapat bahwa UEFI memang akan memiliki beberapa celah keamanan untuk rilis-rilis awal. Tetapi, seiring dengan perbaikan, celah-celah itu tertutup sehingga tidak ada lagi tersisa untuk diserang.

Sebagai seorang yang berkecimpung dengan dunia komputer, saya cuma bisa geleng-geleng. Masalah keamanan itu masalah kucing-kucingan. Seberapa kuat pun sebuah algoritma, dengan binari lebih besar dari kernel Linux, pasti ada saja celah dari firmware UEFI. Saya termasuk yang tidak setuju dengan fitur secure boot pada UEFI.

UEFI merupakan sebuah bagian dari yang namanya “Trusted Computing”, komputasi terpercaya. Sebuah ide tentang bagaimana komputer bisa dibuat agar komputer bebas dari virus, trojan, dan aplikasi-aplikasi ganas. Perlindungan sempurna karena dari semenjak menyalakan komputer, sudah ditentukan hanya aplikasi-aplikasi yang dipercaya saja yang berjalan.

Masalahnya, mereka memutuskan bahwa pengguna, yang seharusnya pemilik perangkat keras, tidak termasuk yang dapat dipercaya. Hal ini karena banyak pengguna yang menggunakan program ilegal untuk menjalankan torrent atau pun aplikasi peretas. Kendali ada di tangan korporasi terpercaya.

Penjajahan Hak Milik Barang

Cory Doctorow dalam ceramahnya mengingatkan tentang bahaya mengenai hal ini. Pemerintah yang represif dapat memasang alat penyadap dan memotong kebebasan. Selain itu, peran sektor-sektor bisnis menentukan fungsi mana saja yang dapat diaktifkan dari sebuah produk yang kita beli.

Orang bilang bahwa sekarang zamannya gadget (doctorow menyebut “appliance”, tetapi saya pikir kita lebih familiar menyebutnya “gadget”). Sebuah perangkat dibuat untuk memenuhi fungsi-fungsi tertentu saja. Misalnya, untuk membuat sebuah TV pintar, membuat telepon pintar, dan lain sebagainya.

Namun, kenyataannya bahan yang digunakan sebenarnya adalah sebuah komputasi untuk kebutuhan umum (general purpose computing). Komputer ini kemudian disusupi dengan aplikasi mata-mata (spyware) yang mencegah pengguna tidak bisa melakukan apa pun selain yang dibutuhkan. Ia bahkan bisa membuat barang tersebut melakukan penghancuran diri sendiri.

Anda tahu masalahnya di mana?

Nantinya orang bukan lagi membeli barang, tetapi menyewa barang berdasarkan EULA. Hal ini karena orang tidak benar-benar memiliki barang yang “dibelinya”.

Sensor dan Pengawasan

Perang dunia maya itu nyata. Mereka bukan sekedar perang-perang ingusan yang sekedar mengubah tampilan situs. Mereka perang untuk mencuri dan menghancurkan sumber daya negara lain.

Mungkin perang tersebut tidak langsung mengenai warga sipil. Teknologi dari perang tersebut akan dapat diimplementasikan ke dalam dunia sipil. Dengan menggunakan teknologi tersebut, kebebasan sipil dapat dikendalikan.

Sensor terhadap informasi menyebabkan teknologi tidak dapat lagi digunakan untuk melakukan protes. Dukungan terhadap KPK dan institusi lainnya mungkin tidak dapat disalurkan lagi. Oposisi pun dapat dibungkam.

Terjadi tren di seluruh dunia, termasuk di Amerika, muncul usaha pemerintah untuk dapat menyensor warganya. Dari sensor Twitter, sensor hasil pencaharian di Google, dan sampai penutupan jalur Internet (One kill switch).

Kalau menurut saya, ini wajar saja terjadi. Seperti dahulu wartawan demikian tidak terkendali dan akibatnya borok perang Vietnam terbuka. Wartawan melaporkan strategi tentara Amerika yang membakar desa-desa. Ini yang menyebabkan rakyat Amerika marah dan mencabut dukungan terhadap perang Vietnam.

Apa yang terjadi di Mesir dan Syria merupakan alarm bagi pemerintah. Hukum yang saat ini memenangkan lobi-lobi korporasi membuat banyak pihak yang terpinggirkan merasa hak mereka diambil. Bukan tidak mungkin, kejatuhan ekonomi Eropa akan menjatuhkan ekonomi global. Rakyat tentu akan bertanya, mengapa ini bisa terjadi? Dan sisanya dapat dibayangkan sendiri.

Jika pemerintah dapat mengendalikan teknologi komunikasi, ke manakah arah bara dalam sekam itu pergi?

Open Government

Untungnya, saat ini sudah banyak proyek Open Government (OpenGov) di seluruh dunia. Dari sisi pemerintahan, OpenGov adalah sebuah kebijakan transparansi yang memperbolehkan warganya mengakses dokumen-dokumen negara. Dengan demikian, warga negara dapat mengakses dokumen tersebut.

Dari sisi ilmu komputer, OpenGov merupakan evolusi dari e-government. Dalam sistem ini, interaksi antar dua sistem dapat dilakukan karena penggunaan dokumen standar terbuka. Selain itu, pemanfaatan teknologi web semantik membuat data-data tersebut dapat dipadukan untuk menjadi sebuah pengetahuan baru.

Sayangnya, keterbukaan adalah sesuatu yang terlihat menakutkan. Sama seperti proyek-proyek data terbuka, OpenGov banyak berbenturan dengan keengganan negara untuk membuka dokumennya. Lagipula, ada beberapa dokumen negara yang merupakan rahasia negara. Bagaimana dengan itu?

Indonesia memiliki instrumen UU Keterbukaan Informasi Publik. Saya belum mempelajarinya secara ekstensif, tetapi setidaknya semangat keterbukaan dapat dilihat dalam UU tersebut. Ini sebuah langkah maju.

Keterbukaan informasi publik ini merupakan sebuah instrumen untuk menguatkan rasa memiliki bagi warga negara. Sebagai instrumen hukum, ia membuka proses audit yang menjamin sebuah pemerintahan tidak korup. Sebagai sebuah alat negara, ia membuka peluang untuk warga negara untuk aktif berkontribusi.

e-Voting

Gunnar Wolf menulis tentang ketidaksetujuannya menggunakan e-voting.

e-Voting memiliki keunggulan memungut suara dengan cepat, mudah, dan murah. Karena segala sesuatu dijalankan secara elektronik, segala sesuatu dapat dihitung secara waktu nyata.

