Category Archives

176 Articles
The Year of Trial (3)

The Year of Trial (3)

Year 2010 is also a trial for free software proponents  in Free/Open Source Software (FOSS). This addressed specifically by the bold moves made by Canonical in decision to put their popular distro, Ubuntu. Many would insult Mark and friends as being taking the fruit and making them as theirs. What significant codes do Canonical done that they were proclaiming themselves a great contributor of FOSS? Many felt enraged by the popularity of Ubuntu and the way people talking about GNU/Linux system as Ubuntu.

What I love to remember is how Mark talked about his commitment on Ubuntu. Years ago, after he sold Thawte and take a space tourism, he built Canonical and brought Ubuntu to live. When he flew to Jakarta, he said a statement about Ubuntu business model:

The software is free, but the service is ours.

What does that mean to be free? Is it a free of charge? I believe he may talked about free as in freedom, not free beer. That means, Ubuntu will always be a distro for free software. That’s why, like other seasoned GNU/Linux users, I got a little bit weary about all Canonical decisions in 2010. The way Ubuntu now is making it more and more like Mac and Steve Jobs. It have directions where people will only have flavour of Ubuntu. That is so wrong. The free software should always be a free choice,  a freedom exercised by creating systems you like and not bounded to one option.

Let me tell some background stories.

I think this is the conception of what I and others may get wrong. The catchphrase of Ubuntu is “Linux for human being.” and seasoned GNU/Linux are not human beings, they are immortals, i.e. gods. 😛

Seriously, what blocking GNU/Linux from being adapted with general people is the stigma around it. Its main feature, the freedom itself, is actually scaring people away. Common people would never really care about X stacks, kernel versions, or even patches. They just need a computer that Just Works. Furthermore, many hostile personality of engineers that would look down upon rookies scared these commoners. (Remember the RTFM?)

This man, Mark Shuttleworth, is making a stage where he sought that these free softwares should be taking down to earth. And I see that’s why I think Canonical contributed something very important for free software movement: Code of Conducts.

This invaluable contribution made the development of free software as a whole drawn with better tone towards new users. That’s why, we see communities growing steadily and people getting used with the free software ideas. Many community-based revolutions are happening in Ubuntu and implemented into other distro as well. For example: Install Fest, Ubuntu-tan, LoCo, etc.

Fast forward to the current time.

2010 is the year where Canonical get high criticism about its bold move on making the Ubuntu non-free software repository.

Mengilik MPlayer

Mengilik MPlayer

Dewasa ini media pemutar film sudah mampu menyediakan film dengan detail tinggi/definisi tinggi. Hal ini diikuti dengan monitor yang sudah menyediakan rasio aspek 16:9 (layar lebar). Bandingkan dengan monitor-monitor lama yang menggunakan rasio 4:3. Teknologi media penyimpanan juga telah berkembang untuk dapat menyimpan film dengan detail tinggi. Teknologi seperti Blue Ray dan HD-DVD berlomba untuk dapat menyimpan berkas-berkas tersebut.

Sayangnya, pemutar berkas dengan detail tinggi masih mahal dan belum terjangkau. Hal ini sangat disayangkan karena monitor berdefinisi tinggi sudah banyak terdapat di pasaran. Untungnya, di GNU/Linux sudah berkembang pemutar video yang dapat memainkan berkas-berkas film berdefinisi tinggi. Sehingga, terbuka kemungkinan untuk menciptakan solusi teater rumah yang terjangkau, yakni cukup dengan menggunakan komputer pribadi sendiri.

Seberapa jauhkah kemampuan komputer saat ini dapat memainkan film-film dengan format tersebut? Apakah GNU/Linux mampu memainkannya dengan baik? Penulis berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan mencoba memainkan berkas-berkas tersebut menggunakan MPlayer, sebuah pemutar media di GNU/Linux.

Cara Memainkan

$ mplayer SEBUAH_PELEM_6Channel_1920x1080_Blu-ray_FLAC.mkv -vo vdpau -cache 8192 -ao oss -channels 6 -af hrtf -ass -embeddedfonts

Keterangan

-vo vdpauMenyuruh MPlayer menggunakan VDPAU, sebuah driver khusus GNU/Linux untuk kartu grafik nVIDIA. VDPAU memroses gambar langsung di kartu grafik.
-cache 8192Berkas film ada di komputer orang, saya mengaksesnya menggunakan SAMBA. Agar tidak patah-patah, perlu disimpan di tembolok sebelum memainkan aliran berkas tersebut. Sejujurnya, ini pun masih patah-patah dan terhenti di jalan (sepertinya sang empunya PC memutuskan koneksi ke jaringan…)
-ao ossSaya menggunakan OSS4.
-channels 6 -af hrtfBerkas tersebut menyediakan format FLAC dengan 6 kanal. Saya menurunkan (downmix) menjadi 2 kanal dengan menggunakan HRTF. HRTF adalah algoritma yang dibuat oleh MIT yang dioptimasi agar 6 kanal dapat diturunkan menjadi 2 kanal sehingga dapat dinikmati menggunakan headphone.
-ass -embedded-fontsMemberi tahu MPlayer untuk memperlakukan teks penerjemah (subtitle) berformat ASS dan menggunakan huruf yang tersedia di dalam berkas MKV tersebut.