Menurut Wolf, e-voting terbukti merupakan solusi yang mahal. Selain itu, penggunaan e-voting insecure, violates secrecy, allows for fraud. Atau kalau dialihbahasakan, e-voting tidak aman karena; 1) rekam jejak pemilih dapat diketahui; 2) sistem dapat disusupi untuk menambahkan suara.

Kalau mau dianalogikan, sebagai kasus pengumpulan data anonim yang ternyata mengandung sebuah kata kunci. Memang, kata kunci ini tidak terdeteksi. Tetapi dengan menggunakan teknik temu kembali, data dapat dilacak kepada seseorang. Jadi, data tidak benar-benar anonim.

Memang, ini bisa menjadi sebuah fitur atau galat. Tergantung bagaimana regulasi dapat mengatur transparansi sistem. Pada lain pihak, pengembang Debian lainnya menceritakan tentang pembaharuan sistem pemungutan suara di Belgia. Di sana kini dibuat juga versi cetak kertas pemungutan suara. Dengann adanya versi cetak ini, penghitungan manual dapat dilakukan.

Hmm… teknologi bila sudah bermain di ranah sosial menjadi rumit. Banyak aspek sosial dan filosofis yang mennjadi pertimbangan. Sebuah sistem “nggak sekedar tinggal” perlu dikembangkan dengan baik. Itu sebabnya, saya pikir sudah saatnya laboraturium kajian berkembang, bukan sekedar laboratorium cabang murni saja.

Kesimpulan


NB:

Tadinya saya tidak ingin memasang entri ini. Habis, terlihat paranoid. Saya hanya sekedar iseng mencoba Lekhonee GNOME yang ternyata tidak punya tombol untuk menyimpan sebagai Draft. Ya, sudah, berhubung sudah teragregat di banyak tempat. Saya selesaikan saja tulisan ini.

Tapi, memang masyarakat global saling terkait satu sama lain dan suatu usaha di negara lain terhubung ke negara lainnya. Indonesia pasti terkena. Dan salah satu isu yang paling santer saat ini, ya, itu, usaha penyensoran hak dengan iming-iming kemudahan.

Hal ini diumpamakan Esau yang menukar hak kesulungannya untuk sepiring kacang merah.

NB2:

ternyata masalahnya Lekhonee menimpa tulisan sebelumnya. Mungkin saya tak sengaja memasang.

Indonesia Tak Laku?

Indonesia Tak Laku?

Hari ini berita dari yang saya dengar di radio mau pun percakapan dengan orang-orang. Beberapa ada yang curi dengar. Kali ini topik yang menarik adalah tentang ke-Indonesiaan. Seperti biasa, saya tidak suka marah-marah tanpa solusi, jadi saya juga coba menyebutkan.

Bahasa (Sekali Lagi)

Ada orang yang bilang bahwa Bahasa Indonesia miskin kosakata. Bahasa [BAHASA_ASING_DI_SINI] jauh lebih superior. Saya sedih mendengarnya. Itu tidak benar, Bahasa Indonesia yang dibentuk dari Bahasa Melayu ditambah serapan asing (Arab, Belanda, dkk.) dan bahasa-bahasa suku Indonesia jauh kaya. Bahkan, keunggulan aturan  sederhana memungkinkan banyak orang menggunakannya dengan baik.

Menurut saya ini masalahnya:

  1. Banyak pejabat Indonesia sebagai pihak otoratif pengguna Bahasa Indonesia lebih memilih menggunakan istilah asing (Bahasa Inggris) dibandingkan menggunakan Bahasa Indonesia. Hal ini semakin menguatkan stigma di masyarakat bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa kampungan.
  2. Tidak bisa berbahasa Indonesia tetap bisa menjadi Doktor, tetapi tidak bisa berbahasa Inggris tidak bisa dapat beasiswa. Lalu aplikasi dunia nyata untuk Bahasa Indonesia itu apa?
  3. Dari ribuan seniman Indonesia hanya satu yang saya tahu mengeksplorasi Bahasa Indonesia, yakni Katon Bagaskara.  Bandingkan dengan musik asing (Bahasa Inggris) yang bahkan pada musik Pop ringannya pun menyelipkan majas. (Cry me a river, words of a thousand suns, drop the beat)

Bahasa ini tak laku di pemerintahan, pendidikan, dan bahkan seni. Mereka sebagai motor penggerak saja tak menggunakannya apa lagi orang awam.

Seni dan Klaim

Warga suku Mandailing di Malaysia mengajukan permohonan kepada pemerintah Malaysia untuk menjadikan Gondang Sembilan menjadi warisan negara. Nantinya, tarian ini terdaftar di seksi 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005. (Kompas, 18 Juni 2012,h. 12)

Hal ini penting agar kelestarian adat ini terjaga. Apalagi, syarat untuk menjadi warisan negara itu adalah pertunjukan yang melibatkan seni itu harus secara rutin digelar. Dengan kata lain, pemerintah Malaysia akan memastikan bahwa budaya itu tidak punah, bahkan menjadi bagian dari negara.

Nah, tadi pagi saya mendengar acara menarik dari salah satu radio. Isinya tentang Gondang Sembilan. Penyiarnya ada wanita dan pria. Saya mendengar di tengah-tengah.

Penyiar yang pria tampaknya seorang Batak. Dia bilang, kalau mau mengadakan Gondang Sembilan, itu harus seizin ketua adat dan Raja setempat. Makanya, di daerahnya, Gondang Sembilan jarang dimainkan kecuali kalau ada prosesi adat. Kalau di negara sana, ‘kan, Gondang bisa sembarang dimainkan. Wajar saja mereka lebih sering ditampilkan.

Penyiar wanitanya marah-marah di Twitter karena hal ini. Mereka tak boleh sembarangan mengklaim adat kita, kira-kira begitu. Saya juga lupa tepatnya.

Nah, lalu penyiar Batak itu dengan jenaka bertanya, “kalau boleh memilih, nonton konser Seni pertunjukan Indonesia atau Suju?” Sadar disindir, penyiar wanitanya langsung bilang, “Suju!” Atau kira-kira begitulah, saya kurang ingat karena saya sudah tertawa-tawa mendengar celotehan mereka.

Tapi, itulah masalahnya. Seni budaya kita banyak yang sakral. Apakah masyarakat adat Indonesia ada mau legawa memperbolehkan seninya untuk menjadi pertunjukan budaya?

Lalu, bagaimana dari stigma anak muda yang menganggap pagelaran seni itu membosankan? Apalagi, tipe-tipe anak-anak remaja yang hanya mendengarkan lagu Top 40.