Kesimpulan

Hasil memainkan berkas cukup menjanjikan. Awalnya ketika di lagu pembuka, MPlayer berjalan mulus. Beberapa saat setelah mulai animasi mulai patah-patah dan diikuti dengan film terputus di tengah jalan. Saran penulis untuk mengatasi masalah tersebut dengan beberapa langkah:

  1. Meminta maaf kepada pemilik PC dan meminta izin dahulu kepada pemilik PC.
  2. Menyalin terlebih dahulu berkas film tersebut ke komputer sendiri. Tetapi, perlu diingat bahwa film Blue Ray berukuran besar.

Demikian.

Memasang LibreOffice Dari Kambing (Ubuntu Maverick)

Memasang LibreOffice Dari Kambing (Ubuntu Maverick)

LibreOffice!

Setelah KAMBING.ui.ac.id telah mencerminkan The Document Foundation, maka kita sudah bisa mengunduh secara lokal LibreOffice. Sekarang, saatnya kita memasang LibreOffice dari KAMBING.ui.ac.id ke komputer kita. Laptop saya menggunakan Ubuntu Maverick, tetapi pada dasarnya tutorial ini bisa dipakai oleh Ubuntu versi lainnya maupun Debian. Hal ini karena LibreOffice versi TDF menyertakan pustakanya secara statik. Mari kita mulai.

Langkah 1: Musnahkan OpenOffice.org dari muka bumi.

$ sudo apt-get remove --purge openoffice* 

Saya menggunakan dpkg, tetapi Anda bisa menggunakan Synaptic atau manajer paket GUI favorit Anda.

Langkah 2: Unduh LibreOffice dari KAMBING.ui.ac.id

 $ wget http://kambing.ui.ac.id/tdf/libreoffice/testing/3.3.0-beta2/deb/x86_64/LibO_3.3.0_beta2_Linux_x86-64_install-deb_en-US.tar.gz 

Saya menggunakan WGET, tetapi Anda bisa menggunakan peramban favorit Anda untuk mengunduh berkas ini. Kebetulan, saat artikel ini diketik, versi terbaru adalah 3.3.0-beta2. Silakan unduh versi yang lebih baru jika ada.

Langkah 3: Buka berkas

.tar.gz

yang telah diunduh tadi

$ tar xfvz LibO_3.3.0_beta2_Linux_x86-64_install-deb_en-US.tar.gz 

Sedikit catatan, di video terlampir berkas tersebut disimpan dengan menambah ekstensi

.1

. Saya lupa kalau saya sudah pernah mengunduhnya. WGET secara otomatis menambah ekstensi tersebut bila berkas yang diunduh sudah ada.

Langkah 4: Pasang LibreOffice sekarang!

$ sudo dpkg -i en-US/DEBS/*

Lupakan saja bila ada sedikit peringatan tentang dpkg gagal memasang direktorin

en-US/DEBS/desktop-integration

. Inti dari perintah ini adalah memasang semua berkas yang ada di direktori

en-US/DEBS/

. Kebetulan, isi direktori tersebut semuanya berkas

.deb

.

Langkah 5: Pasang paket integrasi desktop

$ sudo dpkg -i en-US/DEBS/desktop-integration/libreoffice3.3-debian-menus_3.3-1_all.deb

Integrasi desktop ini opsional, tidak perlu dipasang juga tidak apa. Dia menyediakan aplikasi quickstarter, aplikasi yang ada di baki sistem.

Langkah 6: MAKAN2x ™

Kebetulan saya lagi coba-coba

KDENLive

(makanya artikel ini lama dibuat) dan

recordmydesktop

. Saya berusaha mengaburkan bagian pojok kanan atas notifikasi saya. Maklum, ada nama-nama orang di notifikasi tersebut. Ini saya sisipkan juga video screencast yang saya buat:

Selamat menikmati!

May the source be with you

PERHATIAN! Saya menggunakan arsitektur 64bit. Silakan menggunakan arsitektur i386 untuk komputer 32 bit. Maaf, saya khilaf 😛

Perkakas Dalam Maverick

Perkakas Dalam Maverick

Dalam menjadikan komputer Ubuntu saya sebagai sebuah komputasi menyenangkan (fun computing), saya memasang banyak aplikasi. Semuanya menarik paradigmanya dan seru. Secara pribadi, saya boleh bilang KDE 4 adalah ujung dari penantian. Tetapi, akhir-akhir ini saya menyalakan kembali partisi Ubuntu saya (yang secara baku menggunakan GNOME). Saya jera melihat aplikasi di KDE 4 (Kopete) tidak mendukung proksi. Sambil menunggu proyek KDE Empathy menghasilkan sesuatu, saya pindah.

Berhubung saya pemain veteran, maka saya kurang familiar dengan aplikasi-aplikasi yang baru di GNOME. Tetapi, beberapa hal yang saya mau bagikan dalam memenuhi kebutuhan saya.

Musik

Untuk mendengarkan musik, saya menggunakan Audacious, salah satu pewaris takhta XMMS.

$ sudo apt-get install audacious

Saya tidak suka Rhythmbox dan sejenisnya. Aplikasi musik seharusnya tidak didisain untuk berat. Kita menggunakan musik di latar dan bekerja yang lain. Tidak perlu ada basisdata yang berjalan. Cukup konsentrasikan kepada tujuan aplikasi tersebut: mendengarkan musik!

Berhubung musik saya berasal dari CD, kualitas musik saya sudah cukup. Tetapi, terkadang dengan menggunakan berbagai keluaran suara, maka ada baiknya melakukan penyesuaian. Misalnya, untuk earphone PX-100, Bass (frekuensi 60Hz dan 125Hzjustru perlu dikurangi. Lalu, saya menggunakan plugin Crystality. Untuk HD-280Pro, justru semuanya dibuat level normal saja. Untuk mendapat efek Bass yang kaya, cukup naikkan frekuensi 60Hz dan 125hz. Saya juga biasanya mengurangi frekuensi tengah, 4kHz dan sekitarnya. Lalu, untuk sistem suara di rumah, cukup kecilkan suaranya agar tidak mengganggu tetangga dan penghuni rumah lainnya, he… he… he….

Oh, ya, bagi Anda yang ingin kualitas akustik dan Anda seorang audiophile akut, silakan ikuti tautan ini untuk memasang FreeVerb3. Yang pasti, saya belum mau memasang itu kembali.

Untuk mengambil dari CD, saya menggunakan sound-juicer.

$ sudo apt-get install sound-juicer

Sound-juicer ini mengambil lagu dengan cepat serta terhubung MusicBrainz dan CDDB. Format yang saya biasa gunakan adalah Ogg dan FLAC. Untuk CD dari penyanyi yang sedang saya teliti, saya pakai Ogg. Untuk penyanyi favorit, saya menggunakan FLAC. Ini memang karena alasan idealisme pendukung Perangkat Lunak Bebas dan didukung juga dengan telepon genggam yang ternyata bisa memainkan kedua format tersebut.

Akhir-akhir ini saya sentimen kepada hukum hak salin (copyright) terutama DMCA di Amerika. Undang-undang ini makin lama digunakan oleh patent troll dan status quo untuk justru membatasi kreasi baru. Maka, saya mencoba memberontak terhadap paten-paten tersebut dengan menggunakan paten tersebut. Hei, kita bukan di Amerika. Kita seperti Eropa, algoritma tidak dipatenkan!

Satu album coba saya ambil dan menyimpan dengan format AAC. Menurut saya, AAC format yang paling baik daripada MP3: berkas berukuran kecil dan frekuensi dinamisnya membuat kapasitas bit kecil memiliki kualitas mirip suara CD.

Namun, ternyata Audacious tidak bisa membaca penanda (tag) penyanyi di lagu tersebut. Selidik punya selidik, ternyata memang sound-juicer sepertinya tidak menyimpan penanda tersebut. Entah mengapa, Audacious tidak bisa menyunting berkas dengan format AAC. Maka, saya memasang sebuah perkakas penanda: easyTAG.

$ sudo apt-get install easytag-aac

Lihat ada sufiks “-aac”.

Dan Lain-lain (mood menulis menurun)

Untuk yang lainnya:

  • Window manager: gnome-shell
  • Surel: Evolution
  • Percakapan: Pidgin
  • Menonton: mplayer dan VLC.
  • Peramban: Firefox 3.6
  • Perambah direktori: Nautilus Elementary.
Installing MegaCLI in Debian-based System

Installing MegaCLI in Debian-based System

What is this

MegaCLI is a command line tool to manage LSI’s MegaRAID controller. With this tool we can do things without rebooting our system. We use it for MegaRAID SCSI, MegaRAID SAS, etc.

Prerequisite

Don’t forget to install

rpm, cpio, and unzip.

To make it simple, I install these:

$ sudo apt-get install alien unzip
alien

is a utility that converts RPM to DEB. We don’t use it, but it pull bunch of tools needed for us later. We can just purge it and uninstall it after finish.

Installing

  1. Download the MegaCLI tool from LSI website.
  2. Unzip MegaCli-8.00.29-1.i386.rpm from the zip file.
  3. Install sysfsutils:
    $ sudo apt-get install sysfsutils
  4. Extract MegaCLI from the RPM:
    $ rpm2cpio MegaCli-2.00.15-1.i386.rpm | cpio -idmv
  5. Put in the /opt: $ sudo mv opt/MegaRAID /opt
  6. Done.

We will have MegaCli64 and MegaCli applications. If you see the zip file, it contains another file: Lib_Utils-1.00-08.noarch.rpm. This file contains binaries of sysfsutils version 2.0.2 and source code version 2.2.0. For security and convinient, I stick with the binary distribution from Debian/Ubuntu.

Maverick Experience Report 2

Maverick Experience Report 2

Setelah menggunakan Maverick, saya menyadari keunggulan yang luar biasa:

Daya irit!

Dari kemarin, saya bisa mengikuti kuliah, baterai saya tidak pernah sampai merah. Tadi, saya mengikuti salah satu kuliah, baterai saya 100% (terisi penuh pada jam satu siang, 13.07 WIB), lalu selesai kuliah pada jam tiga kurang (sekitar 14.47 WIB) baterai saya masih ada 72%.

Lalu, kembali bekerja di kantor dengan kondisi memainkan lagu Kamen Rider dan Sailormoon Bahasa Indonesia berulang-ulang dan memodifikasi dokumen-dokumen OpenOffice dan melihat PDF, baru mulai mengisi pada sekitar jam 5an.