Teman saya tadi pagi menawarkan. Seharusnya, ketika ada pagelaran seni semacam Lady Gaga, promotor musik mengundang seni tradisional sebagai band pembuka. Apalagi, Lady Gaga penggemar eksotis. Tahu-tahu seni itu menjadi topik teratas karena ditwit oleh Lady Gaga.

Dia bilang, orang mau membeli paling murah 500 ribu untuk konser seorang penyanyi asing. Untuk penyanyi lokal, 500 ribu terkadang terlalu mahal dan orang masih sayang untuk mengeluarkan dompetnya. Untuk pagelaran seni, tidak bakal laku.

Ide dia benar juga, meyelipkan pagelaran seni tradisional sebagai band pembuka. Setidaknya promotor Indonesia bisa menyelipkan hal itu. Agar tidak membosankan, promotor bisa memilih tari yang sesuai dengan tema penyanyi utama. Selain itu, koreografinya bisa disesuaikan dengan kondisi.

Saya tahu, saya bukan puritan seni. Tapi, kalau memang benar-benar ada yang suka mencari yang murni, mereka bisa langsung datang ke daerah tempat seni tersebut. Tinggal pemerintah daerah/komunitas seni setempat yang menyambut gayung.

Teman saya juga bilang, kalau di luar negeri, komunitas banyak yang diayomi dengan disediakan tempat umum untuk itu. Di Jakarta setidaknya hanya ada satu tempat untuk mengadakan pertunjukan yang saya tahu: Taman Salihara. Dan kalau boleh jujur, kedua tempat itu asing bagi banyak orang.

MTV Kills Metal

Di percakapan sebuah komunitas yang diperkuat dari kesaksian dari musisi legendaris, kalimat itu terungkap. Percakapan ini karena banyak metal head sedang berduka karena di TV kebanyakan musik Pop dengan menggunakan autotune. Liputan kepada musik Rock atau Metal sangat kurang.

Tetapi, apakah musik ini mati?

Tentu tidak, ada orang-orang yang masih mendengarkan musik ini. Sebut saja JP, bukan nama sebenarnya, masih mendengarkan lagu-lagu itu. Walau pun tersebar dan tidak merata, ada orang-orang yang masih mendengarkan musik itu. Yang kalau sewaktu-waktu ada konser, banyak juga yang hadir. Tapi, orang-orang ini di bawah radar dan tidak tercatat.

Di Kompas pada halaman yang lain, Atilah Soeryadjaya sempat sesungukan menyerahkan tumpeng kepada suaminya yang selama dua setengah tahun mendukung dia untuk karyanya, “Matah Ati”. Ia mengaku sempat tidak dilirik. Namun, ketika acara seni tradisional itu diadakan, tiket habis terjual. Bahkan, ada tawaran untuk mengadakannya di negara-negara lain.

Peluang seni tradisi sama seperti pentas metal. Akan ada pasar, tetapi siapa yang mau mengusungnya?

My Personal Side Note

My Personal Side Note

Virtual Reality technology is an effort of making virtual world closer to physical world. Augmented Reality is an effort of making real world closer to virtual space. Each passing days the two are getting closer to each other until both terms are interchangeable. Fortunately, nowadays we call them Augmented Reality for the sake of sales.

Just like other terms seems Virtual Reality got some sort of techie sound to it. In the 80’s and 90’s, tech world sounds futuristic. People loves to call computer-like jargon on any high-level device. At that time, techno sound was born. People getting excited from the new digital sound produced by a single keyboard called synthesizer.

Since Nokia introduced technology for human beings, basically many products trying to get this philosophy. A product is to enhance human’s experience with their environment. Well, this concept was coined by father of Ubiquitous Computing, the late Mark Weiser. He introduced three type of devices: tabs, pads (yes, it was his term), and board.[*]

Anyway, it is also an ironic thing that the technology that a technology for human beings making them inhuman. I find myself in a shocking experience that we are degrading in society because of this technology. One of the terrible things happen was there is a story somewhere that people gather yet not talking each other. They talk to their devices.

Where would we bring this society into the new digital age?

An enthusiast researcher, a friend of mine, said that the technology leverage the level of humanity. People would not need to work in some jobs that could be handled by a machine. People then can move on to think the other things with higher education.

I agree, it is convenience and efficient. When a person not spending their time in washing their clothes because of the invention of washing machine, they can allocate that particular time to do something, e.g. learning. Some technologies are the salvations of humanity.

But… [yeah, this type of sentence always produce but]

some technologies parting us from reality to virtual spaces.

One reality that made me think hard is this: nowadays young adults take their attention on their smart devices than on their surrounding. Sometimes, I find in a group discussion, many young people on their devices while talking to each other. Sometimes they humming just to give a little gesture that they are listening.

But, I think they weren’t!

Can human multi-threading? Could they simultaneously do two or more things that need high attentions at the same time?

I know how thread works. You give a block of processing time exclusively to a job. Then in time they would yield to the job creator. Then, the processing time given to another job. Yes, it makes interactivity and snappier experience.

But, here’s the problem: how about if there are two or more jobs that require intensive processing?

In a weight-based job scheduler, the Operating System would gives the most weighted job more time than the previous. Sometimes, this preference would cause a problem of starving jobs. In other times, it might produce a deadlock because the system was waiting the least job. So, some scheduler making a timeout for the job waiting in queue.

In the fair scheduler, the job is given equally treated. The jobs are ended by force. The problem with this type of scheduler is it sometimes end the job at a wrong time. Sometimes, a badly programmed application is hanging because it still open an I/O resource while it already completed the processing. Well, to this type of problem, they introduce mutex.

Well, how about human? What type of scheduler they use to give attention for two or three heavily-needed attention type of activities?

When a people talking to you and then there is an interesting tweet/talk/status show up, don’t you would gives maximum attention to that thing and some details of the person’s talk are missing?

And what if the missing part was, “I love you, would you love me back?” or something bad, “I think I’d kill myself today”?

Don’t you think they would feel being alienated when other people take a gaze to their device?

People feels by seeing other people’s face gestures. The body language make a mark of something. A sentence might be a joke, might be a sad story. We know how it is by analyzing the speaker. That’s why we connected to each other by the presence of each person. Being these features deprecated, don’t people get lonely and misunderstood by that?

I know I don’t have a valid research on this. But, it seems people would feel uncomfortable around the people who do that. I think, that’s why they do the same thing. Yes, they too starting to play with their devices.

Some would said that people can do two things simultaneously. I don’t buy that as simple as a man having multi-processors. A Firefox may have different profiles, but it can only be activated one at a time. Why? Because human can only process one at a time.