Terus terang, dari kemarin saya tidak pernah mematikan laptop. Hanya menutup laptop, mencabut baterai ketika di kantor dan memasangnya kembali ketika keluar ruangan. Oh, saya pernah mematikan secara tidak sengaja, lalu segera menyalakannya kembali.

Peringatan [menurut Code of Conduct wajib :P]: Maverick belum dirilis, maka sebaiknya jangan pasang dahulu. Silakan gunakan versi stabil Ubuntu.

Spesifikasi Laptop: Lenovo Y410 dibeli 5 tahun lalu. Ubuntu: Maverick Meerkat 10.10, Unity (Netbook edition)

Komunitas dan Kebebasan

Komunitas dan Kebebasan

Sebuah entri oleh [WILM] memberikan sebuah informasi tentang permasalahan mengenai tim Ubuntu Artwork yang merasa tersisihkan karena tidak lagi diikutkan pada Maverick dan Lucid. Kalau saya boleh rangkum, Canonical merasa bahwa milis Ubuntu Artwork tidak lagi memberikan diskusi yang baik dalam memberi masukan. Sehingga, mereka mulai mengambil sebuah jalan cepat, menyewa profesional untuk membuat huruf dan disain.

Menurut saya, Hardy Heron adalah sebuah gambar latar yang paling hebat yang pernah diciptakan untuk komunitas perangkat lunak bebas. Gambar burung heron itu tersedia dalam bentuk SVG, sebuah kode sumber yang bisa diubah. Proses pemasukan gambar itu melibatkan komunitas dan membuat Ubuntu, sebagai distro yang memiliki komitmen kepada perangkat lunak bebas, masukan yang sangat berharga.

Hal tersebut memang di masa lalu. Tindakan Canonical akhir-akhir ini cukup meresahkan banyak orang. Setelah keputusan tertutup untuk membuat ikon jendela di sebelah kiri, banyak orang mulai meragukan niat baik Canonical sebagai pemegang lisensi Ubuntu. Saya pikir ini wajar.

Buat Anda yang masih buta, dan saya akan coba angkat ini menjadi sebuah topik sendiri, GNU/Linux adalah sebuah sistem operasi yang sarat dengan utopia. Di dalamnya, berbagai sudut pandang berkembang dan salah satunya adalah paham mengenai kebebasan. Alam kebebasan mengenal yang namanya demokrasi. Oleh sebab itu, sebuah keputusan tertutup merupakan awal dari kehancuran demokrasi tersebut.

Memang, demokrasi adalah sebuah kemewahan dan terkadang bisa menjadi bias dan anarki. Selain karena kebebasan berpendapat versus kemampuan orang dalam menjadi asertif, demokrasi melibatkan banyak kepala yang harus mencapai konsensus. Ubuntu yang telah berkembang menjadi sebuah entitas dan tengah gencar menerobos komputer kerja korporasi, bukan sekedar server saja, berusaha melakukan perubahan radikal. Perubahan tersebut takkan secepat ini apabila ada diskusi yang terlibat.

Internet adalah sebuah rimba liar yang sering kali memuat hal-hal kasar. Sering kali sebuah diskusi berubah menjadi debat kusir dan kata-mengatai. Sering kali sebuah status quo melawan revolusioner mencapai titik mati sehingga tidak ada penyelesaian. Kebebasan berekspresi sering kali dibablaskan dengan menabrak berbagai etika. Hal-hal tersebut merusak banyak hasil kerja dan membuat orang bertalenta mundur.

Akan tetapi, bukankah Ubuntu telah memberikan Code of Conduct, sebuah produk konsensus bagi komunitas Ubuntu untuk saling menghormati satu sama lain? Dengan demikian, seharusnya komunitas Ubuntu bisa berperan lebih baik lagi dalam diskusi yang baik.

Sebelum Anda berpikir bahwa Canonical menjadi the next Microsoft, Anda perlu ketahui bahwa apa yang dilakukan Canonical menurut saya adalah langkah yang benar menurut cara-cara modern. Dengan iterasi setiap 6 bulan, inovasi Ubuntu harus ada dalam setiap rilisnya. Dengan menggunakan profesional, inovasi tersebut dapat terjadi. Mulai dari penggantian warna coklat menjadi ungu (aubergine). Penggantian gambar latar dan ikon, tema Ubuntu, penggunaan plymouth, pembuatan huruf, dan berbagai keputusan-keputusan lainnya membuat Ubuntu semakin menarik dari hari ke hari.

Tapi, inovasi-inovasi inilah yang membahayakan Ubuntu.

Ubuntu bukanlah sebuah perangkat lunak dari modernisme. Ia adalah sebuah perangkat lunak sosio-humanis. Ia lahir dari gerakan melawan modernisme dan kapitalisme. Ia merupakan hasil dari gerakan gotong royong dari desa Smurf. Ya, utopia yang diciptakan oleh desa Smurf terjadi di sini. Smurf developer tidak akan marah bila Smurf-Smurf gembul memetik perangkat lunaknya dari kebun. Mereka tetap senang dan bahagia karena telah membantu orang lain. Mereka bahagia karena telah berkontribusi.

Tetapi, apa yang terjadi apabila Smurf-Smurf tersebut tidak lagi diikutkan dalam menanam ladangnya?