Firefox may have tabs and windows, but we only see one particular at a time. We might have the ability to cycle from tabs to tabs or making windows side by side, yet we don’t see it all at the same time. May be some can, but even there is this “that some”, that some might extremely rare.

I know that Surrogate is not that far away in the future, but before it becomes science fiction no more, questions raised:

  1. What is the value of being real?
  2. Can digital world replace physical world?
  3. Can we say about the changing culture is safe for humankind?

I know that there are flaws on my arguments, especially that I don’t counter this with any research references. But, are we in the right track?

Oh, btw, I was trying to write are these technologies truly for humankind? I know they are, at least they were intended to be like that. But, are we as a community of human species ready for those? Are our nation ready? Are we ready?

At this time I wish each university in our country have at least one pervasive lab. Technology is no longer for engineers/computer scientists. It is a part of growing culture and since Indonesia has many local cultures. It intrigue me to find out how each local culture coping with new technology.

Oh, well, c’est la vie.

Note:

[*] Now you know the origin of a joke picture of Steve Jobs on iPhone, iPad, and iMat.

Heavy Rotation!
Membuat Tayangan TV Pintar Sendiri

Heavy Rotation!

Masih ingat dahulu ketika saya sedikit mendemonstrasikan bagaimana stalking mencari tahu tentang seseorang, Aelke Mariska? Ih, sangat gampang mencari tahu tentang biografi seseorang. Bahkan, ada informasi yang berlebihan yang bisa diungkapkan dari sebuah situs mengenai seseorang.

Mudah sekali mendapatkan informasi daring tentang seseorang. Apalagi, generasi sekarang banci tampil yang mudah sekali dicari di Facebook. Anda tahu dengan fenomena membiarkan akun tidak ter-logout sehingga diisengi temannya, atau istilah kerennya “kena hack“. Wow, sosial engineering tidak sesulit dahulu. Semoga remaja itu tidak menjadi kepala BIN.

Apakah undang-undang menjamin data pribadi seseorang?

Kembali ke topik….

Saya berlangganan saluran Youtube Pocari Sweat Indonesia (pocarigoion). Dan, akhir-akhir ini saya mendapati saluran berlangganan saya dipenuhi unggahan dari saluran itu. Agak mengganggu, memang, karena saya jadi ketinggalan beberapa saluran langganan saya yang lainnya. Jumlah entri dari saluran Pocari membuat entri-entri saluran lain terkubur. Ada apa gerangan?

Ah, ternyata mereka sedang mengadakan kontes menari “Heavy Rotation” ala JKT48 atau AKB48. Pantas! 🙂

Oke, sepertinya sampai sini saya tidak menyukai apa yang mereka sedang kerjakan. Tapi, sebenarnya saya kesal. Mengapa mereka tidak melakukannya beberapa tahun lalu. Sekarang umur saya sudah 17+ 1 hari selamanya. Rasa-rasanya agak malu ingin berpartisipasi.

Saya bukan otaku, saya tidak mengerti Anime atau pun Idolm@ster. Saya tidak membaca Sankaku atau punya akun di Nico-nico Douga. Asli, saya tidak suka berselancar di PlayAsia. Tetapi, kalau saya boleh nilai, ada beberapa tim yang menjadi favorit saya.

Tim terfavorit dari saya yang paling moe adalah tim Wish. Ya, bukannya karena saya lelaki, tetapi mereka sangat memenuhi kriteria bagus. Salah satu anggotanya ada yang memiliki fang khas anime. Itu, lho, gigi taring yang bulat dan menonjol khas karakter-karakter anime yang moe. Banyak orang Jepang yang bahkan berusaha mengoperasi giginya agar seperti itu.

Tetapi, yang paling khas dari tim Wish  adalah gaya mereka yang berusaha membedakan satu sama lain. Itu memang konsep AKB48/JKT48 sekali. Tim AKB48 itu dibentuk dari orang-orang yang berbeda yang kemampuannya masih belum sempurna. AKB48 seperti sebuah akademi agar masing-masing orang tersebut tumbuh menjadi matang. Mereka dianggap lulus ketika sudah matang dan memiliki karir solo.

Sayangnya, saya kesulitan untuk memilih mereka dari galeri. Galerinya memang bagus, sih, dibuat dengan menggunakan HTML5 dan AJAX. Tapi,  saya sudah secara literal menelusurinya berkali-kali untuk menemukan tim Wish di galeri. Waduh, saya tidak menemukan tim ini! Bagaimana ini, Pocari, ente tidak menyediakan tautan di Youtube untuk mengarah ke entri tim Wish di situs Anda?

Saya bukanlah seorang Otaku yang harus mengorbankan banyak uang untuk memilih mereka. Tapi, menghabiskan waktu untuk mencari entri untuk mendukung sebuah tim di tengah-tengah deadline tugas akhir itu sangat mahal, lho, harganya. Coba itu galeri diperbaiki supaya gampang dicari (tidak mengapa walau saya hanya menggunakan CTRL+F).

Setiap anggota AKB48 berbeda. Mereka memiliki basis penggemar masing-masing. Omong-omong sekarang lagi ada periode pemilihan AKB48 tim A. Seorang penggemar bahkan rela membeli CD hingga US$ 30.000,00 agar bisa memilih 1770 kali untuk memilih salah satu anggota AKB48. Itulah pengorbanan otaku idol supaya mereka bisa berjabat tangan dengan idola mereka. Sadis, ya. Padahal kalau di sini uang segitu sudah bisa jadi mahar + rumah sederhana.

Itu sebabnya, tim favorit saya yang berikutnya adalah tim Team Cosplay OPJ. Mereka mewakili otaku-otaku yang terkenal memiliki postur badan laiknya om-om setengah baya dan badan berisi; berisi lemak jenuh dan tak jenuh ganda. Cocok sekali dan menghibur. Saya suka om-om yang paling gendut yang paling banyak beratraksi. Tim ini sungguh mewakili para lelaki yang ingin ikut tapi malu karena budaya ini masih dianggap hina.

Cheers for them. Ganbatte, Om! 🙂

Ada juga tim lain yang saya pikir sedang cosplay biarawati tetapi ternyata karena mereka semua menggunakan hijab berwarna putih. Itu mereka juga keren. Ada juga orang yang berkostum seperti Jabbawockeez. Sayangnya, mereka menarinya sedikit jadinya tidak saya pilih.  Dan banyak tim lainnya yang saya belum periksa.

Menarik sekali ketika Pocari Sweat membawa sebuah budaya kolaborasi ala komunitas ke Indonesia. Mereka membawa sebuah semangat untuk para pemilik konten asli legowo bila orang-orang lain memakai konten tersebut menjadi ala mereka sendiri (cover song, mashups, guitar lessons). Kalau di Amerika istilah perlindungan hukumnya disebut sebagai Fair Use clause. Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah hukum kita siap seperti itu?