Banyak orang mengira bahwa ketika seseorang berhenti bekerja dan menikmati dunia akan membuat bahagia. Sayangnya, proses kreatif manusia dan kenikmatan mengetahui bahwa mereka dibutuhkan (atau kebutuhan tingkat keempat Maslow) membuat mereka yang berhenti bekerja seperti kehilangan diri mereka sendiri. Ujung-ujungnya, mereka menjadi kecewa.

Apa yang terjadi? Ada dua kemungkinan besar yang mungkin terjadi:

  1. Smurf-Smurf tersebut meninggalkan desa Smurf dan papa Smurf sendirian.
  2. Smurf-Smurf tersebut melakukan kudeta dan membuat desa Smurf versi baru.

Mandriva yang dicabangkan Mageia [PHO] adalah keputusan nomor 2. Ketika perusahaan induk Mandriva mengalami krisis sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi Mandriva, komunitas Mandriva memutuskan untuk berjalan sendiri. Mereka tidak sudi hasil kerja bertahun-tahun mereka terhilang hanya karena korporasi. Perusahaan boleh bangkrut, tetapi komunitas tetap jalan.

Sumber daya komunitas dapat dibilang tak terbatas. Dengan kemampuan Internet, setiap komunitas dapat menjadi kekuatan  yang dapat mengubah. Namun, untuk Ubuntu mengalami hal tersebut adalah sebuah kemunduran bagi pergerakan perangkat lunak bebas/terbuka. Saat ini pergerakan perangkat lunak bebas/terbuka tengah mengalami momentum akibat Ubuntu yang melibatkan banyak komunitas.

Komunitas sebagai publisitas merupakan sebuah taktik yang jamak bagi perkembangan perangkat lunak bebas/terbuka. Tanpa ada komunitas, kebebasan takkan pernah bisa dijalankan dan dibuktikan. Oleh sebab itu, sebuah komunitas merupakan harga mati yang harus dijaga.

Saat ini, tim Ubuntu Artwork sedang berbenah. Saya sebagai pengamat hanya menyarankan, sebaiknya Mark dan Canonical segera merangkul mereka. Jangan sampai komunitas ini mati. Komunitas ini telah berbuat banyak bagi Ubuntu di masa lalu dan berpotensi dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. Bila komunitas ini tidak segera dirangkul, kehancuran komunitas ini akan menjadi portfolio yang buruk bagi Ubuntu dan dapat menyebabkan efek berantai.

Referensi:

[WILM] http://thorwil.wordpress.com/2010/09/19/ubuntu-artwork-crisis/

[PHO] Phoronix. http://www.phoronix.com/scan.php?page=news_item&px=ODYxNg

I Hate Vendor-Locked Solution!

I Hate Vendor-Locked Solution!

Ugh, ingin rasanya mencak-mencak. Tapi saya sadar, blog ini dikonsumsi oleh khalayak ramai. Jadi, saya coba curhat dengan mengerem saja. Kalau mau baca curhatan saya silakan, kalau tidak, ya, silakan lewat saja.

Saat ini saya sedang berbulan madu dengan Gentoo. Saya berhasil memasang KDE4.4, Netbeans, MPlayer, yakuake, dan qmmp. Sungguh luar biasa! Saya bisa mendengarkan musik, memainkan berkas film kualitas HD, dan menjalankan Netbeans 6.9 tanpa membuat PC bernyanyi Poco-poco.

Pengetahuan kompilasi optimal dengan Gentoo ini lalu saya konversikan ke instalasi Debian/Ubuntu saya. Lumayan, pada mesin Celeron, MPlayer yang dikompilasi ulang menurunkan beban CPU dari ~90% menjadi ~1% saja. Saya berencana untuk mengompilasi ulang beberapa paket di Debian/Ubuntu (Hey, itu sebabnya ada

deb-src
). Entahlah, saya harus membaca-baca dulu spesifikasi SSSE3.

Sayangnya, bulan madu dengan kompilasi berjalan tidak mulus. Saya menemukan kesulitan ketika saya hendak mengompilasi salah satu komponen e-Akses, saya menemui kegagalan. Padahal, saya sudah mengorbankan kesucian 64 bit dengan memasang emulasi 32 bit. Oh, tidak, ternyata gara-gara sebuah komponen tertutup yang terkompilasi 32 bit.

Dasar vendor!

Haduh, itu pustaka dikompilasi dengan 32 bit. Sudah begitu, pustaka itu menggunakan libstdc++5, sebuah pustaka kuno! Ayolah, zaman begini masih pakai pustaka tersebut? Padahal, distro-distro terbaru (termasuk Ubuntu semenjak Lucid) sudah tidak lagi memaketkan libstdc++5 — sudah bertahun-tahun pindah ke libstdc++6!

Benar kata [ARLIED], mengapa pembuat perangkat keras masih saja menyembunyikan pustaka yang hendak mengakses perangkat keras mereka? Bukankah mereka seharusnya membuat perangkat keras? Terkadang, saya juga tidak habis pikir dengan alasan perlindungan kekayaan intelektual. Terhadap apa? Bukankah disain perangkat keras mereka sudah dilindungi hak cipta?

Saat ini, pasar solusi berbasis GNU/Linux meningkat. Hal ini karena adanya inovasi dan implementasi sistem embedded. Perangkat Windows, .NET, dan segala macam yang ringkih tidak lagi menjadi dominasi. Semua semakin menginginkan efisiensi dan performa, termasuk dari segi biaya.

Coba kita lihat peta GNU/Linux dan FOSS secara umum dalam percaturan perangkat keras.

Nokia yang sudah mengakuisisi Trolltech berniat membuat implementasi Meego yang lebih dahsyat dengan menggunakan Qt. Nokia ditemani Intel akan membuat solusi yang menarik, Untuk sementara, ponsel N900 cukup memuaskan dahaga para pengilik FOSS. Berbagai perkakas kecil yang dibuat dari Qt semakin memperkaya ponsel Symbian ini. Oh, ya, tahukah Anda bahwa kernel Symbian sudah dirilis ulang sebagai kode terbuka (open source)?

Siapa yang tidak tahu Google? Dia dan Androidnya, yang walau pun cukup dimaki-maki karena sering kali mengembangkan di belakang layar lalu merilis penuh, memberi napas baru kepada FOSS. Android telah memberi kesan kepada khalayak bahwa FOSS bukan aplikasi main-main.

Lalu bagaimana Indonesia?

Saya terus terang senang dengan IGOS, POSS, Aria Hidayat, mdamt, dan orang-orang lainnya yang telah mengharumkan nama FOSS di Indonesia. Tetapi, selama perguruan tinggi di Indonesia tidak menangkap ombak ini, pergerakan FOSS di Indonesia hanya usaha perorangan saja. Bayangkan, masakkan masih ada seorang praktisi IT yang ngeri menggunakan GNU/Linux? Lagipula, masakkan sampai sekarang Indonesia masih menganggap bahwa GNU/Linux hanyalah subtitusi Windows.

Yang benar saja!

Ada falsafah, pengajaran, dan kualitas yang dikejar dalam FOSS. FOSS tidak sekedar berbicara mengenai perangkat lunak gratis. FOSS mengajarkan kreativitas. FOSS mengajarkan humanitarian dan etika akademik. FOSS mengajarkan penghargaan setinggi-tingginya kepada manusia, bukan perusahaan.

Lihat Brazil. Oh, jangan, lihat yang paling dekat saja: Malaysia. Walau pun mereka terlambat masuk, sekitar 2008, sekarang ini mereka berpindah ke FOSS dengan perlahan tapi pasti.

Ugh, kok, makin melebar? He… he… he…

Maksud saya, sayang sekali Indonesia tidak secara terstruktur berpindah ke FOSS. Bayangkanlah, seandainya itu bisa terjadi, kita bisa membuat industri solusi elektronik yang cerdas. Bukan hanya mengimpor dari Cina.

Seandainya itu tidak terjadi, saya tidak akan mencak-mencak. Karena, saya tahu, saya mendapat dukungan penuh dari vendor (yang notabene bangsa sendiri) yang merilis perangkat kerasnya untuk dikembangkan semakin keren secara bersama-sama.

Anda tidak tahu, mungkin ada fungsionalitas dari produk Anda yang belum Anda pikirkan sebelumnya dan ada orang lain dalam komunitas yang menemukan fungsionalitas itu.


Referensi:

[ARLIED] http://airlied.livejournal.com/73115.html

Intel i8xx Fix on Ubuntu Lucid

Intel i8xx Fix on Ubuntu Lucid

[PHORONIX] Baru saja mengumumkan kabar baik mengenai GPU Intel, terutama i8xx. Seperti yang kita ketahui bersama, Lucid "dianugerahi" dengan galat pada driver GPU Intel. Hal ini karena memang Intel sedang merestrukturisasi driver-nya. Dimulai dengan penggabungan driver -i910 dan -i810 menjadi satu -intel. Lalu kemudian, Intel berusaha mengembangkan GEM/UXA untuk mendukung KMS. Sayangnya, hal ini menyebabkan regresi terhadap GPU lama seperti seri i8xx.

Baru kemarin [PHORONIX] memberitakan bahwa pengembang Ubuntu menambal driver mereka dengan versi lama. Saya sudah mencobanya dan memang sistem menjadi stabil. Silakan kunjungi [RAOF] untuk info lebih lanjut. Intinya, berikut yang dapat dilakukan.

$ sudo add-apt-repository ppa:raof/aubergine

$ sudo apt-get update

$ sudo apt-get dist-upgrade

Ya, ada beberapa langkah yang dilewati, seperti misalnya mengimpor kunci. Tapi, intinya, driver Intel akan ditatar.

Referensi:

[PHORONIX] Phoronix. http://www.phoronix.com/scan.php?page=news_item&px=ODQzMQ

[UBUNTU] Ubuntu Mailing https://lists.ubuntu.com/archives/ubuntu-x/2010-July/000905.html

[RAOF] https://edge.launchpad.net/~raof/+archive/aubergine

Mengompilasi Sendiri MPlayer

Mengompilasi Sendiri MPlayer

Dari  perjalanan di Gentoo dan pengembangan sebuah aplikasi in-house, saya menemukan bahwa MPlayer lebih bagus kalau dikompilasi sendiri.