Kita tahu artis-artis Youtube lokal sudah bermunculan seperti Norman, Shinta & Jojo, dan (favorit saya) Gamaliel&Audrey. Tetapi, berapa lama lagi akan muncul gugatan dari penyanyi asli bila suatu saat nanti akan ada artis Youtube baru yang memiliki kemampuan lebih dari artis asli? Iya, dong, itu mungkin saja. Apalagi, artis di Youtube bukan artis karbitan.

Kalau memang pemerintah serius menggarap industri kreatif Indonesia, wahai 2014, bagaimana bila salah satu pokok bahasan di RUU menyangkut fair use? Hal ini supaya kita tidak terjebak dalam dilema selamanya. Jadi, selain infrastruktur Internet yang semakin terjangkau, insentif perlindungan hukum juga menjadi penting.

Bukan cuma stasiun-stasiun TV yang boleh mengambil konten dari Youtube, tetapi sebaliknya orang-orang Youtube juga boleh mengambil cuplikan konten dari stasiun TV untuk mereka buat menjadi racikan acara mereka sendiri.

ADDENDUM: (Tim-tim keren)

  1. Tim BKT48 (Banjir Kanal Timur)
  2. Pocari Boy.
  3. The Dions
  4. CultureMode.
  5. BYL48.
Sekali Lagi Soal Infrastruktur

Sekali Lagi Soal Infrastruktur

Sebuah operator telepon yang telah saya langgan selama hampir 10 tahun menelepon saya. Sang operator bertanya, mengapa saya masih menggunakan sinyal 2G? Dia pun menawarkan saya untuk berpindah ke sinyal 3G.

Singkat cerita, saya lalu ceramahi dia. 🙂

  1. Anda menawarkan 3G tapi tidak menyediakan paket tak terbatas (unlimited). Itu, khan, namanya gak niat! Biaya paket data Anda itu, ‘kan, mahal.
  2. Saya pelanggan lama, tapi paket Unlimited Anda hanya ditawarkan kepada pengguna baru dan sekarang Anda menghentikan paket baru.

Kira-kira itulah intinya dan Beliau menghentikan pembicaraan. Saya, sih, sebenarnya ingin uneg-uneg tentang SMS penawaran yang saya tidak butuhkan. Tapi, ya, sudahlah….

Lalu, seperti biasa saya berusaha untuk obyektif. Hari minggu kemarin saya mencoba untuk mengaktifkan fitur 3G. Pagi ini telepon saya mati. Tampaknya, sinyal 3G tidak stabil dan menyebabkan telepon saya menjadi boros baterai.

Saya juga menemukan berita bahwa SMS antar operator tidak akan gratis lagi mulai bulan Juni. Sekilas kalau saya baca itu, kok, sepertinya kebijakan memihak kepada pengusaha, bukan kepada kepentingan rakyat banyak seperti yang diamanahkan oleh UUD’45.

Mungkin ada yang bisa memberikan alasan yang logis dan mematahkan pandangan skeptis saya?

Saya melihat peluang yang luar biasa dalam OpenBTS. Wow, saya memberikan tepuk tangan kepada para penggiatnya di Indonesia. Terutama Pak Onno yang membela dengan menulis bahwa OpenBTS itu sebenarnya legal.

Buat orang-orang yang tidak mengerti betapa terbelakangnya negara ini, coba Anda keluar dari Jakarta dan pergi ke kota-kota lain. Saya sendiri telah merasakan bagaimana sebuah ibu kota provinsi mendapatkan penjatahan arus listrik (baca: pemadaman bergilir). Apa lagi koneksi Internet dan telepon.

Dari pada biaya investasi operator komersial yang mahal menghalangi investasi, lebih baik dibiarkan sajalah operator nirlaba. Biarkan saja operator komunitas beroperasi memasang kabel data dan jangan dihalang-halangi. Toh, itu amanah dari UUD’45. (Sosialisme bukan romantika para Orang Tua pendiri bangsa kita)

Kalau perlu, lebih baik para operator seluler berembuk dan memutuskan untuk membangun jaringan bersama. Supaya tambalan di jalan yang merusak tidak ada lagi. Supaya kabel-kabel antar operator tidak saling terpacul. Supaya biaya murah dan kita punya peta rancang bangun perkabelan.

Ah, mimpi yang indah. Lirik 2014 dan berharap ada yang baca ini dan menangkap aspirasi ini.

NB: OpenBTS FTW!

Akhirnya Daftar Juga

Akhirnya Daftar Juga

Akhirnya saya mendaftar ke sebuah forum yang baru berganti domain. Hal ini karena protes pribadi saya telah selesai. Memang protes yang sepertinya tidak berguna. Tidak ada yang dipengaruhi dan tidak pernah cerita di publik. Tapi, ini hak saya, toh, sebagai bentuk kepedulian saya terhadap domain negeri ini.

Mengapa saya protes tak mau daftar?

Dulu sewaktu zaman ccTLD, saya mendapatkan cerita dari Mbah Internet betapa bangganya Indonesia mendapatkan domain berakhiran ID. Kita Indonesia termasuk pengguna awal Internet. Beberapa universitas di Indonesia (termasuk UI) mendapatkan 1 blok IP. Bahkan, UI mendapatkan satu blok IP kelas B! Satu blok kelas B /16 itu sesuatu banget, deh….

Yah, sekarang zaman sudah berubah, ccTLD sepertinya sudah ditinggalkan karena gTLD. Makanya, saya tidak mempermasalahkan orang tidak begitu paham akan arti “.id” itu. Tapi, bagi saya adalah sebuah ironi bila sebuah forum Indonesia berdomain negara lain. Itu sebabnya, saya tidak pernah mendaftar dan hanya sesekali menengok forum itu.

Di satu sisi, saya juga bingung dengan pendaftaran domain yang hanya bisa menggunakan peramban tertentu. Selain itu, pendaftaran domain juga lebih rumit harus menyertakan identitas yang lengkap. Semua diberi akhiran “.web.id” sehingga orang tidak bisa bermain dengan nama domain. Ah, mungkin memang kebijakan mereka dan saya menghargai saja.

Yak, sekarang sudah mendaftar, apakah sudah bisa trolling? 😛


NB: .com itu arti commercial, jangan asal pakai untuk sekolah dan NGO. 🙂

My Personal Note About Secure Boot and Why It Makes UEFI Looks Evil (While It Isn’t)

My Personal Note About Secure Boot and Why It Makes UEFI Looks Evil (While It Isn’t)

A friend of mine posted a trolling rant about not using GNU/Linux because it rejects UEFI secure boot. This post making me not able to sleep. So, here I am to write this down my own personal note. I hope I could get to sleep after this.