Saya asumsikan bahwa Anda telah memasang MPlayer. Kita tinggal menimpa yang lama dengan yang baru. Memang, cara ini tidak disarankan dan lebih baik apa bila dibuatkan paketnya dengan menggunakan checkinstall. Apabila Anda seorang purist, silakan pasang: (bagi yang malas, silakan lewati)

$ sudo apt-get install checkinstall

Setelah itu, pasang saja semua kebutuhan MPlayer: (Peringatan: banyak paket terpasang!)

$ sudo apt-get build-dep mplayer

Setelah itu, unduh dari http://mplayerhq.hu kode sumber terbaru. Saya mengunduh snapshot hari ini dan mengekstrasinya:

$ tar xvfj ~/Unduhan/Mplayer/mplayer-checkout-snapshot.tar.bz2

$ cd mplayer-checkout-2010-07-20

MPlayer secara unik mendeteksi prosesor yang kita pakai. Kita harus memastikan variabel CFLAGS dan sejenisnya tidak termuat agar skrip konfigurasi dapat menentukan dengan benar konfigurasi untuk kompilasi MPlayer. Cukup jalankan:

$ ./configure --prefix=/usr

Saya sedikit curang dan mengganti konfigurasi pada berkas config.mak pada baris yang mengandung CFLAGS, CXXFLAGS, dan DEPFLAGS (sekitar baris 30 s.d. 32). Saya mengganti setiap yang mengandung 

"-mcpu=native -mtune=native"
menjadi "
-mcpu=core2 -mtune=native -msse4.1
". Maklum, saya takut nanti MPlayer tidak teroptimasi untuk SSE 4.1.

Pasang ke sistem:

$ sudo make install

atau 

$ sudo checkinstall

Nikmati berkurangnya pemakaian CPU! Untuk pengguna laptop yang memiliki

vdpau
sangat diuntungkan dengan kompilasi sendiri.

Creating Your Own Booth in GNU/Linux Ubuntu Lucid (nodm)

Creating Your Own Booth in GNU/Linux Ubuntu Lucid (nodm)

It’s been a while since I blogged since its a busy day nowadays. Anyway, here it goes.With the usage of

upstart

, many SYS V style ways becoming obsolete. One of the prominent thing is the lost of

/etc/inittab.

Usually, when we created a standalone booth, we would embedded our setup using that; we put our script into it. If we are using X, one of the alternative is to use GDM. For the low cost solution often this solution is cumbersome. After some digging, I’ve found another neat solution: using nodm.

To install nodm:

$ sudo apt-get install nodm

To enable nodm:

$ sudo $EDITOR /etc/default/nodm

[Note: Change $EDITOR to whatever your text editor]

Change

NODM_ENABLED

value into true:

NODM_ENABLED=true

Usually, standalone booth run as root user because of the nature of its purpose: single user experience. However, you can make a user and set the user to be able to access the X.  We can set a non-root user by editing

NODM_USER

value  into:

NODM_USER=$USER

[NOTE: Change $[crayon inline=”true” ]USER[/crayon] with whatever user you have setup before]

By default nodm uses XSession, so here some tips regarding XSession:

  1. To run scripts/applications that need to be executed with root privilege, put the script into
    /etc/X11/Xsession.d
    directory.
  2. To run scripts/applications that runs with normal user, put the script into
    ~$USER/.xsession

[NOTE: ~$USER means the home directory of the chosen user.]

Please bear in mind, both are incompatible. If you put .xsession, XSession will use it instead scripts in Xsession.d directory. With some scripts, we can achieve both; the script left as an excercise to the reader. 😛 (Or may be later, remind me to do so)

Bye for now.

Kebebasan dalam Berekspresi (Dengan FOSS)

Kebebasan dalam Berekspresi (Dengan FOSS)

Kebetulan ada sebuah permintaan dari rekan saya untuk mengganti salah satu tema di Blog Staff. Menurut dia, itu merupakan permintaan dari salah satu penulis blog favorit saya. Saya pun mencoba mencarinya tema baru di Internet dan menemukan tema-tema untuk majalah. Salah satu fitur dari situs majalah (yang benar dan umumnya bukan di Indonesia) adalah menampilkan berita-berita unggulan di laman depan.

Nah, biasanya mereka menggunakan teknik slide show dan disertai oleh ilustrasi. Saya butuh menggambar ilustrasi. Pertama-tama saya mengambil inkscape:

$ sudo apt-get install inkscape

Tetapi, saya menemukan bahwa saya tidak bisa memakai inkscape seperti niwat0ri. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari perkakas yang cocok untuk menggambar:

$ apt-cache search draw

Ada banyak perkakas dengan ideologinya sendiri tentang cara menggambar, misalnya tkpaint yang menggambar vektor dengan pengrupan. Selain itu, ada tuxpaint dan gpaint yang seperti mspaint. Tapi, saya membutuhkan sebuah penggambar raster. Sampai akhirnya saya menemukan mypaint. Menurut [APT], mypaint adalah:

Paint program to be used with Wacom tablets This is a pressure sensitive Wacom tablet paint program. It comes with a large brush collection including charcoal and ink to emulate real media, but the highly configurable brush engine allows you to experiment with your own brushes and with not-quite-natural painting.