First of all, the whole UEFI is great. In my late experience with EFI shows that it was the answer for new standard in booting up systems. Curently we still have the BIOS style partitioning or we could say, the Master Boot Record. MBR originally supports four partition only. But, the partition can be lengthened by using a partition called Extended Partition which could held another partition inside of it.

Nowadays harddisk becomes cheap and MBR becoming less interesting. It only supports 2 TB at most. Then, how about our SAS storage with hundreds of TB (almost Pita). Then, came GPT partition scheme which became a part of (U)EFI specification. The interesting thing about (U)EFI is that you must spare a FAT32 partition on the begining of disk containing binaries (firmwares) that needed to boot the system.

We used to be using bootloader that resides on the special part of MBR. It might be GRUB, BURG, LILO, syslinux, etc. But, because of the advent of (U)EFI, all became unnecessary. MBR is no longer there. Luckily, GRUB 2 tries to emulate that by making its own EFI-compatible binary that would bootstrap to its GRUB system. This binary/firmware copied into the special partition FAT32, into the special EFI directory.

Because of that, in my experience of XServe 3.1 machine, I could install new OS on that machine without having a “bless” or any third-party bootstrapping. All I need to do is just put my GRUB firmware there and it boots fine. Well, the hardware did have a long delay. I guess it tried to search all disks that could have EFI partition.

Now, this isn’t even what I want to talk about. It’s just that I want to emphasis that UEFI as a whole is not a bad thing. Not until suddenly Microsoft propose “secure boot” into it.

Selling Dead Donkey

I put that mark there because there isn’t any security about it but a false sense one. I might say it was like selling a dead donkey. It’s an old story about a man sought to buy a dead donkey from a farmer. He then made tickets to sell for people with that donkey as the reward. Long story short, the tickets were sold and there was a winner. The winner then complained about the dead donkey when the person sought the prize. He then apologized and refunded the ticket he sold to the winner with compensation. More explanation in Google.

There is nothing secure about mandating a key put on commodity hardwares. It will eventually leaked like DRM.

Consider this all parts come from China. Btw, I’m talking about how easy to emulate parts when hardwares nowadays are using generic spare parts. Not any other meaning. With some low-level programming on commodity hardware, one can extract the keys. Hackers love the challanges and Crackers making advantage from their discoveries.

In the end you must made at least one of these two choices.

First, you could make a back door to update the keys. A back door on a public specification? I know I don’t need to explain this why this would not work. Big companies may making secret ingridients that made the specification not U anymore.

Second, you would ditch the a generation of hardwares that comes with the compromized key. Can you do that to your enterprise customer? Meh, you might pretend and hide any CVE related to that. Or, is that already a part of business? ;-(

Making Admins Having More “Free Time”

Then comes the part where I have a problem with this secure boot: It takes extra time to configure UEFI board because of the burden in my work of field. I mean which dude/miss sysadmin that don’t create customized system and deploy it on many machines on an advance data center? We all have our own recipees.

I know what I do when a server arrives. I delete the original and customize the inside with my own OS and configuration. I would install it with preconfigured services that I know and with only known ports open. Well, at least at initial launch we audited the ports. Hahaha… (just saying that so I would not felt like a snotty brat bragging)

How is it possible to do it with every system locked with keys? I have to disable secure boot one machine at a time. Well, if it was a maintainance mode, I may have one or two machines. But, what if it was a time when we refresh the whole system?

A friend told us that in his place, he let the vendor managed all. His organization bought a solution which came with supports. A great story how he can have a couple hours of free support in a week. Unfortunately, he was from State and here I am on a third world country with… (I want to say it, but not polite)

When people in State protesting about their rights, they know what they said. And their laws protect their interest.  But, when it comes to a third world country like mine, we only sighted and hoping to get something like a post from a blog or forum. Support is not a viable option here. Once you bought a product, you’re on your own.

Or, is there any hidden support?

A Problem With Third World Country

Like ST12, I buy Windows XP and install it on an new empty laptop to tell how sucks it is (not really compared to Vista). Later, I was found out that my legal OS is “illegal”. At that time, my perceived word of “OEM” means it would install on blank windows. Why was it was sold at the first place? Or, is it a part of offer that I didn’t knew that the seller was selling it to me instead offering me as an upgrade option?

Imagine if secure boot was implemented on commodity hardwares sold in our country like peanuts. People would not know what’s happens. The hardware suddenly couldn’t install older operating system and its competing. Then, they would complained. Realize about that, the seller at Mangga Dua tried to help by disable the secure boot and we all live happily ever after. Well, not really, why should I pay more for the feature that I would not use and hinder me? I feel like helping to flourish secure boot while not using it.

Many would fall victim more of it if Windows 8 still mandating that secure boot is active and could not be disabled. Meaning, every future commodity hardware would have secure boot defaulted.

We can’t like our friends in Europe that can push away monopolies and have an option. We can’t be like our friends in State where they can poke Customer Support easily. In those countries people choose FOSS because they prefer it and personally know the value of it. We can only have anything that thrown at us.

This isn’t fair and against humanity. Our digital divide would be increasingly far.

In my country, people still have GNU/Linux because it is a gratis software, not as a creative tool for customizing solution. We aren’t at that stage yet but we are trying to. And this is why secure boot would add another barrier in order us to grow.

Some folks said that many GNU/Linux vendors could put their keys on the hardwares as a part of UEFI. Some big vendors like Red Hat, Novell, Canonical, etc. could easily defend their products. But, what about Blankon? Who would sponsor Blankon to put the keys into the UEFI board once it is on commodity hardware?

Again, it would be a new obstacle that FOSS community in my country to tackle. We might get through with it. With casualties and so on. And then, a big company add an extra layer to current secure boot (and call it “enhanced”). Then, we could only limited to a few hardwares.

Can we protest it? Can we have a support to guide the convert? In my country support is bromance. None exists. Even if there is one, it would be non-official. Of course, there is a viable pirated version of OS.

This really saddened me. I can buy original softwares; in fact, I have MSDN AA privilege. But, not that many people have the same opportunity. I thought FOSS could provide a competing solution that viable for people. People would not forced to break the law anymore, at least not from my field (IT). That’s why I chose to use FOSS in the first place.

All In All

This is getting soap drama. But, sadly that’s the reason why secure boot is evil. Not only it gives a false sense of security, it also pose a social problem to third world country, at least my country.

I know that secure boot isn’t enforced, but this is my note for you who thinks that secure boots is OK. It isn’t.

Logika BBM

Logika BBM

Katanya hari ini ada demo menggugat kenaikan BBM. Saya baca di koran katanya DPR menawarkan untuk 122 trilyun rupiah untuk subsidi supaya bensin tidak naik. Saya gatal mengomentarinya karena saya tidak mengerti mengapa kita harus memrotes kenaikan BBM tersebut?

Penyebab kenaikan BBM:

  1. Konsumsi BBM meningkat dari perkiraan 40.000.000.000 Liter menjadi 47.800.000.000 Liter (sengaja menyertakan jumlah nol biar bisa melihat bahwa peningkatan luar biasa). (Sumber. Tempo.co Bisnis.)
  2. Harga Minyak Dunia meningkat dari perkiraan 90-95 US$/barel menjadi 122 US$/barel dan kemungkinan akan menjadi 128 US$/barrel pada bulan Maret (Sumber: maesaroh, ICP Melambung Tembus USD 128/Barel, Seputar Indonesia, Ekonomi & Bisnis, p.17, edisi 27 Maret 2012)

Terakhir saya periksa, 1 US$ = Rp 9200,00 dan Indonesia telah lama keluar dari OPEC karena sudah resmi sebagai negara net importir. Artinya, jumlah minyak yang dibeli Indonesia jauh lebih banyak dari jumlah yang diekspor. Artinya, ada penambahan beban APBN yang luar biasa dari meningkatnya konsumsi minyak. Kalikan jumlah uangnya dan koversikan ke dalam rupiah. Berapa itu? (Tambahkan dengan indeks korupsi negara kita dan tingkat inefisiensi distribusi BBM untuk mendapatkan efek nyata)

Itu sebabnya, saya tidak habis pikir, memangnya berapa pemasukan negara kita sehingga kita mampu memsubsidi Rp 178.000.000.000.000,00 (sengaja memperpanjang triliun) untuk konsumsi BBM saja? Saya coba lihat dari sisi lain. Kata oposisi, subsidi bahan bakar hanya 8,7% dari total anggaran. Itu masih jumlah yang kecil bila dibandingkan belanja birokrasi yang sampai 50% lebih.

Waduh, bingung saya…. Apalagi ini sudah mau 2014, masing-masing partai berusaha merebut hati rakyat. Dari partai pemerintah yang pernah mengklaim harga minyak diturunkan 3 kali (tapi ongkos angkutan umum tetap tidak turun) sampai partai oposisi yang ingin membuktikan kalau mereka pun bisa membuat perubahan.

Sebenarnya, kalau mau berlogika sedikit, kita perlu mempertanyakan: “mengapa rakyat ribut ketika subsidi BBM naik?”

Kalau saya lihat dari kehidupan di Jakarta, kebanyakan standar hidup kaum menengah menetapkan bahwa kepemilikan mobil atau motor adalah sebuah pencapaian hidup. Alasan logis yang paling saya dengar adalah:

  1. karena angkutan umum di Jakarta tidak memadai; dan
  2. sulit untuk mobilisasi bila menggunakan angkutan umum karena terkadang daerah tujuan tidak dijangkau oleh angkot.

Saya sendiri sebagai orang Jakarta merasakannya. Saya lebih memilih untuk menaiki taksi. Alasannya sederhana:

  1. banyak orang sembarangan merokok di kendaraan umum padahal sebagai seorang yang pernah operasi paru-paru saya tidak bisa menghirup udara rokok;
  2. total mencapai sebuah tujuan dengan naik angkot hampir sama dengan naik taksi; bahkan, bisa jauh lebih murah bila ada lebih dari satu orang; [asumsi Anda seperti saya, yang harus menaiki lebih dari dua angkot]
  3. angkutan di Jakarta kalau macet tersendat, tapi kalau jalan lancar ngetem menunggu penumpang; ujung-ujungnya telat.

Tentu, alasan pertama tidak semua orang perlu. Tapi, saya rasa dua alasan setelahnya merupakan faktor utama orang lebih memilih kredit motor atau mobil. Apalagi, kalau kita mau cek, jumlah bus Trans Jakarta sering kali tidak memadai.

Duh, keputusan untuk menggunakan kendaraan umum pun bergeming ketika orang-orang terdekat mempertanyakan keputusan saya untuk menggunakan kendaraan umum. Alasan karena untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global, sebagai solusi kemacetan, dan sebagai salah satu penyumbang indeks pengguna angkutan kendaraan umum sehingga terlihat signifikan; cukup signifikan sehingga pemerintah tidak bisa  mengabaikan untuk memperbaiki angkutan umum; sebagai bentuk solidaritas kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu pun dengan mudah dipentalkan mereka. Alasan yang paling penting, “nanti kasihan anak istri kamu kalau mau ke mana-mana…”

Pertanyaan Yang Ditukar Session 7

Episode Finale

Kemudian saya menatap ke arah kamera. Sambil memain-mainkan mata dan alis tiba-tiba terdengar monolog dari batin,

“loh, bukannya sebenarnya masalah utama kita adalah ketersediaan transportasi umum?” [SFX: crash drum 12x]

Kemudian saya membatin, “sudah bertahun-tahun masalah transportasi umum yang tidak pernah efisien menjadi penyakit Indonesia.”

[SFX: high tension, orchestral hit]

“Bukankah negara ini negara sosial? Mengapa memberikan kepada swasta kalau terbukti swasta tidak pernah efisien? Lihat saja, sampai bangku kasir jalan tol dibuang menteri. Mengapa tidak ada audit obyektif tentang penyelenggara swasta?”

[Jeda Iklan]

“Ah, bukankah kita punya UU Keterbukaan Informasi Publik? Mengapa tak ada LSM yang memanfaatkannya untuk mempublikasikan borok-borok (jika ada) birokrasi. Mengapa pemerintah tidak membuat saja lembaga transportasi publik yang transparan mengacu UU tersebut? Bukankah kita negara sosialis berdasarkan UUD?”

[Tiba-tiba ada dua cewek cantik penjual duren berkelahi dengan cewek jaipongan berkelahi karena berebut nafkah. Dan kamera menyorot perkelahian itu selama beberapa menit sebelum dilerai produser yang secara tak sengaja masuk, kemudian kembali ke saya]

“Ah, aku pusing. Coba para pejabat publik itu juga diharuskan menaiki angkutan umum, eat their own dog food. Aduh, ingin rasanya memblokir Raider yang menyosor masuk sebagai bentuk protes. Mereka katanya pelayan masyarakat, berarti secara kasta mereka di bawah aku. Seharusnya mereka yang mengalah sama aku, dong. Aku….”