Menurut [REMPT], mypaint dapat dipakai bersama-sama dengan Krita, sebuah aplikasi penggambar vektor di KDE SC, karena menggunakan format OpenRaster. Wow, vektor + gambar bebas = KEREN! Omong-omong, berikut fasilitas dari MyPaint:

  • Mesin kuas yang bebas dan memiliki algoritma prediksi. Hal ini mengakibatkan dinamika penggambaran seperti aslinya.
  • Penggambaran berlapis memudahkan kita untuk menggambar sketsa pada lapis dasar dan memisahkan antara garis dan tombol.
  • Integrasi dengan kanvas elektronik (tablet paint), membuat kita bisa berekspresi pada media komputer dengan baik.

Seperti eksplorasi Blender saya dahulu (yang sayangnya sudah hilang akibat Geocities sudah tutup), saya membuat contoh hasil dari perkakas ini. Ini semua saya buat di waktu senggang makan siang dengan menggunakan  tetikus. Mungkin kalau dengan kanvas elektronik bisa lebih ekspresif lagi. Maaf pakai bahasa Inggris.

Dreaming Girl

Dreaming Girl

A picture of an open interpretation. Is it a girl dreaming or a dream of a girl? I love ambiguity.

Just To Make Unhappy Face

Just to make unhappy face

The semantic of science according to a child born in these age of insanity.

Just To Make An Instant Noodle

Factory for Instant Thing

For every convenient thing on your house, there are inconvenient truth about it: underpaid labors, wretched environment, and that funky smoke that will haunt generations to come. Here’s for your instant noodle BEER.

The Most Terrifying

The Most Terrifying

The most terrifying in the history of mankind.

Referensi:

[APT] Jalankan  “apt-cache show mypaint” pada Ubuntu 10.04

[REMPT] Boudewijn Rempt. MyPaint. http://www.valdyas.org/fading/index.cgi/2009/10/01 (diakses 20 Mei 2010)

Sound For The Audiophile

Sound For The Audiophile

In my previous post, I’m talking of juicing your sound to the last bit of it using Audacious. Well, it turns out the Last.FM plugin is not working. So, I’m trying to do alternatives. It turns out that the alternatives are fun. I can play with them and find a suitable configuration.

I’ve find a suitable solution: OSS4 + Jack (Jackd + Jack Rack) + GStreamer + Bluemindo. They satisfied my need. You may be think that those are overkill. Well, I have tried PulseAudio + Jack + ALSA  stack and found glitches when there are two sound sources (media player + system sound). Too bad, otherwise I would not install OSS4.

This is the screenshot of  my JACK using Sennheiser PX100

Jack Rack

JACK

PatchBayConnection Kit

Getting Back Audioscrobbler (Last.FM) on Audacious 2.3

Getting Back Audioscrobbler (Last.FM) on Audacious 2.3

Audacious is the most XMMS-like player. Meaning, it supports what XMMS 10+ years ago capable of: visualization and sound enhancements. Those are what modern GNU/Linux music player lack of.

Unfortunately, Audacious 2.3 dropped support for Last.FM and in these few days I have none scrobbled to my account. From digging the site, I have found the solution, which require to compile [LFM] or just download [UBF]. I prefer to compile. Last, this is not my original work and the original poster (togdon)  is the most credited. This post is for archiving.

Compile method

$ sudo apt-get build-dep  audacious-plugins

$ sudo aptitude install libcurl4-dev

$ wget <a href="http://distfiles.atheme.org/audacious-plugins-2.2.tgz" rel="nofollow">http://distfiles.atheme.org/audacious-plugins-2.2.tgz</a>

$ tar -zxvf audacious-plugins-2.2.tgz

$ cd audacious-plugins-2.2

$ ./configure --enable-dependency-tracking  --disable-esd  --disable-pulse   --disable-coreaudio  --disable-icecast  --disable-dockalbumart   --disable-altivec  --disable-sse2  --disable-mp3  --disable-libmadtest   --disable-rocklight  --disable-lirc  --disable-evdevplug   --disable-hotkey  --disable-gnomeshortcuts  --disable-statusicon   --disable-aosd  --disable-aosd-xcomp  --disable-adplug  --disable-vorbis   --disable-flacng  --disable-libFLACtest  --disable-wavpack   --disable-aac  --disable-sndfile  --disable-modplug  --disable-ffaudio   --disable-jack  --disable-sid  --disable-oss  --disable-oss4   --disable-alsa  --disable-amidiplug  --disable-amidiplug-alsa   --disable-amidiplug-flsyn  --disable-amidiplug-dummy  --disable-cdaudio   --disable-streambrowser  --enable-scrobbler  --enable-lastfm   --disable-neon  --disable-mms  --disable-mtp_up  --disable-bluetooth   --disable-paranormal  --disable-xspf  --disable-xmltest  --disable-cue   --disable-projectm  --disable-projectm-1.0  --disable-filewriter   --disable-filewriter_mp3  --disable-filewriter_vorbis   --disable-filewriter_flac  --disable-bs2b

$ cd src/scrobbler/

$ make

$ sudo make install

$ cd ../lastfm/

$ make

$ sudo make install

Well, it surely stable enough for me.

Not compiling

Just go to [UBF]  and read it. Basically, it suggests to download the binaries.

Reference:

[LFM]  Togdon. http://www.last.fm/group/Audacious/forum/36299/_/618007

[UBF]  http://ubuntuforums.org/showthread.php?p=9255642