[NB: skrip sebenarnya menuliskan bahwa saya harus mengulang bagian UUD 1945, tetapi produser melarang karena mengurangi slot iklan.]

[Jeda Iklan]

Lalu saya mengangkat kepala dan melotot ke arah kamera,

“Astaga! Mengapa tidak ada protes besar-besaran untuk perbaikan transportasi umum?” [SFX: high tension orchestral hit]

Bersambung ke Session 8.

Sinopsis Session 8

Saya akhirnya memutuskan untuk membuka kembali Ars Technica, Phoronix, Planet Debian, Planet Ubuntu, Planet GNOME, dan 9GAG. Lalu saya membuka Yakuake dan kembali melakukan “mkdir bangun && cd bangun && ccmake.. && make -j3 && sudo make install”.

Lalu, saya menatap postingan-postingan di Na9a, 1cuk, dan twit teman-teman soal BBM yang membuat saya menulis entri ini.

Akankah saya menggulung ke bawah untuk melihat postingan non BBM?

Jawabannya hanya ada di Session 8.

Berita Apa Lagi Ini

Berita Apa Lagi Ini

Dunia tidak lagi seperti dulu. Berikut catatan hal-hal yang saya dapati.

Dunia Perangkat Rumah Tangga

Tahun lalu Mark Shuttleworth mengumumkan mimpinya untuk Ubuntu masuk ke dunia perangkat-perangkat bergerak. Pertama-tama Ubuntu masuk ke dalam dunia TV pintar. Kemudian, sekarang secara terbuka menyatakan masuk ke dalam dunia Android.

Hal ini mungkin saja. Bagi yang sering memodifikasi telepon genggam tentunya sudah lumrah pernah menggunakan kernel Linux Ubuntu. Telepon genggam Z71 saya (Nexian Journey) pun sudah didukung dengan sedikit modifikasi. Bahkan, lebih awet menggunakan itu dibandingkan bawaan CyanogenMod (CM7). Ada juga tutorial dari tahun kemarin memasang Ubuntu Karmic di telepon genggam.

Bagaimana dengan BlankOn?

Kayaknya semenjak bertemu dengan pengembang Debian yang datang ke Jakarta tahun kemarin, BlankOn juga semakin mantap untuk membuat BlankOn edisi ARM. Saya kebetulan bukan pengembang BlankOn, tapi rasa-rasanya mereka sudah mencanangkan hal tersebut untuk di versi 8. Mereka sepertinya juga pindah basis ke Debian. Ini langkah yang benar, sebab Debian menghasilkan paket yang sedikit dibandingkan dengan Ubuntu.

Paling, kalau memang benar BlankOn mau ke ARM, saya punya permintaan agar dua paket ini dipastikan berjalan:

  1. libpcsc-lite
  2. fprintd

Nanti kalau dua itu jalan, saya, mudah-mudah tapi tolong diingatkan, akan membuat tutorial menjalankan solusi keamanan berbasiskan kartu pintar dan sidik jari. Lumayan, siapa tahu ada yang berminat masuk ke dalam dunia solusi keamanan atau pembayaran mikro. Ha… ha… ha….

Hak Ekslusif Atas Adobe Flash Linux

Setelah dibuat menyerah kalah oleh alm. Steve Jobs, akhirnya Adobe memutuskan untuk tidak lagi mengejar pasar perangkat kecil. Satu lagi langkah yang mereka lakukan: setelah versi 11.2, Adobe Flash hanya akan tersedia di Google Chrome untuk Linux saja. Jadi, lagi-lagi GNU/Linux akan menjadi warga kelas dua bagi Flash.

Menurut saya, ini, sih, kabar yang menyenangkan. Daripada menulis buku-buku tentang Adobe, lebih baik menulis buku HTML5. Lumayan, mengurangi angka pembajakan di Indonesia.

Frankenstein System

Now I have a frankeinstein system, consisting of non-complete GNOME Shell. I wish to integrate these:

  1. WICD
  2. Pidgin
  3. Thunderbird
  4. Firefox

Those are the things that runs well on Ubuntu 12.04 (pre-release) when using behind proxy. That’s right, why GNOME makes it lesser and lesser compatible with proxy users? We, a.k.a academics and corporates, are getting left behind.

What? No WPAD support? ;(

Kok Tega Ya

Kok Tega Ya

Saya menghindari entri politik. Tapi, saya merasa kecewa dengan adanya pejabat yang menyatakan ketidaksukaannya secara publik dengan langkah Walikota Surakarta, Joko Widodo. Walikota tersebut menyatakan penghargaannya kepada mobil Esemka dengan menjadikan mobil tersebut sebagai mobil dinas.

Kalau memang tidak ada yang baik hendak dibicarakan, hendaknya pejabat publik diam saja. Malah, seharusnya salut kepada Walikota Surakarta yang mengapresiasi karya anak bangsa dengan menggunakan produk itu sebagai karya spektakuler. Apalagi, ini karya yang memberdayakan anak SMK. Bisa membuka peluang kerja bagi orang-0rang yang mungkin tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.

Janganlah menuduh sesama pejabat publik sebagai cari muka. Banyak, kok, yang tahu siapa Joko Widodo. Dia satu-satunya pemimpin daerah yang memindahkan pedagang kaki lima secara manusiawi dan bermartabat. Tidak seperti yang lain yang hanya bisa menggunakan Satpol PP dan alat berat. Bahkan, Beliau termasuk 10 Pemimpin Daerah yang berprestasi tahun 2008 versi Tempo.

Mungkin, mobil Esemka hanya merupakan produk inferior dibandingkan produk-produk mobil asing. Tetapi, Jepang berdiri kokoh sekarang bukan karena industrinya maju. Mereka pernah ada masa yang alat-alat elektroniknya inferior. Bahkan, sampai ada sentilan sebuah acara TV yang lama. Di acara tersebut sang pemain film membentak dan memukul-mukul TV Jepang supaya mau menyala bagus. Tetapi, mereka mau membeli dan mendukung industri dalam negeri. Produsen pun menjawab dengan menaikkan kualitas. Jadilah mereka salah satu produsen elektronik dunia.

Saya tidak tahu kualitas mobil Esemka dan saya mungkin belum tentu setuju dengan produksi mobil tersebut. Tetapi, apabila ada anak bangsa yang berprestasi bisa membuat mobil dan terutama lapangan pekerjaan, mengapa harus dijelek-jelekkan?

Saya belum tentu bisa beli, tetapi sebagai salah satu orang Indonesia saya bilang: Selamat kepada Kiat Motor yang membuat Esemka. Cahyo!